Friday, May 3, 2019

Haechi Ep 19 Part 3

Sebelumnya...


Inwon sakit, ia terkena wabah itu.

Yeo Ji yang merawat Inwon, meminta Inwon bertahan.


Yeongjo tiba di kediaman Inwon dan terkejut melihat suasana kediaman Inwon yang mulai diisolasi.

Yeongjo pun langsung menghampiri tabib kerajaan. Tabib meminta Yeongjo pergi agar Yeong Jo tidak tertular.


Yeo Ji keluar dan memanggil Tabib Heo, tabib kerajaan.

Sontak Yeongjo kaget melihat sosok Yeo Ji.

Ja Dong juga kaget melihat Yeo Ji.

Yeongjo : Kenapa kau....

Yeo Ji : Yang Mulia...

Yeongjo : Kenapa kau masuk istana? Sudah kubilang berkali-kali. Begitu kau menjadi dayang, kehidupanmu sebagai wanita normal berakhir. Aku tidak ingin kau seperti itu.

Yeo Ji : Tapi aku menginginkannya, Yang Mulia. Aku ingin mendukung keyakinanmu di istana ini daripada hidup sebagai wanita normal.

Yeongjo terhenyak, Yeo Ji ya...

Yeo Ji : Dan kau tidak tahu betapa leganya aku saat ini. Bahkan Tuan Moon Soo tidak di sini sekarang. Mungkin kekuranganku banyak, tapi aku masih bisa melindungimu.


Rakyat mulai resah. Mereka menuding Yeongjo membunuh Gyeongjong dengan menggunakan racun serigala.

"Inilah sebabnya negeri ini memburuk." kata mereka.

"Dia saudara tirinya dan menginginkan tahta. Mana bisa dia membunuh kakaknya seperti itu!" tambah yang lain.


Di Hwalinseo, pasien menolak meminum obat yang diberikan tabib. Ia takut, obat itu telah dicampur dengan racun serigala. Mereka juga menganggap wabah itu menyerang mereka sebagai akibat dari perbuatan Yeongjo pada Gyeongjong.

"Ibu Suri mengidap penyakit dan dia akan membawanya ke istana sementara. Dia hanya ingin menyelamatkan diri sendiri. Dia meninggalkan rakyatnya! Ini kesalahannya. Kita tertular penyakit ini karena dia." ucap mereka.


Kabar pasien yang menolak minum obat itu akhirnya sampai ke telinga Yeongjo.

Yeongjo : Tiga hari sejak itu mewabah di kota. Pukul 9.30. Pasien di Hwalinseo Timur, 94. Hwalinseo Barat, 102. Jika kita tidak mencegah penyebaran, ibu kota akan hancur. Kau tidak tahu? Tiga hari sejak itu mewabah. Jika kita tidak mengontrol penyakit, kota ini akan sangat kacau.

Rakyat marah karena dilarang meninggalkan kota.


Salah satu anak buah Tuan Yi memperhatikan keributan itu.

Anak buah Tuan Yi langsung melaporkan keadaan di kota pada Tuan Yi.


Byung Joo penasaran dan tanya apa yang terjadi di kota.

Tuan Yi menyuruh Byung Joo membaca laporannya.

Sontak Byung Joo kaget.

Tuan Yi : Tidak ada yang lebih kuat dan lebih mudah digunakan daripada rasa takut. Menilai dari ini, akan paling lama tiga atau empat hari. Raja tidak akan bisa bertahan karena rakyat. Itulah saat karya kita dimulai. Dengan satu ketukan, semua akan runtuh. Saat yang tepat itu datang.

Byung Joo : Kau ingin aku melakukan apa?

Tuan Yi : Kau bisa apa?

Byung Joo : Apa?

Tuan Yi : Duduk dan saksikan saja. Kau kuberi tempat hanya karena kamu seorang Namin.

Tuan Yi beranjak pergi.

Byung Joo kesal.

"Itu tidak akan berhasil. Aku harus terlibat dalam ini jika aku akan punya bagian yang lebih besar." ucapnya.


Di kedai minuman, dua orang pria masih menuding Yeongjo membunuh Gyeongjong. Mereka menyebut Yeongjo binatang yang berwujud manusia.

Moon Soo yang juga ada disana, sontak marah mendengarnya dan melabrak mereka.

Moon Soo : Kalian tidak tahu apa-apa. Aku bilang, Kau tahu betapa keras dia berusaha menyelamatkan mendiang Raja. Kalian tidak tahu apa-apa.

Moon Soo beranjak pergi.


Moon Soo berjalan di pemukiman. Ia marah membaca selebaran itu.


Lalu tanpa sengaja ia melihat Byung Joo bicara dengan Kepala Pasukan.


Sontak, Moon Soo langsung pergi ke rumah Tuan Cho dan mencari Tuan Lee.

Tuan Lee dan Tuan Cho kaget mendengar cerita Moon Soo yang mengaku melihat Byung Joo.

Moon Soo mengklaim ia melihat dengan jelas kalau itu Byung Joo.

Moon Soo : Untungnya, aku ingat kalian berdua ada di dekat sini. Karena itu aku berlari kemari.

Tuan Cho : Dia seharusnya sudah dihukum mati.

Tuan Lee :  Tunggu. Lantas apakah itu artinya Pangeran Mil Poong juga ada di sana?

Moon Soo kaget, Pangeran Mil Poong...

Tuan Lee : Situasi macam apa yang dialami Yang Mulia sekarang?

Moon Soo : Anda tahu apa yang terjadi di ibu kota dan di provinsi Chungcheong, Jeolla, dan Gyeongsang?

Tuan Lee : Tentu. Wabah dan surat mengerikan yang memfitnah Yang Mulia. Kami juga tidak bisa tidur di sini.

Moon Soo : Insiden ini jelas aneh. Kupikir Yang Mulia mungkin dalam bahaya.


Yeongjo sedang rapat dengan Noron dengan istana sementara. Yeongjo tanya, situasi ibukota.

"Maafkan aku, tapi rumor tanpa dasar hanya memperburuk situasi. Mohon maaf, tapi ada rumor yang menyatakan Anda melarikan diri dari wabah dan pergi ke istana sementara."

Tuan Min : Keamanan rakyat harus diutamakan. Sebarkan surat kabar begitu matahari terbit, dan beri tahu mereka rumor ini tidak berdasar.

Yeongjo menyuruh mereka pergi.


Yeongjo : Surat kabar hanya dibaca oleh para bangsawan. Bagaimana itu bisa menenangkan rakyat?

Tuan Min : Tapi dalam situasi ini, apa lagi yang bisa Anda lakukan? Kita harus mengumpulkan kekuatan dan bersiap-siap melawan kerusuhan. Itu akan lebih baik.


Ja Dong datang dan mengaku ingin mengatakan sesuatu.

Yeongjo kembali ke kamarnya dengan Ja Dong. Ja Dong memberikan surat dari Dal Moon.

"Dia ingin segera bertemu Anda." ucap Ja Dong.


Yeongjo langsung pergi menemui Dal Moon.

Yeongjo : Katakan kepadaku, Dal Moon. Ada apa dengan sumur di kota? Apa yang ingin kau katakan padaku?

Dal Moon menunjukkan peta kota.

Dal Moon : Lihat ini Yang Mulia. Donginbang. Setang. Samcheong-dong. Ada banyak sekali sumur termasuk tempat-tempat ini. Untuk memastikan, Goon Tae, sang pendongeng,

Jang Dal, dan A Bong membantu aku.

Flasback...


Jang Dal dan A Bong mendatangi beberapa rumah


Si pendongeng pergi ke Hwalinseo meminta daftar pasien.


Goon Tae pergi memeriksa sumur.

Flashback end...


Dal Moon : Aku yakin. Sebagian besar pasien yang dibawa ke Hwalinseo minum air dari sumur-sumur ini.

Yeongjo kaget, Samcheong-dong dan Sungjaejong?

Jang Dal : Sumur ini juga terkadang digunakan oleh dapur istana.

A Bong : Kami juga memastikan bahwa dapur istana mengambil air dari sumur itu beberapa hari lalu.

Yeongjo : Pasti itulah sebabnya Daebi Mama...

Dal Moon : Yang Mulia, ini mungkin bukan wabah. Seseorang mungkin telah...

Yeongjo : Sumur itu mungkin sudah diracuni. Tapi kenapa? Siapa atau grup apa yang berusaha menggoyahkan aku seperti itu?


Pasukan Tuan Yi terus bergerak. Kali ini mereka membujuk Wakil Menteri Pekerjaan untuk bergabung dengan mereka.


Tuan Yi sedang menatap para pasukannya.



Yeongjo dan Dal Moon pergi memeriksa sumur.


Dal Moon : Seperti katamu, ada jejak-jejak racun, Yang Mulia.

Yeongjo : Aku tidak akan pernah mengampuni ini. Beraninya mereka melakukan ini untuk membuat rakyat menderita. Mereka tidak akan kuampuni.


Paginya, Petugas Yoon memberi instruksi pada seluruh petugas Saheonbu kalau mereka akan bekerja sama dengan Biro Kepolisian di kota.

Petugas Joo yang takut ketularan, memakai masker dan pura2 sakit.

Petugas Joo mengoceh tak jelas. A Bong yang mengerti kata2nya pun menjadi penerjemahnya.

A Bong : Dia batuk-batuk. Aku putra tunggal setelah lima generasi dalam keluargaku. Jadi, jika aku sakit, ibuku yang sudah tua akan sangat sedih.

Jang Dal : Bagaimana kau bisa memahami itu?

A Bong : Ada orang bodoh di desaku yang bicara seperti dia.


Moon Soo kembali ke tempat dimana ia melihat Byung Joo.


Lalu ia mengingat percakapannya dengan Tuan Lee dan Tuan Cho semalam.

Moon Soo : Wi Byung Joo seharusnya sudah mati. Tapi dia masih hidup. Wabah tiba-tiba menyebar, dan catatan mengerikan dibagikan secara sistematis.

Tuan Lee : Pikirmu ada konspirasi untuk menyakiti Yang Mulia.

Moon Soo : Aku harus menemukan ini soal apa. Aku akan mengejar Wi Byung Joo. Kalian berdua harus pergi ke Hanyang dan beri tahu Yang Mulia soal ini.

Bersambung ke part 4.............

No comments:

Post a Comment