Friday, May 3, 2019

Haechi Ep 20 Part 1

Sebelumnya...


Yeongjo berusaha meraih hati rakyatnya.

Yeongjo : Aku tahu apa yang kalian takutkan. Aku juga tahu tentang catatan mengerikan di sekitar kota. Aku tahu betapa takutnya kalian terhadap penyakit ini. Namun, aku, raja negeri ini, tidak akan pernah meninggalkan rakyatku. Penyakit ini bukan hukuman dari langit. Kalian pasti bisa sembuh apa pun caranya. Alasan aku datang kemari karena aku ingin mengatakan ini. Aku tidak akan keluar selangkah pun dari kota ini.Semua ini hanya rumor mengerikan. Dan aku akan tetap bersama rakyatku sampai akhir. Juga, aku akan menemukan cara untuk mengobati penyakit ini dan menyelamatkan kalian dari penderitaan. Jadi, tolong bertahanlah dan berikan aku beberapa waktu. Aku, raja negeri ini, akan menepati janjiku apa pun yang terjadi.

Rakyat pun terharu.

"Yang Mulia. Kau lihat itu? Itu Yang Mulia. Aku tidak pernah sedekat ini dengan raja sebelumnya. Aku tidak percaya dia datang jauh-jauh kemari. Kita bahkan tidak sepenting itu. Tapi dia datang jauh-jauh kemari ke tempat selusuh ini."

Lalu, rakyat mulai kembali memuja Raja mereka.


Pemuda yang datang membawa ayahnya yang sakit pun menangis.

Yeongjo menyuruhnya bangun.

Yeongjo : Jika kondisimu melemah, siapa yang akan mengurus ayahmu?

Si pemuda : Yang... Yang Mulia. Aku pantas untuk mati, Yang Mulia. Aku berani menjelekkan Anda padahal aku tidak tahu apa-apa. Aku manusia yang tidak berguna. Aku pantas untuk mati, Yang Mulia.


Yeongjo kembali ke istana. Para pejabatnya bergegas menyambutnya.


-Episode 20, Kekacauan Hitam 2-


Moon Soo mengikuti si Kepala Pengawal. Ia yakin, ada sesuatu yang tengah mengancam Yeongjo saat ini.

Si Kepala Pengawal membeli beberapa ornamen.


Setelah si Kepala Pengawal pergi, Moon Soo mendekati si penjual ornamen.

Moon Soo : Biarkan aku menanyakan sesuatu.

Si penjual tanya, apa Moon Soo mau membeli ornamen? Untuk siapa? Dia lalu menunjukkan mana ornamen untuk para istri dan selir.

Moon Soo : Aku bahkan belum menikah. Kenapa... bukan soal itu. Kau mengenal baik orang itu?

Si penjual : Apa? Kenapa kau bertanya begitu?

Moon Soo lantas memberikan uang pada si penjual, agar si penjual mau menjawab pertanyaannya

Moon Soo : Aku tidak butuh perhiasan. Jawab saja pertanyaanku. Apakah ini akan lebih dari cukup? Dia mirip pejabat dari kantor pemerintahan Cheongju. Apa pekerjaannya?


Si Kepala Pengawal lalu bersenang-senang dengan para gisaeng di rumah bordil.


Moon Soo terus mengawasinya dan teringat kata2 si penjual ornamen.

"Dia penjaga gerbang gudang senjata Cheongju?" tanya Moon Soo.

"Ya, dia pejabat tinggi yang menyimpan kunci gudang senjata." jawab si penjual.

Moon Soo kemudian bertanya, kenapa Byung Joo menemui orang seperti itu.


Tuan Min menasihati Yeongjo. Ia bilang, Yeongjo seharusnya tidak keluar istana di saat seperti ini. Tuan Min berkata, ia setuju mengurus rakyat itu penting tapi harusnya pejabat senior lah yang diutus ke tempat berbahaya.

Tuan Min : Mengurus rakyat bukan hanya tugas raja. Itu juga tugas pejabat senior.

Yeongjo :  Apa gunanya itu? Itu satu-satunya pilihan yang kumiliki. Aku tahu. Melangkah maju sebagai raja agak tidak bertanggung jawab. Tapi jika aku tidak maju sendiri, bagaimana kita mencegah rakyat dari melakukan kerusuhan?

Tuan Min : Yang Mulia, itu...

Yeongjo : Apa yang kita lakukan atau bagaimana caranya itu tidak penting. Tapi krisis ini penting, Ketua Kongres. Ini bukan tentang siapa yang melakukannya. Seperti yang kau katakan, melindungi rakyat adalah tugas raja dan bangsawan. Kita bertanggung jawab untuk itu. Karena itu kita harus melakukan tugas kita.

Tuan Jo kaget dengan kata2 Yeongjo.


Yeongjo lalu menunjukkan daftar pasien di Hwalinseo.

Yeongjo : Ini daftar pasien di Hwalinseo. Dan sebagian besar dari mereka tampaknya minum dari beberapa sumur tertentu.

Tuan Jo : Anda tadi menyebutkan sumur?

Yeongjo : Seperti yang kukatakan di awal, pasti ada konspirasi jahat di balik ini.


Tuan Min menyuruh Kepala Seketaris Kerajaan mengirimkan perintah pada Kepala Hanseongbu.


Yeongjo mengatakan pada Tuan Jo, kalau langkah pertama, mereka harus menutup sumur yang mencurigakan dan menyediakan air minum bersih untuk rakyat.


Para prajurit mulai menutup sumur2 itu.


Tuan Jo ingat saat bertanya pada para tabib, mungkinkah ini wabah yang sama seperti wabah dari Cheongju?

Kepala Tabib : Gejala-gejalanya sangat mirip. Dan gejalanya terlalu aneh untuk dianggap sebagai wabah.


Yeongjo berkata, bahwa ia merasa penyakit ini sama dengan wabah di Cheongju.

Yeongjo : Aku akan mengungkap penyebab dari infeksi ini nanti. Kita harus menerapkan resep yang sama dan menyembuhkan para pasien dahulu.


Dan Tuan Jo pun memberi perintah pada para tabib, kalau mereka harus menghentikan wabah itu dengan resep yang sama yang digunakan di Cheongju.


Para tabib di Hwalinseo sudah mendapatkan resep itu dan mulai memberikannya pada rakyat.


Perpecahan terjadi di kubu Soron. Mereka tidak senang Tuan Jo membantu Yeongjo. Mereka juga menuding Yeongjo ingin membunuh rakyat dengan resep obat itu, sama seperti yang dilakukan Yeongjo pada Gyeongjong.

Tuan Jo : Lantas kau punya ide lain? Apa lagi yang kau lakukan selain mengeluh? Setidaknya Yang Mulia mencari jawaban. Dia mengambil risiko dengan mengunjungi Hwalinseo sendiri. Dia mencegah rakyat dari membuat kerusuhan, dan resepnya juga patut...

Soron : Apa hak Yang Mulia untuk mengurus rakyatnya? Dia tidak bermoral, dan dia melakukan pembunuhan. Apa hak yang dia miliki?

Mereka lalu menunjukkan selebaran yang disebarkan pasukan Tuan Yi.

"Dengar. Inilah yang sebenarnya dipikirkan rakyat. Yang Mulia membunuh mendiang Raja. Itulah anggapan dunia tentang dia. Kami tidak akan pernah bisa mengikuti Yang Mulia. Jika kau menyuruh kami tetap diam, itu juga berlaku untukmu."

Mereka lalu pergi.


Tuan Min melihatnya diluar dan merasa miris.

Bersambung ke part 2............

No comments:

Post a Comment