Sunday, May 5, 2019

Haechi Ep 21 Part 1

Sebelumnya...


Istana Cheongju jatuh ke tangan pemberontak.


Yeongjo kaget mendengar kabar itu. Ia tak percaya para pemberontak bisa dengan mudahnya menguasai istana Cheongju.

Tuan Lee menjelaskan, kalau Yi Bong Seong, tentara di Cheongju, mengenal Tuan Yi, si pemimpin pemberontakan.

Tuan Lee : Dia lengah karena mengira dia menyapa seorang teman, dan itulah saat mereka tiba-tiba menyerang.


Pasukan pemberontak lantas menakuti warga. Mereka menunjukkan kepala tentara yang sudah mereka bunuh.

Byung Joo : Lihat apa yang terjadi! Tentara yang memutuskan melawan kita terbunuh! Seperti dia, siapapun yang mendukung ketidakadilan akan mati. Tapi jika kalian mengikuti tujuan besar kami, kalian akan hidup dan dimuliakan!

Byung Joo lalu melemparkan kepala tentara ke arah warga.


Tuan Yi : Raja saat ini bukan pewaris yang sah. Dia dilahirkan oleh petani. Pria yang irasional itu membunuh mendiang Raja kita dan berpura-pura sebagai pemilik negara kita. Karena itu, kita harus menyingkirkan raja palsu dan menobatkan pewaris kerajaan sejati. Mulai sekarang, semua orang di negara ini akan menunduk pada pewaris langsung Putra Mahkota Sohyeon. Inilah raja kita yang bijak. Dia adalah Pangeran Mil Poong.


Tuan Yi lantas berlutut dan memanggil Mil Pong Raja.

Diikuti oleh Byung Joo dan seluruh rakyat d Cheongju.

Mil Poong terhenyak dipanggil Raja.

Lantas, ia mencabut pedangnya dan mulai bertingkah seperti Raja.

Mil Poong : Inilah pesanku untuk rakyatku! Aku akan menyelamatkan kalian dari eksploitasi yang melelahkan. Aku akan menyelamatkan kerajaan ini dari penderitaannya. Bukan hanya Cheongju. Termasuk Provinsi Gyeongsang, Jeolla, dan Hamgyong, seluruh kerajaan akan mengejar raja palsu dan menerima pemiliknya yang sah. Kita akan berdiri bersama-sama!

Rakyat : YANG MULIA!


Yeongjo bergegas menemui pejabatnya.

Yeongjo : Ada apa dengan area yang lain? Bagaimana dengan area lainnya?


Para pemberontak datang ke istana lain. Seorang prajurit pun langsung menyalakan suar atas perintah Kepala mereka.

Tapi terlambat. Prajurit yang menyalakan suar, terkena anak panah para pemberontak. Dan pemimpin mereka dihunus pedang para pemberontak.

Istana itu kembali jatuh ke tangan pemberontak.


Tuan Min menjelaskan, bahwa para pemberontak sudah mulai muncul sekaligus. Bukan hanya di Cheongju, tapi juga di Provinsi Gyeongsang, Jeolla, Hamgyong, dan Pyongan

Yeongjo kaget.

Tuan Min : Kini, seluruh kerajaan dilanda oleh api peperangan.

Yeongjo marah.

"Yi In Jwa, pria itu, akhirnya mulai mengambil alih kerajaan ini." batinnya.


-Episode 21 Pemberontakan-


Prajurit di istana membunyikan gong.

Para warga sibuk menyelamatkan diri mereka.

Si pendongeng di tengah pasar, berteriak, menyuruh mereka menyelamatkan diri.


Di istana, para pasukan sudah bersiap.

"Di sana. Pastikan untuk berjaga. Perketat keamanan di dalam dan luar istana. Segera beri perintah untuk Pemanggilan Darurat!" suruh Kepala Pasukan.


Tuan Lee memberikan laporan dari Dewan Keamanan Nasional pada Yeongjo.

Tuan Lee : Di markas pemberontakan, senapan yang dipasok untuk Kantor Cheongju telah ditemukan. Untungnya, tidak ada banyak senapan.

Yeongjo : Ini akan bertambah parah. Lebih banyak senapan telah dipasok ke Provinsi Gyeongsang untuk bersiap melawan perompak Jepang.


Tuan Cho bersama prajuritnya memeriksa markas pemberontak yang telah kosong dan menemukan senapan2 itu.


Yeongjo : Bagaimana situasi di Provinsi Gyeongsang?

Tuan Lee : Kami telah mengirim kurir ke Provinsi Gyeongsang. Jumlah pemberontak antara 10.000 sampai 30.000. Tapi jumlah mereka terus bertambah.


Prajurit kiriman Tuan Lee menyusup ke hutan dan mematai pasukan pemberontak.


Tuan Jo tanya, bagaimana bisa itu terjadi? Kenapa?

Tuan Min : Mereka pasti diprovokasi. Provinsi Gyeongsang tidak dikelola dengan cukup baik sampai sekarang. Area itu telah menunjukkan keraguan terkuat dalam pemerintahan, jadi, pasti lebih mudah meyakinkan mereka.


Yeongjo lantas menyuruh Tuan Jo mengutus semua perwira dari Markas Militer Lima ke Gyeongsang.

Tuan Jo tidak setuju. Ia takut, hal itu akan berefek ke ibukota.

Yeongjo : Provinsi Gyeongsang sama pentingnya dengan ibu kota. Bukankah area itu juga bukan milik Joseon?

Tuan Jo terdiam.

Yeongjo : Menteri Perang, siapkanlah rencana pertahanan untuk ibu kota. Pasukan utama Yi In Jwa akan langsung menuju ke ibu kota. Pemberontak akan mencapai ibu kota dalam tiga sampai empat hari.


Yeongjo masuk ke istananya, diikuti oleh Tuan Min dan Tuan Jo.

Yeongjo tampak stress.

Yeongjo : Tahukah kalian, pemberontakan ini adalah pemberontakan terbesar yang pernah dilihat kerajaan ini sejak kerajaan ini didirikan. Juga, ini pemberontakan pertama yang menargetkan sang raja.

Tuan Jo : Yang Mulia, semua ini bukan karena rakyat tidak memercayai Anda.

Tuan Min : Dia benar. Ini juga karena pemberontak yang menguasai kekacauan.


Yeongjo lantas menatap mereka dengan tatapan lirih.

Yeongjo : Tapi akulah raja saat ini. Jadi, apa pun yang dikatakan orang lain, ini adalah tanggung jawabku. Ribuan korban jiwa sudah disebabkan. Berapa banyak darah lagi yang harus tumpah?

Tuan Jo menyalahkan dirinya.

Tuan Jo : Itu pasti akibat ketidaksetiaanku. Aku tidak bisa memercayai Anda. Aku mendorong ketidakpercayaan dan kebencian mereka. Aku melakukan itu. Aku tidak tahu bagaimana menebus dosa-dosaku.


Tuan Min : Yang Mulia, tadi malam, kami menemukan dan menahan mata-mata dalam ibu kota dan istana. Aku yakin itu cukup merugikan mereka. Jadi, kurasa Anda harus bertanggung jawab nanti. Kini kita harus menangani krisis ini bersama. Noron dan aku juga akan melewati perbedaan partai-partai kita dan mengusahakan yang terbaik untuk menangani krisis ini.

Yeongjo lalu menatap keduanya dekat2 dan mengucapkan terima kasih.

*Tuan Min dan Tuan Jo akhirnya melihat ketulusan Yeongjo.......


Di luar, para dayang ketakutan kalau para pemberontak berhasil merebut istana tempat mereka bekerja.

YeoJi datang.

"Apa lagi yang harus kau lakukan? Berjuanglah jika kau ingin hidup." ucap Yeo Ji.

"Apa maksudmu? Bagaimana kita bisa berjuang?" tanya salah satu dayang.

"Apa aku harus mengajarimu cara memegang pedang?" jawab Yeo Ji.


Inwon datang.

Inwon : Dia benar. Wanita tidak boleh sembunyi di balik pria dan hanya cemas. Nyawa orang-orang yang tidak berdosa berada di bawah pedang pemberontakan. Kenapa kalian ketakutan di hadapan mereka? Tidak boleh ada yang ketakutan setelah momen ini. Bahkan wanita tidak boleh menunjukkan ketakutan di wajah mereka.


Moon Soo dan Tuan Lee, serta beberapa petugas Saheonbu lainnya sedang rapat.

Moon Soo : Tentara akan segera bergerak, bukan?

Tuan Lee : Situasi ini darurat. Jika ini berlanjut, pasukan utama mereka di Cheongju akan mulai menyerang ibu kota.

Moon Soo : Utus aku ke medan perang juga, Tuan.

Tuan Lee kaget, kau?

Moon Soo : Anda mungkin belum melihat. tapi aku terlatih untuk perang. Aku juga mahir dengan pedangku di Saheonbu. Aku akan berdiri di depan tiap orang dan mengalahkan pemberontak. Tidak akan kubiarkan seorang pun pemberontak memasuki ibu kota.


Mil Poong membagi-bagikan beras dan uang untuk meraih hati rakyat.

Mil Poong : Semua akan hidup dengan perut yang kenyang sekarang. Di kerajaanku, tidak akan ada lagi pajak!  Semua orang akan menjadi kaya dan hidup di rumah besar beratap genting!

Yoon Young lewat.

Ia terkejut dan senang melihat Mil Poong.


Yoon Young : Mil Poong gun Daegam!

Mil Poong menoleh dan terkejut melihat Yoon Young.


Byung Joo marah2 pada orang kepercayaan Tuan Yi. Pasalnya, tidak satu pun yang memberitahunya tentang kekalahan pasukan mereka di ibukota serta Yeongjo yang gagal mereka bunuh.


Tuan Yi kemudian datang. Byung Joo minta penjelasan. Tuan Yi pun menyuruh anak buahnya pergi.

Byung Joo : Jika kita tidak merebut istana, hancurlah rencana kita. Kita semua bisa dibinasakan.

Tuan Yi marah. Ia meletakkan pedangnya di leher Byung Joo.

Tuan Yi : Beraninya kau menyalahgunakan pasukanku.


Yoon Young senang mendengar cerita Mil Poong yang dipanggil Raja oleh semua orang.

Yoon Young lantas memberikan bungkusan yang ia klaim sebagai harta mereka.

Yoon Young : Aku harus pertaruhkan nyawa untuk menyimpan harta kita satu-satunya.

Mil Poong : Sudah kuduga kau akan melakukannya.

Yoon Young : Jangan menyerahkannya dengan mudah. Ini harapan terakhirmu.

Pembicaran mereka terhenti karena suara ribut2 Byung Joo dan Tuan Yi.


Byung Joo menyuruh Tuan Yi menebasnya. Ia mengaku sudah siap mati.

"Diam!" ucap Tuan Yi, lalu menendang Byung Joo.

Tuan Yi kembali mengancam Byung Joo dengan pedangnya.

Tuan Yi : Kau sudah siap mati? Penghinaan? Sebagai seorang Namin, kau mengabaikan rekanmu dan menjadi anjing untuk penguasa. Apakah kau tahu apa itu artinya? Kau pikir kau berhak bicara seperti itu karena sudah bergabung dengan revolusi kami? Kami sudah merebut kota Cheongju. Dan kami sudah menang di Provinsi Gyeongsang dan Jeolla.

Byung Joo : Aku memperlakukanmu sebagai jenderal dan kini kau mengganggap dirimu jenderal sejati. Kau pikir merebut Cheongju itu hebat? Yi In Jwa, kau tidak tahu apa-apa. Kecuali kita mengganti raja, kita hanyalah pengkhianat.


Mil Poong datang membawa 'hartanya' itu.

Mil Poong : Raja sudah diganti. Apa maksudmu kita pengkhianat, Inspektur Wi?

Mil Poong lantas menyuruh Tuan Yi menurunkan pedangnya.


Tuan Yi diam saja dan terus mengancam Byung Joo dengan pedangnya.

Mil Poong lantas mendekati mereka dan menggenggam pedang Tuan Yi sampai tangannya berdarah.

Barulah Tuan Yi menurunkan pedangnya.


Mil Poong : Seharusnya tidak ada pertengkaran antara dua pria yang setia. Memang, aku di tempat yang lebih baik daripada siapa pun untuk tahu bagaimana perasaanmu. Hanya karena kau seorang Namin, mungkin kau harus dipermalukan dan dianiaya seumur hidupmu. Aku juga mengalami itu. Meski aku penguasa kerajaan yang sesungguhnya, aku ditinggalkan oleh Noron dan takhtaku direbut dari aku oleh putra seorang petani. Aku tahu soal ketidakberdayaan yang kau rasakan saat sudah berjuang begitu lama, tapi tidak memperoleh harapanmu. Aku tahu itu lebih baik daripada siapa pun. Namun, saat-saat sulit telah berakhir. Aku akan memasuki istana dan duduk di takhtaku. Dan kalian berdua akan mengawalku di sisiku. Dengan begitu, langkahku akan mulus.

Mil Poong lantas melirik bungkusannya.

Mil Poong : Gunakan itu untuk memenangkan rakyat dan bersihkan jalan kita ke istana. Kita akan langsung bergerak ke ibu kota.


Byung Joo membuka bungkusan itu dan kaget melihat isinya. Isi bungkusan itu adalah selebaran2.


Yoon Young yang melihat itu marah. Ia komplain pada Mil Poong.

Mil Poong : Tidak ada masa depan. Hidup sebagai raja atau mati. Hanya itu yang tersisa. Karena itu kau kembali, bukan? Untuk berdiri di samping raja. Untuk menjadi wanita tertinggi di Joseon. Untuk menjadi ratu.


Di istana, para pasukan bersiap2 menghadapi para pemberontak yang akan segera datang.


Dal Moon juga bersiap dengan anak buahnya.


Moon Soo juga bersiap.

*Hatiku berdebar lihat Moon Soo... Moon Soo pencuri hatiku...


Di pasar, Moon Soo bertemu A Bong dan Jang Dal. A Bong memberitahu kalau mereka juga akan bergabung dengan pasukan.

Moon Soo : Ini cukup masuk akal untuk A Bong. Tapi Jang Dal, kau tidak tahu berapa usiamu?

Jang Dal : Usiaku 50 tahun. Aku masih muda.

A Bong : Kami penyelidik yang bahkan menangkap hantu. Kudengar pemberontak menuju ibu kota. Siapa lagi yang akan menangkap mereka jika bukan kita?

Jang Dal : Tuan, bukan hanya kau saudara seperjuangan sang Raja. Kami juga rakyat Raja.

Moon Soo terharu.


Moon Soo, A Bong, Jang Dal bersama pasukan lain ke istana.

Yeo Ji memanggil mereka bertiga.

A Bong langsung memeluk Yeo Ji.

A Bong :  Sudah lama sekali.

Yeo Ji : Kau mudah sekali ketakutan. Kenapa kau mengajukan diri?

A Bong : Hei, aku masih tetap seorang pria.

Yeo Ji pun menyuruh Jang Dal dan Moon Soo menjaga A Bong.

Moon Soo : Jangan khawatir.  Akan kusuruh dia bersembunyi di belakangku.

Yeo Ji : Kau juga.Jangan hilang kesabaran dan gegabah.

Moon Soo : Kapan aku...

Jang Dal : Jangan cemas. Aku pasti akan memegangi Tuan Moon Soo.

Moon Soo tertawa mendengarnya.

Jang Dal dan A Bong lalu pergi.


Moon Soo : Yeo Ji-ya , jangan cemas. Aku juga akan pergi.

Yeo Ji merasa bersalah karena tidak bisa ikut perang.

Moon Soo : Apa yang kau bicarakan? Tidak tahukah kau betapa leganya aku mengetahui kau akan baik-baik saja. Ini kali pertama aku merasa lega bahwa kau menjadi seorang dayang. Kalau tidak, kau akan ikut kami ke medan perang. Astaga, itu akan sangat mengganggu. Jangan cemas. Aku akan kembali hidup-hidup.

Moon Soo lantas mengelus kepala Yeo Ji.

"Jaga Yang Mulia dengan baik, Yeo Ji-ya." pinta Moon Soo.

Moon Soo beranjak pergi.


Yeo Ji menatapnya dengan cemas.


Para pasukan sudah berkumpul di halaman istana.


Yeongjo datang.

Tuan Lee : Aku, Lee Gwang Jwa, perwira pertahanan area perbatasan, dan pasukan Anda sudah siap maju untuk berperang. Kami menunggu perintah Anda untuk maju berperang, Yang Mulia.

Yeongjo : Dengarkan aku. Kalian yang berdiri di sini adalah teman-temanku, pasukanku, dan rakyatku. Aku, sang raja, seharusnya melindungi kalian. Jadi, mohon ampuni aku karena mengirim kalian berperang demi melindungi negeri kita. Namun, kita akan memenangkan perang melawan pemberontakan kejam apa pun yang terjadi. Aku akan mengusahakan yang terbaik untuk melindungi negeri ini dan rakyat kita yang tidak berdosa. Juga, aku yakin bahwa kalian akan kembali hidup-hidup. Inilah perintahku sebagai raja. Kularang masing-masing dari kalian untuk membiarkan para pengkhianat keji itu merebut nyawa kalian.

Tuan Lee : Kami akan mengikuti perintah Anda sebagai raja, Yang Mulia!


Pasukan istana mulai bergerak menuju tempat pemberontakan.


Tuan Min tanya ke Tuan Jo, apakah pemikiran yang sama juga terlintas di pikiran Tuan Jo saat upacara tadi.

Tuan Jo : Kita, yang punya kekuasaan, sebenarnya orang-orang yang telah menghancurkan negeri kita sejak lama.

Tuan Min : Terutama aku dan Noron. Namun, mereka yang pergi berperang adalah orang-orang yang tidak pernah punya wewenang politik dan rakyat yang tidak berdosa.


Yeongjo tanya pada Ja Dong apa yang bisa ia kulakukan sekarang.

Yeongjo : Aku mengutus teman-temanku dan rakyatku untuk berperang. Apa yang bisa kulakukan di dalam istana?

Ja Dong : Lakukan apa yang diperlukan sebagai Raja, Yang Mulia. Rakyat memutuskan mempertaruhkan nyawa untuk melindungi Raja mereka. Jadi, sebagai Raja mereka, Anda harus memikirkan cara untuk melindungi negeri ini. Aku yakin Anda tahu benar penyebab dari pemberontakan ini. Bahkan orang bodoh seperti aku tahu sebabnya. Pasti ada sesuatu yang bisa Anda lakukan, Yang Mulia. Anda punya tugas yang harus dipenuhi, Yang Mulia.

Yeongjo pun langsung menatap Ja Dong.

Bersambung ke part 2............

No comments:

Post a Comment