Sunday, May 5, 2019

Haechi Ep 21 Part 2

Sebelumnya...


Yeongjo langsung menemui Tuan Jo yang saat itu sedang bersama para pasukan.

Yeongjo pun meminta mereka meninggalkan ruangan itu karena ia mau bicara empat mata dengan Tuan Jo.


Tuan Jo kaget, Namin? Anda bilang ingin menemui para keturunan Namin, yang tertinggal di ibu kota?

Yeongjo : Yi In Jwa dan anak buahnya berada di pusat pemberontakan dan mereka Namin dari Provinsi, para korban politik partai. Itu sebabnya mereka tidak bisa menjabat. Bagaimana jika pemerintah berjanji akan menunjuk mereka? Dan bagaimana jika berita itu sampai ke telinga para pemberontak?

Tuan Jo : Anda ingin membuat musuh terguncang dari dalam?

Yeongjo : Ini merupakan tugas lama yang harus pemerintah selesaikan. Merekrut sumber daya manusia secara mandiri dari politik partai.

Tuan Min : Itukah sebabnya Anda ingin menemuiku? Karena aku sangat mengenal mereka?

Yeongjo : Bantulah aku. Jadwalkan janji temu dengan mereka. Krisis ini bisa menjadi peluang bagi kita.


Di pangkalan, Tuan Lee dan pasukannya membahas strategi mereka.

"Pangkalan kita saat ini berada di sini. Dan para pemberontak akan tiba di Mokcheon sekitar tengah malam." ucap Tuan Lee sambil menunjuk petanya.

"Tembok di sekitar Mokcheon kuat. Mereka tidak akan bisa lewat dengan mudah." jawab salah satu army.

"Aku akan mengirim pasukan elite ke Mokcheon dan memata-matai musuh kita lebih dahulu." ucap Moon Soo.


Moon Soo mengajak Jang Dal, A Bong dan beberapa pasukan mematai daerah Mokcheon.

Moon Soo lalu tanya dimana Dal Moon.

A Bong : Dia menyamar sebagai pengungsi dan sedang mengumpulkan informasi.

Jang Dal : Dia akan menyusul kita saat mendapatkan informasi.

Moon Soo : Baiklah. Ayo. Kita harus bergerak secepat mungkin.


Tuan Yi dan pasukannya bergerak menuju Hanyang.


Moon Soo bergerak menuju Mokcheon.


Yeongjo teringat kata2 Tuan Jo tadi saat ia meminta Tuan Jo membuatkan jadwal agar ia bisa bertemu dengan Namin.

Tuan Jo bilang, Noron tidak akan bisa dibujuk.

Tuan Jo : Mereka harus merelakan kekuasaan mereka lebih dahulu jika Anda ingin menjanjikan posisi untuk semua orang secara merata.

Yeongjo : Aku akan menemui Ketua Kongres, Min Jin Hoon. Mungkin setidaknya dia juga menyadari bahwa ini satu-satunya solusi kita.

Flashback end...


Tuan Min datang.


Goon Tae, si pendongeng dan Dal Moon memeriksa perbatasan.

Si pendongeng : Kalian seperti pengungsi. Dari mana asal kalian?

Goon Tae : Aku ingin menanyakan satu hal. Di mana kau melihat pemberontakan itu?

Goon Tae lalu teriak memanggil Dal Moon.


Moon Soo dan pasukannya tiba di Cheonan malam.

Moon Soo melihat peta.

"Kita akan tiba di dekat Mokcheon jika berlari sampai tengah malam."

"Sebentar, Tuan. Cahaya apa itu?" tanya A Bong.

Sontak Moon Soo kaget melihat apa yang dilihat A Bong..

Moon Soo langsung menyuruh mereka sembunyi.

Moon Soo lalu melihat mereka dari jarak dekat.


Dal Moon, Goon Tae dan si pendongeng menginterogasi pasangan suami istri, pengungsi Mokcheon.

Goon Tae : Ya, wanita ini melarikan diri dari Mokcheon hari ini. Tapi para pemberontak tiba di siang hari tanpa berbuat kekerasan.

Dal Moon kaget Mokcheon sudah diambil alih pemberontak.


Moon Soo tidak percaya Mokcheon sudah jatuh ke tangan pemberontak.

Moon Soo : Ini Cheonan. Bagaimana mungkin mereka sudah sampai di sini? Mereka tepat di depan ibu kota.


Yeongjo mencoba membujuk Tuan Min. Ia berjanji,  akan merekrut orang-orang dari partai mana pun itu dengan adil untuk mengisi  posisi pemerintahan terlepas dari latar belakang politik.

Tuan Mn tidak setuju.

Yeonjo : Aku yakin kau pun tahu kenapa terjadi pertumpahan darah di kerajaan ini hingga kini. Kau tahu kenapa partai politik mulai saling membantai. Politikus selalu berdebat soal keyakinan. Tapi monopoli kekuasaan dan posisi. Skema dan kompetisi membuat politikus saling beradu. Semua itu yang menyebabkan perpecahan ini.

Tuan Min : Itu tidak masuk akal, Yang Mulia. Kenapa hanya Noron yang disalahkan? Kami, Noron, yang paling menderita akibat konflik politik semacam itu.

Yeongjo : Itu sebabnya aku ingin mengakhiri kekacauan ini.

Tuan Min : Kekacauan ini tidak akan pernah berakhir. Bagaimana mungkin mereka bersatu saat kekuasaan dipertaruhkan? Bisa-bisanya Anda memiliki impian yang naif sebagai raja?

Yeongjo,  Ketua Kongres!


Tuan Min : Yang Mulia. Anda meminta kami mengalah dan berbagi kekuasaan? Haruskah Noron merelakan posisi demi Namin dan Soron? Tidak akan kubiarkan. Itu mustahil.

Bukan seperti itu cara kerja politik. Semua itu hanyalah ilusi dan angan-angan.

Tuan Min pamit.

Yeongjo : Aku mendengarnya dari Ketua MA. Kau juga merasa frustrasi sampai mengirim orang-orang kita ke medan perang. Itu bukan karena kau merasa bertanggung jawab kepada mereka sebagai seorang politikus? Kekuasaan Noron. Tentu, harus kau lindungi. Tapi tanggung jawab kepada orang-orang... Bukankah itu hal yang tidak bisa kau abaikan?

Tuan Min berbalik dan menatap Yeongjo.

Yeongjo : Naneun! Geudaneun! tidak menumpahkan darah dalam pertempuran. Yang selalu mati adlaah orang-orang kita yang lemah, bukan kita. Tapi ada yang bisa kita lakukan untuk mereka. Ada lagi yang bisa kita lakukan sebagai politikus untuk menghentikan pemberontakan ini dan mencegah ini terulang lagi.

Tuan Min tetap tidak mau mendengar Yeongjo dan beranjak pergi.


Diluar, ia bertemu Tuan Jo. Tuan Min berkata, diskusinya dengan Yeongjo tidak penting dan beranjak pergi.


Tuan Jo menemui Yeongjo. Yeongjo minta Tuan Jo mengatur janji pertemuanya dengan Namin sesuai rencana.

Kepala Seketaris Kerajaan datang, mengabarkan kalau para pemberontak sudah menguasai Cheonan.


Tuan Lee yang juga baru dapat kabar marah. Ia tidak percaya para pemberontak bisa menguasai Cheonan tanpa kekerasan.


Dal Moon memberitahu Moon Soo kalau para pemberontak membagi-bagikan uang.

Dal Moon : Itu dari Pangeran Mil Poong.  Dia membagikan beras, gandum, dan uang, lalu meyakinkan orang-orang di Mokcheon dan Cheonan. Mereka bahkan meyakinkan tentara setempat.

Moon Soo : Bagaimana mungkin tentara setempat memberi mereka jalan tanpa perlawanan?

Dal Moon : Beberapa orang tidak peduli dengan pemilik kerarjaan ini. Bagi mereka, sebutir beras lebih penting. Dan kerajaan ini telah membuat mereka seperti ini.

Moon Soo : Tapi ini tidak boleh terjadi. Jika kita gagal, mereka akan memasuki ibu kota.


Warga ibukota resah dan langsung mengungsi saat tahu kalau para pemberontak sudah tiba di Cheonan.


Cho Hong bergegas menemui Yeongjo. Ia mengabari Yeongjo sesuatu.


Yeo Ji berniat bergabung dengan para pasukan.

Tapi kemudian, Yeongjo datang mencegahnya.

Yeo Ji : Kudengar para pemberontak akan tiba di ibu kota. Jika aku diam saja, Anda akan terancam bahaya...


Yeongjo memeluk Yeo Ji.

Yeongjo : Jebal. Kumohon tetaplah di sini, Yeo Ji. Setidaknya kau  harus terus mendampingiku. Aku juga tidak mau kau terancam bahaya. Jika aku juga gagal melindungimu... Jika itu terjadi...

Yeo Ji menangis.

Bersambung ke part 3........................

No comments:

Post a Comment