Sunday, May 5, 2019

Haechi Ep 21 Part 3

Sebelumnya...


Petugas Yoon syok para inspektur senior tidak masuk kerja.

3 inspektur junior datang, menghadap Petugas Yoon.

"Alasannya sudah jelas. Mereka mungkin ingin kabur lebih dahulu." ucap mereka.

"Bisa-bisanya mereka melakukan itu sebagai orang-orang yang bekerja untuk negeri ini." sewot Petugas Yoon.


Para inspektur senior berusaha melarikan diri.


Petugas Yoon memeriksa ruangan para petugas Saheonbu dan tidak menemukan seorang pun disana.

"Ini sungguh membuatku malu. Aku kasihan kepada Raja dan rakyat kita karena telah memercayai mereka sebagai pejabat Saheonbu." ucap Petugas Yoon.

"Setidaknya, kita harus bekerja keras dan melakukan yang terbaik. Kota ini mungkin sedang kacau, jadi, kita harus...

Tiba2, sebuah rak jatuh dan terdengar suara teriakan seseorang.

Petugas Yoon bersiap mengeluarkan pedangnya.

Petugas Joo : Ini... Ini aku! Pak, bisa tolong aku?


Para inspektur junior langsung membantu Petugas Joo berdiri.

Petugas Yoon kaget Petugas Joo datang untuk bekerja. Ia senang dan mengaku bangga pada Petugas Joo.


Tapi akhirnya ketahuan kalau Petugas Joo juga berniat melarikan diri. Semua itu gara2 Petugas Yoon mengguncang2kan tubuh Petugas Joo karena bangga dan membuat kotak uang Petugas Joo terjatuh.

Petugas Joo : Begini, selagi berkemas untuk meninggalkan kota ini, aku teringat akan kotak ini.

Petugas Yoon kaget,  maksudmu...

Petugas Joo : Ya, aku menyisihkan sedikit uang dari upah bulananku tanpa memberi tahu istriku. Aku akan pergi sekarang. Kalian semua juga harus segera pergi.


Petugas Yoon menarik kerah baju Petugas Joo.

Petugas Yoon : Kau tidak boleh pergi. Kau harus ikut aku melakukan inspeksi hari ini.

Petugas Joo : Apa? Inspeksi? Dalam kekacauan ini? Tapi...

Petugas Yoon : Itu sebabnya kita harus bertindak.

Petugas Joo : Aku putra satu-satunya dalam keluarga kami, dan aku harus mengurus ibuku yang janda.

Petugas Yoon : Aku tahu kau punya empat saudara dan kedua orang tuamu sehat walafiat. Ikut aku!

Petugas Joo : Astaga, Anda sungguh perhatian! Tolong aku! Pak, aku harus pergi!


Yeongjo menemui anggota Namin.

Ia janji akan memberi mereka peluang untuk bekerja di pemerintahan.  Tapi Namin menolaknya. Namin berkata, selama Noron tidak mau bekerja sama, maka janji Yeongjo hanyalah janji kosong.


Tuan Min turun ke jalan. Seluruh rakyat sudah melarikan diri.

Ia lalu menemukan sepatu jerami yang tergeletak di tanah.


Tak lama kemudian, seorang pria tua lewat. Tuan Min tanya, kenapa pria itu belum melarikan diri.

"Aku hendak bercocok tanam. Sudah waktunya aku menanam biji-bijian. Ke mana pun kami pergi, orang-orang seperti kami tidak akan pernah bisa beristirahat dengan tenang. Aku hanya memilih untuk tinggal di kampung halamanku dan mati selagi bercocok tanam. Anda tampak seperti bangsawan berpangkat tinggi. Aku senang bisa melihat Anda masih berada di kota ini. Dari yang kudengar, para pejabat tinggi paling pertama kabur dari kota ini." ucap pria itu.


Yeongjo kembali ke istana dan menatap tahta dengan tatapan sedih.

Lalu, Tuan Min datang menemuinya.


Yeongjo langsung menemui pasukan pengawalnya.

Yeongjo : Bagaimana status pertahanan terkini di ibu kota?

Kepala Pasukan : Pasukan dari Lima Pangkalan Militer telah ditugaskan di gerbang utama. Menurut laporan terakhir dari Petugas Pertahanan Area Perbatasan, pasukan kerajaan membentuk barisan pertahanan akhir di Jiksan.

Yeongjo : Tunggu. Kau bilang Jiksan?


Moon Soo sedang rapat bersama Tuan Lee dan tiga pasukan lainnya.

Tuan Lee : Kau bilang Jiksan?

Moon Soo : Mereka mungkin memanfaatkan area Cheonan dan Jiksan. Itu cara termudah untuk memasuki ibu kota.

"Tapi jika semua pasukan bergerak ke Jiksan dan musuh menuju ke tempat lain, tamatlah kita." ucap salah satu pasukan.

"Tapi tidak ada cara lain. Dengan jumlah tentara yang sedikit, kita cuma bisa menegakkan satu kota. Kita harus melintas lewat Jiksan." jawab Moon Soo.


Salah satu pasukan mereka bertingkah aneh.


Byung Joo sedang membahas strategi mereka.

Byung Joo : Anseong dan Chuksan memiliki pegunungan, jadi, kita bisa terancam disergap.

Mil Poong : Apa rencanamu, Jenderal?

Tapi Tuan Yi diam saja.

Byung Joo : Jenderal, kita tidak bisa lagi menunda kampanye ini.

Lalu mereka mendapatkan pesan dari mata2 mereka yang menyamar sebagai pasukan kerajaan.

Mendengar itu, Byung Joo cemas. Ia takut mata2 mereka ketahuan.


Tuan Yi : Kita sudah lama menderita. Pikirmu mereka bisa mengalahkan kita dalam semalam? Masih ada para Namin yang sakit hati di ibu kota yang sehat dan bugar.

Mil Poong : Apa isi pesannya? Mereka berjaga di mana?

Tuan Yi : Sudah kuduga, Jiksan.

Tuan Yi seketika bersemangat.

Tuan Yi : Artinya kita akan melintas lewat Anseong. Tunggu apa lagi? Siapkan pasukan untuk berkampanye.

Mil Poong senang memikirkan kesempatan merebut tahta sudah di depan mata.


Mil Poong mengambil pedangnya.

Yoon Young cemas dan melarang Mil Poong ikut bertarung.

Mil Poong : Tidak bisakah kau memanggilku Yang Mulia? Aku akhirnya pulang untuk merebut kerajaanku kembali. Aku harus berdiri di depan. Aku harus memasuki ibu kota dan membuka gerbang istana lebih dahulu. Aku yang harus memenggal Lee Geum.


Byung Joo mencabut pedangnya dan menatapnya.

Byung Joo : Jika kita berhasil, aku akan menjadi bapak pendiri. Keturunanku akan menjadi ketua kongres, ketua mahkamah agung, dan perdana menteri.


Moon Soo mendekati teman2nya.

Moon Soo : Kalian sudah siap?

Dal Moon : Seperti yang kau lihat.

Moon Soo : Mari berjumpa lagi dalam keadaan hidup.

A Bong : Tentu saja. Ayo musnahkan para pengkhianat.

Jang Dal : Pangeran Mil Poong, Wi Byung Joo, Yi In Jwa. Ayo penggal para bedebah itu.

Dal Moon : Aku akan hidup dan menemuimu, Tuan.


Moon Soo cs mulai bergerak.

Di istana, Yeongjo menunggu dengan gelisah.


Moon Soo cs bersembunyi menunggu para pemberontak.

Ia lalu menyuruh para pasukan bersiap2.


Para pasukan pun langsung menyiapkan panah mereka.

Para pemberontak tiba di Anseong.

Byung Joo : Aku yakin pasukan kerajaan pergi ke Jiksan. Di Kastel Anseong, aku tidak melihat satu orang pun.

Tuan Yi : Tunggu apa lagi? Ayo jajah Anseong, lalu menuju ke ibu kota.


Pasukan Moon Soo heran para pemberontak itu belum datang juga. A Bong curiga mereka tertipu. Tapi Moon Soo sangat yakin mereka akan datang.


Yeongjo yang menunggu di istana yakin pasukannya akan menang.


Mil Poong : Terus maju ke ibu kota! Aku akan memenggal Lee Geum, si raja gadungan!


Yeongjo : Kita pasti akan...


Tuan Yi dan Mil Poong mulai menuju istana Anseong.


Moon Soo bersiap dengan panahnya.


Yeongjo : Kita pasti akan menang.


Bersambung..........

No comments:

Post a Comment