Sunday, May 5, 2019

Haechi Ep 22 Part 1

Sebelumnya...


Tuan Yi dan pasukannya menuju istana Anseong. Tapi mereka berhenti ketika kuda pos mereka melintas di depan mereka.

"'Apakah kita berhenti karena satu kuda itu?" tanya Mil Poong.

Mil Poong lalu mengajak semuanya maju. Tuan Yi : Tunggu.

Mil Poong kesal.

"Dengarkan aku, Jenderal. Ini titahku sebagai Raja."

"Kubilang kita harus menunggu." jawab Tuan Yi.


Tak lama, satu kuda lagi datang, tapi kali ini dengan satu jasad teman mereka yang tertusuk panah.

Byung Joo sontak kaget.


Hujan panah datang, menyerbu mereka.

Byung Joo : Ini penyergapan!


Tuan Yi melihat ke atas.

Tak lama, satu anak panah kembali datang, melumpuhkan satu pasukan mereka.


Satu anak panah itu sempat melukai pipi Tuan Yi.

Tak lama, anak2 panah yang lain menyusul, menewaskan beberapa pasukan mereka.


Mil Poong : Jangan lari! Lawan!

Tuan Yi : Atur kembali pangkat kita dan serang!


Moon Soo pun keluar.

Moon Soo : Hoooi! Yi In Jwa, Kepala Pemberontakan. Kalian semua mati hari ini.

Pasukan Moon Soo lalu keluar dari segala arah.


Moon Soo : Pasukan, serang!

Tuan Yi : Serang!


Pertarungan sengit pun terjadi.

Mil Poong disuruh menyelamatkan diri oleh anak buah Tuan Yi.

Mil Poong : Tidak. Lagi pula, kita akan mati jika kalah di sini.


Satu per satu pasukan istana berhasil mengalahkan para pemberontak.

Moon Soo menyerang Byung Joo. Saat tersudut, Byung Joo melemparkan pasir ke mata Moon Soo.

Moon Soo pun langsung mengedip perih. Ia marah.

Moon Soo : Wi Byung Joo, no!

Byung Joo : Park Moon Soo, hubungan nahas kita berakhir sekarang.


Byung Joo mengayunkan pedangnya, hendak menebas Moon Soo.

Tepat saat itu, terdengar letusan tembakan dan mengenai Byung Joo.

Byung Joo seketika terjatuh.

Moon Soo menoleh dan melihat Dal Moon memegang senapan.

Moon Soo : Dal Moon...

Dal Moon tersenyum pada Moon Soo.


Pertarungan kembali berlanjut.

Anak buah Tuan Yi memberi saran untuk menarik pasukan.

Jenderal Yi, keadaan kita tidak menguntungkan.

Mil Poong tak setuju. Ia mau mereka tetap berperang agar ia bisa memenggal kepala Yeongjo.

Tuan Yi memerintahkan pasukannya untuk mundur.


Moon Soo yang mendengar itu, menyuruh pasukannya mengejar Tuan Yi.


Tapi mereka disergap kawanan Tuan Lee.

Tuan Yi syok rute mereka ketahuan.

Mil Poong : Apakah ini akhirnya? Takhta sudah sangat dekat.

Tuan Yi : Mereka pemberontak. Tangkap kepalanya, Yi In Jwa, dan Pangeran Mil Poong hidup-hidup. Bunuh siapa pun yang melawan.

Tuan Yi : Berpencar. Kita akan bertemu di titik pertemuan.


Mil Poong terdiam.

Tuan Yi : Sadarlah! Kita harus bergegas.

Tuan Yi lalu menarik Mil Poong pergi.

Mil Poong : Tidak. Aku adalah Raja. Rakyat menyebut aku Yang Mulia.


Tuan Lee : Kejar Yi In Jwa dan Pangeran Mil Poong. Kita harus tangkap mereka hidup-hidup.


Moon Soo dan pasukannya menang.


-Episode 22 Kemenangan-


Laporan kemenangan itu sampai ke istana.

Sontak, senyum Yeongjo langsung merekah.

Para pejabat memberikan ucapan selamat pada Yeongjo.


Tuan Jo tersenyum bangga menatap Yeongjo.

Tuan Min menatap Yeongjo dengan tatapan berbeda kali ini. Ia mulai merubah pandangannya pada Yeongjo. Lantas ia tersenyum dan beranjak pergi.


Yeongjo yang melihat Tuan Min pergi, langsung mengejarnya. Para pejabat mengikuti Yeongjo.

Yeongjo : Ketua Kongres!

Tuan Min : Anda memperoleh pencapaian besar, Yang Mulia.

Flashback...


Hari itu, setelah Yeongjo kembali ke istana, usai mendapat penolakan Namin, Tuan Min menemui Yeongjo. Tuan Min meminta Yeongjo mengumpulkan semua anggota Namin yang ada di ibukota.

Tuan Min : Anda bilang itu satu-satunya cara kita untuk mengatasi krisis ini dan mencegahnya terjadi lagi. Kau benar.


Maka Yeongjo pun langsung menemui Namin ditemani Tuan Min.

Namin : Apakah itu sungguh benar, Yang Mulia? Apakah sungguh terjamin bahwa anggota Partai Namin akan ditunjuk untuk posisi gubernur?

Tuan Min : Kalian pasti tahu siapa aku. Akankah janji Noron untuk bekerja sama itu cukup?

Yeongjo : Mempekerjakan secara adil terlepas dari latar belakang politik mereka. Aku akan sekali lagi berjanji untuk melakukan itu. Bagaimana menurut kalian? Bisakah kalian mendukung pemerintahan?

Namin : Mohon maaf, Yang Mulia. Tapi ada sesuatu yang ingin kukatakan pada Anda. Ada kemungkinan mata-mata pemberontak akan tetap di antara pasukan kita.

Yeongjo dan Tuan Min kaget.

Yeongjo : Apa? Siapa mata-mata itu?


Barulah Yeongjo menemui pasukan pengawalnya.

Yeongjo tanya, bagaimana pertahanan mereka sekarang di ibu kota?

Kepala Pasukan : Pasukan dari Pangkalan Militer Lima ditugaskan di gerbang utama. Menurut laporan terakhir dari Perwira Pertahanan Area Perbatasan, pasukan kerajaan membentuk garis pertahanan akhir di Jiksan.

Yeongjo kaget, maksudmu mereka ada di Jiksan?

Kepala Pasukan : Ada apa, Yang Mulia?

Yeongjo : Segera kirim kurir ke perwira pertahanan area perbatasan. Kurir harus tiba secepat mungkin.


Moon Soo dan Tuan Lee membahas mata2 di pasukan mereka setelah menerima pesan Yeongjo.

Moon Soo : Bagaimana jika kita coba ini, Tuan? Kita buat mereka lengah dan pancing mereka keluar.


Moon Soo dan Tuan Lee kemudian rapat bersama 3 pasukannya.

Moon Soo : Ya, ini Jiksan. Mereka pasti akan menggunakan jalan dari Cheonan ke Jiksan. Rute itu akan menjadi yang terbaik untuk menyerang ibu kota.

Tuan Lee : Jiksan... Jiksan...

Si mata2 itu terpancing. Moon Soo melihatnya keluar.


Saat tiba di lokasi penyergapan, Moon Soo menyuruh pasukannya bersembunyi disana. Ia yakin, para pemberontak akan melewati Anseong.

Si mata2 protes.

"Perwira pertahanan area perbatasan menyuruh kita pergi ke Jiksan." ucapnya.

"Kenapa? Kau takut sekutumu akan melewati Anseong?"

Si mata2 kaget.

Para pasukan Moon Soo langsung mengarahkan pedang padanya.

Moon Soo : Kau akan dihakimi oleh hukum perang saat ini berakhir. Bawa dia!


Barulah setelah itu, Moon Soo dan kawan2 melakukan penyergapan.

Itulah kenapa Moon Soo sangat yakin para pemberontak akan melewati jalan itu.

Begitu para pemberontak datang, Moon Soo cs langsung menghujani mereka dengan anak panah.

Flashback end...


Yeongjo berkaca-kaca. Ia berterima kasih pada Tuan Min yang sudah membantunya.

Tuan Min menggeleng. Ia berkata, itu semua karena Yeongjo memang pemilik tahta.

Keduanya tersenyum. Lalu, Tuan Min menundukkan kepalanya, memberi hormat pada Yeongjo.

*Akhirnya Tuan Jo dan Tuan Min melihat ketulusan Yeongjo.... nah loh, disaat kek gini, sy selalu pengen ada adegan pelukan antara Yeongjo dan Tuan Min serta Yeongjo dan Tuan
Jo. Next drama, semoga Jung Il Woo-Kwon Yool-Lee Kyoung Young-Son Byung Ho bisa main bareng lagi...


Tuan Lee dan pasukannya menemui Moon Soo cs.

Tuan Lee bangga pada Moon Soo cs.

Moon Soo tanya, bagaimana Tuan Yi dan Mil Poong.

Tuan Lee : Mereka kabur. Tapi mereka mungkin belum pergi terlalu jauh.


Dal Moon datang membawa Byung Joo.

Dal Moon : Bukankah orang ini akan tahu? Keberadaan Yi In Jwa dan Pangeran Mil Poong.


Yeongjo kaget tahu Mil Poong dan Tuan Yi kabur.

Tuan Min berkata, tapi mereka sudah menangkap Byung Joo jadi mereka akan segera mengetahui dimana Mil Poong dan Byung Joo.

Yeongjo : Bagaimana di Provinsi Gyeongsang dan Jeolla?


Tuan Cho dan pasukannya masih berjuang di Gyeongsang.

Namun Tuan Cho kekurangan pasukan.


Lalu para army datang. Para pemberontak senang Tuan Yi mengirim pasukan cadangan untuk mereka.


Tuan Cho cemas kalau2 itu pasukan pemberontak tapi yang datang adalah Moon Soo cs.

Sontak para pemberontak kaget dan bertanya2 kenapa Tuan Yi belum mengirimkan pasukan tambahan.


Moon Soo minta maaf pada Tuan Cho karena datang terlambat.

Tuan Cho : Kau memang gigih. Terima kasih akhirnya sudah datang.

Moon Soo : Semua pangkalan pemberontak sudah direbut. Yang tersisa adalah para tentara di istana itu.

Tuan Cho pun memerintahkan pasukannya untuk menyerang.


Pasukan istana berhasil menembus istana Gyeongsang.

Jang Dal menyuruh A Bong tetap hidup. Jang Dal lalu masuk duluan ke dalam istana.

A Bong langsung mencemaskan Jang Dal.


Tuan Lee juga berhasil merebut kembali Jeolla.


Begitu pun dengan Tuan Cho yang memerintah pasukannya memberi kabar ke istana kalau mereka berhasil mempertahankan Gyeongsang.


Di tengah kebahagiaan para pasukan, A Bong cemas mencari Jang Dal.

Tangisnya pecah saat tak berhasil menemukan Jang Dal.


Namun,  terdengar suara Jang Dal memanggilnya.

A Bong pun langsung memeluk Jang Dal.


Tak lama kemudian, Goon Tae dan si pendongeng keluar dari istana. Si pendongeng bahkan menangis karena mereka berhasil mengalahkan para pemberontak.


Moon Soo melihat2 senapan Dal Moon.

Moon Soo : Kau cukup mahir dengan senapan.

Dal Moon tersenyum dan balas memuji Moon Soo juga yang mahir menggunakan panah.


Para dayang di istana senang mendengar kemenangan mereka. Mereka bahkan juga memuji Yeongjo.

Inwon yang mendengar itu senang.

Lalu kepala pelayannya menanyakan Yeo Ji. Inwon bilang, sudah mengirim Yeo Ji pada seseorang yang membutuhkan Yeo Ji.


Ja Dong membantu Yeongjo memakai jubah perang.

Namun Yeongjo heran Ja Dong tidak mengikat tali pelindung bahunya.

Tak lama, Cho Hong mengumumkan kedatangan Yeo Ji. Ja Dong langsung menyuruh Yeo Ji masuk.

Begitu Yeo Ji masuk, Ja Dong dan Cho Hong langsung pergi.

Ja Dong : Dayang Cheon Yeo Ji yang akan menyelesaikannya. Bawahan anda yang suram undur diri.

Cho Hong : Aku juga akan pergi karena tugasku sudah selesai.

Yeo Ji mulai membantu Yeongjo. Yeongjo kaget Yeo Ji tahu bagaimana mengikat pelindung bahu.

Yeo Ji : Aku belajar mengenai semua pakaian Anda sebelum aku mulai bekerja di istana agar aku selalu siap untuk melayani Anda, Yang Mulia. Kini, saatnya mengencangkan pelindung tangan Anda. Aku akan menyelesaikan tugasku sampai akhir. Aku belajar dan menguasai segalanya agar tidak tiba-tiba menyerah seperti yang selalu Anda lakukan, Yang Mulia.

Yeongjo, apa?

Yeo Ji : Ketika Anda tinggal di luar istana, Anda membantu aku mengikat topi dan tiba-tiba berhenti di tengah. Dan Anda juga melakukan yang sama saat mengoleskan obat padaku. Apakah itu karena Anda tidak tahu caranya?

Yeongjo mau menjelaskan tapi Yeo Ji membalikkan badannya.


Yeo Ji : Berbaliklah, Yang Mulia. Aku harus mengencangkan pelindung samping Anda.

Yeongjo mulai merasa malu.

Yeongjo lantas mau berbalik, menatap Yeo Ji. Tapi Yeo Ji langsung menepuk badan Yeongjo.

Yeo Ji : Aku belum selesai, Yang Mulia.


Yeongjo mengalah. Tapi kemudian ia tersenyum senang.

Bersambung ke part 2...........

No comments:

Post a Comment