Monday, May 6, 2019

Haechi Ep 22 Part 2

Sebelumnya..


Rakyat bersuka cita menyambut kepulangan para pasukan dari medan perang.

Petugas Yoon nampak diantara para warga. Begitu melihat Moon Soo, ia pun bergegas menghampiri Moon Soo.


Petugas Yoon senang masih bisa melihat Moon Soo. Ia juga mengaku, sudah mendengar prestasi Moon Soo di medan perang.

Moon Soo tanya, apa semuanya baik2 saja selama ia pergi.

Petugas Yoon : Tentu saja. Kau sungguh bekerja dengan baik.

Petugas Yoon lantas mengajak Moon Soo pergi.


Petugas Joo juga terlihat ditengah2 ribuan warga. Begitu melihat Jang Dal dan A Bong, ia langsung teriak dan lari menghampiri mereka.

Petugas : Astaga, kau masih hidup! Aku pasti mulai benar-benar menyukai kalian. Melihat kalian berdua masih hidup membuatku terharu.

Jang Dal : Astaga, kau ini kenapa? Kenapa mendadak kau bertingkah seolah-olah kita akrab?

Petugas Joo : Tidak, ini murni karena kasih sayang. Aku pasti sudah benar-benar menyukai kalian.

Petugas Joo juga berusaha mencium pipi Jang Dal dan A Bong. A Bong dan Jang Dal merasa ngeri.


Para pasukan berkumpul di depan istana.

Yeongjo keluar, menemui mereka.

Tuan Lee : Lapor, Yang Mulia. Aku, Lee Gwang Jwa, perwira pertahanan area perbatasan, dan tentara Anda menumpas pemberontak, dan ingin mengabari kemenangan perang kita, Yang Mulia.


A Bong, Jang Dal dan Petugas Joo berteriak, kalau mereka menang.

Yang lain lantas mengikuti.

Yeongjo lantas mendekati Tuan Lee. Ia berterima kasih karena mereka sudah kembali dengan selamat.

Tuan Lee : Anda memberikan titah raja untuk kembali hidup-hidup apa pun yang terjadi.


Yeongjo kemudian menatap Moon Soo dan Tuan Cho secara bergantian.


Lalu, ia berjalan, menatap satu per satu pasukannya.

Yeongjo : Aku bicara kepada pasukan dan kepada rakyat negeri ini. Kalian semua mempertaruhkan nyawa untuk melindungi istana dan negeri kita. Aku tahu kalian sangat ketakutan. Dan aku tahu itu sangat menyakitkan. Aku tidak akan melupakan darah dan keringat yang telah kalian tumpahkan. Aku tidak akan melupakan jiwa-jiwa malang yang tewas dalam medan perang. Kemenangan kita melawan pemberontakan hari ini akan menjadi kemenangan Joseon. Jadi, percayalah kepadaku. Mulai sekarang, aku akan membangun Joseon baru bersama dengan para bawahanku yang setia dan rakyatku.

Mereka pun langsung bersorak, menyerukan kemenangan mereka.


Tuan Yi terpukul, Jeolla dan Gyeongsang yang sudah mereka rebut kini kembali ke tangan Yeongjo dengan begitu mudahnya.

Anak buahnya melapor kalau mereka juga kehilangan Provinsi Hamgyong.

"Kurasa tentara kita akan segera menyerah." ucap anak buahnya.

"Berapa orang yang tersisa?" tanya Tuan Yi.

"Selain yang mengalami cedera, kita hanya punya ratusan orang." jawab anak buahnya.

"Jenderal, dalam situasi ini, perlawanan kita akan sia-sia." ucap anak buah yang satunya.

Tuan Yi marah.

"Ini belum berakhir. Ada bangsawan setempat dan keluarga pemberontak yang mendukung pemberontakan. Segera kirim peringatan ke setiap daerah. Keluarga pemberontak dan pendukung pemberontakan harus berkumpul di titik kumpul."

"Baik, Jenderal." jawab anak buahnya.


Anak buah Tuan Yi cemas. Ia bilang, mereka harus menyiapkan rencana cadangan. Tuan Yi diam saja.


Yoon Young menemui Mil Poong. Mil Poong terduduk kesal.

Mil Poong : Aku seharusnya menggorok Lee Geum. Aku seharusnya membuatnya berlutut di depan kakiku.

Yoon Young : Kini semua sudah berakhir. Provinsi Jeolla dan Gyeongsang telah menyerah. Kini Yi In Jwa tidak memiliki tentara, selain para rakyat jelata yang barbar itu. Kini semua sudah berakhir. Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan sekarang.


Yoon Young menjatuhkan dirinya dan menangis.

Mil Poong memeluk Yoon Young.

Mil Poong : Tidak. Itu tidak benar, Yoon Young. Kau juga melihat itu. Ada orang-orang yang mendukungku. Ada orang-orang yang memohon padaku untuk menjadi raja mereka. Karena kabar ini telah tersebar, kini mereka akan bangkit. Tentu saja. Mereka akan bangkit untukku.

Yoon Young kaget, apa?

Mil Poong :Benar. Aku memercayai rakyatku. Mereka akan melindungi raja mereka. Mereka akan melindungi raja yang pantas di negeri ini.

Yoon Young tetap menangis.


Yoon Young memeriksa kondisi tentara mereka. Ia pun ketakutan.


Tuan Yi tidak tahu harus bagaimana.

Lalu Mil Poong datang, menanyakan jumlah tentara mereka

Tuan Yi : Ini bukan masalah serius. Kau tidak perlu khawatir. Kita masih memiliki pasukan yang cukup.


Yeongjo menuliskan titah.

Lalu Ja Dong datang, memberitahu kalau semua pejabat senior sudah menunggunya.


Tuan Lee kaget saat Yeongjo berkata, tidak akan menghukum keluarga para pemberontak dan yang membantu mereka?

Yeongjo : Cukup tangkap orang-orang yang secara langsung memberontak. Tapi aku akan melarang hukuman gabungan yang menghukum anak-anak dan keluarga. Aku juga akan melarang pembukaan lembaga peradilan khusus yang tidak diperlukan dan membunuh penjahat. Dan aku dengan tegas melarang pencarian dan penghukuman orang-orang yang membantu pemberontakan ini.


Tuan Min : Yang Mulia, ini pemberontakan terbesar yang pernah ada di kerajaan ini. Kurasa hukuman ini akan membuat efek jera.

Yeongjo : Hukuman berat tidak selalu menjadi jawaban, Ketua Kongres. Dan aku yakin keputusan ini akan berguna dalam membasmi pemberontak yang tersisa.


Prajurit menempelkan titah Yeongjo di salah satu desa yang membiarkan pemberontak lewat. Prajurit berkata, bahwa Yeongjo mengampuni hidup mereka.

Sontak, mereka senang.


Tuan Cho lebih lanjut membacakan titah Raja di depan para bangsawan keluarga pemberontak.

Tuan Cho : Aku juga memerintahkan ini. Penangkapan keluarga pemberontak dan  pelaksanaan hukuman gabungan akan dilarang." Penghukuman pendukung pemberontak juga akan dilarang secara tegas. Melalui perintah ini, saya akan memipin bangsawan dan rakyat, agar mereka bisa fokus pada hidup dan studi mereka. Saya menjanjikan ini. Mereka bersyukur.


Tuan Jo menemui Tuan Min. Ia tersenyum melihat ekspresi Tuan Min.

Tuan Jo : Sekali lagi, sepertinya Raja membuatmu terkejut.

Tuan Min : Memaafkan orang-orang yang membantu pemberontak agar mereka tidak lagi membantu pemberontak yang tersisa? Kau benar. Itu adalah taktik politik yang tidak kusangka.

Tuan Jo : Tapi menurutmu itu taktik politik belaka? Memutuskan untuk merekrut anggota Faksi Namin dan memaafkan orang-orang yang membantu pemberontak. Terkadang, kita harus melupakan otak dan mengikuti hati saat berkecimpung dalam politik. Itu sebabnya yang terlalu banyak berpikir pada akhirnya terkejut.

Tuan Min : Politikus yang mengikuti otak, bukan hati? Maksudmu aku?

Tuan Jo : Astaga. Apa aku terlalu berterus terang?

Keduanya lantas tertawa.


Yeongjo tanya ke Tuan Lee, bagaimana situasi terkini?

Tuan Lee : Kurasa keputusan Anda benar. Semua area yang direbut oleh pemberontak langsung bisa ditangani.

Yeongjo : Tapi ini belum berakhir.

Tuan Lee : Benar, Yi In Jwa dan Pangeran Mil Poong masih berkeliaran, Yang Mulia.

Yeongjo : Kita harus menangkap mereka berdua. Selama mereka masih hidup, pemberontakan bisa terjadi lagi.


Byung Joo duduk di kursi penyiksaan. Moon Soo menginterogasi Byung Joo. Ia tanya, dimana Mil Poong dan Tuan Yi.

Byung Joo : Kenapa kau berpikir aku akan memberitahumu? Akankah kau mengampuniku jika aku memberitahumu? Bagaimana? Akan kupertimbangkan jika kita bisa bersepakat. Dengar. Kau punya koneksi ke Raja. Bujuklah dia. Jika kau mengampuniku, aku akan memberitahumu di mana mereka berdua bersembunyi.

Moon Soo : Aku pernah mengasihanimu. Di Departemen Kehakiman, ya?


Moon Soo ingat kata2 Byung Joo saat itu, ketika Byung Joo ditangkap pertama kali.

Byung Joo : Kau pikir kau akan berbeda andai berada di posisiku? Andai kemampuanku diakui, aku tidak akan bertindak sejauh ini. Aku mungkin menjadi seperti dirimu.

Flashback end...


Byung Joo : Kumohon kasihanilah aku, Inspektur Park. Aku akan menyerahkan mereka jika aku tidak dipenggal.

Moon Soo : Tidak. Ada orang-orang tertentu yang pantas diampuni dan dimaklumi. Mereka setidaknya menyesali kejahatan mereka. Mereka tidak saling menyalahkan. Mereka setidaknya sadar diri dan bertobat. Tidak seperti kau  yang mencoba menyalahkan orang lain agar bisa hidup seterusnya.

Byung Joo ketakutan. Dengar. Inspektur Park.

Moon Soo : Menurut hukum kerajaan ini, pengkhianat seperti dirimu  harus dicabik sampai mati.

Moon Soo beranjak pergi.


Dan petugas mulai mengambil besi yang sudah dipanaskan.

Byung Joo ketakutan.

Bersambung ke part 3...........

No comments:

Post a Comment