Wednesday, May 8, 2019

Haechi Ep 24 Part 3 (LAST EPISODE)

Sebelumnya...


Yeongjo berjalan meninggalkan balai istana, bersama Tuan Lee, Tuan Cho dan para pejabat lainnya.

Yeongjo : Apakah itu berlebihan tadi?

Tuan Lee : Ya. Tapi 30 menit kemudian? Anda akan baik-baik saja?

Yeongjo : Tentu saja. Karena aku raja. Aku duduk di singgasana hingga kini. Inilah keuntungan menjadi raja.

Tuan Lee dan Tuan Cho sontak tertawa mendengarnya.


Para pejabat mulai merasa pegal2.

Menteri Personalia mengeluh.

"Sudah berapa hari ini? Rapat harian, rapat pagi, kuliah pagi, kuliah siang, dan kuliah malam. Seharian penuh, kita mendengarkan kepala seksi personalia, Saheonbu... Suaraku bahkan sudah habis. Tapi kita harus bertahan. Raja ingin kita lelah dan menyerah."

"Lantas kenapa kau juga diam? Kalian semua bisu?" sewot salah satu Jipyeong.


Moon Soo menyerahkan petisi dari inspektur Saheonbu, serta inspektur yang tidak lagi menjabat, pada Tuan Cho. Moon Soo bilang, ratusan orang mendukung reformasi yang hendak dilakukan Yeongjo.

Tuan Cho : Mereka semua setuju. Banyak yang menantikan situasi seperti ini.

Moon Soo : Kudengar, Raja juga bekerja siang dan malam. Kali ini, reformasi yang Saheonbu dambakan selama ini mungkin akan terwujud.


Yeongjo berniat meninggalkan istana untuk mendengar orasi rakyatnya. *Blusukan gitu bahasa sekarang

Tuan Lee tidak setuju.

Yeongjo : Para pemimpin terdahulu menganggap rakyat sebagai objek yang harus diatur. Mereka tidak mendengarkan rakyat. Bagi mereka, rakyat adalah orang-orang yang bekerja dan membayar pajak.

Tuan Lee : Aku memahami maksud Anda. Tapi... menemui rakyat secara langsung tidaklah mudah bagi seorang raja.

Yeongjo : Selama ini, aku lebih sering menghabiskan waktu di jalanan daripada di istana. Setengah darahku berasal dari seorang petani. Raja mana lagi yang bisa memahami hal semacam ini selain aku?


Prajurit menempelkan pengumuman, kalau Yeongjo akan turun ke jalan dan mendengarkan suara rakyat.

Rakyat bingung maksudnya. Tidak sedikit pula dari mereka yang menganggap itu kabar baik.


Dal Moon terhenyak saat Goon Tae bilang, bahwa Yeongjo akan turun ke jalanan untuk mendengarkan opini mereka terkait kerja paksa?

Goon Tae : Ya, orang-orang menggila. Seorang raja yang mendengarkan rakyatnya. Bisakah kau membayangkan itu?

Si pendongeng : Aku bisa saja kehilangan pekerjaanku. Jika Raja mengumpulkan rakyat di pasar, apa yang harus kulakukan?

Dal Moon : Yang Mulia membuat langkah berani selayaknya seorang raja. Raja Istana berusaha menjadi Raja Jalanan juga.


Para pejabat protes dengan rencana Yeongjo turun ke jalan.

"Kenapa kita harus mendengarkan rakyat soal tanah dan hukum pajak?" ucap Menteri Personalia.

"Rakyat yang membayar pajak. Tentu saja kita harus mendengarkan mereka." jawab Tuan Jo.

"Tapi mereka tahu apa? Mereka adalah orang bebal yang hanya bisa bercocok tanam." ucap Menteri Personalia.


Seorang petani berbicara kepada Raja mereka.

"Ya, kami hanyalah petani yang naif. Tapi kami mengetahui semua yang perlu diketahui. Kami yang menjalankan kerja paksa. Kami yang paling mengerti."

"Benar. Seorang raja harus mendengarkan suara rakyatnya. Jangan hiraukan status sosial kalian. Ungkapkan saja kesulitan yang kalian hadapi tanpa keraguan." jawab Yeongjo.

Yeongjo kemudian senang melihat ekspresi rakyatnya.


Inwon terkejut, acaranya Yeongjo masih belum selesai.

Kepala Dayang memberitahu, bahwa perselisihan antara petani dan bangsawan kian memanas, dan sepertinya akan berlangsung lama.


Di dapur istana, para dayang sedang sibuk memasak.

Cho Hong menyuruh mereka bergegas karena acaranya Yeongjo akan berlangsung lama dan rakyat butuh makan.

Kepala Dayang Dapur berkata, kalau mereka kekurangan orang.


Yeo Ji tiba2 datang membawa sayuran.

Cho Hong tanya, kenapa Yeo Ji di dapur.

Yeo Ji : Mereka kekurangan orang. Aku kurang pandai memasak, tapi aku cukup kuat. Aku datang untuk melakukan pekerjaan fisik.


Lalu Inwon datang.

Inwon : Aku telah mencarimu seharian. Rupanya kau di sini. Seperti inilah Pelayan Istana Cheon. Dia selalu membantu Raja.

Yeo Ji : Tidak, Yang Mulia. Itu tidak benar.

Inwon : Pelayan Istana Heo. Sudah waktunya kau membawa Yeo Ji ke Istana Raja. Dia selalu mengurus Raja dan melupakanku. Untuk apa aku menyuruhnya berada di Istana Ibu Suri?

Sontak, Yeo Ji panic.


Inwon tertawa dan mengaku kalau ia hanya bercanda. Lalu ia mengatakan, kalau ia memang berniat membuat Yeo Ji mendampingi Yeongjo sejak awal.

Cho Hong :  Aku memberitahunya perasaan Raja.

Inwon : Omong-omong, dapur pasti sedang sibuk. Kami akan turut membantu.

Yeo Ji kaget, para pelayan dari Istana Ibu Suri?

Inwon : Aku juga. Dahulu, aku pandai memasak sebelum datang ke Istana.


Inwon pun dengan senang hati membantu para dayang memasak.


Hari sudah malam. Yeongjo masih mendengarkan suara rakyatnya.

Yeongjo : Jadi, kesulitan terbesar adalah pajak individu?

"Benar, Yang Mulia. Untuk pajak lainnya, kami bisa bertani seperlunya. Tapi kami butuh orang-orang untuk bertani." jawab rakyat.


Menteri Personalia heran, kenapa Yeongjo tidak pernah terlihat lelah.

Menteri Personalia : Sebentar lagi pukul 23.00. Kuharap kita tidak bergadang di jalanan.


Yeo Ji, Cho Hong, bersama para dayang dapur istana, masih berjaga2 di stan makanan.

Yeo Ji kemudian menatap Yeongjo yang tampak serius mendengar suara rakyat. Ia tersenyum.


Seorang bangsawan ikut bersuara.

"Ini konyol. Pajak individu rakyat dikurangi setengah dan sisanya harus ditanggung oleh bangsawan?"

"Kenapa itu konyol? Kenapa pemilik tanah tidak bisa membayar pajak aset mereka sendiri? Jika setiap pemilik tanah membayar 36 kilogram beras per gyeol tanah, pendapatan pajak akan terpenuhi meskipun kita mengurangi pajak individu rakyat."

Rakyat senang tapi tidak dengan para bangsawan. Para bangsawan yang terpelajar itu pun berdebat dengan rakyat miskin.


Menteri Personalia : Maaf, tapi percakapan publik ini tidak benar. Anda dibantu oleh rakyat dan memberlakukan kebijakan yang tidak masuk akal.

Yeongjo : Dibantu oleh rakyat? Baik, anggaplah seperti itu. Tapi apa salahnya dengan itu? Tanpa rakyat, kerajaan pun tidak akan ada.

Menteri Personalia langsung diam.


Yeongjo lantas berdiri.

Yeongjo : Raja dan para pejabat harus dibantu oleh rakyat dan mengayomi rakyat. Maka itu, aku akan mendengarkan semua orang yang ada di sini. Semua yang ada di sini... aku mau kalian yang memutuskan. Pergilah ke gerbang selatan jika setuju dengan kerja paksa. Jika tidak setuju, pergilah ke gerbang utara. Aku akan mengikuti suara terbanyak. Sekarang, kalian semua harus mengungkapkan isi pikiran kalian.

Tuan Lee : Tunggu apa lagi? Pandu mereka memilih gerbang secara tertib.

Prajurit : Baik, Tuan!


Rakyat senang dan bergegas menuju gerbang utara.

Yeongjo tersenyum melihatnya.


Sekarang, Yeongjo sudah kembali ke istana.

Ia menulis sesuatu di kertas.

Kyoon gong ae min, Jeol yong chook ryeok.


Paginya, rakyat berkumpul di depan Saheonbu.

Tulisan itu kini terpajang disana.

Rakyat bertanya2 apa artinya.

Goon Tae dan si pendongeng datang, lalu menjelaskan artinya.

Cintai rakyat dengan pajak adil dan bangun kekuatan dengan menghemat pajak.

Rakyat senang.


Moon Soo tersenyum melihat kegembiraan segerombolan pengemis.

Moon Soo lalu membagi-bagikan makanan pada para pengemis itu.


3 dari para pengemis itu, adalah Jang Dal, A Bong dan Petugas Joo yang sedang menyamar.

Moon Soo : Jadi, pelayan Opsir Choi benar-benar mencuri beras dari kantor pemerintah?

"Apa? kau meragukan mataku?" tanya rakyat.

"Tidak, aku tidak meragukanmu. Tapi kenapa bicaramu kasar kepadaku?" protes Moon Soo.

"Kami memang pengemis dan mungkin melupakan orang yang mengasihi kami, tapi kami tidak melupakan orang yang menampar kami.  Coba pikirkan. Jika melihat mereka mencuri beras, akankah kami lupa?"


Sekarang, Moon Soo sedang mematai-matai Petugas Choi yang mencuri beras itu.


Lalu Moon Soo kembali duduk di sarang pengemis.

Moon Soo : Kalau begitu, hari ini adalah hari yang tepat untuk menyerang.

A Bong datang dan memasukkan permen ke mulut Moon Soo.

A Bong : Permennya manis sekali.

Jang Dal ikut2an menawari permennya ke Moon Soo.

"Ini. Cepat, ambil ini juga. Tapi sampai kapan aku harus melakukan ini?" protes Petugas Joo.

Moon Soo pun memasukkan permen dari mulutnya ke mulut Petugas Joo agar Petugas Joo diam.


Jang Dal dan A Bong dilempari garam sama rakyat. Haha...

Moon Soo datang dan duduk di tengah2 mereka. Ia memberikan air pada mereka.

A Bong : Raja selalu bilang tidak boleh ada diskriminasi. Tapi kenapa hanya kau yang tidak menyamar?

Jang Dal : Aku memiliki tuan yang luar biasa. Selama 50 tahun menjalani hidup, baru kali ini penyamaranku memalukan seperti ini.

Moon Soo : Hei, dengar. Coba pikirkan. Karena wajahku begitu sempurna, membuat wajahku cemong tidak akan membuat orang percaya bahwa aku pengemis. Ini soal taktik dan strategi. Ayolah. Setidaknya, rencana kita berhasil.

A Bong : Jadi, kapan kau akan menyerang Opsir Choi, si pencuri itu?

Moon Soo : Buahnya sudah matang. Kini kita harus menggilingnya menjadi jus.


Yeongjo menemui Dal Moon.

Dal Moon : Begitulah, Yang Mulia. Dia tinggal di sini belakangan ini.

Yeongjo : Aku tidak perlu mengatakan bahwa aku selalu berutang pada Anda.

Dal Moon : Kudengar Anda akan keluar untuk menggelar percakapan publik lagi.

Yeongjo : Kenapa? Kau khawatir? Menurutmu, aku juga akan mengambil alih jalanan?

Dal Moon : Nikmati saja istana Anda. Akulah Raja Jalanan.

Yeongjo : Lihatlah ini. Beraninya kau berlagak menjadi raja di depan raja. Sejak dahulu hingga kini, kau memang pengemis yang kurang ajar.

Mereka lalu tertawa.

Yeongjo kemudian berterima kasih atas bantuan Dal Moon. Lalu ia pun beranjak pergi.


Tuan Min sedang melukis di atas gucinya. Hal yang sudah lama tidak ia lakukan.

Lalu Yeongjo datang. Ia kaget Yeongjo tahu tempat tinggalnya.

Yeongjo : Lama tidak berjumpa, Daegam.


Tuan Min : Ada apa datang ke rumahku yang sederhana ini?

Yeongjo : Aku tidak mendengar kabar tentangmu,  jadi, aku menyelidiki keberadaanmu. Seperti yang kau tahu, aku punya informan yang andal.

Tuan Min : Pasti maksud Anda adalah Dal Moon. Sejak dahulu hingga kini, Anda masih mengandalkan orang itu.

Yeongjo : Aku juga ingin mengandalkanmu. Kenapa kau selalu menolak panggilan dari Istana?


Tuan Min : Karena tugasku sudah selesai. Banyak pemuda kompeten yang mendampingi Anda. Aku tidak ingat itu kapan, tapi aku pernah berdiskusi soal membubarkan Saheonbu di sini. Haechi. Monster legendaris yang bisa membedakan baik dan buruk. Tapi tahukah Anda kenapa monster itu hanya ada dalam legenda? Karena membedakan baik dan buruk sangatlah mustahil dalam realitas.


Yeongjo meninggalkan kediaman Tuan Min sambil memikirkan kata2 Tuan Min.

Tuan Min : Seperti itulah, Yang Mulia. Membedakan baik dan buruk dalam realitas sangatlah mustahil. Sejauh apa pun kita memimpikannya. Itu sebabnya aku sudah lama merelakan impian itu. Aku pernah berpikir hanya ada pemenang dan pecundang, yang menang dan yang kalah, dalam realitas. Aku pernah berpikir jika kehilangan kekuasaan, maka aku kalah dan akan menghadapi kematian. Itu sebabnya aku mudah lelah dan kecewa. Sejujurnya, hakikat kehidupan dan politik adalah memimpikan hal yang mustahil dan maju secara perlahan selangkah demi selangkah. Kelak, bahkan Anda mungkin akan lelah dan kecewa seperti aku. Bahkan Anda akan terpaksa mundur kelak. Tapi aku hanya bisa berharap dengan segenap hatiku bahwa momen itu akan tiba dalam waktu yang masih sangat jauh. Dan menurutku, Anda bisa mewujudkan kemustahilan itu. Karena Anda tidak sendirian. Anda dikelilingi oleh teman-teman yang memiliki satu impian.


Moon Soo, A Bong dan Jang Dal menangkap Petugas Choi.


Dal Moon juga mulai bergerak, mengajak anak buahnya mencari informasi untuk mendukung rencana Yeongjo.


Yeongjo dan Yeo Ji ketemuan di taman.

Yeo Ji : Anda selalu menghadiri rapat dan diskusi. Dan Anda sering sekali keluar. Anda tidak lelah?

Yeongjo : Raja pasti lelah. Tapi mau bagaimana lagi? Anggap saja ini takdirku.

Yeongjo lalu memegang tangan Yeo Ji.

Yeongjo : Dan jika keluar, aku bisa memegang tanganmu seperti ini. Inilah yang disebut "Sambil menyelam minum air".

Yeo Ji : Tapi sebaiknya jangan lakukan ini. Bagaimana jika ada yang melihat kita?

Yeongjo : Kau khawatir? Tidak ada orang di sini.


Ja Dong tiba2 datang. Yeongjo pun langsung melepaskan pegangan tangannya.

Ja Dong merasa tidak enak tiba2 muncul dan menyuruh Yeongjo meneruskan apa yang dilakukan Yeongjo tadi.

Yeongjo malu dan langsung menjelaskan kalau mereka tidak melakukan apapun.


Yeongjo lantas tak sengaja melihat jembatan di depan mereka.

Ia memeriksa jembatan itu.

Yeongjo : Jembatan ini sangat bermasalah. Jembatan ini harus diperbaiki. Banyak orang yang menggunakan jembatan ini. Tapi jembatan ini tampak tidak kokoh dan seakan mau roboh.

Yeo Ji : Tapi ada petani yang tinggal di bawah jembatan ini. Bagaimana nasib mereka begitu jembatan ini dibangun ulang?

Yeongjo Kalau begitu, aku harus menanyakan pendapat mereka soal pembangunan ulang jembatan ini.

Yeongjo bergegas turun kebawah.

Yeo Ji pun langsung menyuruh Ja Dong memanggil Pasukan Kerajaan.


Yeo Ji : Yang Mulia, itu berbahaya. Tunggu aku.

Tapi Yeongjo tak peduli dan mulai menanyai rakyatnya yang tinggal dibawah jembatan itu.


Dari atas, Yeo Ji tersenyum melihat Yeongjo.

Yeongjo kemudian melihat ke arah Yeo Ji dan balas tersenyum.

Lalu terdengar narasi Yeongjo.

"Selagi melangkah di jalan ini, aku tidak akan mudah lelah ataupun kecewa. Bagaimanapun, hakikat kehidupan dan politik adalah maju secara perlahan selangkah demi selangkah."

TAMAT!!

No comments:

Post a Comment