Thursday, July 21, 2016

Temptation Of An Angel Ep 14

Sebelumnya <<<


“Shin Hyun Woo…” panggil Joo Seung, membuat Jae Sung kaget. Jae Sung berbalik, menatap Joo Seung. Wajahnya seketika berubah tegang. Joo Seung tersenyum.

“Lama tidak berjumpa, Hyun Woo Hyung.” Ucap Joo Seung lagi.

“Apa maksudmu?” tanya Jae Sung, pura2 tidak mengerti.

“Berhenti bersikap kekanak2an! Dengan wajah berbeda, suara berbeda, kau pikir aku tidak akan mengenalimu? Apa rencanamu? Kau memilih hidup seperti ini dan tidak pulang ke rumah, apa yang kau rencanakan sebenarnya!”

“Jadi kau mengawasiku? Kau hanya membuang2 waktumu saja.”

“Bagaimana caranya kau bisa lolos dari kebakaran itu? Untuk menyembunyikan luka bakarmu, kau melakukan operasi plastic?”

“Nam Joo Seung!”


Joo Seung marah, ia mendekati Jae Sung dan mencengkram kerah Jae Sung.

“Aku seorang dokter. Tidak peduli bagaimana kau berubah, selama aku masih memiliki setetes darah dan sehelai rambut, aku akan membeberkan siapa dirimu.” Ancam Joo Seung.


Jae Sung diam saja dan hanya menatap Joo Seung dengan tatapan tajam.  Tiba2, terdengar suara Ah Ran yang meminta Joo Seung melepaskan Jae Sung. Ah Ran menyebut Joo Seung pria aneh. Joo Seung yang sudah tidak tahan lagi, memberitahu Ah Ran siapa Jae Sung. Tapi Ah Ran tidak percaya. Joo Seung menunjukkan buktinya. Ia mengambil buku rekening Hyun Woo dari tangan Jae Sung dan menunjukkannya pada Ah Ran.


“Kalau dia bukan Shin Hyun Woo, kenapa buku ini bisa ada di tangannya? Dengan bukti ini, kenapa kau masih tidak mempercayaiku?” ucap Joo Seung.

“Jadi karena ini? Buku ini, aku yang memberikannya. Password Shin Hyun Woo sudah diganti, jadi aku meminta bantuan Jae Sung.” Jawab Ah Ran.

Joo Seung kaget. Jae Sung lantas mengambil buku rekeningnya dari tangan Joo Seung dan berkata pada Ah Ran, jika petugas bank langsung berbicara padanya seolah2 dia adalah Shin Hyun Woo sendiri setelah menunjukkan kartu identitas Ah Ran. Jae Sung juga berkata uang yang ada di rekening Shin Hyun Woo sudah diambil semua. Ah Ran tersenyum dan menarik napas lega.

“Bohong! Omong kosong! Kalau kau bukan Shin Hyun Woo, lalu bagaimana dengan operasi plastic? Bagaimana dengan obat pereda nyeri!” teriak Joo Seung.

“Karena aku memiliki masalah pada tulang belakangku. Aku mendapatkan resep obat penghilang rasa sakit dari rumah sakit milik kerabat dekatku. Haruskah aku menjelaskan hal seperti itu?” jawab Jae Sung.


Joo Seung kaget dan terlihat bingung. Jae Sung lantas menatap Ah Ran, menanyakan bukti tentang kematian Shin Hyun Woo. Ia juga bertanya apa Ah Ran terlibat dalam kematian Shin Hyun Woo. Ah Ran langsung menyangkal dan berkata semua itu hanyalah tipuan Joo Seung. Ah Ran lalu menyuruh Jae Sung kembali ke kantor. Setelah Jae Sung pergi, Ah Ran langsung menarik Joo Seung ke sebuah taman dengan wajah sangat marah.

“Apa yang kau lakukan! Kau ingin memberitahu mereka aku membunuh Shin Hyun Woo? Bagaimana kalau Ahn Jae Sung curiga?” sentak Ah Ran.

“Kau membunuh Shin Hyun Woo, tapi Ahn Jae Sung tidak tahu? Itu karena Shin Hyun Woo adalah Ahn Jae Sung!” jawab Joo Seung.


“Aku benar2 tidak mengerti kenapa kau bersikap seperti ini. Anak kesayangan ibu sudah tiada dan anaknya yang lain jatuh cinta pada istri anak kesayangannya. Bukankah seharusnya balas dendammu menjadi lebih besar?” ucap Ah Ran.

“Kita tidak sedang membicarakan diriku!” jawab Joo Seung.

“Kau benar2 marah karena ibumu tidak menerimamu? Tapi setidaknya kau memiliki seorang ibu, kau seorang dokter dan kau memiliki saudara. Untuk seseorang yang memiliki 99 rumah, kau ingin menggunakanku sebagai tameng untuk mendapatkan angka 100?” ucap Ah Ran.

“Aku memang membenci ibu yang melahirkanku tapi aku tidak pernah berniat menghancurkan dirimu hanya untuk memenuhi hasratku. Aku sudah tidak tertarik untuk balas dendam, aku tidak memikirkan yang lain. Aku hanya ingin melindungimu dari Shin Hyun Woo.”  Jawab Joo Seung.


“Kalau kau memang mencintai diriku, kau harus melepaskan diriku sekarang. Seseorang yang memberiku pinjaman adalah kakak Jung Sang Mo. Setelah keluarga itu mengetahui masa laluku, mereka langsung menyalak padaku seperti ingin membunuhku. Presdir Hwang bahkan mencekik leherku. Jika kau terus memaksaku seperti ini, lebih baik aku mati saja.” Ucap Ah Ran.

Ah Ran pun pergi meninggalkan Joo Seung yang matanya mulai berkaca2.


Sementara itu, Jae Sung masuk ke ruangannya sambil menahan rasa sakit yang amat sangat. Jae Sung pun meminum obatnya. Ya, kecelakaan dan operasi yang dijalaninya berdampak buruk bagi tubuhnya. Jika rasa sakit itu menyerang,  jantungnya akan mulai melemah. Saat sedang meminum obatnya, Julie datang. Julie terkejut melihat obat2an di meja Jae Sung.

“Kecelakaan dan operasi yang kujalani, berdampak buruk bagi tubuhku. Rasa sakit itu sewaktu2 bisa menyerang jadi aku meminum obat2an ini agar bisa bertahan.” Ucap Jae Sung tegar.


“Dulu aku berpikir, hanya Tuhan yang bisa menghukum kesalahan manusia. Tapi sekarang, aku berubah pikiran.  Harga atas kematian adikku, harga atas rasa sakit yang kau rasakan, aku sendiri yang akan membayarnya.” Jawab Julie.

“Balas dendam yang sebenarnya adalah menunggu sampai mereka mendapatkan lebih banyak sebelum kau melihat mereka jatuh.” Ucap Jae Sung.


Dalam tidurnya, Nyonya Jo teringat saat ia hendak melahirkan Joo Seung. Ia juga teringat kata2 Joo Seung dan Ah Ran.

“Apa kau tahu tumbuh kembang anak yang kau buang?” ucap Ah Ran.

“Bahkan ibu yang sudah membuangnya pura2 tidak mengenalinya. Dia tidak ada harapankan?” ucap Joo Seung.

“Untuk memahami kebencian yang menyertai kematian anakmu, ibu  ingin membunuh anak yang pura2 tidak ibu kenali selama 30 tahun?” ucap Ah Ran.


Nyonya Jo terbangun. Peluh tampak membasahi sekujur tubuhnya.

“Itu benar, Ah Ran dan Joo Seung pasti sudah tahu. Bagaimana kalau ayah Hyun Woo tahu?” gumamnya cemas.


Jae Hee menanyakan masa lalunya pada ibu panti asuhan. Ia pun terkejut saat ibu panti mengatakan tentang seseorang yang membawanya ke panti asuhan itu. Selama ini Jae Hee mengira dirinya dibuang ke panti asuhan oleh orang tuanya.


Nyonya Jo menemani Presdir Shin minum wine. Saat Presdir Shin menyinggung tentang kematian manajer pabrik mereka 25 tahun yang lalu, Nyonya Jo terkejut. Saking terkejutnya, ia sampai menjatuhkan gelas yang dipegangnya ke meja. Nyonya Jo beralasan tangannya licin, itulah kenapa ia menjatuhkan gelas itu.

“Aku sudah lama melupakan kejadian ini, tapi kejadian ini membuat dadaku sesak akhir2 ini. Kematian Hyun Woo, ketidakstabilan perusahaan, aku merasa seperti ada hantu yang sedang mempermainkan kita.” ucap Presdir Shin.

“Pelankan suaramu, nanti anak2 bisa mendengar.” Ucap Nyonya Jo.

“Memangnya kenapa kalau mereka dengar? Aku tidak melakukan kesalahan apapun..” jawab Presdir Shin.


Tepat saat itu, Ah Ran pulang dan mendengar pembicaraan mereka.

“… dia membawa keluarganya saat jam bekerja dan mati karena kesalahannya sendiri. Aku tidak membunuhnya jadi kenapa aku harus merasa bersalah?” ucap Presdir Shin.

Ah Ran pun langsung menatap tajam Presdir Shin.


Ibu panti pun akhirnya menceritakan siapa yang membawa Jae Hee ke panti asuhan. Jae Hee pun kaget mengetahui orang yang membawanya ke panti adalah Nyonya Jo. Ibu panti juga bilang bahwa Nyonya Jo sangat mempedulikan Jae Hee layaknya keluarga sendiri. Jae Hee penasaran bagaimana Nyonya Jo bisa mengenalnya.

“Mungkin kau kerabat jauhnya. Pertama sopirnya yang datang, setelah itu anaknya.” Jawab ibu panti.

“Aku dengar paman menghubungi mereka, jadi Nyonya Jo seharusnya memiliki kontak paman.” Ucap Jae Hee sumringah.


Ah Ran membuka lacinya dan melihat foto kedua orang tuanya. Dengan wajah sedih, Ah Ran berkata hari itu hampir tiba. Tuhan mungkin mengasihaninya dan mengirimkan seseorang untuk menolongnya. Ah Ran lalu meminta agar ayah dan ibunya mau bersabar sedikit lagi.


Ah Ran kemudian membuka bungkusan yang isinya sepasang sepatu berwarna merah. Ingatannya pun kembali ke masa lalu saat ia mendapatkan sepatu itu dari ibunya sebagai hadiah ulang tahunnya. Sang ibu juga memberikan sepatu yang sama pada adiknya, Kyeong Ran. Ah Ran yang takut sepatu baru mereka hilang akhirnya menuliskan nama di sepatunya juga sepatu adiknya.

Kembali ke masa kini—Ah Ran menangis sambil memeluk sepatunya.

“Kyeong Ran, kau ada dimana? Seberapa parah rasa lapar yang kau rasakan? Seberapa keras hidup yang kau jalani?” ucapnya.


Jae Hee berjalan pulang sendirian. Di tengah jalan, Joo Seung mencegatnya. Tanpa mereka sadari, Jae Sung mengawasi mereka dari balik pohon tak jauh dari tempat mereka berdiri. Joo Seung menanyakan hubungan Jae Hee dan Jae Sung. Jae Hee pun mengaku kalau dirinya mencintai Jae Sung, tapi Ah Ran selalu mengancamnya. Jae Hee mengatakan kalau Ah Ran juga mencintai Jae Sung dan meminta Joo Seung menjauhkan Ah Ran dari Jae Sung.


“Aku akan menolongmu, tapi kau harus menjawab pertanyaanku. Orang yang kau cintai, Ahn Jae Sung atau Shin Hyun Woo?”

“Apa kau mencurigai sesuatu. Saat terakhir aku melihat pasien pada hari itu. Dia meninggal dalam sebuah kebakaran, aku baru mendengar setelahnya.” Jawab Jae Hee.

“Pada hari dimana villa itu terbakar, orang yang menolong Hyun Woo Hyung adalah kau kan? Kenapa kau menolongnya? Apa sebelumnya kalian sudah saling mengenal?” ucap Joo Seung.

“Bukankah kau yang memperkenalkan pasien itu padaku? Dan juga orang yang membuatku bertemu dengan Presdir Ahn adalah dirimu.” Jawab Jae Hee.

“Tidak, kau dan Jae Sung sudah saling mengenal sebelumnya. Aku melihat kalian sedang bersama.” Ucap Joo Seung.

“Jika kau dan Joo Ah Ran terus menyiksaku seperti ini, aku mungkin akan menceritakan kejadian yang sebenarnya pada keluarga Shin Hyun Woo.” Ancam Jae Hee.

“Kau mengancamku sekarang?” tanya Joo Seung kesal.

“Itu bukan ancaman, aku hanya meminta tolong padamu.” Jawab Jae Hee, kemudian beranjak pergi. Joo Seung menatap kepergian Jae Hee dengan wajah kesal.


Jae Hee terduduk lemas di tepi ranjang begitu ia memasuki kamarnya. Tak lama kemudian, seseorang datang. Jae Hee kaget melihat sosok Jae Sung. Jae Sung langsung memeluk Jae Hee dengan erat dan berkata dia terus menunggu Jae Hee sepanjang waktu. Jae Hee pun berkata dia habis dari panti asuhan. Dia menceritakan tentang pamannya yang datang mencarinya.

“Begitukah?” Jae Sung tersenyum lega, “… lalu apa kau tahu nomor yang bisa dihubungi untuk mencari pamanmu?”


“Sayangnya tidak, meskipun aku ingin mengetahuinya tapi aku tidak yakin ibumu memiliki nomornya.” Jawab Jae Hee.

“Begitu ya. Ibuku tidak mengatakan apapun. Dia hanya bilang ada gadis yang sangat cantik yang membutuhkan bantuannya.” Ucap Jae Sung.

“Hari ini aku baru mengetahuinya dari pemilik panti asuhan kalau ibumu yang membawaku ke panti. Tapi bagaimana aku bisa mengenal ibumu?” tanya Jae Hee.

“Aku mendengarnya belum lama ini tapi aku tidak bisa menanyakannya pada ibuku. Kenapa tidak kau saja yang menanyakannya langsung pada ibuku? Pergilah dan ceritakan pada ibuku siapa dirimu sebenarnya.” jawab Jae Sung.

“Benarkah aku boleh melakukannya?” tanya Jae Hee senang.

“Maafkan aku karena tidak bisa banyak membantumu. Sebagai gantinya, kau bisa mengatakan keinginanmu yang lain, akan kulakukan apapun yang kau minta” jawab Jae Sung.

“Benarkah? Kalau begitu aku ingin pergi ke laut pada musim dingin ini.” ucap Jae Hee.


Jae Sung pun mengajak Jae Hee ke laut, seperti keinginan Jae Hee. Di sana, mereka bermain kembang api. Tawa tak pernah berhenti menghiasi raut wajah keduanya. Keduanya sangat bahagia.

“Jae Hee, disini tidak ada orang. Kita bisa berteriak sepuasnya, mengeluarkan isi di dalam hati kita.” ucap Jae Sung.

“Kau benar. Di sini kita bisa menumpahkan segala keluh kesah kita.” jawab Jae Hee.


Jae Sung terdiam sejenak dengan tatapan yang mengarah ke laut lepas. Tatapan yang penuh penderitaan. Tak lama kemudian, ia berteriak. Meneriakkan namanya adalah Shin Hyun Woo. Mata Jae Sung tampak berkaca2 saat meneriakkan nama aslinya.

“Ahjussi,” ucap Jae Hee dengan tangis yang mulai tumpah. “… sekarang giliranku. Sampai sekarang, aku tidak pernah memanggil nama ayah dan ibuku. Aku harus mengumpulkan keberanian untuk memanggil mereka, jadi kau tidak boleh mengejekku.”

Jae Hee pun mulai berteriak, “Appa! Eomma!”

“Kau harus berteriak lebih keras lagi agar mereka dapat mendengarnya.” Jawab Jae Sung.

“Appa! Eomma! Eonni! Kalian ada dimana! Kalian tidak melupakanku kan! Kenapa kalian tidak mencariku! Menunggu seperti ini, rasanya aku mau gila!” teriak Jae Hee.


Jae Sung menatap Jae Hee, kemudian memeluknya dengan erat.

“Jae Hee, aku berjanji aku pasti akan menemukan keluargamu. Aku tidak bisa melihatmu menangis. Aku mencintamu. Aku sangat mencintaimu, Jae Hee.” Batin Jae Sung.


Keesokan paginya, Ah Ran yang baru saja turun ke bawah tidak sengaja mendengar percakapan Presdir Shin dan Seketaris Kang. Seketaris Kang memberitahu Presdir Shin jika mereka sudah mendapatkan alamat Joo Chul Ming, manajer pabrik mereka yang tewas 25 tahun yang lalu. Ah Ran kaget Ah Ran kemudian mendekati Presdir Shin dan menyapa Presdir Shin dengan ramah.

“Kapan kita akan mendapatkan uang dari Myeong Sung Electronic?” tanya Presdir Shin ketus.

“Presdir Hwang membutuhkan sedikit waktu lagi karena ada kesalahpahaman saat meeting. Kenapa kita tidak mencoba bekerja sama dengan SM Furniture?” jawab Ah Ran.

“Kenapa kita harus bekerja sama dengan perusahaan kecil seperti itu!” ucap Presdir Shin kesal.


“SM Furniture tidak bisa dianggap remeh. Mereka baru saja memperluas bisnis mereka secara online. Di masa depan, kita juga mendapatkan masalah karena desain mereka sangatlah mirip dengan desain kita. Presdir Hwang juga mengharapkan kerjasama ini.” jawab Ah Ran.

“Presdir Hwang juga?” tanya Presdir Shin kaget.

“Meskipun aku tidak diakui lagi sebagai menantu di keluarga ini, tapi untuk urusan bisnis Presdir Hwang masih mempercayaiku.” Jawab Ah Ran, yang membuat Presdir Shin kesal bukan kepalang.


Joo Seung memberikan foto Jae Sung pada seseorang. Ia menyuruh orang itu mengawasi Jae Sung 24 jam. Joo Seung meminta orang itu memberinya laporan sedetail mungkin tentang Jae Sung. Orang itu mengangguk dan bergegas pergi.


Di toko, Yeon Jae baru saja selesai menyantap dua mangkuk ramen ketika Hyun Min datang. Hyun Min datang dengan dua bungkusan di tangannya. Yeon Jae bertanya dengan ramah, Hyun Min darimana saja. Hyun Min bilang dia baru saja membeli ddukbokki dan fish stick kesukaan Yeon Jae.

“Kau pasti kelaparan kan setelah menunggu sepanjang hari? Aku tidak lapar, jadi kau harus menghabiskan semua ini.” ucap Hyun Min.


Hyun Min menyuapi Yeon Jae. Yeon Jae yang sudah kekenyangan dengan terpaksa menerima suapan Hyun Min. Hyun Min lantas bangkit untuk mengambil air minum, dan saat itulah dia melihat dua mangkuk ramen yang tadi dibuang Yeon Jae di bawah meja.

“Kau sudah makan dua mangkuk ramen dan sekarang kau makan ini juga? Kalau kau tidak lapar, kau jangan memakannya. Kau bisa sakit kalau kau makan seperti ini.” ucap Hyun Min.

“Memangnya kenapa kalau aku sakit? Manajer sudah membelikannya untukku. Jadi meskipun aku sakit, aku akan tetap memakannya. Jangan khawatir.” Jawab Yeon Jae yang merasa tidak enak menolak makanan pemberian Hyun Min.

Yeon Jae pun mulai melahap ddukbokki yang dibawa Hyun Min. Hyun Min menatap Yeon Jae dengan wajah tersedu2. Hahahah…


Hyun Min kemudian merebut sumpit Yeon Jae.
“Perutmu bisa sakit kalau kau makan seperti ini!” ucap Hyun Min.



Yeon Jae berusaha merebut sumpit itu lagi tapi Hyun Min tidak mau menyerahkannya. Mereka pun rebutan sumpit, hingga akhirnya keduanya jatuh membuat Hyun Min tidak sengaja mengecup bibir Yeon Jae yang belepotan dengan saus ddukbokki. Awalnya, mereka terkejut. Tak lama berselang, Yeon Jae tertawa melihat saus yang menempel di atas bibir Hyun Min.

“Aku akan menghapusnya untukmu.” ucap Yeon Jae dan mulai menghapus saus di atas bibir Hyun Min sembari tertawa tentunya.

“Berhenti tertawa. Jangan bergerak.” Pinta Hyun Min sembari menatap Yeon Jae dengan intens.

Hyun Min kemudian mencium lembut bibir Yeon Jae. Yeon Jae memejamkan matanya saat bibirnya dikecup oleh Hyun Min. Wow…  aku kira mereka bakal canggung karena ciuman kecelakaan itu, tapi ternyata… ini first kiss mereka kan? I’m love this couple…


Ah Ran mentraktir paman dan bibinya makan di sebuah kafe. Sang bibi berkata semua makanan itu terasa nikmat karena Ah Ran yang membelikannya. Ah Ran memperingatkan paman dan bibinya untuk tutup mulut tentang siapa ayahnya. Ia bilang, jika Presdir Shin tau siapa ayahnya, mereka akan selesai.

“Itu bukan sesuatu yang patut untuk dicemaskan. Kita tidak perlu takut. Demi ayahmu, kami  harus menceritakan kebenarannya dan membawamu keluar dari rumah itu.” jawab bibi Ah Ran.

“Jika aku mati, kalian juga akan mati. Menceritakan kebenarannya pada ayah mertuaku, apa kalian pikir kalian akan mendapatkan sepuluh ribu won?” ucap Ah Ran sambil memberikan uang pada paman dan bibinya.


“Kami mengerti.” Jawab paman Ah Ran sembari mengambil uang itu dengan mata berbinar2.

“Apa yang terjadi pada Kyeong Ran? Kenapa masih belum ada berita tentang Kyeong Ran?” tanya Ah Ran.

“Soal itu, sebenarnya kami sudah bertemu dengan Kyeong Ran.” Jawab bibi Ah Ran.


“Benarkah? Dimana Kyeong Ran? Bisakah aku bertemu dengannya sekarang. Katakan padaku!” teriak Ah Ran.

“Kami sudah membuat janji agar bisa bertemu Kyeong Ran, tapi ada seorang wanita yang menghalangi kami, jadi semua itu sia2.” Jawab paman Ah Ran.

“Siapa wanita itu?” tanya Ah Ran.

“Wanita yang membawa Kyeong Ran ke panti asuhan, kami tidak tahu dia memanfaatkan Kyeong Ran untuk membuat sebuah kesepakatan. Dia mengganti nomornya, kemudian kabur begitu saja. “ jawab bibi Ah Ran.

“Tidak peduli apapun kalian harus menemukan Kyeong Ran. Aku akan melupakan semua perbuatan kalian padaku selama ini. Bagaimana pun caranya, kalian harus membawa Kyeong Ran padaku.” Ucap Ah Ran.


Kyeong Ran sendiri pergi menemui Nyonya Jo. Ia berkata, ia datang bukan sebagai seorang perawat tapi ia datang untuk menanyakan sesuatu. Jae Hee pun menceritakan semuanya. Nyonya Jo terkejut mengetahui siapa Jae Hee.

“Itu benar, aku adalah anak itu. Terima kasih karena anda sudah mengurusku seperti anda mengurus anak anda sendiri. Secara kebetulan, aku bertemu dengan Shin Hyun Woo di Villa Yang Pyeong dan aku sangat terkejut.” Ucap Jae Hee.


“Bagaimana ini bisa terjadi? Suster Yoon yang mengurus Hyun Woo adalah…”

“Aku datang ke sini untuk mencari keluargaku.” Ucap Jae Hee.

“Soal itu, aku hanya… ingin membantumu saja. Dan secara kebetulan, orang itu adalah kau Suster Yoon.” Jawab Nyonya Jo.

“Lalu apa anda tahu tentang orang tuaku atau saudaraku?” tanya Jae Hee.

“Tentu saja. Jika aku tahu aku pasti akan menceritakannya padamu. Aku minta maaf karena tidak bisa membantumu.” Jawab Nyonya Jo.

“Tidak apa, aku justru berterima kasih karena bantuan anda selama ini. Mulai sekarang, aku akan membalas kebaikan anda.” Ucap Jae Hee, membuat Nyonya Jo terdiam.


Nyonya Jo mengantar Jae Hee ke depan. Saat Jae Hee hendak pergi, Nyonya Jo memanggilnya dan bertanya kenapa Jae Hee tidak bilang sejak awal siapa dirinya. Jae Hee beralasan itu karena hubungannya dengan Shin Hyun Woo, jadi dia tidak ingin Ah Ran mengetahuinya.

Nyonya Jo heran, apa maksudmu?

“Aku tidak tahu apakah aku harus mengatakan ini. Sebenarnya, saat masih berada di villa, Shin Hyun Woo sempat sadar.” Ucap Jae Hee.

Nyonya Jo kaget, apa? Lalu kenapa kau tidak memberitahunya pada kami. Apakah Ah Ran melarangmu bicara?


“Maafkan aku, seharusnya aku mengatakan ini padamu sejak awal. Tapi Nyonya, Ah Ran tidak boleh mengetahui siapa diriku yang sebenarnya. Tolong rahasiakan hal itu.” pinta Jae Hee.

Jae Hee pun pergi. Nyonya Jo bertanya2, kenapa Ah Ran membohonginya? Tidak bilang kalau Hyun Woo sempat sadar. Apa alasan Ah Ran?


Jae Sung dan Julie merayakan keberhasilan mereka merebut Soul. Tanpa mereka sadari, seseorang mengambil foto2 mereka saat mereka sedang melakukan toast.

Seketaris Kang melaporkan temuannya pada Presdir Shin. Ia bilang, sudah menemukan kakak Joo Chul Ming, tapi mereka mengaku tidak mengenal Joo Chul Ming dan tidak pernah bertemu dengan Presdir Shin. Presdir Shin terkejut, kemudian menyuruh Seketaris Kang mencari tahu alamat mereka karena ia akan menemui mereka.


Orang suruhan Joo Seung memberikan foto2 Jae Sung dan Julie pada Joo Seung.Joo Seung kaget saat tahu wanita yang ada di foto itu adalah Jung Sang Hwa, Presdir SM Furniture. Ia penasaran, kenapa Jae Sung menemui kakak Jung Sang Mo. Berikutnya, ia menyadari sesuatu.


Joo Seung kembali ke apartemennya. Ia terkejut melihat Nyonya Jo berdiri di depan pintu apartemennya. Joo Seung membuatkan teh bunga krisan untuk Nyonya Jo. Teh kesukaan Nyonya Jo. Sementara Nyonya Jo, duduk terpaku di sofa.

“Ayah bilang dia jatuh cinta pada seseorang yang menyukai teh bunga krisan. Karena itulah rumahnya selalu dipenuhi wangi bunga krisan.” Ucap Joo Seung sambil membawakan teh itu untuk Nyonya Jo.

“Sejak kapan kau tahu aku adalah ibumu?” tanya Nyonya Jo. Raut wajahnya terlihat sedih.

“Jangan pernah katakan itu! Selama hidupmu, anda bersikap seperti orang asing padaku. Seharusnya anda tetap bersikap seperti itu sampai anda mati.” Jawab Joo Seung marah.

“Joo Seung-ah.” Panggil Nyonya Jo.

“Jangan memanggilku seperti itu! Ayah, dia menunggumu sepanjang waktu sampai dia menutup matanya. Seperti orang menyedihkan, anda membuatnya pergi seperti itu. Bagi orang lain, kau adalah malaikat. Tapi kenapa kau begitu keras pada orang yang sangat merindukanmu, kenapa!”

“Aku pikir itu yang terbaik untuk kita, untuk melindungimu.”
 
“Simpan saja penjelasanmu. Jujurlah dan katakan kau tidak ingin keluargamu hancur.Kemudian aku akan mengerti.”

“Terserah apapun yang kau pikirkan. Aku sudah menyiapkan diriku untuk menerima kebencianmu. Tapi sesuatu harus dijelaskan disini. Karena kau membenciku, jadi kau dan Ah Ran membalasku lewat Hyun Woo. Benar, kan?”


Nyonya Jo lantas menunjukkan bukti salinan foto mobil Ah Ran yang didapat pada hari kebakaran di villa. Joo Seung melirik salinan itu dan terkejut.

“Ah Ran meninggalkanku pada jam lima. Tapi dia masih berada di Yang Pyeong dua jam kemudian. Apa yang dilakukannya selama dua jam itu? Apa dia kembali ke villa? Kau tahu itu, kan? Karena kau membenciku, jadi kau membunuh Hyun Woo? Kalian berdua, membenciku!”

“Jangan merusak kebenaran.” Ujar Joo Seung dingin.

“Apa? Merusak kebenaran?” tanya Nyonya Jo heran.


Nyonya Jo kemudian berlutut. “Aku tahu kau marah padaku, tapi Hyun Woo tidak bersalah. Sekarang ceritakan kebenarannya padaku. Apapun yang kau katakana, aku berjanji tidak akan memberitahunya pada orang lain.”

“Hyun Woo meninggal karena Nyonya menyalakan gas saat dia (Ah Ran) pergi. Itulah kenapa Nyonya membunuh dua anak Nyonya. Aku dan Hyun Woo.”

Mendengar kata2 Joo Seung, Nyonya Jo kecewa.


Nyonya Jo kemudian berdiri dan menatap Joo Seung penuh tangis.

“Kesedihan Hyun Woo, aku akan membayarnya. Walaupun masa laluku terungkap, aku akan tetap melakukannya. Bagaimana anakku meninggal, aku pasti akan menemukannya.” Ucap Nyonya Jo, kemudian pergi.

“Aku tidak bisa menjadi anakmu pada akhirnya. Kematian Hyun Woo, kalau anda ingin mencari tahu penyebabnya, carilah. Tapi akan lebih baik kalau anda tidak memancingku.” Batin Joo Seung. Penuh dendam.

Gak tega liat Joo Seung disini… aku penasaran kenapa Nyonya Jo tega mencampakkan Joo Seung. Bahkan saat dia tahu Joo Seung adalah putranya, dia tetap saja membenci Joo Seung.


Ah Ran mengendap masuk ke apartemen Julie. Ia pun terkejut saat melihat foto Julie bersama Sang Mo dan seorang pria tua (aku tidak tahu dia siapa, mungkin suaminya) di layar laptop. Sepertinya, Julie memang sengaja memasang foto itu agar Ah Ran bisa melihatnya.


“Presdir Joo, kau disini? Duduklah. Tapi ngomong2 siapa yang ingin kau kutemui? Julie Jung atau Jung Sang Hwa?”

“Sejak awal kau mendekatiku dengan maksud tertentu. SM Furniture dibuat untuk menyerangku.”

“Soal itu, itu salah lama jadi aku tidak ingat.”

“Desain itu, Jung Sang Mo yang memberikannya padamu kan? Dengan membuatku sengsara, apa kau pikir dia akan bahagia? Jika Sang Mo ingin melihatku hancur, seharusnya dia membunuhku bukan membunuh dirinya.”

“Jadi sampai akhir kau tidak akan mengakui kesalahanmu?”

“Semua pria di dunia ini tidak akan bunuh diri kan hanya karena patah hati? Aku mengerti perasaanmu, tapi jangan pernah melibatkan diriku. “


Ah Ran kemudian memberikan surat perjanjian merger pada Julie. Julie kaget membaca surat itu. Ah Ran membenarkan isi surat itu dan berkata Soul akan mengambil alih SM. Tapi jika Julie tidak menyetujuinya dan berniat mengambil alih Soul, maka ia akan menyatakan kebangkrutan Soul dan mencuci tangannya. Dan Julie akan kehilangan uang yang diinvestasikannya pada Soul selama ini. Setelah mengatakan itu, Ah Ran yang merasa diatas angin beranjak pergi. Julie menatap kepergian Ah Ran dengan geram dan merobek2 surat itu.


Jae Sung dan Jae Hee duduk di ayunan. Jae Sung membela ibunya. Ia berkata jika ibunya tau sesuatu, ibunya pasti akan memberitahu Jae Hee. Tapi Jae Hee yakin Nyonya Jo tau dengan jelas tentang keluarganya. Ia tidak mengerti kenapa Nyonya Jo menyembunyikannya.
 
Sementara itu, Joo Seung mendapat laporan tentang Jae Sung yang menemui Jae Hee. Joo Seung lantas melihat foto2 Jae Sung bersama Julie.

“Ahn Jae Sung, aku pastikan aku akan menangkapmu. Nyonya, apa yang harus aku lakukan? Sebelum anda menemukan alasan dibalik kematian Shin Hyun Woo, lihatlah bagaimana aku akan mengungkap identitas Ahn Jae Sung yang sebenarnya.” ucap Joo Seung sembari menyeringai.


Joo Seung lantas menunjukkan foto2 itu pada Ah Ran. Joo Seung mencoba meyakinkan Ah Ran tentang siapa Ahn Jae Sung sebenarnya. Ah Ran menatap tidak percaya foto itu.


“Ahn Jae Sung dan Presdir Jung, bukankah itu aneh? Dan sekarang, dia diam2 menemui Yoon Jae Hee. Menurutmu kenapa? Ahn Jae Sung dan Yoon Jae Hee sudah saling mengenal sejak di Yang Pyeong. Dia mendekatimu karena maksud tertentu. Percayalah padaku. Shin Hyun Woo masih hidup dan berusaha mengungkap kejahatanmu. Aku sudah menyiapkan rencana membalas mereka. Orang yang bisa menolongmu di dunia ini hanya aku.”

“Tapi Ahn Jae Sung dan Shin Hyun Woo orang yang berbeda.”

“Dia mungkin melakukan operasi plastic.”

“Kepribadiannya dan seleranya berbeda. Mereka orang yang berbeda.”

“Dia melakukannya untuk membodohimu.”


“Presdir Ahn sangat mahir berkuda. Mana mungkin Shin Hyun Woo yang membenci kuda melakukan itu? Ahn Jae Sung juga mahir bermain music dan memasak. Dia jago berolahraga, jadi mana mungkin dia Shin Hyun Woo.”
 
“Faktanya dia memang bukan Shin Hyun Woo, tapi bukti menunjukkan dia adalah Shin Hyun Woo. Pikirkan hal ini. Ada sesuatu tentang Shin Hyun Woo yang tidak mungkin berubah.”

Ah Ran pun teringat Hyun Woo takut ketinggian. Hyun Woo pernah bilang padanya tentang hal itu, karena itulah Hyun Woo benci naik pesawat.


Ah Ran keluar kafe sambil memikirkan Shin Hyun Woo dan Ahn Jae Sung.

Flashback…


Ketika mereka bulan madu, Hyun Woo menemani Ah Ran berkuda.

“Saat aku masih kecil, aku pernah jatuh dari kuda. Itulah kenapa aku tidak suka berkuda. Aku juga takut pada ketinggian.”


Ah Ran lantas ingat saat Jae Sung mengajaknya balap kuda.


Ah Ran juga ingat saat Hyun Woo bilang pasta kacang lebih enak dibandingkan spaghetti.


Ah Ran lantas ingat saat Jae Sung bilang lebih menyukai masakan Korea karena lama tinggal di luar negeri.


Ah Ran lantas ingat saat melihat Jae Sung yang begitu mahir berolahraga dan bermain music.

Ah Ran memikirkan semuanya, ia bingung.


Ah Ran lantas menemui Jae Hee, ia bertanya apa yang dilakukan Jae Hee semalam. Apa Jae Hee bertemu Jae Sung. Jae Hee menyangkal, ia bilang semalam ia pergi menghadiri acara ulang tahun temannya. Ah Ran kemudian melirik cincin di jari Jae Hee, kemudian tersenyum sinis dan menemui Joo Seung.


Joo Seung memberikan data2 Jae Hee pada Ah Ran.

“Tidak ada yang special dari latar belakangnya. Apa kau punya informasi yang lain?” tanya Ah Ran setelah membaca data2 Jae Hee.

“Dia sudah menjadi suster di sini ketika aku datang. Jadi tidak ada informasi lain.”

“Aku harus mengetahui masa lalu Suster Yoon. Seperti apa keluarganya, Joo Seung-ssi, tolong bantu aku.”


Jae Sung berkunjung ke apartemen Julie. Julie membuatkan hidangan Korea untuk Jae Sung. Jae Sung memuji rasa masakan Julie. Ia tidak menyangka Julie bisa memasak masakan Korea. Julie tersenyum, kemudian berkata meski dirinya tinggal di luar negeri, ia tetap orang Korea.

“Tapi bagaimana bisa kau bertahan disini, padahal adikmu sudah tidak ada?”

“Jangan memberiku harapan. Sebenarnya aku merasa kesepian, jadi jika kau memberiku harapan, bisa2 aku jatuh cinta padamu.”


Percakapan mereka terhenti karena bunyi bel. Julie mengira seketarisnya yang datang, karena ia memang menyuruh seketarisnya membeli kue. Tapi betapa kagetnya ia yang datang adalah Ah Ran. Ah Ran terkejut saat melihat sepatu Jae Sung. Ia semakin terkejut saat melihat Jae Sung.

“Jae Sung dan Julie Jung. Kalian berdua sudah saling mengenal? Aku tidak mengerti hubungan apa yang kalian miliki.”

Ah Ran lantas melirik pasta kacang yang dibuat Julie.

“Ahn Jae Sung, bukankah kau tidak menyukai pasta kacang? Apa seleramu sudah berubah? Atau sebenarnya kau adalah orang lain?”

“Ayo pergi, Ah Ran.” Ucap Jae Sung. Jae Sung lantas menatap Julie dan berkata ia akan makan malam dengan Julie di lain waktu.


Jae Sung mengajak Ah Ran ke kafe. Ah Ran ingin tahu bagaimana Jae Sung bisa mengenal Julie. Ah Ran bertanya hubungan apa yang dimiliki Jae Sung dan Julie. Jae Sung beralasan, ia berkata hanya ingin membantu Ah Ran. Tapi Ah Ran tidak percaya. Ia menuduh Jae Sung bekerja sama dengan Julie untuk menghancurkan Soul. Ia ingin tahu motif Jae Sung mendekatinya.

“Bukankah kau sendiri yang bilang kalau adik wanita itu meninggal karena patah hati denganmu? Setelah kau mengatakan itu, aku pikir kau berada dalam bahaya. Perasaanku tidak enak. Jadi karena itulah aku menemuinya.”

“Kau ingin aku percaya?”

“Jika kau tidak ingin percaya maka aku tidak bisa melakukan apapun. Hanya ada satu kebenaran. Lebih dekat dengan Presdir Jung. Aku bahkan memakan pasta kacang yang tidak aku sukai. Aku melakukan sesuatu yang kubisa tapi kau malah mencurigaiku seperti ini. Ini sangat mengerikan.”

Jae Sung pun beranjak pergi.

Ah Ran kembali ke kantornya. Setibanya di sana, ia menghubungi Joo Seung dan meminta Joo Seung terus mengawasi Jae Sung. Ia berkata seperti berada di ruangan yang gelap. Usai bicara dengan Joo Seung, ia dikejutkan dengan kehadiran paman dan bibinya. Ia pun panic.


“Apa yang kalian lakukan di sini? Bagaimana jika keluargaku melihat kalian?”

“Kau terlihat gelisah karena Kyeong Ran, jadi mana mungkin kami bisa tenang. Jadi karena itulah kita harus bekerja sama mencari Kyeong Ran. Jika kau menghargai usaha kami, kami akan memberikan nomor telepon wanita yang membawa Kyeong Ran.” Jawab bibi Ah Ran.

“Baiklah, akan kulakukan apapun yang kalian minta. Berikan nomor itu padaku sekarang.”


Paman dan bibi Ah Ran ragu2 memberikannya, tapi Ah Ran segera merebut kertas yang bertuliskan nomor Ah Ran. Ah Ran terkejut melihat nomor itu. Itu adalah nomor rumah kediaman Keluarga Shin.

“Jadi ibu yang membawa Kyeong Ran? Apa alasan ibu membawa Kyeong Ran?” batin Ah Ran.

Ah Ran lantas teringat kalau selama ini Nyonya Jo memberi dukungan dana pada Panti Asuhan Angel. Ia pun menyadari Kyeong Ran dibesarkan di sana. Menyadari hal itu, Ah Ran langsung pergi dengan tergesa2.


Ah Ran menemui pemilik panti asuhan itu. Ia bertanya, diantara anak2 yang dibantu oleh Shin Hyun Woo, apakah ada anak yang bernama Joo Kyeong Ran. Pemilik panti berkata tidak ada anak yang bernama Kyeong Ran.

Ah Ran terkejut, tidak ada? Lalu apakah ada anak yang sangat diperhatikan suami dan ibu mertuaku?

“Tidak ada yang special, tapi kenapa kau menanyakannya?”

“Tidak ada, aku hanya ingin tahu. Tolong jangan katakan pada ibuku bahwa aku datang kemari.”

Ah Ran menuju keluar sambil memikirkan kenyataan Nyonya Jo yang membawa Kyeong Ran. Ia yakin Nyonya Jo tahu dimana Kyeong Ran. Tapi meskipun begitu, ia tidak bisa menanyakan langsung tentang Kyeong Ran. Jika ia menanyakannya, maka identitasnya sebagai putri Joo Chul Min akan terbongkar.

Ah Ran pun menelpon seseorang, ia menyuruh orang itu menghubungi Nyonya Jo.


Ternyata Ah Ran menyuruh bibinya menghubungi Nyonya Jo. Nyonya Jo terkejut karena bibi Kyeong Ran bisa mengetahui nomor barunya. Bibi Ah Ran mengancam akan melaporkan Nyonya Jo dengan tuduhan penculikan jika Nyonya Jo tidak juga mempertemukan mereka dengan Kyeong Ran. Bibi Ah Ran berkata, ia bisa menemukan alamat Nyonya Jo dengan mudah semudah memasak bubur abalone.

(Berarti paman dan bibi Ah Ran tidak tahu wanita yang membawa Kyeong Ran adalah ibu mertua Ah Ran)


Nyonya Jo pun setuju menemui mereka, tapi ia meminta mereka tidak menghubungi siapa pun. Ia meminta rahasia ini hanya diketahui oleh mereka. Nyonya Jo lalu dikejutkan dengan kedatangan Ah Ran.

“Kenapa kau pulang di jam seperti ini?” tanya Nyonya Jo.

“Aku melupakan sesuatu. Ibu terlihat pucat. Apa terjadi sesuatu? Oh ya, ada dua orang aneh yang berkeliaran di depan rumah.” Ucap Ah Ran.

Nyonya Jo panic, kunci pintu dan jangan bukakan pintu untuk siapapun.

Saat Nyonya Jo mau pergi, ia teringat kata2 Jae Hee tentang Hyun Woo yang sempat sadar. Nyonya Jo pun langsung menatap Ah Ran dengan penuh kecurigaan. Sedangkan Ah Ran menatap Nyonya Jo dengan sangat tajam.

Di kamarnya, Ah Ran memikirkan alasan Nyonya Jo membawa Kyeong Ran. Ia bertanya2, apa Nyonya Jo melakukan itu untuk menutupi kesalahan Presdir Shin.

Ponsel Ah Ran lantas berdering. Telepon dari Joo Seung. Ah Ran kaget karena Joo Seung memberitahunya kalau Jae Sung ada di pabrik boneka kertas.


Jae Sung melihat2 boneka yang di pamerkan, tidak hanya melihat. Ia juga mencoba membuat sebuah boneka. Jae Sung terlihat sangat mahir membuat boneka. Tepat saat itu, Ah Ran datang. Ah Ran merasa seperti melihat Hyun Woo dalam diri Jae Sung. Ah Ran lantas mendekati Jae Sung.

“Hyun Woo-ssi.” Panggil Ah Ran.

Hyun Woo menoleh dan terkejut melihat Ah Ran.

“Kenapa kau begitu terkejut? Reaksimu sama seperti seseorang yang tertangkap basah.” Ucap Ah Ran.


“Hanya kebetulan. Aku terkejut melihatmu datang ke sini. Tapi kenapa kau memanggilku Shin Hyun Woo?”

“Melihatmu membuat sebuah boneka, mengingatkan diriku pada Shin Hyun Woo. Suamiku juga suka membuat boneka. Itulah alasanku datang ke sini. Tapi aku tidak menyangka akan bertemu denganmu disini.”

“Begitukah? Sepertinya Shin Hyun Woo memiliki hobi yang cukup unik.”

“Aku tidak menyangka dirimu memiliki hobi yang sama. Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?”

Jae Sung hanya tersenyum untuk menyembunyikan kegelisahannya atas pertanyaan Ah Ran. Ah Ran lantas mengambil dan melihat boneka yang dibuat oleh Jae Sung. Ia berkata, ekspresi dan warna boneka itu sama seperti boneka yang dibuat oleh Hyun Woo. Hyun Woo juga memberikan sentuhan warna di pipi boneka itu.

Ah Ran lalu teringat perkataan Hyun Woo saat Hyun Woo memberikan boneka itu padanya.

“Memberikan sentuhan warna pada pipi boneka ini adalah ciri khas Shin Hyun Woo. Jangan lupakan itu.”

Ah Ran menatap tajam Jae Sung. Jae Sung terus menyangkal, ia berkata sengaja merahasiakan hal itu dari Ah Ran sampai dia selesai membuat boneka itu yang akan dihadiahkannya untuk Ah Ran. Tapi Ah Ran tidak semudah itu percaya. Ia berkata hari itu sangat aneh. Dia menemukan Jae Sung di pabrik boneka kertas, juga memergoki Jae Sung makan malam dengan Julie. Ah Ran lantas bertanya apa masih ada yang disembunyikan Jae Sung. Jae Sung hanya tersenyum, namun raut wajahnya tampak gelisah. Ah Ran lantas mengajak Jae Sung ke suatu tempat.


Ternyata Ah Ran ingin Jae Sung melakukan bungee jumping di depannya. Ah Ran berkata, mendiang suaminya adalah pria yang sangat baik tapi tidak mahir berolahraga. Dia tidak bisa menunggang kuda, juga tidak bisa berenang. Tapi Ahn Jae Sung berbeda, Jae Sung sangat mahir berolahraga karena itulah ia menyukai Jae Sung. Ah Ran ingin Jae Sung melakukan bungee jumping.

“Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya.” Ucap Jae Sung.

“Apa kau juga takut ketinggian sama seperti suamiku?” tanya Ah Ran.

“Joo Ah Ran mencurigaiku. Aku harus hati2. Jika dia tahu aku takut pada ketinggian, dia pasti langsung tahu aku adalah Shin Hyun Woo.” Batin Jae Sung.

Ah Ran semakin curiga pada Jae Sung. Untuk menutupi identitasnya, Jae Sung pun menerima tawaran Ah Ran dengan hati senang.


Tiba di atas, Jae Sung mencoba meyakinkan dirinya untuk melakukan bungee jumping. Sementara di bawah, Ah Ran menunggu Jae Sung melakukannya. Di atas, Jae Sung masih mengumpulkan keberaniannya.

“Itu benar, kehancuranmu sudah ada di depan mata. Mengambil semua milikmu, menyeretmu ke meja pengadilan, pengkhianatan yang kau lakukan. Aku tidak takut mati. Akan kutunjukkan padamu.” Batin Jae Sung.

Jae Sung pun melompat.


Ah Ran terkejut, dia melompat. Shin Hyun Woo tidak mungki melakukannya. Meskipun dia merubah wajah dan suaranya, tidak mungkin dia tidak takut lagi pada ketinggian. Kalau begitu, orang ini…

“Kau benar2 pria yang cool seperti yang aku pikirkan.” Ucap Ah Ran sambil berjalan merangkul lengan Jae Sung.

“Aku gemetar bukan karena aku takut, tapi karena kau melihatku.” Jawab Jae Sung.


Ah Ran lantas pergi sebentar, sementara Jae Sung masuk ke mobil. Ponsel Ah Ran berbunyi. Pesan masuk dari Joo Seung.

“Apa kau sudah pergi ke sana? Itu bisa membuktikan kalau Ahn Jae Sung tidak pernah ada di dunia ini. Sebelum Hyun Woo membuat rencana, kita harus menyusun rencana terlebih dahulu.”


Jae Sung pun lekas menghapus pesan itu. Tepat saat itu Ah Ran datang dan Jae Sung langsung meletakkan ponsel Ah Ran kembali ke tempat semula. Ah Ran memberikan Jae Sung minuman yang dibelinya.

“Aku… berpikir kalau aku benar2 menyukai Ahn Jae Sung. Apa kau masih menemui Yoon Jae Hee? Kau mencintaiku tapi juga mencintai Yoon Jae Hee?” tanya Ah Ran.

“Bagaimana bisa? Dia adalah wanita yang baik jadi aku tidak tega menyakitinya. Aku akan menjauhinya pelan2.” Jawab Jae Sung.

“Kalau kau memang tulus padaku…” Ah Ran lantas melirik cincin di jari Jae Sung.

“… berikan cincin itu padaku. Bahkan jika seseorang memfitnahmu, berkata kasar padamu, aku mempercayai ketulusanmu dan akan bersama denganmu sampai akhir.” Ucap Ah Ran.

Jae Sung pun terpaksa melepas cincin itu dan memberinya pada Ah Ran. Ia melakukannya dengan berat hati.


Seseorang mengantar kiriman untuk Jae Hee. Jae Hee kaget mengetahui kiriman itu dari Ah Ran. Jae Hee buru2 membuka sebuah amplop kecil dari Ah Ran. Ia terkejut melihat isinya adalah cincin couple Jae Sung. Jae Hee lantas membaca surat yang ada di dalam amplop tersebut.

“Inilah perasaan Presdir Ahn yang sesungguhnya, jadi berhentilah mendekatinya.”


Jae Hee berlari keluar, di sana ia menangis. Ia tidak percaya Jae Sung mengembalikan cincin itu padanya. Ia lalu teringat saat Jae Sung memakaikan cincin itu padanya.


Sementara itu, Ah Ran ada di apartemen Jae Sung. Ia sedang membantu Jae Sung memasak. Usai memasak, keduanya lantas menata meja makan.

Presdir Shin menerima telepon dari Joo Seung. Nyonya Jo yang membawakan secangkir minuman untuk Presdir Shin, kaget. Joo Seung berkata ingin mengatakan sesuatu pada Presdir Shin. Ia akan tiba jam tujuh di kediaman Presdir Shin.


Jae Hee ke apartamen Jae Sung. Ia datang untuk menanyakan soal cincin itu. Di belakang, Ah Ran menatap keduanya dengan wajah cemas. Jae Hee berkata ia tidak percaya Jae Sung yang melepas cincin itu. Ia berkata mungkin Jae Sung kehilangan cincin itu atau Ah Ran yang mencurinya.

Jae Sung terdiam, ia tidak tega harus menyakiti Jae Hee. Di belakang, Ah Ran terus memperhatikan keduanya. Jae Sung tidak punya pilihan lain. Ia terpaksa menyakiti Jae Hee. Dengan wajah menyesal, ia memutuskan hubungannya dengan Jae Hee. Tangis Jae Hee langsung menyeruak. Jae Sung menyuruh Jae Hee pergi dan menutup pintunya di depan Jae Hee. Ah Ran tersenyum lega melihatnya.

“Paman, ada apa ini? Kenapa kau memperlakukanku seperti ini? Aku lelah, sangat lelah. Paman, katakan padaku kau hanya bercanda.” Rengek Jae Hee.


Jae Hee pun terjatuh, dan menangis.


Jae Sung tampak menyesal sudah menyakiti Jae Hee. Ah Ran yang datang sambil membawakan makanan berkata, ia pikir Jae Sung akan lebih dingin dari itu. Jae Hee pasti terluka sekarang. Ah Ran kemudian meletakkan piring2 itu di atas meja dan berkata ia bisa menerima perasaan Jae Sung sekarang. Ia tidak akan mencurigai Jae Sung lagi tanpa alasan yang jelas.


Tiba2, Jae Sung mematikan lampunya membuat Ah Ran kaget. Jae Sung lantas mendekati Ah Ran. Ia berlutut, kemudian menyodorkan sebuah cincin pada Ah Ran. Ah Ran dilamar! Ah Ran terkejut bukan main.


Bersambung……