• Sinopsis Wonderful World Episode 1-16

    Kim Nam Joo dan Cha Eun Woo memiliki rasa sakit yang sama akibat kehilangan seseorang yang sangat berharga bagi mereka.

  • Duis non justo nec auge

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

Defendant Ep 4 Part 1

Sebelumnya...

[Satu Minggu Sebelum Persidangan]


Disaat Bangjang, Wooruk dan Moongchi sibuk main kartu dengan taruhan makanan, Jung Woo sibuk membuat catatan. Milyang yang duduk di sebelah Jung Woo menanyakan tentang sidang kedua Jung Woo yang akan digelar sebentar lagi dan ingatan Jung Woo. Jung Woo pun berkata, ia sudah mendapatkan ingatannya kembali walau hanya sedikit.

“Kudengar pertarungannya bakal sengit karena banyaknya barang bukti.” Ucap Milyang.

“Ada beberapa bagian yang mencurigakan juga. Aku harus memeriksa beberapa hal sampai sidangnya tiba.” Jawab Jung Woo.


Kepala Tahanan juga membahas sidang kedua Jung Woo dengan Min Ho. Kepala Tahanan meminta Min Ho tidak perlu khawatir. Kepala Tahanan lalu memuji ide Min Ho. Usai berbicara dengan Min Ho, Kepala Tahanan langsung menghubungi anak buahnya.

Para petugas langsung mendatangi sel yang dihuni Jung Woo cs. Petugas memeriksa lemari Jung Woo dan mereka menemukan rokok di sana. Jung Woo pun mengelak, ia berkata rokok itu bukan miliknya tapi petugas tidak peduli dan menyeretnya keluar. Hanya Milyang yang sadar rokok itu adalah jebakan untuk menjebloskan Jung Woo ke sel isolasi.

“Itu bukan milikku! Lepaskan. Lepaskan aku! Itu bukan rokokku. Lepaskan aku!” teriak Jung Woo.


Dan buku catatan Jung Woo pun terjatuh.

“Baiklah. Aku akan pergi. Aku akan pergi. Aku hanya perlu buku catatanku. Sidangku sudah dekat! Sidangku sebentar lagi! Sidangku sebentar lagi! Itu bukan milikku. Rokoknya bukan milikku!” teriak Jung Woo.


Tepat saat itu, Tae Soo lewat dan melihat Jung Woo yang akan diseret ke sel isolasi. Tae Soo pun mulai memikirkan sesuatu.


Petugas yang menjebak Jung Woo menyerahkan buku catatan Jung Woo ke Kepala Tahanan. Kepala Tahanan tersenyum puas melihat buku catatan itu.

Buku catatan itu pun diserahkan Kepala Tahanan ke Min Ho. Min Ho pun mengaku bahwa ia mengenal sebagian orang di Departemen Kehakiman dan berjanji akan mencari tahu apakah Kepala Tahanan bisa dipindahkan ke Seoul.

“Astaga, terima kasih.” Seru Kepala Tahanan.

“Tapi kenapa kau melakukan hal semacam itu padanya?” tanya Kepala Tahanan penasaran.

“Adikku memang suka membuat masalah, tapi kalau bukan karena Jaksa Park, dia tidak akan jadi begini.” Jawab Min Ho.

“Begitu rupanya.” Ucap Kepala Tahanan mengerti.


Min Ho lalu menuangkan minuman untuk si Kepala Tahanan.
“Aku dengar dia kehilangan ingatan beberapa kali sebelumnya. Aku harap dia akan menghadapi sidang kali ini tanpa tahu kenapa dia ada di sana.” Ucap Min Ho.

Kepala Tahanan langsung memberikan tatapan curiganya.

“Itu karena aku ingin membalaskan dendamku padanya atas penderitaan adikku.” Ucap Min Ho buru2.

“Dia sudah kehilangan ingatannya dua kali. Kalau kita beruntung, itu mungkin akan terjadi lagi. Kalaupun tidak terjadi, dia tidak akan ingat sudah mempersiapkan diri untuk sidang ini. Tidak ada yang perlu dicemaskan.” Jawab Kepala Tahanan.


Di sel isolasi, Jung Woo terus menerus berteriak meminta dibukakan pintu, tapi tak ada yang mau membukakan pintu. Jung Woo akhirnya duduk dan mencoba berpikir.

“Sidangku akan digelar sebentar lagi. Sidangku…”

“Kau  tidak bisa keluar.” Ucap seseorang tiba2.

“Tae Soo-ya?” jawab Jung Woo, lalu merangsek ke pintu.

“Tae Soo-ya. Rokok itu bukan punyaku.” Ucap Jung Woo.

“Aku tahu. Sipir dan kepala keamanan membecimu seperti aku membencimu. Aku tidak tahu kenapa.” Jawab Tae Soo.

“Sidangku akan digelar sebentar lagi. Aku harus mempersiapkannya. Aku tidak bisa berdiri di persidangan dengan keadaan seperti ini. Tolong aku, Tae Soo-ya.” pinta Jung Woo.

“Apa kau masih mau bilang kalau kau tidak membunuh mereka?” tanya Tae Soo.

“Aku tidak ingat. Aku tidak bisa mengingat apa-apa. Aku akan membuktikannya di pengadilan. Aku masih punya waktu. Aku harus mencari jalan keluar dari semua ini.” jawab Jung Woo.

Sayangnya, Tae Soo tidak percaya ucapan Jung Woo.

“Benar, kalau aku melakukannya, aku akan membayar semua dosaku. Untuk membuktikan itu, aku perlu dokumennya. Tolonglah aku, Tae Soo-ya.” pinta Jung Woo.

“Waktu itu, kau hanya bisa keluar saat ingatanmu hilang. Kau mungkin saja tidak bisa keluar sebelum kau kehilangan ingatanmu lagi.” Jawab Tae Soo.


Tae Soo lantas beranjak pergi.Jung Woo memanggil2 namanya, namun ia tak peduli. Jung Woo pun bingung, ia tidak tahu bagaimana caranya bisa membuktikan kalau bukan dia yang membunuh Ha Yeon dan Ji Soo.

Jung Woo mulai terlelap. Sipir yang menjebak Jung Woo pun menatap Jung Woo dengan penuh kebencian.

Min Ho diberitahu Kepala Tahanan tentang ingatan Jung Woo yang masih belum hilang. Kepala Tahanan berkata, mereka hanya tinggal menunggu sampai ingatan Jung Woo hilang. Mereka masih punya satu hari lagi sampai ingatan Jung Woo hilang.

Min Ho sepertinya marah, karena Kepala Tahanan langsung marah2 usai berbicara dengan Min Ho. Sipir yang menjebak Jung Woo datang, ia melapor kalau ingatan Jung Woo masih belum hilang.

“Apa yang harus kita lakukan? Aku kan tidak mungkin membuka isi kepalanya. Tidak bisakah kita melakukan sesuatu?” tanya Kepala Tahanan.

“Sepertinya kita tidak bisa melakukan apa-apa.” Jawab sipir.

“Harusnya dia suruh saja aku membunuhnya. Permintaannya itu sedikit aneh.” Ucap Kepala Tahanan.

Di sel isolasi, Jung Woo merangkak di lantai. Tubuhnya tidak sanggup untuk berdiri. Jung Woo kemudian menemukan tulisan ibu di lantai. Jung Woo lantas mengorek2 lantai, berusaha menuliskan sesuatu, dan… jari2nya pun terluka karena itu.

Tak lama kemudian, Jung Woo ingat kata2 Tae Soo kalau ia tak akan bisa keluar sebelum ingatannya menghilang. Jung Woo pun cemas kalau ingatannya menghilang lagi.Jung Woo lalu melihat jari2nya yang berdarah. Semangatnya pun muncul dan ia kembali mengorek2 lantai menuliskan namanya, Park Bong Goo.


Kembali ke saat Jung Woo sengaja membuat masalah agar dijebloskan ke sel isolasi, tapi sel isolasi yang biasa dia huni malah sudah ditempati tahanan lain.

“Hei, kau yang di sel ujung. Harusnya di lantai ada tulisan yang kuukir. Bisa kau bacakan itu untukku?” teriak Jung Woo.

“Kau benar. Seseorang menulisi lantai ini. Mengerikan sekali.” Jawab tahanan itu—Shin Cheol Sik.

“Kau menemukannya? Apa isinya?” tanya Jung Woo.

“Ya, aku menemukannya. Tulisannya "Park Bong Goo." Jawab Cheol Sik.


“Benar. Apa tidak ada lagi?” tanya Jung Woo.

“Coba kulihat. Masih ada lagi.” Jawab Cheol Sik.

“Kumohon. Bisakah kau bacakan itu untukku?” pinta Jung Woo.

“Masalahnya aku tidak bisa membaca.” Jawab Cheol Sik.

“Apa maksudmu? Kau barusan bisa membaca namanya.” Ucap Jung Woo.

“Itu kebetulan saja, Jaksa Park Jung Woo.” Jawab Cheol Sik.

“Siapa kau?” tanya Jung Woo.

“Aku kecewa padamu. Kita berdua kan hampir mati gara-gara kau.” jawab Cheol Sik.

“Shin Cheol Sik?” tanya Jung Woo.

“Kau ingat aku ternyata. Sudah kubilang aku tidak melakukannya.” Jawab Cheol Sik kesal.

“Baiklah. Kumohon, aku mohon padamu. Katakan padaku apa isi tulisannya. Shin Cheol Sik.” Ucap Jung Woo.

Tepat saat itu, Kepala Tahanan pun datang ditemani anak buahnya. Melihat Kepala Tahanan, Jung Woo pun kembali duduk agar mereka tidak curiga, Jung Woo paham, apa yang mereka cari. Mereka lantas membuka sel Cheol Sik, dan mencari sesuatu. Sementara di selnya, Jung Woo berharap tulisannya tidak ketahuan. Dan syukurlah, mereka tidak melihat tulisan itu.

“Ada apa ini?” tanya Cheol Sik.

“Apa kau melihat sesuatu? Katakan kalau kau melihat sesuatu. Aku akan mengirimmu ke sel gabungan.” pinta Kepala Tahanan.

“Aku melihat sesuatu.” Ucap Cheol Sik.

Dan Jung Woo pun langsung berdiri menguping kata2 Cheol Sik.
“Aku melihat ada 3 lalat di sana.” Jawab Cheol Sik, lalu menirukan suara lalat. LOL LOL

Kepala Tahanan kesal. Dan Cheol Sik pun langsung dilemparkan kembali ke dalam selnya.

“Kenapa kau melakukan itu?” tanya Jung Woo.

“Sepertinya aku adalah satu-satunya yang tahu soal rahasiamu sekarang, Jaksa Park Jung Woo.” Ucap Cheol Sik senang.

Jung Woo pun terlihat kesal.


Min Ho sedang menikmati sarapannya bersama Yeon Hee, Eun Soo, ayah dan ibunya. Yeon Hee berkata, ia ragu apakah makanannya cocok dengan selera sang ibu mertua.

“Semuanya enak.” Ucap Nyonya Myung.

“Hari ini adalah hari ulang tahunmu. Apa ada yang kau inginkan?” tanya Yeon Hee.

“Kenapa kau tidak keluar dengannya dan mengajaknya belanja?” suruh Min Ho.

“Nenek, aku juga mau ikut.” Seru Eun Soo.

“Kau juga mau ikut?” tanya Nyonya Myung. Eun Soo mengiyakan.

“Anak baik. Kau sudah besar sekarang.” puji CEO Cha.

“Dia juga sudah mulai ikut kelas sepak bola.” Jawab Yeon Hee.

“Itu bagus. Anak-anak harus banyak bermain di luar. Dasar. Kau ini mirip sekali dengn ayahmu.” ucap CEO Cha.

Yeon Hee pun langsung menatap Min Ho dengan tegang.

“Kenapa Min Ho tidak datang, ya? Kenapa dia melakukan perjalanan yang lama sekali? Apa kau berhubungan dengannya terus, Seon Ho-ya?” tanya Nyonya Myung.

CEO Cha, Yeon Hee dan Min Ho tegang mendengarnya. Min Ho membenarkan ucapan ibunya. Nyonya Myung pun menyuruh Min Ho menjaga Min Ho dengan baik, agar kalau Min Ho pulang, Min Ho akan merasa baik2 saja.

“Aku akan melakukannya. Jangan  mencemaskan Min Ho.” Jawab Min Ho.

CEO Cha lantas mengajak Min Ho bicara di ruangannya. CEO Cha membicarakan tentang seseorang yang memenangkan medali emas di pertandingan dunia. Min Ho bingung dengan ucapan ayahnya.

“Aku bicara soal Lee Chan Young. Chamyung adalah sponsornya. Kau adalah kepala asosiasinya. Bagaimana bisa kau tidak tahu?” ucap CEO Cha.

“Aku tahu itu. Maafkan aku.” jawab Min Ho, yang tegang melihat baju anggar di ruangan ayahnya.

“Aturlah pertemuan untuk merayakan kemenangannya.” Ucap sang ayah.

“Aku akan menggelar malam pesta untuk para pendukung.” Jawab Min Ho.

“Malam untuk para pendukung? Kedengarannya bagus.” Puji CEO Cha.

Min Ho mengiyakan.

“Kenapa kau tidak bertanding dengan Lee Chan Young malam itu sebagai perayaan spesial?” tanya CEO Cha.

“Pertandingan?” ucap Min Ho kaget.

“Kau bisa melakukannya sebagai kepala asosiasi.” Jawab CEO Cha.

“Ayah itu…” Min Ho berusaha mencari alasan.

“Apa kau takut?” tanya CEO Cha.

“Tidak.” Jawab Min Ho.

“Aku menantikannya.” Ucap CEO Cha.


Selesai bicara, CEO Cha beranjak pergi. Setelah CEO Cha pergi, Min Ho berdiri di depan baju anggar dan mencoba memikirkan sesuatu sambil menatap baju anggar itu. Tak lama kemudian, ia mendapat telepon dari sipir penjara. Sipir memberitahu tentang Jung Woo yang tidak akan menyerah dalam sidang. Min Ho kesal, saking kesalnya ia sampai membanting baju anggar Seon Ho.

“Kenapa semua orang melakukan ini padaku?” ucapnya.

Joon Hyuk yang baru datang dikejutkan dengan Eun Hye yang sudah menunggunya di ruangannya. Eun Hye menanyakan soal Jung Woo.

“Soal apa? Dia membuat kekacauan dengan pulpen yang kau bawa? Atau soal dia yang mengurungkan niat untuk membatalkan bandingnya?” tanya Joon Hyuk.


Joon Hyuk lantas duduk di kursinya.

“Jung Woo merasa cukup bingung dengan masalahnya sendiri tanpa kau membuat masalah sekalipun.” Ucap Joon Hyuk.

“Aku mau menolongnya.” Jawab Eun Hye.

“Menolongnya? Apa yang bisa kau lakukan untuknya? Jung Woo akan melakukan sidang ini lebih baik darimu. Dia akan menyampaikan pendapatnya jauhlebih baik dari dirimu.Bagaimana bisa kau menolongnya?” tanya Joon Hyuk.

“Dia kehilangan ingatannya.” Jawab Eun Hye.
“Bisa kau kembalikan lagi ingatannya itu?” tanya Joon Hyuk.

“Aku tidak bisa mengembalikan ingatannya, tapi aku bisa menolongnya… lebih dari yang sudah kau lakukan selama ini. Biarkan aku menanyakan satu pertanyaan padamu. Tidak, dua pertanyaan. Apa kau membawa Park Jung Woo yang sedang hilang ingatan ke persidangan sebagai jaksa, atau sebagai temannya? Kedua, kalau Park Jung Woo kehilangan ingatannya lagi,apa kau tetap akan menyeretnya ke persidangan tanpa mencoba  menangguhkannya?” tanya Eun Hye.

“Aku akan menjawab semuanya dalam satu jawaban. Bagaimana kalau Jung Woo tidak kehilangan ingatannya?” tanya Joon Hyuk balik.

“Apa?” kaget Eun Hye.

“Di hari pemeriksaan TKP, dia kehilangan ingatannya untuk pertama kali.” Jawab Joon Hyuk.


Flashback—Ketika Joon Hyuk mengunjungi Jong Woo di tahanan, Jung Woo tidak mengerti kenapa ia ditahan—Flashback end.

“Satu bulan kemudian, aku dengar dia kehilangan ingatannya lagi.” Ucap Joon Hyuk.

Flashback—satu bulan kemudian, saat Joon Hyuk mengunjungi Jung Woo di sel isolasi, ia mendengar Jung Woo yang teriak memanggil Ha Yeon dan Ji Soo. Joon Hyuk kemudian mendekati Jung Woo dan Jung Woo bertanya kenapa ia dikurung di sana—Flashback end.


“Di hari pertama persidangan, ingatannya hilang untuk ketiga kalinya. Itu terjadi lagi pada tanggal 31 Desember. Dan sehari sebelum dia kehilangan ingatannya, dia mengatakan sesuatu padaku.” Ucap Joon Hyuk.


Flashback—Jung Woo mengakui semuanya pada Joon Hyuk. Ia mengaku kalau dirinya memang membunuh Ha Yeon dan Ji Soo. Pengacara Jung Woo yang dulu pun langsung memohon agar Joon Hyuk tidak menuntut Jung Woo dengan hukuman mati karena Jung Woo sudah mengakuinya—Flashback end.

“Mungkin itu bukanlah yang terakhir. Dia mungkin akan kehilangan ingatannya lagi dan lagi.” Ucap Joon Hyuk.

Joon Hyuk kemudian berdiri dan menatap Eun Hye dengan emosi.

“Dia kehilangan ingatannya di hari-hari penting. Dalam keadaan seperti ini, menurutmu seberapa besar aku bisa mempercayainya? Apa itu cukup menjawab pertanyaanmu?” tanya Joon Hyuk.

“Tapi kalau dia sengaja melakukannya apa gunanya semua itu bagi Park Jung Woo? Dia akan tetap menghadapi hukuman mati.” Jawab Eun Hye.

“Hanya Jung Woo yang tahu jawabannya.” Ucap Joon Hyuk.


Di lobi kantor kejaksaan, Eun Hye teringat kata2 Jung Woo setelah persidangan kasus istri yang menikam suami, dan saat itu Eun Hye menjadi pembela terdakwa dan Jung Woo yang menjadi jaksa atas kasus penikaman itu.

“Pengacara Publik Seo, kalau kau mau menang, kau harusnya tidak boleh mempercayai terdakwamu. Kau tahu kenapa kau selalu kalah? Karena kau selalu mengambil kasus yang sudah jelas akan membuatmu kalah.” Ucap Jung Woo


Eun Hye pun jadi bertanya2, apa Jung Woo benar2 hilang ingatan??

Joon Hyuk sendiri juga termenung di ruangannya, memikirkan Jung Woo yang menangis padanya mengaku tidak ingat apapun.

“Ulang tahun Ha Yeon masih terasa begitu hangat di ingatanku,
tapi aku tidak bisa mengingat hal lain.” Ucap Jung Woo.

“Jung Woo-ya, apa benar kau tidak bisa mengingat apa-apa?” ucapnya pelan.

Joon Hyuk lalu mengambil fotonya bersama Jung Woo dan Ji Soo. Ingatannya pun melayang ke masa lalu, saat mereka merayakan pengangkatan dirinya dan Jung Woo sebagai jaksa.Ji Soo mengajak mereka bersulang.

“Minuman ini terasa luar biasa belakangan ini.” ucap Ji Soo yang langsung ditoyor sang ibu.

“Luar biasa? Siapa sih kau kenapa kuat sekali minum? Siapa yang akan menikahinya kalau dia begini?” ucap sang ibu.

“Kenapa? Maksudku.. bukankah aku adalah wanita yang lumayan.” Tanya Ji Soo sambil menatap Jung Woo dan Joon Hyuk.
“Apa?” tanya Jung Woo.

“Kenapa kau tidak menjawab?” tanya Ji Soo balik.

“Maksudku, kau lumayan, tapi...” Jung Woo menggantung kalimatnya.

“Ya, kau lumayan, tapi.. kau tidak buruk, kok.” Ucap Joon Hyuk.

“Kau sedikit aneh.” Jawab Jung Woo sambil menatap Joon Hyuk.

“Ya, benar.” ucap Joon Hyuk.

“Apa? Apanya?” tanya Ji Soo.

Ibu Ji Soo pun langsung menggeplak bahu Ji Soo.

“Hei, kau harusnya sadar. Dua jaksa ini tidak akan senang hanya dengan seseorang sepertimu.” Ucap sang ibu.

“Tidak, Bu.” Jawab Jung Woo dan Joon Hyuk kompak.


Jung Woo lalu berkata, kalau Ji Soo adalah wanita yang sedikit keren. Ji Soo lalu menuangkan soju ke dalam gelas besar dan berkata siapa yang menghabiskan minuman itu lebih dulu akan jadi menantu ibunya.

Jung Woo pun langsung menyambar gelas itu dan meminumnya. Ji Soo, ibu Ji Soo dan Joon Hyuk terkejut melihatnya. Setelah menghabiskan minuman itu, ibu Ji Soo bertanya apa Jung Woo baik2 saja. Jung Woo pun mengaku kalau ia baik2 saja. Ji Soo kemudian menyuapkan sayuran ke mulut Jung Woo. Jung Woo makan dengan lahapnya, sementara Joon Hyuk? Dia nampak terluka…

Flashback end…

Malam harinya, Jung Woo duduk termenung di sel isolasi. Dari ruangan sebelah, terdengar suara Cheol Sik.

“Apa itu terlalu berat? Apa itu tidak mungkin? Jaksa Park Jung  Woo? Astaga. Sepertinya kau tidak penasaran soal apa yang tertulis di lantai. Kau sudah membuat banyak masalah kan agar bisa dikirim ke ruang hukuman?” ucap Cheol Sik.

“Bagaimana bisa aku melakukan itu?” tanya Jung Woo.

“Tepat sekali. Kita harus mencari cara. Apa kau berencana mengeluarkanku, begitu? Aku hanya mau dikeluarkan dari sini. Kalau aku di sini terus pikiranku rasanya jadi kosong. Coba lihat. Aku tidak bisa mengingat apa yang tertulis di lantai. Aku adalah orang bodoh.” Sindir Cheol Sik.

Dan, Jung Woo pun kesal mendengarnya.

“Kau dan aku sama saja, dasar idiot!” teriak Jung Woo.

“Kita tidak sama. Sudah kubilang bukan aku pelakunya! Aku dijebak. Aku dijebak oleh seseorang. Aku ada dalam masalah karena kau. Bisa kau keluarkan aku dari ruangan ini!” teriak Cheol Sik.

Jung Woo diam saja. Cheol Sik berkata lagi…

“Lakukan apa yang kau mau. Pikirkan dengan baik, Jaksa Park. Siapa yang sangat putus asa di sini?”

Jung Woo kesal dan langsung meninju dinding sel saking kesalnya.

“Itu pasti sekali.” Ucap Cheol Sik kemudian tertawa.

Jung Woo dan Cheol Sik lantas sama2 kembali duduk di lantai.

Min Ho sedang mencari tahu kenapa Jung Woo mengajukan banding lewat atasan Kepala Jaksa Choi. Kepala Jaksa Choi berkata, bahwa Jung Woo pasti sudah gila.

“Apa?” tanya Min Ho bingung.

Atasan Kepala Jaksa Choi pun tertawa.

“Aku hanya bercanda. Hampir semua kejahatan kekerasan berakhir di Mahkamah Agung. Jangan mencemaskan itu, Presdir Cha.” Ucap atasan Kepala Jaksa Choi.

Usai berbicara dengan atasan Kepala Jaksa Choi, Min Ho pun menonton video Seon Ho yang sedang bertanding anggar. Min Ho menghela napas, lalu pergi membasuh mukanya. Saat kembali ke ruangannya, ia menemukan sebuah amplop cokelat di atas meja. Ia membukanya dan terkejut melihat isinya. Isinya adalah, riwayat kesehatannya sendiri.

Min Ho langsung berlari keluar mencari orang itu. Tak lama kemudian, ia melihat seorang pria berjas yang berlari menuju pintu darurat. Min Ho terus mengejarnya sampai di lobi. Ia mencari pria itu di tengah2 kerumunan pegawainya yang sedang lalu lalang.

“Berhenti di situ!” teriak Min Ho.

Seketika semua orang yang ada di lobby berhenti. Termasuk pria berjas itu yang berhenti di depan pintu keluar. Saat Min Ho hendak mendekati pria itu, CEO Cha datang.

“Ada apa ini?” tanya CEO Cha.

“Tidak ada apa2, Presdir.” Jawab Min Ho.

Saat Min Ho menoleh ke pintu, pria itu sudah hilang.


Detektif Go… iya, pasti dia yang neror Min Ho, karena cuma dia dan Jung Woo kan yang tahu rekam medis Min Ho..