Tuesday, April 30, 2019

Haechi Ep 17 Part 2

Sebelumnya...


Inwon : Jika kecurigaan mengenai Rumah Sakit Kerajaan itu benar, itu belum semuanya. Siapapun bisa menjadi musuh di sini. Pergilah ke Istana Putra Mahkota dan temukan seseorang untukku. Temukan orang paling tepercaya yang dekat dengan Putra Mahkota.

Kepala Pelayannya mengerti dan langsung pergi.


Moon Soo bilang pada Jang Dal dan A Bong kalau ia akan menemui Dal Moon di Jamojeonga dan pergi ke tempat pengasingan Pangeran Mil Poong.

Jang Dal : Tuan Yoon Hyuk akan menemui Wi Byung Joo.

A Bong : Jang Dal dan aku akan melakukan apa pun yang diperlukan agar Do Ji Gwang bicara.

Moon Soo : Kau memang tepercaya. Aku akan kembali.


Dal Moon terkejut mendengar cerita Moon Soo kalau  Saheonbu, Hanseongbu, dan polisi mengejar sedang memburu Yoon Young.

Moon Soo : Aku butuh kau untuk menggeledah gang belakang.

Dal Moon : Mereka mencari dia karena apa yang terjadi di dalam istana, bukan?

Moon Soo : Jika kecurigaan itu benar, orang yang akan tahu kebenaran dari masalah itu adalah Cheon Yoon Young. Aku memercayaimu. Bantulah aku, Dal Moon.


Moon Soo beranjak pergi. Setelah Moon Soo pergi, Goon Tae tanya pada Dal Moon mereka harus bagaimana karena Seja dan Moon Soo masih tidak tahu hubungan Dal Moon dan Yoon Young.

Dal Moon teringat kata2 Yoon Young.

"Senang rasanya masih hidup. Aku merasa punya harapan. Aku bersyukur memiliki dirimu."


Tuan Cho ke Rumah Sakit Kerajaan dan meminta rekam medis serta bahan2 pengobatan.

Tabib yang bernama Yoon Deok mendekati Tuan Cho dan menunjukkan bahan2 yang digunakan untuk membuat obat.

"Kumpulkan semuanya. Aku juga akan menginvestigasi semua perawat." ucap Tuan Cho.

Yoon Deok adalah tabib yang disuruh Yoon Young meracuni Raja.


Tuan Lee menemui tabib yang sudah dikumpulkan Tuan Cho.

Tuan Cho : Aku memilih yang terbaik. Karena kau yang paling mengetahui masalah ini, aku meminta bantuan seperti itu.

Tuan Lee : Akan kulihat dan kurekomendasikan yang terbaik untuk Raja.


Seja menunggui Gyeongjong yang masih belum siuman.

Lalu Tuan Lee datang bersama seorang tabib.

Tuan Lee : Dia tabib hebat yang mengobati penyakit cacar mendiang Raja dan campak.

Si tabib memperkenalkan diri. Namanya Choi Seong Jo.

Seja : Kudengar kau sangat terkenal. Segeralah memulai pemeriksaan.

Tabib Choi : Baik, Putra Mahkota.


Tabib Choi mulai memeriksa Gyeongjong.

Dan Seja teringat saran Tuan Min yang memintanya mendengarkan saran Tuan Jo.

Tabib Choi nampak terkejut usai memeriksa Raja.

Seja teringat kata2 Tuan Min yang memintanya untuk menghindari tanggung jawab.

Seja pun menguatkan hatinya.

"Tidak. Jika seseorang harus menghindari tanggung jawab, jika itu yang dilakukan raja, lebih baik aku tidak melalui jalan itu."


Cho Hong pergi ke Desa Gungmal. Ia bertanya pada wanita yang lewat, apakah desa itu Desa Gungmal, desa di mana mantan dayang tinggal bersama?

Wanita itu membenarkan.

Cho Hong lalu pergi ke tempat Dayang Han.

Dayang Han : Siapa kau?

Cho Hong : Bukankah Cheon Yeo Ji dilatih di sini untuk menjadi dayang? Bisakah kutemui dia sebentar?

Yeo Ji comeback gengs!!!


Cho Hong langsung menemui Yeo Ji. Yeo Ji kaget sekaligus senang Cho Hong datang.

Yeo Ji kaget Cho Hong memintanya memasuki istana sebagai dayang.

Cho Hong : Akan kujelaskan saat kita masuk. Kita tidak punya waktu lagi. Kau diam-diam bersiap untuk menjadi dayang. Kau belajar menyulam, instruksi pribadi, dan aturan istana, jadi, ini lebih dari cukup.

Yeo Ji : Itu benar, tapi...

Cho Hong : Jika kau belum membuat keputusan...

Yeo Ji : Tidak. Bukan itu. Aku sudah lama membuat keputusan. Aku akan mengganti pakaian. Tunggu sebentar.


Sekarang, Yeo Ji dan Cho Hong sudah berada di kediaman Inwon.

Cho Hong mengenalkan Yeo Ji sebagai inspektur Saheonbu.


Inwon : Apakah kau Cheon Yeo Ji?

Yeo Ji : Benar, Yang Mulia.

Inwon : Kau punya mata yang mulia. Matamu dalam dan murni. Tinggal di istana akan menjadikan dirimu penilai karakter yang hebat. Aku bisa meilai dari Dayang Heo dan dirimu bahwa Putra Mahkota punya banyak orang baik di sampingnya. Aku ingin kau bekerja untukku sebagai dayang. Aku bisa membantumu mulai bekerja di sini tanpa harus melewati prosedur. Istana adalah tempat yang berhati dingin dan penuh musuh yang berusaha menjatuhkanmu kapan saja, di mana saja. Kuharap kau akan melakukan yang terbaik untuk memenuhi hasratmu dan memastikan Putra Mahkota tetap aman dan terlindungi. Aku juga akan berusaha keras untuk membantumu dengan segala cara.

Yeo Ji : Akan kulakukan itu, Ibu Suri. Aku tidak akan melupakan kebaikan Anda.


Keluar dari kediaman Inwon, Cho Hong tanya, haruskah mereka kasih tahu Seja? Yeo Ji melarang dan meminta Cho Hong merahasiakan keberadaannya dari Seja untuk sementara waktu. Yeo Ji berkata, memberitahu Seja sekarang bukanlah hal yang tepat.


Dari kejauhan, Yeo Ji memandangi Seja yang sedang bicara dengan tabib dan kasim.


Yeo Ji lalu ingat reaksi Seja saat ia bilang mau menjadi dayang untuk melindungi Seja.

Lalu ia ingat kata2 Seja soal keinginannya menjadi dayang.

"Kau tetap tidak boleh menjadi dayang. Melindungi wanita adalah tugas seorang pria."


Yeo Ji : Maafkan aku karena tidak mematuhi Anda.


Yeo Ji juga ingat kata2 Seja yang lain.

Yeo Ji : Tapi aku seorang inspektur wanita sebelum menjadi seorang wanita.

Seja : Bagaimana jika aku menjadi seorang pria sebelum menjadi Putra Mahkota? Kurasa ini bagus juga. Aku senang menghadapi angin yang sama denganmu.


Yeo Ji masih memandangi Seja. Tangisnya mulai keluar.

Yeo Ji : Ini juga cukup bagus untukku. Fakta bahwa ada sesuatu yang bisa kulakukan untuk Anda sudah lebih dari cukup.


Byung Joo terbangun dari mimpinya. Ia mulai dihantui dosa2nya.

Lalu, Byung Joo keluar dan mengambil senjata. Ia teriak2 dan mengarahkan senjatanya ke segala arah.

Byung Joo kemudian menjatuhkan dirinya dan berkata, ia tidak boleh mati.


Seorang pria datang.

"Pria picik yang tidak bergairah. Menyedihkan."

"Siapa kau?" tanya Byung Joo.

Pria itu menunjukkan wajahnya. Dia Yi In Jwa dari Namin.

Tuan Yi : Apa yang harus kulakukan? Haruskah kubawa pria ini atau tidak?


Paginya, Petugas Yoon menemui Byung Joo. Byung Joo mendekati Petugas Yoon dan menanyakan kondisi Raja.

Petugas Yoon kaget dan balik tanya, darimana Byung Joo tau. Byung Joo pun diam.


Jang Dal dan A Bong menginterogasi Ji Gwang.

Ji Gwang : Pangeran Mil Poong meminta racun dariku, jadi, kuberikan dia racun terkuat yang bisa kutemukan yang tidak ada penawarnya.

Jang Dal dan A Bong panik.

Jang Dal : Lantas maksudmu Pangeran Mil Poong mencampur racun itu ke dalam obat Raja?

Ji Gwang : Mana aku tahu? Aku cuma memberikan racun padanya. Tapi tunggu sebentar. Jika Raja benar-benar akan mati, mungkin Pangeran Mil Poong yang melakukannya. Kalian tidak bisa mengubah apa pun dengan melakukan ini. Sudah berakhir sekarang.

Ji Gwang tertawa.


Moon Soo memukul Mil Poong dan mengancam Mil Poong dengan pedangnya.

Moon Soo : Katakan,  kau meracuni obat itu, bukan? Kau meminta bantuan siapa?  Dan apa bahannya?

Tapi Mil Poong malah mengenakan ujung pedang Moon Soo ke lehernya.

Mil Poong : Baik mati akibat obat maupun pedang, pikirmu aku takut? Bukan karena takut dengan pedangmu, aku memberitahumu karena begitu bersemangat.


Seja kaget saat Jang Dal dan A Bong mengatakan, racun itu tidak ada penawarnya.

Dan Mil Poong memberitahu Moon Soo bahwa ia tahu Seja melarang Raja meminum obat dari rumah sakit kerajaan.


Mil Poong mengaku, ia sendiri yang memberitahu Seja.


Ternyata malam itu, Mil Poong memang sengaja menempelkan darahnya di pilar. Mil Poong mengaku, ia mau menghukum Gyeongjong dan tidak akan membiarkan

Seja mengambil tahta.


Mil Poong : Aku bertindak terang-terangan agar mereka tahu aku pernah datang. Aku tahu Putra Mahkota pasti akan kebakaran janggut. Kecurigaannya terhadapku akan membuatnya menghentikan Rumah Sakit Kerajaan dan obat itu. Itu akan membuat Putra Mahkota membunuh Raja!

Moon Soo : Kau yang menggunakan racun itu. Kau tidak bisa menjebak Putra Mahkota dengan itu.

Mil Poong : Kau punya bukti? Kau mau mendengar ucapanmu kepadaku tempo hari? Kau sungguh menyukai bukti. Di mana buktinya bahwa aku menggunakan racun itu?

Mil Poong lalu tertawa.


Moon Soo marah dan mencekik Mil Poong.

Mil Poong :  Raja akan segera mati. Racun itu mungkin sudah membunuhnya. Maka Putra Mahkota akan dikenal sebagai penjahat yang membunuh Raja. Mungkinkah orang seperti itu bisa menjadi seorang raja?  Jika aku tidak bisa memiliki takhta, Lee Geum pun tidak bisa.


Moon Soo yang sudah tidak bisa lagi menahan emosinya, langsung mengayunkan pedangnya ke Mil Poong.

Bersambung ke part 3.............

Haechi Ep 17 Part 1

Sebelumnya...


Ja Dong ngasih tahu Seja kalau jejak darah ditemukan di pilar rumah sakit kerajaan. Seja kaget, jejak darah?

Ja Dong : Rumah Sakit Kerajaan meminta ini dibersihkan, jadi, Kantor Pemeliharaan membersihkannya beberapa hari lalu.

Tak lama kemudian, Seja pun sadar apa yang sudah dilakukan Mil Poong.


Seorang tabib yang mematai-matai Seja, langsung memberi laporan pada Yoon Young.


Sementara itu, Gyeongjong batuk darah. Tuan Jo menyuruh kasim memanggil tabib.

Seonui menyuruh Gyeongjong meminum obat, tapi baru minum sedikit, Gyeongjong kembali batuk darah.

Lalu Seja datang dan melarang keras mereka memberikan obat apapun dari rumah sakit kerajaan.


Seja lantas memangku Gyeongjong dan meminta Gyeongjong membuka mata.

Melihat sikap Seja, Tuan Jo marah.

Tuan Jo : Putra Mahkota, tolong mundur. Anda tidak diperbolehkan menyentuh Yang Mulia seperti itu!

Seja : Aku tidak bisa melakukan itu! Kita tidak punya waktu untuk ini!

Tuan Jo : Apa yang Anda bicarakan? Keadaan Yang Mulia sangat buruk sekarang. Sangat tidak pantas Anda membuang obatnya seperti itu. Kenapa Anda melakukan itu? Untuk alasan apa?


Dayang yang meracuni Raja atas perintah Mil Poong, meminta imbalasnnya pada Yoon Young. Ia berkata, ia sudah mempertaruhkan nyawanya melakukan itu dan ingin memeriksa hadiahnya.


Seja berkeras ada yang salah dengan obat Raja. Tuan Jo tidak percaya. Ia tanya, atas dasar apa Seja bicara begitu.

Seja : Aku juga tidak yakin. Tapi di malam Pangeran Mil Poong ditahan, dia mungkin telah pergi ke Rumah Sakit Kerajaan. Kau paham? Karena itu kita tidak boleh membiarkan obat apa pun masuk sampai semuanya jelas.

Tuan Jo kaget.


-Episode 17, Tugas yang Menyedihkan-


Moon Soo ke istana, atas perintah Seja. Sampai disana, ia melihat beberapa prajurit berlarian dan Kepala Pasukan Pengawal Kerajaan keluar dari istana Seja. Ia langsung tahu ada yang tidak beres.


Moon Soo menemui Seja.


Tuan Min membuka pintu dan menemui anggotanya.

Tuan Min : Yang Mulia tidak sadarkan diri? Kenapa ini tiba-tiba terjadi? Panggil tabib kerajaan. Kita harus cari tahu apa yang terjadi. Kita harus cari tahu kenapa Putra Mahkota menghentikan obat Yang Mulia.


Moon Soo kaget, ia tanya apa Seja yakin itu darah manusia.

Ja Dong menjelaskan, kalau ia tak yakin pada malam hari, tapi saat memeriksa lagi besok paginya, ia pun sadar itu bukan darah hewan.


Seja berkata, bahwa mereka tidak bisa yakin soal ini hanya karena itu. Namun Mil Poong sangat terpojok malam itu.

Seja : Jika dia mengunjungi Rumah Sakit Kerajaan... Lee Tan membeli racun mematikan dari Dinasti Qing. Mungkin dia memberikan itu pada Rumah Sakit Kerajaan.


Dan memang benar, dalam flashback, diperlihatkan Mil Poong yang berdiri di depan rumah sakit kerajaan dan memberikan racun itu pada salah satu tabib wanita.


Moon Soo : Jadi, maksud Anda penyakit mendadak Yang Mulia, mungkin ada hubungannya dengan Pangeran Mil Poong.

Seja : Dia terpojok. Dia mungkin benar-benar menggunakan racun itu. Karena itu kau harus menyelidiki Pangeran Mil Poong, Wi Byung Joo, dan Do Ji Gwang lagi.

Moon Soo berkata, ada satu orang lagi yang harus mereka interogasi yaitu Yoon Young.


Yoon Young kembali ke tempat Dal Moon.

Dal Moon sudah menunggunya.

Dal Moon : Kau habis dari mana?

Yoon Young : Dari luar. Aku merasa sesak, jadi, aku mencari udara segar.

Dal Moon : Kota masih berbahaya. Para tentara mencari dirimu.

Yoon Young : Katamu kau akan melindungi aku. Katamu kau akan membantuku. Aku akan jujur mengenai hari itu. Aku membenci dirimu karena kupikir kau menghancurkan segalanya. Tapi kusadari bahwa aku hanya memikirkan diri sendiri. Senang rasanya masih hidup. Aku merasa punya harapan. Aku bersyukur ada kau.


Seja mengumumkan, kalau ia akan mengambil alih tahta sampai Gyeongjong pulih.

Lalu ia meminta istana menemukan penyebab sakitnya Gyeongjong.

Tuan Min tanya, kenapa Gyeongjong tidak boleh menerima obat dari Rumah Sakit Kerajaan. Tuan Min mengaku, ia mendengar rumor aneh bahwa Seja yang memerintahkan itu.

Seja mengakuinya. Ia mengaku, curiga ada racun dalam obat mereka.


Sontak, para pejabat heboh. Dan Tuan Jo menatap Seja penuh kebencian.


Tuan Lee kaget mendengar cerita Moon Soo soal Seja yang mencurigai Rumah Sakit Kerajaan.

Dia tiba-tiba menginvestigasi Rumah Sakit Kerajaan karena itu?

Tuan Lee : Kalau begitu, mencurigai racun bisa dimengerti. Tapi tahukah kau  seberapa besar ini akan membebani Yang Mulia?

Moon Soo bingung, beban?


Tuan Jo bertanya, bagaimana kalau tidak ada racun dalam obat Gyeongjong. Seja kaget dengan pertanyaan Tuan Jo. Tuan Jo menjelaskan, jika tidak ada racun, mereka akan kehilangan kesempatan menyembuhkan Gyeongjong dengan obat. Seja berkata, sudah memanggil tabib di seluruh negara. Tuan Jo tak setuju. Ia bilang, mereka sudah punya Rumah Sakit Kerajaan jadi tidak perlu membawa tabib lain.

"Itu tidak masuk akal. Ada banyak tabib yang terampil di luar sana." jawab Seja.

"Aku sungguh minta maaf, Yang Mulia. Tapi apa Anda berniat menyembuhkan penyakit Yang Mulia?" tanya Tuan Jo.


Sontak Seja kaget dan kesal dituding sengaja menghentikan pengobatan Gyeongjong untuk membunuh Gyeongjong. Tangannya bahkan sampai gemetaran karena kesal. Tapi ia berusaha menahan emosinya.

Seja : Kau mengucapkan  kata yang sangat merendahkan. Tidak akan aneh jika aku menghukummu di sini karena mengucapkan kata yang sangat kasar. Namun, akan kubiarkan ini untuk sementara. Aku yakin kau mengatakan itu karena setia pada Yang Mulia. Seperti dirimu, menyelamatkan Yang Mulia lebih penting untukku juga.


Keluar dari balai istana, Seja dipanggil Tuan Min yang memang sengaja menunggunya. Tuan Min menyarankan Seja untuk mendengarkan kata2 Tuan Jo.

Tuan Min: Aku sudah menemui tabib kerajaan di Rumah Sakit Kerajaan. Dia mengatakan Yang Mulia tidak menunjukkan gejala penyakit belakangan ini. Seperti yang Anda katakan, itu tampak mencurigakan seolah-olah racun digunakan.

Seja : Tapi kau tetap berkeras bahwa aku harus menuruti Ketua Mahkamah Agung?

Tuan Min : Bagaimana jika Anda tidak bisa membuktikan racun telah digunakan dan tidak bisa mengungkap kebenaran mengenai Pangeran Mil Poong? Bagaimana jika kita tidak bisa mengobati Yang Mulia bahkan melalui tabib pribadi dari luar?

Seja : Tidak. Akulah yang akan disalahkan. Jika itu terjadi, banyak orang akan mencurigaiku, seperti yang Jo Tae Koo lakukan. Namun, aku tidak melakukan ini hanya untuk membuktikan niat baikku. Bahkan jika niatku terdistorsi, aku tidak bisa mengabaikan sesuatu yang akan merugikan Raja.

Tuan Min : Terkadang, Anda harus tidak acuh. Bertanggung jawab bukan segalanya. Anda juga harus bisa menghindari tanggung jawab. Itu yang harus dilakukan penguasa, Yang Mulia. Jika Anda ingin menjadi raja suatu hari nanti, Anda harus menghindari jebakan.

Seja : Mampu untuk tidak acuh pada fakta yang jelas.

Tuan Min : Terkadang, itu bisa menjadi tanggung jawab sejati.

Seja tak habis pikir, Ketua Kongres....


Inwon mencemaskan Gyeongjong. Ia berharap Gyeongjong cepat siuman dan pulih.

Seonui marah. Ia mengaku tidak setuju dengan keputusan Seja yang melarang Rumah Sakit Kerajaan merawat Gyeongjong. Inwon meminta Seonui menunggu. Sudah ada tabib  disana.

Seonui : Memercayai mereka? Mana bisa aku melakukan itu? Jika Yang Mulia meninggal, siapa yang akan menjadi raja? Putra Mahkota.

Inwon marah, Ratu Seonui! Maksudmu Seja sengaja melakukan ini?

Seonui : Ya. Aku akan melakukan yang sama. Jika aku Seja.

Inwon : Kubilang cukup. Orang-orang mendengarkan kita.


Seonui tidak peduli dan pergi meninggalkan Inwon.

Diluar, Seonui ketemu Seja. Ia menatap Seja dengan penuh kebencian lalu beranjak pergi.


Inwon menyusul Seonui, tapi dibuat kaget dengan kehadiran Seja disana.

Inwon meminta Seja tidak mengambil hati kata2 Seonui tadi.

Seja : Tidak apa-apa. Anda tidak usah mencemaskan aku. Yang penting sekarang adalah kesehatan Raja.

Bersambung ke part 2...

Gk ngerti laa sy kenapa si Seonui ini benci banget sama Seja. Seja udah ngebuktiin ketulusannya berkali2 padahal, udah ngebuktiin kalau dia pantas jadi Raja, tapi si Seonui tetep aja gk rela Seja jadi penerus Raja....

Mana pake bilang, kalo dia jadi Seja, dia bakal ngebunuh Raja lagi... Ckckck....