• Sinopsis Wonderful World Episode 1-16

    Kim Nam Joo dan Cha Eun Woo memiliki rasa sakit yang sama akibat kehilangan seseorang yang sangat berharga bagi mereka.

  • Duis non justo nec auge

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

Defendant Ep 4 Part 2

Sebelumnya...


Min Ho memeriksa CCTV. Namun sayangnya, di lantai tempat Min Ho berdiri tadi tidak ada CCTV, karena Seon Ho yang menyuruh petugs mematikan CCTV di area itu.

“Aku menyuruh kalian, ya?” ucap Min Ho.

“Haruskah kita nyalakan lagi?” tanya petugas.

“Tidak. Biarkan saja begitu.” jawab Min Ho.


Di ruangannya, Min Ho merobek rekam medisnya dan teringat saat ia mengunjungi Jung Woo, Jung Woo sama sekali tidak ingat kepadanya. Min Ho pun yakin bukan Jung Woo pelakunya.

Min Ho lalu masuk ke ruangan rahasianya dan melihat bagan Jung Woo. Di sana, ada foto2 Jung Woo, beserta Ha Yeon, Ji Soo, Tae Soo dan tiga pegawai Jung Woo.Min Ho lalu melirik ke foto Joon Hyuk dan Kepala Jaksa Choi.

“Siapa sebenarnya baj*ngan itu?” ucap Min Ho.


Detektif Go baru saja kembali ke ruangannya. Ia membelikan banyak makanan dan juga kopi untuk ketiga rekannya. Staff wanita menyuruh Detektif Go membaca laporannya, karena ia masih bingung dengan laporan itu. Tapi Detektif Go menyuruhnya makan terlebih dahulu.

Di saat ketiga rekannya asik menyantap makanan yang ia beli, ia kembali ke mejanya dan melihat laporan rekam medis Min Ho. Detektif Go lalu teringat kata2 Jung Woo saat mereka sedang di perjalanan untuk menangkap Min Ho.

“Saat kau menemukan sebuah tembok, kau harus mengeluarkan tenaga lebih banyak. Pasti akan ada seseorang yang akhirnya menunjukkan kelemahannya.” Ucap Jung Woo.


“Jaksa Park.” Ucap Detektif Go, menyadari semuanya.

Sudah jelas, Detektif Go lah yang meneror Min Ho.

Cheol Sik sudah tertidur di sel nya. Sementara Jung Woo masih terjaga, dia sibuk memikirkan masalahnya. Lalu tahanan lain, datang membagikan makanan untuk tahanan yang dihukum di sel isolasi. Tapi Jung Woo memutuskan tidak menyentuh makanannya, sementara Cheol Sik asik makan di sel nya.

“Apa kau sudah memutuskan? Aku akan ada di sini sampai akhir minggu.” ucap Cheol Sik.

“Kalau aku mengeluarkanmu, penuhi janjimu, ya.” jawab Jung Woo.


Dan Cheol Sik pun langsung merangsek mendekati tembok mendengar itu.

“Sepertinya kau sudah punya jalan keluar.” Ucap Cheol Sik.

Tahanan yang bertugas pun kembali membagikan makanan. Jung Woo pun langsung meminta tahanan itu menyampaikan sebuah pesan. Tahanan itu kemudian menyampaikan pesan pada Tae Soo. Dan tak lama, Tae Soo langsung mengeluarkan Cheol Sik dari sel isolasi.

“Kau hebat juga, Jaksa. Kau masih bisa melakukan apa saja.” Puji Cheol Sik.






Setelah mereka pergi, Tae Soo pun membuka pintu sel Jung Woo.

“Apa itu benar? Kau ingat di mana Ha Yeon?” tanya Tae Soo.

“Ya. Aku ingat di mana aku…” Jung Woo mengepalkan tangannya.

“…menguburkan Ha Yeon.” Ucap Jung Woo.

“Kalau kau bohong lagi aku tidak tahu harus melakukan apa padamu.” Jawab Tae Soo.

“Yoon Tae Soo.” Ucap Jung Woo.


Jung Woo lalu memeluk Tae Soo.

“Aku benar-benar minta maaf.” Ucap Jung Woo.

Tae Soo tertegun mendengarnya. Setelah mengatakan itu, Tae Soo menyuruh petugas membawa Jung Woo pergi.

Tae Soo ditampar sipir yang membenci Jung Woo. Dia ternyata atasan Tae Soo. Sipir yang membenci Jung Woo marah karena Tae Soo mengeluarkan Jung Woo dari sel isolasi.

“Apa itu karena dia adalah iparmu?” tanya sipir.

“Dia bukan iparku lagi.” Jawab Tae Soo.

“Jadi apa?” tanya sipir.

“Aku minta maaf, Pak.” Jawab Tae Soo.

“Pak, aku akan pastikan dia mendapatkan pelajaran.” Ucap rekan Tae Soo.


Tae Soo lalu dibawa pergi oleh rekannya. Setelah Tae Soo pergi, sipir mencurigai ada sesuatu diantara Tae Soo dan Jung Woo.


Sung Gyoo menasehati Jung Woo agar berhenti membuat masalah supaya tidak dijebloskan ke ruang isolasi. Sung Gyoo kemudian menyodorkan minuman kotak, ia menyuruh Jung Woo meminum itu sebagai pengganti tofu.

“Kau harus minum itu dalam sekali teguk.” Ucap Wooruk.

“Bos, kau benar-benar peduli pada Tahanan 3866, ya. Menyebalkan sekali.” Ucap Moongchi.

“Aku punya impian memiliki anak seorang jaksa.” Jawab Bangjang.

“Jadi kalau dia jaksa memangnya kenapa? Dia duduk di sini dengan kita karena dia membunuh istri dan anaknya.” Ucap Wooruk, yang langsung mendapat tatapan tajam dari Jung Woo.

“Kenapa? Kau mau memukulku lagi? Jangan bunuh aku.” sindir Wooruk.


“Astaga. Tutup mulutmu.” Suruh Bangjang.

“Kau punya catatan kriminal yang terlalu banyak untuk ukuran seseorang yang ingin anaknya jadi jaksa. Apa kau kira itu bisa menolongnya?” ucap Wooruk.

“Tahanan 3866, kalau aku punya catatan kejahatan, anakku tidak akan bisa jadi jaksa, kan?” tanya Bangjang.

“Bukan cuma masalah kriminalmu, tapi kalau otaknya sama dengan otakmu, kau kira dia bisa jadi jaksa?” ucap Moongchi.

“Apa? Otakku? Kau mau mati, ya?” sembur Bangjang.

Bangjang lalu menyombongkan anaknya yang sangat pintar di sekolah.

Moongchi lantas mengejek Bangjang dengan menirukan gaya seekor ayam. Bangjang kesal, ia pun langsung menampol Moongchi.

“Kau tunggu saja dan pastikan apakah anakmu jadi jaksa atau tidak.” Ucap Moongchi.

“Anakku jago bahasa Inggris.” Jawab Wooruk.

“Kalau dia tidak jadi jaksa, kau harus makan tutup kepalamu ya.” suruh Moongchi.

Sementara Moongchi dan Bangjang sibuk berdebat, Jung Woo diam saja sambil menatap ke arah sinar matahari.


Yeon Hee sedang berkumpul dengan teman2 sosialitanya. Salah satu temannya ada yang akan bercerai dan hanya Yeon Hee yang tidak tahu. Yeon Hee pun meminta maaf karena baru mendengar kabar itu. Si teman berkata, tidak masalah karena ia juga tidak mencintai suaminya.

“Jujur saja, siapa yang menikah karena cinta? Semua kan urusan antar keluarga.” Ucap teman Yeon Hee yang lain.

Teman Yeon Hee yang berbaju putih menyindir Yeon Hee. Ia berkata, setidaknya Yeon Hee tidak menyesali apapun.

“Kau kan memilih antara dua orang pria yang mirip. Kau berkencan dengan adiknya, lalu menikahi kakaknya.” Ucap teman yang berbaju putih.

“Siapa yang pernah berpikir seperti itu? Dia kan tidak punya pilihan demi menyelamatkan perusahaan ayahnya.” sambung teman yang mau bercerai.

“Yeon Hee membuat keputusan yang benar. Memikirkan dia harus menikahi Min Ho, dia mungkin akan disalahkan juga.” ucap teman yang satu lagi.


“Kalau Min Ho menikah dengan Yeon Hee, semua tidak akan berakhir begini.” Tambah si baju putih.

“Apa yang kalian lakukan? Kita sudah lama tidak bertemu Yeon Hee.” Ucap si yang mau bercerai.

“Melihatnya aku jadi teringat soal itu. Aku kan hanya mengatakan apa yang ada di pikiranku. Siapa lagi yang sanggup membuat pilihan antara dua orang?” jawab si baju putih.

Yeon Hee pun marah. Ia mencengkram kuat tangan si baju putih dan menatapnya tajam. Si baju putih minta Yeon Hee melepaskannya, ia berkata kalau dirinya hanya bercanda tapi Yeon Hee malah semakin kuat mencengkram tangan si baju putih.

“Apa kau tahu keputusan seperti apa yang sudah kubuat?” tanya Yeon Hee.

“Yeon Hee-ya.” si baju putih tercengang.

“Lepaskan, Yeon Hee-ya.” suruh temannya yang mau bercerai.


Yeon Hee yang tersinggung itu pun lalu pergi dengan alasan harus menjemput Eun Soo. Setibanya diluar, ia teringat keputusan apa yang sudah diambilnya saat itu.


Flashback—Yeon Hee datang ke pemakaman Seon Ho, membuat Min Ho was2 karena orang2 mulai bergosip melihat Yeon Hee berdiri di depan altar. Min Ho mencoba memperingatkan Yeon Hee. Yeon Hee pun langsung memejamkan matanya. Setelah terdiam di depan altar cukup lama, Yeon Hee menyuruh Eun Soo mengucapkan salam pada Seon Ho yang diakuinya sebagai Min Ho. Yeon Hee kemudian menatap Min Hoo dengan berkaca2, setelah itu ia pun mengajak Eun Soo pergi—Flashback end.

Jung Woo menghampiri Cheol Sik untuk menagih janji Cheol Sik. Cheol Sik pun berkata, tulisan yang ia lihat adalah bel pintu. Jung Woo ragu, Cheol Sik pun menyuruh Jung Woo mengecek sendiri kalau tidak percaya padanya.

“Oh, tidak. Kau tidak bisa melihatnya karena aku sudah menghapusnya.” Ejek Cheol Sik.


Jung Woo kesal sehingga ia mencekik Cheol Sik. Cheol Sik bersumpah mengatakan hal yang sebenarnya dan mengaku masih ada yang mau dikatakannya pada Jung Woo.

“Ada yang lain? “Apa yang lain itu?” tanya Jung Woo.

“Mana seru kalau semua kukatakan sekaligus. Aku akan memberitahumu satu-satu. Oke? Aku akan memberitahumu kalau aku butuh sesuatu.” Jawab Cheol Sik.

Cheol Sik pun pergi meninggalkan Jung Woo sambil berkata kalau dirinya haus.


Sementara Jung Woo terus menerus mengucapkan bel pintu sambil memikirkan apa maksudnya.


Min Ho yang sudah mengenakan baju anggar, melihat dirinya di cermin dan mengarahkan pedang pada bayangannya di cermin. Ia pun tak sanggup melakukannya. Kenangan saat ia terluka pun kembali muncul di benaknya.

Flashback—Min Ho langsung dilarikan ke RS setelah kejadian itu. Setelah perban dibuka, penglihatan Min Ho terganggu. Ia tidak bisa melihat secara jelas. Dokter menjelaskan, kalau kornea Min Ho terluka jadi Min Ho tidak akan bisa melihat secara jelas. Seon Ho menangis dan terus menerus meminta maaf pada Min Ho.

Tapi apa yang dikatakan CEO Cha?? Ia berkata, itu bukan masalah besar dan memilih Seon Ho yang memimpin Chamyung! Ia juga minta Seon Ho berhenti menangis karena Seon Ho adalah calon pemimpin Chamyung jadi tidak pantas menangis begitu.

Min Ho terluka mendengarnya. Ia menepis tangan sang ibu yang ingin menjelaskan maksud ayahnya—flashback end.

“Seon Ho yang kau sukai sudah pergi sekarang. Karena.. aku membunuhnya.” Ucap Min Ho dengan sorot mata terluka.

Min Ho lalu mulai berlatih anggar dengan serius.


Jung Woo berpikir keras apa maksud bel pintu yang ia tulis. Sementara teman2nya yang lain sudah terlelap.

Bibi Eun Hye menanyakan soal kelanjutan pekerjaan Eun Hye. Eun Hye meminta bibinya membiarkannya makan dulu. Sang bibi pun langsung mengira kalau Eun Hye tidak berhasil.

“Dia mengizinkan aku menemuinya.” Jawab Eun Hye.

“Apa bagusnya bertemu dia?  Lagian kau tidak berhasil mendapatkan tanda tangannya. Kenapa dia mau menemuimu?  Padahal bukan dia yang menginginkan penunjukanmu. Carilah seorang pria yang baik dan menikahlah.” Ucap sang bibi.

“Apa yang barusan Bibi katakan?” tanya Eun Hye kaget.

“Masuk firma hukum.” Jawab sang bibi.

“Bukan, sebelumnya.” Ucap Eun Hye.

“Bagaimana aku bisa mengingat semuanya?” protes sang bibi.

Entah apa yang terjadi, Eun Hye tiba2 saja pergi meninggalkan sarapannya.

Eun Hye mengunjungi Jung Woo lagi. Petugas memberitahu Jung Woo kalau ada kunjungan, tapi Jung Woo yang sibuk memikirkan maksud tulisan bel pintu yang ditulisnya diam saja. Eun Hye gelisah karena pengunjung lain yang datang duluan dari dirinya sudah masuk semua. Dan tak lama, gilirannya pun tiba.

Jung Woo kesal dan bertanya kapan Eun Hye akan berhenti menemuinya. Eun Hye pun berkata, akan mengajukan pertanyaan. Ia bertanya, tangan mana yang digunakan Jung Woo.
“Apa?” tanya Jung Woo heran.

“Tangan mana yang kau gunakan untuk menikam istrimu?” jawab Eun Hye.

“Apa kau gila?” sewot Jung Woo.

“Kau tidak ingat itu? Cobalah ingat-ingat lagi. Yoon Ji Soo ditikam dengan sebuah pisau yang dipegang oleh seseorang yang kidal. Apa kau yang menikamnya? Apa kau benar menikamnya?” tanya Eun Hye.

“Aku tidak ingat.” Jawab Jung Woo.

“Cobalah lagi. Kau melihat file kasusnya, keadaan TKP dan
Semuanya.” ucap Eun Hye.

Jung Woo yang merasa disudutkan akhirnya marah. Ia menggebrak meja dan mengaku kalau ia memang menikam Ji Soo.

“Data kasus dan keadaan TKP menjadi bukti kalau aku memang menikamnya. Tidak ada satu bukti pun yang bisa menyangkalnya!” teriak Jung Woo.

Mendengar itu, Eun Hye pun yakin kalau Jung Woo memang hilang ingatan. Eun Hye pun mengaku kalau tadinya ia tidak percaya Jung Woo hilang ingatan.

“Jadi karena itu kau ke sini? Karena sekarang kau sudah dapat jawabanmu, berhentilah datang ke sini.” Pinta Jung Woo.

“Aku bilang aku punya pertanyaan untukmu. Jawab aku. Kenapa kau selalu datang menemuiku setiap kali aku meminta? Kau tidak mau aku mengambil alih kasusmu. Tapi kenapa kau selalu saja muncul setiap kali aku meminta bertemu denganmu, Park Jung Woo—ssi? Bukankah itu artinya kau berharap sesuatu? Kau berharap aku membawa sesuatu yang tidak kau ketahui sebelumnya. Dan sekarang kau di sini lagi. Kenapa kau ada di sini?” tanya Eun Hye.

“Hentikan!” pinta Jung Woo.

“Kau tahu pengacara macam apa aku ini. Aku bukan orang yang logis, tapi kau tahu tidak ada orang lain yang bisa menolongmu sekarang kecuali aku. Makanya kau menemuiku, karena kau sedikit berharap.” Ucap Eun Hye.

“Hentikan!” pinta Jung Woo.

“Kudengar kau tidak jadi menyerah untuk banding. Kau akan berdiri di persidangan  saat kau tidak bisa mengingat apa-apa. Kalau kau memang mau mengikuti persidangan, kau membutuhkan seseorang yang bisa membantumu.” Ucap Eun Hye.

Air mata Jung Woo pun mengalir. Ia terdiam karena yang dikatakan Eun Hye itu benar.

“Aku akan menjadi orang yang akan membantumu itu. Aku akan menjawabkannya untukmu.” Ucap Eun Hye dengan mata berkaca2.

Eun Hye lalu menerjemahkan arti pandangan Jung Woo.

"Tolong aku, Pengacara Publik Seo Eun Hye." ucap Eun Hye.
Jung Woo terdiam karena yang dikatakan Eun Hye memang benar. Eun Hye lalu menghapus air matanya. Dengan wajah bersemangat, ia menanyakan apa yang bisa dilakukannya untuk membantu Jung Woo. Jung Woo sedikit tersenyum. Eun Hye pun senang melihatnya.


Eun Hye lalu mengulurkan tangannya.

“Mari kita berusaha.” Ucap Eun Hye.

Jung Woo diam saja menatap Eun Hye.

“Aku menunggu. Tanganku mulai sakit nih. Ayolah.” Pinta Eun Hye.

Dan Jung Woo pun menyambut uluran tangan Eun Hye.

“Apa yang kau inginkan dariku sekarang?” tanya Eun Hye.

“Kau bilang kau akan mencoba membantuku?” tanya Jung Woo balik.

“Memang begitu.” jawab Eun Hye.

“Lakukan kalau begitu. Sampai jumpa minggu depan.” Ucap Jung Woo.


Jung Woo terus menerus memikirkan arti bel pintu sampai ia ketiduran. Ingatan Jung Woo pun muncul saat ia tidur.


Flashback—malam setelah ultahnya Ha Yeon, Jung Woo tidur lebih awal karena pagi2 sekali ia ada meeting. Ia minta dibangunkan jam enam pagi. Saat tidur, ia mendengar bunyi bel sebanyak dua kali—flasback end.


Jung Woo terbangun. Ia yakin ada seseorang yang datang ke rumahnya di malam pembunuhan itu.

 
Keesokan harinya, Joon Hyuk yang baru tiba di kantor diberitahu asistennya kalau Jung Woo ingin bertemu.

Jung Woo dibawa pergi dengan bus tahanan. Di jalan, ia menangis melihat keluarga kecil sedang bercengkrama. Sampai di gedung kejaksaan, ia terdiam melihat tempatnya bekerja dulu.

Jung Woo menemui Joon Hyuk yang menunggunya di ruang interogasi. Joon Hyuk meminta petugas melepaskan borgol dan tali Jung Woo. Joon Hyuk juga mengajak Jung Woo minum soju.

“Aku mengingat sesuatu. Ada yang datang ke rumahku malam itu. Malam di hari ulang tahun Ha Yeon seseorang datang ke rumahku.Aku yakin.” Ucap Jung Woo.

“Apa maksudmu seseorang datang ke rumahmu? Itu tidak ada dalam data investigasi.” Jawab Joon Hyuk.

“Seseorang memang datang ke rumahku. Aku dengar suara belnya samar-samar.” Ucap Jung Woo.

“Baiklah. Coba kucari tahu dulu.” Jawab Joon Hyuk.

“Tolong aku, Jun Hyuk-ah.” Pinta Jung Woo.

Jung Woo kembali dibawa pergi. Asisten Joon Hyuk mendekati Joon Hyuk yang sedang menatap kepergian Jung Woo.

“Haruskah kita lakukan investigasi lagi soal siapa yang datang ke rumahnya malam itu?” tanya asisten Joon Hyuk.

“Tidak. Aku yang akan memastikannya sendiri.” Jawab Joon Hyuk.

Jung Woo dibawa kembali ke sel nya. Dan di ruangannya, Joon Hyuk terdiam memikirkan perkataan Jung Woo.

Dalam kilas balik, diperlihatkan Joon Hyuk lah yang datang ke rumah Jung Woo malam itu.

Joon Hyuk mengangkat sebelah ujung bibirnya ke atas. Dan Jung Woo tak bisa tidur di sel nya memikirkan masalahnya.