Tuesday, December 31, 2019

The Great Show Ep 15 Part 4

Sebelumnya...


Joon Ho menemui ayahnya.

Kyung Hoon : Jika kau terus mengganti orang hanya karena mereka tidak setuju denganmu, itu akan menjadi minus.

Joon Ho : Merger itu nilai tambah?

Kyung Hoon : Tentu! Jika terus menambahkannya seperti itu, kau bisa menjadi politikus hebat.

Joon Ho : Kurasa ayah memperlakukanku seperti tentara yang dikalahkan karena aku memegang tangan ayah hari ini, tapi menurutku cara politik ayah salah. Setelah masuk Dewan Nasional, aku akan menentang apa pun yang kuyakini salah.

Kyung Hoon senang, akhirnya ayah bisa melihatnya di matamu. Keinginan untuk menang, apa pun yang terjadi. Andai kita bisa memperbaiki cara bicaramu.

Joon Ho : Apa salahnya dengan caraku bicara?

Kyung Hoon : Ayah melihat betapa lemahnya nada bicaramu selama kampanye. Para pemilih menginginkan pemimpin, bukan teman. Kontrol! Kau harus membuat pidato karismatik untuk meraih hati rakyat.


Joon Ho kembali berkampanye, kali ini bersama Hye Jin dan ortunya.

Joon Ho teringat kata2 ayahnya tadi soal kontrol suaranya.

Joon Ho : Hanya ada satu alasan aku memutuskan untuk memulai politik. Itu karena aku bisa melihat ada terlalu banya politikus tidak tahu malu di negara kita, di kedua ujung spektrum politik. Malu. Itu adalah mengetahui cara bersikap jujur dan malu. Sudah kurang dari enam bulan sejak aku memutuskan untuk menjadi politikus. Aku sudah tidak yakin apakah aku bisa menjadi politikus yang memiliki rasa malu. Jika kalian ingin politikus yang bisa dengan berani mengatakan akan menjadi politikus seperti itu, kalian tidak perlu memilihku. Namun jika kalian ingin seorang politikus yang terus berusaha dan mendorong dirinya untuk menjadi politikus seperti itu, kalian boleh memilihku,


Sontak, mendengar itu, Kyung Hoon langsung merasa kesindir.


Para warga lalu mulai meneriakkan nama Joon Ho.


Bong Joo menunjukkan hasil suara sementara pada Dae Han. Hasilnya, Joon Ho mendapat 35% suara dan Dae Han 34%.

Dae Han senang, hei, apa yang kukatakan kepadamu? Sudah kubilang merger bukan berarti jumlah suara mereka bersatu. Jika satu persen, itu sepadan dengan perjuangannya, mengingat perbedaan batas kesalahan.

Bong Joo : Bagus ini persaingan ketat, tapi karena mereka bersatu, Partai Nasionalis akan memberikan dukungan besar.

Dae Han : Benar. Kita tidak boleh bahagia. Kita tidak akan bisa mengalahkan mereka dengan jumlah dukungan. Tidak akan pernah.

Bong Joo : Maka kita harus memakai ketulusan dan perbedaan sebagai strategi kita.

Dae Han : Ketulusan dan perbedaan? Benar. Bagus.


Dae Han lalu mengajak Bong Joo berkampanye jalan kaki saja mulai besok.

Bong Joo : Bagaimana cara kita mengelilingi seluruh distrik dengan jalan kaki? Tidak ada gunanya, tidak peduli sejauh apa kita pergi jika kita tidak tulus! Itu cukup persuasif.

Dae Han : Baiklah. Coba kulihat. Apakah tepat satu persen?


Besoknya,, Dae Han pun mulai turun ke jalan dan mewawancarai satu per satu org2 di jalanan.

Pertama, Dae Han mewawancarai seorang pedagang.

"Ekonomi sangat buruk. Harganya sangat tinggi. Sangat sulit."


Dae Han lalu mewawancarai seorang lansia yg tengah berjalan.

"Kau harus menciptakan lebih banyak pekerjaan untuk orang tua."

Dae Han : Kami tidak akan bisa datang ke banyak tempat dengan berjalan, tapi cara kami kampanye akan disiarkan langsung di TV Hebat, jadi, jangan khawatir.


Dae Han lalu mewawancarai ibu2 yg duduk di taman bersama anak mereka.

Dae Han : Bagaimana rasanya membesarkan anak?

"Itu tidak mudah."

"Butuh banyak uang untuk mendidik. Kami cemas soal kesehatan anak."


Dae Han : Bagaimana bisnis pengantaranmu?

"Biaya pengantarannya terlalu kecil. Semoga naik."


"Bagaimana pekerjaanmu?"

"Pekerjaanku dimulai pagi-pagi sekali. Aku sangat mengkhawatirkan mobil yang mengebut."

Dae Han : Demi keselamatan petugas kebersihan jalanan yang bekerja pagi-pagi, tolong mengemudi perlahan.


"Bisnis tumpang membunuh kami. Sangat sulit untuk memenuhi target penghasilan kami sehari-hari."


"Harganya terlalu tinggi. Usai membayar uang sekolah anakku, kami selalu rugi."

"Aku tahu membesarkan anak membutuhkan banyak biaya. Dahulu aku membesarkan empat anak."

"Kudengar kau mengirim tiga anak kembali ke ayah kandung mereka."


Tak dan si kembar menonton acara itu di Kanal Widaehan Sho.

Tae Poong : Dia membicarakan kita!

Song Yi : Diamlah. Aku tidak bisa mendengar mereka.


Dae Han : Kami sangat dekat saat mereka tinggal denganku. Aku ingin tetap bersama mereka, tapi tidak bisa hanya karena ingin.

"Kau benar. Jika ayah kandung mereka muncul dan ingin membesarkan anak-anaknya, kau tidak akan punya pilihan."

"Aku mungkin bukan ayah mereka, tapi aku akan menjadi wali mereka. Jika ada masalah atau tantangan dalam hidup mereka, aku akan selalu membantu mereka."


Tae Poong : Kak Tak, apa itu wali?

Tak : Sesuatu seperti pahlawan super.

Song Yi : Aku sangat merindukan Paman Wi.

Tae Poong : Aku juga.

Tak : Kita menontonnya sekarang.


Tiba2, Dong Nam datang. Tak pun langsung mematikan ponselnya.

Dong Nam : Kenapa kalian tiba-tiba berhenti menontonnya? Jika itu menyenangkan, ayah ingin menonton bersama.

Tak : Ini bukan apa-apa.

Tak beranjak ke kamar.


Dong Nam lalu bertanya ke si kembar apa yg mereka tonton.

Song Yi : Film animasi.

Tae Poong : Gim.

Dong Nam : Ayah tahu apa yang kalian tonton. Kalian menonton Widaehan sho lagi?


Asisten Kyung Hoon memberitahu hasil perolehan suara sementara.

"Hasil pemungutan suara hari ini menunjukkan Wi Dae Han mengungguli Pak Kang sebanyak dua persen."

"Berapa hari sebelum pemilihan?"

"Lima hari, Pak."

"Sekarang saatnya menyudutkan Wi Dae Han." ucap Kyung Hoon licik.


"Aku tidak bisa jalan lagi. Bisakah kita memakai mobil besok?" pinta Bong Joo sambil menempelkan koyo ke kakinya.

"Berhentilah mengeluh." jawab Dae Han, sambil membaca naskah.


Dae Han lalu berdiri dan mengecek kaki Bong Joo.

Dae Han : Separah apa?

Bong Joo : Lihat. Kulitnya terkelupas.

Dae Han : Astaga. Berhenti melebih-lebihkan.

Dae Han memukul kaki Bong Joo dan kembali duduk.

Bong Joo : Ini dalam batas kesalahan, tapi aku senang kita mengalahkan Kang Joon Ho. Kurasa kerja keras kita akhirnya terbayar.

Dae Han : Tapi ini bukan apa-apa dibandingkan yang kita lalui selama perjalanan duka.


Soo Hyun dan Da Jung datang membawa camilan ayam.

Dae Han menatap Da Jung : Kondisimu sedang rentan. Kau tidak perlu datang sejauh ini.

Soo Hyun : Itulah yang kukatakan.

Da Jung : Pak Kang meminta semua anggota keluarganya untuk kampanye. Setidaknya, inilah yang bisa aku lakukan. Mengantar ayam.

Bong Joo : Putri yang hebat.

Da Jung : Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.


Reportem Nam melihat hasil suara terkini. Peringkat Dae Han diatas Joon Ho.

Reporter Nam : Yang lebih penting daripada perbedaan dua persen adalah peringkat Wi Dae Han terus meningkat.

Joon Ho : Kenapa kita tidak mengubah kampanye kita juga? Kita tidak menonjol karena kita memakai metode tradisional.

Reporter Nam : Ada tipe orang yang tepat untuk melakukan pertunjukan begini. Anggaplah Wi Dae Han menari dengan pakaian dalam. Orang akan menganggapnya lucu. Apa yang akan dipikirkan orang jika kau melakukannya?

Joon Ho : Aku tidak bilang kita harus berpura-pura. Sesuatu yang bisa mengubah hati para konstituen kita. Kita perlu itu. Aku sangat menyadari itu. Sulit memikirkan cara kita melakukannya.


Tiba2, Kyung Hoon dan asistennya datang.

Kyung Hoon : Reporter Nam, terima kasih atas kerja kerasmu.

Reporter Nam : Aku akan bekerja lebih keras untuk memastikan kemenangannya.

Joon Ho : Aku harus bicara empat mata dengan Joon Ho.

Reporter Nam dan asisten Kyung Hoon bergegas keluar.


Kyung Hoon : Ayah sudah melihat hasil pemungutan suara hari ini. Kau tertinggal dua poin persentase dari Wi Dae Han.

Joon Ho : Itu dalam batas kesalahan dan kita masih punya lima hari.

Kyung Hoon : Menurutmu kenapa kau berada di belakang Wi Dae Han bahkan setelah merger?

Joon Ho : Menyatukan kandidat sebelum pemilu dan dukungan dari partai besar. Pendekatan yang mendominasi terhadap pemilu membuat konstituensi berpaling dariku.

Kyung Hoon : Ayah tidak setuju. Wi Dae Han memiliki kisah menarik. Tapi kau tidak.

Joon Ho : Jika ayah benar, apa gunanya pemilu? Aku tidak bisa buat kisah dramatis lima hari sebelum pemilu.

Kyung Hoon : Tapi kau bisa mengekspos bahwa kisah Wi Dae Han sepenuhnya salah.

Joon Ho : Apa maksud ayah?

Kyung Hoon : Ayah kandung anak-anak Wi Dae Han memberikan informasi ini. Itu pertunjukan dari awal.


Kyung Hoon memutar rekaman pengakuan Dong Nam bahwa Da Jung bukan putri kandung Dae Han dan Dae Han tahu itu.

Dan Joon Ho terkejut saat mendengar Da Jung adalah anak hasil pemerkosaan.

Joon Ho : Apa ini benar?

Kyung Hoon : Ayah tidak bisa memercayainya begitu saja. Jadi, ayah melakukan tes DNA terhadap Wi Dae Han dan putri itu diam-diam. Ternyata benar. Jika kita melaporkan ini kepada media, para media akan bersenang-senang. Wi Dae Han akan langsung hancur.

Joon Ho : Lalu kenapa ayah membawakannya kepadaku alih-alih menyerahkannya kepada media?

Kyung Hoon : Ayah juga seorang ayah. Jika ini diketahui publik, apa yang akan terjadi kepada Da Jung? Dia juga sedang hamil.

Joon Ho : Jadi, apa yang akan ayah lakukan?

Kyung Hoon : Ayah akan menyerahkannya kepadamu.


Sementara Dae Han dan Bong Joo sedang menikmati camilan ayam yg dibawa Soo Hyun dan Da Jung.

Da Jung : Waktu ayah hanya lima hari. Kurasa ayah akan menang. Ayah tahu aku punya indra keenam.

Bong Joo : Aku tidak percaya hal seperti itu. Aku hanya percaya pada data.

Dae Han : Apa pendapat datamu tentang hasil pemilu ini?

Bong Joo : Berdasarkan rating penerimaan dan hasil survei berdasarkan usia, dengan tepat 3,7 persen, aku memprediksi Anggota Dewan Wi akan menang.

Dae Han :  Bagus!


Bong Joo lalu melirik Soo Hyun.

Bong Joo : Kau akan memilihnya, bukan?

Soo Hyun : Aku mengawasinya dengan ketat untuk mencari tahu apakah dia akan jadi politikus hebat jika kupilih. Dia sedikit mendapatkan kepercayaanku.


Mendengar itu, Dae Han berdiri dan memijat2 bahu Soo Hyun. Da Jung tertawa melihatnya.


Ponsel Dae Han kemudian berdering. Telepon dari Joon Ho.

Dae Han : Kenapa dia menelepon selarut ini?


Joon Ho sedang di jalan,, teringat kata-kata ayahnya tadi.

Kyung Hoon : Ayah serahkan kepadamu. Kau bisa mengubur rekaman itu atau menyerahkannya ke media. Atau gunakan cara lain. Kau yang putuskan. Ayah akan menghormati keputusanmu.


Kyung Hoon sudah tiba di rumahnya.

Asisten Kyung Hoon : Menurut anda apa yang akan dilakukan Pak Kang dengan itu?

Kyung Hoon : Dia tidak akan menguburnya karena dia tidak mau melihat Dae Han, yang melakukan hal itu, bergabung dengan Dewan Nasional.


Dae Han dan Joon Ho bertemu di depan gedung putih.

Dae Han : Ada apa kau mengajakku bertemu selarut ini?

Joon Ho : Aku harus mengaku. Sejujurnya, aku iri kepadamu saat SMA.

Dae Han : Kau punya segalanya. Kenapa kau iri kepadaku?

Joon Ho : Kau benar. Aku punya segalanya. Tetap saja, aku merasa kurang, dan aku berusaha sebaik mungkin agar tidak kehilangan posisiku di puncak kelas. Aku bekerja keras di sekolah, tapi kau berbuat semaumu dan meraih peringkat pertama dengan mudah, baik itu nilai atau popularitas. Aku iri kepadamu. Aku juga merasa minder. Namun, semua itu menghilang hari ini.

Dae Han : Aku tidak yakin itu pujian atau sarkasme, tapi hidup tidak mudah bagi siapa pun. Mungkin kau punya rintanganmu sendiri, tapi hidupku seperti ladang ranjau. Kau menyadari itu?

Joon Ho : Sepertinya begitu, karena kau masih berdiri di ranjau.


Dae Han : Kenapa kau memanggilku kemari selarut ini?

Joon Ho : Han Da Jung. Aku tahu dia bukan putrimu. Aku juga tahu siapa ayah kandungnya.

Dae Han : Apa maksudmu?

Joon Ho : Kau pasti lebih tahu. Alasan aku memberitahumu alih-alih media adalah aku tidak mau Da Jung, yang dimanfaatkan olehmu, terluka lagi.


Dae Han : Lalu? Apa yang kau inginkan dariku?

Joon Ho : Orang yang mengikat simpulnya yang harus membukanya. Aku tidak akan mengumumkan ini, jadi, batalkan saja pencalonan dirimu. Hanya itu cara untuk melindungi Da Jung dan dirimu.

Sontak Dae Han kaget mendengar Joon Ho memintanya mengundurkan diri dari pencalonan.


Bersambung.....

*Kok kesel ya ama si Joon Ho ini.... Make segala cara buat ngejegal Dae Han.. lalu apa bedanya dia sama ayahnya?

The Great Show Ep 15 Part 3

Sebelumnya...


Dae Han dan Bong Joo sudah di jalan sekarang.

Bong Joo masih takjub karena Hye Jin menjatuhkan Pak Ha dgn sekali pukulan. Ia lantas menyebut Hye Jin melakukan sesuatu yg benar kali ini.

Bong Joo juga menduga, Hye Jin melakukan itu karena masih ada rasa sama Dae Han.

Tapi Dae Han berpikiran beda.

Dae Han : Kang Kyung Hoon berpikir aku lebih mudah dikalahkan dibandingkan Ha Beom Soo. Lihatlah dari cara mereka menyerang.


Bong Joo : Kau benar.  Jika dia berpikir kau mudah karena kau independen, mari tunjukkan kemampuanmu.

Dae Han : Tentu! Mari beri dia kejutan.

Bong Joo : Kejutan apa?

Dae Han : Mari kita hancurkan dia.


Reporter Nam menuangkan minuman untuk Joon Ho, sembari bertanya, apa Joon Ho ingin memenangkan pemilu kali ini.

Joon Ho : Tentu saja! Posisi kedua tidak mendapat apa pun.

Reporter Nam : Lalu kenapa kau tidak menurutiku?

Joon Ho : Aku tidak ingin menang dengan cara memalukan.

Reporter Nam : Ini lebih memalukan. Kau tidak bisa elegan dalam pertempuran. Apa yang akan kau lakukan saat rekanmu mati?

Joon Ho : Siapa yang tidak ingin menjadi elegan?

Reporter Nam : Aku hanya berusaha melindungimu dalam pertempuran.

Joon Ho balas menuang minuman untuk Reporter Nam sembari meminta maaf lantaran sudah membuat Reporter Nam merasa malu.

Reporter Nam : Kita kehilangan Ha Beom Soo berkat Kim Hye Jin.  Peringkat Ha Beom Soo akan jatuh ke Wi Dae Han.


Reporter Nam lantas berkata, hanya ada satu cara untuk mengalahkan Dae Han.

Joon Ho semangat mendengarkan, tapi saat Reporter Nam mengatakan caranya dgn bergabung dgn Hye Jin, ia langsung terdiam kesal.


Tak lama, Hye Jin datang. Hye Jin minta maaf karena terlambat.

Joon Ho kaget melihat Hye Jin dan langsung menatap Reporter Nam.

Reporter Nam meminta Hye Jin menjaga Joon Ho, lalu beranjak pergi meninggalkan mereka.


Di restoran Pak Jung, Dae Han dan semua pendukungnya berpesta.

Dae Han : Terima kasih atas kerja keras kalian. Aku tidak akan membiarkan usaha kalian sia-sia. Aku akan memenangi pemilu dan menjadi Anggota Dewan yang baik!


Reporter Nam melapor ke Kyung Hoon kalau Joon Ho sedang bersama Hye Jin sekarang. Kyung Hoon lantas tanya, apa menurut Reporter Nam, Joon Ho akan setuju bergabung dengan Hye Jin?

^Sudah sy duga itu rencana Kyung Hoon. Pencalonan Hye Jin dan Reporter Nam yg mendadak terjun ke politik membantu Joon Ho... Kyung Hoon sumpah, licik banget..


Joon Ho tanya ke Hye Jin, apa pencalonan Hye Jin dan tawaran bergabung adalah rencana sang ayah?

Hye Jin : Kau setengah benar.

Joon Ho : Apa setengahnya lagi?

Hye Jin : Itu pilihanku. Aku memutuskan mencalonkan diri karena ingin terjun ke politik. Aku keempat di pemungutan suara dengan sisa dua pekan. Sudah jelas aku akan kalah. Setelah debat hari ini, perbedaan suaramu dan Dae Han akan jauh lebih besar di survei besok. Maksudku bukan hanya aku yang jelas akan kalah dalam pemilu.

Joon Ho : Bersatu tidak menjamin kemenangan. Banyak yang akan kecewa dengan bergabungnya kita dan berhenti mendukungku.

Hye Jin : Tidak ada yang 100 persen dijamin dalam pemilu. Tidak ada jaminan kita akan menang jika kita bersatu tapi ada 99 persen kemungkinan kita kalah dari Dae Han. Aku sudah bilang apa pilihanku.


Hye Jin lalu menuangkan minum ke gelas Joon Ho.

Hye Jin : Sekarang giliranmu.

Joon Ho terdiam sembari menatap gelasnya.


Dae Han masih di restoran Pak Jung dgn pendukungnya.

Jung Woo memberitahu Dae Han bahwa si kembar dan Tak pindah dgn baik.

Jung Woo : Aku membersihkan lantainya sampai berkilau.


Dae Han lalu melihat Da Jung makan sedikit.

Dae Han : Kenapa kau hanya makan itu? Makanlah ayamnya.

Da Jung : Aku kenyang. Aku makan banyak ayam saat menonton debat.


Jung Woo : Benar. Ayah sangat hebat saat debat. Aku yakin semua yang menonton akan memilih ayah.

Dae Han : Berhenti melebih-lebihkan. Aku tidak sehebat itu.

Soo Hyun setuju dgn omongan Jung Woo. Ia bilang,, Dae Han yg terbaik.

Da Jung tersenyum mendengarnya.

Dae Han : Jika penulis utama "Debat" mengatakan itu, itu sukses. Ini semua berkat penulis. Tunggu. Aku akan memberimu ayam daun bawang sebagai tanda terima kasih.


Dae Han memaksa menyuapi Soo Hyun. Soo Hyun malu2, tapi saat akan menerima suapan Dae Han, ortunya datang dan mengambil suapan itu.

Pak Jung : Ini bukan saatnya, lihatlah.

Pak Jung menunjukkan sms di ponselnya.

"Aku ingin melaporkan Wi Dae Han, calon anggota dewan atas kemunafikan yang menjijikkan. Dia menampung empat anak dan mengubah citranya menjadi Ayah Nasional serta memimpin pemungutan suara, tapi dia mengirim anak-anak ke ayah kandung mereka. Dia menyimpulkan anak-anak sudah tidak berguna lagi dan mengusir anak-anak. Fakta bahwa dia memanfaatkan anak- anak untuk siasat kampanye benar-benar mengejutkan." begitulah isi pesan itu.


Soo Hyun langsung pergi. Wajahnya tampak marah.


Di camp nya,, Joon Ho membaca artikel ttg Dae Han.

Lalu ia ingat kata2 Hye Jin tadi.

Hye Jin : Kau tahu surat suara akan dicetak lusa. Jika ingin memaksimalkan efek bergabungnya kita, kau harus memutuskan besok.


Tak lama kemudian, Soo Hyun datang. Joon Ho senang melihat Soo Hyun.

Soo Hyun menarik napas dan menunjukkan sms itu.

Soo Hyun : Mereka pikir ini disebarkan oleh pihakmu. Kau tahu teks mengerikan ini sedang disebarkan? Tidak. Itu bukan pertanyaan yang tepat. Mereka tidak akan menyebarkannya tanpa memberi tahu kandidat. Biar kuubah pertanyaannya.  Apa kau menyuruh mereka menyebarkan teks ini?

Joon Ho : Izinkan aku menanyakan sesuatu sebelum aku menjawab. Apa ada sesuatu di teks itu yang bukan fakta? Kudengar semua anak selain putri Dae Han dikirim ke Chuncheon.

Soo Hyun : Fakta dan kebenaran adalah hal yang berbeda. Apa kau memikirkan perasaan anak-anak itu? Kukira kau seseorang yang bisa melihat kebenaran tersembunyi di balik fakta yang terlihat. Aku salah.

Soo Hyun yg kecewa pada Joon Ho beranjak pergi.


Di pintu, dia papasan dgn Reporter Nam yg baru datang.

"Kau sudah menyuruh orang-orang untuk menyebarkan teks tentang Dae Han?" tanya Joon Ho kesal.

"Kau menolak melakukan hal memalukan, jadi, aku yang harus melakukannya." jawab Reporter Nam.

"Keyakinan dan kemenangan. Sangat sulit mendapatkan keduanya." ucap Joon Ho kecewa.


Bong Joo menghubungi Dae Han.

Bong Joo : Sudah kukonfirmasi. Itu ulah pihak Kang Joon Ho.

Dae Han : Bukankah itu pelanggaran hukum pemilihan?

Bong Joo : Masih belum jelas karena benar anak-anak pergi ke Chuncheon. Jika mengeluh soal itu, kita hanya akan memperburuk keadaan.

Dae Han : Baiklah. Terima kasih hari ini. Istirahatlah. Sampai jumpa.


Dae Han menyudahi pembicaraannya. Da Jung langsung berkata, kalau SMS itu sangat merugikan Dae Han.

Dae Han sedang mengantar Da Jung ke rumah Soo Hyun.

Dae Han : Aku yakin itu akan berpengaruh, tapi jangan khawatir. Karena masalah perjudian itu, pemimpin suara jatuh.

Da Jung : Syukurlah.

Dae Han : Bukankah kau terlalu banyak berjalan?

Da Jung : Lebih buruk bagiku untuk duduk sepanjang waktu.


Dae Han : Da Jung-ah, ini sulit bukan?  Secara fisik dan emosional.

Da Jung : Ya, tapi aku baik-baik saja. Aku punya Jung Woo, Kak Soo Hyun, dan...

Da Jung tampak malu2 menyebut nama Dae Han.

Dae Han paham orang satu lagi y dipunyai Da Jung adalah irinya.

Dae Han lalu menyuruh Da Jung istirahat.


Da Jung : Ayah juga harus kampanye besok, jadi, tidurlah dengan nyenyak.

Da Jung mau pergi tapi kemudian ia sadar, bahwa barusan ia memanggil Dae Han ayah.

Da Jung dan Dae Han pun langsung salah tingkah.

Da Jung kemudian tersenyum dan bergegas pergi.


Dae Han masuk ke rumahnya. Rumahnya yg dulu ramai oleh anak2 kini terasa sepi.

Dae Han lantas mengingat video yg dikirim anak2 untuk menyemangatinya.


Tak lama kemudian, ia mengeluarkan saputangan Sun Mi dari balik jasnya yg selalu ia bawa.

Dae Han ingat saat Song Yi memberikan saputangan itu padanya.


Ponsel Dae Han berdering. SMS dari Tak.

Tak : Aku menonton "Debat" hari ini. Anda pembicara tingkat tinggi. Pokoknya, menangi pemilu agar anda tidak mempermalukanku.


Besoknya,, Dae Han dan Joon Ho kembali berkampanye. Tak lama kemudian, mereka bertemu.

Dae Han : Pak Kang. Aku berniat meneleponmu.

Joon Ho : Meneleponku? Kenapa?

Dae Han : Aku ingin memberitahumu aku suka pesan teks yang beredar. Aku mengerti kau butuh suara, tapi melakukan aksi konyol seperti itu tidak seperti dirimu.

Joon Ho : Memang benar itu aksi, tapi aku tidak yakin SMS itu tidak masuk akal. Kau memang melakukan pertunjukan seperti itu.

Dae Han : Antara pertunjukan dan propaganda yang berbahaya, menurutku pertunjukan jauh lebih baik.

Joon Ho : Bergantung pada pertunjukan apa. Kurasa menampung yatim piatu dan berpura-pura menjadi ayah mereka jauh lebih buruk daripada propaganda yang berbahaya.


Mereka lalu menerima hasil suara sementara.

Bong Joo memanggil Dae Han.

Bong Joo bilang mereka ada di peringkat pertama.

Sontak, tim Dae Han langsung gembira.

Sementara Reporter Nam menatapnya dengan kesal.

Joon Ho memberikan ucapan selamat lalu beranjak pergi tapi Dae Han memanggilnya.


Dae Han : Kang Joon Ho, sepertinya kau berada di posisi kedua. Jangan terlalu sedih. Posisi kedua sama bagusnya. Jangan terlalu sedih.


Mendengar kata2 Dae Han, Joon Ho pun teringat masa SMA-nya, saat Dae Han juga mengatakan hal yang sama padanya ketika ia berada di peringkat dua.

Joon Ho tersenyum.

Dae Han : Semoga berhasil.

Dae Han pun pergi.


Joon Ho : Kita sudah sampai sejauh ini. Bagaimanapun, kita harus menang.

Reporter Nam mengangguk.


Dae Han dan tim nya pergi ke panti jompo. Tim nya membagikan minuman kesehatan pada para lansia.

Dae Han tampak memijit seorang lansia.

Dae Han : Bagaimana rasanya, Bu?

"Kau jauh lebih andal daripada suamiku. Kukira kau jahat karena mengusir anak-anak itu, tapi kurasa kau cukup baik."

"Aku tidak mengusir mereka, Bu. Ayah kandung mereka datang untuk menjemput mereka, jadi, aku mengembalikan mereka kepada ayah mereka."


Hye Jin dan Joon Ho menggelar konferensi pers.

Hye Jin : Alasanku mencalonkan diri tahun ini adalah memenangkan Partai Nasionalis dan pihak konservatif, bukan hanya untuk diriku, Kim Hye Jin. Setelah menghadapi kekalahan akibat perpecahan suara, aku, Kim Hye Jin, dengan senang hati berkorban demi kemenangan pihak konservatif. Aku akan menjadi benih kemenangan. Dan aku akan dengan senang hati mendukung kandidat konservatif, Kang Joon Ho, dan melakukan yang terbaik untuk membantunya.


Soo Hyun dan tim nya terkejut menonton berita konferensi pers itu.


Pak Jung, Bu Yang dan Jung Woo juga menontonnya.

Jung Woo : Apa yang akan terjadi sekarang?

Pak Jung : Apa menurutmu? Mereka akan bersatu dan menang! Para pengecut itu!


Hye Jin memegang tangan Joon Ho dan mereka sama2 mengangkat tangan mereka ke atas. Hye Jin tersenyum tapi Joon Ho tampak murung.


Bu Yang : Pria itu banyak berubah sejak dia memulai politik.


Dae Han dan Bong Joo membahas bergabungnya Joon Ho dan Hye Jin.

Bong Joo : Aku tahu ini akan terjadi. Apa yang akan kau lakukan?

Dae Han : Tidak perlu khawatir. Hanya karena merger bukan berarti jumlah suara mereka naik. Mari kita lakukan yang terbaik.

Dae Han lantas terkejut karena Pak Baek mendadak menghubunginya.


Pak Baek mengajak Dae Han makan siang. Dae Han makan dgn lahap.

Dae Han : Astaga, aku bekerja keras untuk kampanye itu sampai semuanya terasa luar biasa.

Pak Baek : Makanlah. Kau butuh stamina untuk melakukan kampanye.

Dae Han : Aku yakin anda bukan mau menemuiku untuk mentraktirku makan siang saja. Kenapa tidak langsung ke intinya saja?

Pak Baek : Setelah Kang Joon Ho dan Kim Hye Jin bergabung, peringkat mereka akan tujuh persen di depanmu. Kau pikir bisa membatalkan hasilnya dalam sepuluh hari?

Dae Han : Lalu?


Pak Baek : Aku tidak sepelit itu. Mari lupakan masa lalu. Jika kau setuju bekerja untukku, aku akan membuat Ha Beom Soo mundur. Kau sudah melalui empat tahun yang sulit. Bagaimana kau akan meneruskannya selama empat tahun lagi? Jika ingin terjun ke dalam politik, kau harus tahu kapan harus membungkuk.

Sontak, Dae Han yg lagi enak-enak makan kaget mendengarnya.

Dae Han : Baik, Pak. Tapi, Pak, aku tidak sedermawan anda. Aku tidak bisa melupakan masa lalu, dan aku tidak bisa bekerja untuk orang yang bukan contoh baik. Terima kasih atas makanannya. Sampai jumpa lagi.


Dae Han berdiri.

"Satu lagi." Dae Han mengambil satu makanan di piring lalu pergi. Pak Baek kesal.

Bersambung ke part 4...