Tuesday, November 22, 2016

I Have a Lover Ep 33 Part 2

Sebelumnya...


Di ruangannya, Hae Gang masih memikirkan jalan keluar atas masalahnya. Tak lama kemudian, matanya mulai berkaca2. Jin Eon kemudian datang. Begitu Jin Eon masuk, Hae Gang sudah duduk dan bersikap seolah2 tidak terjadi apapun.

Ada apa lagi?” tanya Hae Gang.


“Lagi? Ini bukan "lagi" seperti yang kau pikirkan, jadi jangan khawatir. Kalau kau bisa bersikap santai, maka aku juga bisa lebih santai saat bersamamu. Tolong bekerja samalah wakil presdir Do Hae Gang, kita tidak bisa berteman dan aku berusaha untuk menjadi rekan yang baik, jadi mari kita bekerja sama. Ini adalah rencana bisnis untuk tahun 2016 dari departemen R&D.Tolong dilihat dan berikan pendapatmu, mengenai pengembangan obat baru. Mungkin awalnya akan sulit dimengerti, karena bahasa medis itu sulit dan biayanya sangat tinggi. Kalau ada yang ingin kau tanyakan, silahkan tanyakan padaku.” Jawab Jin Eon sambil meletakkan dokumennya di depan Hae Gang.


Saat Jin Eon bicara tentang obat baru yang akan mereka kembangkan, Hae Gang meneliti wajah Jin Eon dengan seksama.

“Apa kau akan mengambil kasusnya? Menurutku, yang terbaik adalah mendiskusikannya terlebih dulu dengan pengacara Baek Seok dan membatalkan proses pengadilan. Menjadi pengacara untuk Farmasi Cheon Nyeon, aku harap kau tidak melakukannya lagi. Proses pengadilan... kakak ipar... tidak baik ...Jangan pernah lagi... orang itu...”

“Baiklah kalau begitu.” jawab Hae Gang.


Jin Eon lantas beranjak pergi. Hae Gang yang masih ingin bersama Jin Eon pun mengajak Jin Eon minum teh. Diam2 Jin Eon tersenyum senang namun di depan Hae Gang ia menolak dan berkata harus kembali bekerja. Hae Gang jelas sedih dengan penolakan Jin Eon.


Seol Ri mencari2 sesuatu di kamar kakaknya. Tak lama kemudian ia menemukannya. Sebuah dokumen dan juga sampel Pudoxin. Seol Ri bingung bagaimana cara kakaknya mendapatkan dokumen itu karena ia menyimpan dokumen itu di apartemennya.


Hae Gang yang baru pulang tersenyum saat mendapati pohon natal di apartemennya. Tak lama kemudian, Seok pun datang dan menghampiri Hae Gang.”

“Ini tidak berasa sedang natal, bahkan orang-orang di jalanan maupun ekspresi mereka. Kenapa semua orang seperti itu, seperti sudah direncanakan?” ucap Seok.

“Perekonomian sedang tidak bagus.” Jawab Hae Gang.

“Aku harap hati tidak terkena dampak dari perekonomian. Kalau kau kehilangan harapan, kau akan kehilangan segalanya. Meski semuanya tidak berjalan sesuai harapanku. Aku bisa memiliki semua yang aku inginkan kan?” ucap Seok.

Hae Gang diam saja sambil menatap Seok.

“Apa?” tanya Seok.

“Aku...menjadi Pengacara Farmasi Cheon Nyeon.” Ucap Hae Gang.

Seok kaget, Apa?

“Baru saja kuputuskan. Untuk mengambil kasus Pudoxin. Menang, tolong kalahkan aku, Seok.” Pinta Hae Gang.


Sementara Jin Eon berdiri di ruangan Hae Gang.

“Biarkan aku masuk kedalam pikiranmu. Video dan jurnal itu, kenapa bukannya si cahaya tapi malah kau serahkan pada kakak ipar? Kenapa? Karena kau harus melindungi adikmu? Kenapa? Untuk membuatnya mempercayaimu dan untuk menipu kakak ipar? Meski begitu, berbuat seperti itu....”

Tak lama kemudian Jin Eon menyadari sesuatu.

“Entah tidak ada bukti kuat atau ada sesuatu yang lain.”


Tak lama kemudian, Tae Seok datang.

“Mana pemilik ruangan ini?” tanya Tae Seok.

“Seperti yang kau lihat, dia sudah pergi.” Jawab Jin Eon.

“Wow, sungguh tidak terduga! Sekarang bahkan belum jam 8 dan si gila kerja itu sudah pergi, di hari pertama kerjanya.” Ucap Tae Seok.

“Dia mungkin bekerja di rumah, apalagi yang akan dilakukan penggila kerja?” jawab Jin Eon.


“Dia seharusnya memberikan responnya hari ini kalau dia tetap ingin menjadi Wakil Presdir. Kita harus memasukkan jawaban ke pengadilan besok. Kau bilang dia tidak berubah, tapi aku rasa dia sudah berubah. Kenapa Pengacara Do merasa ragu? Ini bahkan bukan kasus besar seperti yang dikatakannya, bukankah itu aneh? Jabatan Wakil Presdirnya yang sedang dipertaruhkan. Kenapa harus dipertimbangkan lagi?” ucap Tae Seok.

“Mereka berdua berkencan. Dia bilang dia menyukainya, dia hanya melihatnya dan perduli padanya. Dia pikir kebenciannya padaku akan segera hilang karena dirinya.” Jawab Jin Eon.

“Mari kita tunggu dan lihat, apakah dia mengambil kasusnya atau tidak. Setelah itu, mari kita putuskan apakah mempercayakan posisi itu padanya atau tidak Juga baik untukmu kalau dia pergi, benarkan?” ucap Tae Seok.

Tak lama kemudian, Tae Seok menerima panggilan dari Hae Gang. Jin Eon terkejut mengetahui Hae Gang mengambil kasus itu.


Hae Gang berkata pada Seok kalau ia tidak akan membicarakan tentang Pudoxin lagi dengan Seok karena ia adalah Pengacara Farmasi Cheon Nyeon. Seok tidak setuju. Hae Gang berkata, ia harus mengambil kasus itu untuk mendapatkan kepercayaan mereka.

“Kalau aku ingin menangkap Min Tae Seok, aku harus berada di sampingnya apapun yang terjadi. Aku akan mendapatkan Min Tae Seok, Seok-ah.” Ucap Hae Gang.

“Kau...apa sebenarnya yang kau pikirkan? Ada sesuatu, benarkan? Ada sesuatu yang akan kau lakukan sendirian...sendirian, kau akan... Apa itu? Apa yang kau rencanakan?” tanya Seok.

“Tidak ada yang seperti itu. Aku dengan kasusku, dan kau dengan kasusmu.” Jawab Hae Gang.

“Kau membuat aku cemas.” Ucap Seok.

“Ini harapan bagiku. Kalau aku kehilangan harapan, maka semuanya akan lenyap, jadi lakukan yang terbaik, mengerti? Kau harus melakukannya dengan baik, Baek Seok.” Jawab Hae Gang.


Keesokan harinya, Hae Gang sudah kembali berada di ruangannya. Saat tengah berkutat dengan berkasnya, tiba2 saja Hae Gang mengambil ponselnya dan mengecek daftar panggilannya. Hae Gang tampak kecewa dan teringat kata2 Jin Eon yang mulai lelah dan ingin melepasnya.

“Kau tidak menelpon, dan juga tidak mengirim sms.Tidak ada tanda-tanda keberadaanmu.” Gumam Hae Gang.


Hae Gang lantas menghubungi seketarisnya.

“Tanggal berapa sekarang?”

“24 Desember Wakil Presdir.Ya, sekarang tanggal 24 Desember, malam natal.” Jawab Seketaris Shin.

“Aku mengerti.” Jawab Hae Gang.

Tak lama kemudian, Hae Gang kembali menghubungi Seketaris Shin dan menyuruh Seketaris Shin memanggil Jin Eon dengan alasan mau membicarakan proposal bisnis mereka.


Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan di pintu ruangannya. Hae Gang buru2 merapikan rambutnya. Tapi yang datang bukan Jin Eon, melainkan Hyun Woo. Hae Gang pun langsung kecewa.


“Aku diberitahu ada proposal yang ingin kau tanyakan, apa yang ingin kau tanyakan wakil presdir? Aku menerima perintah langsung dari Choi Jin Eon untuk menjelaskan semuanya sampai kau mengerti.” Ucap Hyun Woo.


Adegan kemudian berpindah pada Hae Gang yang sedang misahin kacang hitam dari nasinya. Saat hendak menyuap nasi, ia melirik ponselnya dan semakin kesal karena tidak ada telepon atau SMS dari Jin Eon. Hae Gang yang kesal itu pun hendak bangkit, tapi mengurungkan niatnya karena melihat Jin Eon.

“Wakil Presdir, aku lihat kau sedang makan. Tapi kau sendirian.Kalau begitu, silahkan nikmati makananmu.” Ucap Jin Eon, lalu pergi.


Kekesalan Hae Gang pun semakin bertambah karena Jin Eon sama sekali tidak berniat menemaninya makan. Hae Gang yang sudah tak tahan, akhirnya beranjak pergi dari kantin padahal ia belum menyentuh nasinya sama sekali. Jin Eon tersenyum melihat tingkah Hae Gang.


“Aku akan melihatmu malam ini. Aku akan melihatmu sepanjang malam. Aku akan melihatmu sampai pagi, mari kita lakukan.” ucap Jin Eon.


Hae Gang menuju ke mobilnya. Ia berhenti sejenak dan menoleh ke pintu basement mencari sosok Jin Eon. Tapi sosok yang dicarinya itu tidak tampak batang hidungnya. Hae Gang pun hanya bisa menghela napas kecewa karena mengira Jin Eon benar2 menghindarinya. Tanpa disadarinya, Jin Eon sudah berada di parkiran sedari tadi. Saat hendak masuk ke mobil, Shin Il Sang menghampirinya.


“Mari kita pergi ke suatu tempat.Mari kita lanjutkan pembicaraan kita yang belum selesai, Direktur Do Hae Gang.” ucap Shin Il Sang sembari menatap tajam Hae Gang.

“Ayo kita pergi, haruskah aku membawa mobilku?” tanya Hae Gang.

“Mari kita lakukan.” jawab Shin Il Sang.


Tepat saat itu Jin Eon datang dan mengajak mereka pergi bersama2. Shin Il Sang kaget dengan kemunculan Jin Eon. Dan Hae Gang, ia berkaca2 menatap Jin Eon.

“Pembicaraan kalian yang belum selesai, mari kita lakukan bertiga CEO farmasi Mi Do.” Ucap Jin Eon.

Shin Il Sang terdiam… 


Tiba2 saja, Hae Gang mengatakan sesuatu yang mengejutkan Jin Eon. Hae Gang memanggil Jin Eon, Yeobo.


Bersambung…….

Oh My Geum Bi Ep 2 Part 2

Sebelumnya....


Hwi Chul kembali ke mobilnya, di sana Geum Bi sudah menunggunya. Sambil menggaruk2 kepalanya yang gatal, Geum Bi mengajak Hwi Chul tidur di sauna.

"Sangat sulit kan, Nona kecil Geum Bi? Tapi tidak berapa pun sulitnya itu, ini adalah satu2nya jalan untuk kita hidup bersama. Aku harus menjagamu dengan sedikit uang yang kupunya, aku tidak bisa bekerja." ucap Hwi Chul.

"Kau bisa bekerja selagi aku sekolah." jawab Geum Bi.


"Kau tidak tahu soal ini, mencari pekerjaan itu tidak gampang. Sepertinya kita akan sudah dapat ramen untuk besok. Kita harus bagaimana?" ucap Hwi Chul.

"Jangan cemas." jawab Geum Bi, lalu mengambil daging katsu nya dan juga sekotak susu dari tasnya.

"Kau lapar kan? Makan ini." ucap Geum Bi.

"Apa itu?" tanya Hwi Chul.

"Ini jatah makan siangku tapi aku tidak suka susu dan daging babi." jawab Geum Bi.

"Aku baik2 saja. Makanlah." ucap Hwi Chul.

"Tidak perlu malu, makanlah." jawab Geum Bi.

"Aku baik2 saja, makanlah." ucap Hwi Chul, lalu sendawa.


Geum Bi pun langsung kesal karena Hwi Chul pergi makan tanpa mengajaknya.

"Apa yang kau bicarakan? Aku kelaparan sepanjang hari." sangkal Hwi Chul.

"Makanya cepat makan. Jangan malu2." jawab Geum Bi.

"Aku baik2 saja." ucap Hwi Chul.


Daan, Geum Bi langsung memasukkan daging katsu nya ke mulut Hwi Chul. Geum Bi juga menyuruh Hwi Chul minum susunya. Hwi Chul pun memakannya dengan terpaksa. Sementara Geum Bi, dia malah senyum2 ngeliatin Hwi Chul makan.

"Pastikan kau mengunyah dan meminum susunya dengan benar." ucap Geum Bi.


Malam harinya, Hwi Chul muntah2. Geum Bi menatap Hwi Chul dengan wajah cemas.


Hwi Chul lantas beristirahat di dalam mobilnya.

"Apa kau sakit?" tanya Geum Bi cemas.

"Diamlah. Kau membuatku sakit kepala." pinta Hwi Chul.

"Kau harus pergi ke dokter." ucap Geum Bi.

"Aku tidak punya uang." jawab Hwi Chul.

Tiba2, ponsel Hwi Chul berdering. Hwi Chul melarang Geum Bi menjawab teleponnya tanpa tahu si penelpon adalah Gang Hee. Geum Bi yang melihat nama Gang Hee di layar pun bergegas menjawab telepon Gang Hee.

"Ahjussi sedang sakit. Dia bahkan tidak makan banyak, tapi dia muntah2. Dia sangat lemah dan tidak bisa bergerak." ucap Geum Bi.

Geum Bi pun menangis...


Gang Hee yang sedang menyetir menanyakan posisi Geum Bi. Gang Hee lalu menenangkan Geum Bi dan meminta Geum Bi menunggunya. Usai berbicara dengan Geum Bi, Gang Hee langsung memutar arah mobilnya.

"Kenapa kau menangis? Aku tidak sekarat." ucap Hwi Chul.


Tapi Geum Bi terus aja menangis.

"Siapa itu?" tanya Hwi Chul.

"Gang Hee Eonni." jawab Hwi Chul.

"Apa!" kaget Hwi Chul.

Hwi Chul panik, ia buru2 mengelap wajah, tangan dan kakinya dengan handuk basah.

"Aku pikir kau sakit, jadi tetaplah tenang." ucap Geum Bi.

"Kenapa kau berlebihan begitu? Kau membuatku gila!" jawab Hwi Chul.


Saat lagi asyik ngelapin kakinya, Gang Hee datang dan terkejut melihat apa yang dilakukan Hwi Chul. Gang Hee kemudian mengetuk kaca mobil Hwi Chul. Hwi Chul terkejut dan bergegas nurunin kakinya.


Sekarang mereka bertiga duduk di mobil Hwi Chul.

"Kau baik2 saja?" tanya Gang Hee.

"Aku baik2 saja. Seharusnya kau tidak perlu datang." jawab Hwi Chul.

"Mana bisa begitu? Kau hanya berdua dengan anakmu. Sebentar lagi musim dingin, kau tidak bisa tinggal di sini selamanya." ucap Gang Hee.

"Aku bisa mengurus hidupku sendiri." jawab Hwi Chul.


Gang Hee kemudian menatap Geum Bi. Geum Bi pun membalas tatapan Gang Hee sambil tersenyum lebar. Gang Hee pun kembali menatap Hwi Chul.

"Kau bisa jalan?" tanya Gang Hee.


"Tentu saja, aku tidak terserang penyakit mematikan." jawab Hwi Chul.

"Ikutlah denganku." ajak Gang Hee.

Hwi Chul pun terkejut.


Sekarang mereka bertiga sudah berada di mobilnya Gang Hee. Gang Hee tertawa sambil menyetir mobilnya. Hwi Chul yang duduk di belakang tampak canggung. Geum Bi yang duduk di sebelah Gang Hee bertanya, siapa yang mau ditemui Gang Hee. Gang Hee pun berkata, bahwa itu rahasia.

"Aku merindukanmu." ucap Gang Hee.

"Sebenarnya aku datang juga karena merindukanmu." jawab Gang Hee.

"Benarkah?" pekik Geum Bi senang.


Gang Hee mengantarkan Hwi Chul  ke kamar yang dulu ditempati ayahnya. Hwi Chul merasa tidak enak, ia merasa hanya menyusahkan Gang Hee saja. Gang Hee mengaku ia bisa melakukan lebih banyak untuk Hwi Chul karena Hwi Chul sudah menyelamatkannya dari para penipu. Gang Hee kemudian menyuruh Hwi Chul istirahat dan beranjak pergi.

"Melakukan lebih banyak?" gumam Hwi Chul setelah Gang Hee pergi.


Diluar, Geum Bi sedang melihat2 pajangan antik Gang Hee. Gang Hee tersenyum melihatnya.


Gang Hee kemudian mengajak Geum Bi mandi bersamanya. Mereka berendam di dalam air sabun. Sambil memainkan busa sabunnya, Geum Bi bersenandung. Gang Hee berkaca2 menatap Geum Bi. Gang Hee kemudian mengelus pipi Geum Bi.


Hwi Chul celingukan mencari kamar mandi sambil memegangi perutnya yang mules. Saat lagi sibuk mencari kamar mandi, ia dikejutkan dengan kemunculan Geum Bi dan Gang Hee yang baru selesai mandi. Hwi Chul langsung salah tingkah melihat Gang Hee yang hanya memakai baju handuk. Gang Hee juga salah tingkah.

"Kamarnya ada di sebelah sana. Pastikan showernya mati saat kau menyalakan keran airnya. Kalau tidak airnya akan kemana2." ucap Gang Hee.


Gang Hee lantas mengajak Geum Bi ke kamarnya. Setibanya di kamar, Gang Hee terdiam memikirkan Hwi Chul. Geum Bi menyentuh wajah Gang Hee yang memerah.

"Apa wajahmu akan terasa panas kalau kau mandi?" tanya Geum Bi.

"Oh, kau benar." jawab Gang Hee sambil menyentuh pipinya.

"Tapi tetap saja wajahmu terlalu panas." ucap Geum Bi sambil menyentuh pipi Gang Hee lagi.

"Apa kau lelah, Geum Bi?" tanya Gang Hee.

"Aku lelah." jawab Geum Bi.


"Kalau begitu ganti bajumu dan tidurlah." ucap Gang Hee.

"Kita akan tidur bersama?" tanya Geum Bi.

"Kau tidak mau tidur denganku?" tanya Gang Hee.

"Tentu saja aku mau." jawab Geum Bi sembari tersenyum manis.


Sementara itu, Hwi Chul memilih tidur di lantai daripada di atas kasur.


Keesokan paginya, Hwi Chul dihubungi Gil Ho. Gil Ho yang berada di rental game memuji yang dilakukan Hwi Chul. Hwi Chul kesal karena Gil Ho menghubunginya sepagi itu. Gil Ho lantas menanyakan keadaan Hwi Chul setelah kena tendangan maut Jae Kyung. Hwi Chul kemudian merepet karena Gil Ho lagi2 mengingatkannya akan sesuatu. Usai berbicara dengan Gil Ho, Hwi Chul dipanggil makan oleh Gang Hee.


Setibanya di ruang makan, Hwi Chul tertegun melihat Geum Bi yang minum susu dengan lahap. Ia teringat saat Geum Bi memberikannya susu dan daging katsu. Geum Bi mengaku tidak menyukai susu dan daging katsu. Hwi Chul pun menghela napas dan tidak jadi ke ruang makan.


Tak lama kemudian, Gang Hee datang membawakan sarapan untuk mereka.

"Kau menyukai susu?" tanya Gang Hee. Geum Bi pun mengangguk.

"Tapi kau harus sarapan, jadi tidak ada susu lagi." jawab Gang Hee. Gang Hee lantas menyuruh Geum Bi memanggil Hwi Chul.


Geum Bi mengangguk dan memanggil Hwi Chul yang masih berdiri di balik dinding pembatas ruang makan.


Hwi Chul diam saja melihat semangkuk bubur di depannya. Gang Hee pun menegur Hwi Chul dan bertanya apa Hwi Chul tidak mau makan? Hwi Chul diam saja. Geum Bi pun bertanya, apa Hwi Chul marah karena tidak mendapat nasi? Hwi Chul pun berkata kalau itu lebih baik dari nasi.

"Benarkah? Kalau begitu tukaran." pinta Geum Bi yang mau menukar nasinya dengan bubur Hwi Chul.

"Jangan bicara omong kosong." jawab Hwi Chul.

"Ayolah tukaran." bujuk Geum Bi.

"Tidak mau." jawab Hwi Chul.

"Akan kuberi kau 500 won." ucap Geum Bi.

"Aku tidak butuh." jawab Hwi Chul.

Geum Bi pun ngambek. Gang Hee hanya tersenyum melihat kelakuan ajaib ayah dan anak ini.


Usai makan, Hwi Chul tampak sibuk membenarkan shower yang airnya bocor kemana2. Gang Hee merasa tidak enak melihatnya. Sementara Geum Bi malah tersenyum puas. Karena tak mau air membasahi kemejanya, Hwi Chul pun membuka kemejanya dan Gang Hee langsung memalingkan wajahnya.

"Kau tidak perlu melakukan ini." ucap Gang Hee.

"Tidak apa2. Kau sudah membuatkanku bubur, jadi aku harus membalasnya." jawab Hwi Chul.


Hwi Chul lalu mendengus kesal sambil menatap Geum Bi. Geum Bi tersenyum puas berhasil mengerjai Hwi Chul.


Sayangnya, momen manis dan lucu Gang Hee bersama Hwi Chul dan Geum Bi pun rusak karena kedatangan Jae Jin. Jae Jin berkata, seorang penilai barang antik tidak mungkin hanya bisa tinggal di mobil. Gang Hee pun langsung menegur Jae Jin.

"Aku punya banyak hutang." jawab Hwi Chul.

"Jadi begitu, ya? Apa kau tahu? Orang2 yang membangun gedung pencakar langit tidak membangun gedung dengan uang mereka sendiri. Mereka juga memiliki banyak hutang." ucap Jae Jin.

"Berapa umurmu?" tanya Jae Jin.

"37." jawab Hwi Chul.

"Kau hampir 40. Dan putrimu 10 tahun. Dan kau tinggal di dalam mobil?" tanya Jae Jin.

"Jae Jin-ssi, ayo kita pergi." ajak Gang Hee.

"Dan meninggalkan mereka di sini?" tanya Jae Jin.

"Kau mau menunda jadwal kita?" tanya Gang Hee.

"Kau tidak berpikir meninggalkan seorang pria asing di rumah seorang wanita yang hidup sendirian adalah hal yang tidak masuk akal?" ucap Jae Jin.

"Kami akan pergi." jawab Hwi Chul.


"Begini saja, aku akan mencarikanmu ruangan di rumah sakit, jadi kau bisa mendapatkan pengobatan di sana. Tapi tentu saja aku tidak akan memberikannya secara cuma2. Kau bisa membayarnya nanti setelah kau benar2 sembuh dengan melakukan beberapa pekerjaan di rumah sakit." ucap Jae Jin.

"Aku baik2 saja sekarang." jawab Hwi Chul.

"Tidak perlu malu. Tidak masalah kalau kau menerima bantuan karena sedang butuh. Kau sudah membuang harga dirimu dengan menginap di sini." sindir Jae Jin.

"Aku baik2 saja. Ayo kita pergi, Nona kecil Geum Bi." ucap Hwi Chul.


Gang Hee mengantarkan Hwi Chul dan Geum Bi ke depan. Ia berkata, akan menelpon Hwi Chul nanti. Tapi Hwi Chul melarangnya. Gang Hee pun bertanya, apa kau marah?

"Aku tidak punya hak untuk marah." jawab Hwi Chul.


Gang Hee lalu menatap Geum Bi.

"Geum Bi-ya, datang lah ke sini lain kali." ucap Gang Hee.


Geum Bi pun melirik Hwi Chul. Hwi Chul menggelengkan kepalanya, melarang Geum Bi menemui Gang Hee lagi. Geum Bi terdiam. Gang Hee pun mengerti.

"Dan carilah orang lain. Jangan bekerja dengan penilai seni yang mengenalkanmu pada seorang penipu. Carilah seseorang yang bisa dipercaya." ucap Hwi Chul.

"Kami sudah bekerja dengannya sejak ayahku masih hidup." jawab Gang Hee.


"Carilah orang yang punya kesadaran untuk membayarmu dengan harga yang wajar! Dan kalau kau mau menjual sesuatu, jangan mudah tertipu oleh penjahat2 itu! Pastikan kau menyimpan uangmu di bank yang terpercaya! Jangan biarkan orang lain tahu kau memiliki uang yang banyak!" teriak Hwi Chul.

"Tapi...."

"Mengerti!" bentak Hwi Chul.

Setelah mengatakan itu, Hwi Chul pun beranjak pergi. Gang Hee terlihat kecewa menatap kepergian Hwi Chul. Geum Bi bergegas menyusul Hwi Chul.


Saat jam pelajaran olahraga, Sil Ra yang masih berada di kelas, diam2 menyembunyikan crayon Geum Bi.


Saat pelajaran dimulai, Geum Bi kebingungan mencari crayon nya. Jae Ha pun meminjamkan crayon nya pada Geum Bi. Sil Ra cemburu melihatnya.


Ketika anak2 sudah pulang, Min A yang sedang membersihkan kelas, terkejut menemukan crayon Geum Bi yang sudah rusak di tempat sampah.


Hwi Chul yang lagi galau minum2 di taman. Saat minumnya sudah habis, Hwi Chul melemparkan kalengnya ke tempat sampah tapi tidak masuk. Hwi Chul lantas menghela napas.

"Aku tahu ini tidak akan berhasil. Aku mulai merindukannya." gumam Hwi Chul.

(Merindukan Geum Bi atau Gang Hee nih??)


Tak lama kemudian, Gil Ho datang. Ia memberikan formulir yang diminta Hwi Chul. Formulir panti asuhan!! Hwi Chul pun mengeluh karena Gil Ho melakukan apa yang dimintanya dengan cepat. Gil Ho marah, ia berkata kenapa Hwi Chul malah komplain setelah ia melakukan sesuatu yang diminta Hwi Chul.

"Kalau kau sudah memutuskan sesuatu, lakukan dengan benar." ucap Gil Ho.


Tapi Hwi Chul tampak tidak tega mengirim Geum Bi ke panti asuhan.


Di penjara, kita melihat Cha Chi Soo yang dikawal oleh dua polisi. Chi Soo kemudian berhenti melangkah, membuat polisi yang berdiri di belakangnya menabraknya hingga tongkat si polisi terjatuh. Saat si polisi mau mengambil tongkatnya, Chi Soo malah menendang tongkat itu hingga jatuh ke bawah. Chi Soo kemudian menatap dua polisi di belakangnya dengan tatapan menakutkan.


Setelah itu, kita melihat Chi Soo yang sudah mengganti seragam penjaranya dengan kemeja dan jaket dikeluarkan dari penjara.


Jae Jin menuangkan wine untuk Gang Hee. Jae Jin berkata, jadi kau memutuskan untuk tidak menjualnya? Namun Gang Hee yang sedang melamun diam saja.

"Gang Hee?" panggil Jae Jin, Gang Hee pun tersadar dari lamunannya.

"Aku akan mencari orang yang bisa dipercaya. Berikan aku beberapa waktu." jawab Gang Hee.

"Aku tidak memintamu untuk membayarnya kembali, kan? Kenapa kau terus membuatku terlihat seperti penagih hutang?" tanya Jae Jin.

"Bukan begitu maksudku. Aku akan mengembalikannya dalam waktu dekat." jawab Gang Hee.

"Itu lagi." ucap Jae Jin kesal.

"Maaf." jawab Gang Hee.

"Mari kita minum wine dulu." ucap Jae Jin kemudian menuangkan wine untuk Gang Hee.


Geum Bi sudah tidur duluan di mobil. Sementara Hwi Chul yang masih terjaga gelisah memikirkan sesuatu. Sementara formulir panti asuhan tampak di pangkuannya. Ya, Hwi Chul mulai tidak tega mengirimkan Geum Bi ke panti asuhan.


Sementara itu, Gil Ho sedang asyik bermain game di rental game. Tiba2, seseorang menyentuh bahunya dari belakang. Gil Ho pun terkejut melihat sosok Chi Soo di belakangnya.


Geum Bi lagi sibuk memilih2 crayon ditemenin Hwi Chul.


Saat kembali ke mobil, Hwi Chul terkejut mendapati tiket parkir di kaca mobilnya. Hwi Chul lantas menyalahkan Geum Bi karena memilih crayon begitu lama. Geum Bi yang tak sudi disalahkan, menyalahkan Hwi Chul karena parkir mobil di tempat yang gak seharusnya.

"Aku melakukannya karena kau ingin beli pensil warna!"

"Lalu apa hubungannya dengan ini?" tanya Geum Bi.


"Karena kau bilang di sana harganya lebih murah!" jawab Hwi Chul.

"Bukankah kita mendapatkannya dengan harga yang lebih murah?" jawab Geum Bi.

"Kau bilang ini murah? Kau tahu berapa ongkos parkirnya?" tanya Hwi Chul.

"Aku tidak tahu." jawab Geum Bi.

"Tidak tahu? Lalu apa yang kau tahu! Kau tidak tahu kondisiku, tidak tahu kemana bibimu pergi, dan bahkan tidak tahu siapa ibumu!" teriak Hwi Chul.

Mendengar itu, Geum Bi pun terdiam. Hwi Chul tampak menyesal sudah mengatakan itu pada Geum Bi. Geum Bi menatap Hwi Chul dengan tatapan terluka. Hwi Chul pun protes karena Geum Bi menatapnya seperti itu.

"Kau pikir aku akan bersikap baik kalau kau keras kepala seperti itu!"

"Siapa yang keras kepala di sini? Usia tua tidak membuatmu dewasa."

"Beraninya kau berkata seerti itu!"


"Kau selalu melakukan hal jahat dan tidak mau bertanggung jawab! Kau juga berbohong sepanjang waktu! Kau menyalahkan orang lain, kehilangan rumahmu dan tidur di dalam mobil! Kau hanya bisa beli makanan di supermarket karena tidak punya uang. Kau pikir Gang Hee akan menyukai pria seperti itu! Kau harus tempatmu!"

"Tutup mulutmu!"

"Tidak adil kalau aku tidak bisa menemui Gang Hee karena orang seperti dirimu!"

"Jadi begitu? Kalau begitu pergi lah! Pergi temui dia dan lihat dia sepuasmu!"

"Kau bilang dia tidak akan mau menemuiku kalau dia tahu aku anak seorang penipu!"

"Lalu bagaimana aku bisa tahu kalau kau benar2 putriku!"


Geum Bi pun terluka dengan kata2 terakhir Hwi Chul. Geum Bi yang terluka, akhirnya mengambil tasnya dari mobil Hwi Chul dan beranjak pergi. Hwi Chul berteriak memanggil Geum Bi, tapi karena Geum Bi tidak mau mendengarnya, ia pun marah dan menyuruh Geum Bi pergi.


Gang Hee yang sedang mengelap pajangan antiknya, tidak sengaja menemukan berkas tebal yang isinya daftar nama pajangan antik. Gang Hee lantas membalik lembaran demi lembaran dan ia tersenyum saat menemukan lukisan wajahnya di kertas itu.


Hwi Chul menunggu Geum Bi di mobilnya. Ia berkata akan meninggalkan Geum Bi jika Geum Bi tidak kembali dalam sepuluh menit. Waktu terus berlalu, Geum Bi tidak juga kembali. Hwi Chul mulai cemas. Hwi Chul lantas mencari nomor ponsel Geum Bi di nomor kontaknya, tapi kemudian ia menggerutu kesal karena baru menyadari bahwa dirinya tidak memiliki nomor ponsel Geum Bi.


Jae Kyung yang lagi maskeran dan mau tiduran menggerutu karena suara bel. Jae Kyung pun bergegas membukakan pintu. Dan ia terkejut saat melihat Gil Ho yang babak belur. Gil Ho menyuruh Jae Kyung menghubungi Hwi Chul.


Chi Soo sedang berusaha melacak keberadaan Hwi Chul lewat GPS.


Hwi Chul mencari Geum Bi di sekolah. Tapi ia tak menemukan Geum Bi di sana. Hwi Chul bingung harus mencari Geum Bi kemana lagi. Beberapa saat kemudian, ia pun menyadari tempat yang mungkin dikunjungi Geum Bi.


Dan benar saja, Geum Bi pergi ke rumah Gang Hee. Namun ia ragu memencet bel. Geum Bi akhirnya duduk di depan pagar rumah Gang Hee.


Gang Hee sendiri sedang berdiri di halamannya menatap bintang di langit.


Hwi Chul berlari ke rumah Gang Hee. Ia awalnya kesal menemukan Geum Bi di sana. Tapi hatinya luluh saat melihat wajah polos Geum Bi yang sedang tertidur. Hwi Chul kemudian mendekati Geum Bi. Ia mau menyentuh wajah Geum Bi, tapi tiba2 ponselnya berdering. Hwi Chul pun beranjak menjauhi Geum Bi dan berusaha meredam bunyi ponselnya agar tidak membangunkan Geum Bi.


Geum Bi membuka matanya dan menatap Hwi Chul yang lagi berbicara di telepon. Ingatan Geum seketika melayang saat ia melihat formulir panti asuhan itu.


Geum Bi yang tidak mau pergi ke panti asuhan pun akhirnya beranjak pergi. Hwi Chul yang selesai menelpon, terkejut melihat Geum Bi yang melarikan diri darinya.

"Geum Bi-ya!" teriak Hwi Chul, lalu mengejar Geum Bi.

Gang Hee yang masih berdiri di halaman terkejut mendengar suara Hwi Chul yang memanggil Geum Bi.


Geum Bi berlari ke jalanan. Hwi Chul terus mengejar Geum Bi. Namun, sial... Hwi Chul tiba2 ditendang oleh Chi Soo. Hwi Chul terkejut melihat Chi Soo. Hwi Chul yang tak mau kehilangan Geum Bi akhirnya mendorong Chi Soo dan bergegas mengejar Geum Bi.

Geum Bi berlari ke tengah jalanan. Sebuah truk tiba2 melaju ke arah Geum Bi. Hwi Chul terkejut melihatnya. Ia pun langsung berlari ke arah Geum Bi dan menggendong Geum Bi. Hwi Chul menjadikan badannya tameng untuk melindungi Geum Bi. Badan Hwi Chul dihantam oleh truk. Hwi Chul dan Geum Bi pun terlempar.


Lagi2, Hwi Chul menjadikan tubuhnya tameng agar Geum Bi tidak terluka.


Chi Soo yang melihat itu, tersenyum menyeringai dan beranjak pergi.


Sementara ayah dan anak itu tidak sadarkan diri. Darah mengalir dari kepala Hwi Chul.

Bersambung........

Preview Ep 3