• Sinopsis Wonderful World Episode 1-16

    Kim Nam Joo dan Cha Eun Woo memiliki rasa sakit yang sama akibat kehilangan seseorang yang sangat berharga bagi mereka.

  • Duis non justo nec auge

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

My Golden Life Ep 12 Part 2

Sebelumnya...


Ji An akhirnya sampai di rumah pewarna alami. Dia langsung minta maaf ke Do Kyung karena terlambat datang. Tapi Do Kyung malah menanyakan alasan Ji An meminjam uang ke Hyuk. Do Kyung memberitahu Ji An soal kedatangan Hyuk ke kantor. Ji An pun menjelaskan kalau ia sudah mengembalikan uang Hyuk dan tidak pernah meminjam uang Hyuk.


Hyuk yang baru kembali ke kantornya, terkejut mengetahui Ji An mengembalikan uangnya. Hyuk pun frustasi karena tidak tahu kemana Ji An pindah, tidak tahu nomor ponsel dan e-mail Ji An. Sementara itu, Ji An dan Do Kyung sedang melihat proses pencelupan dari daun nila segar.


Nyonya Yang yang sedang menuju rumahnya bingung sendiri bagaimana menyuruh keluarganya mengisi angket Haesung soal masakannya. Ia mengaku, bisa menyuruh keluarganya mencicipi masakannya tapi tidak bisa menyuruh mereka mengisi angketnya.

Tiba2, Hae Ja datang. Hae Ja yang tahu Nyonya Yang baru pulang dari seminar Haesung pun pura2 kelaparan, tapi malas memasak. Nyonya Yang langsung bersemangat. Ia mengajak Hae Ja ke rumahnya dan mau memasakkan sesuatu untuk Hae Ja. Hae Ja pun senang pancingannya berhasil.


“Kenapa harus hamburger?” tanya Hae Ja saat melihat Nyonya Yang membuat hamburger untuknya.


Nyonya Yang pun tersenyum dan mengaku lagi ingin membuat hamburger. Tapi Hae Ja tidak bisa dibohongi. Ia bisa menebak soal restoran burger yang dibukakan Haesung untuk Nyonya Yang. Nyonya Yang seketika terdiam. Hae Ja mengoceh lagi, ia bilang itulah alasan kenapa Tae Soo mau mulai berbisnis lagi.

“Eonni, kau pikir aku bahagia dengan semua ini? Ji Tae abeoji tidak bekerja di pusat distribusi. Dia hanya buruh harian.” Jawab Nyonya Yang.

Hae Ja pun kaget, Omo…

“Kau membeli rumah ini untuk investasi, kan? Tapi aku membeli rumah ini darimu dengan harga murah. Aku berterima kasih untukmu.Tapi bagaimana jika daerah ini dibangun kembali? Bagaimana jika rumah ini digusur? Aku akan berakhir di ruang bawah tanah lagi. Aku harap daerah ini tidak akan dibangun kembali. Itulah yang kurasakan.” Ucap Nyonya Yang.


Tangis Nyonya Yang pun keluar. Ia mengaku tidak pernah membayangkan akan hidup seperti itu. Ia bilang, saat Haesung menawarinya bisnis waralaba, ia sempat menolaknya. Tapi saat wanita itu bilang, Tae Soo hanyalah kuli bangunan, aku tanpa pikir panjang menerimanya.

Nyonya Yang terduduk lemas. Hae Ja menenangkan Nyonya Yang dan berkata, ia mengerti perasaan Nyonya Yang.

“Tidak. Kau tidak mengerti apa yang kurasakan. Dan juga Tae Soo, kalian tidak mengerti. Aku bahkan tidak mengerti diriku, kenapa aku melakukan ini.” ucap Nyonya Yang.

“Kau sudah melakukan hal yang benar. Lagipula, kau sudah membesarkan Ji An. Anggap saja ini ganti rugi karena sudah membesarkan Ji An.” Jawab Hae Ja.


Beralih ke Ji Soo yang baru bangun tidur dan langsung turun ke bawah gara2 mencium bau masakan ibunya. Begitu Ji Soo datang, Hae Ja buru2 menyembunyikan angket Haesung di laci meja.

“Kau turun karena mencium sesuatu?” tanya Hae Ja.

“Benar sekali.” Jawab Ji Soo.

Ji Soo pun mengira sang ibu membuat burger khusus untuknya. Ji Soo buru2 mencicipinya dan rasanya enak.


Sembari berjalan menuju ke mobil, Ji An menanyakan pendapat Do Kyung soal pewarna tadi. Do Kyung bilang itu indah, tapi bukan itu yang diharapkannya.

“Oya, kau masih harus mengunjungi satu tempat lagi kan? Aku tidak bisa menemanimu karena harus meeting. Jadi sebaiknya kita makan sesuatu yang bisa dimakan dengan cepat untuk makan malam hari ini.” ucap Do Kyung.

“Tapi kau akan makan malam selama pertemuan, kan?” tanya Ji An

“Mana mungkin aku membiarkan adikku melewatkan makan malam.” Jawab Do Kyung.


Do Kyung pun menemani Ji An makan tteokbokki di pinggir jalan. Tak tega liat Ji An makan di pinggir jalan, Do Kyung berniat untuk segera membuka identitas Ji An sebagai Eun Seok agar Ji An bisa makan enak.

“Aku tidak akan mengubah seleraku begitu saja. Ini sangat lezat.” Jawab Ji An.

“Ini demi kesehatanmu.” Ucap Do Kyung.

“Kau hanya berusaha mencari kesalahan orang lain.” Balas Ji An.

“Tapi ada sesuatu yang patut dipuji darimu. Sun Woo Hyuk.” Jawab Do Kyung.

“Hyuk-ah?” tanya Ji An bingung.

“Bagus sekali kau tidak memberitahukan nomormu. Kau akhirnya bertingkah seperti adikku. Seperti putri Haesung Corporation sejati.” Puji Do Kyung.


Ji An pun seketika teringat soal fotonya dan Ji Soo yang tiba2 hilang. Teringat hal itu, Ji An terdiam. Do Kyung heran sendiri melihat Ji An yang mendadak diam. Ji An pun berkata, bahwa ia hanya merasa seperti sedang diyakinkan. Ji An kemudian memuji Do Kyung sebagai kakak yang bisa diandalkan.

“Kau juga punya kakak di keluarga lamamu kan? Apa dia tidak bisa diandalkan?” tanya Do Kyung.

“Tentu saja bisa, tapi saat keadaan menjadi sulit, kau tidak akan mempedulikan orang lain.” Jawab Ji An pelan.


Ji Tae lagi asyik baca komik sambil ngemil di kamar komiknya. Soo A juga melakukan hal yang sama di ruang sebelah. Baik Ji Tae maupun Soo A, sama2 tidak saling menyadari kehadiran satu sama lain.

Di rumah, Tuan Seo lagi bicara sama Seok Doo soal item produk yang ia kirim ke e-mail Seok Doo. Tepat saat itu, Ji Tae pulang. Melihat ayahnya lagi sibuk bicara di telpon, Ji Tae pun langsung menuju kamarnya.


Tuan Seo langsung menyusul Ji Tae begitu selesai bicara dengan Seok Doo.

“Ji Tae-ya, mereka bilang kau bisa merasakan ketidakhadiran seseorang. Ruangan ini terasa begitu kosong sekarang.” ucap Tuan Seo.

“Ayah kenapa kemari?” tanya Ji Tae.

“Kudengar kau baru putus dari pacarmu.” Jawab Tuan Seo.

Ji Tae pun terkejut, ia penasaran ayahnya tahu darimana.


“Mereka bilang batuk dan cinta adalah dua hal yang tidak bisa disembunyikan. Kau sepertinya sudah pacaran dengannya selama bertahun-tahun. Konyol sekali kalau Ji Ho yang berbagi kamar denganmu sampai tidak tahu soal ini.” jawab Tuan Seo.

“Kami memang sudah putus.” Ucap Ji Tae.

“Kenapa? Kalian harusnya menikah.” Jawab Tuan Seo.

“Tapi kami sudah berakhir sekarang.” ucap Ji Tae.

“Kau bilang sudah berakhir tapi kau terus saja bersedih. Kenapa? Karena kau tidak kaya? Kenapa kau membutuhkan uang? Kau hanya membutuhkan kamar untuk tinggal bersama.” Jawab Tuan Seo.

“Ayah, apa yang ayah bicarakan? Kenapa ayah membicarakan soal uang dan kamar sewa?” tanya Ji Tae.


“Aku dan ibumu tinggal di sebuah ruangan yang sempit saat kami menikah.” Jawab Tuan Seo.

“Itukan sudah lama.” Ucap Ji Tae.

“Tapi tidak masalah. Menikahlah.” Jawab Tuan Seo.

“Ayah tahu kan aku tidak mampu membelinya.” Ucap Ji Tae.

“Kenapa tidak? Kau punya kamar ini. Aku dan ibumu tidak akan membebanimu setelah kami pensiun. Jadi kau bisa mulai dari sini. Menabung lah, kemudian pindah.” Jawab Tuan Seo.

“Tidak sesederhana itu ayah.” ucap Ji Tae.

“Hidup bisa jadi rumit atau sederhana. Itu tergantung dari caramu berpikir.” Jawab Tuan Seo.

“Aku tahu apa yang harus kulakukan.” ucap Ji Tae.


“Apa yang kau tahu! Kau pikir kau tahu semuanya! Karena kau sudah 33 tahun, jadi kau pikir kau tahu semuanya?” suara Tuan Seo mulai meninggi.

“Aku bukan anak kecil lagi.” Jawab Ji Tae.

“Karena itulah kau belum dewasa! Karena kau berpikir seperti itu. Ayahmu sudah lebih dari 60 tahun. Aku bahkan takut kalau aku salah, tapi kau? Hanya karena umurmu sudah dewasa, bukan berarti pikiranmu dewasa. Kau tidak tahu apa yang kau butuhkan. Kau mungkin sudah lupa, tapi aku bekerja di perdagangan selama 15 tahun dan menjalankan bisnis selama 10 tahun. Dengarkan ayahmu.” ucap Tuan Seo.

“Ayah tidak tahu kan kenapa melakukan ini, jadi diamlah. Waktu sudah berubah sekarang. Aku tidak akan menyesali keputusanku.” Jawab Ji Tae.


Ji An yang baru pulang terkejut melihat Tuan Choi menunggunya di halaman. Tuan Choi tersenyum, kemudian berkata bahwa hari sudah larut, tapi putrinya belum pulang, jadi bagaimana ia bisa tidur.

“Maafkan aku. Aku baru saja pulang dari Yangpyeong menemui vendor kita.” jawab Ji An.


Tuan Choi lantas menyuruh Ji An duduk. Setelah Ji An duduk, Tuan Choi pun menjelaskan, kalau mereka mengirim Ji An ke tim marketing bukan untuk menyuruh Ji An bekerja. Tuan Choi juga bilang, Ji An hanya sementara ada di sana.

“Aku baik2 saja. Aku melakukannya karena aku benar-benar ingin melakukannya. Ini untuk hari jadi perusahaan kita yang ke-40.” Jawab Ji An.

“Lalu kapan kau akan meluangkan waktu agar kita bisa pergi berkencan? Ada yang ingin kuberikan padamu. Hadiah yang tidak akan pernah kau lupakan.” Ucap Tuan Choi.

“Ayah bisa memberikannya padaku nanti setelah ulang tahun perusahaan kita.” jawab Ji An.


Keesokan harinya, Nyonya Yang yang mau pergi, memberitahu Ji Soo kalau dirinya akan pulang terlambat. Nyonya Yang juga berkata, sudah menggoreng cumi2 favorit Ji Soo. Ji Soo heran sendiri dan penasaran sang ibu mau pergi kemana. Sang ibu berkata, hanya mau menghirup udara segar saja dengan Hae Ja. Sebelum beranjak dari kamar Ji Soo, Nyonya Yang minta maaf pada Ji Soo. Ji Soo pun sekali lagi heran ibunya tiba2 minta maaf tanpa alasan yang jelas.


Boss Kang heran sendiri Ji Soo udah datang pagi. Ji Soo mau menanyakan sesuatu tapi saat melihat mata Boss Kang yang sembab, ia terkejut. Boss Kang beralasan, kalau sebelum tidur, ia makan mie dulu. Boss Kang lantas menanyakan pertanyaan Ji Soo.

Ji Soo curhat soal Hyuk yang tiba2 berkeliaran di lingkungan rumahnya. Ji Soo yakin, kalau Hyuk sedang mencari rumahnya. Boss Kang terkejut, ia bertanya apa Hyuk tahu dimana rumah Ji Soo.

“Aku rasa dia tahu. Aku tidak pernah melihatnya lagi di kafe.” Jawab Ji Soo.

“Bagaimana kalau dia mengenal salah satu tetanggamu? Dia tidak pernah menanyakannya padaku dan aku tidak pernah memberitahunya dimana kau tinggal.” Ucap Boss Kang.

“Aku tinggal di Daebang-dong.” Jawab Ji Soo.

“Seo Ji Soo-ssi, punya harapan itu bagus tapi harapan tanpa dasar menjadi khayalan belaka.” Ucap Boss Kang.

“Tapi mau apa dia ke lingkunganku? Aku sudah melihatnya dua kali. Apa dia punya kerabat yang tinggal disana?” tanya Ji Soo.


Ji Soo yang sedang menuju ke kafenya Woo Hee, latihan bicara untuk menyapa Hyuk.  Tak lama kemudian, ia terkejut melihat Hyuk yang mendadak keluar dari kafe.  Ji Soo pun bicara pada dirinya, kalau ia gagal menyapa Hyuk dengan luwes, berarti dia bukan Seo Ji Soo lagi.


Tapi saat berhasil mengucapkan selamat pagi tanpa gugup, Hyuk malah bersikap seolah2 tidak mengenalnya. Ji Soo seketika teringat kata2 Boss Kang soal harapan. Ji Soo kemudian tersadar dan mengatai dirinya aneh.


Woo Hee mengajak Ji Soo minum kopi saat Ji Soo sudah mau pergi.  Woo Hee bertanya, berapa yang harus ia bayar untuk roti2 yang dikirimkan Ji Soo. Ji Soo berkata, ia akan menanyakannya pada Boss Kang.

Woo Hee lalu membicarakan soal Hyuk. Ia memberitahu Ji Soo alasan kenapa Hyuk jarang datang ke kafe. Woo Hee bilang, semua itu karena gadis yang disukai Hyuk.

“Tidak semua pria seperti dia, tapi aku mengenalnya cukup baik. Ketika dia menyukai seseorang, dia tidak akan semudah itu melupakannya. Aku pikir waktu akan menyembuhkan lukanya. Setelah waktu berlalu, dia akan baik2 saja.” Ucap Woo Hee.

Ji Soo ingin tahu wanita seperti apa yang Hyuk sukai.

“Aku tidak terlalu mengenalnya, tapi dia cantik dan juga pintar.” Jawab Woo Hee.

Ji Soo pun langsung kecewa mendengarnya.


Ji An minta izin keluar lagi sama Manajer Lee karena ia harus mengunjungi beberapa supplier. Manajer Lee berkata, Ji An tidak perlu minta izin lagi padanya.

Saat Ji An sudah mau pergi, Ha Jung langsung menghampiri Ji An. Ha Jung berbisik, bertanya kapan Ji An akan mengatur file seperti yang dimintanya.

Tapi Senior Jo yang sudah bisa menebak kalau Ha Jung menyuruh Ji An melakukannya, langsung menegur Ha Jung.


Di lobby, Ji Soo menghubungi Ji An. Ji Soo curhat soal perasaannya pada Hyuk. Ji Soo bilang pada Ji An, kalau ia akan melupakan Hyuk dan hanya focus pada roti saja.

Saat Ji An mau menutup teleponnya, Ji Soo memberitahu Ji An tentang sang ibu yang menangisi fotonya. Ji Soo yakin itu karena Ji An pergi dan meminta Ji An bicara pada ibu. Ji An pun terkejut.


Dari sinilah Ji An mulai menggali lebih dalam soal Eun Seok. Ji An langsung menemui Ji Tae dan bertanya, kenapa Ji Tae tidak bisa menyadari wajah salah satu dari adik perempuan Ji Tae yang berubah padahal saat itu Ji Tae sudah berumur 8 tahun.

“Aku tidak tahu Ji An sudah meninggal. Suatu hari aku pulang ke rumah tapi ibu tidak ada di rumah. Ayah bilang ibu sakit dan ibu tinggal dengan orang tuanya. Aku menangis berbulan2 karena harus tinggal sama ayah.” jawab Ji Tae.

“Lalu bagaimana kita bisa pergi Dubai?” tanya Ji An.

“Sebelum ke Dubai, ibu membawa kalian berdua pulang. Tapi aku merasa wajah Ji Soo sedikit berbeda.” Jawab Ji Tae.

Ji An pun kaget, Ji Soo?

“Aku pikir itu kau.” ucap Ji Tae lagi.


Habis menemui Ji Tae, Ji An pergi ke kafe internet. Ia mencari tahu sosok anak perempuan Haesung yang menghilang. Tak lama kemudian, ia menemukan foto Eun Seok kecil.


Ji An lantas buru2 pulang ke rumah. Kata2 sang ibu tentang luka di kelingkingnya yang ia dapat saat berumur satu tahun, juga saat sang ibu memintanya sekolah di luar negeri terus terngiang di telinganya. Ji An mencari bukti di setiap sudut rumah, namun ia tak menemukannya.

Ji An lantas masuk ke kamar ibunya. Setelah lama mencari, ia akhirnya menemukan bukti itu di dalam lemari ibunya. Ji An langsung lemas saat melihat foto Eun Seok yang asli.

Tak hanya itu, Ji An juga menemukan passport Ji Soo. Dengan tangan gemetar, Ji An membuka passport itu dan melihat foto Ji Soo yang asli. Tangis Ji An pun pecah…

Bersambung…

Akhirnya Ji An tahu ibunya berbohong… Tapi sy jadi gak rela kalo identitas Ji An yg asli cepet2 ketahuan.. Sy mau lihat dulu Ji An kencan sama Tuan Choi dan Nyonya No… Sy juga masih betah lihat kebersamaan Ji Soo dengan Tuan Seo…

Makin penasaran sama drama ini…. Episode selanjutnya, kita bakal dibuat nangis sama Ji An yang ketakutan kalau keluarga Choi tahu dia bukan Eun Seok….

My Golden Life Ep 12 Part 1

Sebelumnya...


Ji Soo yang masuk ke rumah dengan langkah terburu-buru, langsung menghampiri ayahnya dan protes karena sang ayah mau membuka perban sendirian. Sang ayah berkata, bahwa sudah waktunya perbannya untuk dibuka.

“Tetap saja ayah harus bertanya dulu pada dokter.” Jawab Ji Soo.

“Astaga, ini tidak seburuk yang kau pikirkan.” Ayah baik-baik saja.” Uc ap Tuan Seo.

“Kalau begitu biar aku yang membukanya.” Jawab Ji Soo.

“Kau mau membuka perban ayah?” tanya Tuan Seo.

“Pertanyaan macam apa itu. Kenapa ayah bertanya seperti itu?” protes Ji Soo sambil membuka perban yang melilit tangan ayahnya.

“Selesai, sekarang gerakkan tangan ayah untuk melihat apakah tangan ayah baik-baik saja.” Ucap Ji Soo.

Tuan Seo pun memutar-mutar pergelangan tangannya sejenak, sebelum akhirnya menjitak pelan kepala Ji Soo.

“Ayah, kenapa ayah memukul kepalaku padahal ayah tahu aku sudah bodoh.” Protes Ji Soo.


Tuan Seo lantas meletakkan sesuatu yang tertutupi kain di atas meja. Ji Soo awalnya bingung, tapi ia langsung ngeh benda apa yang ada di balik kain itu setelah menyentuh benda itu. Ji Soo senang diberi hadiah oven oleh ayahnya.Tuan Seo kemudian berjanji, akan membelikan Ji Soo oven yang lebih bagus lain kali. Tapi Ji Soo bilang, itu sudah cukup.


Ji Soo juga cerita, kalau sebelumnya ia pernah minta dibelikan oven sama ibu, tapi ibu bilang tidak ada ruang yang cukup untuk menyimpan oven itu. Mendengar cerita Ji Soo, Nyonya Yang yang baru keluar dari kamar pun berkata, akan mengosongkan beberapa ruang di dapur untuk menyimpan oven Ji Soo. Sontak saja, Ji Soo keheranan karena sang ibu pernah melarangnya membuat roti di rumah.

“Tidak seorang pun yang bisa menghentikanmu. Kau bahkan sampai bekerja di toko roti.” Jawab Nyonya Yang sambil beranjak ke dapur.


Ji Soo lalu memeluk erat ayahnya. Ia berterima kasih karena sang ayah mau menerima mimpinya menjadi pembuat roti. Tuan Seo pun semakin merasa bersalah pada Ji Soo.


Ji An yang dalam perjalanan pulang bersama Do Kyung, diam saja. Do Kyung pun heran melihat Ji An yang tiba-tiba saja menjadi pendiam. Ji An bertanya, apa Do Kyung ingat masa kecilnya. Seperti saat dia berulang tahun yang pertama, apa yang dia pilih di pesta ulang tahunnya.

Do Kyung berkata, ia bahkan lupa pernah mengunci Ji An di kandang burung saat kecil. Soal ulang tahun Ji An yang pertama, ia mengaku tidak ingat.

“Aku bahkan tidak diizinkan memanggil namamu sejak kau hilang. Mungkin suaramu saat memanggilku. Aku tidak yakin itu di rumah sakit atau di rumah, tapi aku ingat pernah melihatmu saat kau lahir.” Ucap Do Kyung.


Do Kyung lantas bertanya, kenapa Ji An menanyakan itu.

“Kau berusia delapan tahun saat itu?” tanya Ji An.

“Kenangan pertamaku, saat aku berusia enam tahun. Hari pertamaku bersekolah.” Jawab Do Kyung.

Ji An pun makin galau, memikirkan apakah dia benar-benar Eun Seok atau bukan.


Adegan lalu berpindah pada Tuan Choi yang lagi memarahi Nyonya No. Tuan Choi kesal karena Nyonya No lebih mementingkan harga diri dibanding sesuatu yang  lain yang lebih penting. Tuan Choi bertanya, bagaimana kalau Eun Seok nya tidak menghubungi Do Kyung? Bagaimana kalau Eun Seok tidak tahu apa pun soal seni?

“Aku percaya Eun Seok lewat instingku. Dia itu putri kita.” jawab Nyonya No.

“Ini bisa membahayakan reputasi perusahaan. Bisakah kau menemukan orang yang membocorkan rahasia kita?” tanya Tuan Choi.

“Aku masih mencari tahu.” jawab Nyonya No.


Tak lama kemudian, Do Kyung dan Ji An pulang. Melihat ekspresi Ji An, Tuan Choi pun menjadi cemas. Do Kyung menjelaskan, kalau Ji An hanya sedikit gugup saja. Do Kyung juga bilang kalau Ji An juga melewatkan makan malam.

“Aku mengerti perasaanmu. Naiklah ke atas dan istirahat lah. Makan lah jika kau lapar.” Jawab Nyonya No.


Sesampainya di kamar, Ji An langsung menghubungi Nyonya Yang. Tapi Nyonya Yang mereject panggilan Ji An, lalu mematikan ponselnya karena suaminya datang. Ji An pun bertanya-tanya, kenapa ibunya malah mematikan ponsel.


Ji An pun turun ke bawah. Ia menemui Seketaris Min dan bertanya, bagaimana mereka bisa tahu kalau dirinya itu Eun Seok. Jawaban Seketaris Min sedikit melegakan hati Ji An. Seketaris Min berkata, kalau mereka melakukan sudah melakukan tes DNA diam2.


Tapi sampai di kamar, Ji An galau lagi mikirin lukanya yang ia dapat saat berumur satu tahun menurut cerita ibunya. Tapi Ji An langsung menepis pikiran itu dan meyakinkan dirinya kalau ibunya tidak mungkin berbohong.


Ji An lalu membongkar barang-barangnya. Ia memeriksa tasnya dan menemukan amplop yang diselipkan Hyuk diam-diam. Ji An ingat tas itu dipakainya saat ia menemui Hyuk. Ji An pun sadar, itulah kenapa Hyuk berkeras minta ditraktir kopi olehnya.

Ji An kemudian meraih ponselnya, mau menghubungi Hyuk tapi sayangnya ia tak hafal nomor Hyuk.


Esoknya, Seohyun terlambat ke ruang makan. Ia minta maaf pada orang tuanya karena terlambat. Melihat riasan Seohyun yang begitu tebal, Nyonya No heran. Seohyun beralasan, ia memakai riasan tebal karena hari itu adalah hari pertama kakaknya bekerja sebagai Wakil Presdir.

“Hapus riasanmu, kau terlihat aneh.” Jawab Nyonya No, yang diangguki Seohyun.


Seohyun lalu memberikan ucapan selamat pada sang kakak.

Wait… perasaan kemaren2, Ji An juga kasih ucapan selamat deh atas promosi Do Kyung, tapi Seohyun langsung protes dan bicara panjang lebar soal Do Kyung yang akan jadi penerus CEO No… lah sekarang, dia malah ngasih ucapan selamat…

Sy tebak ya, klo CEO No nunjuk Ji An sbg penerusnya, si Seohyun bakalan tambah iri…

  
Oke, balik lagi ke adegan tadi ya… Karena Do Kyung dipromosikan lebih cepat dari rencana mereka, Nyonya No meminta Do Kyung tidak terpengaruh oleh gelarnya. Dan Tuan Choi mengingatkan Do Kyung untuk tidak lupa menyapa Presdir Jung terlebih dahulu. Do Kyung pun mengerti.

“Dan untukmu, Eun Seok-ah. Kau harus memperlakukan kakakmu sebagai atasanmu di tempat kerja.” Ucap Nyonya No.


“Aku mengerti.” Jawab Ji An.


Sarapan pun dimulai, tapi Ji An tiba-tiba meminta Nyonya No menunjukkan fotonya saat ia masih tinggal disana. Nyonya No berkata, bahwa semua foto Eun Seok sudah dihancurkan oleh CEO No agar mereka bisa dengan cepat melupakan Eun Seok karena saat itu mereka pikir Eun Seok sudah tiada.


Tuan Choi penasaran, kenapa Ji An menanyakan itu. Tuan Choi lantas menanyakan foto2 masa kecil Ji An. Ia mengaku, ingin melihat foto Ji An kecil.

“Aku tidak memilikinya. Saat kami pindah ke Dubai, kami kehilangan semua foto2 kami. Jadi hanya ada foto keluarga setelah kami pindah ke Dubai. Ada album yang isinya foto2ku dan Ji Soo, tapi saat kami pindah2, kami kehilangan album itu.” jawab Ji An.


Adegan pun beralih, ke kantor, dimana Do Kyung lagi menyapa Presdir Jung yang tak lain adalah pamannya. Do Kyung bilang, itu adalah hari pertamanya dan ia mengharapkan bantuan Presdir Jung.  Do Kyung juga berjanji, akan mengerahkan kemampuannya untuk belajar banyak dari sang paman.


Nyonya No lagi melabrak adiknya yang sudah membocorkan berita soal Ji An. Ia mengancam, akan menghancurkan sang adik, juga keluarga sang adik jika sang adik berani menyentuh anak-anaknya.


Manajer Lee langsung sibuk begitu mendengar Do Kyung akan mengunjungi tim nya. Manajer Lee bolak balik nanya ke Ji an, apa Ji An udah membersihkan meja? Apa Ji An udah menyiapkan file untuk Do Kyung? Apa Ji An sudah memasak air untuk menyeduh teh. Manajer Lee minta Ji An melayani Do Kyung dengan baik.


Senior Jo protes karena Ji An disuruh menyajikan teh juga padahal Ji An yang akan memimpin rapat.


Tak lama, Do Kyung datang dan Ha Jung langsung nyari muka dengan nawarin diri menyajikan teh. Tapi Do Kyung bilang dia tidak butuh air ataupun teh.


Manajer Lee langsung memperkenalkan dirinya. Setelah itu ia mengenalkan rekan2nya. Ada Manajer Jo Taek Il, ada Asisten Manajer Yang Jung Ah,  ada senior Song Mi Won, senior Oh Kyung Min. Lalu Yoon Ha Jung. Ha Jung langsung pasang tampang sok manis saat Manajer Lee memperkenalkannya. Terakhir, Manajer Lee memperkenalkan Ji An.

Wait… sebelum sy melanjutkan synopsis ini, sy mau ngakak dulu ya….. HAHAHAHAHA… Geli liat si Ha Jung, mulai dari dia yang sok2an mau nyajiin teh buat Do Kyung, padahal kemaren2 disuruh Ji An bikinin kopi buat seniornya aja nolak… sampe dia yang masang tampang manis pas dikenalin ke Do Kyung…

Sy pengen cepet2 liat reaksinya, kalo tahu siapa Ji An… Oke balik ke synopsis…


Ji An menjelaskan isi proposalnya. Ia yakin, dengan pewarna alami, reputasi perusahaan akan meningkat. Melalui kontes desain cetak tangan, mereka bisa memaksimalkan promosi perusahaan mereka. Dan kupon hadiah, akan membawa pelanggan membeli produk mereka.

“Tapi aku memilih proposal ini saat aku masih berada di tim lama ku. Ada 3 proposal dengan skor yang sama, tapi kenapa orang lain yang bertanggung jawab atas proposal ini? Kalau tidak salah, orang itu adalah Yoon Ha Jung.”  Jawab Do Kyung.


“Bukan aku yang melakukannya, itu kerjaannya Manajer Lee.” Ucap Ha Jung santai.


Sontak, jawaban Ha Jung membuat Senior Jo ingin tertawa, tapi ia berusaha menahan tawanya. Manajer Lee pun menjelaskan, kalau Ji An memberikan proposal itu saat Ji An masih menjadi pegawai kontrak.

“Jadi maksudmu kau memecat pegawai kontrak dan menjiplak idenya?” tanya Do Kyung.

“Bukan begitu, aku tidak bisa menolak proposal itu karena proposalnya sangat bagus.” Jawab Manajer Lee.

“Tapi mencuri adalah tindakan criminal, bukan begitu Yoon Ha Jung-ssi?” tanya Do Kyung.


“Aku hanya mengikuti perintah atasanku.” Jawab Ha Jung.

“Jadi kau akan melakukan apapun perintah atasanmu, termasuk mencuri?” tanya Do Kyung.

Ha Jung pun langsung minta maaf. Tapi Do Kyung menyuruh Ha Jung dan Manajer Lee minta maaf pada Ji An. Terpaksa lah mereka minta maaf pada Ji An.


Rupanya, Do Kyung dan Ji An sudah membahas masalah itu di rumah. Do Kyung bertanya, karena ia sudah jadi Wakil Presdir, jadi apa yang bisa dilakukannya untuk membalas Manajer Lee dan Ha Jung. Do Kyung tanya, apa Ji An mau mereka dipecat. Ji An pun berkata, kalau dia melakukan itu artinya dia sama saja dengan mereka.


Kembali ke kantor, dimana Ji An meminta Do Kyung memaafkan mereka karena proposal itu sudah kembali ke tangannya. Do Kyung lalu bertanya, apa masih ada yang mau Ji An katakan. Ji An pun mengaku ada yang mau dia katakan.

Manajer Lee langsung menyela, menyuruh Ji An berdiskusi dengannya dulu. Tapi ia langsung diam saat Do Kyung menyuruh Ji An bicara.

“Saya rasa, kita harus menentukan tanggal untuk acara ulang tahun perusahaan kita. Seperti yang kita tahu, tujuan saya merencakan program itu agar dapat mempengaruhi penjualan produk kita. Tapi jika kita menggelar acara di Bulan Desember, itu bukan waktu yang tepat untuk peluncuran produk musim dingin kita.” ucap Ji An.

“Itu ide yang bagus, akan segera kuputuskan.” Jawab Do Kyung, lalu pergi. Namun sebelum pergi, ia menyuruh Ji An ke ruangannya.


Sontak, semua penasaran kenapa Do Kyung malah memanggil Ji An. Manajer Lee menyuruh Ji An bergegas ke ruangan Do Kyung. Begitu Ji An pergi, Senior Oh menyindir Ha Jung yang tadi ngaku2 mengenal Do Kyung. Ha Jung jelas kesal.


Begitu di ruangan sang kakak, Ji An protes kakaknya bersikap seperti tadi. Ia takut kalau ada yang curiga. Tapi Do Kyung malah mengerjai Ji An dengan pura2 memarahi Ji An yang bersikap dekat dengannya di kantor.

“Aku mengerti.” Jawab Ji An dengan ekspresi serius, membuat Do Kyung tertawa.

Do Kyung lantas bercerita, saat kuliah di luar negeri, ia pergi ke pameran pewarna alami di NY. Sejak saat itulah, ia memikirkan untuk membuat produk dengan pewarna alami.

Ji An pun berkata, yang paling disukainya adalah bagian proses pencelupan. Itulah sebabnya, ia memasukkan itu sebagai acara pembuka.

“Aku akan ikut denganmu saat kau pergi untuk penelitian. Ini akan bagus untuk posisi baruku. Kirimkan alamatnya padaku, kita akan bertemu disana.” Jawab Do Kyung.


Ji An kembali ke ruangannya. Dan dia langsung dikerubungi oleh rekan2nya, kecuali Ha Jung. Rekan2nya kepo, mereka penasaran apa saja yang dikatakan Do Kyung pada Ji An.

“Dia sedang merencanakan project dengan pewarna alami. Jadi dia menanyakan padaku soal itu.” jawab Ji An.

“Kau benar-benar beruntung.” Ucap Senior Oh.

“Jangan berkata begitu.” jawab Ji An malu.

“Tapi itu memang benar. Kau mendapatkan proyek ini, juga dukungan dari boss.” Ucap Senior Yang.


“Manajer Lee, untuk melakukan penelitian dan memilih kontraktor, aku harus pergi sore ini. Aku akan mengunjungi rumah pewarna alami.” Jawab Ji An.

“Tentu saja. Kau bisa bekerja diluar kapan pun kau membutuhkan itu.” ucap Manajer Lee.

  
Saat Ji An lagi bikin kopi di pantry, Manajer Lee memberinya hadiah Chuseok (semacam THR gitu lah). Manajer Lee menyuruh Ji An memberikan uang itu pada orang tua Ji An. Setelah Manajer Lee pergi, Ji An tertegun memandangi hadiah Chuseok nya.
 
Seohyun lagi menunggu supirnya. Tiba2 saja jantungnya berdegup kencang teringat Supir Min yang melindunginya dari siraman air bekas pel.

Flashback…


Seohyun terpana menatap Supir Min saat itu. Supir Min juga terfdiam sesaat, sebelum akhirnya ia sadar dan melepaskan pelukannya. Supir Min minta maaf pada Seohyun, lalu melepaskan jas nya yang basah dan melabrak teman Seohyun.


Seohyun pun menunggu Supir Min di depan mobil. Seohyun heran sendiri dengan jantungnya yang masih berdegup kencang. Tak lama kemudian, Supir Min datang membuat jantungnya semakin berdegup kencang.

“Maaf karena telah membuat anda menunggu. Saya tidak bisa mandi, jadi mungkin saya sedikit bau. Masih bolehkah saya menyetir?” tanya Supir Min.

“Itu kesalahanku.” Jawab Seohyun gugup.

Supir Min pun bergegas membukakan pintu mobil untuk Seohyun. Seohyun makin gugup. Saking gugupnya, ia sampai terkejut saat Supir Min menutup pintu mobilnya.

Flashback end…


Seohyun melirik jamnya, ia heran karena Supir Min belum juga datang menjemputnya. Tak sabaran, Seohyun akhirnya berjalan sendiri menuju gerbang.

Bersamaan dengan itu, Ji Ho mendadak nongol di depan rumah Seohyun. Ji Ho yang tahu itu rumah Ji An, memberanikan diri membuka pintu gerbang yang tidak terkunci. Tepat saat pintu gerbang didorongnya, wajah Seohyun nongol dibalik gerbang. Sontak keduanya kaget dan langsung terjatuh.

“Jangan berani kabur! Hanya dengan satu panggilan ini, kau akan tertangkap sebelum meninggalkan lingkungan ini.” ancam Seohyun sambil meraih ponselnya.

“Kau tidak bisa mengancamku hanya karena kau terkejut.” Jawab Ji Ho.

“Mengancammu? Hei, kau mengintip rumahku seperti tikus!” balas Seohyun.

“Tikus? Kau juga mengintipku seperti tikus!” ucap Ji Ho.

“Tikus? Kau bilang aku tikus?” ucap Seohyun tak terima.

“Bersikaplah yang sopan jika ingin diperlakukan dengan sopan. Bagaimana bisa seorang putri dari keluarga kaya berbicara kasar seperti itu!” jawab Ji Ho.

  
Ji Ho bahkan sampai menjulurkan lidahnya ke Seohyun. Seohyun pun makin kesal. Tak lama, Supir Min datang. Seohyun pun dengan manjanya mengadu kalau Ji Ho mengintip rumahnya seperti seorang perampok. Seohyun juga menyuruh Supir Min lapor polisi.


Ji Ho tak terima. Ia mengangkat kakinya, mengarahkan kakinya pada Supir Min saat Supir Min mau mendekatinya. Seohyun makin terkejut. Ji Ho pun mengaku, kalau ia baru saja melewati rumah itu. Dan karena penasaran, akhirnya ia mengintip ke dalam dan tepat saat itu Seohyun muncul dan mengintipnya seperti tikus.

Seohyun langsung protes dikatai tikus.


Sopir Min lantas menanyai tujuan kedatangan Ji Ho. Ji Ho pun menunjukkan foto2 rumah di lingkungan rumah Seohyun dan mengaku sedang melakukan penelitian untuk mencari rumah masa depannya.


Seohyun pun dengan angkuhnya menyuruh Supir Min melepaskan Ji Ho. Tapi pas ngomong sama Supir Min kalau ia mau ganti baju, sikapnya jadi manis banget. Ji Ho pun langsung mencemaskan Ji An yang punya adik macam Seohyun.


Ji Soo pulang lebih awal lagi hari ini, karena Boss Kang ada urusan jadi harus menutup toko lebih awal. Ji Soo pun heran sendiri, ia bertanya alasannya pada Boss Kang tapi Boss Kang yang sudah terburu-buru tidak menggubris pertanyaan Ji Soo.


Hyuk pergi ke rumah Ji An dan hanya bertemu dengan Nyonya Yang. Nyonya Yang memberitahu Hyuk kalau Ji An sudah pindah tapi ia tak mau memberitahu kemana Ji An pindah.


Ji Soo yang menuju pulang heran sendiri melihat Hyuk ada di lingkungan rumahnya.


Sementara itu, Ji An mampir ke rumah lamanya. Karena rumahnya kosong, akhirnya ia meninggalkan hadiah chuseoknya di atas meja sang ibu. Tapi tiba2, ia teringat soal foto. Ji An pun bergegas membuka laci dan melihat albumnya, tapi ia heran karena hanya fotonya dan Ji Soo yang tidak ada.

Ji An pun tak jadi menyerahkan hadiah chuseoknya. Ia pergi begitu saja dari rumah dengan wajah kebingungan.

Tepat setelah Ji An pergi, Ji Soo pulang. Ji Soo masih heran memikirkan Hyuk yang keliaran di sekitar rumahnya.


Hyuk mencari Ji An sampai ke Haesung. Di lobby, ia bertemu Do Kyung. Ia pikir, Do Kyung mencari Ji An untuk menagih hutang 20.000 ribu dollar itu.

“Apa kau yang meminjamkan uang pada Ji An?” tanya Do Kyung balik.

Hyuk pun bingung mendengar Do Kyung memanggil Ji An begitu luwesnya. Do Kyung terus bertanya, apa Hyuk yang meminjamkan uang pada Ji An. Tapi Hyuk malah balik bertanya, apa Do Kyung sudah menerima uang 20.000 dollar itu.

“Aku sudah menerimanya dari Ji An.” Jawab Do Kyung. Hyuk pun lega. Hyuk lalu bertanya, kenapa Do Kyung datang ke Haesung. Do Kyung pun berkata, kalau dia itu pebisnis jadi dia bisa ada dimana pun. Hyuk lantas meminta Do Kyung memberinya nomor Ji An. Tapi Do Kyung bilang tidak tahu. Do Kyung pun beranjak pergi.


Hyuk tak hilang akal. Ia mencari nomor Ji An di resepsionis. Mendengar itu, Do Kyung langsung menghubungi Seketaris Yoo dan menyuruh Seketaris Yoo mengusir Hyuk dari perusahaan mereka.

Ji An yang lagi di taksi, bertanya2 siapa yang menghancurkan fotonya dan Ji Soo.