Monday, January 30, 2017

I Have a Lover Ep 50

Sebelumnya....


“Aku rasa aku jatuh cinta lagi padamu.” Ucap Jin Eon begitu Hae Gang menghampirinya.

“Aku sudah tahu.” jawab Hae Gang.

“Berikan tasmu.” Pinta Jin Eon.

“Tidak mau, tas melambangkan harga diri seorang wanita.” Jawab Hae Gang.

“Berikan padaku. Tas wanitaku melambangkan harga diriku.” ucap Jin Eon.

Hae Gang pun tersenyum, lalu memberikan tas alias keranjangnya yang berisi peralatan mandi pada Jin Eon. Jin Eon kemudian menyuruh Hae Gang menggandeng lengannya. Hae Gang pun menggandeng lengan Jin Eon, dan selanjutnya keduanya beranjak pergi menuju sauna dengan senyum terkembang.



“Kau akan memakai itu?” tanya Hae Gang saat melihat Jin Eon sedang memilih2 baju sauna.

“Aku pernah memakainya dulu.” Jawab Jin Eon.

“Tak bisa kubayangkan…” dan Hae Gang pun tersenyum geli, “… tapi entah bagaimana tampaknya akan lucu.”

“Awas ya kalau kau jatuh cinta padaku.” Ucap Jin Eon.
 
Ajumma penjaga sauna kemudian memberitahu bahwa Jin Eon dan Hae Gang harus menitipkan  barang2 berharga mereka sebelum masuk ke sauna. Jin Eon pun langsung melirik Hae Gang dan berkata kalau mereka harus menitipkan barang2 berharga mereka.

“Titipkan saja.” Jawab Hae Gang.

“Tolong jaga barang berhargaku.” Pinta Jin Eon.

“Berikan saja padaku.” Jawab si ajumma.


Dan, Jin Eon pun langsung menyodorkan Hae Gang sebagai miliknya yang berharga. Si ajumma langsung mengernyit heran. Hae Gang pun meminta Jin Eon berhenti bercanda. Jin Eon berkata, bahwa ia serius kalau Hae Gang miliknya yang berharga. Hae Gang pun mendengus mendengar gombalan Jin Eon itu.

“Karena sudah jam lima sekarang, ayo bertemu jam setengah enam di tempat penjualan camilan di lantai sauna.” Ucap Hae Gang.

“Jadi kita harus berpisah selama 30 menit? Itu sulit untukku. “ jawab Jin Eon.


Setengah jam kemudian,  Jin Eon menghampiri Hae Gang yang sudah menunggunya di lantai sauna. Hae Gang tertawa geli melihat Jin Eon yang mengenakan kaus sauna. Jin Eon ingin tahu kenapa Hae Gang tertawa. Hae Gang pun berkata bahwa Jin Eon terlihat seperti pria paru baya untuk pertama kalinya.

“Aku memang pria paru baya.” Jawab Jin Eon.

“Kukira kau benar2 pria paru baya, tapi karena alasan tertentu membuatku kesal.” Ucap Hae Gang.


“Kau akan menangis saat aku menjadi kakek nanti.” Jawab Jin Eon.

“Kakek Choi Jin Eon, gigi palsumu copot.” ledek Hae Gang.

Jin Eon pun tertawa. Jin Eon lalu balas meledek Hae Gang.

“Nenek Do Hae Gang, oh, tongkatmu terjatuh.” Ledek Jin Eon.

“Oh, tolong ambilkan. Aku harus menemukan gigi palsu Kakek.” Jawab Hae Gang.

Keduanya pun kembali tertawa….



Hae Gang dan Jin Eon kini berada di dalam ruang sauna. Baru sebentar, tapi Jin Eon sudah merasa kepanasan dan ingin keluar. Sementara Hae Gang terlihat menikmati. Melihat Jin Eon yang sudah tidak tahan, Hae Gang pun menyuruh Jin Eon keluar duluan dan ia akan menyusul Jin Eon 10 menit lagi.

“10 menit? Akan kutunggu. Aku bisa menahannya.” Jawab Jin Eon.

“Mengapa menahan? Tidak perlu.” Ucap Hae Gang.

“Aku akan tahan. Harus. Karena dengan begitu, kita bisa terus bersama-sama.” Jawab Jin Eon.



Hae Gang pun tersenyum, lalu mengelap wajah Jin Eon yang dipenuhi keringat dengan handuk kecil. Jin Eon tersenyum, lalu memejamkan matanya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Hae Gang.

“Kita lupa rahasia alam semesta. Seluruh benda di dunia ini akan saling tertarik satu sama lain. Jangan pedulikan orang lain dan lakukan sesukamu.” Ucap Jin Eon.


Hae Gang pun tersenyum geli. Jin Eon lalu membuka matanya dan terheran2 melihat hanya ada mereka berdua di dalam sauna itu. Karena hanya ada mereka berdua di sana, Jin Eon pun menyuruh Hae Gang menciumnya. Hae Gang tersipu, kemudian mendekatkan bibirnya ke bibir Jin Eon, tapi kemudian ia tak jadi mencium Jin Eon.

“Aku akan melakukannya malam hari.” Ucap Hae Gang.

Jin Eon kaget, apa?

“Nanti, saat kita cuma berdua saja.” Ucap Hae Gang.

Jin Eon pun setuju.




Keluar dari ruang sana, Jin Eon dan Hae Gang duduk di lantai tempat penjualan camilan. Hae Gang mengajak Jin Eon berbelanja usai dari sauna agar mereka bisa makan malam di rumah.

“Itukah maumu? Kalau begitu nanti malam aku yang akan membuatkan makan malam.” Jawab Jin Eon.

“Kau? Kau memasak?” tanya Hae Gang tidak percaya.

“Aku bisa memanggang daging steik.” Jawab Jin Eon,

“Baiklah, kalau begitu nanti malam kau yang membuat makan malam.” Ucap Hae Gang.

“Ada wine di rumah, kan?” tanya Jin Eon.

“Kemarin aku membeli Romanee- St-Vivant 02 Vintage dan Chateau Cos d'Estournel 03 Vintage.” Jawab Hae Gang.



Jin Eon lalu memberikan sikhye ice (minuman beras) pada Hae Gang, namun sebelum memberikannya pada Hae Gang, ia membuang salah satu pipetnya. Selesai Hae Gang minum, Jin Eon dengan wajah nakal nya menyeruput minumannya dengan pipet bekas Hae Gang itu.

“Aku ingin kau menginap nanti malam.” Ucap Hae Gang, membuat Jin Eon tertegun.

“Tidur bersamaku nanti malam di Buamdong.” Ucap Hae Gang lagi.



Namun Jin Eon diam saja dan tampak memikirkan sesuatu.

“Apa-apaan ini? Mengapa tidak ada jawaban? Tidurlah denganku nanti malam dan singgah ke Pyongchangdong besok pagi untuk mengganti pakaian dalam perjalanan ke kantor.” ucap Hae Gang.

“Ah, maaf. Aku punya rencana.” Jawab Jin Eon.

“Apa? Tapi kau akan singgah untuk makan malam, kan?” tanya Hae Gang.

“Hasil klinis untuk obat anti virus CM 8573 sudah keluar dan mulai dari jam 11 nanti malam, aku akan melakukan konferensi video dengan Perusahaan Farmasi Schering-Plough. Jam 3 di Berlin.” Jawab Jin Eon.

“Kapan rapatnya akan selesai?” tanya Hae Gang dengan wajah kecewa.

“Tidak akan selesai. Kupikir akan berlangsung semalaman.” Jawab Jin Eon. Hae Gang pun kecewa.

Jin Eon lantas menawari Hae Gang telur rebus. Hae Gang, entah karena sebal atau ingin mengerjai Jin Eon, mengupas telur itu setelah memukulkan telurnya ke kepala Jin Eon. Jin Eon tertawa sambil meringis kesakitan memegangi kepalanya.

“Apa? Kau ingin aku memecahkannya di dahimu?” tanya Hae Gang.



Jin Eon pun mau membalas Hae Gang. Ia mau memukulkan telur itu ke dahi Hae Gang, tapi saat hendak memukulkan telurnya ke dahi Hae Gang, Hae Gang malah memasang muka memelas membuat Jin Eon merasa tidak tega.


“Mana bisa aku memukulmu?” ucap Jin Eon.



Di ruangannya, Seol Ri yang sudah bersiap pulang tertegun saat melihat sepasang ikan cupang di mejanya. Kata2 seseorang pun terngiang di telinganya.

“Karena tampaknya kau telah disakiti oleh seseorang. Meskipun tidak tahu pasti, tampaknya demikian. Meskipun aku tidak tahu pasti. Tampaknya kau harus terbebas darinya agar bisa membuka hatimu pada seseorang.”

“Aku ingin terbebas, Il Man-ah. Aku juga ingin menyayangi seseorang, Yi Cheon Bong-ah.” Ucap Seol Ri pada sepasang ikan itu.



Seol Ri kemudian beranjak keluar. Dan diluar, ia mendengus kesal karena lagi2 bertemu Gang San yang sudah menunggunya sejak tadi. Gang San pun melambaikan tangannya ke Seol Ri dengan wajah ceria. Seol Ri yang sebal, tidak mempedulikan Gang San dan berjalan begitu saja. Gang San pun lekas berjalan di samping Seol Ri.

“Bukankah ini menjengkelkan? Bukankah ini mengganggu? Bukankah ini membuatmu kesal? Tuh kan, ini mungkin berakhir hanya dengan satu kencan. Semangat berubah menjadi keberanian. Keberanian berubah menjadi kegigihan. Kegigihan berubah menjadi kedengkian. Kedengkian berubah menjadi kegilaan. Menurutmu aku berada dalam tahap yang mana?” tanya Gang San.


Seol Ri pun menghentikan langkahnya dan menatap sebal Gang San.

“Keberanian. Kau mungkin menganggap betapa tidak tahu malu diriku ini. Sebetulnya, aku menggunakan banyak keberanian sekarang. Aku minum Cheongsimhwan (pil penenang herbal Korea) sebelum datang kemari hari ini.” ucap Gang San.

“Kalau kau terus melakukannya, aku akan melaporkanmu.” Jawab Seol Ri.

“Terima saja ini. Kau tidak perlu datang, terima saja.” Ucap Gang San sambil menyodorkan sesuatu seperti tiket gitu.


Tapi karena Seol Ri diam saja, akhirnya Gang San memasukkan tiket itu ke saku mantel Seol Ri.

“Besok adalah ulang tahunku. Aku mengabaikan keluargaku yang ingin makan bersamaku, dan melewatkan ajakan teman-teman yang ingin minum denganku. Kuputuskan untuk menghabiskan ulang tahunku denganmu, jadi pikirkanlah. Entah datang atau tidak, karena aku bersamamu seharian, jangan terlalu khawatir. Kau bisa menonton film denganku, makan bersamaku dan hanya menghabiskan waktu sebelum pulang. Tidak begitu sulit. Coba saja. Kau bisa memulai kali kedua bersama pria lain bila mau. Sampai bertemu besok.” Ucap Gang San.


Gang San kemudian beranjak pergi sambil terus menatap Seol Ri.

“Kau seperti kaktus. Aku ingin memberikanmu banyak air, tapi jika kulakukan, kaktus akan mati. Jadi aku tak bisa melakukannya. Setelah keberanian, semangat yang pantang mundur. Karena semangat yang pantang mundur bukan cinta, aku hanya akan berani sampai besok.” Ucap Gang San.



Gang San lalu tersenyum, kemudian melambaikan tangannya pada Seol Ri dan beranjak pergi. Seol Ri tertegun menatap kepergian Gang San.



Ha Joon mengomentari Hyun Woo yang masih melajang, padahal teman Hyun Woo sudah dua kali menikah tapi Hyun Woo hanya menjadi saksi pernikahan saja. Ha Joon ingin tahu alasan Hyun Woo masih belum menikah.

“Hei, hei! Bukannya aku tidak bisa, tapi aku memilih tidak. Mana bisa aku menjalani seumur hidupku memandang seorang wanita saja? Aku tak bisa melakukannya.” Jawab Hyun Woo.

“Oh, jadi itu sebabnya kau bahkan tidak mencari seorang wanita seumur hidupmu? Katakan sejujurnya. Go Unnie, kau pernah terbakar parah karena seorang wanita, bukan?” tanya Ha Joon.



Sementara, Seok yang mendengar pembicaraan itu diam saja dan terlihat sedih.

“Pernikahan itu seperti sangkar burung. Burung di luar sangkar berjuang keras agar masuk ke dalam sangkar. Burung di dalam sangkar berjuang keras agar keluar.  Michel de Montaigne.” Jawab Hyun Woo.

“Kau lebih pesimis dari tampangmu.” Ucap Ha Joon.



“Pernikahan merupakan usaha memecahkan masalah bersama-sama yang bahkan tidak kau miliki saat kau sendiri. Eddie Cantor. Musuhku banyak, namun tidak ada yang sepertimu. George Gordon Byron.” Jawab Hyun Woo.

“Karena kau mengumpulkan, menulis dan menghapalkan kutipan demikian, itu sebabnya kau belum menikah dan dipenuhi kebencian. Robek saja buku catatan menyedihkan itu dan buang. Ada apa denganmu? Kau bukan pecundang. Daripada menghabiskan waktu mengumpulkan kata-kata seperti itu, berkencanlah dengan perempuan.” Ucap Ha Joon.

“Aku tak bisa merobeknya. Ini buku catatan Ayahku.” Jawab Hyun Woo.

Ha Joon kaget, apa?

“Dengan memikirkan hal itu, perkenalkan aku pada wanita. Aku kesepian karena aku ini manusia, tapi aku sangat kesepian hingga kemanusiaanku hampir hancur.” Jawab Hyun Woo.



“Tipemu seperti apa?” tanya Ha Joon.

“Suzy, IU, Miranda Kerr. Aku kesepian lantaran mereka semua punya pacar.” Jawab Hyun Woo.

“Wow! Siapa? Suzy, IU, Miranda Kerr? Itu sungguh berlebihan. Ah, kau membuat selera alkoholku hilang. Aku tidak minum ini!” maki Ha Joon.

“Jam berapa ini? 8.48? Aku bertanya-tanya apakah lamarannya berjalan baik?” ucap Hyun Woo.



Dan, Ha Joon pun langsung menatap Seok yang terlihat sedih. Seok kemudian tersenyum, dan berkata akan ikut berdiri sebagai saksi di pernikahan Jin Eon dan Hae Gang.



“Jika anak itu akan menikah, dan aku tidak berdiri sebagai saksi, siapa lagi? Aku tahu dia punya teman lain, tapi aku yang terdekat.” Ucap Seok.

“Aku dapat 7 lembar. Kau harus minta sekitar 20. Kau lebih kurang sudah seperti kakaknya.” Jawab Hyun Woo.

Namun, meski berusaha tersenyum, Seok tetap tak dapat menyembunyikan kesedihannya. Dan Ha Joon menyadari hal itu.



Jin Eon tampak sibuk membakar daging. Sedangkan Hae Gang menunggu di meja makan dengan wajah sebal.

“Sudah jam 9, kan? Sebaiknya aku cepat-cepat makan lalu pergi. Aku harus pergi selambat-lambatnya jam 10.20.” ucap Jin Eon.

Hae Gang pun tambah sebal. Jin Eon lalu menyuruh Hae Gang mencicipi wine nya.

“Rasanya lumayan.” Ucap Hae Gang.

“02 Vintage lumayan?” tanya Jin Eon sambil membawakan daging steaknya ke meja.

“Selalu ada apel yang busuk dalam gentong. Kau menghanguskan asparagus-nya. Kandungan gizinya mungkin sudah hilang.” Jawab Hae Gang.



Hae Gang lalu menuangkan wine ke gelas Jin Eon.

“Haruskah kita bersulang?” tanya Jin Eon.

“Mengapa? Ini bukan hari istimewa. Mari minum saja.” Jawab Hae Gang.

Tapi Jin Eon malah tersenyum jahil dan mendekatkan gelasnya ke gelas Hae Gang.

“Aku akan makan dengan baik, dengan sangat terburu-buru, karena kau harus bangkit pergi pada jam 10.20.” ucap Hae Gang.

“Jadi, mari makan cepat-cepat.” Jawab Jin Eon.



“Wine-nya bahkan belum bernapas.” Gumam Hae Gang sebal.

“Apa? Aku tak bisa mendengar.” Tanya Jin Eon.

“Bukan apa-apa. Makan saja, aku bicara pada diriku sendiri.” Jawab Hae Gang.

“Aku tak sabar menanti besok.” Ucap Jin Eon.

“Aku juga.” jawab Hae Gang.


“Kita telah melalui jalan panjang hingga sampai di sini, kan? Apa yang harus kita lakukan soal pernikahan? Kau bisa lakukan sesukamu. Bahkan bisa saja di Bali atau Hawaii.” Ucap Jin Eon.

“Mengapa lokasi begitu penting?  Mari lewatkan seremonial dan jalan-jalan saja bersama Ibu Mertua. Swiss bagus dan begitu pula Perancis Selatan. Ayo pergi di bulan April. Saat itu Alinea Avignon indah.” Jawab Hae Gang.

“Tapi, bukankah kita menikah?” tanya Hae Gang lagi.

“Kalau begitu, tidak?” tanya Jin Eon.

“Lakukan saja?” tanya Hae Gang.



“Apa? Kau ingin aku melamar atau semacamnya? Aku sudah memberitahukanmu cincinnya telah kukembalikan. Mengapa formalitas begitu penting asalkan kita siap lahir batin? Dan bukan seperti kau tidak pernah menerima cincin dari lelaki gila itu.” jawab Jin Eon.



Hae Gang pun makin sebal. Jin Eon lalu mencicipi steak yang dipanggangnya dan mulai narsis.

“Aku tahu aku yang memanggangnya, tapi ini luar biasa. Dagingnya lumer. Seperti madu. Rasanya seperti madu. Bisa-bisa aku gila? Kapan datangnya hari esok?” ucap Jin Eon.

Dan Hae Gang hanya menatapnya dengan tatapan sebal.



Selesai makan, Hae Gang menyemprotkan spray ke tubuh Jin Eon untuk menghilangkan bau Jin Eon karena memasak tadi. Habis menyemprotkan spray, Hae Gang memberikan tas dan jaket Jin Eon, kemudian mengantarkan Jin Eon ke pintu.

“Berikan padaku yang kau pegang.” Pinta Jin Eon.

“Apa yang kau bicarakan?” tanya Hae Gang bingung.

“Mengapa kau mengayuh mundur sekarang? Tadi di Hanjin, yang kau bilang padaku, kau akan melakukannya nanti malam saat kita sendiri. Ini milikku, berikan kemari.” Jawab Jin Eon.



Jin Eon lalu menutup matanya dan mendekatkan bibirnya ke Hae Gang. Hae Gang diam saja sambil menatap sebal Jin Eon. Jin Eon pun meminta Hae Gang segera melakukannya agar ia tidak terlambat menghadiri meeting. Hae Gang pun makin sebal, tapi biarpun sebal ia tetap mencium Jin Eon.

Namun tiba2 saja, Jin Eon memegang wajah Hae Gang dan mencium bibirnya. Ia tak membiarkan Hae Gang melepaskan ciuman itu. Ketika Hae Gang mulai menikmati ciuman mereka, Jin Eon malah melepaskan ciumannya.

“Jika kau terus-menerus melakukan hal ini, aku tak bisa pergi ke kantor. Kau membuatku tergila-gila!” ucap Jin Eon.

Jin Eon lalu beranjak pergi. Hae Gang diam saja sambil menatap sebal Jin Eon.



Apakah Jin Eon langsung pergi? Tentu saja tidak, ia menunggu di mobil sambil senyum2 menatap jamnya. Tak lama kemudian, ia melihat cincinnya yang akan ia pakai untuk melamar Hae Gang.



Hae Gang sendiri baru selesai mandi. Ia masih kesal karena Jin Eon yang lebih mementingkan pekerjaan ketimbang dirinya.



Jin Eon baru turun dari mobil saat melihat lampu di dalam rumah yang sudah padam. Ia lantas masuk ke dalam rumah sambil tersenyum jahil.



Dan, Hae Gang? Dia sibuk mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Tiba2 saja, Hae Gang mematikan hairdryer nya, kemudian membuka lacinya dan melihat cincin pernikahannya yang lama. Setelah cukup lama memandangi cincinnya itu, Hae Gang pun menyematkan cincin itu di jarinya.



Tanpa ia sadari, Jin Eon diam2 masuk ke kamarnya. Hae Gang masih sibuk melihat cincinnya. Jin Eon kemudian berdiri di samping Hae Gang dan ia pun tersenyum melihat Hae Gang. Hae Gang kembali memandangi cermin. Ia terkejut saat melihat Jin Eon dari cermin.

“Kau mengagetkanku. Mengapa kau datang?” tanya Hae Gang.

“Aku datang untuk mengeringkan rambutmu.” Jawab Jin Eon.

Jin Eon lalu mengambil hairdryer dan mengeringkan rambut Hae Gang.

“Bagaimana dengan rapatmu?” tanya Hae Gang.

“Aku menyuruh Hyun Woo menggantikan tempatku karena aku tak sabar menunggu sampai besok. Aku tidak ingin, tapi tubuhku tidak mau mendengarkanku. Aku tak bisa mengendalikan tubuhku hari ini.” jawab Jin Eon.

“Hyun Woo akan menghadapi banyak kesulitan.” Ucap Hae Gang.



Hae Gang lantas bangkit dari duduknya dan berdiri menghadap ke arah Jin Eon.

 “Ulurkan tanganmu.” pinta keduanya kompak.

“Kau membeli cincin?” tanya keduanya lagi.

Keduanya pun tertawa geli karena sama2 menanyakan pertanyaan yang sama.

“Aku dulu yang akan memasangnya.” Ucap Hae Gang.



Hae Gang lalu menyematkan cincin barunya ke jari Jin Eon.

“Aku akan menjadi suami yang baik.” Ucap Jin Eon sambil menunjukkan cincinnya.

“Aku juga akan menjadi istri yang baik.” Jawab Hae Gang.



Jin Eon lantas menyematkan cincin itu ke jari Hae Gang, namun ia seketika terkejut melihat cincinnya yang lama sudah terpasang di jari Hae Gang. Mata Jin Eon seketika berkaca2. Ia terharu.

“Siapa dia? Lelaki yang pertama menikahimu?” tanya Jin Eon.

“Seseorang. Seseorang yang tergila-gila padaku.” Jawab Hae Gang.

“Ini permintaan, namun singkirkan lelaki gila itu.” ucap Jin Eon.

“Tidak mau. Aku juga mencintai mantan suamiku.” Jawab Hae Gang.



“Apa? Lalu bagaimana denganku? Dan cincin ini?” tanya Jin Eon.

“Beruntung, istrimu punya tangan lain.” Jawab Hae Gang.



Jin Eon pun menyematkan cincin barunya di jari kanan Hae Gang.


Adegan berikutnya, Jin Eon melepaskan kimono Hae Gang secara perlahan2. Setelah itu, gantian Hae Gang yang melepaskan kancing kemeja Jin Eon. Jin Eon kemudian menciumi wajah Hae Gang, sebelum akhirnya keduanya saling berciuman.


Dua orang yang mabuk diantar pulang oleh supir taksi. Ha Joon memberitahu Seok bahwa mereka sudah sampai, tapi karena Seok tidak mau bangun, Ha Joon pun meminta sopir taksi membawa mereka ke kantor, lalu setelah itu kembali lagi ke rumah Seok. Sopir taksi ingin tau alasan Ha Joon menyuruhnya bolak balik begitu.

“Karena dia tidur nyenyak. Jika kubangunkan, dia tidak akan bisa tidur lagi. Dia takkan bisa tidur semalaman.” Jawab Ha Joon.

“Tampaknya tidurnya baik-baik saja.” Ucap sang sopir.

“Itu lantaran dia mabuk. Saat sadar, dia juga akan terjaga. Dan saat dia terjaga...”

Sopir taksi tidak peduli. Ia memotong kata2 Ha Joon dengan menyuruh mereka keluar. Terpaksa lah Ha Joon membangunkan Seok. Seok terbangun, ia melihat sekelilingnya dan akhirnya menyadari bahwa dirinya sudah tiba di rumah.

“Kau jangan turun, pulanglah dengan taksi ini.” suruh Seok, lalu keluar dari taksi.


Tapi Ha Joon malah ikutan turun dari taksi. Seok kemudian melemparkan tubuhnya ke halte di depan rumahnya. Seok pun berkata, menyegarkan. Amat sangat menyegarkan. Melegakan.

“Bangun lah. Cepat.” Suruh Ha Joon.

“Menyegarkan di dalam. Rasanya sangat bebas di dalam. Pergilah baik-baik. Hiduplah baik-baik.” Ucap Seok.

Seok lantas melirik Ha Joon dan menyuruh gadis itu pergi. Tapi Ha Joon gak mau pergi dan ikut rebahan di samping Seok.


“Bolehkah aku berbaring di atas lenganmu? Kepalaku sakit lantaran tak ada daging di sana. Tolong kasihani sebelum aku beku sampai mati. Satu lengan yang akan membusuk sampai mati. Aku tidak minta kedua-duanya, satu sisi saja. Aku cuma minta satu lengan. Tak bisakah kau memberikannya?” pinta Ha Joon.

Seok diam saja, ia kemudian memejamkan matanya. Tapi tak lama kemudian, ia merentangkan tangannya. Ha Joon pun senang dan langsung meletakkan kepalanya di atas lengan Seok.

“Dingin sekali. Mulut dan leherku mungkin mengendur. Omong-omong, sifat pemarah adikmu bukan bercanda. Di pagi hari, seseorang harus mengurus jasad kita. Aku harus menulis surat wasiatku. Aku akan minta pelayanan kremasi untuk pemakamanku. Bagaimana denganmu?” tanya Ha Joon.

Tapi Seok diam saja. Ha Joon kemudian menatap ke langit yang dipenuhi bintang. Seok membuka matanya, lalu menatap Ha Joon yang tersenyum menatap langit. Seok kemudian ikut menatap ke langit.


Di kamarnya, Seol Ri termenung melihat tiket yang diberikan Gang San. Seol Ri kemudian membalik tiket itu dan menemukan fotonya di sana. Di bawah foto itu, ada tulisan tentang dirinya.

“Aku tak bisa melepas pandanganku. Mungkin karena kau masih cantik?”

Seol Ri pun tersenyum….


Jin Eon dan Hae Gang juga masih terjaga. Mereka saling berpegangan tangan, kemudian bicara. Hae Gang ingin tahu apa yang dipikirkan Jin Eon. Jin Eon berkata bahwa ia ingin tidur lagi dengan Hae Gang besok dan juga keesokan harinya.

“Berhentilah bercanda. Sungguh, apa yang kau pikirkan? Kau tidak bicara dalam waktu lama.” Jawab Hae Gang.


“Aku menghabiskan waktu 20 tahun bersamamu. Kita bisa bersama-sama selama 40 tahun lagi. Meskipun badai datang dan perahu kita tersapu, aku tidak akan karam. Sebaiknya aku tidak meninggalkan perahu dan kabur. Aku harus melindungimu sampai akhir waktu. Aku berjanji pada diri sendiri.” Ucap Jin Eon.

“Jadi kita masih memiliki waktu 40 tahun lagi. Itu membuatku merasa sangat bersyukur dan menangis, yeobo. Orang-orang yang baik, bergandengan tangan erat di tengah-tengah orang, mari menua bersama-sama, hanya memandang pada yang kita perlukan sampai mati.” Jawab Hae Gang.

Lalu kita mendengar narasi Hae Gang…

“Jam 3 pagi, waktu cinta kami.”


Keesokan harinya, Hae Gang yang terbangun duluan terkejut mendapati hari sudah pagi. Ia langsung melihat ke arah jam. Sementara Jin Eon masih terlelap dalam tidurnya. Hae Gang pun menatap wajah Jin Eon dari dekat. Ingatannya seketika melayang saat Jin Eon meyakinkan Seok kalau ia adalah Do Hae Gang, bukan Dokgo Yong Gi.

“Hal yang kutahu dialah istriku. Wanita di sampingmu bukan Dokgo Yong Gi, dia istriku. Meskipun semua orang bilang bukan, meskipun dia berkata bukan, aku tahu, pokoknya tahu. Aku tahu. Karena dia istriku.”


Hae Gang pun tersenyum. Hae Gang kemudian ingat saat Jin Eon mengatakan tentang dirinya yang memiliki tahi lalat kecil di pergelangan tangan kirinya, di belakang lehernya dan di sebelah kanan bokongnya.

Ingatan Hae Gang juga melayang saat Jin Eon melarangnya makan lobster.

Flashback…

“Makan saja bola-bola nasinya.” Suruh Jin Eon.


Jin Eon kemudian bangkit, menjauhkan piring lobsternya dari Hae Gang. Hae Gang pun sewot.

“Berikan kemari. Berikan lobsternya padaku, cepat. Mengapa kau menyingkirkannya lantaran kau ingin? Apakah sia-sia bagiku memakannya? Aku akan membayarnya.”

“Kalau kubilang jangan makan, maka tolong jangan makan.” Pinta Jin Eon.

Flashback end…


Hae Gang tertawa geli teringat hal itu… Ingatan Hae Gang lalu melayang ke saat Jin Eon memintanya memandang mata Jin Eon selama 30 detik saja saat mereka berada di perpustakaan.

Flashback…

“Kau mengenalku?” tanya Hae Gang.

“Bagaimana denganmu? Apa kau mengenalku?” Jin Eon bertanya balik.

Flashback end…

Hae Gang tersenyum, ia lalu mencium bibir Jin Eon. Jin Eon yang masih terlelap itu pun tersenyum usai dicium Hae Gang.


Kata2 Jin Eon pun kembali terngiang di telinganya. Saat itu, Hae Gang yang sedang menunggu Jin Eon di depan Cheon Nyeon Farmasi baru saja menerima kiriman foto2 perselingkuhan Jin Eon dan Seol Ri. Hae Gang syok. Tak lama kemudian, Jin Eon datang. Hae Gang terduduk lemas. Jin Eon pun mencoba meyakinkan Hae Gang.

“Aku bahagia sekarang, karena kau ada di depan mataku, karena aku berada di sisimu. Aku cinta padamu. Dan kau mencintaiku.  Karena kita saling mencintai. Aku cinta padamu.” Ucap Jin Eon.

Flashback end…

Suara narasi Hae Gang pun terdengar kembali. Jam 7 pagi, waktunya cinta kita.


Seol Ri yang baru saja bangun keluar dari kamarnya sambil menguap lebar. Ia pun terperanjat saat tiba di ruang tengah, ia melihat sang kakak yang tidur bersama seorang gadis. Seol Ri lantas membangunkan kakaknya. Seok terbangun dan terkejut melihat Ha Joon yang tidur disampingnya.


Seol Ri lantas membuatkan sup untuk mereka berdua…


Hae Gang sendiri tengah sibuk memasak di dapur. Dan Jin Eon, dia baru saja selesai mandi. Begitu keluar dari kamar mandi, ia mendengar Hae Gang sedang berbicara dengan seseorang di telepon.

“Aku ingin bak mandi biasa. Tolong buatkan pintu kabinet biasa yang serasi dengan bak mandinya. Aku tidak suka pola mencolok. Hanya gunakan 3 warna, putih, kayu alami, abu-abu pucat. Jangan terus berusaha mengisinya, hanya yang diperlukan saja. Biarkan sederhana. Jangan isi tetapi biarkan kosong.” Ucap Hae Gang.

Jin Eon tersenyum. Kemudian bergumam, sangat kaku.

Jin Eon melihat2 sekeliling ruang bacanya. Ia masih speechless, tak percaya kalau dirinya dan Hae Gang sudah kembali bersama. Lalu terdengar suara Hae Gang yang memberitahu sarapan sudah siap.

Jin Eon bergegas keluar dan mendapati Hae Gang masih sibuk di dapur. Saat Hae Gang hendak mengangkat supnya, tiba2 saja Jin Eon memeluk dia dari belakang. Hae Gang pun berusaha menghentikan Jin Eon dengan berkata bahwa hari sudah pergi. Tapi Jin Eon tidak peduli dan malah berkata bahwa ia mencintai Hae Gang.

“Aku juga.” jawab Hae Gang.

“Juga apa?” tanya Jin Eon.

“Aku cinta padamu, dangsin.” Jawab Hae Gang.

“Aku tahu.” ucap Jin Eon.

“Berhentilah, sup nya akan dingin.” Pinta Hae Gang.

“Daripada ke meja, tak bisakah kita pergi ke tempat tidur?” tanya Jin Eon.

“Tidak bisa. Kau harus bergegas menyantap sarapanmu dan pergi bekerja, yeobo.” Jawab Hae Gang sambil membawa sup nya ke meja makan.


Jin Eon pun menyusul Hae Gang ke meja makan dan memandangi masakan Hae Gang.

“Pagi seperti ini akan datang besok, dan keesokan harinya, dan setiap hari, kan?” tanya Jin Eon.

“Mungkin. Tidak, tanpa keraguan, tentunya setiap hari.” Jawab Hae Gang.
Keduanya pun mulai menyantap sarapan pagi mereka. Sambil makan, Hae Gang berkata kalau ia ingin bekerja lagi sebagai manajer di kantor Seok, itu pun kalau Jin Eon mengizinkannya.

“Apa? Di mana? Manajer Kantor?” tanya Jin Eon.

“Jika kau mengizinkan.” Jawab Hae Gang.

“Mengapa di sana?” tanya Jin Eon.

“Banyak pekerjaan, namun tidak cukup tangan. Mereka mengambil banyak kasus yang tidak mau diambil tempat lain. Seok tidak bisa menolak orang-orang tidak mampu, dan aku ingin membantu yang tidak mampu.” Jawab Hae Gang.


“Bagus. Arti dan niatmu semuanya bagus, tapi seorang istri dengan pacar, aku sangat tidak menyukainya.” Ucap Jin Eon.

“Kami hanya berteman. Teman baik seperti Hyun Woo bagimu.” Jawab Hae Gang.

“Apakah Hyun Woo seorang wanita? Pernahkah dia mencintaiku?” tanya Jin Eon.

“Sekarang kau juga tahu Seok. Seperti apa orangnya.” Jawab Hae Gang.

“Aku tahu. Dia 10 kali lebih baik dariku. Dan dia memiliki hati yang besar dan dalam, aku tahu. Aku tahu sangat baik seperti apa matanya ketika dia memandangmu di kantor. Dia juga memahamimu jauh lebih baik dariku. Kau tersenyum di depanku namun menangis di depannya.” Ucap Jin Eon.


“Kami tidak akan melakukannya lagi. Seok tidak dan aku juga tidak.” Jawab Hae Gang.

Jin Eon pun makin sewot, apa? Kami? Kau bilang kami? Kami apa? Dengan siapa kau berkami2?”

“Kau mengajak berkelahi karena ucapanku?” tanya Hae Gang.

“Aku tidak mengajak berkelahi karena ucapanmu, aku menangkap pikiranmu.” Jawab Jin Eon.

“Kalau begitu daripada berkata kami. haruskah aku berkata, kau?” tanya Hae Gang.

“Tidak usah. Kalau begitu aku akan berpacaran juga. Seorang pacar seperti si Cahaya.” Jawab Jin Eon.

“Apa? Membuat apa? Pacar?” tanya Hae Gang.


“Mengapa? Kau boleh tapi aku tak boleh? Aku akan tinggal di rumah pacar selama 4 tahun dan menempel padanya selama 24 jam dalam sehari.” Jawab Jin Eon.

“Siapa yang pergi ke luar negeri selama 4 tahun bersama wanita lain? Siapa yang membopong wanita lain di punggung, bersiul untuknya?” sewot Jin Eon.

“Mengapa membawa-bawa itu?” tanya Jin Eon.

“Kau yang mulai!” jawab Hae Gang.

“Karena aku memulai, kau harus mengikuti?” ucap Jin Eon.

“Kalau begitu tidak boleh, padahal aku mendapatkan kecurigaan yang kekanak-kanakan darimu?” jawab Hae Gang.

“Apa? Kekanak-kanakan? Oke, baiklah. Memang benar aku kekanak-kanakan. Baik, lakukan sesukamu. Jadilah manajer kantor Baek Seok.” Ucap Jin Eon.

Hae Gang makin kesal, tapi ia memilih pergi ketimbang meladeni Jin Eon. Saat Jin Eon memanggilnya, menyuruhnya makan, ia mengomeli Jin Eon yang meneteskan air kemana2. Hae Gang lalu masuk ke kamarnya. Jin Eon menghela napas kesal.

Suara narasi Hae Gang kembali terdengar, Jam 8 di pagi hari, waktunya cinta kita.


Jin Ri dan Nyonya Hong tampa kaku di meja makan. Nyonya Hong membuka pembicaraan dengan menanyakan apa kata pengacara.

“Ini intimidasi kriminal. Jika mereka ingin, mereka bisa menuntutku karena menghambat polisi menjalankan tugasnya.” Jawab Jin Ri.

Nyonya Hong kaget, Apa? Kalau begitu kau juga? Kau akan dipenjara juga?

“Katanya dia akan menangani sidangnya dengan baik dan membebaskanku dengan hukuman percobaan. Katanya dia percaya diri. Firma hukumnya bukan perusahaan swasta kecil. Firma itu merupakan perusahaan hukum tempat banyak pengacara datang dari kantor-kantor pengadilan.” jawab Jin Ri.


“Kau belum memberitahu Hae Gang kau bersalah, kan?” tanya Nyonya Hong.

“Sama saja kami berdua.” Jawab Jin Ri.

“Apanya yang sama? Kok bisa sama? Kau kejam pada orang lain namun terlalu bermurah hati pada dirimu? Bagaimana bisa kau begitu tidak menyesal seumur hidupmu? Meskipun kau menderita karena tsunami seperti itu, kau masih saja keras kepala dan kaku. Bertekuk, merunduk sedikit, dan berpaling melihat ke sekitarnya.” Ucap Nyonya Hong.

“Beginilah caraku bertahan, cara melindungi diriku agar aku tidak hancur.” Jawab Jin Ri.

“Seharusnya kau yang mengidap demensia bukan diriku. Seharusnya kau yang menderita amnesia bukan Hae Gang.” ucap Nyonya Hong.


“Apakah kau benar-benar akan tinggal di Buamdong? Kalau begitu, aku akan tinggal di sini sendirian?” tanya Jin Ri.

“Apa? Kau juga tidak menyukaiku. Kau tak tahan hidup serumah denganku.” Jawab Nyonya Hong.

“Bagaimana kau akan tinggal di rumah mungil itu bersama-sama? Mengapa kau ingin berjingkat-jingkat di sekitar menantumu di usiamu?” tanya Jin Ri.

“Mereka akan menambahkan kamar untuk Perawat Sohn dan aku.” jawab Nyonya Hong.

“Ya, kau memiliki anak menantu baik.” Ucap Jin Ri.

“Haruskah kujual rumah ini?” tanya Nyonya Hong.

Jin Ri ingin tahu alasannya.


“Rumah ini mengingatkanku pada ayahmu dan mengingatkanmu pada suamimu. Saat sidangnya selesai, hiduplah di Amerika dan dukung anak-anakmu.” Jawab Nyonya Hong.

“Aku tak bisa pergi meninggalkan suamiku sendiri.” Ucap Jin Ri.

“Hukumannya seumur hidup. Dia tak bisa dibebaskan. Kedengarannya ucapan kejam yang diarahkan pada Menantu Min, tapi katanya bila dia tidak terkait langsung denganku, jaraknya sejauh 240 mil dariku. Kupikir kau harus bertemu lelaki baik dan memulainya kembali. Meskipun kadang-kadang pikiranku tidak waras dan lebih sering pikiranku kosong daripada jernih, asalkan pikiranku jernih, aku akan membiarkanmu hidup mengurusnya di penjara. Urusan Jin Eon sudah beres. Aku harus melihatmu hidup dengan baik. Dengan begitu aku bisa…”

“… Akhir-akhir ini, kau terus terpikirkan. Aku terus melihat dan memikirkanmu. Sebelum terlelap, bukan Jin Eon yang kupikirkan, dirimu. Apakah tidurmu lelap atau apakah kau tidak bisa tidur? Kau tak bisa tinggal sendirian di rumah ini. Saat cuaca lebih hangat, mari mencari rumah untuk kau tinggali. Mari cari vila di Cheongdam-dong dan kau bisa tinggal di sana. Bukan di kota namun tenang.” Ucap Nyonya Hong.

“Mari cari rumah baru dan hidup bersama.” Ajak Jin Ri, dengan suara bergetar.

Nyonya Hong kaget, apa?

“Aku tak mau hidup sendiri! Teruslah hidup bersamaku, Ibu Ti...”

“Aku mengidap demensia.”

“Kita memiliki Perawat Sohn. Perawatan Ibu Ti..., aku akan minta Perawat Sohn dan menantumu agar menanganinya. Aku hanya mengawasinya untuk melihat apakah mereka mengerjakan tugas dengan baik merawat ibu atau tidak. Asal tahu saja, dan jangan bawa-bawa Buamdong mulai sekarang. Ibu…”


Jin Eon~Hae Gang duduk saling membelakangi. Mereka masih belum saling bicara. Tak lama kemudian, Hae Gang mengajak Jin Eon bicara. Hae Gang berkata bahwa ia tidak akan bekerja di kantor Seok.

“Pergilah kerja di kantoran. Aku kelewatan.” Jawab Jin Eon.

“Aku bilang tidak.” Ucap Hae Gang.

“Aku menyuruhmu pergi.” Jawab Jin Eon.

“Aku tidak mau.” ucap Hae Gang.

“Kau akan keras kepala lagi?” tanya Jin Eon.

“Lalu mengapa kau bicara dengan memunggungiku?” jawab Hae Gang.

“Kau juga memunggungiku.” Ucap Jin Eon.

“Haruskah aku pergi ke sana?” tanya Hae Gang.

“Tidak, jangan kemari. Aku akan pergi ke sana.” Jawab Jin Eon.

Jin Eon pun bangkit dari duduknya, dan ia kemudian beranjak mendekati Hae Gang. Hae Gang menatap Jin Eon. Jin Eon pun memeluk Hae Gang.

“Sudah jam 10. Kau terlambat, dangsin.” Ucap Hae Gang.

“Kau tidak marah lagi?” tanya Jin Eon.

“Tidak, bagaimana denganmu?” sahut Hae Gang.

“Aku sudah mengatasinya.” Jawab Jin Eon.

“Aku akan mengantarkanmu pergi. Ayo keluar.” Ucap Hae Gang.


“Haruskah aku main hooky sepulang kerja?” tanya Jin Eon.

“Aku berencana menonton film bersama Ibu Mertua. Setelah mengantarkanmu pergi, aku pergi ke Pyeongchang-dong.” Jawab Hae Gang.

“Aku mau ikut.” Ucap Jin Eon.

“Lalu pekerjaanmu?” tanya Hae Gang.
“Aku akan cepat-cepat pergi ke kantor, memeriksa makalah, lalu pergi ke Pyeongchang-dong.” Jawab Jin Eon.


Hae Gang pun mengantar Jin Eon keluar. Tapi setibanya di luar pagar, bukannya langsung masuk mobil, si Jin Eon malah memandangi Hae Gang.

“Aku bersalah.” Ucap Jin Eon.

“Aku sudah menyuruhmu melupakan. Aku memintamu agar menghapusnya.” Jawab Hae Gang.

“Aku yang salah, yeobo.” Ucap Jin Eon.

Dan Hae Gang pun langsung mengecup bibir Jin Eon.

Suara narasi Hae Gang kembali terdengar, Jam 10 pagi, waktunya cinta kita.


Jin Ri menjenguk Tae Seok di penjara. Tae Seok langsung menanyakan surat cerai begitu bertemu Jin Ri. Jin Ri pun berkata bahwa ia tidak membawanya.

“Kumohon, Jin Ri-ya. Aku mohon. Itulah satu-satunya hal yang bisa kulakukan untukmu dari dalam sini. Hal terakhir yang bisa kulakukan untukmu sebagai suamimu. Meskipum bukan hal yang bisa kulakukan, biarkan aku melakukannya. Dengan begitu aku bisa tahan. Begitulah caraku menyesuaikan diri dengan kehidupan di dalam sini. Aku harus melepaskan segalanya. Aku harus menyerahkan semua agar aku bisa memulai hidup baru di sini. Tempat ini sangat aneh. Seorang penjahat dengan hukuman mati mendaftarkan diri di perguruan tinggi dan belajar online. Seorang penjahat dengan hukuman seumur hidup menjadi penata rambut hingga ia latihan siang dan malam. Salah seorang bahkan menjadi teknisi kejuruan. Hal-hal yang dikerjakan orang-orang di sini. Namun ketika aku melihat mereka, membuatku tenang. Kupikir aku bisa hidup di sini. Makhluk menyedihkan itu hidup baik.” Ucap Tae Seok.


“Kau juga harus belajar sesuatu.” Jawab Jin Ri.

“Aku akan belajar. Mereka mengajari apa saja dan segala hal. Bahkan ada paduan suara. Selagi kita membicarakannya, haruskah aku mulai dengan paduan suara? Bukankah itu lucu? Jika kupelajari semuanya satu demi satu, setahun, 2 tahun, 10 tahun, 20 tahun. Waktu akan berlalu, kan? Aku tak mau kau harus memiliki waktuku yang bergerak pelan.” Ucap Tae Seok.

“Aku tak bisa melakukannya. Aku tak bisa melakukan hal itu. Aku bahkan tak tahu alasanku tak bisa. Bukannya aku merindukanmu setengah mati. Aku juga tak pernah mendapatkan cintamu. Aku juga tidak tahu mengapa seperti ini. Mungkin aku merasa dicintai olehmu belakangan ini. Karena baru pertama kalinya dalam pernikahan kita kau tulus padaku. Karena kau peduli padaku, kau memikirkanku dulu. Pasti aku seperti itu.” jawab Jin Ri.


“Kau bodoh? Kau tak punya kepercayaan diri? Rasa hormat pada diri sendiri?” tanya Tae Seok.

“Ketika sulit bertemu seperti ini, saat datang kemari bukan kebahagiaan, melainkan neraka... Baiklah. Aku akan membawa surat cerainya nanti. Karena aku masih ingin bertemu denganmu sampai-sampai aku datang. Sejak hidup denganmu, baru pertama kali ini aku merindukanmu.” Jawab Jin Ri.


Keduanya mulai berkaca2… Lalu kemudian, petugas datang hendak membawa Tae Seok kembali ke sel. Tae Seok pun menghapus air matanya dan segera pergi. Jin Ri pun berteriak, ia berkata bahwa ia akan datang lagi.

“Aku akan datang besok! Aku akan datang besok! Kau akan mati di tanganku jika menolak menemuiku seperti waktu itu.” ucap Jin Ri.

Nyonya Hong dan Hae Gang tak berkedip melihat Yoo Ah In di layar bioskop. Melihat bagaimana cara Hae Gang menatap Yoo Ah In di layar, Jin Eon pun cemburu. Ia bergumam, mengungkapkan kecemburuannya. Dan Nyonya Hong pun langsung menyuruhnya diam, membuat ia sebal dan memilih tidur di kursinya.


Keluar dari gedung bioskop, Nyonya Hong dan Hae Gang sibuk memuji ketampanan Yoo Ah In. Jin Eon yang mendengarkan pembicaraan ibu dan istrinya di belakang hanya bisa terdiam. Nyonya Hong lalu mengajak Hae Gang mengambil pamphlet Yoo Ah In.

“Yoo Ah In. Hebat sekali!” puji Nyonya Hong.


Hae Gang pun ikut2an memuji ketampanan Yoo Ah In.

Hae Gang lalu menanyakan pendapat Jin Eon tentang film yang mereka tonton tadi. Nyonya Hong pun langsung memberitahu Hae Gang bahwa selama filmnya diputar, Jin Eon tertidur. Nyonya Hong pun mengomel, ia berkata bahwa itu sangat memalukan.

Nyonya Hong lalu menyuruh Jin Eon membelikannya teh. Hae Gang pun ikut memesan teh pada Jin Eon. Nyonya Hong dan Hae Gang lalu mencari tempat duduk. Tanpa mereka sadari, Seol Ri duduk tak jauh dari tempat mereka duduk.


Jin Eon kemudian pergi ke meja counter. Di sana, Gang San sedang memesankan minuman untuk siapa lagi kalau bukan untuk Seol Ri. Gang San kemudian berteriak pada Seol Ri, menanyakan minuman yang diinginkan Seol Ri. Seol Ri pun berteriak, memberitahukan minuman yang diinginkannya. Jin Eon tertegun mendengar suara Seol Ri. Usai memesan minuman, Gang San pun langsung menghampiri Seol Ri.

“Aku akan ke kamar kecil.” Ucap Seol Ri begitu Gang San datang. Tapi Gang San tiba2 saja menahan langkah Seol Ri dengan memegang lengan Seol Ri.


“Apa?” tanya Seol Ri.

“Kau tidak akan pergi begitu saja, kan?” tanya Gang San.

“Kalau aku pergi begitu saja, aku tidak akan datang. Aku akan menghancurkan khayalanmu akan diriku sepenuhnya, jadi jangan khawatir.” Jawab Seol Ri.


Seol Ri pun beranjak pergi. Jin Eon tersenyum ke arah keduanya.


Di toilet, gantian Hae Gang yang bertemu Seol Ri. Tak ada lagi perseteruan diantara mereka. Kedua wanita ini saling menyapa. Seol Ri tampak segan pada Hae Gang. Seol Ri lalu mengaku bahwa ia ingin menjenguk Hae Gang di penjara, namun ia tak memiliki keberanian.

“Tidak apa-apa.” Jawab Hae Gang.

“Kau kelihatan tenang.” Ucap Seol Ri.

“Ya, aku tenang.” Jawab Hae Gang.

“Aku hidup dengan giat. Jangan khawatir.” Ucap Seol Ri.

“Aku dengar dari Seok. Kau cukup populer di kalangan mahasiswa.” Jawab Hae Gang.

“Berbahagialah. Aku bersungguh-sungguh.” Ucap Seol Ri.

“Kau juga. Aku juga bersungguh-sungguh.” Jawab Hae Gang.

Seol Ri pun beranjak pergi, namun sebelum pergi ia membungkukkan kepalanya, memberi hormat pada Hae Gang.

Setibanya diluar, Seol Ri tampak mencari2 seseorang. Gang San pun bingung dan langsung bertanya siapa yang dicari Seol Ri. Seol Ri pun berkata bahwa ia tidak mencari siapapun, lalu bertanya jam berapa sekarang karena filmnya akan dimulai jam 6 nanti.

“Jam 5.47.” jawab Gang San.

“Kita di bioskop 8, kan? Ayo ke sana.” Ucap Seol Ri, lalu pergi duluan.

Gang San pun tertegun, Uri? Gang San lalu mengejar Seol Ri.

“Uri? Kau bilang uri?” tanya Gang San pada Seol Ri. Seol Ri hanya tersenyum.

Tepat saat itu, Hae Gang datang dan ikut bahagia melihat keduanya.

Gang San yang senang karena Seol Ri mulai menerimanya pun langsung menarik Seol Ri dengan penuh semangat dan mengajak Seol Ri menuju bioskop.


Hae Gang pun kembali ke mejanya. Di sana, suami dan ibu mertuanya sudah menunggunya.

Suara narasi Hae Gang terdengar lagi.

“Jam 6 malam, waktunya cinta kami.”


Malam harinya, Jin Eon dan Hae Gang duduk teras rumah sambil menatap ke arah langit.

“Menurutmu dia mengawasi?” tanya Jin Eon.

“Mungkin.” jawab Hae Gang.

“Menurutmu apa yang dia pikirkan?” tanya Jin Eon.

“Uri appa, uri eomma.  Ibu dan Ayahku sudah pulang kembali. Ibu tidak membenci Ayah. Ayah tidak membenci Ibu. Mereka tidak bertengkar gara-gara diriku. Mereka masih sangat mencintaiku. Mereka benar-benar merindukanku. Mereka sangat merindukanku.” Jawab Hae Gang.


Tangis keduanya lantas pecah. Dan Jin Eon pun memeluk Hae Gang dengan erat.

“Aku rindu padanya. Aku benar-benar rindu padanya, yeobo. Eun Sol, aku sangat merindukannya.” Ucap Hae Gang.


Keesokan harinya, Hae Gang yang terbangun duluan terkejut mendapati hari yang sudah pagi. Hae Gang melirik jam, dan ia pun langsung membangunkan Jin Eon begitu menyadari jarum jam sudah menunjuk ke angka sembilan.

“Aku terlambat, dan kau juga terlambat. Cepat bangun! Aku akan mandi dan pergi. Tidak ada sarapan jadi beli saja dalam perjalananmu!” ucap Hae Gang, lalu bergegas ke kamar mandi.


Jin Eon yang masih mengantuk itu pun terpaksa bangun. Terdengar suara Hae Gang yang sedang berbicara dengan Seok di telepon. Dengan mata masih tertutup, Jin Eon pun mengomentari kata2 Hae Gang pada Seok.

“Aku akan berpakaian sekarang, Seok-ah.” Ucap Hae Gang.

“Kalau ada yang dengar, mereka menganggapmu tidak berpakaian.” Jawab Jin Eon.


Dengan tergesa2, Hae Gang keluar dari rumahnya. Jin Eon pun memanggil Hae Gang, menyuruhnya untuk sarapan. Jin Eon tidak peduli saat Hae Gang mengaku sudah terlambat. Ia memaksa Hae Gang sarapan dan membawanya duduk ke bangku taman. Sambil mengenakan kaus kakinya, Hae Gang menggigit apel yang disodorkan Jin Eon ke mulutnya.

“Haruskah aku duduk sebentar sebelum pergi?” tanya Hae Gang.

Dan Jin Eon pun langsung merentangkan tangannya. Hae Gang menyenderkan kepalanya di bahu Jin Eon. Sambil memeluk Hae Gang, Jin Eon berkata tidak baik bagi kesehatan kalau melewatkan sarapan.

“Tubuhmu bukan milikmu.” Ucap Jin Eon.


“Milikku.” Seru keduanya.

“Kau juga tahu.” ucap Jin Eon.

Dan Hae Gang pun tersenyum. Jin Eon lalu kembali menyodorkan apel ke mulut Hae Gang.

Suara narasi Hae Gang kembali terdengar.

“Jam 9.59 pagi, saatnya cinta kita yang akan kita ingat selama-lamanya. Kami masih memiliki sisa 40 tahun untuk saling mencintai.”


TAMAT!!!!