Friday, November 30, 2018

The Promise Ep 9 Part 1

Sebelumnya...

Oke, kita lanjut gaes tapi sebelum masuk epi berikutnya, sy ringkas sedikit ya cerita di epi-epi sebelumnya....


Na Yeon marah saat mengetahui kebohongan Tae Joon. Tae Joon beralasan, tidak memberitahu Na Yeon jika dirinya bekerja di Baekdo lantaran tahu akan seperti apa reaksi Na Yeon. Na Yeon pun berkata, dia tidak akan menghentikan Tae Joon jika Tae Joon ingin melakukan sesuatu. Na Yeon mengaku, akan menyukai apapun yang Tae Joon sukai.

Tae Joon lantas melamar Na Yeon dan mengajak Na Yeon menikah akhir tahun nanti.


Sementara itu, Se Jin dituduh berselingkuh dan bercerai dari suaminya. Se Jin kemudian bertemu Tae Joon, tapi ia sama sekali tidak mengenali Tae Joon. Melihat sikap Tae Joon yang berani padanya, ia pun penasaran dan ingin lebih mengenal Tae Joon.


Tae Joon kemudian mendapat tawaran study keluar negeri dari Direktur Jang dan ia menerimanya. Tae Joon kemudian mengajak Na Yeon berkencan.


Saat Na Yeon tengah menunggu Tae Joon di restoran dengan wajah bahagia, Tae Joon diajak bertemu oleh Direktur Jang.


Direktur Jang meminta Tae Joon memenuhi permintannya yang lain dan Tae Joon menerimanya.


Tae Joon mengantarkan Direktur Jang pulang. Lantaran hari sudah malam, Direktur Jang menyuruh Tae Joon pulang dengan mobilnya tapi Tae Joon menolak dan mengaku lebih nyaman naik kereta bawah tanah. Direktur Jang mengerti. Ia memuji Tae Joon, lalu masuk ke rumahnya.


Setelah Direktur Jang masuk, Tae Joon menatap kediaman Direktur Jang dengan tatapan penuh arti.


Tak lama kemudian, sebuah mobil putih berhenti di depan kediaman Direktur Jang dan Tae Joon melihat Se Jin turun dari mobil sambil bicara dengan sang ibu di telepon. Se Jin mengaku, baru saja berbelanja beberapa pakaian dan membelikan pakaian untuk sang ibu juga.

Tae Joon beranjak pergi.


Mobil lain datang. Seorang wanita paru baya turun dari dalam mobil dan berlari dengan wajah kesal ke arah Se Jin.

Wanita itu menjambak Se Jin.

Tak lama, seorang wanita muda datang.

"Hari ini kau membuat Jae Hak terlihat seperti orang bodoh dan kau asyik berbelanja!" maki si wanita paru baya yang ternyata ibunya Jae Hak.

Wanita yang satunya lagi membuang belanjaan Se Jin ke jalan.

Tae Joon yang hendak pergi, mendengar keributan itu. Ia pun menoleh dan melihat Se Jin dilabrak dua wanita.


"Jang Se Jin, beraninya kau mempermalukan keluargaku dan menyakiti adikku seperti itu!"

Se Jin tertawa sinis, kalian berlagak seperti orang berkelas, tapi apa yang kalian lakukan padaku hari ini, adalah kejutan. Seluruh keluargamu sangat hebat!

"Mwo!" dan ibunya Jae Hak pun kembali menjambak Se Jin.

"Akulah orang yang paling terluka!" ucap Se Jin setelah menyingkirkan tangan ibu Jae Hak dari kepalanya.

"Akulah yang hancur karena si brengsek itu!"

"Kau pikir kau siapa berani bilang begitu? Kau memang sampah!" ucap ibu Jae Hak sambil memukuli Se Jin dengan tasnya.

"Geumanhae, Eomma. Jangan sentuh sesuatu yang kotor. Kita hanya akan mengotori tangan kita jika menyentuh orang kotor seperti itu." ucap kakaknya Jae Ha.

Mereka lalu pergi.


Se Jin yang kesal, lantas melepas dan melempas sepatunya ke arah mobil ibu Jae Hak sambil berteriak bahwa keluarga Jae Hak lah yang kotor.

Se Jin lantas menjatuhkan dirinya dan menangis.

Tapi kemudian tangisnya berhenti ketika seorang pria mengembalikan sepatunya.

Se Jin mendongak, ia terkejut melihat sosok Tae Joon. Ia lalu memanggil Tae Joon dengan sebutan pria lima puluh ribu won.

Se Jin lantas merasa malu lantaran Tae Joon melihat semuanya. Tapi saat Tae Joon mengaku tidak sengaja melihat semuanya, ia jadi kesal dan protes karena Tae Joon tidak menolongnya saat diserang tadi.

Tae Joon beralasan, tidak menolak Se Jin karena takut dikira kekasih Se Jin.


Se Jin kemudian berdiri dan memakai sepatunya.

"Masuklah, Jang Se Jin. Selamat malam." ucap Tae Joon.

Ucapan Tae Joon itu, sontak mengingatkan Se Jin pada Tae Joon di masa lalu.

Flashback...


Tae Joon berteriak, menyuruh Se Jin pergi. Ia berkata, bahwa dirinya bukan murid beasiswa Baekdo atau siapapun.

Flashback...


Se Jin pun curiga, Tae Joon di hadapannya adalah Tae Joon cinta pertamanya.

Belum sempat menjawab, mobil wartawan tiba-tiba muncul dan Se Jin langsung menyuruh Tae Joon masuk ke mobilnya.


Se Jin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi guna menghindari kejaran paparazzi.

Tae Joon yang duduk di sebelahnya, sontak takut dan langsung memakai seatbeltnya.


Sementara itu, Na Yeon masih menunggu Tae Joon di restoran.

Ia mengisi perutnya yang lapar dengan beberapa gelas air.


Se Jin masih berusaha keras menghindari paparazzi yang mengejarnya.

Melihat Tae Joon yang jantungan, Se Jin sontak menertawakannya.


Na Yeon yang masih di restoran, mengirimi Tae Joon SMS.

"Tae Joon-ah, jangan khawatirkan aku dan selesaikan pekerjaanmu. Aku makan semua makanan yang enak ini sendirian. Telepon aku kalau sudah selesai."


Setelah itu, Na Yeon lari ke warung pinggir jalan. Ia memesan satu porsi tteokbokki, dua odeng dan satu porsi sundae.

"Semuanya dimakan sendiri?"

"Aku belum makan malam..." Na Yeon lalu mengambil satu tusuk odeng dengan wajah malu dan bergegas melahapnya.

Lagi asyik menikmati odeng dan tteokbokki nya, Na Yeon tiba-tiba mual lagi.


Na Yeon langsung ke apotek, membeli obat untuk ganggungan pencernaan.

Tapi apoteker malah menyodorkan test pack padanya. Tapi Na Yeon yakin, ia tidak hamil.

"Kalau begitu, belilah beberapa obat gangguan pencernaan. Jika gejala terus berlanjut, tidak ada salahnya mencoba." jawab apotek sambil menyodorkan test pack itu.


Tae Joon ada di bar bersama Se Jin.

"Aku benar-benar tidak percaya. Kau si sombong Kang Tae Joon, kau tidak memiliki apa-apa tapi kau begitu sombong."

"Jika aku rendah hati karena tidak memiliki apa-apa, itu terlalu menyedihkan bagiku. Ini adalah strategi untuk bertahan hidup."

"Itulah yang membuatmu menarik. Kau banyak berubah. Kau terlihat sangat rapi sampai aku tidak mengenalimu."

"15 tahun sudah berlalu, jadi masuk akal jika aku berubah."

"Kenapa pura-pura tidak mengenalku?"

"Aku hanya tidak ingin menyapamu."

"Wae? Karena aku tampak menyedihkan?"

Tae Joon tidak menjawab dan menenggak wine nya.

"Aku juga tidak mengira aku akan bertemu denganmu dalam keadaan menyedihkan. Hari itu saat aku mengunjungi rumahmu, aku hampir mati saat itu." ucap Se Jin.

Se Jin lalu mengingat hari itu.


Flashback...

Tae Joon pulang dan mendapati ibu, paman serta bibinya sedang bertengkar hebat.

Ia lalu menoleh dan terkejut melihat Se Jin yang menangis menatap ke arahnya.

Tae Joon lantas menarik Se Jin keluar.


"Kenapa kau kesini? Kau tahu darimana rumahku?"

"Aku minta pada ayahku untuk memberitahukan alamatmu."

"Aku tidak punya alasan untuk bertemu denganmu. Tidak ada!" ucap Tae Joon, lalu beranjak pergi.

"Aku menunggumu! Kukira kita menjadi teman di hari itu. Apa aku salah? Apa hanya aku yang berpikir begitu?" tanya Se Jin.

Tae Joon lalu berbalik dan menatapnya Se Jin.

"Kau sudah lihat dengan jelas kalau kita tidak bisa berteman. Pergilah. Ini bukan tempat untuk seseorang sepertimu."

"Kau janji membantuku belajar."

"Pulanglah! Aku bukan murid beasiswa perusahaan ayahmu atau apapun!"

"Aku tidak peduli."


"Aku peduli. Perusahaan ayahmu yang duluan melanggar janji mereka."

Se Jin lantas berlari mendekati Tae Joon.

"Mianhae. Aku akan bilang pada ayahku untuk membayarmu dengan baik untuk mengajarku. Aku janji."

Se Jin lalu membuka dompetnya dan memberikan sejumlah uang pada Tae Joon.

"Hanya ini yang kumiliki sekarang. Aku akan bilang ayahku untuk membayarmu lagi nanti."

"Jadi kau memperlakukanku seperti gelandangan sama seperti ayahmu?" ucap Tae Joon kecewa.

Tae Joon pun membuang uang itu dan masuk ke dalam.

"Tae Joon-ah, Kang Tae Joon!"  panggil Se Jin tapi Tae Joon tidak peduli.


Malam pun tiba. Hujan turun sangat deras. Se Jin menunggu Tae Joon dan tidak peduli derasnya hujan yang mengguyur tubuhnya.

Sementara Tae Joon hanya berdiri di depan pintu tanpa keluar atau pun melihat Se Jin.

Karena Tae Joon tak kunjung keluar, Se Jin akhirnya pergi.


Kyung Wan dan Yoo Kyung terkejut melihat Se Jin pulang basah kuyub.

Se Jin menangis dan menyalahkan Kyung Wan. Tak lama kemudian, ia jatuh pingsan.

Flashback end....


"Aku menunggumu selama 2 jam dibawah hujan deras, tapi kau tidak kunjung keluar. Malam itu, aku berakhir di ruang gawat darurat. Aku menderita pneumonia akut selama seminggu. Yang kuinginkan adalah berteman denganmu." ucap Se Jin.

Tae Joon menghela nafas, lalu mengajak Se Jin pulang.

Se Jin meminta Tae Joon melakukan apa yang tidak bisa Tae Joon lakukan saat itu. Ia mengajak Tae Joon berteman.


"Ini cukup menarik karena kau sembrono. Tapi pacarku akan sangat membencinya jika aku berteman denganmu."

"Ah, yeoja chingu." ucap Se Jin kecewa. "Masuk akal jika setiap gadis merasa tidak nyaman karena aku begitu menarik." lanjut Se Jin.

"Akan kupanggil supir pengganti untukmu."

"Tidak, aku ingin tinggal lebih lama. Kau pulanglah."

"Senang bertemu denganmu." ucap Tae Joon, lalu pergi.


Kyung Wan menatap foto dirinya dan Se Jin yang mengenakan gaun pengantin. Setelah itu, ia membaca resume Tae Joon dan memikirkan sesuatu.


Di kamar mandi, Na Yeon tidak berani menggunakan test pack. Ia yakin, dirinya tidak hamil. Ia mengaku, dirinya sangat berhati-hati saa berhubungan dengan Tae Joon.

Tiba-tiba, terdengar suara Geum Bong yang menyuruhnya keluar karena ada telepon dari Tae Joon.


Na Yeon dan Tae Joon bertemu di kafe. Tae Joon memberikan buku rekeningnya, membuat Na Yeon terkejut.

"Ini adalah gaji yang kutabung dan sekarang semuanya milikmu. Aku benar-benar ingin memberikannya padamu segera setelah aku mulai bekerja tapi ada sesuatu yang terjadi begitu saja." ucap Tae Joon.

"Ini aneh." jawab Na Yeon.

"Apanya?" tanya Tae Joon.

"Hanya saja terasa sedikit mendadak. Terjadi sesuatu?"


"Proposalku dipilih sebagai yang paling bagus untuk Global Talent Project. Perusahaan mengirimku ke Amerika. Mereka ingin aku menyelesaikan gelar MBA."

"Jadi perusahaan mengirimmu keluar negeri? Sungguh? Kau dikirim belajar disana secara gratis?"

"Benar. Benar-benar gratis, bahkan tidak membayar sepesar pun."

Na Yeon pun senang dan memberi ucapan selamat pada Tae Joon.


Tae Joon merasa tidak enak. Ia lantas menggenggam tangan Tae Joon.

"Na Yeon-ah, aku tidak akan mampu menjaga janji untuk menikah tahun ini. Apa tidak apa-apa?"

"Apa itu masuk akal? Mengapa itu penting? Kita bisa menikah setelah kau selesai belajar."

"Ini akan memakan waktu 3 tahun. Jika kau melarangku pergi, aku tidak akan pergi."

"Kau gila? Jangan mengatakan hal seperti itu sebagai lelucon. Kenapa kau mencoba membuang keberuntungan yang diberikan padamu? Kau perlu belajar keras dari sekarang untuk menjadi sukses dan membuat uang banyak. Dengan begitu, aku layak mendapatkan hasil investasi darimu. Aku bisa hidup mewah dan menikmati banyak hal."

"Gomapta."


"Jadi kapan kau pergi?"

"Dalam dua minggu."

Sontak Na Yeon kaget. Ia tidak menyangka Tae Joon akan pergi secepat itu.

Tae Joon lantas menanyakan apa yang mau dikatakan Na Yeon tadi.

Na Yeon yang mau memberitahu Tae Joon kehamilannya pun tidak jadi mengatakannya. Ia mengaku, belum yakin soal itu dan akan memberitahu Tae Joon nanti setelah yakin dengan hasilnya.

Tae Joon lalu meminta waktu Na Yeon saat makan siang besok. Ia mengajak Na Yeon mendaftarkan pernikahan mereka.

Bersambung ke part 2................

Ice Adonis Ep 4 Part 1

Sebelumnya...


Lanjut gaes.... Di episode ini, Yeon Hwa tahu siapa Yoon Jae...

Calon karyawan J segera menyebar mencari seseorang dengan riasan terbaik.

Yeon Hwa langsung mengedarkan pandangannya mencari sosok dengan riasan terbaik.

Kang Wook yang tidak mengerti, meminta penjelasan Yeon Hwa soal maksud Yoon Hee.

"Carilah seseorang dengan riasan terbaik. Setelah itu, ambil fotonya dengan ponselmu dan kirimkan via MMS. Kau memiliki nomornya, kan?"

Kang Wook pun langsung merogoh sakunya dan mengeluarkan gumpalan kertas berserta dengan beberapa bungkus permen.

Yeon Hwa mengambil gumpalan kertas itu, lalu membukanya dan memberitahu Kang Wook itulah nomor J.


Yeon Hwa kesulitan mencari modelnya sementara teman-teman seperjuangannya sudah menemukan seseorang dengan riasan terbaik.

Disaat Yeon Hwa tengah mengedarkan pandangannya mencari modelnya, pandangannya pun tiba-tiba tertuju pada seorang ajumma yang duduk di pinggir jalan menunggui jualannya dan sedang merias diri.


Sekarang, Yeon Hwa sudah berada di dalam sebuah ruangan bersama para pewawancara.

Yoon Hee meminta penjelasan Yeon Hwa, kenapa Yeon Hwa memilih ajumma itu sebagai seseorang dengan riasan terbaik.

"Pada awalnya, aku juga berusaha mengambil foto beberapa orang dengan riasan terbaik. Tapi semua orang mengatakan, mereka tidak jago merias kemudian pergi dengan terburu-buru sesudahnya. Tapi menurut pendapatku, riasan mereka tidak buruk. Tetapi ajummoni di kios pinggir jalan ini merasa puas meski hanya memakai warna lipstik yang sangat kuno. Hal yang ajaib adalah aku benar-benar merasa bahwa ajummoni yang merasa puas ini sangat cantik. Jadi aku berpikir, kenapa kita memakai make up? Untuk siapa kita memakai make up?"

"Lalu?" tanya Yoon Hee.


"Kita tidak memakai make up untuk orang lain tapi untuk kepuasan diri. Aku adalah salah satu orang yang memakai make up untuk diriku sendiri agar terlihat cantik. Jika aku diterima bekerja di J, aku tidak akan membuat kosmetik yang tidak membuat siapa pun bahagia. Sebagai gantinya, aku akan mencoba mengembangkan kosmetik seperti lipstik yang sederhana yang bisa membawa kebahagiaan dan kepuasan bagi semua orang." jawab Yeon Hwa.

"Jika kau diterima bekerja, akankah kau berhenti bekerja karena masalah keluarga?" tanya Yoon Hee yang sontak membuat Yeon Hwa terdiam.

Yoon Hee lalu menatap tajam Yeon Hwa dan berkata bahwa perusahaannya tidak butuh staff yang tidak bertanggung jawab.

"Aku minta maaf, tapi bisakah aku menanyakan satu pertanyaan juga?" tanya Yeon Hwa.

"... Apa nilai sebenarnya dari J? Seharusnya mereka hanya bersinar di panggung?"

"Apa maksudmu?"


"Hari itu, setelah menemukan adikku yang menghilang, aku kembali ke belakang panggung sesuai janjiku bersama dengan adikku. Setelah pertunjukan, semua kosmetik bertebaran di lantai. Di atas panggung, mereka terlihat sangat cantik digunakan para model. Tapi di belakang panggung, mereka adalah sampah yang tidak seorang pun ingin membersihkannya. Saat aku sedang membersihkan sampah dan menyeka cermin, sebuah pikiran muncul di benakku. Jika aku diberi kesempatan bekerja di J, aku akan membuat kosmetik yang berharga itu menjadi sesuatu yang akan dihargai orang-orang. Aku pastikan akan melakukannya." jawab Yeon Hwa.

Yoon Hee pun menatap Yeon Hwa dengan pandangan berbeda kali ini.


Yeon Hwa sedang membersihkan rumahnya.

Ya, ia kembali ke rumah sewanya.

Saat tengah berbenah-benah, ajumma si pemilik rumah sewa datang dan menasehati Yeon Hwa untuk berdamai dengan putranya yang berusaha melecehkan Soo Ae.

"Dia tertangkap?" tanya Yeon Hwa kaget.

"Ketika hidup seseorang terbalik, bahkan air pun terjebak di antara gigi. Aigo, aku tidak beruntung soal suamiku dan sekarang, anakku membuatku sakit kepala. Tapi apa yang bisa kulakukan? Berdamailah dengannya."

Yeon Hwa menolaknya.

Mendengar itu, si ajumma pun kesal dan menyuruh Yeon Hwa pergi dari rumahnya.

"Ajummoni!" protes Yeon Hwa, tapi si ajumma tidak peduli dan bergegas pergi.


Yeon Hwa menghela nafas. Lantas kemudian, ponselnya berbunyi. Telepon dari J yang mengatakan dirinya memenuhi syarat bekerja di J. Yeon Hwa pun senang mendengarnya.


Yoo Ra berjalan menuju kantornya dengan wajah sumringah, tapi wajah sumringahnya itu langsung hilang saat ia melihat Yeon Hwa sedang berjalan menuju ke tempat yang sama dengannya.

Yoo Ra pun langsung menarik Yeon Hwa ke lobbi J.

Kang Wook yang melihat itu pun berkata, bahwa Yoo Ra nampak seperti akan memakan Yeon Hwa.


"Kau serius mau bekerja disini? Bagaimana bisa kau membuat semua orang gila? Bagaimana jika aku memberimu pekerjaan di tempat lain? Akan kuminta ayahku mencarimu pekerjaan di perusahaan yang lebih baik dari J."

"Tidak perlu. Aku bisa sampai tahap ini karena kemampuanku sendiri. Hari ini adalah wawancara terakhir. Aku ingin bekerja disini setelah aku dinyatakan memenuhi syarat. Bergabung di J Cosmetic adalah mimpiku."

"Kenapa harus J diantara banyaknya perusahaan kosmetik? Jujur saja disini, kau juga tidak suka melihatku, kan?"

"Jika kau tidak nyaman, akan kurahasiakan hubungan kita."

"Aku tidak ingin kau disini! Di rumah, ada ibumu. Disini ada kau. Aku bisa mati lemas!"


Sekarang, Yoo Ra sudah berada di ruangannya. Ia mondar mandir dengan wajah resah memikirkan Yeon Hwa yang akan bekerja di J.

Tak lama kemudian, Tim HRD datang membawakan CV peserta yang lolos ke tahap akhir dan menyuruh Yoo Ra memberikannya pada Yoon Jae.


Yoo Ra memeriksanya. Saat melihat CV Yeon Hwa, Yoo Ra langsung merobeknya.

Yoon Jae tiba-tiba datang dan Yoo Ra langsung menyembunyikan CV Yeon Hwa yang telah dirobeknya ke dalam dompetnya.


Di ruangannya, Yoon Jae melihat CV peserta yang lolos. Tak menemukan CV Yeon Hwa, Yoon Jae pun mengira Yeon Hwa tidak lolos.


Mengira Yeon Hwa tak lolos, Yeon Jae pun mengirimkan pesan untuk menyemangati Yeon Hwa.

Yeon Hwa sendiri sedang menunggu di ruang tunggu bersama kandidat lain.

Ia tersenyum saat membaca SMS Yoon Jae.


Di ruangan interview, Yoon Hee memberitahu Yeon Jae bahwa ada satu pelamar lagi yang akan mereka interview.


Tak lama kemudian, Yoo Ra membukakan pintu ruangan dengan wajah menahan kesal dan mempersilahkan Yeon Hwa masuk.

Disinilah Yeon Hwa tahu kekasihnya adalah Presdir J Cosmetic. Yeon Hwa sontak kaget, begitu pun dengan Yoon Jae.

Yeon Hwa pun teringat Yoon Jae dulu pernah menanyakan padanya bagaimana kalau ia ternyata Presdir J.

Mata Yeon Hwa seketika berkaca-kaca menatap Yoon Jae.

"Seol Yeon Hwa-ssi, kau baik-baik saja?" tanya Yoon Hee yang langsung menyadarkan Yeon Hwa.


Yeon Hwa pun meremas tangannya untuk menenangkan diri dan Yoon Jae melihat itu.

"Kau ingin berdoa sebelum interview nya kita mulai?" tanya Yoon Jae.

"Tidak perlu." jawab Yeon Hwa.

"Kalau begitu, interview nya akan segera kita mulai." ucap Yoon Jae.

Yeon Hwa menatapnya canggung.


Diluar, Yoo Ra menatap Yeon Hwa dengan cemas. Ia takut Yeon Hwa lolos.


Selesai interview, Yoon Jae menemui Yeon Hwa di kafe. Begitu duduk, Yoon Jae memegang tangan Yeon Hwa dan mencoba menenangkan Yeon Hwa. Tapi Yeon Hwa langsung menarik tangannya, membuat Yoon Jae terkejut.

"Sunbae, nuguyeyo?"

Yoon Jae pun meminta maaf dan menjelaskan alasannya membohongi Yeon Hwa. Yoon Jae mengatakan, karena ia menyukai Yeon Hwa yang apa adanya.

"Kenapa kau menginjak harga diriku seperti ini? Ibuku yang sudah menikah lagi tidak peduli padaku. Aku mengurus Soo Ae yang tidak diinginkan siapa pun. Lalu aku menemukan seorang pria yang latar belakangnya sama denganku, yang mengatasi kesulitan dengan cinta dan hidup bersama."

Yeon Hwa juga mengaku, saat ia tahu siapa Yoon Jae sebenarnya, ia merasa malu dan rendah.

Yoon Jae tidak mengerti kenapa Yeon Hwa harus merasa rendah.

"Aku selalu mencari uang dengan cara yang lurus. Aku tahu situasiku. Aku akan mencoba melupakanmu jadi aku tidak akan terluka lagi." jawab Yeon Hwa, lalu beranjak pergi.


Yoon Jae menyusul Yeon Hwa.

"Kenapa kau tidak percaya pada dirimu?" tanya Yoon Jae.

"Sunbae, kenapa kau tidak percaya padaku? Kau takut aku mengganggumu saat aku tahu kau anak seorang pimpinan? Kau pikir, aku akan memorotimu? Itulah kenapa kau berpura-pura miskin?"

"Bukan seperti itu. Sejak awal, aku tidak pernah ingin menceritakan latar belakangku pada siapa pun. Benar. Aku merahasiakan itu demi diriku, untuk kenyamananku. Saat aku bertemu denganmu di sekolah, kita berbagi 1000 won kimbap dan ramen, belajar bersama, aku berbagi pikiran yang tulus denganmu. Bagiku, mereka terlalu berharga jadi aku tidak ingin menghancurkannya. Aku takut kita putus, takut kita berakhir."

"Kau seharusnya bilang padaku!"

"Kau menyukai anak sulung dari keluarga miskin. Apalagi yang bisa kukatakan? Kau menyukaiku karena aku miskin."

Yeon Hwa menangis. Yoon Jae pun memeluk Yeon Hwa dan meminta maaf.


Yoon Jae kemudian melepas peluknya dan menatap Yeon Hwa.

"Jangan ragu pada dirimu. Jangan ragu pada cintaku." pintanya.

"Aku ingin menjadi Cinderella juga. Aku juga ingin pamer di depan orang lain. Kebahagiaanku sampai aku merasa seperti ingin menari."

"Kenapa kau tidak membiarkanku mencintaimu? Apa yang kau takutkan?"

"Berikan waktu untuk kita. Itu akan lebih baik untuk kita."

Yeon Hwa lalu beranjak pergi.


Yeon Hwa berjalan menyusuri jalanan dengan wajah kecewa.

Yoon Jae hanya bisa duduk terdiam memikirkan Yeon Hwa.


Malam harinya, Yoon Jae berdiri di depan rumah Yeon Hwa. Menunggu Yeon Hwa.

Sementara Yeon Hwa menangis di dalam.


Yoon Jae lantas menghubungi Yeon Hwa dan meminta Yeon Hwa keluar.

Tapi Yeon Hwa tidak mau dan menyuruh Yoon Jae pulang.

"Kau tidak pernah marah seperti ini sebelumnya. Aku benar-benar tidak tahu. Apa yang harus kulakukan untuk merubah pikiranmu? Katakan padaku, akan kulakukan apapun."

"Mianhaeyo, kututup teleponnya."


Yeon Hwa lantas menatap fotonya bersama Yoon Jae. Ia terus menangis.

Dan Yoon Jae terus menunggu Yeon Hwa di depan rumah.


Yoon Jae menunggu di depan rumah Yeon Hwa sampai pagi.

Dua orang, ahjussi dan ajumma datang untuk melihat-lihat rumah Yeon Hwa.

Sontak, Yoon Jae terkejut mendengar Yeon Hwa akan pindah. Ia pun langsung beranjak pergi.

Bersambung ke part 2...............