• Sinopsis Wonderful World Episode 1-16

    Kim Nam Joo dan Cha Eun Woo memiliki rasa sakit yang sama akibat kehilangan seseorang yang sangat berharga bagi mereka.

  • Duis non justo nec auge

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

Ruler : Master Of The Mask Ep 17 Part 2

Sebelumnya...

  
Seja kembali menggelar rapat dengan para saudagar. Seja mengaku sudah mengetahui alasan dibalik penarikan pinjaman yang dilakukan Yangsucheong secara mendadak. Semua itu karena mereka ingin mendapatkan otoritas pencetakan uang. Para saudagar pun langsung ricuh, sementara Hwa Gun tersenyum bangga.

“Syukurlah, mantan pengajar Sungkyukwan, Woo Bo, serta Petugas Hanseongbu berhasil menghentikan mereka. Ia kini menjadi Menteri Personalia.” Ucap Seja.

  
Woo Bo dan Moo Ha mulai masuk ke istana. Raja senang melihat Woo Bo. Tapi tidak dengan kubu Dae Mok.

“Mantan Pengajar Sunkyunkwan, Woo Bo, dilantik secara resmi sebagai Menteri Personalia. Masalahnya, Yangsucheong tidak akan menyerah begitu saja.” Lanjut Seja.

Para saudagar itu pun setuju.

  
“Untuk mencegah muslihat licik semacam itu terulang lagi semua pedagang keliling, para saudagar, maupun pedagang pasar, harus bekerja sama sebagai tim. Kalian semua akan memercayaiku dan bekerja sama?” tanya Seja.

Mereka pun setuju bekerja sama dengan Seja.

“Kalau begitu, aku akan menyetabilkan Departemen Penjaringan Pegawai, Kantor Perekrutan serta Kantor Pelayanan Umum. Aku akan mengumpulkan kekuataan melawan Pyunsoo-hwe.” Ucap Seja berambisi.

  
Apa yang dilakukan Seja akhirnya sampai ke telinga Raja. Raja heran bagaimana seorang Kepala Pedagang Keliling bisa menghentikan Dae Mok. Hyun Seok berkata, dia adalah pria yang luar biasa dan mendapatkan kepercayaan penuh dari Daebi Mama dan para saudagar.

“Kepala Pedagang itu didukung oleh Daebi Mama?” tanya Sun kaget.

“Memang belum pasti, tapi mengingat dia berhasil menghentikan Dae Mok, Daebi Mama pun memercayai dia.” jawab Hyun Seok.

  
Tak lama kemudian, Kepala Kasim mengumumkan kedatangan Daebi Mama. Sun pun segera memakai topengnya. Daebi Mama kemudian masuk dan sempat menatap sinis Hyun Seok sebelum akhirnya ia duduk di hadapan Sun.

“Terima kasih, Jusang. Berkatmu, kita bisa menghentikan Dae Mok. Sebagai hasilnya, banyak kesengsaraan yang berhasil diangkat dari rakyat.” Ucap Daebi Mama.

“Itu bukan berkat saya, tapi Kepala Pedagang Keliling.” Jawab Sun.

“Apa maksudmu itu? Kau memercayai ibumu ini dan berhasil menahan rencana Dae Mok selama empat hari. Jusang telah melakukan pekerjaan hebat bagi rakyat. Untuk itu, ibumu ini akan berusaha keras memenuhi janji. Lain waktu saat aku kembali ke Daejon ini lagi, aku akan membawa serta Ga Eun.” Ucap Daebi Mama.

Sun pun terkejut mendengarnya.

  
Usai bicara dengan Daebi Mama, Sun menenangkan diri di rumah hijau. Ia nampak tidak senang mendengar Ga Eun akan masuk istana sebagai dayang. Pada Hyun Seok, ia bertanya, jika Seja yang asli masih hidup, apakah dia akan bisa menjadi Raja yang hebat.

“Tolong jangan berpikir demikian. Seja Jeoha sesungguhnya sudah meninggal.” Jawab Hyun Seok.

“Itu benar. Dengan kedua mataku, kusaksikan kematiannya.” Ucap Sun sembari mengingat kematian Seja.

“Dengan begitu, anda memang Raja Joseon.” Jawab Hyun Seok sembari menatap Sun.


Sun tersenyum dan balas menatap Hyun Seok.

“Kau menatapku seakan aku sungguh seorang Raja. Jika kau terus menatapku seperti itu, aku akan menjadi serakah. Aku membayangkan seandainya aku Raja sesungguhnya, aku menyelamatkan rakyat dan bisa memenangkan hati Ga Eun Aghassi.” Jawab Sun.

“Itu bukan sekedar mimpi. Hal itu mungkin terjadi. Cheonha adalah Raja. Jangan memiliki keraguan maupun ketakutan.” Ucap Hyun Seok.

  
Woo Bo pergi menemui seorang temannya yang mengalami penurunan jabatan. Teman Woo Bo itu mengaku kaget karena Woo Bo tiba2 berhenti mengasingkan diri dan masuk lagi ke istana. Woo Bo tertawa mendengarnya, kemudian berkata ingin memperkenalkan temannya itu pada seseorang.

  
Orang yang ingin diperkenalkan Woo Bo pada temannya itu siapa lagi kalau bukan Seja. Teman Woo Bo itu pun kaget melihat sosok si Kepala Pedagang Keliling.

“Dengarkan, Kwang Ryul. Aku berencana mengunjungi setiap departemen. Aku juga berencana mengisi Departemen Penjaringan Pegawai.” Ucap Woo Bo.

“Tolong tempatilah posisi seperti sebelumnya. Kami akan merekomendasikan Yeonggam pada Daebi Mama.” jawab Moo Ha.

“Kalian akan merekomendasikan aku pada Daebi Mama?” tanya Kwang Ryul tak percaya.

“Ya. Tolong pimpin Departemen Penjaringan Pegawai lagi.” Jawab Moo Ha.

“Maafkan aku. Aku bukanlah orang yang cerdas. Aku tidak bisa bekerja untuk Daebi Mama. Hanya Raja yang memiliki otoritas untuk menominasikan pejabat. Bila Daebi rupanya memiliki otoritas serupa, hal itu hanya akan memecah belah negeri ini.” ucap Kwang Ryul.

  
Mendengar itu, Seja yang sedari tadi diam saja, akhirnya angkat bicara.

“Kalau begitu, bila Jusang Cheonha yang merekomendasikan, anda mau menempati posisi itu? Anda membicarakan Jusang Cheonha. Sejujurnya, Yeonggam... tidak ingin memihak sisi yang lain kan? Apa sekarang ini anda tidak lagi melihat harapan di dalam Kerajaan?” ucap Seja.

Kwang Ryul pun terdiam. Ia hanya memandangi Seja sambil memikirkan sesuatu.

“Izinkan saya bertanya satu hal. Jika Anda memang tidak ingin lagi bekerja untuk istana, mengapa anda menerima saja mutasi ke posisi serendah itu?” tanya Seja.

“Kau sedang mengolokku?” tanya Kwang Ryul kesal.

“Pyunsoo-hwe berusaha mendapat otoritas atas keuangan negara. Apa anda belum menyadarinya juga? Sekalipun dimutasi ke jabatan yang rendah, anda menerimanya karena ingin sedikit berusaha menghentikan mereka, bukan begitu?” ucap Seja.

Kwang Ryul pun tercengang mendengarnya.

“Anda telah mengerjakan sesuatu tanpa pengakuan sekian lama. Pasti begitu berat bagi Anda rasanya. Saat ini, Kerajaan membutuhkan sosok seperti Yeonggam.” Ucap Seja.

  
“Aku melihat kau bukanlah Kepala Pedagang biasa. Kau membuatku teringat pada seseorang. Aku mengira sedang berimajinasi saat merasa kau mirip dia di masa muda, namun bukan hanya wajahmu yang mengingatkanku padanya. Ucapan serta tindakanmu. Segala sesuatu yang kau lakukan membuatku teringat padanya.” Jawab Kwang Ryul.

Mendengar itu yang lain langsung tegang. Moo Ha pun berusaha mengalihkan perhatian dengan mengatakan banyak sekali orang yang terlihat mirip di dunia ini. Namun Kwang Ryul tidak percaya dan meminta Seja berkata jujur siapa Seja sebenarnya.

  
Seja beserta rombongan mulai meninggalkan kediaman Kwang Ryul. Chung Woon cemas, ia takut terjadi sesuatu pada Seja karena bertambah lagi satu orang yang tahu Seja masih hidup.

“Itu benar. Agar dapat melawan Pyunsoo-hwe, aku harus mempertaruhkan nyawaku. Hal yang dapat kutawarkan pada mereka yang mempertaruhkan nyawa demi aku, hanyalah kesungguhanku.” Jawab Seja.

Woo Bo yang berjalan di depan mereka pun tersenyum mendengarnya.


Di kediamannya, Kwang Ryul menangis lega karena Seja masih hidup. Ia yakin, masih ada harapan untuk Joseon. Kwang Ryul kemudian menuliskan surat untuk seseorang yang bernama Jae Hon. Ia minta Jae Hon untuk kembali ke ibukota sekarang juga. Kwang Ryul lalu menyuruh pelayannya mengirim surat itu ke Kepala Jeo Han di Provinsi Hamgil.


Seorang anak berjalan tertatih-tatih di tengah pasar. Tak lama kemudian, anak kecil itu jatuh pingsan. Para warga pun langsung mendekatinya.

  
Di tokonya, sambil menggenggam kalung bulan dan bintang Seja, Ga Eun memikirkan kata2 Ibu Suri yang memintanya jadi dayang istana. Tak lama kemudian, Kepala Dayang datang dan meminta jawaban Ga Eun atas permintaan Ibu Suri. Tiba2, seorang pria datang. Dengan panic, pria itu memberitahu Ga Eun sudah terjadi sesuatu.

Moo Ha menemani Mae Chang berjalan2 di pasar. Mae Chang memuji kehebatan Ga Eun yang merubah tanah tandus menjadi pasar. Moo Ha pun berkata, karena itulah Kepala Pedagang jatuh cinta pada Ga Eun. Obrolan mereka terhenti saat Mae Chang melihat kerumunan warga. Mereka pun bergegas mendekati kerumunan itu.


Ga Eun berusaha membangunkan gadis kecil bernama Yang itu. Tak lama, Moo Ha datang. Ia pun menyuruh Ga Eun menaikkan Yang ke punggungnya. Setelah itu, mereka bergegas membawa Yang pada Woo Bo.

  
Saat tengah memeriksa Yang, Ga Eun menemukan sesuatu di genggaman Yang. Ia mengambilnya dan memberikannya pada Woo Bo. Woo Bo bilang itu racun. Seja pun langsung menanyakan apa yang terjadi pada Yang.

“Ibu mengirimku ke kuil agar aku tidak kelaparan. Tapi tempat para biksu dimana aku dibawa bukanlah sebuah kuil.” Jawab Yang lemah.

“Lalu, tempat apa itu?” tanya Seja.
“Sebuah ladang bunga di dalam hutan. Anak-anak sebayaku memetik bunga setiap hari lalu membuat pil bersama para biksu.” Jawab Yang.

“Kau ingat berapa banyak anak yang ada di sana?” tanya Seja.

“Sekitar 20 orang, tapi mereka semua sedang sakit.” Jawab Yang.

“Jangan-jangan semua anak itu kecanduan obat tersebut?” ucap Ga Eun.

“Bisa kau katakan pada kami dimana tempatnya?” tanya Seja.


Tapi baru mau mulai menuliskan sesuatu, Yang tiba2 saja batuk darah.

  
Woo Bo bilang jika mereka tidak mendapat penawarnya, maka Yang tidak akan selamat. Seja bertanya, tidak adakah cara untuk menyelamatkan Yang. Woo Bo lantas memeriksa racun itu. Ia berkata, racun itu bukan racun alami tapi racun yang sengaja diproduksi. Woo Bo curiga, Pyunsoo-hwe ada dibalik semua itu. Woo Bo bilang, orang2 yang menentang Pyunsoo-hwe, ditemukan mati bersimbah darah karena diracun Pyunsoo-hwe, namun rumor itu lenyap seketika. Tidak seorang pun yang bisa melenyapkan rumor itu dalam sekejap. Seja pun terkejut mendengarnya.

Ruler : Master Of The Mask Ep 17 Part 1

Sebelumnya...

  
Hwa Gun akhirnya menemui sang kakek setelah 5 tahun. Ia protes karena sang kakek mengirim pasukan untuk menyerang Kepala Pedagang. Dae Mok kecewa Hwa Gun datang menemuinya setelah 5 tahun hanya untuk menanyakan hal itu.

“Tolong jangan sentuh Kepala Pedagang. Aku… jatuh cinta padanya. Jika Kepala Pedagang sampai terluka, maka aku pun ikut terluka. Jika Kepala Pedagang terbunuh, aku pun akan bunuh diri.” Ancam Hwa Gun.

  
Seja sedang tertidur ketika Moo Ha datang. Moo Ha cemas, ia ingin tahu apa yang terjadi. Chung Woon yang setia menjaga Seja sejak tadi meminta Moo Ha tidak berisik. Chung Woon lantas memberitahu, kalau Pyunsoo-hwe mengirim pasukan untuk menyerang mereka. Moo Ha geram mendengarnya.

“Dasar para bajingan. Dae Mok itu...”

Tiba2, Ga Eun masuk dan mendengar kata2 Moo Ha. Ga Eun ingin tahu siapa Dae Mok. Chung Woon dan Moo Ha pun panic Ga Eun mendengar pembicaraan mereka. Ga Eun mendesak Moo Ha untuk cerita.

  
Moo Ha dan Ga Eun bicara diluar. Ga Eun terkejut mengetahui Chun Soo nya bertarung melawan Pyunsoo-hwe selama ini. Moo Ha bilang harusnya ia tidak boleh memberitahu Ga Eun. Ga Eun ingin tahu kenapa ia tidak boleh tahu.

“Kepala Pedagang pernah berkata, jika kau berhubungan dengan dia selama pertarungan berlangsung kau bisa dilukai mereka.” Jawab Moo Ha.

Ga Eun tertegun, aku mungkin akan dilukai?

“Ya, itulah sebabnya. Kau tidak akan mengerti betapa dia memedulikan dirimu.” Jawab Moo Ha.

  
Barulah Ga Eun mengerti kenapa Chun Soo nya berpura2 tidak mengenalinya selama ini. Itu karena Chun Soo nya ingin melindungi dirinya. Mata Ga Eun pun mulai berkaca-kaca.

  
Dae Mok kecewa. Ia tidak menyangka Hwa Gun akan datang menemuinya setelah 5 tahun hanya untuk mengancamnya seperti itu. Hwa Gun berkata, ia datang bukan untuk mengancam tapi untuk membuat kesepakatan.

“Sebagai ganti nyawa Kepala Pedagang itu, apa imbalan yang kau tawarkan?” tanya Dae Mok.

“Penerus Harabeoji, yang bahkan akan melampaui pencapaian seorang Dae Mok. Daepyunsoo (Kepala Pyunsoo-hwe) yang baru. Apa itu cukup?” jawab Hwa Gun.

Dae Mok pun tercengang mendengarnya.

“Aku akan menjadi Daepyunsoo baru.” Ucap Hwa Gun.

  
Tepat saat itu, Woo Jae masuk dan terkejut mendengarnya. Hwa Gun juga terkejut melihat kehadiran ayahnya. Namun ia kekeuh mau menjadi Daepyunsoo yang baru demi menyelamatkan nyawa Seja meski merasa tidak enak pada ayahnya.

“Aku menyuruhmu tetap di kamarmu. Ada apa kemari?” tanya Dae Mok.

“Ada hal penting yang ingin saya sampaikan.” Jawab Woo Jae masih dengan rasa terkejutnya.

“Apa darurat sekali?” tanya Dae Mok.

“Tidak. Sekalipun darurat, memang anda akan memercayai saya?” ujar Woo Jae.

“Kau boleh pergi.” Suruh Dae Mok.

Woo Jae pun pergi rasa kecewa. Sementara itu, Hwa Gun tampak menantikan jawaban Dae Mok. Dae Mok pun setuju Hwa Gun menjadi Daepyunsoo yang baru.

  
Dae Mok membawa Hwa Gun ke gua Pyunsoo. Ia memperkenalkan Hwa Gun sebagai Daepyunsoo yang baru. Hwa Gun mengenakan hanbok putih dan berdiri di tengah2 lilin yang menyala.

“Cucu dari Dae Mok seharusnya mengikuti keinginan Pyunsoo-hwe. Lalu, kenapa kau.. justru memihak Kepala Pedagang saat pertemuan saudagar digelar?” tanya salah satu anggota Pyunsoo-hwe.

“Sebagai pimpinan para saudagar tentu aku harus mengambil pilihan yang lebih menguntungkan.” Jawab Hwa Gun.

“Saat kita kehilangan tembaganya, rencana besar Pyunsoo-hwe menguap layaknya asap. Hari itu pun kau ada di sana.” Ucap mereka.

“Pyunsoo-hwe memang memiliki sumber informasi yang luas. Ya, aku memang di sana karena ada transaksi bisnis.” Jawab Hwa Gun.

“Sebelumnya kau meninggalkan Pyunsoo-hwe. Kenapa mendadak ingin kembali?” tanya mereka.


“Ini karena insiden di Waegwan. Kalian semua tidak bisa melindungi tembaganya dan menghancurkan rencana besar Pyunsoo-hwe kita. Kebodohan itu terlalu menyedihkan untuk disaksikan. Itu alasanku melangkah kembali memasuki Pyunsoo-hwe.

“Apa kebodohan menyedihkan? Kami? Pyunsoo-hwe?” ucap anggota Pyunsoo-hwe tidak terima.

Dae Mok tersenyum sinis mendengar jawaban Hwa Gun.

“Dibanding keluarga kerajaan Joseon, yang memiliki pengaruh lebih besar adalah kita, Pyunsoo-hwe. Kita tidak boleh hancur seperti ini, bukan begitu? Sekarang, aku harus menjadi Daepyunsoo baru dan menegakkan disiplin yang telah kendur.” Ucap Hwa Gun lantang.


Woo Jae meminta Tae Ho mendampinginya mengelola ladang poppi. Tae Ho tak setuju, ia bilang hal itu terlalu remeh untuk diurusi seorang Woo Jae. Woo Jae marah. Ia bilang kekuatan Pyunsoo-hwe awalnya bersumber dari ladang poppi.

“Jika aku mengendalikan ladang poppinya, maka suatu hari nanti aku akan menjadi sekuat Dae Mok. Kemudian, Hwa Gun tak akan menganggap ayahnya ini tidak kompeten.” Ucap Woo Jae kecewa.

  
Hwa Gun keluar dari gua Pyunsoo-hwe dengan langkah gontai. Tak lama kemudian, ia terjatuh dan terduduk lemas di tanah. Gon langsung mendekati Hwa Gun. Ia mencemaskan Hwa Gun. Tangis Hwa Gun pun langsung mengalir. Ia memohon agar Gon mengantarkannya menemui Seja.

“Aku takut dia belum juga sadarkan diri. Aku sangat mencemaskan dia.” ucap Hwa Gun.


Seja sendiri tengah berjalan2 dengan Ga Eun. Ga Eun mencemaskan Seja. Seja pun meyakinkan Ga Eun kalau dia baik2 saja dengan mengangkat sebelah tangannya yang terluka. Seja kemudian mengaku kalau ia cukup kuat untuk mengantar Ga Eun.

“Kalau begitu, antar saja aku sampai ujung jalan sana.” Jawab Ga Eun.

“Uh... aku tidak yakin... aku bisa.” ucap Seja.

  
Ga Eun pun menatap Seja bingung. Seja pun berkata kalau ia tidak ingin meninggalkan Ga Eun lagi. Seja menjelaskan, kalau 5 tahun yang lalu, ia hendak menemui Ga Eun. Namun lantaran berpikir demi kebaikan Ga Eun, ia berbalik pergi dan terus menyesalinya. Seja teringat saat ia melihat Ga Eun di Desa Chilpae. Saat itu, Seja ingin menghampiri Ga Eun, namun tak jadi demi kebaikan Ga Eun.

“Doryongnim, kenapa kau datang begitu terlambat?” tanya Ga Eun.


Seja tidak menjawab, tapi malah meletakkan kalung bulan dan bintangnya di tangan Ga Eun. Seja lantas menggenggam erat tangan Ga Eun, lalu meletakkan tangan Ga Eun di dadanya.

“Aku tak akan lagi meninggalkanmu sendirian.” Ucap Seja.

  
Tepat saat itu, Hwa Gun datang. Hwa Gun awalnya datang dengan penuh semangat, tapi senyumnya langsung menghilang saat ia melihat Seja dan Ga Eun saling bertatapan. Hwa Gun cemburu, tapi ia tetap mendekati mereka.

“Apa aku mengganggu?” tanyanya.

  
Ga Eun langsung menarik tangannya dari genggaman Seja, tapi Seja malah menggenggam tanganya semakin kuat dan tidak mau melepaskannya.

“Ada apa kau datang jauh-jauh kemari?” tanya Seja.
“Aku mencemaskanmu, tapi kelihatannya kau baik-baik saja, jadi syukurlah.” Jawab Hwa Gun.

“Maaf karena sudah membuatmu cemas.” Ucap Seja.

“Ya, tolong jangan membuatku cemas lagi. Rasa takut bahwa Doryongnim mungkin meninggalkanku juga membuat jantungku seakan berhenti berdetak.” Jawab Hwa Gun.

“Terima kasih sudah mencemaskan aku. Aku akan segera menemuimu lagi dalam rapat para saudagar.” Ucap Seja.

Hwa Gun lantas membungkuk, memberi hormat kemudian beranjak pergi dengan wajah kecewa.

  
Setelah Hwa Gun pergi, Ga Eun menarik tangannya dari genggaman Seja dan menatap Seja seolah meminta penjelasan. Seja panik dan langsung menjelaskan kalau diantara ia dan Hwa Gun tidak ada apa2. Ga Eun diam saja, bikin Seja makin panic. Barulah Ga Eun bicara.

“Memang aku mengatakan sesuatu?” tanyanya santai, lalu beranjak pergi.

  
Seja pun langsung menyusul Ga Eun sembari berusaha menjelaskan kalau diantara ia dan Hwa Gun tidak ada hubungan apapun. Seja menyebut kata kami sebagai pengganti namanya dan Hwa Gun. Ga Eun langsung berbalik mendengar Chun Soo nya menyebut kata kami.
“Aku mengira selama ini kau selalu memikirkan aku.” ucap Ga Eun.

“Memang aku selalu memikirkanmu.” Jawab Seja.

“Kalau begitu apa hubungan antara kau dengan dia?” tanya Ga Eun.

“Dia orang yang tidak masalah melihat kita bergandengan tangan.” Jawab Seja sembari menggandeng tangan Ga Eun. Ga Eun langsung tersenyum. Seja bertanya, apa Ga Eun cemburu.

“Tidak, aku hanya tanya karena penasaran.” Jawab Ga Eun, lalu pergi.

  
Seja mau menyusul Ga Eun, tapi tiba-tiba2 ia merasakan nyeri di tangannya yang terluka. Ga Eun langsung berbalik, menatapnya dengan cemas. Begitu ditatap Ga Eun, Seja pun langsung pura2 tidak sakit dan tersenyum lebar pada Ga Eun. Melihat senyuman Seja, Ga Eun pun ikut tersenyum dan melanjutkan langkahnya.

  
Gon menghampiri Hwa Gun. Ia bertanya, apa Hwa Gun ingin ia menyingkirkan Ga Eun. Hwa Gun pun dengan angkuhnya berkata bahwa ia berbeda dari Hwa Gun.

“Jeoha juga akan segera menyadari aku memiliki sesuatu yang tidak gadis itu punyai. Sesuatu yang Jeoha hanya bisa dapatkan dariku.” Ucap Hwa Gun.