Wednesday, January 31, 2018

My Golden Life Ep 41 Part 1

Sebelumnya...


Do Kyung dan Ji An dikejutkan dengan kedatangan CEO No pagi itu. Yong Gook yang juga mengetahui siapa CEO No, juga ikut terkejut. Sementara penghuni kos yang lain kelihatan bingung. CEO No mau bicara. Ia juga bertanya siapa pemilik rumah kos itu. Yong Gook pun menyuruh penghuni kos yang lain ke atas.

“Harabeoji, jangan salah paham. Aku dan Ji An tidak punya hubungan apa-apa.” Ucap Do Kyung.

“Aku rasa aku harus bicara dengan pemilik rumah ini.” Jawab CEO No.

Do Kyung mengajak CEO No bicara diluar, tapi CEO No malah menyuruh mereka duduk. Do Kyung pun menjelaskan sekali lagi, kalau ia dan Ji An sudah berakhir. Ji An ikut bicara, ia berkata akan pindah ke rumahnya akhir bulan. Do Kyung terkejut mendengarnya. Sementara CEO No menyuruh Ji An tetap tinggal di rumah kos.

CEO No berniat membeli rumah kos itu. Ia melemparkan amplop berisi uang ke atas meja. Tapi Yong Gook menolaknya. Yong Gook berkata, bahwa ia tidak tertarik menjual rumah kos itu. CEO No lalu melemparkan satu amplop lagi ke atas meja.

“Akan kubeli rumah ini, jadi usir semua orang dan cobalah hidup dengan Ji An disini.” Ucap CEO No.


Yong Gook pun akhirnya berdiri dan memperkenalkan dirinya sebagai cucu Presdir Lee Chul Min dari Daeryun Group. Sontak, CEO No terkejut mendengarnya.

“Dulu kita bertemu saat aku masih muda. Pada awal terbentuknya N-Gaon.” Ucap Yong Gook.

“Jadi kau pemilik rumah ini?” tanya CEO No.

“Benar. Aku yang mendirikan rumah kos ini. Aku tidak akan menjualnya karena rumah ini bernilai bagiku.” Jawab Yong Gook.

“Apa kau CEO Mamdaero juga?” tanya CEO No.

“Benar, aku adalah wakil Mamdaero.” Jawab Yong Gook.

“Kalau begitu, aku tidak akan bisa menyentuh usahamu.” Ucap CEO No.

“Ayah dan kakekku sudah memberiku izin.” Jawab Yong Gook.duduknya.

“Aku harus menyusun rencana baru.” Ucap CEO No.


CEO No lalu bangkit dari duduknya dan menatap tajam Ji An. Takut kakeknya melukai Ji An, Do Kyung pun meminta kakeknya berhenti melakukan itu. CEO No menyuruh Do Kyung pulang, maka ia tidak akan menyentuh Ji An.

“Akulah yang akan memutuskan kapan aku akan kembali.” Jawab Do Kyung.


CEO No akhirnya pergi. Yong Gook mengejar CEO No keluar dan menegaskan kembali kalau diantara Do Kyung dan Ji An tidak ada apa-apa. Yong Gook juga bilang, kalau Ji An akan segera pindah dari rumah kos nya.

“Kenapa kau menyia-nyiakan hidupmu untuk bisnis yang tidak berguna? Kudengar kau menginvestasikan uangmu untuk perusahaan sosial. Aku rasa itu menyedihkan.” Jawab CEO No.

“Setiap orang memiliki pandangan berbeda. Aku bahagia dengan pekerjaanku.” Ucap Yong Gook.

“Sampaikan salahmu pada kakekmu.”  Jawab CEO No.


Di dalam, Do Kyung dan Ji An tidak tahu harus mengatakan apa. Ji An menghela napasnya. Do Kyung lantas minta maaf. Ji An pun berkata, Do Kyung tidak perlu merasa bersalah karena bukan Do Kyung yang mempermalukan dirinya. Ji An juga mengaku kalau ia sudah mempersiapkan dirinya untuk hal itu. Ji An bilang, ia hanya tidak menyangka CEO No akan berkata seperti itu padanya.


Yong Gook berdiri di belakang, mendengarkan pembicaraan mereka.


“Kenapa kau tidak marah? Tidakkah kau kesal?” tanya Do Kyung.

“Aku sangat marah. Tapi aku tidak bisa marah padamu.” Jawab Ji An.

“Kenapa tidak?” tanya Do Kyung.

“Aku membayangkan, kakekmu akan kasar padaku. Aku sudah tahu bagaimana sifat kakekmu. Aku tidak akan kecewa padanya. Kakekmu tidak layak mendapatkannya. Pasti sulit untukmu. Aku merasa kasihan padamu. Aku menolakmu dan kau diintimidasi keluargamu.” Jawab Ji An.

“Aku malu menatap wajahmu.” Ucap Do Kyung.


Yong Gook akhirnya mendekati mereka dan mencoba mencairkan suasana. Ji An pun pergi dengan alasan mau menghirup udara segar.


Stress, Ji An pergi ke permainan pukul boneka. Dia mengerahkan seluruh tenaganya memukul boneka sambil menggerutu.

“Beraninya kau memandang rendah diriku! Itu sebabnya, aku membenci keluargamu! Aku tidak akan pergi, bahkan jika kau memohon dan berlutut padaku! Kalau saja dia bukan keluarga Do Kyung, aku pasti sudah melaporkannya pada pers!” gerutu Ji An.

Tiba-tiba, Do Kyung nongol dan memasukkan koin ke permainan yang sama.
“Kenapa, kenapa, kenapa! Kenapa kau melakukan ini padaku, kakek! Aku tidak bisa melawan keluargaku! Inilah kenapa Ji An tidak menyukaiku! Itulah alasannya!” gerutu Do Kyung.

“Apa-apaan itu?” tanya Ji An.

“Ini menyenangkan.” Jawab Do Kyung.

“Dulu aku sering memainkan ini dengan Ji Soo.” Ucap Ji An.

“Apa yang kau katakan, akhirnya menjadi kenyataan. Aku merasa malu.” Jawab Do Kyung.


“Apa kau mengikutiku?” tanya Ji An.

“Aku hendak menemui seseorang.” Jawab Do Kyung.

“Kalau begitu, kau harus pergi sekarang.” Ucap Ji An.

“Tapi, apa kau akan kembali ke rumahmu?” tanya Do Kyung.

Ji An mengangguk.

“Kapan?” tanya Do Kuung.

“Dua hari lagi. Ada yang harus kulakukan besok.” Jawab Ji An.


“Haruskah kami membuat pesta perpisahan?” tanya Do Kyung.

“Tidak ada pesta perpisahan di rumah kos.” Jawab Ji An.

“Kudengar kau menghadiri kelas desain.” Ucap Do Kyung.

“Itu menyenangkan.” Jawab Ji An.

“Kau benar-benar menemukan tempatmu sekarang.” Ucap Do Kyung.


Do Kyung lalu memberitahu Ji An kalau Seketaris Yoo lah yang berinvestasi pada bisnisnya. Ji An pun terkejut. Do Kyung juga memberitahu Ji An kalau ia akan pergi menemui Seketaris Yoo untuk membicarakan bisnisnya.

“Kuharap semuanya berjalan dengan baik.” Jawab Ji An.

Mereka lalu berpisah untuk mengerjakan urusan masing2.


CEO No menerobos masuk ke ruangan Nyonya No dan memarahi Nyonya No karena tidak memberitahunya tentang Do Kyung dan Ji An yang tinggal bersama. Nyonya No yang memang tidak mengetahui hal itu, sontak terkejut.


Nyonya No minta maaf karena tidak jujur soal Ji An pada sang ayah. Ia beralasan, takut sang ayah akan semakin kecewa pada Do Kyung. Nyonya No juga berjanji akan memisahkan Do Kyung dan Ji An.

“Kau tidak bisa melakukannya. Pemilik tempat itu adalah cucu Presdir Lee dari Daeryun Group.” Jawab CEO No.

Nyonya No terkejut. CEO No berkata lagi, kalau mereka tidak bisa menyentuh Yong Gook. Nyonya No pun bingung, apa yang harus mereka lakukan. CEO No marah, ia bilang seharusnya Nyonya No menghancurkan Ji An begitu tau hubungan Do Kyung dan Ji An.

Kenapa Ji Soo masih di sini?” tanya CEO No lagi.

“Aku harus mencari sekolah yang bagus dan mengatur beberapa hal.” Jawab Nyonya No.


“Kau selalu tertinggal, bukan? Untuk apa kau mencari sekolah? Dia bisa pergi ke sana dan mencari sendiri. Ji Soo kabur dari acara yayasan. Dia pemberontak. Jadi, sebaiknya kau jinakkan dia dengan baik atau pastikan dia tidak berani melawanmu. Atau buat dia takut jika perlu.” Ucap CEO No.

“Dia akan pergi lusa.” Jawab Nyonya No.

“Lusa?” tanya CEO No.

“Ayah tidak perlu mencemaskan Ji Soo.” Jawab Nyonya No.

“Itu kabar bagus.” Ucap CEO No.

“Aku akan menemui Ji An lagi dan menyelesaikan semuanya.” Jawab Nyonya No.

“Dia bilang akan pulang ke rumahnya. Kau mau bilang apa? Kalian sudah bertemu. Jika bertindak tanpa alasan, itu akan menjadi bumerang. Kau hanya akan memprovokasi Do Kyung. Do Kyung bilang dia sudah merelakan Ji An.” Ucap CEO No.


“Dia sudah merelakannya?” tanya Nyonya No.

“Mereka hanya bersandiwara. Meski Ji An berkata jujur, itu tidak ada artinya. Itu yang dia rasakan sekarang. Orang sering berubah pikiran. Itu sebabnya mereka menakutkan. Kau tidak boleh memercayai siapa pun.” Jawab CEO No.

“Do Kyung bilang apa? Jika sudah merelakannya, akankah dia pulang?” tanya Nyonya No.

“Tampaknya dia tidak mau pulang. Itu sebabnya ayah curiga mereka hanya bersandiwara.” Jawab CEO No.

“Maafkan aku, Ayah. Aku membuat kesalahan dengan membawa Ji An ke keluarga ini. Akhirnya dia malah berurusan dengan Do Kyung.” Ucap Nyonya No.

“Andaikan saja Do Kyung bukan anak sulung... Andaikan saja Ji Soo lebih tua daripada Do Kyung...” gumam CEO No.


Ji Soo akan keluar dari toko roti. Boss Kang awalnya terkejut Ji Soo minta berhenti, tapi kemudian dia ingat kata-kata Hyuk kalau Ji Soo adalah keturunan Haesung Group.

“Apakah karena adik iparku?” tanya Boss Kang.

“Aku akan bekerja hanya sampai besok.” Jawab Ji Soo.

“Kau sudah memikirkannya matang-matang? Ini keputusanmu?” tanya Boss Kang.

“Tentu saja.” Jawab Ji Soo.

“Ada yang ingin kau ceritakan atau yang bisa kubantu?” tanya Boss Kang.

“Tidak ada. Maafkan aku.” Jawab Ji Soo.


Di kantornya, Hyuk lagi membaca komentar yang ditinggalkan Ji Soo lewat akun Bread Pit.

“Sudah lama dia tidak menulis komentar.” Gumam Hyuk.


Lalu, Yong Gook datang. Yong Gook memberitahu Hyuk kalau orang-orang yang datang saat Hyuk hendak pergi adalah pimpinan Haesung Group.

“Mereka luar biasa, bukan? Ji An pasti merasa sedih.” Jawab Hyuk.

“Aku terkesan dengan Ji An hari ini. Dia bukan hanya akan merasa sedih. Dia pasti merasa terhina. Tapi dia menanganinya dengan baik.” Ucap Yong Gook.

“Dia sudah dewasa.” Jawab Hyuk.

“Tidak, dia melakukannya demi Do Kyung. Dia melihat wajah Do Kyung menjadi pucat.” Ucap Yong Gook.

“Apa semua orang kaya seperti itu? Kau pernah mengatakannya. Katamu orang dari duniamu tidak bisa mengencani orang biasa.” Jawab Hyuk.

“Tidak semua orang kaya seperti itu. Tapi lihatlah sekitarmu. Lihat berapa banyak orang kaya yang menikahi orang biasa. Apakah terbatas hanya pada dunia bisnis? Sama saja dengan dunia politik. Mereka saling menikah. Seperti itulah mereka memperkuat kekuasaan mereka.” Ucap Yong Gook.

“Kau benar. Ji An bijak. Dia tahu apa yang akan terjadi.” Jawab Hyuk.

“Tapi kenapa kau tampak lebih serius daripada Ji An?” tanya Yong Gook.


Seketaris Yoo melaporkan hasil risetnya pada Do Kyung. Do Kyung pun protes karena berkasnya banyak sekali.

“Aku mempelajari semua hal tentang kayu sisa dan pelet.” Jawab Seketaris Yoo.

“Untuk keperluan industri, pembangkit listrik, keperluan rumah tangga, dan binatang peliharaan. Aku tidak tahu ini bisa digunakan untuk binatang peliharaan.” Ucap Do Kyung.


Ji Soo menyambut ayahnya yang baru pulang. Sang ayah pun terkejut melihat Ji Soo menggunakan apron. Ji Soo mengaku sedang membuat rabokki dan menawari sang ayah.

“Tentu saja. Ayah suka rabokki.” Jawab Tuan Choi.


“Aku tidak tahu bagaimana rasanya.” Ucap Ji Soo sambil menyajikan rabokki nya untuk sang ayah.

“Ini enak, Ji Soo-ya. Kau juga mahir memasak.” Puji Tuan Choi.

“Tidak juga. Aku tidak pernah memasak di rumah. Ji An yang selalu memasak.” Jawab Ji Soo.


Tuan Choi pun terdiam. Ji Soo lalu berkata lagi kalau rabokki yang ia buat adalah resep dari kakaknya, Ji Tae. Ji Soo mengaku, ia ingin memasak sesuatu untuk ayahnya sebelum ia pergi, tapi ia hanya tahu cara membuat rabokki.

“Sebelum Kakak pergi?” tanya Seohyun.

“Aku akan belajar di luar negeri. Aku akan pergi lusa. Aku akan pergi ke Prancis.” Jawab Ji Soo.

Tuan Choi dan Seohyun sontak terkejut.


Nyonya No kemudian datang dan Seohyun langsung menanyakan soal Ji Soo yang akan sekolah keluar negeri. Nyonya No pun berkata, kalau ia baru mau memberitahu mereka soal Ji Soo.


Tuan Choi dan Nyonya No bicara di kamar. Tuan Choi tak setuju Ji Soo sekolah di luar negeri. Tuan Choi yakin, Nyonya No sudah mengancam Ji Soo. Nyonya No tidak mengaku. Ia bilang, ia hanya menyuruh Ji Soo pergi dan Ji Soo menyetujuinya.


Di lantai atas, Seohyun mendesak Ji Soo bicara tapi Ji Soo tetap tidak mau bicara. Ji Soo hanya bilang, ia pergi karena memang harus pergi. Seohyun pun menebak, kalau sang ibu sudah tahu tentang pria yang disukai Ji Soo. Seohyun bilang, jika bukan karena pria itu, sang ibu tidak akan memaksa Ji Soo pergi seperti ini.

“Apa yang terjadi? Kakak memacarinya?” tanya Seohyun.

Ji Soo tidak menjawab, namun matanya nampak berkaca-kaca.


Seketaris Min yang baru pulang, langsung menghadap Nyonya No. Sambil menyerahkan amplop cokelat itu, ia mengaku sudah menemukan keberadaan Ji An dan Do Kyung.

“Kau terlambat. Ayah sudah menemukan mereka.” Jawab Nyonya No.


Nyonya No lalu bertanya, apa saja yang dilakukan orang2nya Seketaris Min saat orang2 suruhan ayahnya mencari tempat tinggal Do Kyung dan Ji An.

Seketaris Min pun hanya meminta maaf. Nyonya No lalu berkata bahwa ia penasaran bagaimana ayahnya bisa tahu tempat tinggal Do Kyung dan Ji An.

“Entahlah.” Jawab Seketaris Min.


Tuan Choi menemui Ji Soo di kamar. Tuan Choi bilang, Ji Soo tak harus pergi jika tak mau pergi. Ji Soo berkata, tidak ada alasan baginya untuk tetap stay di Korea.

“Selain itu, aku harus menjadi orang yang pantas berada di keluarga ini.” Ucap Ji Soo.

“Tapi ini terlalu tiba-tiba. Apakah ibumu memarahimu? Atau dia mengatakan hal yang membuatmu cemas? Ayah harap kau mau menceritakan alasan sebenarnya.” Jawab Tuan Choi.

“Aku merasa bersalah kepada ayah. Aku tahu ayah orang baik. Ayah bilang dahulu amat merindukanku. Tapi aku tidak yakin ayah merindukanku atau wanita yang bernama Eun Seok.” Ucap Ji Soo.

“Apa maksudmu?” tanya Tuan Choi.

“Kurasa ada citra Eun Seok yang diinginkan keluarga ini. Bukan aku atau Ji An.” Jawab Ji Soo.

“Itu tidak benar. Kau Eun Seok. Kita sudah terlalu lama terpisah.” Ucap Tuan Choi.

“Benar. Kita tidak bisa menjadi keluarga dalam waktu semalam.” Jawab Ji Soo.


Di ruang kerjanya, Tuan Choi nampak sedih memikirkan keputusan Ji Soo yang akan pergi keluar negeri. Sesekali, ia menenggak minumannya.


Do Kyung dan Seketaris Yoo sedang di warnet. Mereka lagi mengumpulkan informasi soal bisnis ramah lingkungan yang akan mereka kerjakan.


Di kamarnya, Ji An nampak serius membuat desain untuk kompetisi di sekolahnya. Ia mengirimkan hasil desainnya lewat email.


Tuan Seo baru selesai mandi. Begitu masuk ke kamarnya, ia langsung mengecek ponselnya dan menemukan pesan dari ketiga anaknya.

"Ayah sudah mendengar kabar dari Kak Ji An, bukan? Aku kehilangan 5.000 dolar. Seharusnya aku mendengarkan ayah." (Ji Ho)

"Nanti malam akan sangat dingin. Sebaiknya pemanasnya dinyalakan." (Ji Tae)

"Ayah, aku membuatkan lemari kecil berlaci tiga. Ayah bisa menyimpan buku di atasnya. Gunakan sebagai rak buku." (Ji An)

Tak lama kemudian, Tuan Seo menerima sebuah pesan lagi dari Ji Ho.

"Ayah, aku mencoba berjualan di jalanan hari ini. Latihanku berhasil."


Saat sarapan, Tuan Choi menanyakan rencana Ji Soo hari itu. Ji Soo bilang, itu adalah hari terakhirnya bekerja di  toko roti dan ia mau bermalam di rumah lamanya. Nyonya No nampak keberatan. Ji Soo pun menjelaskan, kalau tiga tahun lagi, saat ia kembali dari luar negeri, ia akan menjadi Choi Eun Seok. Karena itu adalah hari terakhirnya hidup sebagai Seo Ji Soo, jadi ia ingin menghabiskan hari terakhirnya di tempat ia dibesarkan sebagai Ji Soo.

Tuan Choi mengizinkan. Lalu, Ji Soo berkata kalau besok pagi ia akan sarapan di rumah.


Ji Soo ke studio kayu, namun ia hanya berdiri diluar. Ji Soo bergumam, soal Ji An yang menyukai kayu.


Ji An lalu datang dan Ji Soo buru2 sembunyi. Ji Soo pun teringat kata-kata Ji An saat mereka ketemuan di kafe membahas soal Hyuk.

“Tanpa tahu sebenarnya itu dirimu,  aku melepaskan tanganmu dan meninggalkanmu. Tapi ternyata bukan aku. Pikirmu mudah bagiku menerimanya? Kau bukan orang asing. Kau tahu betapa malunya aku berhadapan denganmu?” ucap Ji An.

“Kau sangat ingin belajar di luar negeri, tapi malah aku yang pergi. Mianhae, Eonni-ya. Jal Itsuh.” Batin Ji Soo.


Ji An sudah masuk ke studio, tapi ia kemudian menyadari ada orang di belakangnya. Ia menoleh dan terkejut melihat Ji Soo. Sementara Ji Soo tak sempat pergi. Ji An pun keluar lagi dan bergegas menghampiri Ji Soo.

“Aku bertanya-tanya apakah itu kau, ternyata benar. Kau ingin menemuiku?” tanya Ji An.

“Tidak, aku hendak ke toko roti.” Elak Ji Soo.

“Aku mendengarnya dari Hyuk. Itu pasti berat bagimu. Aku memang hendak menghubungimu hari ini.” Ucap Ji An.


“Tidak usah menghubungiku. Aku baik-baik saja.” Jawab Ji Soo.

“Mana mungkin kau baik-baik saja?” ucap Ji An.


Ji An lantas mengajak Ji Soo bertemu lagi sepulang kerja. Tapi Ji Soo menolak dengan alasan harus menemui seseorang.

“Lalu kapan kau bisa? Luangkan waktu untukku. Ada yang ingin kukatakan.” Ucap Ji An.

“Sudah terlambat.” Gumam Ji Soo.

“Apa?” tanya Ji An.

“Aku sudah terlambat bekerja. Jaga dirimu. Dan jaga kesehatanmu.” Ucap Ji Soo.

“Ada apa? Kenapa kau bicara seakan-akan kau mau pergi?” tanya Ji An bingung.

“Bukan apa-apa. Setelah melihat semuanya berlalu, semua tampak konyol. Aku ingin semuanya terselesaikan sendiri.” Jawab Ji Soo.

Ji Soo lalu pergi. Sambil menatap kepergian Ji Soo, Ji An bertanya-tanya apa Ji Soo datang ke studio untuk menemui Hyuk.


Hyuk sendiri baru tahu dari Boss Kang kalau Ji Soo berhenti dari toko roti dan hari itu adalah hari terakhir Ji Soo bekerja di toko roti.


Ji Soo yang sedang bekerja di toko roti, disuruh Boss Kang menemui Hyuk di kafe Hee.


“Kenapa kau berhenti bekerja di toko roti? Kau tidak perlu melakukan itu karena aku.” Ucap Hyuk.

“Bukan karena dirimu.” Jawab Ji Soo.

“Lantas kenapa tiba-tiba kau berhenti?” tanya Hyuk.


“Kau lupa? Keluargaku pemilik Perusahaan Haesung. Pikirmu aku akan tetap bekerja di toko roti kecil? Mereka membiarkanku tetap bekerja sembari beradaptasi. Kurasa sudah saatnya. Itu sebabnya aku memutuskan untuk berhenti.” Jawab Ji Soo.

“Tapi aku tahu betapa kau menyukai roti Kak Nam Goo dan betapa inginnya kau belajar membuat roti.” Ucap Hyuk.

“Ya, aku bersenang-senang. Tapi ini bukan satu-satunya tempat. Aku bisa belajar dari patissier terkenal. Atau aku bisa membuka toko roti.” Jawab Ji Soo.

“Kau bersungguh-sungguh?” tanya Hyuk kaget.


“Aku sadar bahwa kau benar. Aku senang mengetahuinya sebelum bertambah serius. Kini, aku memutuskan untuk hidup sebagai bagian dari Haesung.” Jawab Ji Soo.

“Kau terdengar tidak peduli. Kau bicara seakan-akan ini tidak ada artinya.” Ucap Hyuk.

“Seharusnya kau menerimaku lebih awal. Maka setidaknya kita bisa berkencan lebih lama. Kini sudah terlambat.” Jawab Ji Soo.


Ji Soo pun pergi. Hyuk menatap kepergian Ji Soo. Setelah Ji Soo menghilang dari pandangannya, ia pun mulai mengayuh sepedanya. Hujan seketika turun.


Namun Hyuk berhenti mengayuh sepedanya saat tiba di depan kafe Hee. Hyuk mengingat masa lalunya dengan Ji Soo.


Flashback...

Hujan turun sangat deras. Di depan kafe Hee yang saat itu belum jadi, Ji Soo nampak menutupi kayu2 milik Hyuk agar tidak terkena air hujan.

Hyuk yang melihat Ji Soo menutupi kayunya dengan koran dari dalam mobil pun turun dari mobilnya dan menghampiri Ji Soo.

“Sedang apa kau di sini?” tanya Hyuk.

“Ini sedang hujan. Aku tidak mau kayunya kebasahan.” Jawab Ji Soo.
“Ini kayu terawat. Tidak apa-apa kalau basah.” Ucap Hyuk.

“Aku tidak tahu.” Jawab Ji Soo.

“Tapi terima kasih.” Ucap Hyuk.


Hyuk lalu bergegas menuju ke mobilnya, tapi ia kembali menoleh ke Ji Soo dan melihat Ji Soo sedang membereskan koran2 itu.

“Biarkan saja begitu. Aku akan membereskannya.” Ucap Hyuk.

“Tidak, semua ini ulahku. Aku yang harus membereskannya.” Jawab Ji Soo.

“Kau tidak punya payung?” tanya Hyuk.

“Ada. Aku punya payung.” Jawab Ji Soo, lalu buru-buru mengambil payungnya.

“Kenapa tidak memakai payungnya?” gumam Hyuk sembari menuju ke mobilnya.

Ji Soo hendak memberikan payungnya, tapi Hyuk keburu pergi. Ji Soo pun terdiam sembari memegangi payungnya.

Flashback end...


Hyuk mendekati tempat Ji Soo berdiri. Ia seolah-olah melihat Ji Soo yang dulu ada di sana.


Hyuk lalu ingat saat ia memayungi Ji Soo.

“Jadi, ini payungnya.” Gumam Hyuk.


Tak lama kemudian, Hee keluar dari dalam kafe dan memayungi Hyuk.

“Hyuk-ah, kenapa kau hujan-hujanan?” tanya Hee.


Sekarang, Hyuk sudah duduk di dalam kafe. Sorot matanya nampak pedih.

Tak lama kemudian, Hee datang membawakan Hyuk kopi dan mengeringkan rambut Hyuk.

“Noona, ini soal Ji Soo.” Ucap Hyuk.

“Kakak mengerti. Kakak dengar kalian sudah putus.” Jawab Hee.

“Dahulu aku berpikir dia bodoh dan konyol. Dia menutupi kayu terawat dengan koran agar tidak basah. Saat itu aku tidak menyadarinya. Alasan dia melakukan itu.
 Seperti itulah dirinya. Tapi aku baru menyadarinya setelah sekian lama.” Ucap Hyuk.

Hyuk lantas menangis.


Ji Tae menunggu Soo A. Begitu Soo A datang, Ji Tae bilang tak bisa mengantar Soo A karena harus lembur tapi ia mengajak Soo A makan malam karena harus mengatakan sesuatu.

“Kanker imajiner?” tanya Soo A kaget.

“Ya. Lucu, bukan?” jawab Ji Tae.

“Tidak lucu. Kenapa kau bilang begitu? Dia pasti sangat stres dan itu membuatnya sakit.” Ucap Soo A.

“Aku bukan mau memaksamu atau semacamnya. Selagi menghadapi semua ini, aku menyadari sesuatu lagi. Aku putra sulungnya. Aku merasa bersalah kepadanya. Di sisi lain, aku merasa mungkin sebaiknya kau hidup sendirian agar bisa bebas seperti yang selalu kau inginkan. Kita hanya hidup sekali. Kurasa ini saatnya memberi tahu orang tuaku tentang kita. Aku ingin memperjelas posisimu.” Jawab Ji Tae.


“Maksudmu, perceraian kita?” tanya Soo A kecewa.

“Ya.” Jawab Ji Tae.

“Mari katakan kita akan bercerai.” Ucap Soo A,

“Aku hanya akan menceraikanmu setelah bayi kita lahir.” Jawab Ji Tae.

“Jadi, kau akan menungguku setiap malam? Bagaimana jika aku cuti dan pergi ke dokter?” ucap Soo A.

“Jika begitu, kau tidak bisa menceraikanku. Kau penyebab perceraian kita.” Jawab Ji Tae.

“Baiklah. Aku akan melahirkan bayinya. Setelah itu, baru bercerai. Jangan pernah berharap aku akan berubah pikiran setelah melahirkan bayinya.” Ucap Soo A.

“Aku sedang mencoba tidak berharap. Kau mungkin benar soal ini. Mungkin sebaiknya aku menurutimu.  Tapi aku tidak bisa melakukan ini. Maafkan aku, Soo A-ya.” Jawab Ji Tae.

“Aku mengerti, jadi, jangan menungguku lagi. Beri tahu orang tuamu tentang kita sesukamu. Aku bisa tinggal dengan Seung Hun.” Ucap Soo A.

Soo A lantas pergi. 

Tuan Seo sedang berkumpul bersama pecinta gitar klasik.

Sekarang, Tuan Seo sudah duduk di bus, mau kembali ke rumah lamanya. Tiba-tiba, Ji Soo menelponnya.

“Appa, aku akan ke rumahmu nanti malam.” Ucap Ji Soo.


Tuan Seo kaget, Uri jip?