• Sinopsis Wonderful World Episode 1-16

    Kim Nam Joo dan Cha Eun Woo memiliki rasa sakit yang sama akibat kehilangan seseorang yang sangat berharga bagi mereka.

  • Duis non justo nec auge

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

I Have a Lover Ep 38 Part 2

Sebelumnya...


Gyu Seok yang udah di meja makan sama si menggemaskan Woo Joo heran karena tidak melihat batang hidung Yong Gi dari tadi. Woo Joo pun berkata kalau ibunya sedari tadi terus menghela napas. Ia lantas meniru perkataan yang diucapkan sang ibu tadi.

"Mengapa alkohol, alkohol apa kau musuhku? Mulutku! Mulut ini bertingkah sembrono! Ibu terus mengucapkan itu. Ibu bangun lalu kembali berbaring. Ibu memejamkan mata, lalu membuka matanya. Ibuku pasti sakit. Ibu bilang ibu tidak lapar." ucap Woo Joo.


Nyonya Kim meletakkan tangannya di kening Yong Gi untuk merasakan suhu tubuh Yong Gi. Yong Gi pun langsung menyingkirkan tangan sang ibu kemudian berkata bahwa dia tidak sakit. Nyonya Kim pun berpendapat bahwa Yong Gi hanya tidak enak badan saja.

"Bukan seperti itu, tubuhku tidak sakit. Aku benar2 tidak sakit. Oke." jawab Yong Gi.

"Tidak ada gunanya bersikap seperti ini. Apa bagusnya tidak memanfaatkan dokter yang sangat baik. Jika kita meminta Professor Min memeriksamu, dia akan langsung tahu apa penyakitmu. Tunggu sebentar, aku akan memanggilnya." ucap Nyonya Kim.

Yong Gi pun panic, ia menahan langkah sang ibu dengan memegang tangan sang ibu.

"Me... me... me... mengapa kau memanggilnya? Si... si... si.. siapa yang akan kau panggil sekarang?" tanya Yong Gi panic.

"Ada apa denganmu? Apa ada yang terjadi antara kau dan Professor Min?" tanya sang ibu.

"Terjadi apanya? Tidak terjadi apapun!" jawab Yong Gi.


Tak lama kemudian, Gyu Seok pun masuk. Yong Gi yang panic langsung pura2 melipat selimutnya. Gyu Seok pun berkata kalau Yong Gi bisa membatalkan ucapan yang tadi malam jika merasa tidak enak.

"Memangnya apa yang kukatakan? Aku tidak ingat, aku pasti mabuk waktu itu." ucap Yong Gi.

"Benarkah? Aku mengerti. Aku mengerti sepenuhnya mabuk mu yang membuatmu sampai kelewatan batas. Jadi keluarlah dan habiskan sarapanmu." jawab Gyu Seok.

"Apa? Mabuk, aku melampaui batas? Bagaimana aku bisa melampaui batas?" tanya Yong Gi.

"Kau sangat menarik, Professor. Kau luar biasa saat ini." jawab Gyu Seok menirukan ucapan Yong Gi semalam.


Nyonya Kim pun menatap mereka berdua dengan penuh kebingungan. Sementara Yong Gi merasa malu.


"Andai saja aku bukan seorang ibu, aku akan berdebar2 karenamu." ucap Gyu Seok lagi sambil menopang wajahnya.

Yong Gi pun langsung terperangah.


"Jika kau melontarkan ucapan yang begitu manisnya sampai membuatmu tidak ingat, maka kau melompati batas Dokgo Yong Gi-ssi. Itulah kenapa aku benci alkohol! Aku bahkan lebih benci pada orang2 yang tidak bisa mengendalikan diri saat mabuk. Orang2 yang tergantung pada alkohol, orang2 yang kabur dari masalah karena alkohol, aku benci mereka! Jadi pada akhirnya aku tidak menyukaimu Dokgo Yong Gi-ssi. Jadi kau tidak perlu sembunyi dan menghindariku." ucap Gyu Seok.

Gyu Seok lantas beranjak pergi. Yong Gi pun langsung mendengus kesal.


Baek Bum menunjukkan papan demo ke ayah dan kakaknya. Baek Bum mengaku bahwa ia menemukan papan demo itu di kamar Seol Ri. Baek Hyun pun langsung membaca tulisan di papan demo itu.

Saya korban dari efek samping Pudoxin Cheon Nyeon Farmasi....

Tuan Baek pun terpengarah.

"Noona mu, dimana noona mu?" tanya Tuan Baek.

"Kamar mandi." jawab Baek Bum.

"Berikan itu padaku." pinta Tuan Baek.


Seol Ri yang baru selesai mandi terkejut melihat sang ayah sudah menunggunya di kamar sambil memegang papan demo itu. Seol Ri menjelaskan, bahwa ia melakukan itu untuk mendukung Seok. Seol Ri yakin jaksa akan mempertimbangkan masalah ini jika mereka membawa opini publik. Tuan Baek tidak setuju.

"Jika kau menyakiti orang lain seperti ini, kau juga bisa tersakiti." ucap Tuan Baek.

"Aku sudah memikirkannya masak2. Jadi ayah jangan khawatir. Lagipula latar belakang pendidikanku akan membantu menarik minat media.  Aku tidak akan lama2 melakukannya. Begitu kudapatkan perhatian media, aku akan berhenti berunjuk rasa. Aku bisa terus menyerang dengan melakukan wawancara. Jika aku berdiri di depan perusahaan dengan memegang papan ini, apa mereka akan terluka sepertiku ayah?" jawab Seol Ri.

"Kalau begitu biarkan aku ikut bersamamu. Kau tidak akan bisa melakukannya sendiri." ucap Tuan Baek.

"Harus unjuk rasa tunggal. Dengan begitu, aku bisa dilindungi pemerintah. Jika kebetulan mereka memaksaku pergi, itu artinya mereka melanggar hukum. Aku tidak tahu apakah hasilnya akan sesuai rencanaku, tapi aku memang punya rencana." jawab Seol Ri.

"Rencana apa?" tanya Tuan Baek. Seol Ri pun langsung diam.


Saat sarapan, Jin Ri protes karena ayahnya tidak memberikan sedikit pun saham padanya. Nyonya Hong pun berusaha menasihati Jin Ri, tapi Jin Ri tidak mau dengar. Presdir Choi lantas berkata bahwa ia memberikan Jin Ri lebih dari 7% dan jika Jin Ri menggabungkan saham yang sudah ia berikan dengan saham Tae Seok dan kedua cucunya maka Jin Ri mendapatkan lebih banyak daripada Hae Gang.

"Jika ibu tiri dan Jin Eon menggabungkan milik mereka, lebih dari 27% ayah!" protes Jin Ri.

"Kenapa tidak kau sertakan uang yang kau ambil diam2 tanpa sepengetahuanku?" sindir Presdir Choi.

"Kau bukannya membesarkan seorang anak tapi seorang pencuri." jawab Nyonya Hong.

"Kami bukan satu2nya pencuri! Ayah juga mencuri dari teman ayah, kan? Ssanghwasan yang dikembangkan ayah Do Hae Gang, ayah mencurinya kan?" ucap Jin Ri.

Presdir Choi terkejut, apa? Dan Nyonya Hong berusaha membela suaminya.

"Ayahmu tidak mencuri. Ssanghwasan dipercayakan pada ayahmu sebelum dia meninggal agar Ssanghwasan bisa sukses." ucap Nyonya Hong.

Tae Seok pun tertawa terbahak2 mendengarnya.

"Kenapa kau tertawa!" tegur Presdir Choi.

"Karena aku sudah lama tidak mendengar hal lucu seperti ini. Katamu dia meninggalkan surat wasiat kan? Surat wasiat yang hanya diketahui ayah mertua. Jadi ayah mertua tidak mencurinya tapi melindunginya? Ayah membesarkan Ssanghwasan seperti permintaan teman ayah? Kapan ayah menyiapkan cerita haru seperti ini? Kalau ayah tidak mengambilnya, tidak sepantasnya ayah mendaftarkan pemindahan hak paten sehari setelah teman ayah tewas." jawab Tae Seok.


"Karena itu kubilang aku mengambilnya. Karena memang benar aku jadi serakah setelah mendengar wasiat temanku. Kau tahu apa? Jangan menulis novel memakai selembar kertas saja. Memangnya kau ada di tempat itu? Aku yang di sana, aku! Berani sekali dirimu! Aku masih hidup. Aku belum mati dan masih hidup sampai sekarang." ucap Presdir Choi.

"Hanya orang yang sudah tewas itu yang tahu kebenarannya." jawab Tae Seok.

Presdir Choi pun tertawa geli...

"Kau mempercayai yang kau inginkan. Mengingat informasi yang sama, kau mempercayai yang kau inginkan. Begitulah orang2. Dan juga kebenaran milik orang yang masih hidup. Ke depannya juga, ini milik mereka yang masih hidup. Karena tidak ada yang tahu kebenaran di hari itu kecuali aku." ucap Presdir Choi.


Jin Eon akhirnya mendapatkan informasi seputar kaki ayahnya yang pincang dari Dokter Lee. Jin Eon pun membaca informasi itu. Di informasi itu tertulis bahwa Presdir Choi menderita luka tusuk sedalam 4 cm di bagian belakang betis kiri.

"Jika ini luka tusuk...  apakah ini berarti dia ditusuk pisau?" tanya Jin Eon.

"Tidak mungkin secara spesifik mengatakan itu pisau. Karena mereka menyebutnya luka tusuk tatkala seseorang tertusuk oleh benda tajam. Melihat ayahmu tak bisa ingat tempat dia ditusuk, kelihatannya bukan pisau. Karena bukan aku yang melakukan pemeriksaan awal padanya dan dia mendatangiku setelah dioperasi, aku hanya melihatnya setelah dia dijahit. Luka tusuk tidak kelihatan di rontgen." jawab Dokter Lee.


Ingatan Jin Eon pun seketika melayang pada kata2 Presdir Lee.

"Betapa mereka sangat berjuang agar tidak tewas? Dia mengalami memar yang sangat parah dan menderita pendarahan. Banyak sekali darah di salah satu kakinya. Bukan pada orang yang tewas melainkan pada orang yang hidup. Sebelum memutuskan kau harus hidup, setidaknya kau harus hidup. Mungkin mereka berkata, "Kau mati, aku tak boleh mati."



"Jadi Ayahku berkata dia tidak ingat bagaimana dia ditusuk?" tanya Jin Eon cemas.

"Lantaran cederanya sangat parah di beberapa tempat." jawab Dokter Lee.

"Atau mungkin dia ditusuk pisau yang digunakan untuk memotong tali. Dia ditusuk dan dengan pisau itu, dia potong talinya." ucap Jin Eon.

Jin Eon pun mulai ngeri membayangkan apa yang terjadi.


Hae Gang menemui seseorang yang baru saja bebas dari penjara. Hae Gang ingin orang itu membeli seluruh saham Cheon Nyeon Farmasi terlebih dahulu. Pria itu penasaran kenapa Hae Gang mempercayainya dengan memberikan uang yang jumlahnya begitu banyak.

"Bukan dirimu, tapi aku percaya catatan kejahatan ulungmu. Kasus manipulasi harga saham Tae Jun, kasus manipulasi harga saham OPC, dan kasus manipulasi harga saham Park End. Itu adalah kasus-kasusmu yang ketahuan lantaran gagal. Pasti banyak kasus lain yang berhasil kau lakukan tanpa ketahuan." jawab Hae Gang.

"Jadi haruskah kujadikan dirimu mengambil alih Perusahaan Farmasi Cheon Nyeon?" tanya pria itu.

"Aku yang akan mengurus soal pengambil alihan, jadi kau tinggal mengambil saham Cheon Nyeon saja sebagai ganti diriku." jawab Hae Gang.

"Hei, apa yang akan kudapatkan?" tanya pria itu.

"Aku mempercayakan padamu seluruh uang itu, gunakan keahlianmu dan ambil yang kau perlukan. Karena bukan uang melainkan saham yang kuperlukan. Kau simpan uang yang kau peroleh." jawab Hae Gang.


Pria itu pun langsung setuju.


Ponsel Hae Gang kemudian berdering. Hae Gang segera menyingkir keluar kafe demi menjawab panggilan dari Seok. Hae Gang terkejut mengetahui catatan Kim Sun Yong menghilang. Seok mengaku masih memiliki salinannya jadi hal itu tidak akan menjadi masalah di persidangan, tapi yang membuatnya cemas adalah fakta bahwa ia mendapatkan catatan itu dari Hae Gang atau Yong Gi. Seok cemas karena itu artinya Hae Gang sudah ketahuan.

"Tidak ada kabar? Petunjuk apapun yang kau peroleh? Dia tidak menyuruhmu keluar dari perkara ini?" tanya Seok.

"Dia bilang bukan bunuh diri, melainkan pembunuhan. Dia menyuruhku melindunginya. Itu sebabnya dia mengaku membunuhnya." jawab Hae Gang.

"Kau berada dalam bahaya. Min Tae Seok bukan orang yang berdiam diri dan menerima saja." ucap Tae Seok.

"Paling tidak, aku aman sampai perkara ini selesai. Masalahnya dirimu, Seok. Bukan aku yang berada dalam bahaya, kau. Dia akan melakukan apa saja untuk menghentikanmu. Dia tidak akan membiarkanmu berdiri di pengadilan itu." jawab Hae Gang.

"Aku akan berhati-hati agar tidak terjadi." ucap Seok.

Hae Gang pun meminta Seok hati2. Ia mengaku tidak akan sanggup melihat Seok sampai terluka lagi karena dirinya. Seok pun meyakinkan Hae Gang bahwa tidak akan terjadi sesuatu pada dirinya. Bahwa dirinya akan tetap berdiri di pengadilan itu. Bahwa dirinya akan memenangkan kasus itu.


Seok kembali menatap salinan catatan Kim Sun Yong itu. Tak lama kemudian, karyawannya datang mengantar petugas yang akan memasang kamera pengawas. Seok yang mencurigai karyawannya pun menolak memasang kamera pengawas. Karyawan Seok itu pun terhenyak, namun tak lama kemudian ia mengusulkan agar kamera itu dipasang di luar kantor saja. Seok setuju. Setelah karyawannya pergi, Seok pun langsung menatap ke arah meja karyawannya itu dengan tatapan curiga.


Hae Gang yang baru tiba di kantor langsung disambut Tae Seok dengan harga saham mereka yang naik 10 kali lipat tahun lalu lantaran obat baru yang dikembangkan Jin Eon di Amerika.

"Nah... Karena harga saham terus naik-turun sekitar 700 ribu Won per saham, 10,5%... Astaga! Kau jadi kaya dalam semalam, Wakil Ketua." ucap Tae Seok.

Hae Gang lantas menyuruh Seketaris Shin menyiapkan teh untuk mereka.


Di ruangan Hae Gang, Tae Seok masih saja membahas harga saham yang luar biasa tinggi untuk tubuh anjing pemburu. Hae Gang pun berkata bahwa pasti ada alasan kenapa harga sahamnya bisa begitu tinggi.

"Apakah Adik Ipar tidak berkata sesuatu?" tanya Tae Seok.

"Katanya ada yang ingin dia sampaikan terkait ayahku dan Presdir. Dia bilang agar memberikannya waktu 2 atau 3 hari dan dia akan memberitahu semua tanpa menyembunyikan sesuatu, setelah dia memastikannya." jawab Hae Gang.

"Seperti dugaan, Adik Ipar tidak akan menyembunyikan semuanya, menipu semua orang, dan menikam punggung orang lain ketika diberi kesempatan. Lain dari kita?" ucap Tae Seok.
"Dia orang baik, tidak seperti kita." jawab Hae Gang.

"Kau harus menjadi orang baik, tidak seperti diriku, Pengacara Do.Jika kau menelan uangku, 5 miliar won, kau harus bekerja untukku. Bukankah itu sopan santun dasar dan etika berbisnis? Bila kau terus bermain kejutan melawanku, ingat baik-baik aku juga akan bermain kejutan melawanmu. Sebaiknya kau tidak bertindak gegabah. Menangkan saja perkaranya.  Jika kau mengurusku lewat masalah Pudoxin ini, aku akan menguburnya diam-diam." ancam Tae Seok.


Tae Seok lantas bangkit dari duduknya. Sebelum pergi ia berkata bahwa dalam dua atau tiga hari Jin Eon akan mengejutkan mereka semua.

"Kita harus menjebak lawanmu lagi. Lawanmu dan pihakmu akan berubah demikian pula kemarahanmu,  oleh karena itu, tergesa-gesa menjadikanku sasaran musuhmu. Jadi biarkan Presdir  Choi berjalan angkuh. Karena bila Presdir Choi dan aku menjadi satu tim, membereskan orang-orang sepertimu tidak perlu bersusah-payah. Aku juga sudah berpengalaman." ancam Tae Seok.

Hae Gang pun tercengang!!


Di depan ruangan Hae Gang, Jin Eon tampak resah melihat foto2 putranya Shin Il Sang ketika berada di dekat mobil Hae Gang. Tak lama kemudian, Tae Seok keluar dari ruangan Hae Gang dan sedikit terkejut melihat Jin Eon. Tae Seok penasaran foto apa yang dilihat Jin Eon.

"Bukan apa-apa." jawab Jin Eon.


Jin Eon lantas pergi menemui Hae Gang. Di dalam, Hae Gang masih syok dengan ancaman Tae Seok. Tak lama kemudian, Seketaris Shin memberitahu tentang kedatangan Jin Eon. Hae Gang pun langsung kembali ke mejanya dan mempersilahkan Jin Eon masuk. Begitu masuk, Hae Gang langsung tersenyum dan melambaikan tangannya pada Jin Eon. Jin Eon pun melakukan hal yang sama ke Hae Gang.


"Kau meninggalkan jam tanganmu, tahu?" tanya Hae Gang.

"Ah, sungguh? Aku akan mengambilnya." jawab Jin Eon.

"Kau sengaja meninggalkannya?" tanya Hae Gang curiga.

"Ya. Aku tadinya akan meninggalkan kaos kaki, tapi dengan kaos kaki, kupikir kau tidak akan berkata, apa kau tahu kaos kakimu ketinggalan? Jadi aku tinggalkan jam tanganku." jawab Jin Eon.

Hae Gang pun langsung menatap sebal Jin Eon.

"Bercanda. Aku bahkan tidak tahu jam tanganku ketinggalan." ucap Jin Eon.

"Akan kubawakan untukmu besok." jawab Hae Gang.

"Biarkan saja." ucap Jin Eon.

"Mengapa? Itu jam tangan yang kau sukai." tanya Hae Gang.

"Kau boleh memilikinya." jawab Jin Eon.


"Terima kasih, sudah memberikanku benda yang sangat besar sampai-sampai tidak bisa kupakai." ucap Hae Gang.

"Mengapa tidak bisa kau pakai? Pakai saja di pergelangan kakimu. Pergelangan kakimu." jawab Jin Eon.

Hae Gang pun tertawa kecil mendengarnya.


Jin Eon lalu menunjukkan foto2 putranya Shin Il Sang yang didapatnya dari kamera pengintai.

"Ini diambil di depan rumahmu. Dan ini diambil di sekitar garasi parkir kantor. Dia masih anak-anak. Kami menyelidikinya, jadi jangan terlalu takut." ucap Jin Eon.

"Tapi pakaiannya,waktu itu di garasi parkir, kelihatannya seperti anak yang menyebarkan iklan." jawab Hae Gang.

Jin Eon pun berpikir sejenak, entah apa yang dipikirkannya karena setelah itu ia langsung pamit.


Jin Eon kembali ke ruangannya. Ia lantas mengambil foto2 anak2 Shin Il Sang dari dalam laci. Ia langsung teringat dengan sosok remaja yang sempat berpapasan dengannya di parkiran saat melihat foto Shin Kyung Woo. Setelah itu, Jin Eon membaca data2 Shin Kyung Woo. Tak lama kemudian, Jin Eon beranjak pergi.


Jin Eon ternyata pergi ke tempat Kyung Woo bekerja. Ia berpura2 mau mengisi bahan bakarnya. Kyung Woo pun berkata, jika ada yang mau Jin Eon buang maka berikan saja padanya.

"Buang? Tidak ada di mobilku, tapi di sini dan di sini. Maukah kau mengeluarkan dan membuangnya untukku?" tanya Jin Eon sambil menunjuk kepalanya.

"Saat sedang sangat marah, bisa-bisa kau gila, bagaimana kau melepaskannya? Saat kau membenci seseorang seperti gila, apa yang harus kulakukan dalam kasus itu?" tanya Jin Eon lagi.

Tapi Kyung Woo tidak meladeni pertanyaan2 Jin Eon itu dan menyebutkan nominal yang harus dibayar Jin Eon.

"Nak, apa kau tidak punya sarung tangan? Pakai saat bekerja." suruh Jin Eon. Namun lagi2 Kyung Woo bersikap acuh.

Jin Eon lantas menanyakan tempat cuci mobil. Setelah Kyung Woo menunjukkan arahnya, ia pun langsung pergi.


Tak lama kemudian, Jin Eon kembali lagi dan memberikan roti pada Kyung Woo. Kyung Woo tidak mau memakannya. Jin Eon lantas menyodorkan minuman dan menyuruh Kyung Woo membukakan tutup botol minumannya.

"Apa yang Anda lakukan sekarang? Anda mengajak saya berkelahi?" tanya Kyung Woo.

"Aku sedang dalam proses trial and error denganmu. Aku ingin lebih dekat denganmu, tapi tidak tahu caranya dan harus bagaimana, jadi kuhadapi dirimu dengan nekat, tanpa rencana tertentu dalam pikiran." jawab Jin Eon.
"Apa?" tanya Kyung Woo bingung.

"Aku akan kembali kalau perlu bensin lagi. Bekerja keraslah dalam udara dingin ini." jawab Jin Eon.


Seol Ri menekan rasa malunya demi berunjuk rasa di depan Cheon Nyeon Farmasi. Ia mengangkat papan namanya tinggi2 yang bertuliskan bahwa ia adalah korban dari efek samping Pudoxin.


Tae Seok memberitahu Hae Gang tentang Seol Ri yang berunjuk rasa di depan kantor mereka.Tae Seok menyalahkan Hae Gang sebagai penyebab Seol Ri melakukan itu. Hae Gang terkejut. Tae Seok lantas menyuruh Hae Gang menyingkirkan Seol Ri. Begitu Hae Gang keluar dari ruangannya, Tae Seok menelpon tim keamanan. Tak lama kemudian, terlintas sesuatu di pikirannya. Ia pun menghubungi Seok.

Hae Gang menemui Seol Ri. Tak lama setelah Hae Gang datang, tim keamanan pun juga datang. Melihat tim keamanan Cheon Nyeon Farmasi, Seol Ri pun salah paham. Ia berpikir bahwa Hae Gang akan menekan orang2 sepertinya menggunakan kekuasaan dan ancaman.

"Tapi apa yang bisa kau lakukan? Inilah gambaran yang kuinginkan." ucap Seol Ri.


Tim keamanan pun mengelilingi Seol Ri. Tak lama kemudian, media berdatangan. Mereka meminta pernyataan Hae Gang terkait hasil uji klinis Pudoxin yang dipalsukan. Hae Gang tidak bersedia diwawancara. Hae Gang menatap tajam Seol Ri. Sementara Seol Ri malah tersenyum puas karena berhasil mempermalukan Hae Gang.


Seok yang baru dapat kiriman foto2 Seol Ri yang lagi berunjuk rasa pun terkejut. Tak lama kemudian, ia pun beranjak pergi.


Begitu ia pergi, karyawannya langsung menghubungi seseorang.


Seol Ri memberikan penyataan bahwa ia bersedia diwawancarai tentang efek samping Pudoxin pada sidang kedua yang akan digelar minggu berikutnya.

Hyun Woo menghubungi Jin Eon. Jin Eon sendiri masih terlihat mengawasi Kyung Woo di depan pom bensin. Hyun Woo memberitahu Jin Eon bahwa manajer yang bekerja di Gunung Bukhan ketika kecelakaan terjadi sudah diidentifikasi.

"Nama: Kim Ki Seong, Usia: 58 tahun. Pekerjaan: Sopir Perusahaan Farmasi Cheon Nyeon." ucap Hyun Woo.


Mendengar itu, Jin Eon pun syok. Ingatannya langsung melayang ke Sopir Kim yang ia temui di parkiran kantornya ketika ayah dan ibunya datang untuk mengajaknya makan malam.


Seok sudah tiba di parkiran Cheon Nyeon Farmasi. Ia pun terkejut mendapati tanaman beracun itu disamping mobil Hae Gang. Seok lantas membaca pesan yang diselipkan diantara daun2 tanaman itu. Di sana tertulis tentang seseorang yang mau membunuh Hae Gang. Seok pun langsung menghubungi Hae Gang dan meminta Hae Gang datang ke parkiran.





Hae Gang menemui Seok di parkiran. Seok melambaikan tangannya begitu melihat Hae Gang. Tak lama kemudian ia dikejutkan dengan sebuah motor yang melaju kencang ke arah Hae Gang. Seok pun langsung berlari ke arah Hae Gang. Tepat saat itu, si pengendara motor mengeluarkan tongkat besi. Seok pun langsung terkapar setelah tongkat besi itu menghantam kepalanya dua kali.


Sementara Jin Eon masih di mobilnya. Ia terluka mendapati kenyataan bahwa ayahnya memang dalang dibalik tewasnya ayah Hae Gang.


Darah segar tampak mengalir dari kepala Seok. Hae Gang pun panic.

Bersambung.....