• Sinopsis Wonderful World Episode 1-16

    Kim Nam Joo dan Cha Eun Woo memiliki rasa sakit yang sama akibat kehilangan seseorang yang sangat berharga bagi mereka.

  • Duis non justo nec auge

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

Ruby Ring Ep 71 Part 2

Sebelumnya...


Jin Hee menghubungi 119 dari telepon kantor.

Setelah itu, ia mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi Roo Na, tapi tidak dijawab.


Gilja yang tidak bisa tidur, berusaha menghubungi Roo Na tapi ponsel Roo Na tak aktif.


Soyoung terbangun karena mendengar suara tangisan Chorim.

"Soyoung-ah, sekarang aku tahu kenapa ada banyak sekali lagu patah hati. Rasanya seperti ditusuk disini. Sakit sekali, sampai aku ingin mati tapi tidak ada yang bisa kulakukan. Apa yang harus kulakukan? Gilja mencemaskan Roo Bi jadi aku tidak bisa bicara dengannya. Kau lebih muda dariku, aku malu cerita padamu. Apa yang harus kulakukan."

"Itulah kenapa kubilang saat seseorang jatuh cinta, hati dan pikiran mereka akan bertentangan." jawab Soyoung.

Tapi Chorim malah menggeplak kepala Soyoung. *Astaga Chorim, masih sempet2nya ngajak Soyouung ribut. LOL

Chorim lalu menjatuhkan dirinya ke pelukan Soyoung. Soyoung pun berusaha menenangkan Chorim yang tangisnya kian kencang.

"Aku merindukannya!" ucap Chorim.


Di kamarnya, Roo Bi terus saja menatap ponselnya. Ia menunggu telepon dari Roo Na. Wajahnya terlihat cemas. Ia takut Roo Na bunuh diri.


Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Telepon dari In Soo.

"Roo Na masih belum menghubungimu?"

"Kau mencemaskannya juga?" tanya Roo Bi.

"Bohong kalau aku bilang aku tidak cemas." jawab In Soo.

"Aku mengerti. Roo Na akan baik-baik saja." ucap Roo Bi.

"Jangan terlalu cemas. Aku yakin Roo Na akan menghubungi kita pagi ini." jawab In Soo.


Roo Na teringat kecelakaan yang dialaminya bersama Roo Bi.

Ia juga ingat ketika sang ibu memanggilnya Roo Bi saat ia baru siuman.

"Jika aku tahu akhirnya seperti ini, akan lebih baik jika aku mati. Mereka tidak seharusnya membiarkanku hidup. Kenapa mereka menyelamatkanku? Kenapa aku siuman sebelum Roo Bi siuman? Kenapa?" ucapnya.


Roo Na lantas mendengar suara ibunya. Ia pun langsung mencari ibunya tapi kemudian ia sadar kalau itu hanyalah perasaannya.

"Tidak mungkin ibu disini. Kenapa ibu harus mencariku? Kau ingat, ibu? Ingat? Kau orang pertama yang memanggilku Roo Bi."


Roo Na lalu meraih ponselnya dan menghubungi sang ibu.

"Kenapa kau memanggil begitu, Bu? Jika kau tidak melakukannya, hal ini tidak akan terjadi!"

Tangis Roo Na pun pecah.

"Roo Bi-ya, kau dimana? Aku akan menjemputmu."

"Jangan datang, aku baik-baik saja."

"Roo Bi-ya, eomma mianhae. Aku tidak ada di sisimu. Aku menamparmu. Aku meneriakimu. Aku minta maaf."

"Kenapa kau minta maaf? Itu kesalahanku. Mianhae. Aku ingin sukses, tapi pada akhirnya..."

"Roo Bi-ya, apa maksudmu? Berhentilah bicara. Kau menakuti ibu. Katakan kau dimana."


"Mianhae eomma karena telah mengecewakanmu. Aku benar-benar ingin kau bangga padaku."

"Kau salah. Kau mengagumkan. Faktanya, aku tidak pantas memiliki putri sepertimu."

Mendengar itu, Roo Na tambah kecewa karena mengira sang ibu hanya peduli padanya.

Roo Na lantas menutup teleponnya setelah meminta sang ibu menjaga kesehatan.


Sontak Gilja panic. Ia takut terjadi sesuatu pada Roo Na.

Gilja lantas berteriak memanggil keluarganya.

"Apa yang harus kulakukan? Kurasa, Roo Bi akan mengakhiri hidupnya. Dia tidak mau mengatakan dia ada dimana." Gilja menangis.


Roo Na menghubungi Gyeong Min.

"Terima kasih sudah menjawab teleponku. Jangan cemas. Gyeong Min-ssi, aku ingin mengakui sesuatu. Ini kesempatan terakhirku, jadi dengarkan saja. Sebenarnya aku tidak mencintaimu. Aku memang mencintaimu pada awalnya tapi kita berpisah lalu kembali bersama. Ketika aku sadar dari kecelakaan itu, seperti yang kau katakan, aku hanya mencintaimu karena kau kaya dan punya pengaruh. Aku benci mengakuinya tapi kau benar. Tapi aku juga menerima, aku belajar mencintaimu lagi lebih dari aku mencintai yang lain. Itulah kenapa aku berpikir membuat sandiwara yang tidak termaafkan. Jadi aku bisa tetap disisimu. Jika aku tidak melakukannya, aku akan kehilanganmu dan kau meninggalkanku. Mianhae untuk semua yang sudah kulakukan padamu. Maaf karena sudah menipu dan membohongimu."

"Roo Bi-ya, dimana kau? Aku akan menjemputmu."

"Ini menyenangkan. Seseorang mendorongku pergi jadi kenapa berubah pikiran sekarang? Karena kau akan merasa bersalah jika aku mati? Jangan khawatir. Aku tidak menyalahkan siapapun. Aku ingin menjadi Jeong Roo Bi yang kau cintai, yang kau inginkan tapi aku gagal. Mianhae. Seharusnya aku berusaha lebih keras. Lupakan semuanya dan hiduplah bahagia."


Di kantor, Jin Hee menerima telepon dari 119 yang mengabarkan mereka sudah berhasil mendapatkan lokasi Jiyeon.

Jin Hee lalu menghubungi Roo Na.

Ia memberitahu kondisi Jiyeon pada Roo Na dan meminta Roo Na menyelamatkan Jiyeon.

Tapi Roo Na tidak peduli dan menutup teleponnya.


Ia lalu mengambil botol obat. Ia berniat bunuh diri dengan obat itu.

Tapi pikirannya tidak bisa lepas dari Jiyeon.

Bersambung........

Ruby Ring Ep 71 Part 1

Sebelumnya...


Chorim ke rumah Dongpal, tapi ia ragu untuk masuk. Dengan alasan takut sedih lagi, akhirnya Chorim memutuskan pergi tanpa menemui Dongpal tapi saat mau pergi, ia melihat Dongpal dan Daepung yang tengah menuju rumah.

Sontak, Chorim langsung bersembunyi di balik mobil yang terparkir di depan rumah Dongpal.


Daepung yang sudah tak kuat bekerja di konstruksi pun protes.

Tapi Dongpal berkata, bahwa mereka harus menabung sebelum mereka menjadi tua.

Mereka lalu membicarakan Gilja. Daepung yakin Gilja tidak akan memecat Dongpal jika tahu Dongpal orang yang baik.

"Lantas apa yang akan kau lakukan pada Chorim?" tanya Daepung.

"Apalagi? Segera setelah bom itu jatuh, pernikahanku dan masa depanku dengannya hancur berantakan." jawab Dongpal.

Daepun heran kenapa Chorim tetap kekeuh mau menikah dengan pria lajang.

"Memiliki anak tiri yang sudah dewasa sama saja dengan tidak membesarkan anak orang lain." ucap Daepung.

"Diamlah." suruh Dongpal lalu masuk ke dalam.

"Aigo, punggungku." keluh Daepung sambil menyusul Dongpal masuk ke dalam.


Chorim pun bertanya-tanya, apa yang harus ia lakukan.


Roo Bi masuk ke kamarnya dan teringat kata-kata Roo Na saat ia melihat koper Roo Na.

"Aku lebih baik mati daripada harus mengembalikannya padamu. Wajah ini, nama ini, aku akan membawa mereka ikut mati denganku."

Roo Bi pun cemas. Ia takut Roo Na bunuh diri.


Tak lama kemudian, ia mendengar suara pintu yang dibuka.

Gilja masuk ke dalam rumah dengan wajah lesu.

Roo Bi langsung keluar dari kamar dan menghampiri ibunya.

Begitu melihat Roo Bi, sang ibu langsung menanyakan Roo Na. Roo Bi pun berkata, kalau Roo Na menginap di tempat Eun Ji tapi sudah pergi dari sana.

Mendengar itu, Gilja tambah cemas. Ia juga merasa bersalah karena tidak bisa membuat Roo Na nyaman dengannya.


In Soo menyusuri lorong kantor sambil berbicara dengan Roo Bi di telepon.

"Aku akan menghubungimu jika dia menghubungiku. Aku akan membawanya pulang ke rumahmu." In Soo berjanji.

Setelah menutup teleponnya, In Soo bertanya-tanya dimana Roo Na.


Tak lama berselang, ia berpapasan dengan Gyeong Min.

In Soo pun memberitahu Gyeong Min bahwa Roo Na tadinya ada di tempat Eun Ji tapi sekarang Roo Na sudah pergi dan tidak seorang pun yang tahu keberadaan Roo Na.

In Soo beralasan, ia memberitahu Gyeong Min karena ia berpikir mungkin Gyeong Min ingin tahu.


Roo Na luntang lantung di jalanan. Ia kelaparan, tapi uangnya hanya cukup untuk membeli satu gimbap.

Roo Na pun makan gimbap di jalan. Saat ia  tengah menyantap gimbap nya dengan kalap, dua orang pria menghampirinya.

Pria tersebut mengaku sebagai rekanan Yeonho dan ingin membantu Roo Na.

Mendengar itu, Roo Na langsung meminta mereka balas budi dengan meminjaminya uang.


Sepertinya dua temannya Yeonho tadi meminjami Roo Na sejumlah uang karena sekarang Roo Na bisa menyewa sebuah kamar dan membeli dua botol soju.

Roo Na menenggak sojunya, lalu teringat kata-kata In Soo.

"Saat kau melihat betapa bahagianya kami, kau akan menyadari betapa menyedihkannya hidupmu." 

Ia juga ingat kata-kata ibunya.

"Kenapa kau melakukan ini? Sebenarnya apa yang mau kau buktikan? Apa alasanmu berbohong?"

Lalu ia mengingat kata-kata Gyeong Min.

"Kau bukan Jeong Roo Bi yang sama lagi. Kau gila, bahkan lebih buruk."

Tak mau mendengar kata-kata itu lagi, Roo Na pun menutup telinganya.

"Aku tidak gila. Aku bahagia. Aku tidak gila, karena aku adalah Jeong Roo Bi." ucapnya.


Gyeong Min kembali ke rumah dan melihat semua orang tengah berkumpul di ruang tenganya.

"Gyeong Min-ah, kau terluka? Tentu saja, kau pasti terluka." ucap nenek.

"Aku minta maaf, Nek. Aku ingin membuatmu bahagia." jawab Gyeong Min.

"Nenek juga minta maaf karena tidak bisa mengerti istrimu." ucap nenek.

"Tapi Gyeong Min-ah, seharusnya ini tidak terjadi." jawab Tuan Bae.

"Aku tahu, ayah. Jangan cemas. Ibu juga jangan cemas." ucap Gyeong Min.

Gyeong Min lalu naik ke atas, menuju kamarnya.


Melihat Gyeong Min yang kurusan Geum Hee pun cemas.

Geum Hee lalu menyuruh nenek ke kamar karena ia mau memijat nenek.

"Roo Bi tidak tinggal dengan ibunya?" tanya nenek.

"Ada dimana dia? Diluar sangat dingin." jawab Nyonya Park.

"Dia selebriti. Dia tidak mungkin berkeliaran dengan bebas." ucap Geum Hee.

Geum Hee juga menyalahkan nenek yang mengusir Roo Na. Nenek pun membela diri. Ia berkata, ia menyuruh Roo Bi kembali ke rumah orang tuanya agar bisa instropeksi diri.

"Kalian tidak berpikir dia tidur di kursi taman? Kalau dia mati membeku, dia akan berada di halaman depan koran." ucap Geum Hee.

"Auto! Tidak bisakah kau diam!" sentak nenek.


Di kamarnya, Gyeong Min tak bisa berhenti memikirkan Roo Na.

Tak lama kemudian, sang kakak datang mengajaknya minum.


Se Ra menuangkan soju ke gelas Gyeong Min.

Gyeong Min heran Se Ra mengajaknya minum soju, bukan wine. Se Ra beralasan, soju adalah minuman yang tepat untuk orang patah hati.

Se Ra lalu berkata, Soju akan lebih nikmat diminum jika disantap dengan rebusan kimchi.


Tak lama, Geum Hee pun datang membawakan rebusan kimchi dan ikut minum bersama mereka.


Geum Hee yang sudah mulai mabuk menasihati Gyeong Min.

"Jangan terlalu keras pada dirimu. Rumit atau tidaknya pernikahan itu tergantung pada dirimu. Lihat diriku, suamiku meninggalkanku tanpa uang sepeser pun tapi aku baik-baik saja sekarang. Roo Bi 100 kali lebih baik dariku, jadi dia akan baik-baik saja. Saat aku melihatmu terluka, aku juga terluka. Kau hidup hanya sekali, kau harus bahagia. Jangan pedulikan kata orang."

"Aku mengerti apa yang coba kau katakan." jawab Gyeong Min.

Gyeong Min lalu beranjak ke kamarnya.


Di kamarnya, Gyeong Min kembali memikirkan Roo Na.


Ia ingat saat melamar Roo Bi.


Lalu ia ingat saat menikahi Roo Na.


Ia juga ingat kebersamaannya dengan Roo Na.

Gyeong Min lalu bertanya-tanya, dimana Roo Na.


Di kantor, Jin Hee dapat telepon dari Jiyeon yang memaksa bicara dengan Roo Na. Padahal Jin Hee sudah bilang, Roo Na tidak ada di kantor dan Jiyeon bisa bicara dengan Roo Na besok.

"Aku ingin bicara sekarang! Besok tidak bisa! Aku tidak akan ada lagi besok!"

Sontak, Jin Hee kaget mendengarnya. Ia langsung bertanya dimana Jiyeon tapi Jiyeon tetap memaksa bicara dengan Roo Na.

"Oke, aku akan  menghubungi Roo Bi." ucap Jin Hee.

Bersambung ke part 2.......