Thursday, August 31, 2017

The Legend Of The Blue Sea Ep 19 Part 1

Sebelumnya...


Chi Hyun memberontak saat akan ditangkap petugas. Ia merebut pistol petugas dan mengarahkannya pada Joon Jae. Chung pun seketika teringat pada sosok yang membuat Dam Ryung dan Sae Wa tewas. Sosok itu adalah… Chi Hyun!


Chung berlari dan memeluk Joon Jae. Tepat saat itu, pistol meletus. Chung tertembak! Tae Oh dan Nam Doo terkejut melihatnya. Petugas langsung meringkus Chi Hyun. Joon Jae membeku. Ingatannya langsung melayang ke sosok Dam Ryung yang tewas karena menyelamatkan Sae Wa. Chung pun mulai terkulai lemas. Joon Jae menatap Chung.

“Heo Joon Jae, aku takut kau akan melindungiku lagi, tapi aku sangat bahagia. Akhirnya telah berubah. Kali ini, aku yang melindungimu.” Batin Chung.

“Tidak.” Ucap Joon Jae seraya memegangi wajah Chung.


Kesadaran Chung akhirnya menghilang. Tangis Joon Jae pecah. Dipeluknya Chung dengan erat. Tak lama kemudian, ambulance datang. Chung pun langsung dibawa ke ambulance.


Di ambulance, tangis Joon Jae semakin deras. Tangannya terus menggenggam tangan Chung dengan erat.

“Jangan pergi. Jangan pergi ke manapun. Aku mencintaimu.” Isak Joon Jae.


Berita tertangkapnya Seo Hee langsung menjadi topic pembicaraan di Korea. Yoo Ran yang menyaksikan berita itu bersama Jin Joo dan Dong Shik di TV pun syok. Jin Joo dan Dong Shik berusaha menenangkan Yoo Ran.


Chi Hyun nampak tertekan dalam perjalanan menuju kantor polisi. Tiba-tiba, Chi Hyun minta berhenti di toilet. Di toilet, Chi Hyun menangis. Tak lama kemudian, Chi Hyun ingat saat ia menyuruh Nam Doo membunuh Joon Jae.

Flashback…

Chi Hyun memberikan dua serum yang berisi racun. Tapi Nam Doo hanya mengambil satu serum saja dan meyakinkan Chi Hyun kalau ia tidak akan gagal. Chi Hyun pun akhirnya menyimpan serum yang satunya.

Flashback end…


Chi Hyun kemudian mengeluarkan serum itu dari sakunya. Ia menangis menatap serum itu.


Chi Hyun keluar dari toilet dengan wajah pucat. Polisi langsung membawa Chi Hyun ke mobil. Apakah Chi Hyun meminum racun itu? Sepertinya iya…


Setibanya di rumah sakit, Chung langsung dibawa ke ruang operasi. Joon Jae menunggu diluar dengan cemas.


Chi Hyun diinterogasi Petugas Cha. Namun ia diam saja. Ingatannya melayang pada kata2 Dae Young.

“Mengapa aku hidup seperti binatang didorong ke sudut. Mengapa aku hidup seperti aku menerima hukuman, aku tidak yakin. Tapi aku harap hidupmu tidak seperti ini. Aku tidak yakin siapa dirimu, tetapi pikiran itu hanya terjadi dalam situasi ini.” ucap Dae Young.


Tiba-tiba saja, Chi Hyun merasa kesakitan. Tak lama kemudian, Chi Hyun terjatuh. Petugas Cha kaget.


Petugas Hong menginterogasi Seo Hee. Tapi Seo Hee masih saja tidak mau mengaku. Saat mereka sedang berdebat, Petugas Cha datang memberitahu Petugas Hong tentang apa yang terjadi pada Chi Hyun. Petugas Hong kaget. Seo Hee tersenyum sinis. Ia yakin, kedua petugas itu kaget lantaran kedatangan pengacaranya. Namun senyumnya langsung hilang saat Petugas Hong memberitahu soal Chi Hyun.


Seo Hee langsung berlari ke ruang interogasi Chi Hyun. Ia menemukan Chi Hyun yang terkapar di lantai. Seo Hee teriak, menyuruh petugas memanggil dokter. Petugas berkata, dokter akan tiba beberapa menit lagi. Chi Hyun bilang itu percuma. Dengan napas tersengal, ia berkata hanya tinggal menunggu waktu.

“Kenapa kau melakukan itu? Mengapa kau melakukan itu, Chi Hyeon-ah !?” tanya Seo Hee.


Chi Hyun menangis. Lalu dengan napas tersendat, ia berkata menjadi anak Seo Hee adalah kutukan baginya. Setelah mengatakan itu, Chi Hyun menghembuskan napas terakhirnya. Tangis Seo Hee pecah.


Chung masih belum keluar dari ruang operasi. Di depan ruang operasi, Joon Jae terus menunggui Chung ditemani Nam Doo dan Tae Oh. Tak lama kemudian, Nam Doo dapat kabar dari Detektif Hong tentang kematian Chi Hyun. Joon Jae pun terkejut mendengarnya.

“Dia tadinya memberiku dua dosis akar wolfsbane. Tapi kubilang aku tidak butuh dua dan mengganti yang kuambil. Tapi tampaknya Heo Chi Hyeon menyimpan yang satu lagi dan meminumnya. Itu sangat mematikan sehingga jika diminum, hanya butuh waktu lebih lama, tapi tetap fatal.” Ucap Nam Doo.

“Dia sangat tidak bertanggung jawab sampai akhir.” Jawab Joon Jae.


Chung akhirnya dipindahkan ke ruang rawat. Dokter yang mengoperasi Chung terheran-heran karena Chung masih bisa bertahan, padahal peluru itu menembus organ vitalnya.

“Dia kehilangan banyak darah, dan tekanan darahnya menurun drastis juga. Dalam kasus seperti ini, mereka biasanya kena shock, jadi aku memasang mesin jantung-paru-paru padanya. Tapi setelah aku selesai menjahit lukanya... Ini biasanya tidak seperti ini. Tapi otot-otot jantungnya pulih dengan amat mudah.” Ucap dokter.

“Bagaimana dengan tanda-tanda vitalnya?” tanya Joon Jae.

“Itu juga biasanya tidak seperti ini. Tanda-tanda vitalnya menjadi stabil dengan sangat cepat. Tentu saja, lokasi pelurunya cukup kritis, jadi kita perlu mengamatinya untuk melihat kapan dia sadar kembali.” Jawab dokter.


Dokter pun penasaran, makanan seperti apa yang dimakan Chung hingga Chung mampu bertahan dari kondisi kritis seperti itu.

“Daripada makan sesuatu yang aneh, dia terutama makan sangat banyak.” jawab Nam Doo.

Dokter pun makin penasaran dengan Chung. Untuk menghilangkan kecurigaan si dokter, Joon Jae pun langsung mengusir si dokter dengan cara halus.


Si A yang lagi tidur melihat kehidupan masa lalunya sebagai pengantin Dam Ryung. Saat malam pertama, Dam Ryung pergi meninggalkan Si A.
Si A yang lagi tidur itu pun langsung ngomel2…

“Bagaimana bisa kau pergi begitu saja? Kau mau pergi ke gadis mana!” teriaknya.


Si A terbangun dan heran sendiri dengan mimpinya.


Di ruang makan, Jin Joo dan Dong Shik lagi membahas soal Chung yang tertembak karena melindungi Joon Jae.

“Katakan. Bisakah kau...menerima tembakan untukku?” tanya Jin Joo.

“Aku hanya bisa menerima lemparan batu.” Jawab Dong Shik.

Jin Joo langsung kesal.

“Bagaimana denganmu?” tanya Dong Shik.

“Aku harus membesarkan anak-anak. Kalau aku kena tembak, siapa yang akan merawat anak-anak?” jawab Jin Joo.


Si A masuk ke dapur dan penasaran kenapa Jin Joo dan Dong Shik membicarakan soal tembakan. Jin Joo pun memberitahu tentang Chung yang tertembak karena melindungi Joon Jae. Si A syok mendengarnya.


Di rumah sakit, Joon Jae dan Yoo Ran menunggui Chung. Yoo Ran cemas karena Chung masih belum sadar padahal operasinya berjalan dengan baik. Joon Jae menenangkan Yoo Ran dengan berkata, Chung belum sadar karena baru mengalami operasi besar.

“Apa dia bicara tentang melakukan ini?” tanya Yoo Ran.

Joon Jae pun bingung, Bicara apa?


Yoo Ran pun memberitahu Joon Jae apa yang pernah dikatakan Chung padanya. Chung mengatakan soal putri duyung. Chung bilang, jika putri duyung membunuh pangeran dengan sebilah pisau, maka putri duyung bisa hidup. Tapi jika dia gagal membunuhnya, maka dia akan jadi buih dan menghilang.

“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Chung pada Yoo Ran.

“Pada zaman dahulu, seorang pria jatuh ke laut, tapi kapalnya terbalik. Dia bertemu putri duyung dan selamat. Dia menikahi putri duyung itu dan punya banyak anak. Mereka hidup berbahagia. Anak-anak yang dilahirkan dari manusia dan duyung. Sebagian kembali ke air, dan sebagian tetap di darat. Mereka menjadi seperti pelindung bagi orang-orang di desa itu. Sambil berkomunikasi dengan duyung-duyung di laut, ketika ada badai. Mereka memberi tahu orang-orang agar tidak ke laut. Ada juga kisah putri duyung yang seperti ini. Putri duyung pergi ke darat bukan karena keserakahan, tapi karena cinta.” Jawab Yoo Ran.

“Meski akan menyenangkan kalau semua cerita punya akhir yang bahagia, ada juga cerita yang tidak.” Jawab Chung.

Flashback end…

“Dia bicara tentang itu?” tanya Joon Jae heran.

“Ya. Jadi karena ini yang terjadi, hatiku sakit sekali. Aku ingin dia cepat sadar sehingga bisa mengucapkan terima kasih. Bagaimana dia bisa berpikir untuk berlari di depan senjata?” ucap Yoo Ran.


Joon Jae lalu teringat perdebatannya dengan Chung soal tembakan di pinggir tebing, ketika mereka dikejar2 orang Nyonya Jang.

“Itulah. Orang yang begitu takut pada senjata tidak punya rasa takut.” Ucap Joon Jae.

Joon Jae lalu bertanya pada ibunya, apa benar ada legenda seperti itu. Apa pria itu benar2 menikahi putri duyung dan punya anak, lalu hidup bahagia untuk waktu yang lama?

“Apa kau tidak ingat? Ketika kau kecil dan bilang tidak bisa tidur, aku selalu menceritakan kisah itu. Kau sangat menyukainya.” Jawab Yoo Ran.

“Senang sekali kalau itu benar.” ucap Joon Jae.

Yoo Ran lalu menyuruh Joon Jae mengantarkan sup yang dibawanya untuk istri Sopir Nam.

Saat menuju ruangan Sopir Nam, Joon Jae bertemu Nam Doo. Joon Jae pun mengajak Nam Doo ikut dengannya.


Sopir Nam kembali melihat kehidupan masa lalunya. Ia ketahuan oleh Nam Doo saat tengah bersembunyi dari kejaran Nam Doo dan Chi Hyun di masa lalu. Tapi Nam Doo malah membantunya. Nam Doo memberi tahu jalan agar Sopir Nam bisa sampai ke sebuah tempat bernama Bancheon Inn.

“Pergilah ke ibukota, katakan pada mereka untuk memberikan kuda yang ditahan Park Moo. Lakukan pekerjaan Kepala Desa minta kepadamu.” Suruh Park Moo.

“Mengapa kau melakukan ini?” tanya Sopir Nam bingung.

“Untuk membayar utangku dan untuk membalas dendam.” Jawab Park Moo.


Kembali ke masa kini, dimana Nam Doo yang pertama kali melihat Sopir Nam membuka mata. Istri Sopir Nam langsung pergi memanggil dokter. Begitu melihat Nam Doo, Sopir Nam langsung memanggil Nam Doo dengan nama Park Moo. Kontan saja, Nam Doo bingung. Nam Doo bilang namanya Jo Nam Doo, bukan Park Moo.


Sopir Nam lalu melihat Joon Jae, dan memanggil Joon Jae Dam Ryung. Joon Jae pun mengerti bahwa Sopir Nam juga mendapat penglihatan tentang kehidupan mereka di masa lalu. Setelah berhasil menguasai dirinya, Sopir Nam memberi tahu Joon Jae bahwa ia bermimpi. Mimpi yang sangat panjang. Tangan Sopir Nam nampak menggenggam erat tangan Joon Jae.

“Itu bagus karena paman sudah bangun.” Jawab Joon Jae.


Joon Jae pun berterimakasih karena Sopir Nam sudah mau menjadi temannya, baik di kehidupan masa lalu maupun di kehidupan sekarang.


Joon Jae dan Nam Doo kembali menunggui Chung. Joon Jae heran sendiri karena Chung masih belum sadar.

“Itu kataku. Mereka jelas mengatakan operasinya berjalan lancar. Apakah ada sesuatu yang pasti berbeda dari kita, neurologis atau sesuatu?” jawab Nam Doo.

“Apa katamu?” tanya Joon Jae bingung

“Sejujurnya, aku mendengar percakapan antara kalian. Antara kau dan Chung... tentang putri duyung dan hal-hal seperti itu.” jawab Nam Doo.

Joon Jae terkejut mendengarnya. Takut rahasia Chung ketahuan, Joon Jae pun berkata mereka hanya bercanda saat itu.

“Makanya itu. Rumah kita bukanlah taman kartun atau apapun itu. Aku tidak tahu kenapa aku percaya ini, tapi aku memercayainya. Chung tidak seperti kita. Dia seorang putri duyung.” Jawab Nam Doo.

Joon Jae pun gugup. Melihat Joon Jae gugup, Nam Doo tertawa dan berkata ia tidak akan melakukan apapun pada Chung. Joon Jae tidak percaya. Nam Doo pun mengakui bahwa dirinya adalah seseorang yang matanya menjadi buta karena uang, tapi ia akan tetap setia pada dua prinsip.

“Apa?” tanya Joon Jae.


“Aku, tanpa kecuali, membalas kembali musuhku. aku membayar kembali utangku jika mungkin. Meskipun Chung tidak menyelamatkanku, dia melindungi Joon Jae-ku. Joon Jae-ku.” Jawab Nam Doo.

Joon Jae tertegun mendengarnya, tapi kemudian ia bergidik ngeri mendengar kata2 ‘Joon Jae ku’ yang keluar dari mulut Nam Doo.

“Hei, dan ini tulus tapi setelah mengatakan itu aku merasa ngeri juga.” jawab Nam Doo.


Tiba2, terdengar lah suara Chung. Chung protes karena Nam Doo mengatakan Joon Jae ku. Ia bilang, Joon Jae itu miliknya. Joon Jae dan Nam Doo pun senang karena Chung akhirnya sadar.

“Kalau kau tidak bangun aku benar-benar akan mengikutimu.” Ucap Joon Jae.

“Kenapa? Kau bilang kau akan bertemu seorang wanita cantik dan hidup dan makan dengan baik.” Jawab Chung.


“Tapi tidak ada. Tidak ada yang lebih cantik darimu tidak peduli berapa banyak aku mencari.” Ucap Joon Jae.

“Kau mencari?” tanya Chung.

“Aku memikirkannya dan menyadari hidup ini singkat. Aku merasa cintaku akan lebih panjang dari hidupku. Jadi itu sebabnya, dalam kehidupan ini, cintaku tidak akan berakhir.” Ucap Joon Jae.


Chung langsung menangis haru mendengar kata2 Joon Jae. Joon Jae lantas menggenggam tangan Chung dan berterimakasih karena Chung sudah kembali padanya. Joon Jae lalu mencium tangan Chung. Melihat hal itu, Nam Doo merasa mual dan memilih pergi.


Masyarakat langsung melempari Seo Hee dengan telur dan meneriaki Seo Hee pembunuh saat Seo Hee dibawa keluar dari kantor polisi. Seo Hee awalnya masih bisa menahan diri, namun saat melihat sosok Yoo Ran ditengah orang2 yang melemparinya, ia marah dan ingin menyerang Yoo Ran. Polisi langsung menahan Seo Hee dan menyeret paksa Seo Hee ke dalam bus tahanan.


Dae Young yang menyaksikannya lewat televisi pun tersenyum evil. Dae Young lalu meraih ponselnya dan menghubungi Professor Jin. Meski tidak bersuara, Profesor Jin tahu Dae Young lah yang menghubunginya.


Profesor Jin langsung mengontak Joon Jae. Joon Jae yang saat itu tengah ada di rumah sakit, langsung mengontak Nam Doo dan menyuruh Nam Doo menghubungi Detektif Hong.


Dae Young mulai berkonsultasi dengan Profesor Jin. Profesor Jin penasaran, kenapa Dae Young ingin mencari ingatannya yang hilang.

“Pernahkah kau berjalan tanpa ingatanmu? Perasaan terperangkap di hutan dengan dua matamu tertutup tapi mendengar suara binatang dari sekitarmu. Takut dimakan oleh hewan itu tidaklah sesulit itu, tapi takut tidak tahu kapan dan di mana sesuatu akan datang menyerangmu... Itulah apa yang membuatku lebih gila.” jawab Dae Young.

“Di saat yang sama, bukankah ketakutan lebih baik daripada kenyataan?” tanya Profesor Jin.

“Tidak, tapi aku masih harus tahu. Aku tidak bisa hidup seperti ini lagi. Karena dosa yang aku bahkan tidak bisa mengingatnya.” Jawab Dae Young.


Dae Young pun mulai diterapi. Seketika, ia melihat kehidupannya sebagai Bangsawan Yang.


Sementara itu, Joon Jae sedang dalam perjalanan menuju klinik Profesor Jin.


Dae Young melihat kehidupan masa lalunya.

“Tuan Cheon, aku dengar kau bisa meramal lebih baik daripada kebanyakan dukun di luar sana.” tanya selir Bangsawan Yang.

“Ini bukan berarti bahwa aku memiliki kemampuan khusus meramal, hanya aku memiliki banyak ketertarikan dalam nasib orang lain.” Jawab Tuan Cheon, Profesor Jin di masa lalu.

“Bagaimanapun, bacalah nasib kami untuk tahun baru.” Pinta selir Bangsawan Yang.

“Bunga-bunga indah yang menembus salju yang keras dan mekar di mana-mana, semuanya milikmu.” Ucap Tuan Cheon.

“Semuanya milikku, bunga-bunga indah? Mengapa? Bunga bukanlah emas dan barang berharga.” Jawab Selir Bangsawan Yang.

“Aroma menawan dari bunga-bunga akan menembus celah-celah tubuhmu sampai kau mati. Bahkan jika semua mati dan terlahir kembali, semuanya tidak akan saling meninggalkan dan akan bersama-sama.” Jawab Tuan Cheon.
“Ini sesuatu yang baik, kan?” tanya Selir.

“Dosa tidak dapat menentukan nasib baik dan jahat.” Jawab Tuan Cheon, membuat si Selir sedikit kesal.


“Lalu, bagaimana denganku?” tanya Bangsawan Yang.

“Pohon yang tersambar petir masih ada ruhnya hingga bisa tumbuh lagi. Apa kau menerima hukuman agar bisa hidup? Atau hidup agar bisa menerima hukuman? Kau akan menjalani hidup yang membingungkan.” Jawab Tuan Cheon.

“Apa maksudmu?” tanya Bangsawan Yang kaget.

“Jadi, kau mungkin tersambar petir dan terbakar sampai jadi debu hitam. Lebih baik kalau tidak dilahirkan lagi tapi ini juga takdir yang tidak bisa kau pilih.” Jawab Tuan Cheon.

Bangsawan Yang pun kesal dengan ramalan Tuan Cheon. Saking kesalnya, ia pun mengusir Tuan Cheon.


Setelah itu, Dae Young melihat Bangsawan Yang dan selirnya hendak melarikan diri, namun ditangkap oleh pasukan yang dipimpin Park Moo. Park Moo bertanya, apa Bangsawan Yang mengenal seseorang yang bernama Park No Joon.

“Aku tidak pernah mendengar, bertemu, atau melihat orang itu.” jawab Bangsawan Yang.

“Kapalnya ditahan paksa di pelabuhan, sehingga dia harus menetap di sini selama 20 hari dan ditemukan sudah jadi mayat hanya karena dia keberatan.” Jawab Park Moo.


Park Moo lantas mencabut pedangnya dan mengarahkannya pada Bangsawan Yang. Park Moo bilang, ia adalah putra Park No Joon, seseorang yang dibunuh Bangsawan Yang. Park Moo lalu menebas Bangsawan Yang, untuk membalaskan dendam atas kematian ayahnya dan Dam Ryung.

Sebelum meninggal, Bangsawan Yang memastikan bahwa dirinya akan terlahir kembali dan memiliki semua yang tidak dia miliki di dunia ini.


Setelah itu, giliran si Selir yang dibunuh. Park Moo memaksa selir Bangsawan Yang minum racun Bunga Wolfbane.


Tepat setelah selir Bangsawan Yang tewas, Dae Young terbangun. Dae Young lalu bertanya, Profesor Jin ada di pihak siapa.

“Dulu seperti itu, dan sekarang seperti ini juga. Aku hanya seseorang yang mengamati takdir. Aku tidak berada di pihak mana pun.” Jawab Profesor Jin.

Dae Young lalu berdiri dan mencekik Profesor Jin. Seolah sudah bisa membaca nasibnya, Profesor Jin tidak melawan. Tepat saat itu, Joon Jae datang menyelamatkan Profoser Jin.


Dae Young dan Joon Jae pun saling bertatapan. Setelah itu, kita melihat kehidupan masa lalu dimana Dam Ryung dan Bangsawan Yang saling bertatapan. Bangsawan Yang yakin takdir akan berpihak lagi padanya kali ini.


“Tidak masalah di pihak mana takdir berada. Pada akhir takdir buruk itu, kami bersama, jadi kami bahagia. Begitu juga sekarang.” jawab Dam Ryung.


Kembali ke kehidupan sekarang, dimana Penyidik Hong akhirnya meringkus Dae Young tepat saat Dae Young akan melukai Joon Jae. Nam Doo yang cemas langsung menghampiri Joon Jae. Dae Young terkejut melihat sosok Nam Doo yang mirip Park Moo. Ditatap seperti itu, membuat Nam Doo sedikit takut.


Si A datang menjenguk Chung. Tak lupa, ia membawa bunga. Karena Chung masih tidur, Si A pun meletakkan bunga yang dibawanya di atas kasur dan berniat pergi. Tapi tiba2 saja, Chung membuka matanya membuat Si A terkejut setengah mati. Chung tidak menyangka Si A akan datang menjenguknya.

“Kudengar kau tidak sadar, jadi aku hanya akan meninggalkan bunganya di sini.” Jawab Si A.

“Apa kau sebenarnya khawatir padaku?” tanya Chung.

“Jujur saja, ini pertama kali aku melihat seseorang yang terkena tembakan. Apa kau benar-benar tertembak? Astaga, bagaimana ini? Pasti sakit sekali. Jadi, di mana tepatnya kau tertembak?” oceh Si A.

“Kedengarannya kau menikmati ini.” protes Chung.

“Hei, apa kau gila? Aku tidak begitu menyukaimu, tapi aku tidak membencimu sampai senang kau tertembak.” Jawab Si A.

“Jadi, kau menyukaiku?” tanya Chung.

“Sudah kubilang. Aku bukannya benar-benar menyukaimu.” Jawab Si A.

“Tapi aku menyukaimu.” Ucap Chung.

“Tapi kenapa?” tanya Si A penasaran.

“Aku selalu ingin menjadi sepertimu. Kau bisa menua bersama orang yang kau suka.” Jawab Chung.

“Kau mau bilang aku tua?  Aku tampak muda untuk usiaku. Aku bukan tipe yang akan menua bersama seseorang.” sewot Si A.

“Bukan itu, tapi aku iri. Kau bisa menghabiskan waktu bersama orang yang kau suka.” Ucap Chung.

“Apa yang bisa kulakukan meski punya banyak waktu? Orang yang kuinginkan hanya melihatmu. Ah, aku bahkan bermimpi ditelantarkan suamiku! Hei, aku lebih iri padamu.” Jawab Si A.

“Orang yang jadi takdirmu akan datang.” ucap Chung.

“Apa kau kerasukan setelah tertembak? Ada apa denganmu?” tanya Si A.

“Aku juga sudah menunggu lama, dan dia muncul. Jadi takdirmu akan muncul juga, Cha Si Ah.” Jawab Chung.

“Kau mengatakan untuk menjauh dari Joon Jae, ya? Aku akan melakukannya meski kau tidak bilang. Kau bahkan tertembak demi Heo Joon Jae. Bagaimana aku bisa mengalahkan itu?” ucap Si A.


Si A lalu beranjak pergi. Dan seperti yang dibilang Chung, Si A bertemu dengan takdirnya di depan rumah sakit. Salju tiba-tiba turun, sedikit mengejutkan Si A. Lalu tak lama, Tae Oh muncul di hadapannya. Tidak seperti biasanya, Si A nampak terpesona pada Tae Oh.


Tapi Si A seperti biasa, tetap jual mahal saat Tae Oh berniat mengantarnya pulang. Tae Oh lantas mengeluarkan ponselnya, tapi Si A dengan pedenya merebut ponsel Tae Oh dan memotret dirinya. Si A kemudian melihat galeri foto Tae Oh. Dan dia pun sewot melihat banyaknya foto Chung di ponsel Tae Oh.


Si A pun pergi dengan wajah super kesal. Tapi kemudian, seseorang mengikutinya. Si A mengira Tae Oh lah yang mengikutinya. Ia pun berbalik dan terkejut melihat sosok yang mengikutinya adalah orang gila. Si A langsung lari. Tepat saat itu, Tae Oh datang dan langsung memukuli si orang gila.


Si A terduduk di bangku taman. Ia menangis melihat Tae Oh berupaya mengusir orang gila itu. Setelah orang gila itu pergi, Tae Oh menghampiri Si A. Tae Oh memeluk Si A. Setelah itu, Tae Oh menatap Si A dan… mencium Si A.