Thursday, January 31, 2019

The Promise Ep 27 Part 2

Sebelumnya...


Se Jin masuk ke kamar Na Yeon. Ia kesal saat melihat foto Sae Byeol yang bertengger di meja.

Tak lama kemudian, Na Yeon masuk membawakannya teh dan menyuruhnya duduk.

"Aku lega keluargamu tidak disini." ucap se Jin.

"Sejujurnya, aku tidak suka melihatmu. Melihatmu duduk di kamarku, membuatku tidak nyaman." jawab Na Yeon.

"Benar. Aku akan langsung ke intinya." ucap Se Jin.

Se Jin lalu memberikan paper bag yang dibawanya. Ia berkata, itu adalah syal Sae Byeol yang ketinggalan di apartemen Tae Joon. Ada topi dan ikat rambut juga di dalamnya yang merupakan hadiah dari Tae Joon.

"Kau datang jauh-jauh ke rumahku jam segini, hanya untuk mengembalikan ini?" tanya Na Yeon.


"Kau tahu aku orang yang tidak sabar. Aku ingin hal ini segera berakhir." jawab Se Jin.

"Mengakhiri hal ini? Apa masih ada yang harus kita selesaikan?" tanya Na Yeon.

"Aku pikir Tae Joon mengalami kesulitan karena Sae Byeol. Aku tidak bisa mentolerirnya. Kepalaku bisa memahaminya tapi hatiku tidak. Jadi tolong bantu aku. Jika Tae Joon datang untuk melihat Sae Byeol, jangan izinkan. Jika dia mulai merasa terikat dengannya, tidak akan ada jalan untuk kembali."


"Kau harusnya tidak datang kesini. Itu masalah dintara kalian. Pergi tanyakan ke Tae Joon. Mintalah padanya dan selesaikan masalah diantara kalian."

Na Yeon berdiri dan menyuruh Se Jin pergi karena ibu dan adiknya akan segera pulang.

"Arraseo, pastikan kita tidak bertemu lagi." ucap Se Jin.

"Kau yang harus memastikannya. Aku mohon padamu." jawab Na Yeon.


Besoknya, Hwi Kyung mulai bekerja di Baekdo. Saat ia berjalan di lobby, semua orang kasak kusuk membicarakannya. Tapi ia santai saja, seolah tak terpengaruh dengan pandangan sekitarnya.

Di depan lift, Tae Joon melihatnya. Tae Joon berdehem, memberitahukan keberadaannya tapi Hwi Kyung tidak mendengar dan langsung masuk ke lift begitu pintu lift terbuka.


Begitu masuk ruangannya, Hwi Kyung menemukan karangan bunga ucapan selamat dari Do Hee di atas mejanya.

Hwi Kyung sedikit tersenyum.


Namun kebahagiaan Hwi Kyung itu langsung dirusak oleh telepon dari mantan istrinya yang marah-marah lantaran reporter masih datang mengubernya.

Hwi Kyung : Jangan khawatir, tidak akan terjadi sesuatu.


Setelah itu, Hwi Kyung langsung menghubungi Do Hee.

Hwi Kyung : Baek Do Hee-ssi, ayo bertemu.

Do Hee : Kau ingin merayakan promosimu denganku?

Hwi Kyung : Kau tahu dengan baik apa yang kuinginkan.

"Jadi kau ingin aku menahan diri?" tanya Do Hee.

"Kau seharusnya juga tahu itu." jawab Hwi Kyung.

"Aku sedikit takut. Baiklah. Sampai jumpa disana." ucap Do Hee.


Usai bicara dengan Hwi Kyung, Do Hee sewot sendiri lantaran Hwi Kyung masih saja berusaha melindungi wanita itu.

"Park Hwi Kyung-ssi, berhenti memprovokasiku atau mungkin aku akan menulis artikel tentangmu." ucap Do Hee.


Di kamarnya, Yoo Kyung sedang menatap kartu keluarga Mal Sook serta surat adopsi Na Yeon dan foto Na Yeon.

Ia lalu teringat kata-kata suaminya tentang Na Yeon yang datang ke rumah mereka untuk bekerja.

Tak lama kemudian, Yoo Kyung memasukkan semua dokumen itu ke tasnya dan beranjak pergi.


Na Yeon dan Sae Byeol terburu-buru keluar dari rumah. Sae Byeol cemas akan terlambat ke sekolah.

"Ibu ada pekerjaan memasak hari ini, jadi ibu harus bergegas."

"Haruskah kita lari?" tanya Sae Byeol.

"Kita bisa berjalan cepat-cepat." jawab Na Yeon.

Na Yeon lantas menggandeng Sae Byeol dan mulai berlari. Namun langkahnya terhenti ketika Yoo Kyung tiba-tiba datang dan memanggilnya.

"Apa yang membawamu kesini?" tanya Na Yeon sambil menyembunyikan Sae Byeol di belakangnya.

"Itu putrimu?" tanya Yoo Kyung.

"Bagaimana kau tahu aku tinggal disini? Jika kau butuh layanan catering, kau bisa menelponku." jawab Na Yeon.

"Bisakah kita bicara di tempat lain?" tanya Yoo Kyung.


Lantas mereka bicara di sebuah kafe. Yoo Kyung

"Kau tumbuh dengan sangat baik. Jika bukan karena suamiku, mungkin aku tidak akan sadar dan akan memintamu memasak lagi untukku. Tapi aku senang. Kupikir kau besar di panti asuhan tapi untungnya kau diadopsi dan menemukan keluarga baru."

"Kau benar. Jika kau tidak mencampakkanku ke panti asuhan 20 tahun lalu, aku tidak akan seberuntung ini."

"Kau masih kurang ajar seperti 20 tahun lalu, saat kau meninggalkan rumahku dengan tanganmu yang mengepal. Jadi kau datang ke rumah kami untuk berterima kasih padaku? Suamiku mengatakan itu. Kau datang ke rumah kami secara kebetulan, hanya untuk bekerja. Tapi aku tidak bisa mempercayainya."

"Kau masih cantik seperti 20 tahun lalu dan kau masih tidak pengertian seperti dulu. Kau lah yang memanggilku untuk bekerja. Bukan aku yang memintamu."


"Katakan itu benar, tapi bagaimana dengan yang kedua kalinya? Kau tahu itu rumahku tapi kau datang seolah-seolah tidak pernah terjadi apapun. Kau bersikap seolah-olah tidak mengenal kami dan memasak untuk kami dengan penuh senyuman. Kenapa? Kenapa kau kembali padahal kau tahu semuanya. Karena uang? Kudengar kau single parent. Suamiku mengatakan,
kau berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupmu dan anakmu tidak punya ayah. Apa karena itu?"

"Bukan karena itu. Aku hanya ingin kembali kesana. Rumahmu membawaku kembali ke masa lalu. Karena itulah."

"Benarkah?"

"Aku harus pergi."

"Apa yang dia lakukan? Ayah gadis itu. Bagaimana bisa dia tidak bertanggung jawab padamu dan anakmu? Siapa dia?"

"Kau ingin tahu?"

"Siapa ayahnya?" tanya Yoo Kyung lagi.


Bersambung.......

The Promise Ep 27 Part 1

Sebelumnya...


Se Jin menegur ayahnya yang baru pulang.

"Ayah pulang? Sangat terlambat. Aku tidak berharap ayah pulang sepagi ini."

Tuan Jang hanya tertawa.

"Kau tidak menemui Tae Joon hari ini?"

"Hanya saat makan siang. Ibu masih marah. Aku tidak mau membuatnya tambah marah jadi aku pulang lebih awal."

"Ibumu masih marah?"

"Aku sedikit cemas. Dia memarahiku agar tidak mengganggunya, tapi dia bahkan tidak keluar dari kamarnya malam ini."

"Masuk lah ke kamarmu. Biar ayah yang mengurus ibu."


Yoo Kyung menanyakan soal Na Yeon. Ia bahkan menunjukkan foto Na Yeon serta uang yang semula hendak diberikan Tuan Jang pada Na Yeon. Sontak Tuan Jang kaget. Ia baru sadar penyebab istrinya marah.

"Wanita di foto ini adalah wanita katering yang aku pekerjakan kemarin. Kenapa kau memiliki fotonya? Dan apa maksud uang itu?"

"Aku yakin kau sudah tahu. Kau mungkin sudah mengetahui wanita itu adalah Lee Na Yeon."

Sontak Yoo Kyung kaget dan marah. Ia menuduh Tuan Jang masih berhubungan dengan Na Yeon selama ini.

"Jangan buat kesimpulan sendiri. Jangan seperti ini! Aku bertemunya saat dia datang ke rumah kita. Aku tidak yakin jadi aku memeriksanya dan dia Na Yeon."


"Lalu kenapa dia datang ke rumah kita! Kenapa begitu tiba-tiba!"

"Aku rasa itu tidak disengaja. Dia datang untuk bekerja dan secara kebetulan, dia datang ke rumah kita."

"Benarkah semua itu? Tidak ada motif lain?"

"Motif lain apa? Jangan ganggu gadis malang itu. Dia ibu tunggal dan dia hidupnya pas-pasan."

"Kau yakin dia tidak punya motif lain? Dia tidak berniat membalas dendam karena dia dendam pada kita?"


Kata-kata Yoo Kyung langsung membuat Tuan Jang curiga.

"Balas dendam? Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan?"

Untuk menutupi rahasianya, Yoo Kyung pun membantahnya dan meninggikan suaranya. Yoo Kyung juga menyebut Na Yeon gadis licik.

Sekarang, Yoo Kyung mempermasalahkan soal uang yang hendak diberikan Tuan Jang pada Na Yeon. Tuan Jang beralasan, ia hanya berniat membantu Na Yeon karena merasa bersalah sudah mengirim Na Yeon ke panti asuhan dulu. Yoo Kyung makin sewot. Tuan Jang melarang Yoo Kyung menemui Na Yeon.

Tuan Jang : Kau ibu calon pengantin, jadi berpikirlah positif dan jangan macam-macam!

Tuan Jang beranjak pergi.

Yoo Kyung : Bisa-bisanya aku mempekerjakan dia.


Na Yeon masuk ke kamarnya dan mendapati Sae Byeol asyik bermain boneka yang dibelikan Se Jin dan mengabaikan barbie darinya.

Na Yeon berusaha membujuk Sae Byeol untuk mengajak Saeri bermain juga. Sae Byeol tidak mau dan mengaku sudah bermain setiap hari dengan Sae Ri.

"Jika kau terus bermain dengan teddy bear, Saeri akan bosan. Kenapa kau tidak mau bermain dengan Saeri?"

"Aku tidak mau!"

Kesal, Na Yeon pun merebut teddy bear Se Jin dan menyuruh Sae Byeol tidur.

Sae Byeol marah, berikan teddy bearku!


Mal Sook datang dan melerai mereka. Na Yeon berkata, Sae Byeol terus bermain dengan teddy bear sepanjang hari dan tidak mau bersih-bersih.

Sae Byeol yang marah sama Na Yeon, memilih tidur bersama neneknya.

Na Yeon kesal Sae Byeol tidak mempedulikan boneka darinya.

Selang beberapa menit, Na Yeon di SMS Geum Bong yang menyuruhnya membuka pintu.


Na Yeon memapah Geum Bong yang mabuk ke dalam. Geum Bong teriak2, mengatakan ia minum karena bahagia.

Tak mau sang ibu keluar dan melihat Geum Bong mabuk, Na Yeon menutup mulut Geum Bong dan meminta Geum Bong diam.

"Tapi eonni..." wajah Geum Bong berubah sedih, sekarang hidupku mungkin berubah. Aku benci diriku. Aku merasa diriku pecundang. Aku merasa diriku orang jahat.

"Baiklah, Geum Bong. Kakak akan membuatkanmu teh madu. Ayo ke atas."


Tapi Mal Sook keburu keluar kamar dan melihat Geum Bong mabuk.

"Apa yang bisa dibanggakan darinya! Dia tidak pantas mendapatkan teh madu! Setelah Eun Bong pindah, kupikir aku tidak akan pernah melihat anakku mabuk lagi."

"Aku pikir sesuatu membuatnya kesal." jawab Na Yeon.

"Eomma, apa yang kau lakukan saat kau muda? Kenapa kau bukan orang kaya! Kenapa tidak mendirikan peternakan ayam atau bekerja sama dengan restoran ayam terkenal?Kau mendirikan restoran ayam kecil! Kenapa keluarga berbisnis seperti ini!"

"Geum Bong-ah, ada apa? Kau mabuk, ayo ke atas." ucap Na Yeon.

Tapi Geum Bong terus teriak-teriak, menyalahkan sang ibu yang sudah membuat hidupnya kacau. Sontak Mal Sook syok dan sedih.


Na Yeon membaringkan Geum Bong di kasur.

Geum Bong : Kenapa kau tidak hidup lebih baik! Aku akan meluruskan semuanya! Bahwa itu bohong, bahwa aku menipunya! Aku akan menjelaskan semuanya dan mengakhiri sandiwaraku!

Mendengar itu, Na Yeon tersenyum dan mengelus pipi adiknya.

Na Yeon : Kau harus melakukannya. Jangan simpan kekhawatiranmu lebih lama lagi. Katakan semuanya.


Mal Sook tidak bisa tidur karena kata-kata Geum Bong tadi.

"Apa? Restoran ayam kecil? Benar, aku orang bodoh dan tidak mampu yang menghemat cukup uang untuk membuka restoran kecil itu. Gadis mengerikan itu... setelah aku membesarkannya sendirian tanpa sosok ayahnya... apa? Kenapa aku tidak kaya?

 Bagaimana dia bisa begitu kejam?"


Besoknya di kantor, Tae Joon melihat para karyawan bergosip setelah membaca pengumuman pengangkatan Hwi Kyung ke kantor pusat manajemen. Mereka tidak tahu Hwi Kyung itu siapa.

Sementara, para bawahan Tae Joon mencibir pengangkatan Hwi Kyung. Mereka tidak percaya Hwi Kyung yang bekerja di gudang tiba-tiba diangkat menjadi direktur di kantor pusat. Mereka juga mengatakan, Hwi Kyung memanfaatkan koneksi sang ayah.

"Kalian tidak dengar? Direktur baru kita benar-benar hot. Semua wanita membicarakannya."

"Sadarkan dirimu Bang Sora-ssi, dia bercerai."

"Siapa yang peduli. Dia tidak punya anak."


Tak lama kemudian, Tae Joon keluar dan Tuan Bae langsung membicarakan Hwi Kyung.

"Apa kesepakatan tentang direktur baru kita? Menurutmu, penunjukannya benar?"

"Apa maksudmu?" tanya Tae Joon bingung.

"Pikirkan usia kita sekarang. Kita membutuhkan manajemen ahli, tapi dia baru saja jatuh dari langit. Dia akan menjadi bos baru kita, tetapi di atas menjadi putra pimpinan. Ada begitu banyak rumor buruk tentangnya."

Mendengar itu, Tae Joon marah.

"Dia bahkan belum mulai bekerja disini. Fitnah semacam itu membuatku merasa sangat tidak nyaman dan gelisah. Aku mencoba melihatnya secara lebih gamblang. Aku perlu laporan tentang efek Gelombang Korea pada wisatawan Tiongkok. Aku memintanya beberapa saat lalu."

Tuan Bae mengerti dan tidak bicara lagi.


Tae Joon masuk ke ruangannya dan menatap ke arah karyawannya dari jendela dan merasa tidak nyaman.


Pimpinan Park marah Tuan Jang memindahkan Hwi Kyung ke kantor pusat tanpa sepengetahuannya. Tuan Jang meminta Pimpinan Park mempercayainya.

"Aku selalu mempercayaimu. Kuharap kepercayaanku tidak akan hancur karena keputusan bodoh itu."

Pimpinan Park melempar ponselnya ke kasur.

Young Sook yang mendengar itu senang putranya dipindah ke kantor pusat.

Ajumma tiba-tiba masuk memberitahukan kedatangan Yoo Kyung. Pimpinan Park pun menyuruh Young Sook menemui Yoo Kyung.


Young Sook minum teh bersama Yoo Kyung. Young Sook terlihat begitu gembira tapi tidak dengan Yoo Kyung. Yoo Kyung yang malas berlama-lama disana, menyuruh Young Sook cepat mengatakan alasan menyuruhnya datang.

"Ini dari ayahmu. Dia ingin kau menggunakan uang ini untuk pernikahan Se Jin."

Sontak Yoo Kyung kaget. Ia tidak percaya ayahnya memberi uang untuk pernikahan Se Jin.

Young Sook tertawa dan menyuruh Yoo Kyung menerimanya.

"Bagaimana pun kita harus menyapa orang tua Tae Joon."

Yoo Kyung lantas penasaran alasan Young Sook terus tersenyum sejak tadi. Young Sook pun cerita, itu karena Tuan Jang memindahkan Hwi Kyung ke kantor pusat. Sontak, Yoo Kyung kaget dan kesal. Young Sook yang tahu Yoo Kyung kesal tidak peduli dan terus tersenyum.


Hwi Kyung langsung menemui Tuan Jang. Ia bertanya, apa ayah tahu pemindahannya. Tuan Jang berkata, Pimpinan Park tidak menerima keputusannya dan menyuruh Hwi Kyung membuktikan pada Pimpinan Park dengan bekerja keras.

"Kak aku..."

"Sajangnim. Panggil aku begitu mulai sekarang. Kau akan mulai bekerja besok."

"Kak, aku tidak siap."

"Kau akan siap setelah memulainya."

"Berikan aku waktu."

"Kau hanya punya satu hari. Jadi pertimbangkan."


Yoo Kyung menerobos masuk. Ia tidak terima dengan pemindahan Hwi Kyung. Ia bahkan menuding Hwi Kyung memohon pada ayahnya dan membujuk suaminya agar diberikan posisi baru di perusahaan.

"Nepotisme adalah masalah besar di Korea. Bagaimana bisa kau menunjuknya. Akan jadi apa perusahaan ini! Inilah alasan kau dan Tae Joon dicap buruk, karena kalian terkait langsung dengan pemilik perusahaan ini meski kalian dipromosikan karena kemampuan!"

"Kita bicarakan di rumah. Ini kantor. Aku sedang rapat dengan Hwi Kyung."

Kesal, Hwi Kyung pun menerima posisi barunya.

Yoo Kyung yang tidak terima Hwi Kyung masuk perusahaan, sok2an bicara tentang tanggung jawab.

Hwi Kyung pun berkata, dirinya mengerti.


Do Hee kembali menemui mantan istri Hwi Kyung. Mantan istri Hwi Kyung langsung menatapnya galak dan pura-pura tidak tahu alasan reporter mencarinya. Do Hee lantas menyebutkan nama Hwi Kyung, membuat wanita itu tambah kesal.


"Semua wanita di dunia ini adalah musuhku tapi ketika berurusan dengan iga, iga sapi adalah yang terbaik." ucap Man Jung sambil memotong dan memanggang iga sapi.

Saat mau makan, ia teringat saat makan iga berdua dengan Se Gwang.

"Apa aku gila! Kenapa aku memikirkan pria muda kasar itu sekarang?"

Ia lantas teringat pada anaknya.

"Uri Gwang bisa makan banyak nasi jika aku membuatkan iga untuknya." ucapnya.


Ponselnya kemudian berdering. Telepon dari Se Gwang yang menanyakan kesukaannya.

Se Gwang : Kau mentraktirku makan iga, jadi sebagai gantinya aku mentraktirmu berikut dengan bunganya.

Man Jung langsung tertarik.

"Apa yang kau suka?" tanya Se Gwang.

"Kepiting saus kedelai." Man Jung dan Se Gwang menjawab kompak.

Se Gwang mengerti dan menanyakan Man Jung ingin makan dimana.


Sementara itu, Se Jin ke apartemen Tae Joon. Ia masuk sambil bicara dengan Tae Joon di telepon. Ia melarang Tae Joon cemas. Ia berkata, tidak akan memasak dan hanya membawa beberapa buah dan sayuran. Se Jin menyuruh Tae Joon pulang sebentar. Se Jin senang dan menyuruh Tae Joon bergegas.

Usai bicara dengan Tae Joon, ia langsung ke kulkas dan menyimpan semua belanjaannya.


Saat tengah menyimpan bawaannya di kulkas, ia teringat sesuatu.

Se Jin meletakkan fotonya bersama Tae Joon di meja Tae Joon.

"Kang Tae Joon, mulai besok, harimu akan dimulai bersamaku. Akan terus begini sampai kita menikah."

Se Jin melihat barang-barang Tae Joon beserakan di lantai.

"Dia benar-benar membutuhkanku untuk membersihkannya."


Se Jin mengambil baju kotor Tae Joon yang tergeletak di lantai. Saat itulah, ia tak sengaja melihat sebuah kotak. Se Jin terkejut membaca tulisan di kotak itu, 'Untuk Na Yeon'. Ia membukanya dan menemukan syal Sae Byeol.

Bersamaan dengan itu, Tae Joon pulang membawakan pangsit favorit Se Jin. Se Jin marah dan meminta penjelasan Tae Joon. Tae Joon berkata, itu syal Sae Byeol yang ketinggalan di apartemennya dan ia akan segera mengembalikannya.

Se Jin salah paham. Ia pikir, Tae Joon mengajak Na Yeon dan Sae Byeol ke sana.

"Dia tidak bisa menghubungiku jadi dia datang kesini." ucap Tae Joon.


"Pasti menyenangkan. Kalian bertiga dibawah satu atap." jawab Se Jin.

"Geumanhae! Semua sudah berakhir. Kau menyuruhku pulang untuk ini?"

"Kau masih menyimpan barang Sae Byeol di apartemenmu! Kau pikir ini lelucon?" teriak Se Jin sambil membuang barang Sae Byeol ke lantai.


Tae Joon mengambil syal Sae Byeol yang dibuang Se Jin ke lantai. Se Jin makin marah dan kembali membuang syal itu.

"Apa yang kau lakukan!" bentak Tae Joon. Tae Joon lantas melembutkan suaranya dan meminta Se Jin tidak membenci Sae Byeol. Tae Joon menyebut Sae Byeol sebagai korban.

"Lalu bagaimana denganku? Apa aku yang membuat mereka menjadi korban?"

"Aku tidak bermaksud seperti itu. Kau pikir aku tidak merasakan apa-pa?"

"Apapun yang kau lakukan, aku harus duduk disini dan mengambilnya? Aku ini manusia! Aku seorang wanita! Aku marah ratusan kali dalam setiap hari! Aku mengalami kesulitan juga!"

Se Jin beranjak pergi tapi Tae Joon menarik Se Jin ke dalam pelukannya.


Se Jin masuk ke kamarnya. Dengan wajah kesal, ia melihat syal Sae Byeol yang dibawanya.

Tadinya, Tae Joon lah yang berniat mengembalikannya tapi Se Jin bilang dia lah yang akan mengembalikannya.

Se Jin membuang syal Sae Byeol ke tong sampah. Tapi kemudian, ia menatap syal Sae Byeol dan memikirkan sesuatu yang licik.


Sae Byeol lagi makan ayam dengan kedua bibinya.

"Sae Byeol-ah, bukan kah ayam ini yang terbaik?" tanya Eun Bong.

"Ayam bawang nenek yang terbaik."

"Bukankah itu membuatmu bertanya-tanya? Nyonya Yang Mal Sook mungkin tidak berpendidikan, tapi dia benar-benar pintar bukan? Bagaimana bisa dia membuat ayam seenak ini? Ini tidak berminyak dan anak-anak menyukainya. Dia sangat pintar." ucap Eun Bong.

"Tapi apa bagusnya ini? Jika kau mau menjadi kaya, kau butuh keahlian untuk menghasilkan uang atau orang tua kaya." jawab Geum Bong.


"Setiap kali kau bicara, rasanya aku sangat ingin memukulmu." ucap Mal Sook yang keluar dari dapur dan membawa semangkuk nasi.

Mal Sook lantas menanyakan Na Yeon yang akan pergi memasak untuk pesta pindahan rumah pada Eun Bong.

"Dia bilang dia akan langsung pulang setelah kerjaannya beres." jawab Geum Bong.

"Benar, bekerja adalah obat terbaik." ucap Mal Sook.


Tak lama kemudian, Joong Dae datang. Eun Bong yang lagi asyik makan, langsung berhenti makan begitu melihat Joong Dae.

Joong Dae memesan bir dan meminta buku menu.

Mal Sook menyuruh Geum Bong melayani Joong Dae.

"Aku lagi?" protes Geum Bong.

"Geum Bong-ah, tetap disini." jawab Eun Bong, lalu beranjak mengambil buku menu.

"Heol, tidak bisa dipercaya." ucap Geum Bong sambil menatap Eun Bong.

Sambil memberikan buku menu pada Joong Dae, Eun Bong berbisik pada Joong Dae.

"Kenapa kau kemari?"

"Kau membual tentang betapa lezatnya makanan disini." jawab Joong Dae.

"Cepat pergi. Pergi." pinta Eun Bong.


"Jangan melihatku seperti itu. Aku akan memberimu mimpi buruk? Aku pelanggan disini."

"Aku tidak butuh pelanggan sepertimu jadi cepat pergi."

"Aku mau makan disini."

"Cepat pergi sebelum kau mabuk dan mengatakan semuanya pada ibuku. Jika dia tahu aku tinggal bersamamu, dia akan membunuhku."

" Hanya seperti itu?"


"Apa yang kau inginkan?"

"Jika mau aku pergi, beri aku 100 dollar untuk sewa bulanan."

"Kau gila? Kau berusaha merampokku?"

"Ini tarif yang berlalu. Kau tidak tahu tarif di lingkunganku sudah naik?"

"Baiklah, aku setuju jadi cepat pergi."

"Bisakah aku memesan satu bungkus ayam untuk kubawa pergi?" teriak Joong Dae.


Geum Bong menatap curiga mereka.


Na Yeon yang baru pulang, bertemu Se Jin di depan rumahnya.

"Masih ada yang mau kau katakan?" tanya Na Yeon.

"Disini dingin. Aku menunggumu disini jadi aku kedinginan. Ayo cari tempat hangat dan minum teh." jawab Se Jin.

Bersambung ke part 2....