• Sinopsis Wonderful World Episode 1-16

    Kim Nam Joo dan Cha Eun Woo memiliki rasa sakit yang sama akibat kehilangan seseorang yang sangat berharga bagi mereka.

  • Duis non justo nec auge

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

King Maker : The Change Of Destiny Ep 6 Part 2

Sebelumnya...
 

 Ketua Gila Ganda mencengkram pipi Chun Joong.

"Mulai sekarang, aku akan menjagamu." ucapnya.

Pria itu kemudian mengaduh kesakitan. Sepertinya Chun Joong menendangnya.

Dia pun marah.

"Kau mengejutkanku!"


Pria itu lantas mendesak Chun Joong ke pintu. Dia juga mengikat kedua tangan Chun Joong ke atas, lalu memaksa Chun Joong menulis pengakuan yang dibuat In Gyu. Chun Joong tertawa.

Pria itu : Apa? Ada yang lucu?


Pria itu marah dan mencari palu.

Dia mengancam akan mematahkan jari Chun Joong.


Tepat saat dia akan memukul jari Chun Joong dengan palu, pengawal In Gyu datang dan menamparnya.

"Dasar bedebah bebal! Bagaimana dia akan menulis dengan jari yang patah?"

Pria itu berdalih karena Chun Joong tidak mau bekerja sama.

Pria itu : Kau hanya akan marah kepadaku!

"Tutup mulutmu. Letnan Chae memerintahkan untuk mendapatkannya besok pagi. Jika kita gagal, Letnan Chae akan datang sendiri. Kau tahu apa yang akan terjadi, bukan? Selesaikan." lalu pengawal In Gyu pergi.


Pria itu marah.

"Setahun lalu, dia dahulu hanyalah interogator rendahan di penjara bersamaku. Jika tidak kehilangan Amitabha Samchon kepada bedebah itu, aku sudah punya banyak rumah dan harta!"


"Amitabha apa?" tanya anak buah pria itu.

"Diam, Bodoh. Cari saja cambuknya! Berikan kepadaku."


Pria itu lantas mencambuk Chun Joong. Chun Joong berteriak menahan sakit.


Sementara itu, Bong Ryeon mengizinkan In Gyu masuk kamarnya.

In Gyu : Akhirnya aku diundang masuk Tuan Putri.

Bong Ryeon tanya apa yang terjadi pada In Gyu. In Gyu tak menjawab dan melirik Dan yang masih disana. Bong Ryeon menatap Dan. Dan mengerti dan bergegas pergi.


Setelah Dan pergi, Bong Ryeon tanya keadaan Chun Joong. In Gyu duduk di depan Bong Ryeon.

In Gyu : Aku ingat Bong Ryeon dari Ganghwa. Dua hari lagi, perayaan ulang tahun Ibu Suri akan dimulai di kediaman Tuan Haok. Kau sudah dengar?

Bong Ryeon marah, aku bertanya tentang Chun Joong!

In Gyu : Biasanya mereka tidak peduli soal ulang tahunnya, tapi kuasumsikan Keluarga Kim-moon dan kerabat Raja akan mengadakan pertemuan politik tentang Raja berikutnya. Jika kau ingin menyelamatkan Choi Chun Joong  bukankah seharusnya kau menuruti keinginan Kim-moon?

Bong Ryeon : Kenapa kau menjelaskan semua ini kepadaku? Kau memintaku meyakinkan Chun Joong  untuk menulis pengakuan yang kau siapkan?

In Gyu : Kau sangat pintar, Tuan Putri.

Bong Ryeon : Jika aku menolak?

In Gyu : Apa aku terlihat seperti meminta bantuan?

Tak mau Chun Joong nya terluka, Bong Ryeon pun terpaksa menuruti permintaan In Gyu. Tapi ia juga minta In Gyu tidak melukai Chun Joong.

In Gyu : Baiklah, aku akan membiarkannya hidup.


Dalam hati, Bong Ryeon berharap Chun Joong bertahan sedikit lagi karena ia akan datang menyelamatkan Chun Joong.


Setelah itu, Nahab mengundang salah satu wanita bangsawan ke kediaman Bong Ryeon.

Sambil minum tehnya, Nahab bilang dia akan mengadakan acara Shiban 3 hari lagi untuk memberi makan para pejahat di penjara.

Nahab : Kita akan butuh bantuan sipir penjara. Kami meminta bantuanmu, Wanita Bangsawan.

"Tentu, apa pun untuk Tuan Putri dan urusannya."


Nahab dan Bong Ryeon lalu saling bertatapan. *Sepertinya Bong Ryeon minta bantuan Nahab nii.


Orang2 di kedai penasaran keadaan Chun Joong.

Lalu tiba-tiba mereka kedatangan Bong Ryeon.

Wanita pemilik kedai yang mengenali Bong Ryeon sebagai kekasih Chun Joong, terkejut Bong Ryeon datang. Wanita itu lalu tanya kenapa Bong Ryeon datang. Bong Ryeon bilang ini soal Chun Joong.


Pal Ryeong kaget mendengar rencana Bong Ryeon untuk membebaskan Chun Joong. Pal Ryeong tanya, apa itu mungkin.

Goo Cheol tanya siapa Bong Ryeon sebenarnya.

Nyonya Paeng (wanita pemilik kedai, kakak Goo Cheol. Mulai sekarang kita panggilnya begini saja ya, karena marga mereka Paeng) berkata, bahwa Bong Ryeon 'teman intim' Chun Joong.

Goo Cheol dengan polosnya tanya apa itu teman intim.

Pal Ryeong menepuk paha Goo Cheol.


Nyonya Paeng : Jadi, maksudmu, tiga hari lagi kita bisa membebaskan Tuan Choi. Benar, bukan? Kau yakin?

Bong Ryeon : Ya, aku janji kau bisa membebaskannya.


Bong Ryeon juga bilang akan memberikan semua dana dan dukungan yang mereka butuhkan untuk membebaskan Chun Joong.

Bong Ryeon : Mohon bantuannya.

Pal Ryeong hanya tersenyum sambil menatap Bong Ryeon.


Malamnya, In Gyu mengantarkan Bong Ryeon menemui Chun Joong.

Bong Ryeon kaget melihat kondisi Chun Joong.

Bong Ryeon : Tuan...

Chun Joong kaget Bong Ryeon datang, Bong Ryeon-ah.

Bong Ryeon : Kau baik-baik saja? Tubuhmu...


Bong Ryeon terdiam melihat pitanya di pergelangan tangan Chun Joong dan teringat masa lalu mereka soal pita itu.


Bong Ryeon nangis teringat itu.

Bong Ryeon : Maafkan aku, meninggalkanmu di sini... Aku sungguh minta maaf...

In Gyu : Tepati janjimu, Tuan Putri.


Bong Ryeon lalu menyuruh Chun Joong menulis pengakuan itu.

Bong Ryeon : Lakukan saja yang mereka mau dan mari pergi dari sini. Dalam tiga hari, saat malam hari. Tubuhmu tidak akan bertahan lebih lama lagi, maka tolong tulis pengakuan itu. Kau harus keluar bagaimanapun caranya. Kami tidak akan gagal...

Chun Joong berkata dalam hatinya.

Chun Joong : Kami? Tiga hari... Malam hari?

Bong Ryeon : Kami akan menunggu di luar.

Chun Joong pun paham maksud Bong Ryeon.

Chun Joong : Dia bicara melarikan diri.


In Gyu : Sudah cukup, Tuan Putri. Ayo.

Bong Ryeon berdiri dan menatap In Gyu dengan wajah kesal.

Setelah itu, ia pergi duluan.

In Gyu menatap Chun Joong dengan tatapan benci.


Paginya, Hakim Lee sedang mencicipi alkohol yang disuguhkan keluarga Kim.

Ada Nahab juga disana.

Hakim Lee : Alkohol ini rasanya manis sekali.

Jwa Geun : Alkohol unik keluarga kami cukup terkenal. Alkoholnya sangat tidak terasa. Hati-hati dengan pengar.

Hakim Lee : Mengundangku ke rumahmu dan membawakan makanan merupakan suatu kehormatan, Tuan.

Byeong Woon : Apa belakangan ini kau dekat dengan Ibu Suri dan menemui Dojeonggung diam-diam? Apa yang kau bicarakan dengan mereka?

Hakim Lee : Aku hanya berkeliling meminta uang. Aku malu.

Jwa Geun : Putra sulungmu, Jae Myeon,  berkeliaran mengatakan bahwa bunga Oyat akan mekar di sekelilingnya. Bunga Oyat melambangkan Raja Joseon. Beraninya dia bicara begitu. Apa dia meramalkan masa depannya sebagai raja baru kita?

Hakim Lee : Bicaramu terlalu serius. Dia hanya bocah bodoh yang mengatakan hal-hal bodoh.


Jwa Geun mengangkat tangannya. Pelayannya seketika datang membawa chima dan marah.

Jwa Geun : Putramu, Jae Myeon, menggambar ini di rok selir untukku. Luar biasa. Sudah bersikap seolah-olah dia Raja!

Hakim Lee lantas berlutut minta maaf.


Byeong Woon : Besok kita merayakan keturunan Kim-moon, ulang tahun Ibu Suri. Kami ingin kau melakukan sesuatu untuk kami. Lee Ha Jeon dari Dojeonggung. Kami ingin kau melaporkan Lee Ha Jeon atas konspirasi.


Jwa Geun melirik Nahab. Nahab mengerti dan langsung berdiri untuk menuangkan alkohol ke cangkir Hakim Lee yang sudah kosong.

Jwa Geun : Jika kau bersedia, minum. Jika tidak...

Hakim Lee terpaksa meminumnya.


Jwa Geun tertawa.

Jwa Geun : Sangat manis.

Byeong Woon : Sampai jumpa besok di perayaan.


Hakim Lee beranjak pergi. Diluar, ia memikirkan kata-kata Ha Jeon.

Ha Jeon : Sebentar lagi para petinggi Owi akan berkumpul membahas perubahan militer. Kita tidak tahu bagaimana reaksi Keluarga Kim-moon terhadap penobatanku. Kita harus menyiapkan pasukan...

Hakim Lee : Jika Keluarga Kim-moon tahu, mereka pasti akan membunuhmu!

Ha Jeon : Kita lihat saja. Aku akan menyerang mereka lebih dahulu.

Hakim Lee merasa setiap kali ia mengambil langkah, ia seperti berjalan di atas pisau.


Malamnya, Hakim Lee memanggil kedua putranya ke kamarnya.

Hakim Lee melemparkan tempat pensil ke arah Jae Myeon. Jae Hwang terkejut melihatnya.

Hakim Lee :  Apa arti dari "Euninjajung"?

Jae Myeon : Menutupi perasaan yang sebenarnya dan selalu berhati-hati. Maafkan aku, Ayah. Aku membuat kesalahan.


Hakim Lee menatap Jae Hwang.

Hakim Lee : Jae Hwang, belajarlah dari kesalahan kakakmu.

Jae Hwang : Ya, Ayah.


Di sel, Chun Joong memikirkan kata-kata si ketua Gila Ganda.

"Jika tidak kehilangan Amitabha Samchon kepada bedebah itu, aku sudah punya banyak rumah dan harta"

Chun Joong : Amitabha berarti Buddha. Samchon? Paman Buddha? Omong kosong apa ini... Samchon? Samjon? Sebuah lukisan! Lukisan Amitabha Buddha Triad! Dengan lukisan ini, siapa pun bisa membeli banyak rumah! Si bodoh itu pasti sangat kesal sampai mengingat nama lukisannya.


Chun Joong lalu ingat cerita seseorang.

"Monster Kementerian Kehakiman. Aku pernah mendengar cerita yang sangat aneh itu. Kepala kementerian kehakiman, si monster itu, membayar banyak koin hanya agar kami mendapatkan jubah. Aku diam-diam memeriksanya. Tapi itu hanya jubah biasa yang tidak ada isinya!"

Chun Joong pun menyadari sesuatu.

Chun Joong : Benar! Keberuntungan pemilik kasino!


Si ketua Gila Ganda datang.

"Hei! Kau tidak mengantuk? Kalau begitu, bagaimana jika kau menulis pengakuannya?"


Ketua Gila Ganda memaksa Chun Joong menulis. Tapi Chun Joong malah nanyain tanggal dan waktu lahirnya.

Chun Joong : Katakan agar aku bisa meramal masa depanmu.

Ketua Gila Ganda : Meramal? Orang bodoh ini berpikir ramalan bisa menyelamatkannya.

Chun Joong : Aku sudah diakui bahkan oleh para bangsawan tertinggi. Aku bisa mencari tahu apa hidupmu yang tidak berguna bisa mendatangkan keberuntungan besar. Jika kau bisa menatap balik monster yang memperlakukanmu dengan buruk. Aku bisa memberitahu semuanya.


Mendengar itu, pria itu tertarik dan menyuruh rekannya pergi.

Pria itu lalu memberitahu tanggal dan waktu lahirnya.

Chun Joong :  Kau kehilangan banyak uang pada bulan Juli 1861, bukan?

Gila Ganda : Apa? Ya.

Chun Joong : Itu lukisan berharga. Taenghwa.

Gila Ganda kaget, bagaimana kau tahu?

Chun Joong : Hanya dengan melihat tanggal lahirmu, aku bisa beri tahu siapa yang mengambil milikmu dan cara mendapatkannya kembali.

Gila Ganda : Aku bisa mendapatkannya kembali?


Chun Joong : Kau bisa mendapatkannya kembali. Aku bahkan bisa memberitahu lokasinya.

Gila Ganda : Katakan! Di mana lukisannya?

Chun Joong : Kenapa terburu-buru? Kau bahkan belum membayar biaya ramalanku.

Gila Ganda : Biaya? Akan kubayar dengan tidak memintir kepalamu dan membunuhmu. Kau mengerti? Sekarang katakan.

Chun Joong : Lagi pula, kau tidak bisa membunuhku. Tidak sampai diizinkan Chae In Gyu. Kurasa kau bisa menyiksaku, tapi aku tidak akan menulis pengakuan jika begitu dan tidak akan memberitahu di mana lukisannya. Ini akan membuatmu kehilangan harta terbesar dalam hidupmu.


Gila Ganda : Seharusnya aku membunuhmu sekarang.

Chun Joong : Dengar baik-baik. Ini kesempatan sekali seumur hidup. Malam ini, antara pukul 01.00 dan 03.00. Di bawah kuil dewa desa. Sebelum lonceng paru berakhir. Jika aku benar, kau bisa mendapatkannya sebelum Letnan Chae muncul.

Gila Ganda : Kau bohong. Kau pikir aku akan percaya permainan pikiranmu? Bersiaplah untuk mati.


Gila Ganda memanggil rekannya dan menyuruh rekannya mengurung Chun Joong.


Gila Ganda terbangun saat mendengar bunyi lonceng disaat rekannya sudah tidur.

Dia lalu memikirkan kata-kata Chun Joong.

"Lonceng paru berbunyi 33 kali di malam hari? Dua. Peramal... Jika itu tidak ada di sana, mati kau."


Gila Ganda pun pergi ke Kuil Dewa Desa itu sambil menghitung bunyi lonceng.

"Tiga. Dua puluh sembilan. Tidak ada apa-apa di sini. Tiga puluh. Tiga puluh dua."

Gila Ganda kesal.

"Aku yang bodoh karena memercayai peramal itu."


Gila Ganda menendang bakul kecil berisi beras.

Tapi usai menendangnya, kakinya merasakan sesuatu di tempat ia menendang bakul tadi.

Gila Ganda langsung menggalinya. Ia menemukan sebuah kotak. Ia membukanya dan isinya beberapa uang.

Si Gila Ganda senang dan mengambil uang itu.


Chun Joong di selnya hanya bisa menunggu. Tak lama seseorang datang.

Sementara pengawal In Gyu kaget saat melihat uang di dalam kotak itu raib..


Ternyata si Gila Ganda yang menemui Chun Joong. Ia menunjukkan uang yang dicurinya pada Chun Joong.

Gila Ganda :  Apa kau hantu? Aku menuruti perkataanmu. Pasti sudah terlambat jika setelah lonceng paru berakhir.

Chun Joong : Baiklah, bagus. Aku tidak mengerti. Kau terjebak di sini, jadi, bagaimana kau bisa tahu soal bunyi lonceng paru dan kapan Tuan Chae akan muncul?


Chun Joong teringat cerita seseorang tentang monster kehakiman.

Chun Joong : Kenapa mereka pergi ke kuil dewa desa?

"Agar kasino mereka aman, mereka menyuap pejabat pemerintah. Saat lonceng paru selesai berbunyi, mereka datang mengambilnya." jawab pria itu.

Flashback end...


Chun Joong : Ada yang lebih menakutkan daripada hantu yang mengejarku.

Gila Ganda : Apa?

Chun Joong : Menjadi yang terbaik di seluruh Joseon. Semua orang mengerubutiku, mendengarkan kisah mereka.

Gila Ganda : Lalu kenapa?

Chun Joong : Aku akan menulisnya. Pengakuan konspirasiku. Dalam 15 hari, curi pengakuanku dan bawa itu ke lokasi rahasia. Mari barter, pengakuanku untuk lukisanmu.

Gila Ganda terdiam menatap Chun Joong.


Pengawal In Gyu lapor soal uang suap yang telah raib. In Gyu kaget.

"Tanda gali menunjukkan entah petani atau pencuri gunung telah mencurinya."

In Gyu berdiri dan menatap kesal pengawalnya.

In Gyu :  Kau pasti sangat nyaman belakangan ini.


In Gyu lalu menampar pengawalnya. Setelah itu, ia berniat memukul pengawalnya dengan kayu tapi Gila Ganda datang membawa surat pengakuan Chun Joong. Sontak lah In Gyu senang dan memuji kerja Gila Ganda...


tapi si pengawal menatap curiga Gila Ganda.


Pengawal lain datang.

"Jaksa penuntut meminta pasukan untuk menjaga acara amal mereka."

"Baiklah, kau boleh pergi." jawab In Gyu.


Rombongan Nahab mulai bergerak menuju acara amal.

Ada Pal Ryeong cs juga disana.

Gila Ganda datang memanggil Pal Ryeong. Pal Ryeong mengerti dan langsung mengerti.

Dan melihat ke belakang. Goo Cheol mengangguk padanya.

Dan menatap Nahab.

Dan : Nona.

Nahab mengerti.


Gila Ganda mengikuti pengawal yang ditampar In Gyu tadi ke sel.

Pengawal sewot, kenapa kau mengikutiku!

Pengawal heran karena penjara kosong, tak ada penjaga.


Pal Ryeong dan Goo Cheol menuju keluar penjara membawa gerobak berisikan jerami. Mereka bertemu Gila Ganda dan si pengawal.

Pengawal : Apa ini?

Gila Ganda : Jasad. Kami sudah memberi tahu Letnan Chae.

Gila Ganda menjauhkan pengawal dari 'jasad' itu.

Gila Ganda : Kurasa dia meninggal karena penyakit.

Pengawal : Kenapa kalian di sini?

Gila Ganda : Mereka membawa semua tahanan dan pengawal ke acara amal di luar. Aku tidak bisa melakukan ini sendirian, aku membawa bantuan.

Pal Ryeong dan Goo Cheol bergegas keluar.


Pengawal yang curiga, menanyakan dimana Chun Joong.

Gila Ganda : Entahlah. Tidur?


Pengawal memeriksa sel Chun Joong dan mendapati Chun Joong lagi tidur.

Pengawal pun pergi tapi balik lagi karena curiga. Dia masuk ke sel dan memeriksa Chun Joong dan ternyata itu bukan Chun Joong, tapi jasad pria.

Pengawal teriak, ada yang melarikan diri!


Chun Joong keluar dari balik jerami tapi mereka terkepung oleh pengawal yang mendadak datang.

Chun Joong pun bertarung melawan pengawal dengan sisa tenaganya tapi pengawal lain datang.

Saat tersudut, Goo Cheol datang membawa tombak dan menusuk si pengawal.

Setelah berhasil melumpuhkan pengawal mereka bergegas membawa Chun Joong keluar.

Setibanya diluar, Goo Cheol mengunci pintu penjara.

Si Gila Ganda berakting. Dia memegangi dadanya, pura2 kesakitan dan teriak ada tahanan yang kabur.


Diluar, mereka kembali dikepung pengawal.

Tiba-tiba saja, terjadi gerhana.

Melihat itu, Pal Ryeong ingat kata-kata Bong Ryeon.

Flashback...


Pal Ryeong tanya kenapa harus menunggu 3 hari untuk menyelamatkan Chun Joong.

Bong Ryeon : Itu malam gerhana. Malam akan lebih gelap dari biasanya. Kegelapan itu akan menjadi kesempatan kita.

Flashback end..


Pal Ryeong berbisik pada Chun Joong kalau itu gerhana.

Mereka pun menggunakan kesempatan itu untuk melawan para pengawal.


Setelah berhasil melumpuhkan para pengawal, mereka kabur tapi di depan gerbang mereka dihadang pengawal lagi.

Lalu Dan datang dan membantu mereka melumpuhkan pengawal.


Chun Joong kaget Dan datang.

Dan menatap Nahab yang berdiri di atas.

Chun Joong juga kaget dan bingung melihat Nahab.


Pengawal yang ditampar lapor ke In Gyu soal tahanan yang melarikan diri.


Pal Ryeong dan Dan bersama rombongan mereka mengawal sebuah tandu keluar.

In Gyu dan pengawalnya datang. Dan bilang itu tandu keluarga Kim.

In Gyu tanya Dan sedang apa disana.


Pintu jendela tandu dibuka. In Gyu melihat Nahab.

Nahab : Kau tidak mendengar acara amal hari ini? Tuan Putri dengan baik hati mengirim dia untuk membantuku.

Terpaksalah In Gyu membiarkan mereka pergi meski curiga.


Di kediamannya, Bong Ryeon menunggu dengan gelisah. Dan kemudian datang melaporkan kalau Chun Joong berhasil kabur.

Bong Ryeon lega.


Nahab juga datang dan minta Bong Ryeon membalas budi.


Setelah minta Bong Ryeon balas budi, Nahab pergi. Bong Ryeon pun bilang kalau dia tidak akan pernah melupakan kebaikan Nahab ini.

Nahab : Aku sangat lelah.


Setelah Nahab pergi, Bong Ryeon memuji Dan yang bekerja dengan baik.

Dan tersenyum melihat rona wajah bahagia Bong Ryeon karena Chun Joong selamat.

Bersambung ke part 3....