Monday, July 31, 2017

The Legend Of The Blue Sea Ep 12 Part 1

Sebelumnya...


“Matilah, dan jangan pernah terlahir kembali!” ucap Dam Ryung yang siap membunuh Bangsawan Yang. Namun tiba2 saja, seorang pejabat datang dan menghentikannya. Pejabat itu menyebut Dam Ryung sebagai seorang criminal karena telah tersihir oleh pesona penyihir jahat dan tidak menyelesaikan tugasnya sebagai pejabat pemerintah dan oleh karena itu Dam Ryung akan diasingkan ke Provinsi Gyeongsang di Geoje.

Bangsawan Yang pun tertawa puas mendengarnya.


Kembali ke Joon Jae yang ditangkap oleh Detektif Hong. Tangannya diborgol Detektif Hong dan boneka gurita pink itu pun jatuh dari tangannya. Detektif Hong berkata, kalau ia datang untuk menangkap seekor harimau, tapi ia malah mendapat seekor kelinci. Detektif Hong menghubungi bantuan lewat radionya, tapi Joon Jae yang tak ingin Chung melihatnya dibawa polisi pun berkata akan ikut diam2 jadi Detektif Hong tak boleh menghubungi siapapun.


Saat Joon Jae dibawa pergi oleh Detektif Hong, Chung berkata dalam hatinya meminta Joon Jae cepat datang. Joon Jae yang bisa mendengar suara hati Chung pun langsung menoleh ke arah Chung, tapi ia tak bisa berbuat apa2. Tak lama setelah Joon Jae dibawa pergi, Dae Young muncul dengan taksinya dan mengawasi Chung dari kejauhan.


Lama menunggu, Chung menoleh dan melihat boneka gurita pink itu yang terjatuh di aspal. Chung pun mendekati boneka itu. Ia mengambil boneka itu dan bertanya2, dimana Joon Jae.

Detektif Hong memasukkan paksa Joon Jae ke mobil. Baru masuk mobil, Joon Jae meminta izin menjawab teleponnya. Detektif Hong hanya tertawa kecil. Joon Jae pun menjelaskan, kalau Detektif Hong tidak perlu melepas borgolnya dan hanya perlu memegangkan ponselnya saja di telinganya.

“Bajingan kau, kau juga bilang begitu 3 tahun yang lalu. Kau bilang orang tuamu mengkhawatirkanmu, tapi ternyata kau menghubungi kelompokmu.” Jawab Detektif Hong.

“Kali ini berbeda, pacarku menungguku sendirian.” Ucap Joon Jae.

“Dia akan pergi kalau kau tidak datang.” jawab Detektif Hong.


Joon Jae pun menghela nafasnya, lalu berkata bahwa ia bukanlah seorang criminal yang tertangkap basah melakukan tindakan criminal atau orang yang harus ditangkap atas surat perintah penangkapan.

“Aku mengikuti perintahmu secara sukarela, jadi kau tida bisa memborgolku dan harusnya aku boleh menggunakan ponselku juga. Jika kau melakukan ini, kau melanggar hukum pelaksanaan  tugas berdasarkan pasal 12 dan kau bisa dihukum satu tahun.” Ucap Joon Jae.

“Baiklah, aku akan tinggal di penjara. Kita akan tinggal bersama di sana dan kau akan tinggal di sana sedikit lebih lama.” Jawab Detektif Hong.

Sementara itu, Chung masih terus berusaha menghubungi Joon Jae, tapi tak bisa. Chung pun bertanya2, kemana perginya Joon Jae.


Rekan Detektif Hong kembali ke mobil. Ia bingung melihat Joon Jae dan bertanya, apa yang dilakukan Detektif Hong padahal Detektif Hong sudah mengirim banyak orang untuk menangkap Dae Young. Detektif Hong pun menjelaskan, kalau Joon Jae adalah seseorang yang berpura2 menjadi dirinya selama ini.

“Oh, si penipu itu!” seru rekan Detektif Hong.

“Barusan kau bilang apa? Kau bilang Ma Dae Young?” tanya Joon Jae serius.

“Hei, jangan coba2 membodohiku!” sentak Detektif Hong.

“Ma Dae Young, si bajingan itu ada di sini?” tanya Joon Jae.

“Kami juga tidak tahu. Kami datang setelah mendapatkan informasi dari seseorang yang melihatnya di sini.” Jawab rekan Detektif Hong.

“Biarkan aku pergi.” Pinta Joon Jae.


Tapi Detektif Hong tidak peduli dan mengajak rekannya membawa kembali ke kantor untuk membawa Joon Jae, baru setelah itu kembali lagi untuk menangkap Dae Young. Mendengar itu, Joon Jae pun marah dan mencengkram baju Detektif Hong.

“Dengar baik-baik.  Akulah orang yang diincar Ma Dae Young.” Ucap Joon Jae.

“Bicara apa dia? Apa dia memang benar dia ini seorang penipu?” tanya rekan Detektif Hong bingung.

“Buat apa si brengsek itu mengincarmu?” tanya Detektif Hong.

“Aku juga tidak tahu. Jika Ma Dae Young memang benar disini, berarti dia membuntutiku. Tapi wanita itu sendirian sekarang! Cepat, serahkan ponselku!” ucap Joon Jae.


Detektif Hong melakukan apa yang diminta Joon Jae. Ia memegangi ponselnya Joon Jae. Joon Jae dengan wajah cemas pun berharap agar Chung cepat menjawab panggilannya. Tak lama, Chung pun menjawab. Joon Jae lega mendengar suara Chung dan langsung bertanya dimana Chung. Chung pun berkata, ia masih menunggu Joon Jae di tempat semula.
“Aku ada urusan mendadak. Aku harus pergi ke suatu tempat, jadi kau pulanglah sekarang.” suruh Joon Jae.

“Baiklah.” Jawab Chung.

“Kau bisa pulang sendiri? Kau ada uang?” tanya Joon Jae.

“Aku punya uang, kok. Baiklah. Aku naik taksi saja sekarang. Ada taksi disini.” Jawab Chung.

“Jangan tutup teleponnya dan masuklah.” Suruh Joon Jae.


Chung pun masuk ke taksi yang ada di depannya. Setelah masuk ke taksi, Chung langsung terdiam melihat wajah Dae Young yang tersenyum padanya dari kaca spion. Pintu taksi tertutup secara otomatis, dan taksi itu kemudian mulai melaju.


Joon Jae mulai panic karena Chung diam. Joon Jae pun bisa menebak, kalau saat ini Chung ada bersama Dae Young. Detektif Hong dan rekannya terkejut. Joon Jae pun meminta Chung mengatakan ada dimana Chung sekarang. Chung pun berkata, tempat dimana mereka sepakat bertemu waktu salju turun pertama kali. Sambungan pun terputus. Joon Jae panic dan menyuruh Detektif Hong menghubungi Chung lagi, tapi Chung gak menjawab panggilannya.


Joon Jae pun teringat saat Chung mengajaknya ke Namsan waktu salju turun pertama kali. Langsung saja, Joon Jae mengajak Detektif Hong ke sana. Detektif Hong awalnya ragu, tapi kemudian ia setuju.

“Kalau ini penipuan, kubunuh kau  sampai mati dan masuk penjara.” Ucap Detektif Hong.

“Jika ada apa-apa terjadi pada wanita itu, aku juga akan membunuhmu sampai mati.” Jawab Joon Jae.

Joon Jae lalu menyuruh Detektif Hong melepas borgolnya. Detektif Hong keberatan, tapi ia tetap melepaskan borgol Joon Jae. Begitu borgolnya lepas, Joon Jae langsung mengecek keberadaan Chung lewat GPS, tapi sayang ponsel Chung tidak aktif. Joon Jae lalu menyuruh kedua penyidik itu menghubungi polisi patrol yang terdekat dari Namsan dan meminta bantuan mereka.


Chung sudah tak sadarkan diri karena dibius Dae Young. Disampingnya, terdapat sebuah jarum suntik.


Joon Jae menyuruh Detektif Hong memeriksa taksi yang baru2 ini dicuri yang melewati arah menuju Namsan. Detektif Hong pun mulai kesal karena Joon Jae dengan seenak jidat memerintahnya, tapi ia tak bisa marah dan menuruti permintaan Joon Jae.

“Kau harus memberitahu mereka ada seorang  wanita yang telah diculik bersamanya. Umurnya 30-an. Rambut panjang. Dia sangat cantik.” Suruh Joon Jae.

Detektif Hong tambah kesal, tapi selagi ia tak bisa protes dan terpaksa menuruti perintah Joon Jae.


Dae Young yang melihat ada pemeriksaan di jalan, akhirnya mengambil jalan lain.


Karena masih belum dengar kabar soal Dae Young, Joon Jae pun berpikir cepat kalau ada satu jalan yang bisa digunakan Dae Young untuk meloloskan diri. Joon Jae menyuruh rekan Detektif Hong mengambil sisi jalan menuju terowongan dari Hanoelro. Joon Jae berkata, itu adalah satu2nya jalan keluar dari Seoul untuk menghindari razia polisi. Mendengar itu, Detektif Hong langsung memuji kemampuan menipu dan melarikan diri Joon Jae.  Joon Jae membalas dengan berkata kalau ia tahu lebih jalanan Seoul dari kedua penyidik itu.


Dae Young membawa Chung ke sebuah rumah sakit yang sudah tidak terpakai. Tak lama kemudian, Chung siuman dan melihat Dae Young sedang menampung air ke dalam tong besar. Chung mau bergerak, tapi ia tak bisa menggerakkan kakinya.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Chung.

“Jangan coba-coba bangun. Lagipula, kau takkan bisa bergerak. Aku tidak punya maksud apa-apa padamu. Aku penasaran denganmu, karena itu aku ingin memastikannya.” Jawab Dae Young.

“Apa yang mau kaupastikan?” tanya Chung.


“Aku terus bermimpi aneh.  Awalnya kukira itu mimpi biasa tapi mimpi-mimpi itu terus membuatku berpikir kalau mimpi itu kenyataan.” Jawab Dae Young.

“Kenapa kau memastikan mimpimu dengan diriku?” tanya Chung.

“Karena mimpi itu ada hubungannya denganmu.” Jawab Dae Young.

“Mimpi yang ada hubungannya denganku?” tanya Chung.

“Memang belum pasti,  tapi di dalam mimpi itu kau adalah putri duyung. Saat kau di dalam air, kau putri duyung, dan saat kau di daratan kau muncul sebagai manusia. Dan air mata yang diteteskan oleh duyung menjadi mutiara. Awalnya kupikir di kehidupan sebelumnya aku jadi seorang bangsawan itu tidak masuk akal. Tapi aku berpikiran yang aneh-aneh. Yah, jika aku melemparkanmu ke dalam air itu, maka semuanya menjadi jelas.” Jawab Dae Young.


Detektif Hong dan rekannya dapat informasi kalau buruan mereka masih belum tertangkap. Tak lama, Detektif Hong ingat jalan yang mereka lalui adalah jalan menuju ke sebuah rumah sakit yang sudah tidak terpakai. Joon Jae pun langsung memerintah Detektif Hong pergi ke sana. Detektif Hong sewot dan meminta Joon Jae berhenti memerintah mereka. Tapi Joon Jae gak peduli dan tetap memerintah mereka.


Tak lama kemudian, Joon Jae bersama kedua penyidik akhirnya tiba di rumah sakit itu. Mereka melihat taksi yang dicuri Dae Young terpakir di depan rumah sakit. Mereka pun langsung menyebar ke dalam rumah sakit untuk mencari Chung.


Sementara Chung yang ditawan di ruang operasi, masih tak bisa menggerakkan kakinya. Air di dalam tong mulai penuh dan Dae Young bersiap melemparkan Chung ke dalam sana. Tapi Chung kemudian berkata, jika memang benar ia adalah putri duyung, apa ia memberikan sebuah peringatan pada Dae Young? Dae Young langsung terdiam. Chung kembali berkata kalau putri duyung tidak akan membiarkan manusia yang telah menyentuh tubuhnya hidup tenang. Putri duyung memiliki kemampuan menghapus ingatan manusia.


Dae Young pun langsung teringat mimpinya saat ia menjadi Bangsawan Yang, seseorang memberinya peringatan tentang putri duyung yang bisa merenggut nyawa manusia dan menghapus ingatan manusia. Dae Young lalu teringat mimpi-mimpinya tentang Dam Ryung dan Chung selama ini, dan ia pun tersadar dari lamunannya saat ingat tentang Dam Ryung yang berniat menebas leher Bangsawan Yang.


Chung pun kembali berkata, kalau Dae Young menyentuh tangannya, maka saat itu juga Dae Young akan kehilangan ingatan. Chung memberitahu, itulah caranya putri duyung melindungi diri dari manusia. Chung pun mengulurkan tangannya pada Dae Young dan menantang Dae Young untuk memastikan apakah benar dirinya putri duyung atau bukan. Dae Young seketika melangkah mundur karena takut. Tepat saat itu, ia mendengar langkah seseorang dan bergegas pergi.


Joon Jae sudah berada di lorong menuju ruang operasi. Ia terus mencari Joon Jae di setiap ruangan yang ia temui dan tak lama kemudian, ia mendengar suara hati Chung. Chung berkata dalam hatinya, kalau ia takut. Joon Jae pun langsung mencari sumber suara dan tak lama, ia menemukan ruang operasi tempat Chung ditawan.


Joon Jae terdiam sejenak melihat Chung yang terduduk lemas di atas tempat tidur beroda. Lalu setelahnya, ia berjalan perlahan2 mendekati Chung. Chung membuka matanya dan menatap Joon Jae dengan mata berkaca2. Joon Jae pun langsung memeluk erat Chung.

“Maafkan aku karena datang terlambat. Maafkan aku.” ucap Joon Jae.


Dae Young sudah pergi dengan taksinya. Tepat setelah kepergian Dae Young, dua penyidik itu tiba diluar dan berteriak kesal karena lagi2 gagal menangkap Dae Young.


Joon Jae pun langsung membawa Chung pulang. Baru masuk rumah, Nam Doo langsung mengoceh soal berita yang dilihatnya di TV tentang banyaknya razia polisi untuk menangkap Dae Young.

“Hei, dan kau tahu siapa detektif yang bertugas menangani Ma Dae Young? Jangan kaget, ya?  Si Mi Mi Hong Dong Pyo itu.” ucap Nam Doo.


Tak lama, Detektif Hong pun masuk bersama rekannya. Nam Doo dan Tae Oh pun terkejut.

“Sepertinya akulah si  Mi Mi Hong Dong Pyo itu. Apa singkatan Mi Mi itu?” tanya Detektif Hong dengan wajah dingin.

“Michin Misery (si sengsara gila).” jawab Nam Doo dengan entengnya. Rekan Detektif Hong pun tersenyum geli mendengarnya.


Joon Jae pamit ke atas untuk mengantar Chung yang masih terlihat lemas. Sementara Joon Jae ke atas, Nam Doo dan Tae Oh bingung harus bersikap bagaimana pada kedua penyidik itu. Nam Doo lalu memberanikan diri berkata, kalau ia akan mendonasikan semua miliknya setelah ia mati. Detektif Hong hanya tertawa kecil mendengarnya. Nam Doo lantas bertanya, apa Detektif Hong akan menangkap mereka.


Joon Jae membaringkan Chung di kasurnya. Ia juga menyelimuti Chung. Chung ingin mengatakan sesuatu soal Dae Young tapi Joon Jae melarangnya bicara dan menyuruh Chung istirahat. Joon Jae lalu menyuruh Chung tidur di kamarnya untuk hari ini dan ia akan tidur di kamar Chung.

“Kata orang, kau menderita kalau lagi minggat. Ternyata memang benar, pulang ke rumah itu sangat nyaman.” Ucap Chung.

“Betul. Jadi jangan mudah pergi keluar rumah dan teruslah tinggal di sini.” Jawab Joon Jae.

“Selamanya?” tanya Chung.

“Tidak bisa selamanya.” Jawab Joon Jae.

“Kenapa?” tanya Chung.

“Sewa rumah ini dua tahun lagi sudah habis. Walaupun begitu, kau bisa tinggal disini sekitar satu setengah tahun?” jawab Joon Jae.

“Sewa?” tanya Chung.


“Sebenarnya, yang kumaksudkan tadi artinya rumah ini bukan milikku. Cuma furnitur dan bagasi rumah ini punyaku. Nanti kita harus memindahkan semuanya itu.” jawab Joon Jae.

“Memindahkan semuanya?” tanya Chung.

“Ya.” jawab Joon Jae.

“Siapa?” tanya Chung.

“Kaulah yang harus memindahkan semuanya. Karena kita harus pergi bersama.” Jawab Joon Jae.

“Bersama?” tanya Chung.


Joon Jae pun membelai kepala Chung dan menyuruh Chung tidur karena ia harus membahas sesuatu dengan penyidik tadi.

Joon Jae melarang Detektif Hong menanyai Chung soal Dae Young dengan alasan karena Chung masih syok. Joon Jae mengklaim dirinya tau lebih banyak soal Dae Young jadi Detektif Hong bisa tanya padanya saja.

“Jika Ma Dae Young berusaha menculik wanita itu, pasti ada alasannya.” Jawab Detektif Hong.

“Sudah kubilang. Dia itu mengincarku.” Ucap Joon Jae.


Joon Jae pun menyuruh Tae Oh menunjukkan bukti rekaman saat Dae Young datang ke rumah mereka dengan menyamar sebagai petugas patroli. Rekan Detektif Hong yang ikut melihat rekaman itu pun berkata, itu adalah hari dimana si rentenir ditemukan tewas. Detektif Hong pun membenarkan. Joon Jae lalu menunjukkan SMS yang dikirimkan Dae Young padanya lewat ponsel Sopir Nam. Joon Jae berkata, ia menerima SMS itu setelah Sopir Nam terbaring koma karena kecelakaan.

“Joon Jae keluar menemuinya karena SMS itu, dan hampir saja mati.” Ucap Nam Doo.

“Ternyata itu disamarkan sebagai kecelakaan  dan mungkin Ma Dae Young terlibat.” Jawab Joon Jae.


“Pernahkah kau menipu Ma Dae Young sendiri atau kenalannya?” tanya Detektif Hong.

“Tidak pernah.” Jawab Joon Jae.

“Jangan terlalu yakin. Karena kau tidak akan pernah tahu.” ucap Nam Doo.

“Pokoknya Ma Dae Young,  memang jadi prioritas kita, dan kalian semua…” ucap Detektif Hong.

“Tapi, kau tahu tidak akan mudah menangkap kami atas penipuan.Tak satu pun dari para korban pernah melaporkan apapun.” Jawab Joon Jae.


“Mereka mungkin tidak bisa melapor, karena uang yang kami dapatkan dari mereka juga uang haram.” Ucap Nam Doo.

“Memangnya bukan kejahatan kalau mereka tidak melaporkannya? Dan kau, kau selalu saja berpura-pura menjadi aku dan menipu orang.” Protes Detektif Hong.

“Aku bukannya berpura-pura jadi seorang detektif polisi dan menipu. Aku tidak pernah melukai orang lain. Dan soal memakai identitasmu, bukannya aku cuma harus bayar denda saja?” jawab Joon Jae.

Detektif Hong pun langsung kesal mendengarnya. Hahah…


“Pertama-tama, tangkap dulu si bajingan Ma Dae Young itu. Aku akan membantunya.” Suruh Joon Jae.

“Memang dia bisa tertangkap kalau kami memakai bantuanmu? Aku dari awal memang sudah berencana menangkapnya.” Kesal Detektif Hong.

“Mari kita bahas masalahku setelah penangkapan Ma Dae Young. Setelah itu aku akan menuruti apa katamu, Detektif.” Ucap Joon Jae.

“Apa? Kau mau menurutiku?” tanya Detektif Hong tak percaya.

“Aku saja  sudah memberitahumu tempat tinggalku ini. Karena sekarang banyak yang harus kulindungi maka aku tak bisa melarikan diri sesukaku lagi. Kalaupun kau tidak percaya aku, percaya sajalah.” Jawab Joon Jae.


Chung gak bisa tidur gara2 perlakuan manis Joon Jae tadi. Ia senyum2 memikirkan sikap manis Joon Jae tadi padanya. Chung bertanya2 sendiri, apa artinya pindah bersama. Apa itu artinya mereka akan menikah. Tapi kemudian Chung meralat kata-katanya lagi kalau bukan menikah maksud Joon Jae.

Joon Jae yang tiduran di atas tersenyum mendengar suara hati Chung.

“Dia bilang padaku kalau aku harus memindahkan semua barang-barang itu. Apa mungkin dia membutuhkanku agar aku  bisa memindahkan semua barang-barang itu?” tanya Chung.

Joon Jae pun langsung bergumam, jadi begitu yang kau pikirkan? Dasar bodoh…

“Apa maksudnya dia akan menikahi wanita lain dan menyuruhku memindahkan semua barang itu?” tanya Chung.


“Tidak, bukan itu maksudku. Bukan itu.” jawab Joon Jae.

“Tapi…” ucap Chung.

“Tapi apa?” tanya Joon Jae sambil menajamkan pendengarannya.

“Kenapa dia menyentuh rambutku? Dia saat itu menyentuhnya  dengan penuh cinta.” Jawab Chung sambil memainkan helaian rambutnya.

Joon Jae tertawa mendengarnya seraya membaringkan tubuhnya di kasur.

“Heo Joon Jae, mungkin dia tidak hanya berencana menyukaiku, tapi ternyata dia sudah terlanjur menyukaiku. Apa dia sudah jatuh cinta padaku? Apa cinta romantis baru saja dimulai?” tanya Chung lagi.


Chung lalu menutupi wajahnya yang tersipu malu dengan selimut. Ia tertawa2 sendiri seperti orang gila, tapi tak lama ia berpikir kalau Joon Jae tidak mungkin menyukainya karena Joon Jae selalu marah2 padanya.

Sementara di atas, Joon Jae yang mau tidur mulai terganggu dengan suara2 Chung itu.

“Tapi kenapa dia menyentuh rambutku? Dia menyentuhnya karena dia menyukainya. Baju tidurnya juga berwarna hijau. Omo, apa dia… apa tubuhnya berubah jadi hijau karena aku? Aku juga sudah dapat lampu hijau berarti! Apa begitu maksudnya?” ucap Chung.


Joon Jae yang mulai merasa terganggu itu akhirnya membuka pintu kamarnya dan menyuruh Chung tidur. Joon Jae pun tak bisa menjawab saat Chung tanya ada apa. Chung lalu berkata, kalau ia sudah mau tidur.

“Kenapa kau tidak cepat tidur saja, bukannya kau itu kelelahan? Jangan selalu banyak memikirkan hal lain. Kau harus tidur yang nyenyak. Dengan begitu, kau bisa bangun pagi-pagi dan menonton drama yang ditayangkan pagi-pagi.” Suruh Joon Jae.


Chung pun menurut. Joon Jae kembali menutup pintu kamarnya. Ia tersenyum karena Chung sudah berhenti bicara. Tapi baru saja mau tidur, ia lagi-lagi mendengar suara Chung.

“Dari suaranya, dia sepertinya marah. Kenapa dia marah? Dia bilang "selamat malam"  dan tersenyum padaku. Apa arti dari senyumnya itu? Dia pasti khawatir denganku. Apa dia menyukaiku? Tidak... bukan itu. Dia bilang aku harus memindahkan semua barang. Apa... apa itu artinya kita akan menikah? Tapi suara dia tadi terkesan marah. Aneh sekali.”


Keesokan harinya, Jin Joo yang lagi sarapan sama Dong Shik terheran-heran karena si ayah Goo Baek tidak pernah mau menjawab teleponnya. Jin Joo pun berpikir, kalau akan membutuhkan waktu lama untuk bisa melanjutkan rencana mereka. Dong Shik berpikir lain. Ia merasa usaha mereka sia2 saja.

“Yeobo!  Di dunia ini, tanpa ada uang ilegal, bakal susah dan sia-sia hidupmu. Jika kita berupaya keras,  pasti ada hasilnya.” Ucap Jin Joo.

“Apa iya?” tanya Dong Shik lemas.

“Mari kita berpikir dulu. Kita harus sekali lagi mencoba menghubungi Presdir Heo. Ya 'kan?” jawab Jin Joo.

Jin Joo pun langsung menghubungi Presdir Heo. Seo Hee lah yang menjawab teleponnya. Jin Joo mengajak Seo Hee bertemu.  Seo Hee setuju, ia berkata mereka akan bertemu jam 7 dan memberitahukan lokasi dimana mereka akan bertemu.


Usai bicara dengan Jin Joo, Seo Hee menukar obat Presdir Heo dengan obat lain. Tanpa ia sadari, Chi Hyun menatapnya dari balik pintu. Setelah Seo Hee pergi, Chi Hyun pun mengambil dua butir obat itu. Sepertinya Chi Hyun berniat mencari tahu kandungan obat itu.


Saat sarapan, Nam Doo terheran-heran melihat wajah Joon Jae dan Chung yang terlihat lesu. Nam Doo bertanya, apa mereka tidak bisa tidur. Chung pun berkata, ia tak bisa tidur karena banyak yang ia pikirkan. Joon Jae juga berkata, kalau ia tak bisa tidur karena Chung terus-terusan bergerak kesana kemari. Mendengar itu, Chung pun langsung menatap Joon Jae meminta penjelasan. Tapi Joon Jae diam saja.

“Apa dia marah padaku sekarang? Kenapa begitu? Apa dia mulai tidak menyukaiku dalam waktu satu malam? Apa salahku? Dia menyuruhku pindah ke 'rumah sewa per tahun' bersama. Terus kenapa dia marah?” batin Chung.


Joon Jae pun langsung berteriak kesal mendengarnya, bukan begitu! Nam Doo dan Tae Oh pun terheran-heran karena Joon Jae tiba-tiba2 saja berteriak marah begitu. Joon Jae pun langsung memberikan penjelasannya dengan suara lembut kalau setelah2 ia ingat-ingat lagi, Chung tidak berisik waktu gerak sana sini.


Joon Jae kemudian menatap Chung dan membayangkan saat Chung berenang di kolam renangnya.

“Hyung, apa kita hari ini beli pohon saja?” tanya Joon Jae.

“Christmas tree? Aku ikut!” jawab Nam Doo.

“Aku juga mau ikut.” Ucap Chung.

“Tidak, kau di rumah saja. Aku pergi dengan Hyung Nam Doo dan Tae Oh saja. Kami bertiga bakal pergi jadi kau jaga rumah. Sendirian.” Jawab Joon Jae.


Chung pun tidak mengerti kenapa Joon Jae menyuruhnya jaga rumah sendirian. Joon Jae pun terpaksa menjelaskan, karena Chung tinggal bersama dengan 3 pria jadi mungkin saja ada hal yang ingin Chung lakukan tapi tak bisa dilakukan. Joon Jae pun berkata, mereka akan pulang jam 7 malam. Tapi Chung masih tidak ngeh kalau Joon Jae menyuruhnya berenang saat mereka tidak ada.

“Apa dia menyuruhku bersih-bersih? Aku harus menganggap diriku pemilik rumah dan bersih-bersih?” batin Chung.

“Bukan bersih-bersih atau semacamnya! Hal yang kau bisa lakukan  dan bisa beristirahat paling nyaman. Lakukanlah hal-hal semacam itu!” suruh Joon Jae, sambil mencubiti pipi Chung.


Melihat Joon Jae mencubit2 pipi Chung, Tae Oh pun protes pertama kali yang kemudian diikuti Chung. Joon Jae pun beralasan kalau dia hanya ingin melakukan hal itu. Joon Jae lalu beranjak pergi. Setelah Joon Jae pergi, Chung memegangi kedua pipinya dan bertanya-tanya kenapa pipinya terasa panas, apa karena dicubit Joon Jae.


Joon Jae tiduran di sofa. Nam Doo mengajaknya membuat pesta natal yang sederhana. Nam Doo juga mengusulkan mengundang Si A ke pesta mereka. Joon Jae setuju. Nam Doo dan Tae Oh pun langsung masuk kamar mereka untuk siap2. Chung masih memegangi pipinya dan bertanya2 kenapa pipinya sakit sambil berjalan mendekati Joon Jae.

“Pipiku sakit sekali.  Tapi anehnya, aku suka. Perasaan apa ini? Apa aku gila? Aku tidak bisa jadi orang  satu-satunya yang merasa seperti ini. Heo Joon Jae juga harus merasakannya.” Batin Chung.


Joon Jae pun langsung berdiri dan berlari menghindari Chung yang mau mencubit pipinya. Chung terus berlari mengejar Joon Jae sambil mengangkat tangannya mau mencubit pipinya Joon Jae. Joon Jae langsung memegangi kedua tangan Chung dan mendesak Chung ke dinding. Chung pun tertegun.

“Kalau kau sendirian lakukan apa saja sesukamu. Harus.” suruh Joon Jae.

“Apa lagi ini? Aku tidak bisa memikirkan apapun untuk sementara waktu.” Batin Chung.

Joon Jae pun langsung melepaskan pegangannya dan menutup telinganya sambil beranjak pergi. Sementara Chung sambil memegangi tangannya yang habis dipegang Joon Jae bertanya2, Joon Jae menyukainya atau tidak.


Di ruangannya, Presdir Heo sedang berbicara dengan penasehatnya. Penasehatnya bertanya, kenapa Presdir Heo buru2 meresmikan surat wasiat. Tepat saat itu, Chi Hyun datang dan berhenti di depan pintu. Penasehat melihat Chi Hyun dan Chi Hyun meminta penasehat tidak memberitahukan kehadirannya pada Presdir Heo.

“Ini soal anakku Joon Jae. Aku ingin memberikan semua kekayaanku padanya. Baik itu saham, real estate, aset internasional, apa pun itu.” jawab Presdir Heo.


Chi Hyun terkejut mendengarnya. Penasehat yang mendengar itu pun langsung mengatakan kalau Seo Hee dan Chi Hyun juga harus menerima warisan sesuai aturan hukum untuk mencegah adanya masalah gugatan warisan di kemudian hari.

“Jika aku mengecualikan mereka berapa banyak warisan yang  mungkin akan diterima Joon Jae?” tanya Presdir Heo.

Chi Hyun pun kecewa mendengarnya.