• Sinopsis Wonderful World Episode 1-16

    Kim Nam Joo dan Cha Eun Woo memiliki rasa sakit yang sama akibat kehilangan seseorang yang sangat berharga bagi mereka.

  • Duis non justo nec auge

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

Ruby Ring Ep 74 Part 1

Sebelumnya...


Nenek keluar dari kamar dan berteriak memanggil Geum Hee. Tapi yang datang Nyonya Park.

"Ibu, kau butuh sesuatu?"

"Dimana Auto?"

"Dia pergi berbelanja. Roo Bi pulang hari ini."

"Tidakkah kau terlalu baik menyambut si pembuat masalah dengan sebuah pesta?" tanya nenek.

Nyonya Park hanya tersenyum mendengarnya.

Nyonya Park mau pergi, tapi nenek kembali bertanya.

"Apa kau menyuruhnya memberi tulang kaki sapi juga?"

"Ibu ingin sup tulang kaki sapi?"

"Roo Bi sudah luntang lantung di jalanan beberapa hari. Kondisinya pasti tidak baik. Seharusnya dia tidak kembali tapi dia kembali jadi kita harus bersikap baik padanya demi Gyeong Min."

"Aku mengerti ibu." jawab Nyonya Park, lalu beranjak pergi.

"Aku punya firasat tidak enak dia kembali. Tapi demi Gyeong Min, aku harus menerimanya kembali." ucap nenek.


Di restoran, Gilja sewot karena Chorim belum kembali.

Gila lantas menanyakannya pada Soyoung.

"Dia tidak bisa dihubungi. Apa dia bertemu dengan Chef No?"

"Kurasa begitu."

"Ada apa dengan mereka? Mereka bukan anak-anak lagi."


Ponsel Soyoung berdering. Soyoung pun langsung menyingkir keluar.

"Ada apa. Jihyeok-ssi?"

"Ahjumma belum kembali, kan?"

"Benar, kurasa sesuatu yang baik telah terjadi."

"Gomawoyo Soyoung-ssi."

"Kita sudah berteman sekarang jadi jangan bersikap terlalu formal padaku."

"Arraseoyo, Soyoung-ssi, ah maksudku, Soyoung-ah." jawab Jihyeok malu-malu.


Daepung pun pulang dan Jihyeok langsung menyudahi pembicaraannya dengan Soyoung.

"Kau punya pacar juga?" tanya Daepung.

"Aniyo." jawab Jihyeok.

"Kau tidak bisa berbohong. Sejauh yang kulihat, kau sedang jatuh cinta." ucap Daepung.

Jihyeok mati-matian menyangkal, tapi Daepung tidak percaya dan yakin Jihyeok sedang jatuh cinta.


Dengan wajah terpaksa, Tuan Bae mengucapkan selamat datang pada Roo Na.

Roo Na meminta maaf karena sudah membuat Tuan Bae dan keluarga cemas.

Roo Na lalu menyapa nenek.

"Bagus lah kau kembali." jawab nenek sedikit terpaksa.

"Kau pasti lelah jadi pergilah ke kamarmu dan istirahat. Aku akan memanggilmu jika makan malam sudah siap." ucap Nyonya Park.

Gyeong Min dan Roo Na pun langsung naik ke atas.


"Seperti menyambut seorang pahlawan saja." sindir Se Ra.

"Se Ra-ya." tegur Nyonya Park.

"Aku mengerti. Aku itik buruk rupa." jawab Se Ra.


"Jika kau tidak suka mendengarnya, menikahlah. Mertuamu akan menyayangimu juga." ucap nenek.

"Aku akan menikah jadi hentikan omelanmu." jawab Se Ra.


Tuan Bae langsung tertawa.

"Strategi ibu berhasil." ucapnya.

"Kau yang terbaik, Samonim." puji Geum Hee.


Roo Na sedang melihat-lihat kamarnya yang tidak dilihatnya belakangan ini.

Pandangannya lalu terjatuh pada foto pernikahannya.


Tak lama kemudian, Gyeong Min datang.

"Kau melihat apa?"

"Aku tidak tahu kalau kamar ini secantik ini. Aku memang bodoh, tidak menyadari betapa cantik dan berharganya kamar ini."

"Kau mau mandi?"

"Kau saja yang duluan."


Roo Na lalu mendapatkan SMS dari Roo Bi.

Kau senang? Nikmatilah waktumu selama masih ada. Jam terus berdetak. 

Roo Na pun langsung cemas.


Di rumah, Gilja kesal karena Roo Na balik ke rumah Gyeong Min tanpa pamit padanya terlebih dulu.

Soyoung menenangkan Gilja. Ia mengatakan, hal terbaik bagi Roo Na untuk kembali ke rumah Gyeong Min.

Roo Bi lalu menanyakan Chorim.

Gilja yang sebal pun mengaku tidak tahu dimana Chorim.

Tak lama kemudian, Chorim datang bersama Dongpal.



Chorim dan Dongpal meminta restu Gilja.

Chorim kemudian menjelaskan, bahwa mereka akan benar-benar menikah kali ini.

"Tapi mengingat situasi keuangan kami, kami memutuskan tidak akan menggelar resepsi. Kami akan langsung pindah dan menggelar resepsi pernikahan nanti." ucap Chorim.


Diluar, Soyoung dan Roo Bi yang mendengarkan pembicaraan mereka pun kaget.


Gilja tidak setuju. Ia ingin Chorim dan Dongpal memiliki pesta pernikahan.

Gilja lantas menanyakan soal Jihyeok dan Daepung.

Dongpal mengaku, ia dan Chorim akan menyewa tempat baru jadi Daepung dan Jihyeok tidak perlu pindah.

Chorim pun meminta Gilja tidak cemas dan meyakinkan Gilja kalau ia dan Dongpal agar bekerja keras agar dapat memiliki rumah yang layak.

 "Tinggal saja disini. Soyoung bisa sekamar dengan Roo Na atau denganku." ucap Chorim.

Mendengar itu, sontak Chorim senang. Ia pun langsung memeluk Gilja.

Dongpal dan Chorim lalu mengucapkan terima kasih.


Mereka semua akhirnya terbang ke Jeju.


Roo Bi menatap langit Jeju seolah tempat itu punya kenangan tersendiri baginya.


Gyeong Min dan Roo Na menunggu di depan hotel.

Tak lama kemudian, Roo Bi cs tiba.

Gyeong Min pun langsung memberikan ucapan selamat pada Dongpal.

Setelah itu, Chorim mengenalkan Jihyeok sebagai putranya pada Gyeong Min dan Roo Na.

Gilja lantas mengucapkan terima kasih karena Gyeong Min sudah mengizinkan mereka menggunakan hotelnya.

Gyeong Min lalu menyuruh mereka masuk.


Mereka pun masuk.

Tinggal lah Roo Bi dan Roo Na.

"Aku tidak berpikir, kau akan datang." ucap Roo Na.

"Aku tidak akan melewatkan pernikahan Bibi Chorim." jawab Roo Bi.

"Kau yakin akan baik-baik saja? Kita berada di resort keluarga Gyeong Min." ucap Roo Na.

"Kalau begitu makin banyak alasan bagiku untuk datang. Seperti yang kau tahu, seharusnya ini menjadi milikku." jawab Roo Bi.

Roo Bi lalu beranjak pergi. Roo Na langsung resah setelah mendengar kata-kata Roo Bi.


Dongpal dan Chorim jalan-jalan di kebun bunga.

Chorim merasa ia seperti sedang jalan-jalan di Surga dengan Dongpal.

Dongpal lantas berterimakasih karena Chorim sudah memperkenalkan Jihyeok sebagai putra mereka.

"Dia kan memang putramu." jawab Chorim.

"Gomawo, Jeong Chorim-ssi!" ucap Dongpal.

Dongpal kemudian memeluk Chorim. Ia juga berniat mencium Chorim.


Chorim yang malu mendorong Dongpal, hingga Dongpal jatuh.

"Noonim, tidak bisakah kau sedikit tenang padaku?"

"Mianhae." jawab Chorim.

Chorim pun membantu Dongpal berdiri, tapi setelah Dongpal berdiri mereka kaget melihat tanaman yang tercabut karena tertindih badan Dongpal saat jatuh tadi.


Pengelola kebun datang. Chorim langsung meminta maaf dan mengaku tidak sengaja merusakkannya.

Dongpal pun berniat mengganti kerusakannya tapi si pengelola berkata tidak masalah.

"Tapi apakah kau lulusan sekolah menengah Yurim?" tanya si pengelola pada Chorim.

Sontak, Chorim terkejut melihat sosok pria di depannya.

Merasa mengenali pria itu, Chorim pun kabur dan ngumpet dibalik tanaman.

"Apakah dia Lee Kwang Soo, cinta pertamaku saat masih di sekolah? Dia ketua kelas kami?" ucap Chorim kaget.

*Ahay, namanya Lee Kwang Soo....


Dongpal pun menyusul Chorim.

"Kau mengenal pria tadi?"

"Tidak. Aku tidak tahu siapa dia." jawab Chorim lalu pergi.


Roo Na sedang berduaan dengan Gyeong Min di kebun bunga.


In Soo yang melihat mereka dari kejauhan bersama Roo Bi pun tidak habis pikir.

"Dia tahu ingatanmu sudah kembali namun dia sangat tidak tahu malu. Aku pernah jatuh cinta sekali padanya, namun kurasa aku belum sepenuhnya mengenal dirinya." ucap In Soo.

In Soo lantas membujuk Roo Bi untuk melupakan balas dendam dan move on dari Gyeong Min.

Tapi Roo Bi tidak bisa.


Gilja, Roo Bi, Chorim dan Soyoung masuk ke kamar mereka.

Gilja, Chorim dan Soyoung pun takjub melihat kamar mereka.

Gilja pun menyuruh In Soo dan Roo Na menikah di tempat itu juga.

Setelah mengatakan itu, Gilja menyusul Chorim dan Soyoung ke teras jendela.

Roo Bi langsung berkaca-kaca. Ia pun berandai-andai, seandainya kecelakaan itu tidak pernah terjadi.


Gyeong Min memeluk Roo Na dari belakang.

"Tidakkah kau membenciku? Kau masih mencintaiku?" tanya Roo Na.

"Aku suamimu dan kau istriku. Aku masih mencintaimu." jawab Gyeong Min.

"Aku juga mencintaimu." ucap Roo Na.

Mereka pun berpelukan.

Bersambung ke part 2.........

Ruby Ring Ep 73 Part 2

Sebelumnya...


Tuan Bae mengajak Gyeong Min sarapan, tapi Gyeong Min menolak dengan alasan harus segera ke kantor karena ada meeting.

"Setidaknya makanlah sedikit. Jangan pernah melewatkan sarapan." ucap nenek.

"Aku akan makan selesai meeting." jawab Gyeong Min.

Gyeong Min lantas memberitahu keluarganya bahwa ia akan membawa Roo Na kembali ke rumah.

Sontak semuanya kaget. Se Ra bahkan protes dengan keputusan Gyeong Min.

Gyeong Min minta maaf pada nenek. Menurut Gyeong Min, membawa Roo Na pulang adalah keputusan terbaik karena mereka tidak jadi bercerai.

"Changgeun, suruh Gyeong Min ke kamarku!" perintah nenek.


Nenek meminta penjelasan Gyeong Min, apakah Gyeong Min tidak jadi menceraikan Roo Na.

"Kau ingin membawa dia pulang? Kau sudah lupa apa yang dia lakukan pada keluarga kita?"

"Halmeoni, abeoji, aku minta maaf tapi aku ingin memberikannya satu kesempatan lagi. Roo Bi membuat banyak kesalahan, tapi sebagai suaminya, aku juga harus bertanggung jawab. Dia tidak akan melakukan hal ini jika aku lebih memperhatikannya. Aku juga bertanya-tanya, apakah keluarga kita terlalu menekannya?"

"Jadi kau menyalahkan nenek?" tanya nenek.

"Bukan begitu maksudku." jawab Gyeong Min.


Nenek lantas menanyakan pendapat Tuan Bae. Tuan Bae pun berkata, bahwa Gyeong Min benar.

Nenek pun tak bisa apa-apa lagi selain menerima Roo Na kembali di rumahnya.


Di basement, Gyeong Min bertemu In Soo.

Gyeong Min mengucapkan terima kasih karena In Soo juga ikut membantunya mencari Roo Na.

In Soo lantas menanyakan keadaan Roo Na.

Gyeong Min berkata, bahwa Roo Na sudah terlihat lebih baik.


Pintu lift terbuka. Keduanya pun terkejut saat melihat Roo Bi dan Roo Na sudah ada di dalam.

Berada di dalam satu lift begitu membuat Gyeong Min merasa aneh. Gyeong Min merasa, mereka seperti berbagi takdir.

"Tidak semua takdir. Takdir yang lebih gelap lebih mengikat. Mereka tidak mungkin melarikan diri." jawab Roo Bi.

"Jadi menurutmu masing-masing dari kita buruk untuk satu sama lain?" tanya Gyeong Min.

"Aku hanya sedang berpikir, apa arti takdir yang sesungguhnya." jawab Roo Bi.

Roo Na langsung tegang mendengar kata-kata Roo Bi.


Gyeong Min pun berkata, bahwa In Soo beruntung memiliki Roo Bi.

"Roo Na selalu penuh kejutan. Kau tidak akan pernah merasa bosan." ucap Gyeong Min.

"Kau lebih beruntung, Hyeong-bu. Roo Bi benar-benar berubah setelah kecelakaan itu." jawab Roo Bi.

Sontak, Roo Na terbelalak mendengarnya.

Sementara Roo Bi tersenyum puas menatap Roo Na.


Jin Hee, Hyeryeon dan Seokho langsung memuji Roo Na begitu Roo Na dan Roo Bi tiba di kantor.

Mereka tidak henti-hentinya membahas Roo Na yang jadi topik dimana-mana karena berhasil menggagalkan niat Jiyeon bunuh diri.

Jin Hee bahkan merasa, bahwa Roo Na sedang diberi imbalan atas perbuatan baik Roo Na.


Roo Bi yang mendengar itu sambil membaca koran pun kesal.

Ia langsung menatap tajam Roo Na.

"Kita lihat berapa lama kau akan bertahan. Jika kau memang orang baik, surga pasti akan melindungimu." ucap Roo Bi dalam hati.


Di restoran, Chorim sewot melihat Soyoung yang bermain ponsel sejak tadi.

Soyoung pun langsung berlari menghampiri Gilja.

Ia memberitahu Gilja bahwa Roo Na menjadi trending topic dimana-mana.

Soyoung pun penasaran, apakah Roo Na akan kembali ke siaran televisi.

"Tidak mungkin. Dia harus menata hidupnya." jawab Gilja.

"Aku juga cemas dengan apa yang akan dilakukan Roo Bi. Aku takut dia membuat masalah lagi." ucap Chorim.

"Komo!" sentak Gilja. Chorim pun langsung diam.


Gilja lantas memberitahu mereka kalau chef yang baru akan mulai bekerja besok.

Sontak, Soyoung kaget dan langsung menanyakan kabar Dongpal.

"Bagaimana mungkin dia bisa kembali bekerja disini setelah apa yang dilakukannya pada Chorim?" jawab Gilja.

"Eonni, katakan sesuatu." pinta Soyoung.

"Ko Soyoung, urus saja urusanmu sendiri!" suruh Chorim.

Chorim lalu kembali bekerja.


Soyoung langsung menyingkir keluar.

Diluar, ia menghubungi Jihyeok guna memberitahu bahwa mereka sudah menemukan pengganti Dongpal.

Jihyeok pun mencemaskan hubungan ayahnya dengan Chorim.

Soyoung yakin, Chorim masih menyukai Dongpal.

"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Soyoung.

Belum sempat menjawab, Jihyeok sudah dipanggil Dongpal.

Jihyeok pun langsung menyudahi pembicaraan mereka.


Jihyeok membawakan ayahnya segelas air.

Jihyeok juga menawarkan ayahnya bubur, tapi sang ayah mengaku tidak lapar.

"Ini akan menjadi bencana. Tidak ada obat untuk patah hati." ucap Jihyeok.

"Apa?" sahut Dongpal.

"Ayah tahu maksudku." jawab Jihyeok.

"Lupakan." ucap Dongpal.

"Aku pikir ayah seorang pria. Ayah menyukainya. Ayah mencintainya. Dia juga menyukaimu tapi dia mendorongmu pergi. Wae? Karena ayah melukai harga dirinya. Karena ayah berbohong padanya. Apakah harga diri ayah bisa memberi ayah makan? Bisa membantu ayah menemukan wanita yang lain? Kau tidak akan pernah menemukan wanita sepertinya. Kudengar dia berusaha keras menikahi pria mana pun yang pergi kencan buta dengannya. Ayah tidak akan menyesal. Ayah mau dia jatuh ke pelukan pria lain?"

"Diamlah No Jihyeok!" teriak Dongpal.

Tapi tak lama berselang, Dongpal beranjak pergi.


Soyoung mendekati Chorim yang duduk melamun.

"Apa benar dia sakit?" tanya Chorim.

"Aku bersumpah Eonni." jawab Soyoung.

"Siapa yang memberitahumu?" tanya Chorim.

"Jihyeok-ssi." jawab Soyoung.

"Jihyeok-ssi? Dongpal-ssi adeul? Kau bertemu dengannya?" tanya Chorim.

"Aku mencemaskan Dongpal. Jihyeok juga mencemaskannya. Dia takut ayahnya sakit dan mati. Jihyeok merasa bersalah karena dia pikir ini salahnya." jawab Soyoung.


Soyoung lalu mengaku penasaran, apakah Dongpal benar-benar mencintai Chorim.

"Eonni, coba pikirkan. Apa alasan dia membawamu kabur dari Gongnam? Seseorang bilang padaku, sulit menemukan orang yang mencintaimu seperti kau mencintainya." ucap Soyoung.

Setelah mendengar cerita Soyoung, Chorim pun langsung pergi.


"Soyoung-ah, dia mau kemana?" tanya Gilja.

Soyoung tersenyum, mencari cinta sejatinya.

"Apa?" jawab Gilja kaget.


Chorim yang menyusuri jalanan, teringat kebersamaannya dengan Dongpal selama ini.

Ia juga ingat saat Dongpal membawanya kabur dari Gongnam.


Tangisnya pun keluar. Saat menghapus tangisnya, dua orang bocah membuang cincin mainan ke kakinya.

Chorim terdiam melihat cincin itu.


Dongpal ternyata ke restoran, tapi ia hanya berdiri diluar dan melihat-lihat ke dalam restoran mencari Chorim.

Sementara Gilja sedang menerima telepon dari customernya.

Soyoung yang sedang melayani customer, tanpa sengaja melihat Dongpal.

"Oppa." ucapnya sembari tersenyum.


Chorim sendiri ke tempat Dongpal.

Jihyeok yang sedang makan pun langsung membukakan pintu.

"Dimana ayahmu?"

"Kau tidak bertemu dengannya? Dia pergi ke tempatmu." jawab Jihyeok.

Mendengar itu, Chorim pun bergegas pergi tapi Jihyeok menahannya.

"Ahjumma, tolong maafkan ayahku. Dia sangat mencintaimu. Aku juga ingin menjadi anak yang baik untukmu."

Chorim pun mengangguk. Tak lama berselang, senyumnya merekah.

"Ahjumma, hwaiting." ucap Jihyeok lagi memberi semangat.

"Gomawo, Jihyeok-ah." jawab Chorim, lalu bergegas pergi.


Jihyeok pun tersenyum.


Dongpal langsung pergi setelah Soyoung bilang Chorim pergi mencarinya.

Chorim mengomel sepanjang jalan karena Dongpal pergi keluar. Ia takut Dongpal tambah sakit.

Tak lama kemudian, mereka bertemu.

Dongpal pun memarahi Chorim yang meninggalkan restoran saat restoran lagi sibuk.

Chorim sontak kesal dimarahi seperti itu. Ia bertanya, apa alasannya sehingga ia tidak boleh keluar.

"Karena... karena..." Dongpal sulit mengatakannya.

Kesal, Chorim berniat pergi tapi Dongpal langsung memeluknya.

"Aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku merasa seperti orang mati. Aku tidak bisa membayangkan duniaku tanpa dirimu." ucap Dongpal.


Dongpal lalu melepas pelukannya. Ia menatap Chorim dan melamar Chorim.

"Kau melamarku?"

"Benar, aku melamarmu."

"Mana cincinnya?" tanya Chorim.

"Aku... cincinnya tertinggal di rumahku."

Chorim pun menyerahkan cincin mainan itu.

"Pasangkan itu ke jariku." pinta Chorim.

Dongpal pun langsung memasangkannya.


Chorim berkata lagi. Ia menyuruh Dongpal berlutut.

"Setidaknya berlutut lah dan pasangkan cincin itu ke jariku."

Dongpal pun berlutut dan memasangkan cincin itu ke jari Chorim.

"Jeong Chorim-ssi, maukah kau menikah denganku?"

"Iya, aku mau!" jawab Chorim tegas.

Mereka pun kembali berpelukan.


Di rumah, Tuan Bae kesal membaca artikel Roo Na tentang bunuh diri Jiyeon.

Ia bertanya-tanya, siapa Roo Na sebenarnya.


In Soo juga sedang membaca artikel itu bersama rekannya. Rekannya bertanya-tanya, apakah Roo Na akan kembali televisi.


Hyeryeon menjawab telepon kantor.

Setelah itu ia memberitahu Roo Na, bahwa seketaris Gyeong Min menelpon, meminta Roo Na ke ruangan Gyeong Min.

Sontak, Roo Bi langsung menatap kesal Roo Na.

Roo Na sendiri bertanya-tanya untuk apa Gyeong Min memanggilnya.


Roo Na ke ruangan Gyeong Min.

Gyeong Min pun langsung menyiapkan dua cangkir kopi.

"Kau ingat kopi ini?" tanya Gyeong Min.

"Tentu saja." jawab Roo Na.

Roo Na lantas bertanya kenapa Gyeong Min menyuruh seketaris memanggilnya.

Gyeong Min pun beralasan bahwa dirinya sibuk.

"Gyeong Min-ssi, kau membuatku gugup."


"Aku akan membawamu pulang hari ini. Aku sudah bicara dengan keluargaku."

"Tapi aku takut Gyeong Min-ssi. Mereka mungkin masih marah padaku."

"Kalau begitu kau harus menunggu. Ini juga sulit buat mereka." jawab Gyeong Min.

Roo Na pun menghela nafas. Ia menatap Gyeong Min.

Bersambung.............