Wednesday, November 29, 2017

My Golden Life Ep 26

Sebelumnya...


Tuan Seo lega begitu melihat Ji An. Ia tersenyum, namun senyumnya seketika lenyap melihat Ji An menjauh saat ia mencoba mendekati Ji An. Ji An berkaca-kaca menatap ayahnya. Tak lama kemudian, Ji An berbalik. Ia mau pergi, tapi Tuan Seo langsung menghentikan langkahnya.

Tuan Seo mendekat. Ia lega Ji An masih hidup. Setelah terdiam untuk beberapa saat, Ji An akhirnya berbalik dan menatap ayahnya. Ia diam saja dan teringat saat Tuan Choi memukul ayahnya.

“Kenapa kau tidak... Kenapa kau tidak menelepon kami? Kau seharusnya mengabari kami.” ucap Tuan Seo.

“Maaf.” Jawab Ji An dengan wajah tertunduk.

“Ayah menghubungi, mengirim pesan, dan bahkan meninggalkan pesan suara setiap hari.” Ucap Tuan Seo.

“Ponselku hilang.” Jawab Ji An.

“Begitu rupanya. Kau ke mana saja selama ini? Kau di kota ini selama ini?” tanya Tuan Seo.

“Aku tidak mau membahasnya.” Jawab Ji An.

“Lantas, sekarang kau tinggal di mana? Apa yang kau lakukan di kota ini?” tanya Tuan Seo.

“Aku bekerja di sini.” Jawab Ji An.


“Itu artinya, selama ini kau di Seoul?” tanya Tuan Seo.

“Ayah tidak perlu mengkhawatirkanku.” Jawab Ji An.

“Ayah minta maaf. Ayah menyerahkanmu pada mereka tanpa penjelasan apa pun. Andai saja ayah bisa memutar balik waktu. Ayah amat menyesali melepaskanmu pergi seperti itu. Itu bukan salahmu. Kami menipumu. Kenapa kau bertanggung jawab sendirian? Kau seharusnya memberi tahu ayah saat mengetahuinya. Kau pasti menderita sendirian. Ayah kira sesuatu menimpamu.” Ucap Tuan Seo.

Tuan Seo lantas mengajak Ji An pulang. Tapi Ji An tidak mau. Ji An bilang, ia sudah cukup dewasa untuk tinggal sendiri. Tuan Seo pun bercerita, kalau ia memulai bisnis sendiri dan sudah mendapat kontrak pertama, jadi Ji An tidak akan hidup menderita lagi.

“Bukan begitu.” jawab Ji An.


“Benar. Pasti tidak mudah menghadapi ayah dan ibumu. Kau pasti amat kesal dan kecewa. Tapi kau harus tetap berusaha. Walaupun kau kesal kepada kami, kita harus berusaha bersama secara langsung. Kau juga bisa mendengar cerita dari sisi kami. Kita keluarga, bukan? Kau setidaknya harus memberikan kami kesempatan untuk meminta pengampunanmu.” Ucap Tuan Seo.

“Kenapa? Apa kita harus berusaha jika kita keluarga? Kenapa? Haruskah keluarga tinggal bersama walaupun itu sulit? Ayah kira aku bisa menghadapi Ayah dan Ibu? Ayah kira aku bisa tinggal dengan kalian?” jawab Ji An.

“Setidaknya kau harus memberikan kami kesempatan.” Ucap Tuan Seo.

“Aku mau sendiri sekarang tanpa keluarga. Maaf. Jangan ganggu aku untuk sementara waktu.” Jawab Ji An.

Ji An lalu pergi. Tuan Seo hanya bisa menahan kesedihannya menatap kepergian Ji An.


Nyonya No terkejut saat diberitahu Tuan Choi bahwa Ji An menghilang. Tuan Choi pun berniat menyewa seseorang untuk mencari Ji An. Nyonya No tidak setuju pada awalnya, tapi kemudian ia terdiam.


Do Kyung mengirimkan pesan pada Hyuk. Ia memberitahu Hyuk, kalau ada lowongan bagus untuk Ji An dan sudah mengirimkan aplikasi lamaran Ji An, tapi memakai nomor Hyuk. Do Kyung menyuruh Hyuk mengabari Ji An jika dipanggil untuk wawancara. Do Kyung juga berharap, Hyuk bisa membujuk Ji An mengikuti wawancara itu.

Hyuk menghela napas. Ia bingung harus melakukan apa terhadap Ji An dan Do Kyung.

Hyuk lalu membalas pesan Do Kyung. Ia bilang, akan memberitahu Ji An jika menerima panggilan wawancara itu. Do Kyung pun heran sendiri karena Hyuk membalas pesannya begitu cepat. Ia bertanya2, apakah Hyuk sungguh2 akan memberitahu Ji An? Ataukah Hyuk tidak akan memberitahu Ji An karena ingin berada di sisi Ji An?

Ji An sibuk menggergaji kayu. Pemilik tempat Ji An bekerja, hanya bisa geleng2 kepala melihat Ji An yang bekerja tanpa henti.


Tuan Seo pulang ke rumah. Ia berjalan tanpa ekspresi.  Begitu tiba di rumah, Tuan Seo langsung masuk ke kamarnya. Ia melipat jaketnya, lalu tidur.


Teman kerja Ji An pamit pulang. Dan si pemilik pun juga menyuruh Ji An pulang. Tapi si pemilik kemudian teringat pesan Hyuk yang menyuruhnya memberi banyak pekerjaan untuk Ji An, agar Ji An tidak punya waktu untuk memikirkan yang lain. Si pemilik lalu menyuruh Ji An bekerja lagi.


Nyonya Yang yang baru pulang bekerja, terkejut melihat Tuan Seo sudah tidur. Nyonya Yang juga melihat jaket Tuan Seo sudah terlipat rapi.

“Belakangan ini aku tidak pernah melihatnya tidur secepat ini. Kenapa dia melihat bajunya dengan amat rapi?” gumamnya.


Keesokan paginya, Nyonya Yang yang baru bangun terkejut melihat Tuan Seo masih tidur.


Nyonya Yang cemas. Ia yang baru selesai menyiapkan sarapan, bergegas menghampiri Ji Tae dan Soo A yang mau berangkat kerja.  Nyonya Yang menceritakan keadaan Tuan Seo pada Ji Tae. Tapi Ji Tae malah bersikap acuh dan menyuruh ibunya membiarkan ayahnya tidur. Nyonya Yang lalu menyuruh Ji Tae dan Soo A makan. Tapi Ji Tae menolak. Nyonya Yang pun kecewa.


Hee mengajak Hyuk minum kopi. Ia kemudian memberitahu Hyuk tentang Ji An yang tidak pernah makan di rumah. Hyuk menyuruh Hee membiarkan Ji An. Hee juga mengomentari Hyuk yang tidak pernah menengok Ji An.

“Itu yang kujanjikan kepadanya. Aku berjanji akan membiarkannya melakukan apa yang dia mau.” jawab Hyuk.


Ji Soo datang mengantar roti. Hyuk mengajak Ji Soo makan siang karena sudah berjanji akan mentraktir Ji Soo.


Ji Soo senang bukan kepalang. Ia memberitahu Boss Kang tentang Hyuk yang mengajaknya makan siang.


Boss Kang lalu menanyakan keadaan Hee. Ji Soo bilang, Hee tidak lagi ramah padanya sejak hari itu. Ji Soo lalu menanyakan, sejak kapan Boss Kang mulai punya perasaan pada Hee.

“Saat itu tanggal 5 Maret tahun 1998.” Jawab Boss Kang.

Boss Kang lalu bertanya, apa Ji Soo tahu kenapa namanya Kang Nam Goo.

“Ayah anda pasti punya selera humor yang bagus.” Jawab Ji Soo sembari tertawa.

“Aku tidak tahu mereka punya selera humor yang bagus atau hanya takut. Nama belakang direktur panti asuhan tempatku diasuh adalah Kang. Itulah alasannya namaku Kang Nam Goo. Lalu ada Kang Seo Goo dan Kang Dong Goo. Nama pria yang tiba di sana sebelum aku adalah Kang Won Do. Kau tidak boleh tinggal di sana setelah SMA. Aku menerima 3.000 dolar untuk kebutuhan hidup. Aku belajar membuat adonan dari wanita penjual hotteok di depan sekolahku. Aku hanya sempat mencobanya lima kali selama enam tahun aku bersekolah. Itu amat enak.” Ucap Boss Kang.

“Hanya lima kali?” tanya Ji Soo.

“Kukira aku akan menghasilkan banyak uang dengan itu. Kudengar mahasiswi menyukai kudapan. Jadi, aku pergi ke Universitas Wanita Ewha tanpa rencana.” Jawab Boss Kang.


Flashback…

Boss Kang berjualan hotteok di depan universitas, tapi sayangnya orang2 yang membeli tidak menyukai rasanya.

Saat Hee datang bersama teman2nya, teman Hee berkata rasa hotteoknya mengerikan. Hee pun langsung menyenggol temannya untuk menghentikan temannya itu bicara.


Tapi Hee terus-terusan datang membeli hotteoknya. Hingga pada hari keempat, Hee mengajaknya bicara. Hee pun memberitahu Boss Kang cara membuat hotteok yang enak. Keesokan harinya, Boss Kang pun mencoba saran Hee.

Flashback end…

“Aku mengikuti nasihatnya, dan rasanya membaik. Tapi setelah hari itu, dia tidak kembali.” Ucap Boss Kang.


Flashback….

Dua minggu kemudian, saat kedai Boss Kang kebanjiran pengunjung, Boss Kang melihat Hee dari kejauhan. Boss Kang lantas menghampiri Hee dan menyuruh Hee mencoba resep barunya. Hee mencicipinya dan memuji rasanya.

Flashback end…


“Dia orang pertama yang tersenyum amat lebar kepada seseorang sepertiku. Aku tidak pernah punya ibu.” Ucap Boss Kang.

“Jadi pemilik kafe adalah cinta pertama anda?” tanya Ji Soo.

“Dia bukan cinta pertamaku. Istilah cinta pertama itu ada saat kita sudah mencintai orang lain lagi. Tapi dia cintaku satu-satunya.” Jawab Boss Kang.

“Diakah alasan anda tidak menikah?” tanya Ji Soo.


Beralih ke Hyuk yang lagi ngobrol sama sunbae nya. Sunbae nya bilang, mereka butuh tambahan pegawai saat mulai menjual bahan2 interior.

“Kenapa kita mempekerjakan orang padahal tidak memulainya? Kau di sini untuk membantuku.” Jawab Hyuk.

“Aku rekan bisnismu sekaligus investor. Aku seharusnya tinggal di sini sampai dana investasiku kembali.” Ucap Boss Kang.


Ketika asyik mengobrol, Hyuk menerima panggilan wawancara untuk Ji An.


Hyuk pun pergi ke toko perabot. Si pemilik memuji Ji An yang melakukan pekerjaan dua kali lebih cepat dari Sun Tae. Sun Tae pun merasa malu.

“Itulah dia. Dia mau menjadi pemahat.” Jawab Hyuk.

Hyuk lalu memberikan Ji An jadwal wawancara dan alamat perusahaannya. Ji An menerimanya dan mengucapkan terima kasih.

“Hyuk-ah, apakah kau pernah bertemu dengan ayahku?” tanya Ji An.

“Ya. Dia mentraktir semua orang di kelas seni kayu.” Jawab Hyuk.


Do Kyung yang lagi memeriksa berkasnya, mendapatkan pesan dari Hyuk tentang panggilan wawancara Ji An. Hyuk bilang, ia sudah memberitahu Ji An serta meminta Do Kyung tidak menghubunginya lagi.

“Aku juga tidak mau.” sewot Do Kyung.


Hyuk menjemput Ji Soo di toko roti. Boss Kang pun keluar menyapa Hyuk. Boss Kang lalu berkata  akan membuat resep rahasia, jadi tidak masalah kalau Ji Soo tidak kembali ke toko roti hari itu.

Setelah Hyuk dan Ji Soo pergi, Boss Kang melihat Hee di depan tokonya. Mereka pun bicara di taman.


Hee duduk di bangku taman. Ia menyuruh Boss Kang duduk, tapi Boss Kang menolak. Boss Kang bilang, ia suka melihat wajah Hee. Hee makin kesal. Hee lalu menyuruh Boss Kang berhenti. Hee mengaku, sudah mengetahui alasan Boss Kang berpura2 seperti mereka tidak sengaja bertemu, serta tahu alasan Boss Kang tidak mengacuhkannya.

“Jadi, kenapa kau menyuruhku berhenti?” tanya Boss Kang.

“Terima kasih.” Jawab Hee.

“Hentikan.” Pinta Boss Kang.

“Terima kasih sudah menarikku keluar dari sumur. Kau membuatku menjadi penuh semangat seperti dahulu. Jadi, berhenti di sana. Mulai sekarang, aku akan hidup dengan baik.” Jawab Hee.

“Denganku.” Ucap Boss Kang.

“Aku mau melupakan masa lalu dan pergi. Aku mau pergi dari semua masa laluku. Di antara semua yang terjadi di masa lalu, aku mau kenanganku denganmu tetap indah.” Jawab Hee.

“Kau kejam.” Ucap Boss Kang.

“Ya. Aku kejam. Sudah kubilang. Aku amat kejam kepadamu. Kenapa kau tidak bisa melupakanku padahal kau sudah melupakan semua itu? Kau bodoh. Aku mengingat semuanya. Aku tahu perbuatanku. Aku ingat betapa tidak tahu malunya aku. Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa bersamamu.” Jawab Hee.


Mata Hee mulai berkaca-kaca, begitupun dengan Boss Kang.

“Hee-ya,  kau membantuku. Setelah kau pergi, aku berharap kau akan bahagia. Keyakinan itu membantuku melewati setiap harinya. Aku tidak peduli dengan hidupku. Tidak ada yang menyenangkan. Aku bahkan tidak punya teman. Kau tidak mengasihaniku?” tanya Boss Kang.

“Aku mengasihanimu.” Jawab Hee.

“Itulah maksudku.” Ucap Boss Kang.

“Itulah alasanku tidak bisa bersamamu. Kau terlalu menyedihkan. Aku tidak akan pernah bisa bersamamu. Kumohon. Jangan kembali.” Jawab Hee.


Ji Soo mengajak Hyuk ke restoran mie. Ji Soo bilang, restoran itu membuat mie sendiri jadi rasanya enak. Tapi antreannya terlalu panjang. Ji Soo pun minta maaf karena hal itu. Hyuk santai, ia bilang antrean panjang berarti restoran itu terkenal. Hyuk penasaran bagaimana Ji Soo bisa menemukan restoran itu. Ji Soo bilang, ia mencarinya di internet.

“Benarkah? Aku juga menyukai mi.” ucap Hyuk.

“Sungguh? Aku suka apa pun yang dibuat dengan tepung. Udon, spageti, jajangmyeon, jjamppong, naengmyeon, tteokbokki, dan kalguksu.” Jawab Ji Soo.
“Itulah alasanmu membuat roti?” tanya Hyuk.

“Aku memang paling suka roti.” Jawab Ji Soo


Begitu mencicipi mie nya, Ji Soo dan Hyuk kompak memuji rasanya yang lezat. Mereka lalu tertawa karena mengatakan hal yang sama. Melihat Ji Soo yang sudah kembali ceria, Hyuk pun bertanya, apa keadaan Ji Soo sudah lebih baik.

“Keadaannya masih buruk. Aku gembira saat melupakannya. Saat teringat, aku masih sedih.” Jawab Ji Soo.

“Itulah alasannya orang bekerja saat merasa frustrasi. Itu membuat seseorang berpikir.” Ucap Hyuk.

“Itulah alasanku merasa paling gembira saat berada di toko roti.” Jawab Ji Soo.


“Kau belajar Kesehatan Gigi, bukan?” tanya Hyuk.

Ji Soo tidak menyangka Hyuk masih ingat kejadian di klinik gigi. Ji Soo pikir, hanya dialah satu2nya yang mengingat kejadian itu.  Hyuk lantas bertanya, kenapa Ji Soo belajar soal gigi padahal Ji Soo sangat menyukai roti.

“Awalnya aku ingin melakukan itu. Aku tadinya tidak mau berkuliah. Tapi kakakku mendaftarkanku. Dia bilang aku akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan.” Jawab Ji Soo.

“Kakakmu masuk akal. Tapi kau tidak menyukainya, bukan?” tanya Hyuk.

“Aku menyadarinya saat sedang latihan. Perutku amat kuat. Tapi aku tidak tahan melihat bagian dalam mulut kotor dan tenggorokan orang. Aku trauma.” Jawab Ji Soo.

“Bagaimana kau bisa bekerja di kantor dokter gigi?” tanya Hyuk.

“Aku tidak bekerja sebagai perawat. Aku hanya kasir. Hari itu, usus buntu perawat pecah, jadi, dokter giginya memintaku untuk menggantikannya.” Jawab Ji Soo.

“Begitu rupanya.” Ucap Hyuk sembari menatap Ji Soo.


Ji An kembali ke toko perabotan saat boss nya dan Sun Tae lagi makan siang. Boss nya bilang, ia memesankan Ji An nasi goreng tapi Sun Tae tidak sengaja memakannya. Sun Tae minta maaf dan menawari Ji An makan jjamppong.

“Makan apa pun tidak masalah.” Jawab Ji An.

“Kita harus makan untuk mendapatkan tenaga. Kau tidak boleh terus-menerus melewatkan makan.” Ucap boss Ji An.


Terpaksalah Ji An makan, tapi saat mulai menyeruput mie nya, Ji An teringat pertemuannya dengan ayahnya tadi. Ji An pun langsung berhenti makan. Ia menangis dan berlari ke toilet.


Hyuk dan Ji Soo sudah selesai makan.  Hyuk protes, karena tadi Ji Soo yang membayar. Ji Soo bilang, itu ucapan terima kasinya karena Hyuk sudah banyak membantunya.

“Tapi aku meninggalkanmu di Incheon. Aku masih berutang jadi aku harus mentraktirmu di hari berikutnya.” Ucap Hyuk.

Senyum Ji Soo pun langsung merekah mendengar Hyuk mau mentraktirnya lagi.


Gi Jae menghubungi Do Kyung. Gi Jae bilang, Ji An membatalkan wawancara. Gi Jae bilang, ia sudah menceritakan semuanya pada Ji An.


Do Kyung pun langsung pergi menemui Ji An. Ia ingin tahu alasan Ji An membatalkan wawancara. Tapi Ji An bilang, Do Kyung tidak perlu mengetahui alasannya.

“Sudah kukatakan dengan jelas. Kau melamar pekerjaan ini seperti orang lain. Aku mendaftarkanmu ke sana karena kau andal.” Ucap Do Kyung.


“Aku mengetahuinya. Aku berulang kali mendaftar ke berbagai perusahaan.” Jawab Ji An.

“Jadi, kenapa kau tidak mau wawancara? Jawab aku.” ucap Do Kyung.

“Aku tidak mau pergi.” Jawab Ji An.

“Saat kubilang aku mendaftarkanmu, kau tidak bilang tidak menyukainya.” Ucap Do Kyung.

“Aku tidak pernah bilang aku menyukainya. Kubilang akan kupertimbangkan.” Jawab Ji An.

“Itukah alasanmu memutuskan tidak pergi wawancara? Kenapa kau kemari? Aku tidak memahamimu. Kau harus hidup dengan baik.” Ucap Do Kyung.

“Kau sudah melakukan semua yang ingin kau lakukan, bukan?” tuduh Ji An.


“Ji An. Ada apa denganmu? Kenapa kau melakukan ini? Teriaki saja aku. Aku tahu. Kau berhak kesal.” Ucap Do Kyung.

“Choi Do Kyung-ssi, kau sadar bahwa memedulikanku memang aneh bagimu, bukan?” tanya Ji An.

“Tidak. Kenapa aneh? Coba berpikir dari sudut pandangku. Bagaimana bisa aku sekadar menyaksikanmu seperti ini?” ucap Do Kyung.


“Kau khawatir karena aku dahulu adikmu. Kau merasa kasihan karena banyak masalah kulewati padahal aku tidak bersalah, bukan? Saat kau mengetahui aku bukan adikmu, kita bersepakat. Serta kita berusaha keras. Tapi keadaannya tidak berjalan sesuai keinginanku. Lantas, itulah akhir hubungan kita.” jawab Ji An.

“Tapi aku berutang kepadamu.” Ucap Do Kyung.

“Kau tidak berutang sama sekali. Orang tuaku yang bersalah. Kau membantuku. Pak Choi sudah mengetahuinya dan keadaannya tidak berjalan sesuai rencana kita. Itulah akhirnya bagi kita berdua.” Jawab Ji An.

“Tapi kau aneh. Amat aneh.” Ucap Do Kyung.

“Kenapa kau peduli? Berapa kali sudah kubilang kepadamu? Kenapa kau peduli?” tanya Ji An.

“Kau membuatku kehabisan kata-kata.” Jawab Do Kyung.

“Aku tidak ada urusan denganmu. Karena kita tidak punya urusan dengan masing-masing, kau sebaiknya tidak memedulikan kehidupanku. Aku tidak ada alasan untuk menemuimu lagi.” Ucap Ji An.

Ji An lalu beranjak pergi, meninggalkan Do Kyung, yang menatapnya lirih.


Setelah Ji An kembali, Hyuk langsung bertanya alasan Ji An membatalkan wawancara.

“Itu karena kau takut Do Kyung melakukan sesuatu untuk membantumu?” tanya Hyuk.

“Tidak. Aku hanya tidak mau melakukan itu lagi. Aku mau berhenti mencari pekerjaan yang lebih baik dan mencari perusahaan yang membayarku lebih besar. Aku mau berhenti melamar ke perusahaan besar dan melakukan wawancara. Itu semua tidak berguna. Setelah bisnis ayahku bangkrut dan aku tidak lagi pergi ke sekolah seni, aku mau sukses sendiri. Satu-satunya cara adalah bekerja di perusahaan besar. Tapi itu terlalu sulit. Jika tertarik dengan perusahaan kecil aku bisa bekerja lebih awal. Aku ingin menjadi seseorang yang punya pekerjaan bagus. Aku amat putus asa ingin mendapatkan gaji yang lebih besar. Karena itu aku pergi dari rumah saat mereka bilang keluargaku kaya.” Jawab Ji An.

“Biar kukatakan lagi, ini bukan salahmu.” Ucap Hyuk.

“Aku pindah ke sana karena mereka kaya. Jika mereka miskin, akankah aku langsung ke sana setelah beberapa hari? Meskipun aku putri kandung mereka, teganya aku meninggalkan orang tuaku yang telah membesarkanku. Aku memang seperti itu.” jawab Ji An.

“Kedengarannya kau sudah pasrah.” Ucap Hyuk.

“Aku sudah tidak peduli lagi. Inilah aku yang sekarang. Aku menyukai keadaanku sekarang. Aku senang melakukan ini.” jawab Ji An.


Beralih ke Gi Jae dan Do Kyung yang makan di tempat biasa, tapi Do Kyung sedang tidak berselera. Gi Jae pun menyuruh Do Kyung berhenti membantu Ji An, karena Ji An sudah mengambil keputusan.
“Kenapa aku amat gelisah? Semua ucapannya benar. Tapi dia kehilangan semangatnya dan menjadi dingin. Aku tidak bisa berhenti memikirkannya.” Ucap Do Kyung.

“Caramu mengakui perasaan kepadanya aneh.” Jawab Gi Jae.

“Ini berbeda. Aku sadar aku menyukainya. Tapi aku tidak berencana terlibat dengannya.” Ucap Do Kyung.

Gi Jae lalu membicarakan So Ra yang akan pulang minggu depan. Gi Jae bertanya, apa Do Kyung akan menemui So Ra. Do Kyung bilang, hidupnya sudah ditentukan saat dia lahir, jadi dia harus menemui So Ra.


Ji Soo yang baru pulang, terkejut melihat barang2nya sudah berubah. Ia membuka lemarinya dan tidak menemukan pakaian yang kemarin dibelinya. Ji Soo pun langsung menanyakannya pada Seketaris Min. Seketaris Min bilang, ia membuang barang-barang Ji Soo atas perintah Nyonya No. Ji Soo ingin tahu kemana Seketaris Min membuangnya.

“Pasti sudah dibawa oleh truk pengangkut sampah.” Jawab Seketaris Min.


Ji Soo pun langsung berlari keluar, mengejar truk pengangkut sampah. Bersamaan dengan itu, Do Kyung pulang dan terkejut melihat Ji Soo berlari di jalanan. Saat mau turun, Ji Soo tiba2 masuk ke mobilnya dan menyuruhnya mengejar truk sampah itu.


Di rumah, Nyonya No kesal saat Seketaris Min bilang Ji Soo mengejar truk sampah itu. Tak lama kemudian, Do Kyung dan Ji Soo pulang. Nyona No terkejut melihat Ji Soo berhasil mengambil kembali barang2 itu.

“Kau tidak melihat barang-barang di kamarmu? Ibu membelikan yang lebih baik untukmu.” Ucap Nyonya No.

“Itu semua tidak cocok dengan seleraku.” Ketus Ji Soo.


Ji Soo lalu naik ke atas. Do Kyung membantu Ji Soo membawa barang2 Ji Soo. Sampai di kamar, Ji Soo langsung membongkar barangnya. Do Kyung bilang, akan memanggil Seketaris Min untuk membantu Ji Soo, tapi Ji Soo menolaknya.


Seohyun datang. Ia menutup hidungnya begitu masuk kamar Ji Soo. Do Kyung pun mengajak Seohyun keluar.


Dibawah, Seohyun dan Nyonya No membahas Ji Soo. Seohyun bilang, kamar Ji Soo sangat bau. Nyonya No pun menyuruh Seketaris Min untuk membawa barang2 Ji Soo ke laundry.


Tak lama kemudian, Ji Soo turun dengan membawa tas besar. Ji Soo menyuruh No mengembalikan barang2 itu. Nyonya No kesal dan menyuruh Ji Soo duduk.

“Ji Soo-ua, meskipun sekarang ibu memanggilmu Ji Soo, kau terlahir sebagai Choi Eun Seok. Kau seharusnya dibesarkan dengan nama itu.” ucap Nyonya No.

“Tapi aku tidak tumbuh dengan nama itu.” jawab Ji Soo.

“Benar. Karena itu ibu menyayangkan tingkahmu ini.” ucap Nyonya No.

“Tingkahku? Apa salahku?” tanya Ji Soo.

“Bagaimanapun, kau keluarga kami. Keluarga kami punya aturan khusus. Kami berbeda dengan orang lain.” Jawab Nyonya No.

“Apanya yang berbeda?” tanya Ji Soo.

“Ini Perusahaan Haesung.” Jawab Seohyun.

“Karena uang kalian lebih banyak daripada orang lain?” tanya Ji Soo.

“Kau tidak boleh mengatakannya begitu saja. Itu terdengar tidak beradab.” Jawab Nyonya No.


“Choi Seo Hyun, kau bilang aku harus mengetuk untuk meminta izin sebelum masuk ke ruangan mana pun di rumah ini?” tanya Ji Soo.

“Benar. Itu sopan santunnya.” Jawab Seohyun.

“Berarti aku tidak boleh masuk ke kamarmu tanpa seizinmu, bukan? Serta, apakah masuk akal jika membuang barang-barangku seperti itu? Ini tidak pernah terjadi di keluargaku yang berharga. Aku tidak pernah meminjam barang-barang saudariku tanpa seizinnya.” Ucap Ji Soo.


“Beraninya kau membandingkan mereka dengan kami!” sewot Nyonya No.

“Ini aneh. Tidak masuk akal bagiku. Bagaimana bisa anda membuang barang-barangku tanpa seizinku?” tanya Ji Soo.

“Ibu sudah memberitahukan alasannya. Ibu ingin kau beradaptasi dengan keluarga kami.” jawab Nyonya No.

“Sudah kubilang, aku kemari bukan untuk menjadi Eun Seok.” Ucap Ji Soo.

“Lantas menjadi siapa? Kau kemari karena tidak ingin hidup sebagai Ji Soo.” Jawab Nyonya No.

Ji Soo terdiam. Do Kyung turun dan melihat keributan itu dari tangga.

“Tidak bisakah kau mencoba? Kau tidak bisa mempertimbangkan hal yang ibu lalui demi dirimu? Ibu hanya ingin memberimu hal yang tidak bisa ibu berikan saat kau tidak ada. Tidak bisakah kau memahami itu? Hanya demi dirimu, kami memutuskan untuk memaafkan Seo Tae Soo dan Yang Mi Jung. Kami bahkan tidak melaporkan mereka ke polisi. Ibu bahkan membiarkan dia mengelola restorannya. Kami tidak melakukan apa pun kepada saudaramu karena mereka telah membesarkanmu.” Ucap Nyonya No.


Tuan Choi pulang dan terpaku melihat keributan itu. Ji Soo terkejut Nyonya No mau melaporkan keluarga lamanya ke polisi.

“Mereka membawamu dan menukarmu dengan putri mereka. Itu kejahatan.” Ucap Nyonya No.

“Mereka orang tuaku!” tegas Ji Soo.

“Mereka membesarkanmu, tapi mereka bukan orang tuamu. Ibumu adalah aku.” jawab Nyonya No.

“Anda melahirkanku, tapi anda bukan ibuku. Anda bertanggung jawab atas menghilangnya aku. Jadi, mereka mengirim Ji An alih-alih aku. Tapi bahkan tidak sampai setahun. Ji An hendak memberitahukan kebenarannya. Bisa-bisanya anda berpikir untuk menghubungi polisi. Aku sudah mengatakannya dengan jelas. Hanya aku yang bisa marah kepada orang tuaku. Karena anda menghilangkanku.” Ucap Ji Soo.


“Kenapa kau amat bodoh? Sadarlah! Ibumu adalah aku. Kamu keluarga kami. Kita sedarah.” Jawab Nyonya No.

“Apa bagusnya sedarah jika tidak tinggal bersama? Anda dan suami anda bagaikan orang asing bagiku. Karena kita tidak saling mengenal.” Ucap Ji Soo.
“Jika kau tetap ingin menjadi orang asing... Jika kau tidak ingin berusaha, keluar saja dari rumah ini.” jawab Nyonya No.

“Baiklah. Aku akan meninggalkan rumah ini. Carikan aku rumah.” Ucap Ji Soo.

“Apa? Rumah?” Nyonya No terkejut.

“Sudah sepatutnya orang tua menyokong anak mereka. Tapi anda tidak mengeluarkan uang untuk membesarkanku selama ini. Restoran ibuku? Berapa biayanya? Lebih besar dari yang dia keluarkan untuk membesarkanku?” jawab Ji Soo.

Ji Soo lalu bangkit dari duduknya. Sebelum pergi, Ji Soo menyuruh Nyonya No mencarikannya sebuah kamar dan dia akan langsung pergi.


Ji Soo kembali ke kamarnya. Ia memeluk salah satu sweater barunya, lalu duduk di tepi ranjang dan mengingat kenangannya bersama Nyonya Yang saat Nyonya Yang membelikannya baju hangat, padahal harganya sangat mahal.


Flashback…

“Ibu ingin kau mengenakan pakaian bagus saat kuliah. Tapi ibu hanya bisa memberimu baju bekas sekarang. Maafkan ibu. Ibu tidak punya pilihan karena bisnis ayahmu gagal.” Ucap Nyonya Yang.

Tapi saat di kasir, ternyata diskonnya hanya 20 %, bukan 50 % seperti yang mereka lihat. Nyonya Yang pun bingung. Uangnya tak cukup karena harus membelikan Ji An mantel juga. Ji Soo merengek, ia bilang sudah menginginkan baju itu dari setahun lalu. Nyonya Yang pun mengabulkan permintaan Ji Soo. Ia membelikan Ji Soo baju itu meski harganya mahal dan untuk Ji An, ia akan membelikan mantel yang murah. Ji Soo senang dan langsung memeluk Nyonya Yang.


“Eomma.” Ucap Ji Soo. Tangis Ji Soo pun akhirnya menetes.


Do  Kyung kemudian mengetuk pintu kamar Ji Soo. Ia ingin masuk, tapi Ji Soo melarang.


Nyonya Yang yang baru pulang terkejut mendapati suaminya masih tidur. Cemas, ia pun membangunkan sang suami, tapi suaminya tidak mau bangun dan meminta jangan diganggu.


Nyonya No membicarakan soal Do Kyung yang akan langsung menemui So Ra saat So Ra kembali. Nyonya No juga berkata, akan menyuruh Do Kyung menghubungi So Ra.

Selesai bicara dengan ibunya So Ra, Nyonya No dikejutkan dengan telepon ayahnya. 



CEO No baru saja tiba di kediaman keluarga Choi. Seketaris Min terkejut dan bertanya apa alasan CEO No kembali ke Korea tanpa memberi kabar terlebih dahulu.

“Beraninya kau bicara padaku seperti itu!” bentak CEO No.

CEO No juga melarang Seketaris Min menghubungi siapapun. Tak lama kemudian, Nyonya No pulang dan CEO No langsung mengajaknya bicara.



Ji Tae dan Soo A pergi melihat-lihat apartemen. Ji Tae bilang, apartemen itu lebih baik dari apartemen yang mereka datangi sebelumnya.

“Ya benar, tapi tempatnya lebih kecil daripada yang terlihat di foto.” Jawab Soo A.


Setelah melihat2 apartemen, mereka duduk diluar, menikmati pemandangan Seoul dan makan sandwich.

“Kenapa makan di luar saat cuacanya dingin? Hanya setengah potong roti lapis?” ucap Ji Tae.

“Aku terlalu banyak di dalam ruangan dan merasa sesak. Tempat ini memiliki pemandangan bagus.” Jawab Soo A.

“Ayo cari apartemen lebih besar yang agak jauh.” Ajak Ji Tae.

“Kenapa menghabiskan uang untuk transportasi? Bahkan menurutku rumah itu sudah cukup mahal. 800 dolar sebulan? Tidak ada yang lebih murah. 800 dolar sebulan. Artinya setahun 9.600 dolar? Hampir mencapai 20.000 dalam dua tahun.” Ucap Soo A.

“Tidak apa-apa. Kita tidak perlu memberi Ji Ho 1.000 dolar per bulan untuk biaya kuliah.” Jawab Ji Tae.

“Tapi tetap saja, kita akan kehilangan hampir 20.000 dolar dalam dua tahun.” Ucap Soo A.

“Lantas kenapa?” tanya Ji Tae.

“Sebaiknya kita mempertimbangkan soal pindah dari rumah.” Jawab Soo A.

“Tidak! Di rumah itu, kita tidak bisa bersantai.” Tegas Ji Tae.


“Lantas, batalkan simpanan untukku, pinjamlah uang dari bank, dan sewa rumah dalam jangka panjang.” Jawab Soo A.

“Kenapa membatalkan simpananmu yang sudah makin sedikit?” tanya Ji Tae.

“Rasanya sayang jika kita membayar biaya bulanannya.” Jawab Soo A.

“Ya, jika kau berpikir seperti itu. Tapi jika kau memikirkan rumah tangga kita, sama sekali tidak. Meskipun kita tidak peduli, suasananya menyesakkan. Aku tidak ingin kau berusaha bertahan di sana.” Ucap Ji Tae.

“Kau yakin ini bukan demi dirimu? Kaulah  yang tidak tahan, bukan aku. Jangan menggunakanku sebagai alasan.” Jawab Soo A.

“Kau tidak masalah?” tanya Ji Tae.

“Yang membuatku kesal adalah melihatmu frustasi. Kau tidak mandiri secara mental.” Jawab Soo A, yang membuat Ji Tae terdiam.


Nyonya Yang pergi ke Haesung untuk menemui Tuan Choi. Awalnya, dia mau menemui Nyonya No, tapi kantor bilang, Nyonya No pulang lebih awal, jadi dia menemui Tuan Choi. Nyonya Yang mengembalikan uang yang didapatnya dari restoran. Nyonya Yang mengaku, mengumpulkan uang itu setelah kebohongannya terbongkar.

“Kenapa menerima tawarannya jika kau akan seperti ini?” tanya Tuan Choi.

“Sampai anda menemukan pengganti yang bisa mengelolanya, aku akan mengatur para pegawai dan bekerja keras tanpa menerima bayaran, serta memastikan bisnisnya berkembang. Jadi, kumohon, jangan mengancam Ji An lagi. Aku tidak bisa menyerahkan diri karena Ji Soo. Daripada menghasilkan uang dan mengorbankan Ji An, lebih baik aku mati.” Jawab Nyonya Yang.

“Aku sudah bicara dengan suamimu. Dia tidak memberitahumu?” ucap Tuan Choi.

“Apa maksud anda?” tanya Nyonya Yang.

“Aku tidak mendendam. Kau bisa mengelola restorannya sebagai bayaran karena telah membesarkan putriku.” Jawab Tuan Choi.



Nyonya Yang terkejut, apa? Tuan Choi berkata, bertemu Tuan Seo dua hari yang lalu. Nyonya Yang memberitahu, kalau suaminya tidur saat ia pulang hari itu.

“Dia tidak sakit?” tanya Tuan Choi.

“Dia tidak demam dan bangun saat kuguncangkan. Dia hanya tidak ingin diganggu.” Jawab Nyonya Yang.

“Ji An sudah pulang?” tanya Tuan Choi.

“Belum.” Jawab Nyonya No.


Sekarang, Tuan Choi duduk sendirian di taman. Ia menghela nafas, lalu menghubungi dokter pribadinya.


Tuan Choi menemui dokter pribadinya.

“Dokter Go, ada apa denganku? Aku kesepian. Aku merasa marah, bingung, dan kosong. Rasanya seperti tidak punya apa-apa. Aku merasa ingin menangis. Lalu tiba-tiba ingin marah.” Ucap Tuan Choi.
“Itu menopause pria.” Jawab Dokter Go.

“Menopause pria?” tanya Tuan Choi.

“Kau yakin tidak ada masalah lain? Jika orang sepertimu, yang emosinya terkendali, menderita seperti ini, pasti ada hal lain yang mengganggumu.” Jawab Dokter Go.

“Kau memperlakukanku seperti pasien?  Aku kemari untuk minum teh.” Protes Tuan Choi.

“Karena sudah di sini, mari berakting menjadi dokter dan pasien.” Ajak Dokter Go.

“Jika begitu, aku harus memberitahumu segalanya.” Jawab Tuan Choi.

“Jadi, memang ada masalah?” tanya Dokter Go.


Tuan Choi pun berkata, akan menceritakannya lain kali. Tuan Choi berdiri, tapi kemudian teringat pada cerita Nyonya Yang soal Tuan Seo yang sudah tidur selama dua hari.
 
“Bisakah seseorang tidur terus selama dua malam tiga hari? Dia tidur tanpa makan.” Tanya Tuan Choi.

“Aku tidak yakin, tapi itu bisa terjadi jika orang tersebut tidak ingin sadar.” Jawab Dokter Go.

“Dia tidak ingin sadar?” tanya Tuan Choi kaget.

“Jika dia tidak ingin bangun dan menghadapi kenyataan karena terlalu menyakitkan, maka dia akan memilih tidur untuk menghindarinya.” Jawab Dokter Go.

Lalu, Tuan Choi ditelpon istrinya.


Tuan Choi buru-buru pulang dan menyapa CEO No. CEO No marah mengetahui Ji An bukan cucunya.

“Dia bilang ingin ke Hawaii untuk mengunjungi ayah. Tiba-tiba, tanpa alasan. Dia tidak pernah begitu. Pasti ada masalah. Ayah tidak tahu masalahnya, tapi pasti ada masalah. Jadi, setelah keluar dari rumah sakit, ayah langsung naik pesawat.” Ucap CEO No.

“Kau memberitahukan semuanya?” tanya Tuan Choi pada istrinya dengan tatapan tajam.

“Kau mencoba menyalahkan orang lain? Ini bencana besar. Saat ada krisis, kita harus mengontrol kerugiannya lebih dahulu. Penanggulangan.” Ucap CEO No.

“Apa rencana ayah?” tanya Tuan Choi.


Ji An disuruh boss nya membuat perabotan dengan mengikuti instruksi yang ada.


Seketaris Yoo memberikan sebuah amplop yang berisi uang hadiah Ji An karena memenangkan konter menggambar pada Do Kyung. Do Kyung mengambil amplop itu, kemudian pergi. Sambil menatap kepergian Do Kyung, Seketaris Yoo berkata kalau perasaannya tidak enak.


Sepanjang malam, Ji An membuat perabotnya. Setelah perabotnya selesai, ia tersenyum melihat hasil karyanya.

Do Kyung berdiri di depan toko perabot, tapi ia ragu untuk masuk.



Begitu tiba di rumah, Ji Tae dan Soo A terkejut melihat Tuan Seo masih tidur. Ji Tae pun membangunkan ayahnya dan mengajak sang ayah ke rumah sakit. Tuan Seo menolak dan mengaku baik2 saja. Ji Tae pun membantu sang ayah duduk dan mengajak ayahnya ke rumah sakit.  Tuan Seo marah.

“Apa pedulimu!” bentak Tuan Seo, mengejutkan Ji Tae dan Soo A. Nyonya Yang yang baru datang, juga terkejut.


Do Kyung masih menunggu Ji An. Tak lama kemudian, Ji An datang dan kesal melihat Do Kyung. Ji An bertanya, untuk apa Do Kyung datang lagi.

“Aku membawakan ini. Bebek yang kau gambar di kaus memenangkan juara pertama. Ini uang hadiahnya.” Ucap Do Kyung, lalu menyerahkan uang itu pada Ji An.

Ji An yang merasa tidak ikut kompetisi itu, menolak menerimanya. Do Kyung pun mengaku kalau ia yang memasukkan gambar Ji An karena gambarnya manis.

“Kau selalu melakukan hal tidak berguna.” Jawab Ji An.

“Berhentilah marah.” Pinta Do Kyung.

“Kau juga tidak mengerti isyarat.” Jawab Ji An.

“Kenapa kau bersikap sarkastis?” tanya Do Kyung.

“Kau tidak berpikir karena ini konyol? Pegawai Haesung Apparel hanya aku? Wakil presdir mengantarkan hadiah kepada mantan pegawai yang tidak mengikuti kompetisi itu?” jawab Ji An.


“Aku hanya membutuhkan tanda terima. Kau lebih ingin menemui rekan kerjamu? Aku yang datang agar mereka tidak melihatmu seperti ini.” ucap Do Kyung.

“Kenapa kau membuat alasan untuk menemuiku? Kau  masih menyukaiku? Itu tidak baik.” Jawab Ji An.

“Jangan bicara seenaknya.” Ucap Do Kyung.

“Kau berdiri menunggu di sekitar tempat tinggalku. Jika tidak ingin aku curiga, sebaiknya jangan melakukan hal yang mencurigakan. Aku tidak ingin menemuimu. Kenapa kau terus datang?” jawab Ji An.

“Aku harus menemuimu. Aku mencemaskanmu.” Ucap Do Kyung.


“Jangan itu lagi. Kenapa kau tidak mengontrol emosimu? Satu kesalahan tidak cukup? Kau takut harus bertanggung jawab atas perasaanmu, tapi seperti sebelumnya, kau merasa terganggu. Kau takut aku akan mengusulkan sesuatu. Kau takut aku akan bilang aku menyukaimu. Pikirmu aku gila? Aku mengenal keluargamu. Pikirmu aku akan meyakini perasaan pria kaya yang menyukaiku sesaat? Kau pengecut yang salah paham, membuat alasan, dan kabur lebih dahulu.” Jawab Ji An.

“Aku mengakuinya. Aku pengecut.” Ucap Do Kyung.

“Beraninya kau berpura-pura.” Jawab Ji An.

“Aku sungguh meminta maaf atas kejadian hari itu.” ucap Do Kyung.

“Jika kau menyesal, jangan datang kemari. Jangan mencemaskanku.” Jawab Ji An.

“Sikapmu aneh. Kau tidak mau mencari pekerjaan atau pulang ke rumah. Kau bekerja di pantai. Di sini, kau memotong kayu. Seakan-akan kau sudah menyerah. Karena itulah aku terganggu. Jika tidak ingin aku terganggu, pulanglah ke rumah. Kau tidak tahu betapa ayahmu merindukanmu? Aku ingin membawanya kepadamu. Dia pikir kau sudah tewas. Aku hanya bilang kau baik-baik saja.” Ucap Do Kyung.


Mendengar itu, emosi Ji An pun meledak. Dia berteriak2 histeris.

“Kau orangnya? Kau memberi tahu ayahku aku tinggal di daerah sini? Beraninya kau! Beraninya kau melakukan itu! Kenapa? Apa hakmu ikut campur? Apa hakmu memberitahunya tempat tinggalku? Beraninya Kau! Kau pikir aku bersedia menemuimu karena masa lalu kita? Tidak. Aku menganggapnya sebagai jalan keluar karena aku mengenal sifatmu. Kau akan membicarakan kedermawanan dan terus datang, mengabaikan perasaanku. Kau akan terus datang sampai kehabisan alasan. Aku tahu kau orang seperti itu! Aku tidak pulang. Aku tidak ingin melihatnya. Beraninya kau memaksaku menemuinya! Apa hakmu ikut campur saat semua sudah berakhir?”

Do Kyung pun terkejut melihat reaksi Ji An.


Ji An lalu menatap tajam Do Kyung dan berkata tidak ingin melihat wajah Do Kyung lagi.