Wednesday, August 31, 2016

I Have a Lover Ep 19 Part 2

Sebelumnya <<<


Di kantornya, Baek Seok menatap cincin yang hendak digunakannya untuk melamar Hae Gang dengan wajah sedih. Baek Seok pun teringat kata2 Hae Gang. Hae Gang bilang bahwa ia sudah mengakui perasaannya pada Jin Eon. Teringat kata2 Hae Gang membuat Baek Seok semakin sedih.


Tak lama berselang, ponsel Baek Seok berdering. Baek Seok menerima panggilan dari guru SMPnya. Guru SMP Baek Seok menanyakan Yong Gi. Baek Seok terkejut ketika guru SMPnya mengatakan tentang ibu Yong Gi. Ia pun langsung menatap ke arah meja Hae Gang. Guru SMP Baek Seok lantas memberikan nomor contact Nyonya Kim.

Di rumahnya, Nyonya Kim sedang membingkai foto Yong Gi dan Woo Joo. Tak lama, ia menerima panggilan dari Baek Seok.

“Apa anda benar2 ibu kandung Yong Gi? Yong Gi pernah bilang padaku bahwa orang tuanya sudah meninggal saat ia masih kecil. Aku harus bertemu denganmu terlebih dahulu sebelum aku mempertemukan kalian. Aku minta maaf, tapi dunia ini penuh dengan orang jahat.” Ucap Baek Seok.

“Aku sudah menemukan Yong Gi.” Jawab Nyonya Kim, membuat Baek Seok kaget.

“Anda sudah bertemu dengannya?” tanya Baek Seok.

“Aku belum bertemu dengannya. Aku butuh waktu untuk menemuinya. Cucuku sedang sakit, jadi aku pasti menemukan cara untuk membawanya kembali. Karena aku sudah menemukan Yong Gi jadi kau tidak perlu cemas.” Jawab Nyonya Kim.

Pembicaraan selesai. Baek Seok menggumam heran, cucu?


Hae Gang masih bersama Jin Eon. Jin Eon masih terlihat lesu. Hae Gang memberikan Jin Eon sebotol air, tapi Jin Eon menolaknya. Hae Gang terus menyodorkan air itu pada Jin Eon, tapi Jin Eon malah membuangnya. Hae Gang kesal, ia lalu mengeluarkan sebotol air lagi dari tasnya dan memberikannya pada Jin Eon. Jin Eon tetap menolak.

“Marah lebih baik daripada tidak melakukan apa2. Mulai besok, aku akan mengikutimu untuk membuatmu marah, Choi Jin Eon-ssi.” Ucap Hae Gang.


“Gomawoyo. Aku minta maaf karena apa yang sudah kulakukan, karena ketidaksopananku, karena hal2 yang sudah menyulitkanmu, karena telah membuatmu bingung. Aku minta maaf, Dokgo Yong Gi-ssi. Aku akan pulang ke rumahku. Kau juga pulang lah ke rumahmu. Kembalilah pada keluargamu. Kembali lah pada orang yang membuatmu nyaman.” Jawab Jin Eon.

Hae Gang berkaca2 mendengar penuturan Jin Eon. Jin Eon pun beranjak pergi.


Taksi yang dinaiki Yong Gi, Gyu Seok dan Woo Joo berhenti di suatu tempat. Yong Gi masih merasakan nyeri di perutnya. Gyu Seok berkata, bahwa Yong Gi akan terus merasa nyeri sepanjang malam. Gyu Seok lantas menyuruh Yong Gi mengambil obat di apotek.

“Aku bisa mengurus diriku sendiri, jadi berhentilah bicara karena itu bukan urusanmu dan bisakah kau meminjami ku sedikit uang?” jawab Yong Gi.

“Jika kau tidak pingsan di kantor polisi, kau tidak akan mendapat tariff sebesar ini.” ucap Gyu Seok.

“Jadi kau mau bilang bahwa kau tidak mencuri uangku?” tanya Yong Gi.

Gyu Seok pun kesal dan menyuruh Yong Gi turun. Yong Gi pun turun dengan wajah kesal yang kemudian disusul oleh Gyu Seok dan Woo Joo. Mereka pun berdiri di depan sebuah rumah. Yong Gi mengeluhkan uangnya yang hilang dan kembali mencoba meminjam uang pada Gyu Seok. Gyu Seok menolak meminjamkan uangnya. Namun hati Gyu Seok luluh saat Woo Joo mengeluh lapar.


Gyu Seok dan Woo Joo sedang sibuk melahap mie kacang hitam. Tak lama kemudian, Yong Gi keluar dari toilet dan langsung baringan di lantai. Woo Joo bilang pada ibunya kalau ia sangat menyukai makanan Korea. Woo Joo lantas menanyakan nama makanan yang sedang dimakannya itu pada Gyu Seok.

“Apa kau baru pertama kali memakan ini?” tanya Gyu Seok dan Woo Joo pun mengangguk.

“Ini namanya jjajangmyeon.’ Jawab Gyu Seok.


Yong Gi tiba2 saja menggigil. Woo Joo pun mencemaskan kesehatan ibunya. Gyu Seok pun dengan wajah terpaksa memberikan jasnya pada Woo Joo. Dan Woo Joo menyelimuti ibunya dengan jas Gyu Seok. Yong Gi menyindir Gyu Seok. Ia mengaku heran karena tiba2 Gyu Seok bersikap baik padanya, padahal biasanya Gyu Seok selalu marah2.

“Kau bisa Bahasa Korea, kan? Jadi bicaralah dengan bahasa kita. Aku tidak bisa diam saja melihatmu berbohong. Katakan identitasmu yang sebenarnya.” jawab Gyu Seok, membuat Yong Gi diam.


Baek Seok tiba di rumah yang dulu ditempati Hae Gang dan Jin Eon. Ia ingin menemui Nyonya Kim. Saat bertemu Nyonya Kim, ia meminta maaf karena sudah bersikap kasar. Baek Seok kemudian menyadari kalau wanita yang ada di hadapannya adalah ibu Hae Gang.

“Bukankah anda ibunya Do Hae Gang? Aku datang ke sini untuk bertemu dengan ibunya Yong Gi. Alamat yang diberikan guru padaku…”

Baek Seok pun menghentikan kalimatnya karena menyadari sesuatu.

“Dia juga putriku. Yong Gi.” Jawab Nyonya Kim, membuat Baek Seok terkejut.

“Mereka berdua saudara kembar. Yong Gi adalah adiknya Hae Gang. Mereka berdua adalah putriku.” Jawab Nyonya Kim lagi.


Jin Eon akhirnya pulang ke rumahnya. Nyonya Hong dan Seol Ri yang sudah menunggunya pun menatap cemas ke arahnya. Setibanya di rumah, Jin Eon langsung menanyakan lokasi kecelakaan Hae Gang. Tae Seok pun datang dan berkata Hae Gang mengalami kecelakaan di China.

“Dia bahkan tidak pernah pergi ke China. Dimana Hae Gang mengalami kecelakaan?” tanya Jin Eon.

“Apa maksudmu? Kakak iparmu sendiri yang pergi ke China dan membawa jenazah Hae Gang.” Jawab Nyonya Hong.

Seol Ri pun melirik tajam pada Tae Seok.

“Ibu bilang kakak ipar yang pergi sendiri dan membawa jenazah Hae Gang?” tanya Jin Eon.


Tae Seok nampak tegang. Jin Eon langsung menghampiri Tae Seok. Ia ingin tahu lokasi kecelakaan Hae Gang. Tae Seok diam saja. Seol Ri menatap tajam Tae Seok.

“Di bendungan dekat jalan raya. Dia bunuh diri.” Jawab Tae Seok.

Nyonya Hong kaget. “Siapa yang bunuh diri? Hae Gang?”


Seol Ri menatap Tae Seok tak percaya.

“Pada hari dimana dia seharusnya pergi ke China, dia terjun ke dalam bendungan itu. Aku pikir dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa kau sudah meninggalkannya.” Jawab Tae Seok.

Jin Eon pun syok mendengarnya. Dengan langkah gontai, Jin Eon pergi menuju kamarnya. Seol Ri menatap tajam Tae Seok sembari menggenggam erat ponselnya.


Nyonya Kim memberitahu nama asli Hae Gang pada Baek Seok. Sebenarnya, Hae Gang bernama Dokgo Ong Gi. Nyonya Kim bilang suaminya lah yang memberikan nama itu agar Hae Gang bisa hidup dengan penuh kehangatan. Sementara Yong Gi bisa hidup dengan penuh keberanian. Ong Gi artinya kehangatan dan Yong Gi artinya keberanian. Baek Seok tertegun mendengar penuturan Nyonya Kim.

“Tanpa mendaftarkan pernikahan kami, kami hidup bersama. Saat kami berpisah, kami mengambil salah satu dari mereka. Tak lama kemudian, aku menemukan bahwa suamiku sudah meninggal. Aku pergi menemui Yong Gi tapi Yong Gi sudah pergi.” Ucap Nyonya Kim lagi.

Baek Seok syok. Saking syok nya, ia pergi begitu saja dan meninggalkan tasnya. Nyonya Kim menyusul Baek Seok untuk mengembalikan tas Baek Seok. Nyonya Kim pun akhirnya ingat bahwa Baek Seok adalah putra Tuan Baek. Nyonya Kim lantas meminta Baek Seok merahasiakan soal Yong Gi dari siapapun. Nyonya Kim mengaku punya firasat buruk jika orang2 sampai mengetahui tentang Yong Gi.


Di kamarnya, Jin Eon duduk bersandar di lantai dengan wajah penuh penyesalan. Ia teringat kata2nya saat Hae Gang berusaha bunuh diri dengan melompat ke sungai.

“Aku tidak akan pernah memaafkanmu untuk apa yang telah kau lakukan hari ini. Aku tidak akan memaafkanmu sampai aku mati. Bahkan meskipun aku mendengar berita kematianmu, aku tidak akan bergerak seinci pun. Jadi jangan lakukan hal ini lagi. Ini terakhir kalinya aku terlibat dalam hidupmu.” Ucap Jin Eon.


Flashback…

Jin Eon yang sedang berdua dengan Seol Ri terkejut melihat Hae Gang yang berdiri di hadapannya. Hae Gang menatap Jin Eon dengan tatapan terluka. Tak lama berselang, Hae Gang melompat ke sungai.

Flashback end..


Jin Eon pun akhirnya pingsan.


Baek Seok yang baru saja tiba di rumahnya tampak kecewa menatap Hae Gang. Hae Gang mencoba menegur Baek Seok, tapi Baek Seok diam saja membuat Hae Gang merasa bersalah.

“Jadi kau Do Hae Gang? Jadi kau istri si pria brengsek itu?” batin Baek Seok kecewa.

Hae Gang pun mendekati Baek Seok.

“Aku baik2 saja, jadi jangan merasa terbebani. Katakan kata2 itu. Apapun yang kau katakan, aku akan baik2 saja.” Ucap Hae Gang.


“Aku mencintaimu.” Jawab Baek Seok, membuat Hae Gang diam.

“Aku mencintaimu. Aku tidak tahu harus mengatakan apa, aku tidak tahu harus melakukan apa. Hanya satu yang kutahu, aku mencintai orang yang ada di hadapanku saat ini.” ucap Baek Seok lagi, membuat Hae Gang semakin merasa bersalah.


Jin Eon jatuh sakit. Dalam tidurnya, ia mengigau dan menyebut2 nama Hae Gang. Seol Ri merawat Jin Eon dengan penuh kesabaran meski hatinya terluka mendengar Jin Eon memanggil2 nama Hae Gang.


Di ruang kerjanya, Presdir Choi bicara dengan Tae Seok. Presdir Choi berkata, apa Tae Seok tidak takut hukuman Tuhan? Tae Seok pun membela diri. Ia berkata terpaksa mengatakan itu agar Jin Eon tidak curiga. Presdir Choi pun tampak resah. Tae Seok lantas berkata bahwa ia membutuhkan tubuh seseorang untuk mengisir guci tempat abu Hae Gang.

(Ini artinya guci abu Hae Gang dibiarkan kosong selama ini)

“Kau bilang Dokgo Yong Gi tau soal Pudoxin, kan? Kau juga bilang bahwa kau memiliki rekaman yang belum disiarkan? Kau bilang dia melarikan diri ke China? Kenapa aku belum mendengar apapun? Kau belum menemukannya?” tanya Presdir Choi.

“Aku sudah menemukannya.” Jawab Tae Seok.

Presdir Choi kaget, kau menemukannya?

“Biarkan aku yang mengurus Dokgo Yong Gi. Kau hanya perlu tidur nyaman sepanjang hidupmu. Pudoxin milikku dan Ssanghwasan milikmu, hidup kita berada di tangan Dokgo Yong Gi.” Ucap Tae Seok.

Presdir Choi pun menatap Tae Seok dengan cemas.


Seol Ri masih menjaga Jin Eon. Ia menatap Jin Eon dengan raut wajah terluka. Tak lama, Tae Seok datang dan terkejut melihat Seol Ri. Tae Seok bertanya, apa Seol Ri sepanjang malam berada di sisi Jin Eon? Seol Ri mengiyakan. Tae Seok lantas menanyakan keadaan Jin Eon. Tae Seok mengaku bahwa dirinya mencemaskan Jin Eon.

“Aku memberinya obat tidur.” Jawab Seol Ri.

“Itu bagus, dia harus cukup tidur di kondisi seperti ini.” ucap Tae Seok.

“Kenapa kau melakukannya? Menceritakan padanya bahwa dia bunuh diri. Meskipun dia benar2 bunuh diri, seharusnya kau tidak memberitahunya. Jadi bagaimana bisa kau mengatakan dia bunuh diri? Pasti ada sesuatu, kan? Sesuatu yang dirahasiakan dan dilindungi. Aku tahu dia tidak bunuh diri. Aku menguping yang kau bicarakan dengan ayah.” jawab Seol Ri.


Tae Seok pun terkejut. Tae Seok lantas mengajak Seol Ri bicara di tempat lain. Sebelum keluar, Seol Ri menatap Jin Eon dengan cemas. Begitu mereka keluar, Jin Eon membuka matanya!!!

(Wohooo, Jin Eon mendengar semuanya)


“Ayah percaya kali ini bahwa orang itu yang mati karena bunuh diri akan segera kembali. Aku benar, kan? Dan kau, kakak ipar. Kau terus mencari dan mencari di semua tempat orang yang bunuh diri itu. Kau bilang Do Hae Gang tidak akan pernah kembali. Apa yang kalian sembunyikan? Kenapa Do Hae Gang mati, bagaimana Do Hae Gang mati. Kau mengetahuinya, benar? Itulah kenapa kau menyembunyikan kebenarannya dan berbohong. Itu bukan bunuh diri atau kecelakaan mobil biasa, benar? Apa Do Hae Gang dibunuh? Tapi kenapa?” ucap Seol Ri sambil menatap tajam Tae Seok.


“Kau ini bicara apa? Kenapa seseorang harus membunuh Lawyer Do? Jika seseorang membunuh Lawyer Do, apa kau pikir aku atau ayah akan diam saja dan membiarkan orang itu hidup bebas? Aku menyukai Lawyer Do lebih daripada kau menyukainya. Dia adalah partner sekaligus sainganku yang sempurna. Dan dia juga keluargaku. Aku berbohong demi adik ipar, karena kita tahu reaksinya akan seperti ini. Ini keputusan keluarga.” Jawab Tae Seok dengan wajah tegang.

“Aku hanya ingin tahu kebenarannya. Ceritakan padaku.” Ucap Seol Ri.


Sementara itu Hae Gang masih melanjutkan aksi unjuk rasa di depan kantor Jin Eon. Dan di ruangannya, Tae Seok menyuruh Produser Kim membunuh Yong Gi. Produser Kim terkejut. Tae Seok bilang ini sudah waktunya untuk melenyapkan Yong Gi. Tae Seok juga menyuruh Produser Kim mencari mayat seseorang (biar abunya bisa dimasukin ke guci abu Hae Gang yang kosong)

Di kamarnya, Jin Eon sedang bersiap2 untuk pergi kerja. Jin Eon tampak memikirkan sesuatu (semoga Jin Eon nguping deh pembicaraan Tae Seok dan Seol Ri).

Jin Eon yang baru tiba di kantornya bertemu Hae Gang yang lagi unjuk rasa. Hae Gang menatap sendu Jin Eon. Jin Eon mulai bersikap dingin pada Hae Gang.

Setibanya di kantor, Manajer Byeon kaget melihat Jin Eon. Jin Eon ingin tahu kenapa Manajer Byeon begitu terkejut melihat dirinya. Manajer Byeon heran melihat Jin Eon yang baik2 saja. Jin Eon pun menyindir, ia tanya apa ada rumor yang mengatakan dirinya tidak baik2 saja.


Jin Eon yang baru masuk ruangannya langsung disamperin Tae Seok. Sikap Jin Eon pun tampak dingin pada Tae Seok. Tae Seok meminta Jin Eon tidak memaksakan diri terlalu keras karena ia akan mengurus semuanya. Hal itu membuat Jin Eon bertanya kenapa Tae Seok selalu berpikir seperti itu. Jin Eon pun berkata bahwa Tae Seok lah yang terlalu memaksakan diri pada setiap situasi.

(Ini sikap dingin Jin Eon ke Tae Seok makin bikin aku yakin klo Jin Eon nguping pembicaraan Tae Seok dan Seol Ri)

“Apa? Apa maksudmu?” tanya Tae Seok tenang.

“Aku berpikir kau lah dalang dibalik kecelakaan yang menimpa Moon Tae Joon.” Jawab Jin Eon.

“Apa?” kaget Tae Seok.


“Kau tidak perlu terkejut begitu. Itu hanya pikiranku saja, lagipula aku tidak punya bukti.” Jawab Jin Eon.

“Kenapa kau begitu yakin aku pelakunya?” tanya Tae Seok.

“Karena tidak ada bukti konkret.” Jawab Jin Eon.

“Apa?” tanya Tae Seok heran.

“Berdasarkan kamera keamanan, nomor plat yang menabrak Moon Tae Joon adalah palsu dan tidak ada satu pun saksi. Aku pergi ke kantor polisi. Mereka bilang kecil kemungkinan bisa menangkap pelakunya. Karena itu kecelakaan yang direncanakan, itulah sebabnya tidak ada bukti atau pun saksi.” Jawab Jin Eon.

Tae Seok pun seketika berubah tegang, namun ia masih berusaha menutupi ketegangannya. Tapi meski Tae Seok berusaha bersikap tenang, Jin Eon tetap bisa merasakan ketegangan Tae Seok.

Di rumah sakit, Yong Gi menghubungi Gyu Seok. Woo Joo duduk menunggu Yong Gi. Gyu Seok kaget karena Yong Gi tahu nomornya. Yong Gi mengaku ia melihatnya saat Gyu Seok mengisi laporan di kantor polisi.

“Aku tahu hari ini kau libur tapi bisakah kau datang ke rumah sakit? Aku tidak punya siapapun untuk dimintai tolong. Aku dan anakku mengisi perut dengan sampel makanan gratis. Aku bahkan menjual darahku untuk membelikannya roti. Kami berjalan kesana kemari, karena itu lah kami jadi cepat lapar.” Ucap Yong Gi.

“Itu bukan urusanku.” Jawab Gyu Seok.

“Dasar brengs*k!” maki Yong Gi dalam Bahasa China.

“Kau mengataiku brengs*ek?” tanya Gyu Seok.

Yong Gi terkejut. Ia tidak menyangka Gyu Seok mengerti Bahasa China. Gyu Seok lantas memutuskan telepon begitu saja. Yong Gi kembali pada Woo Joo. Ia menyuruh Woo Joo menunggunya karena ia akan mengambil tas Woo Joo. Sebelum pergi, Yong Gi melarang Woo Joo bicara dengan orang asing. Yong Gi pun mencium Woo Joo, kemudian beranjak pergi. Woo Joo asyik menikmati roti cokelatnya.


Gyu Seok yang berada di ruangannya tampak memikirkan kata2 Yong Gi. Gyu Seok akhirnya beranjak keluar dan bertemu Woo Joo di depan meja resepsionis. Woo Joo memberitahu Gyu Seok bahwa ibunya sedang pergi mencari tas mereka. Gyu Seok lantas duduk disamping Woo Joo. Woo Joo menggeser posisi duduknya dan menatap Gyu Seok. Gyu Seok mengambil boneka Woo Joo dan memberikannya pada Woo Joo. Woo Joo memainkan bonekanya dan Gyu Seok tersenyum menatap Woo Joo.


Yong Gi mencari tasnya di toilet. Ia mengecek ke dalam bilik toilet satu per satu dan menemukan tasnya di dalam salah satu bilik toilet yang dijadikan gudang penyimpanan.

Baek Seok ada di rumah sakit, sedang berbicara dengan kakak Moon Tae Joon. Kakak Moon Tae Jon berniat menutup kasus itu. Ia berkata bahwa Cheon Nyeon Farmasi akan memberikan kompensasi jika mereka menutup kasus itu. Baek Seok menghela napas kesal.


Yong Gi berjalan dengan muka lesu sambil menggeret kopernya. Tiba2, langkahnya melambat dan ia terkejut melihat sosok di hadapannya. Sementara itu sosok di hadapannya sedang berjalan dengan wajah ditekuk. Sosok itu, Baek Seok!

“Kau, Baek Seok!” seru Yong Gi.

Baek Seok pun mendongakkan wajahnya dan terkejut melihat sosok di hadapannya.

“Kau Baek Seok, kan? Ini aku, Dokgo Yong Gi-ya!” seru Yong Gi lagi.

Bersambung

Friday, August 19, 2016

I Have a Lover Ep 19 Part 1

Sebelumnya <<<


Jin Eon tidak sanggup menerima kenyataan bahwa Hae Gang telah tiada. Tangisnya pecah di depan abu jenazah Hae Gang. Sementara itu, Hae Gang duduk di depan rumah Baek Seok sambil memikirkan semuanya. Tak lama kemudian, Baek Jo lewat dan memarahi Hae Gang.

“Kemana saja kau semalaman? Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi dan kau juga tidak memberi kabar! Kau tahu betapa cemasnya kami? Karena kami pikir kau menghilang, seperti yang pernah kau lakukan. Kami pikir kau mungkin telah menemukan keluargamu. Big Oppa tidak bisa tidur dan menunggumu sepanjang malam diluar. Kenapa kau melakukan ini!”


Tangis Hae Gang pecah, ia langsung memeluk Baek Jo.

“Kau tidak akan pergi meninggalkan kami, kan? Bahkan meskipun kau sudah menemukan keluargamu, kau tidak akan mencampakkan kami?” tanya Baek Jo.


Dari kejauhan, Seol Ri menatap Hae Gang dengan penuh kebencian.

“Akan kulakukan lebih baik lagi. Aku akan mendengarkan dan melakukan apapun yang kau perintahkan. Aku akan belajar lebih keras mulai sekarang.” janji Baek Jo.

“Aku tidak akan pergi. Aku tidak akan kemana2, Baek Jo-ya. Aku tidak punya tempat untuk pergi. Itu benar. Aku tidak akan pergi. Ini rumahku. Kalian keluargaku.” Jawab Hae Gang.


Jin Eon dengan langkah gontai memasuki rumah yang pernah ditempatinya bersama Hae Gang. Tangis Jin Eon pecah saat berhadapan dengan Nyonya Kim. Nyonya Kim berkata bahwa Hae Gang sudah pergi ke tempat dimana Eun Seol berada. Jin Eon menggelengkan kepalanya. Ia tak rela kehilangan Hae Gang. Nyonya Kim lantas menyuruh Jin Eon menguburkan barang2 Hae Gang. Nyonya Kim mengaku masih belum bisa mengikhlaskan kepergian Hae Gang, karena itulah ia tak bisa mengubur barang2 Hae Gang. Nyonya Kim meminta Jin Eon yang menguburkan barang Hae Gang. Ia minta Jin Eon merelakan kepergian Hae Gang.


Seol Ri menyiram Hae Gang dengan sisa makanan. Ia memaki Hae Gang. Mengatai Hae Gang sampah yang tidak tahu berterima kasih. Ia mengajak Hae Gang mengakhiri semuanya di tepi jurang.

“Aku sudah berdiri di tepi jurang. Itu benar. Aku lebih senang kau yang maju untuk mendorongku. Sehingga aku tidak akan pergi jauh. Sehingga aku tidak bisa pergi sejauh ini.” jawab Hae Gang dengan mata berkaca2.

Seol Ri yang kesal dengan kata2 Hae Gang, memilih untuk pergi. Begitu Seol Ri pergi, tangis Hae Gang pecah.


Sementara itu, Jin Eon sedang melihat barang2 Hae Gang. Dengan tangis yang terus berjatuhan, ia menatap fotonya yang sedang melamar Hae Gang. Ia juga melihat fotonya bersama Hae Gang dan Eun Seol yang duduk di taman. Jin Eon kemudian mengambil papan yang bertuliskan namanya dan nama Hae Gang. Ia juga melihat cincin pernikahan mereka. Tangis Jin Eon pecah ketika melihat baju Hae Gang. Di peluknya baju Hae Gang erat2.


Presdir Choi cemas karena Jin Eon sudah mengetahui kematian Hae Gang. Tanpa semangat Nyonya Hong berkata bahwa Jin Eon sudah 3 hari berada di columbarium. Jin Ri pun menggunakan kesempatan itu untuk menjatuhkan Jin Eon. Ia berkata, Jin Eon tidak bisa mengurus perusahaan dengan kondisi seperti itu.

“Berhentilah bicara! Dia sudah cukup menderita, apa kau ingin menambah penderitaannya?” ucap Nyonya Hong kesal.

“Itu karena aku cemas. Apa kau tahu berapa banyak mata yang mengawasi kita? Orang2 sudah bergosip karena dia melindungi pengunjuk rasa.” Jawab Jin Ri.


Presdir Choi marah.

“Kau bilang Jin Eon tidak mengusir pengunjuk rasa itu, tapi melindungi mereka?”

“Itu benar, dia bahkan memberikan perintah agar tidak ada seorang pun yang mengganggu pengunjuk rasa. Apa itu masuk akal? Melindungi seseorang yang bukan istrinya.” Jawab Jin Ri.

“Apa maksudmu?” tanya Presdir Choi.

Nyonya Hong pun buru2 menyela pembicaraan sebelum Jin Ri membuka mulut lebih banyak. Nyonya Hong juga berkata sejak kecil 80 % yang dikatakan Jin Ri adalah fitnah. Nyonya Hong berkata, bahwa Jin Ri mengidap compulsive lying disorder.


Mendengar kata2 Nyonya Hong, Jin Ri ngamuk. Tapi sebelum Jin Ri sempat membalas perkataan Nyonya Hong, Presdir Choi memarahi mereka. Tae Seok lantas mengaku bahwa dialah yang memberikan perintah itu. Tae Seok berkata, bahwa Jin Eon tidak pernah melindungi pengunjuk rasa. Presdir Choi langsung terdiam dan menatap kesal Tae Seok.


Di kantor, Baek Seok dan Hae Gang tidak saling bicara. Hae Gang yang sudah tidak tahan menyuruh Baek Seok bicara. Baek Seok yang masih kecewa diam saja. Hae Gang pun menghampiri Baek Seok. Baek Seok pun langsung berniat pergi, tapi Hae Gang menahannya.

“Akulah orang yang pergi mencarinya. Aku bahkan mengakui perasaanku padanya. Akhirnya aku melakukan hal itu.” ucap Hae Gang.

“Apa kau bodoh? Dia bersikap seperti itu karena kau…”

“Aku tahu. Aku tahu dia tidak tertarik padaku. Dia benar2 tidak menganggapku. Dia tidak peduli perasaanku atau apapun itu.”


“Lalu kenapa? Kalau kau sudah tahu kenapa kau melakukannya?”

“Aku tidak tahu. Aku tidak tahu kenapa aku seperti itu. Aku ingin berpaling tapi aku tidak bisa berpaling. Jadi aku mencoba untuk menghindarinya, tapi aku tidak bisa menghindarinya. Orang itu bahkan tidak pernah menyukaiku. Dia tidak pernah menyukaiku, tapi kenapa aku tidak bisa melepaskan orang itu.”

Hae Gang menangis, Baek Seok pun juga.


“Lalu kau ingin aku melakukan apa? Aku akan melakukan apapun yang kau minta. Jika kau menyuruhku pergi, aku akan pergi. Jika kau ingin aku menunggu, aku akan menunggu. Jika kau menganggapku sebagai beban, itu sangat menyakitiku, Yong Gi.”

Tangis Hae Gang semakin pecah mendengar kata2 Baek Seok.

“Lakukan sesuai kata hatimu. Kenyataannya bukan aku, tapi orang itu yang membuka hatimu yang tertutup selama 4 tahun. Itu membuatku marah. Aku tidak bisa menerimanya. Tapi ikuti kata hatimu kemana pun dia menyuruhmu pergi, karena aku tahu bagaimana sulitnya bagimu membuka hatimu.”

Baek Seok pun pergi meninggalkan Hae Gang dengan hati terluka.


Sementara itu, Jin Eon masih berlutut di depan abu jenazah Hae Gang. Ia merasa bersalah pada Hae Gang.


Seol Ri masuk ke kamar Jin Eon dan kecewa karena tidak mendapati Jin Eon di sana. Tak lama, Nyonya Hong menyusul Seol Ri ke kamar Jin Eon. Nyonya Hong minta Seol Ri bersabar. Seol Ri pun berkata, ia akan bersabar menunggu Jin Eon. Seol Ri bilang, meskipun mereka tidak bisa menggelar resepsi pernikahan tapi setidaknya mereka bisa mendaftarkan pernikahan mereka terlebih dahulu.

“Kau benar. Kita bisa mendaftarkan pernikahan terlebih dahulu. Dan tahun depan, kita akan menyiapkan pernikahannya.” Jawab Nyonya Hong.


“Itu benar, jadi ibu tidak perlu cemas. Aku pastikan aku akan menjadi menantu ibu dan menjadi istri Sunbae.” Ucap Seol Ri.

Nyonya Hong pun memeluk Seol Ri. Wajah Seol Ri seketika berubah cemas.

(Hadeh, cuma karena Seol Ri udah nyelametin Jin Eon pas kebakaran itu, Nyonya Hong segampang itu menerima Seol Ri sebagai menantunya? Omo, kasihan Hae Gang. Dilupain gitu aja sama ibu mertuanya)


Yong Gi dan Woo Joo akhirnya kembali ke Korea. Yong Gi mengingatkan Woo Joo bahwa sekarang namanya adalah Zhang Ming dan nama Woo Joo adalah Zhang Ling. Yong Gi lantas mengajak Woo Joo menemui Dokter Min.

(Ini kayaknya Yong Gi sengaja ngerubah namanya buat menghindari Tae Seok. Yong Gi masih merasa terancam oleh Tae Seok)


Hae Gang berada di rumah sakit. Ia datang untuk mengecek kondisi Moon Tae Joon  Hae Gang lega saat suster menjelaskan bahwa kondisi Tae Joon sudah mulai membaik. Hae Gang pun beranjak pergi. Disaat yang bersamaan, Yong Gi dan Woo Joo mengunjungi rumah sakit itu. Woo Joo pun tertegun melihat Hae Gang yang sangat mirip dengan ibunya. Woo Joo lantas memberitahu Hae Gang bahwa ahjumma yang dilihatnya barusan sangat mirip dengan ibunya. Yong Gi pun menoleh ke Hae Gang. Namun ia tidak melihat wajah Hae Gang. Begitu pun Hae Gang yang tidak melihat wajah Yong Gi. Yong Gi lantas pergi begitu saja bersama Woo Joo.


Gyu Seok baru saja selesai memeriksa pasiennya, seorang anak kecil bernama Kim Sae Ron. Waduh, namanya Kim Sae Ron. Jadi inget dedek Sae Ron. Ibu Sae Ron bertanya apa Sae Ron nya akan baik2 saja karena Sae Ron nyaris tidak bisa makan. Tapi karena pemeriksaan sudah selesai, Gyu Seok bersikap cuek. Suster pun mengantar ibu Sae Ron keluar karena pemeriksaan sudah selesai.


Yong Gi dan Woo Joo ingin menemui Gyu Seok. Tapi suster menyuruh Yong Gi datang lagi nanti. Yong Gi pun kesal. Suster berkata, bahwa Gyu Seok tidak akan menerima pasien setelah jam 5 sore. Suster lantas menyuruh Yong Gi membuat janji terlebih dahulu. Sementara di dalam, Gyu Seok sedang meregangkan otot2nya yang kaku. 



Woo Joo mencemaskan Yong Gi karena Yong Gi mengeluarkan keringat terlalu banyak. Yong Gi berkata bahwa itu karena ia merasa gugup kembali ke Korea. Yong Gi lantas mengetuk pintu ruangan Gyu Seok dan meminta izin masuk. Tapi Gyu Seok melarangnya. Meski sudah dilarang, Yong Gi tetap masuk. Ia terheran2 saat mendapati Gyu Seok sedang push up dengan kaki bertumpu pada meja dan tangan bertumpu pada meja di belakang. Gyu Seok terkejut melihat Yong Gi.


“Dokgo Yong Gi-ssi?” ucapnya.

“Apa tidak lelah tetap dengan posisi seperti itu?” tanya Yong Gi.

Gyu Seok tertegun. Yong Gi lalu berbisik pada Woo Joo.

“Mungkin itu terlihat melelahkan hanya di mata kita.” bisik Yong Gi.


Gyu Seok pun langsung merubah posisinya dan berdiri menatap Yong Gi. Yong Gi menunjukkan paspornya dan berkata bahwa Yong Gi hanyalah nama samarannya dan nama sebenarnya adalah Zhang Ming. Ia meminta Gyu Seok memanggilnya Zhang Ming mulai sekarang. Yong Gi lalu menyuruh Woo Joo menyapa Gyu Seok.

“Ni Hao! Ni zui bang!” ucap Woo Joo, membuat Gyu Seok terheran2.

“Dia bilang kau yang terbaik, Professor.” Beritahu Yong Gi.


Tiba2, Yong Gi merasakan nyeri di perutnya. Yong Gi pun meminta izin untuk duduk. Tapi Gyu Seok malah menyuruh mereka keluar. Ia mengancam akan memanggil polisi jika Yong Gi tidak mau pergi. Yong Gi pun kesal dibuatnya.

“Kenapa kau bersikap seperti ini! Aku disini karena anakku sakit! Kau sudah punya nomorku, kan? Bagaimana kau bisa hidup tanpa mempercayai orang lain? Sejujurnya, aku tidak ingin menginjakkan kaki di Korea. Tapi demi anakku…. Karena anakku….” Ucap Yong Gi sambil menahan rasa nyeri di perutnya.

Yong Gi lantas memberikan rekam medis Woo Joo. Gyu Seok pun melihatnya meski enggan. Setelah melihat rekam medis Woo Joo, Gyu Seok bertanya sejak kapan limpa Woo Joo mulai membengkang.Yong Gi tak mampu menjawab karena rasa nyeri di perutnya. Tak berapa lama kemudian, Yong Gi pun jatuh dan pingsan.


Gyu Seok mengira Yong Gi hanya berpura2. Woo Joo menangis, ia merengek meminta Gyu Seok menolong ibunya. Woo Joo berkata bahwa Gyu Seok tidak perlu menolongnya. Gyu Seok hanya perlu menolong ibunya. Dengan enggan, Gyu Seok pun memeriksa Yong Gi. Usai memeriksa Yong Gi, barulah Gyu Seok sadar kalau Yong Gi tidak berpura2. Ia lekas melarikan Yong Gi ke ruang UGD. Woo Joo setengah berlari mengikuti Gyu Seok.

“Kau tidak boleh berlari. Datanglah ke ruang UGD dengan berjalan.” ucap Gyu Seok.

Tapi Woo Joo tetap berlari mengikuti Gyu Seok. Gyu Seok lantas membaringkan Yong Gi di kasur dan mendudukkan Woo Joo disamping Yong Gi. Setelah itu, Gyu Seok segera membawa mereka ke ruang UGD.


Hae Gang duduk sendirian di taman rumah sakit. Kata2 Baek Seok pada Jin Eon memenuhi kepalanya.

Flashback

“Istrimu sudah meninggal. 4 tahun yang lalu. Tak lama setelah kau menceraiannya, dia mengalami kecelakaan dan meninggal!” ucap Baek Seok.

Jin Eon seketika melirik Hae Gang yang ada di depannya dengan wajah lemas.

“Sekali lagi kukatakan, istrimu sudah meninggal! Istrimu, Do Hae Gang!” teriak Baek Seok.

Flashback end


Jin Eon masih berlutut di depan abu jenazah Hae Gang. Tak lama kemudian, petugas datang menyuruh Jin Eon pergi. Bersamaan dengan itu, Hae Gang berjalan menuju columbarium. Jin Eon keluar dari columbarium dengan langkah gontai. Langkah Hae Gang seketika terhenti begitu melihat Jin Eon. Ia terkejut melihat keadaan Jin Eon yang menyedihkan.


Jin Eon terus berjalan, hingga akhirnya langkahnya terhenti saat berhadapan dengan Hae Gang. Jin Eon menatap Hae Gang dengan tatapan terluka. Hae Gang ingin menghampiri Jin Eon. Tapi langkahnya langsung terhenti saat Jin Eon berjalan ke arahnya. Jin Eon berjalan begitu saja melewati Hae Gang, membuat Hae Gang terkejut. Hae Gang pun bergegas menyusul Jin Eon. Ia iba menatap Jin Eon.


Jin Eon terus berjalan, hingga dirinya terjatuh. Hae Gang pun langsung berlari menghampiri Jin Eon. Ia berniat membantu Jin Eon berdiri, tapi Jin Eon justru menepis tangannya. Jin Eon lantas bangkit dan beranjak pergi dengan langkah gontai. Hae Gang marah, ia pun menghalangi langkah Jin Eon.


“Bagimu mungkin sudah berakhir, tapi tidak bagiku! Bagimu, mungkin tidak pernah dimulai. Tapi tidak seperti itu bagiku! Bagiku, ini baru dimulai dan belum berakhir. Aku tidak akan menunjukkan diriku di hadapanmu setelah kau terlihat seperti manusia! Jika melihatku membuatmu merasa kacau, kau harus bangkit. Dengan begitu, aku akan membiarkanmu pergi. Dengan begitu, aku bisa berhenti melakukan hal gila seperti ini! Kumohon, bertahanlah!” pinta Hae Gang.

Tapi Jin Eon malah beranjak pergi dengan tatapan kosong. Hae Gang menangis menatap kepergian Jin Eon. Hae Gang lantas mengikuti Jin Eon.


Yong Gi masih belum siuman. Woo Joo terus menunggui Yong Gi. Gyu Seok berbicara pada dokter yang memeriksa Yong Gi. Dokter bilang Yong Gi terserang stroke/cerebrovascular accident/CVA. Jumlah sel darah putih Yong Gi mencapai 12000 dan akan terus meningkat setiap waktu. Sementara suhu tubuhnya normal. Gyu Seok lantas menyuruh dokter itu memberikan antibiotic pada Yong Gi.


Seorang perawat menghampiri Gyu Seok. Ia mengaku kesulitan mengisi data2 Yong Gi. Perawat itu juga berkata bahwa Woo Joo datang jauh2 dari China untuk menemui Gyu Seok. Tapi Gyu Seok malah bilang bahwa itu bukan urusannya dan beranjak pergi. Setelah Gyu Seok pergi, Woo Joo berkata pada ibuunya bahwa Gyu Seok bukanlah dokter yang baik.


Gyu Seok kembali ke ruangannya. Ia kesal membaca passport Yong Gi. Seseorang tiba2 mengetuk pintu ruangannya. Setengah berteriak, Gyu Seok melarang orang itu masuk. Tapi yang datang ternyata Tae Seok. Ya, Tae Seok langsung menerobos masuk ke ruangan Gyu Seok.

“Kakak iparmu mengundangmu makan malam. Dia ingin memperkenalkan seseorang padamu. Putri bungsu dari Group Han Rang. Dia sangat mirip dengan Shim Eun Ha. Dia terlihat senang mengetahui aku bergegas menemuimu dan menunda semua janjiku. Jadi jangan katakan apapun dan ikutlah makan malam dengan kami.” Ucap Tae Seok.

“Kalian saja. Aku sedang tidak nafsu makan.” Jawab Gye Seok.

“Hey, Bro! Kau tidak tahu, ini kesempatan yang bagus.” Ucap Tae Seok.


Pembicaraan keduanya terhenti karena Woo Joo datang. Woo Joo datang untuk mengambil tasnya. Tapi tasnya tidak berada di ruangan Gyu Seok. Tae Seok menyapa Woo Joo. Ia bertanya dimana ibu Woo Joo. Woo Joo bilang jika ibunya berada di ruang UGD. Gyu Seok lantas berdiri dan pergi bersama Woo Joo.


Yong Gi yang baru sadar panic karena tasnya hilang. Woo Joo curiga kalau Gyu Seok yang mengambilnya. Tak lama kemudian, Gyu Seok menghampiri mereka dan berkata bahwa ia sudah membayar biaya perawatan Yong Gi. Gyu Seok juga mengatakan Yong Gi bisa mengganti uangnya nanti saat jadwal pemeriksaan Woo Joo. Yong Gi pun panic, setengah berteriak ia berkata bahwa semua uangnya ada di dalam tasnya. Tapi Gyu Seok malah menyuruh Yong Gi membuat laporan. Gyu Seok pun hendak pergi, tapi Yong Gi menahannya.


“Bukankah kau satu2nya tersangka utamanya? Aku tidak akan mempermasalahkannya kalau jumlahnya sedikit! Tapi itu benar2 semua uang yang kumiliki! Tidak masalah jika kau tidak mau mengaku, tapi kita bisa pergi ke kantor polisi bersama2 untuk melakukan penyelidikan.” Ucap Yong Gi.

Yong Gi terus menahan Gyu Seok. Woo Joo ikut membantu Yong Gi menahan Gyu Seok. Haha…


Jin Eon berdiri di depan rumah yang dulu ditempatinya bersama Hae Gang. Sementara itu, Hae Gang yang berdiri di belakang Jin Eon terus menatap Jin Eon. Kata2 Hae Gang terngiang di telinga Jin Eon. Kata2 Hae Gang saat Hae Gang berteriak memanggilnya sayang.

“Panggil aku sekali lagi, Hae Gang.” Pinta Jin Eon.

Hae Gang makin iba melihat Jin Eon.

Flashback


“Yeobo!” teriak Hae Gang yang berdiri di teras rumah.

“Kau mengatakan itu dengan sangat baik.” Puji Jin Eon.

“Apa kau mau berdiri disana terus dan tidak mau masuk ke rumah?” tanya Hae Gang sembari tersenyum.

Flashback end


Seketika senyum Jin Eon menghilang menyadari Hae Gang tidak berada di depannya. Jin Eon pun langsung mencari2 Hae Gang.

“Hae Gang-ah! Hae Gang-ah! Yeobo! Jawab aku, yeobo! Hanya sekali. Sekali saja. Aku merasa kacau. Aku benar2 merasa kacau, yeobo. Aku ingin minta maaf…”


Di belakang, Hae Gang menangis dan merasakan sesak di dadanya.

“… denganmu aku ingin memulainya lagi.” Ucap Jin Eon.


Tangis Hae Gang semakin pecah. Jin Eon terus memanggil2 nama Hae Gang.

Bersambungke part 2