• Sinopsis Wonderful World Episode 1-16

    Kim Nam Joo dan Cha Eun Woo memiliki rasa sakit yang sama akibat kehilangan seseorang yang sangat berharga bagi mereka.

  • Duis non justo nec auge

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

My Golden Life Ep 24 Part 2

Sebelumnya...


Tuan Choi mengangkat gelasnya untuk merayakan kembalinya Eun Seok. Tapi Ji Soo masih tidak mau dipanggil Eun Seok. Ia hanya mau dipanggil Ji Soo. Nyonya No mau protes, tapi Tuan Choi langsung menengahi mereka.


Mereka mulai makan, tapi Ji Soo kembali membuat kesalahan. Dia menggunakan garpu salad untuk memotong daging. Seohyun menegur Ji Soo. Ia berkata, Ji Soo seharusnya memakai garpu khusus daging.

“Apa salahnya ini? Aku tidak peduli.” Jawab Ji Soo.

“Itu namanya tata krama di meja makan. Ada aturan tentang alat makan.” Ucap Nyonya No.

“Aku mengetahuinya. Tapi aku di rumah. Kenapa aku harus memedulikan hal itu? Tidak ada yang memperhatikanku.” Jawab Ji Soo.


Ji Soo lalu menertawakan para pelayan yang berdiri di dekat mereka dan pakaian rapi yang harus mereka gunakan hanya untuk makan malam.

“Setiap keluarga memiliki caranya masing-masing. Tidak sopan jika tertawa keras saat sedang makan.” Ucap Do Kyung.

Tapi Ji Soo tetap sulit menghentikan tawanya. Ji Soo lalu meminta saus tomat dan kecap pada pelayan. Seohyun bilang, sudah ada saus special di piring Ji Soo, tapi Ji Soo mengaku tidak suka dan lebih menyukai bulgogi daripada steak.

“Bulgogi dan tumis daging pedas. Aku tidak menyukai makanan hambar.” Tambah Ji Soo.


Tuan Choi pun tertawa melihat tingkah Ji Soo. Kesal, Nyonya No menegur Tuan Choi. Tapi Tuan Choi tidak bisa menghentikan tawanya dan berkata kalau Ji Soo sangat menggemaskan.
Sepulang dari bandara, Tuan Seo merapikan rumah dan mengepel lantai. Ketika membuang sampah, Tuan Seo menemukan buku tentang emigrasi ke Kanada milik Ji Tae.


Begitu Ji Tae pulang, Tuan Seo langsung menanyakan hal itu. Ji Tae pun marah, ia mengira ayahnya masuk ke kamarnya tanpa izin. Tuan Seo mau menjelakan, kalau ia menemukan buku itu di tempat sampah tapi sayangnya Ji Tae keburu memotong kalimatnya. Ji Tae kemudian mengaku, ia memang berniat pindah ke Kanada.

“Kenapa kau tidak membicarakannya dulu dengan ayah?” tanya  Tuan Seo.

“Memang Ayah berdiskusi denganku? Ayah menanyakan pendapatku sebelum menukar adik-adikku?” tanya Ji Tae balik, membuat Tuan Seo terdiam.

Soo A pulang dan melihat suaminya bertengkar dengan ayah mertuanya.


Ketika sudah berada di kamar, Ji Tae dan Soo A berdebat. Soo A tidak mengerti apa yang membuat Ji Tae begitu kecewa.

“Kau bilang apa saat kita di Kanada? Pernikahan itu soal tinggal jauh dari keluarga kita. Itu yang kau inginkan. Pernikahan itu soal membentuk keluarga kita sendiri.” Ucap Soo A.

“Aku tahu itu. Tapi aku kehilangan kendali saat melihat orang tuaku.” Jawab Ji Tae.

“Ayo pindah. Jika tinggal di sini menyulitkanmu, kita harus pindah. Jauh di mata, jauh di hati.” Ucap Soo A.


Tuan Seo kembali memuntahkan soju yang barusan diminumnya. Seok Doo kemudian menelpon. Sambil menangis, Tuan Seo menceritakan soal Ji An yang masih belum pulang ke rumah.


Keesokan harinya, saat mau sikat gigi, Ji Soo kembali memperhatikan sikat giginya yang berbeda.


Di kamarnya, Seohyun memikirkan kata-kata Supir Ryu dan istri Supir Ryu tentang dirinya yang dianggap pengganggu rumah tangga Supir Ryu. Tanpa terasa, air mata Seohyun mengalir.


Tak lama kemudian, Seohyun dikagetkan dengan Ji Soo yang tiba-tiba menerobos masuk ke kamarnya. Seohyun pun lekas menghapus air matanya. Ji Soo terkejut melihat Seohyun menangis. Seohyun marah Ji Soo masuk kamarnya tanpa izin.

“Kau sangat aneh. Kenapa aku harus minta izin. Aku bahkan berbagi kamar dengan kakakku. Kami berganti pakaian di depan satu sama lain dan tidur bersama.” Jawab Ji Soo.

“Tapi kalian sangat berbeda. Kakak sangat berbeda dengan Kak Eun Seok yang satunya. Yang lama selalu lebih baik.” Ucap Seohyun.

“Apa maksudnya itu?” tanya Ji Soo kesal.

“Kak Eun Seok yang satunya mempelajari tata krama yang sesuai dengan keluarga kita. Dia memahami yang dia pelajari dan orang tuaku mengaguminya. Dia bahkan mengambil hati kakekku dan kakekku menyebut dia sebagai keturunannya.” Jawab Seohyun.


“Kau memuji kakak palsumu?” sewot Ji Soo.

“Karena dia memang pantas dipuji. Dia sangat baik dan aku mulai menyukainya.” Jawab Seohyun.

Kesal mendengar Seohyun memuji2 Ji An, Ji Soo pun keluar dari kamar Seohyun.


Ji Soo lalu mencari Seketaris Min. Ia protes karena Seketaris Min seenaknya mengganti sikat giginya. Seketaris Min beralasan, kalau sikat gigi itu memang sudah seharusnya diganti.


Di belakang, Tuan Choi mendengar semuanya dan nampak kesal.


Setelah kembali ke ruangannya, Tuan Choi memikirkan protesan Ji Soo soal sikat gigi. Tak lama kemudian, Tuan Choi mengingat saat ia menyogok pengawal yang disewa Nyonya No, agar bisa menemui Jo Soon Ok.


Flashback…

“Ceritakan seperti yang kalian ceritakan kepada istriku. Pada saat kalian menculik Eun Seok 25 tahun lalu.” suruh Tuan Choi.

“Kami sungguh hendak mengembalikan gadis itu ke dalam mobil setelah mengambil berliannya. Kukira dia tahu. Aku terpaku ketakutan, tapi Bu No mengemudi melewatiku begitu saja. Aku berdiri di sana menggendong gadis itu. Apa lagi yang harus kulakukan saat kami akan menjadi penculik? Kami hanya berniat merampok. Kami tidak berniat menculik, Pak.” Ucap Jo Soon Ok.

Flashback end…


Tuan Choi lalu menemui Nyonya No untuk bertanya, apa Nyonya No menguji DNA Ji Soo.

“Aku hanya ingin yakin. Aku tidak mau berbuat salah lagi. Aku mengambil sikat gigi yang diberikan Jo Soon Ok kepadaku dan memercayai Yang Mi Jung. Karena itulah kita bermasalah. Kukira mungkin Jo Soon Ok sudah merekayasanya. Kini kita sudah memastikan Ji Soo adalah Eun Seok.” Jawab Nyonya No.

“Dia harus dilatih.” Ucap Tuan Choi kesal.

“Benar.” jawab Nyonya No.

Tuan Choi pun tertawa kesal.


“Ternyata gadis yang kau  terima sepenuh hati bukan putri kandung kita. Kau  berharap Ji Soo juga bukan putri kandung kita? Kau  kira putrimu terlahir mulia?” ucap Tuan Choi.

Tuan Choi lalu beranjak pergi.


Beralih ke Ji An yang menyuruh Hyuk pulang. Hyuk menolak dengan alasan ia tak bisa meninggalkan temannya sendirian.

“Karena itulah, meski kau berteriak dan memohon, aku tidak akan meninggalkanmu di sini. Jika aku mengetahui nomor telepon keluargamu... tapi  kau tidak mau memberikannya kepadaku. Kau melarangku menghubungi Choi Do Kyung yang mengetahui nomor mereka. Itulah alasanku harus menjadi walimu.” Ucap Hyuk.

Di kantornya, Do Kyung lagi memandangi foto Ji An yang ada di ponselnya.


Tak lama kemudian, Seketaris Yoo datang dan berkata, kalau ia berhasil melacak lokasi ponsel Ji An.

“Ponselnya mati sepekan lalu, tapi terakhir terdeteksi di Incheon.” Ucap Seketaris Yoo.

Do Kyung pun langsung bergegas ke Incheon.

Singkat cerita, Do Kyung akhirnya tiba di Incheon. Ia sempat berpapasan dengan Ji An yang lagi mendorong trolli namun sayangnya ia tak menyadari itu Ji An.

Do Kyung kemudian menunjukkan foto Ji An pada para nelayan, tapi tak ada yang mengenali Ji An. Hingga akhirnya, ada seorang nelayan yang mengaku pernah melihat Ji An menjemur rumput laut.


Ji An akhirnya luluh, ia mengajak Hyuk pulang. Ji An berpamitan dengan Tuan Bong dan istrinya. Tuan Bong pun memberikan gaji Ji An karena Ji An sudah bekerja dengannya. Ji An berterima kasih karena Tuan Bong sudah menjaganya.


Tuan Bong lantas menunjukkan pergelangan tangannya. Ia mengaku, kalau dulu ia pernah berusaha bunuh diri tapi istrinya menyelamatkannya.

Hyuk dan Ji An akhirnya pergi. Tak lama kemudian, mobil Do Kyung bersejajar dengan mobil Hyuk. Do Kyung terkejut melihat Ji An di dalam mobil Hyuk.


Do Kyung pun memacu mobilnya dan mencegat mobil Hyuk. Do Kyung lantas turun dari mobilnya. Ia membuka pintu mobil Hyuk dan menyuruh Ji An turun.


My Golden Life Ep 24 Part 1

Sebelumnya...


Ji An berhasil mengejar bus yang hendak berangkat. Namun, sebuah cahaya menyoroti Ji An saat Ji An hendak masuk ke dalam bus. Ji An melihat mobil Hyuk ada di depannya. Hyuk pun bergegas turun dari mobil dan berlari ke arah Ji An. Tapi Ji An tak peduli dan tetap ingin naik bus. Dan syukurlah, Hyuk berhasil menahan Ji An tepat waktu. Ia memegang tangan Ji An dan meminta supir bus berangkat tanpa Ji An.

“Ada apa denganmu? Kau sungguh berusaha kabur lagi?” tanya Hyuk lembut.

“Karena kau menggangguku. Sudah kubilang. Semuanya menggangguku.” Jawab Ji An.

“Baiklah. Aku tahu kau akan menganggapku menyebalkan. Hanya karena dulu kita berteman, aku terus mengusik hidupmu sejak kita bertemu setelah 10 tahun terpisah,  aku pun akan menganggapnya menyebalkan.” Ucap Hyuk.

“Jika kau tahu, maka pergilah.” Jawab Ji An.

“Aku tidak bisa pergi begitu saja. Aku berjanji akan memberitahunya saat kau menghubungiku.” Ucap Hyuk.

Ji An pun bingung, apa?

“Awalnya, aku berencana membujukmu pulang. Saat menemukanmu di sini, kukira aku sebaiknya tidak bilang apa pun demi menjaga harga dirimu. Tapi jika kau begini terus, aku tidak punya pilihan selain memberitahunya kau di sini.” Jawab Hyuk.


Ji An bingung, ia tidak mengerti siapa yang dibicarakan Hyuk. Belum sempat Hyuk menjawab, Tuan Bong datang dan memarahi Ji An yang mau kabur.

“Aku hendak mentransfer uangnya.” Jawab Ji An.
“Jika dari awal kau punya uang, kenapa tinggal di sini? Atau jangan-jangan, kalian berdua mau kabur bersama?” marah Tuan Bong.


Tuan Bong lalu menyuruh Hyuk membayar hutang Ji An. Hyuk pun berkata, itulah alasannya kenapa ia memberikan kartu namanya pada Tuan Bong. Hyuk berjanji, akan menyuruh Ji An masuk begitu mereka selesai mengobrol.

Ji An pun meminta maaf, lalu pergi mengikuti Hyuk. Setelah Ji An pergi, Tuan Bong menghela nafas lega.


Di kamarnya, Do Kyung kembali membaca sms yang dikirimkan Hyuk bahwa Ji An selamat. Do Kyung pun berharap, Hyuk bisa membawa Ji An pulang dengan selamat.


Hyuk bicara dengan Ji An. Hyuk mengira, Ji An kabur karena Do Kyung. Ji An pun menyangkalnya. Hyuk lalu berencana memberitahu Do Kyung soal Ji An, tapi Ji An melarang. Hyuk lantas meminta nomor orang tua Ji An sebagai gantinya.

“Aku mengunjungi rumahmu sebelumnya, tapi penyewa yang baru bilang kau sudah pindah.” Ucap Hyuk.

“Aku sudah pindah? Siapa yang bilang begitu?” tanya Ji An.

“Wanita yang pindah ke rumahmu.” Jawab Hyuk.


Hyuk kemudian bertanya, kenapa hanya Ji An saja yang melarikan diri. Kenapa Do Kyung tidak ikut melarikan diri. Ji An pun menjelaskan, kalau hubungannya dan Do Kyung tidak seperti yang Hyuk pikirkan. Ji An bilang, Do Kyung adalah seseorang yang pernah menjadi kakaknya. Sontak, Hyuk kaget.

Ji An pun mulai menceritakan masalahnya. Ia mengaku, saat melihat Tuan Choi meninju ayahnya , lalu sang ayah berlutut pada Tuan Choi, ia berpikir riwayatnya sudah tamat.

“Tadinya aku mau bunuh diri. Orang tuaku membesarkanku dengan cinta selama 28 tahun, tapi aku melepaskan mereka dalam hitungan hari untuk memilih orang tua kaya. Aku ingin bunuh diri karena itu. Tapi aku gagal.” Ucap Ji An.

“Kau mengira mereka orang tua kandungmu.” Jawab Hyuk.

“Tapi bukan. Mereka bukan orang tua kandungku.” Ucap Ji An.


Hyuk pun terdiam dan teringat pertanyaan Ji An dulu padanya. Saat itu, Ji An bertanya apa yang akan Hyuk lakukan, jika Hyuk tahu dirinya putra keluarga kaya. Hyuk pun menjawab, bahwa dirinya tidak akan meninggalkan orang tua yang sudah membesarkannya.

“Jika orang tuamu kandungmu tidak kaya dan lebih miskin daripada orang tuamu yang sekarang, kau akan tetap pergi? Tidak, kan?” ucap Hyuk.


“Jadi, itulah maksud pertanyaanmu?” tanya Hyuk.

“Itu tentang aku. Orang bodoh yang pergi karena kekayaan mereka. Itulah aku.” jawab Ji An.

“Ji An-ah.” Ucap Hyuk.

“Jadi, tinggalkan aku. Jaga dirimu.” Jawab Ji An, lalu masuk ke rumah Tuan Bong.


Hyuk lalu berjaga di depan rumah Tuan Bong, namun hanya sebentar karena setelahnya, ia memutuskan pergi.


Nyonya No memberitahu Tuan Choi, kalau Nyonya Yang berniat menyerahkan diri.

“Aku sudah melarangnya. Kubilang aku akan memaafkannya demi kebaikan Ji Soo. Aku juga menyuruhnya terus mengelola restoran itu. Aku sudah menuruti kemauanmu.” Ucap Nyonya No.

“Itu hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk keluarga kita.” jawab Tuan Choi.

“Bagaimana dengan Ji Soo... Bukan, bagaimana dengan kerja paruh waktu Eun Seok?” tanya Nyonya No.

“Biarkan dia bekerja untuk sementara.” Jawab Tuan Choi.

“Baiklah. Seo Ji Soo dan aku belum siap menerima satu sama lain, jadi, mari jangan terburu-buru.” Ucap Nyonya No.


Tuan Seo mimpi buruk soal Ji An. Khawatir, Tuan Seo pun memutuskan pergi mencari Ji An.

Keesokan harinya, sebelum pergi bekerja, Tuan Bong memberitahu Ji An bahwa Hyuk sudah pergi. Tuan Bong juga meminta Ji An supaya tidak melarikan diri lagi.


Di kafe, Hee meminta sunbae nya Hyuk berbagi kamar dengan Hyuk. Sunbae Hyuk pun kaget, denganku?

“Ya, kau tinggal di rumah orang tuamu dan rumahmu sendiri. Kau terkadang minum-minum dengan tetanggamu dan tidur di kamar itu juga. Kami juga tidak pilih-pilih.” Jawab Hee.

“Hyung, kau mau atau tidak?” tanya Hyuk.

“Kakakmu memberiku sederet alasan agar aku tidak protes dengan kesepakatan ini.” jawab sunbae Hyuk.

“Serta aku tidak bisa bekerja selama beberapa hari. Tolong urus bisnis kita.” pinta Hyuk.

“Andai mempekerjakan pegawai paruh waktu lebih awal, kakak pasti bisa membersihkan kamar itu untuknya. Hari ini akan ada wawancara.” Jawab Hee.

“Sungguh? Seharusnya aku ikut mewawancarai bersama kakak.” Ucap Hyuk.


Hyuk lalu menyadari, tidak ada roti di etalase Hee. Hee pun berkata, akan memesan roti dari toko roti lain. Tapi Hyuk melarang, karena pelanggan sangat menyukai roti itu.


Hyuk singgah ke toko roti Boss Kang. Ji Soo sangat senang bisa melihat Hyuk lagi. Hyuk minta maaf karena menyuruh Ji Soo pulang sendirian hari itu. Ia berkata, sesuatu terjadi pada temannya jadi ia harus mengurus temannya. Ji Soo mengerti. Sebagai permintaan maaf, Hyuk berniat mentraktir Ji Soo. Sontak, hal itu membuat Ji Soo tambah senang.


Boss Kang keluar dari toko dan memarahi Hyuk yang membiarkan gadis lemah macam Ji Soo mengangkut karung garam sendirian. Hyuk pun langsung menatap Ji Soo. Ji Soo menjelaskan, kalau mereka sangat membutuhkan garam, jadi ia kembali ke mobil Hyuk dan membawa garamnya sekarung.

“Maafkan aku. Pak Kang, aku sungguh minta maaf.” Ucap Hyuk.

“Karena itulah. Bagaimana kau akan menebusnya?” tanya Boss Kang.

“Aku sudah memberi tahu Ji Soo, aku akan mentraktirnya makan. Untuk anda… “


Hyuk pun teringat tentang Hee yang ingin memesan roti dari toko lain, ia pikir Hee lah yang membuat Boss Kang kesal. Boss Kang dengan santai menjawab, mungkin Hee tidak menyukai rotinya.

“Dia hanya tidak pandai bergaul. Antarkan rotinya ke toko lagi.” Ucap Hyuk.

Boss Kang pun kembali ceria dan ingin cepat-cepat membuat roti, padahal itu hari liburnya. Ia juga membantu Hyuk membawa kantong2 garam lain yang lain ke dalam tokonya.


Setelah Hyuk pergi, Boss Kang dan Ji Soo pun saling bergandengan tangan dan melompat kegirangan. Yang satu senang karena ditraktir makan, yang satu lagi senang karena bisa mengirim roti ke kafe Hee lagi.

Namun kebahagiaan Ji Soo langsung sirna begitu ia melihat Tuan Seo di seberang jalan. Ji Soo pun membawa Tuan Seo ke taman di belakang toko rotinya.


Ji Soo marah karena Tuan Seo tiba-tiba saja datang tanpa mengabarinya. Ia menuding Tuan Seo tidak pernah memikirkan perasaannya. Tuan Seo pun minta maaf, kemudian mengaku pergi dari rumah pagi-pagi buta.

“Kau sehat? Mereka memperlakukanmu dengan baik?” tanya Tuan Seo.

“Tentu saja mereka memperlakukanku dengan baik. Aku putri kandung mereka.” Ketus Ji Soo.

Ji Soo kemudian bertanya, kenapa Tuan Seo keluar pagi-pagi sekali. Untuk menemuinya? Wajah Ji Soo seketika berubah kecewa saat Tuan Seo mengaku pergi pagi-pagi untuk mencari Ji An.

“Ayah ingin bertanya kepadamu. Saat kau menemui Ji An, apa yang kalian berdua bicarakan?” tanya Tuan Seo.


Ji Soo tambah kecewa. Ia juga tidak peduli meskipun Tuan Seo sudah mengatakan tentang Ji An yang sudah seminggu tidak pulang ke rumah. Ji Soo tidak mau memberitahu Tuan Seo apa yang ia bicarakan dengan Ji An. Tuan Seo pun marah dan membentak Ji Soo. Ia memaksa Ji Soo memberitahunya apa yang Ji Soo bicarakan dengan Ji An.

“Aku menamparnya. Aku marah karena dia berbohong, jadi, aku menamparnya. Dia sama saja seperti ayah dan ibu.” Jawab Ji Soo.

“Teganya kau melakukan itu. Kau tahu dia tidak bersalah. Teganya kau memperlakukannya begitu padahal dia mendatangimu. Bagaimana dia bisa bertahan?” protes Tuan Seo.


“Ayah tidak mengenalnya? Ayah pernah melihat dia menyerah? Setelah ayah bangkrut, dia hanya menyerah soal sekolah seni. Dia belajar mati-matian begitu memutuskan menyerah.” Jawab Ji Soo.

“Kenapa kau sama sekali tidak memahami kakakmu?” tanya Tuan Seo.

“Saat bersiap mencari pekerjaan dan bahkan saat tidak mendapat pekerjaan, dia tidak menyerah karena egonya. Itu sebabnya dia tidak pulang. Dia enggan melihat ayah dan ibu. Aku tahu kebenarannya meski dia tidak memberitahuku. Akan jauh lebih mudah jika dia menyalahkan kalian berdua. Begitulah dia. Sekuat itulah dia. Dia pasti akan pulang setelah sebulan.” Jawab Ji Soo.

“Kamu tidak memahaminya.” Ucap Tuan Seo.

“Bagaimana bisa? Dia menemuiku berulang kali setelah mengetahui kebenarannya. Dia berpura-pura tidak ada apa-apa. Aku tidak akan sanggup melakukannya jika menjadi dirinya. Itu sebabnya aku tidak akan bisa memaafkannya.” Jawab Ji Soo.

Tangis Ji Soo mulai keluar, sementara Tuan Seo terkejut mendengarkan kata-kata Ji Soo.

Ji Soo-ya, andai kau tahu kakakmu hampir saja tewas… andai kau tahu, kakakmu berusaha bunuh diri, masihkah kau mengatakan hal yang sama??


Hasil tes DNA Ji Soo akhirnya keluar. Setelah mengetahui kebenarannya, Nyonya No pun menyuruh Seketaris Min mencarikan guru untuk Ji Soo. Ia juga menyuruh Seketaris Min mencari rumah agar bisa mengajari Ji Soo.


Setelah Seketaris Min pergi, Nyonya No pun menghubungi ayahnya. Tapi yang mengangkat malah wanita simpanan ayahnya. Wanita simpanan CEO No pun mengatakan, bahwa CEO No dilarikan ke rumah sakit. Terpaksalah Nyonya No membatalkan perjalanannya ke Hawaii sampai kondisi ayahnya itu stabil. Nyonya No pun bingung bagaimana caranya memberitahu sang ayah tentang Eun Seok.


Nyonya No membatalkan janji makan siangnya dan pergi ke toko perhiasan untuk mengambil perhiasan couple nya yang rencananya mau ia pakai bersama Ji An saat ulang tahun perusahaan.


Nyonya No lalu minum wine sendirian. Sorot matanya nampak terluka.


Hyuk tampak membersihkan sebuah kamar. Mungkinkah kamar itu untuk Ji An?


Hee yang sedang melamun, langsung marah begitu melihat Boss Kang masuk kafenya. Tapi Boss Kang dengan santainya menjawab kalau ia datang untuk mengantar roti pesanan Hyuk, serta memesan kopi.

“Kau tahu dia adikku, bukan?  Jika kau  memberitahunya, aku akan menutup kafe ini.” ancam Hee.

Tapi Boss Kang menjawab omelan Hee dengan memesan kopi.


Beberapa pelamar kerja paruh waktu datang dan diwawancarai langsung oleh Hee. Boss Kang yang duduk di meja lain, pun berkata ‘tidak, tidak’ sambil melipat origami setelah mendengar wawancara Hee.

Hee pun melanjutkan wawancaranya, tapi Boss Kang terus mengganggunya dengan mengatakan ‘tidak’.


Selesai mewawancarai calon pegawainya, Hee pun menemukan origami lipatan Boss Kang di meja. Hee mengambil origami itu dan meremas2nya.


Hyuk balik lagi ke tempat Ji An. Ia memakai seragam yang sama dengan Ji An dan mulai bekerja sebagai penjemur rumput laut.

“Kenapa melakukan ini? Kau sudah mendengar semuanya.  Jangan mengusikku. Pergi saja.” Suruh Ji An.

“Aku di sini untuk bekerja.” Jawab Hyuk.

“Jangan bicara omong kosong. Kau tahu apa soal pekerjaan ini. Pekerjaan ini sangat berat.” Ucap Ji An.

“Memang kau langsung tahu saat pertama memulainya?” tanya Hyuk, lalu mulai bekerja.

Ji An pun mendekati Hyuk.

“Hyuk-ah!”


“Saat aku bekerja paruh waktu setelah ujian masuk universitas, semua ikan di kolam mati dan aku harus mencedok ikan mati selama empat hari. Ini akan mengingatkanku pada kenangan lama itu.” jawab Hyuk.

“Meski kau melakukan ini, aku tidak akan berubah pikiran.” Ucap Ji An.

“Ayo bekerja saja.” Jawab Hyuk.

“Lakukan sesukamu. Sudah kubilang. Aku tidak peduli tentang orang lain.” Ucap Ji An, lalu pergi.


Di kantor, Do Kyung sedang rapat dengan tim pemasaran. Senior Jo memberikan  daftar pemenang gambar kaos. Senior Yang berkata, Ji An juga mengikuti kontes itu dan keluar sebagai pemenangnya. Mereka pun bingung, bagaimana caranya agar bisa menghubungi Ji An.


Setelah balik ke ruangannya, Do Kyung menyuruh Seketaris Yoo mencari tahu apakah Ji An sudah pulang ke rumah atau belum. Sayangnya, Ji An belum pulang juga. Do Kyung pun sewot karena Hyuk tidak juga membawa Ji An pulang.


Do Kyung lantas menghubungi ke kantor Hyuk. Sunbae Hyuk bilang, kalau Hyuk sedang dalam perjalanan bisnis dan akan kembali beberapa hari lagi. Do Kyung pun semakin bingung kenapa Hyuk tidak segera membawa Ji An pulang. Dan seperti biasa, Seketaris Yoo jadi sasaran kemarahan Do Kyung yang lagi galau mikirin Ji An.


Hyuk sendiri jadi bintang di tempat kerja barunya. Ia disukai oleh para ibu2. Ji An pun tambah tertekan melihatnya. Ia berharap, Hyuk segera pergi.


Do Kyung menenangkan pikirannya dengan treadmill secepat mungkin.


Tak lama kemudian, ponsel Do Kyung berbunyi. Telepon dari sang ibu. Dan Do Kyung pun langsung menghubungi Ji Soo.

“Kurasa Ibu sudah tidak syok lagi. Dia ingin mengadakan pesta penyambutan untukmu.” Ucap Do Kyung.

“Aku tidak membutuhkan itu.” tolak Ji Soo.

“Kau tidak membutuhkannya. Tapi kenapa kau tidak memberinya kesempatan?” tanya Do Kyung.

Ji Soo pun terdiam dan hanya menghela nafasnya saja mendengar ucapan Do Kyung.


Seketaris Min lalu menjemput Ji Soo. Ji Soo dibawa ke salon. Ji Soo pun takjub melihat ruang perawatannya.


Ji Soo menjalani perawatan wajah pertama-tama, yang kemudian dilanjutkan dengan perawatan tubuh. Ji Soo tampak menikmati perawatan yang dijalaninya.


Setelah itu, tatanan rambut Ji Soo juga diubah. Dan wajahnya dipolesi make up. Ji Soo pangling melihat wajahnya di cermin.


Seohyun menemui istri Supir Ryu di sebuah kafe dengan membawa sebuah koper besar.

“Yang ada di dalam koper itu uang sejumlah 700.000 dollar?” tanya istri Supir Ryu.

Seohyun menyuruh istri Supir Ryu memeriksanya. Istri Supir Ryu menolak dan langsung ingin mengambil uangnya, tapi Seohyun menyuruh istri Supir Ryu menghapus foto2nya dengan Supir Ryu terlebih dahulu serta membatalkan perceraian.

“Aku bisa apa lagi? Aku tidak bisa memaafkanmu, tapi aku akan mencoba demi kebaikan anakku.” Jawab istri Supir Ryu, lalu berusaha mengambil kopernya yang sontak langsung dijauhkan Seohyun.

“Kau sungguh akan bersikap seperti tidak ada apa-apa?” tanya Seohyun.

“Aku tidak bisa membiarkan anakku tumbuh besar tanpa sosok ayah. Jadi, aku akan bermurah hati dan memaafkanmu.” Jawab istri Supir Ryu.


Ternyata istri Supir Ryu menyambungkan percakapan mereka ke ponsel Supir Ryu. Supir Ryu memuji2 istrinya.  Supir Ryu makin tersenyum puas mendengar Seohyun berterima kasih pada istrinya, tapi ekspresi wajahnya langsung berubah saat mendengar kalimat Seohyun berikutnya.

“Pikirmu aku akan berkata begitu?” tanya Seohyun.


Ji Ho tiba2 nongol di depan mobil Supir Ryu, membuat Supir Ryu kaget setengah mati.


Istri Supir Ryu pun mengancam Seohyun akan menyebarkan foto-foto itu. Seohyun sudah tak takut lagi. Ia balik mengancam akan melaporkan istri Supir Ryu ke penjara jika berani menyebarkan foto itu.


Tak lama kemudian, Ji Ho masuk membawa Supir Ryu. Istri Supir Ryu sontak terkejut. Supir Ryu pun memberi isyarat, agaristrinya tetap diam. Sementara Seohyun menatap tajam Supir Ryu.


“Semua orang yang menipu harus membayar sebesar jumlah uang atau keuntungan yang didapat melalui tindakan criminal dari pihak ketiga. Kalian mengetahuinya, bukan? Jika keuntungan yang kalian dapat lebih dari 500.000 dolar, akan ada hukuman tambahan. Kalian akan dikurung lebih dari tiga tahun. Hukum ini mulai berlaku pada tahun 2016.” Ucap Ji Ho.

Tapi pasangan itu terus saja mengancam akan menyebarkan foto2 Seohyun.


Ji Ho pun akhirnya memperdengarkan rekaman pembicaraan mereka saat mereka berencana menjebak Seohyun dengan foto2 itu.

“Sayang. perubahan rencana. Jangan bioskop mobil. Dia tiba-tiba ingin pergi ke kelab, jadi, kami menuju kelab di Hongdae sekarang. Kau harus pergi ke kelab tempat kita pertama bertemu dan mengambil posisi di tempat parkir VIP.” Suruh Supir Ryu.

Tak hanya itu, Ji Ho juga punya rekaman CCTV saat istri Supir Ryu bersiap2 mengambil posisi di tempat parkir.


Seohyun pun penasaran darimana Ji Ho mendapatkannya. Ji Ho cerita, ia mendapatkannya dari seorang temannya yang bekerja di klub itu. Ji Ho juga bilang, tukang parkir yang disuap Supir Ryu sudah mengaku kalau ia disuap agar mobil Seohyun diperbolehkan parkir di tempat VIP, padahal seharusnya pelanggan yang baru pertama kali datang ke sana, dilarang parkir di tempat VIP.


Ji Ho lalu menunjukkan foto2 kemesraan Supir Ryu dan istrinya serta memperdengarkan rekaman pembicaraan istri Supir Ryu dan Seohyun.


Tapi pasangan itu terus saja menyalahkan Seohyun. Mereka bilang, Seohyun lah yang sudah mendekati Supir Ryu duluan.

Ji Ho pun membela Seohyun. Seohyun terpana melihat Ji Ho membelanya seperti itu.


Masih tak mau menyerah, Supir Ryu mengancam akan menyebarkan berita terbaru soal Eun Seok ke media.  Ji Ho pun geram, dan memukul kepala Supir Ryu.

“Bocorkan saja berita itu, Bodoh. Kau telah meneken nota rahasia. Kau bisa membayar penaltinya? Memang bisa? Ini bukan hanya soal uang. Orang-orang di Grup Haesung tidak akan membiarkannya. Bukan hanya tiga tahun di penjara. Kalian akan dikubur di bawah tanah.” Ucap Ji Ho.

Kasus Seohyun pun selesai berkat bantuan Ji Ho.


Tuan Seo kembali ke stasiun mencari Ji An. Tapi tiba-tiba, Tuan Seo jatuh. Petugas pun langsung menolong Tuan Seo dan berkata, Tuan Seo demam, setelah memeriksa kening Tuan Seo.


Ji Soo kembali ke rumah dan membuat terpukau keluarga kandungnya dengan penampilan barunya.

“Putri ayah memang cantik, tapi sekarang lebih cantik.” Puji Tuan Choi.

“Kau tampak cantik.” Puji Nyonya No.


“Make over mu berhasil, eonni.” Ucap Seohyun. Dan Do Kyung mengacungkan jempolnya sembari tersenyum.


Tapi saat ditanya bagaimana rasanya memiliki penampilan baru, Ji Soo memberikan jawaban serupa dengan Ji An.

“Pijatannya menyegarkan dan aku menyukai rambut baruku. Tapi aku tidak menyukai gaun ini. Ini bukan gayaku.” Ucap Ji Soo.

Tapi hanya Do Kyung lah yang langsung teringat pada Ji An setelah mendengar jawaban Ji Soo.


Bersambung ke part 2....