• Sinopsis Wonderful World Episode 1-16

    Kim Nam Joo dan Cha Eun Woo memiliki rasa sakit yang sama akibat kehilangan seseorang yang sangat berharga bagi mereka.

  • Duis non justo nec auge

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

Defendant Ep 17 Part 2

Sebelumnya...


Kita lalu melihat Min Ho yang sedang makan bersama Yeon Hee dan Eun Soo. Eun Soo menagih janji Min Ho untuk ke taman bermain akhir pekan nanti. Min Ho mengangguk, mengabulkan permintaan Eun Soo. Eun Soo langsung bersorak gembira. Min Ho kemudian bertanya pada Yeon Hee, apa Yeon Hee akan ikut ke taman bermain dengan mereka. Namun Yeon Hee diam saja dan larut dalam pikirannya sendiri.

“Yeobo?” panggil Min Ho lagi.


Barulah Yeon Hee menyahut, ya?

“Apa hal itu masih mengganggumu?  Tidak akan terjadi lagi. Aku janji.” Ucap Min Ho.


Min Ho yang baru tiba di Chamyung dengan seketaris Seon Ho seketika berhenti melangkah saat seseorang memanggilnya dengan nama Min Ho. Min Ho menoleh ke belakang, tapi tak ada siapapun di sana. Min Ho pun bertanya-tanya, siapa yang memanggilnya barusan.


Wooruk terheran-heran dengan niat Moongchi yang mau membeli sebuah toko. Wooruk bilang, Moongchi tak tahu apa-apa soal bisnis. Moongchi pun mengaku, ia melakukan itu agar bisa mendapatkan hati dokternya Jung Woo. Setibanya di kantor property, mereka langsung disambut ramah oleh si petugas.

“Apa kau sedang mencari rumah?”

“Kami tidak sedang cari rumah. Bosku mau membuka sebuah toko.” Jawab Wooruk.

“Toko macam apa yang kalian cari?”


“Aku butuh gedung yang keren dan kekinian.” Jawab Moongchi.

“Apa pekerjaanmu sebelumnya?”

“Kami baru saja mau memulai sesuatu yang baru dalam hidup kami.” jawab Wooruk.


Moongchi pun langsung menyela jawaban Wooruk agar pihak property tidak tahu kalau mereka baru saja keluar dari penjara. Moongchi mengaku dulu ia bekerja di Departemen Hukum.

“Begitu, ya. Jadi kau sebelumnya bekerja untuk pemerintah. Aku sudah tahu itu dengan melihat wajahmu yang cerah ini.”

“Kami pensiun secara sukarela.” Tambah Moongchi.

“Kami punya beberapa lokasi kosong di sebuah mal di sekitar sini. Ayo.” Ajak si petugas.


Min Ho sedang berkonsultasi dengan dokternya Jung Woo. Dokter ingat, terakhir kali mereka bertemu, saat itu Min Ho mengaku hilang ingatan karena syok atas kematian Min Ho. Min Ho pun mulai bercerita, dua bulan yang lalu ayahnya meninggal tiba-tiba.

“Aku belakangan menghadapi beberapa  masalah sulit. Aku tidak ingat pernah melakukannya, tapi sepertinya belakangan aku sering secara tak sengaja mengatakan pada orang-orang kalau aku ini Cha Min Ho.” Ucap Min Ho.

“Apa maksudmu kau mengaku-ngaku kalau kau ini Cha Min Ho?” tanya dokter.

“Ya, makanya orang sering salah paham padaku. Dan beberapa orang berpikir kalau aku ini memang Min Ho. Kami sangat dekat. Kalau salah satu dari kamu sakit, yang satunya lagi juga akan sakit.” Jawab Min Ho.

“Kau pasti masih merasa syok karena kehilangan adikmu.” Ucap dokter.

“Sepertinya begitu.” jawab Min Ho.


“Ini namanya kelainan kepribadian. Dengan kata lain, kau ini berkepribadian ganda. Sejak kapan itu terjadi?” tanya dokter.

“Aku tidak yakin. Aku tidak bisa mengingat apa-apa.” Jawab Min Ho.

“Bagaimana saat di Rutan Woljeong?” tanya dokter.

“Rutan Woljeong? Di sana juga sepertinya aku mengalami ini.” jawab Min Ho.

“Kita harus melakukan beberapa pemeriksaan untuk memastikannya.” Ucap dokter.

  
Min Ho mengangguk-ngangguk. Lalu tak lama, ia ingat saat dirinya sering berhalusinasi seolah sang ayah sedang mencengkram kuat kakinya. Min Ho ingin menanyakan hal itu pada dokter, tapi gak 
jadi.

  
Moongchi sudah tiba di gedung tempat pujaan hatinya membuka praktek. Ia merasa gugup, bahkan sampai-sampai bertanya bagaimana penampilannya pada Wooruk. Wooruk lantas menyemprotkan parfum ajaib ke tubuh Moongchi. Ia yakin parfum itu akan membuat sang dokter menerima cinta Moongchi.

“Omong-omong apa benar ini tempatnya?” tanya Wooruk.

“Benar. Dia ada di Woljeong selama 3 hari, dan di sini selama 3 hari. Aku gugup sekali.” Jawab Moongchi.

“Percaya dirilah. Lebih susah memenangkan lotere dari pada kuliah dan jadi dokter.” Ucap Wooruk.

 “Haruskah aku operasi plastik?” tanya Moongchi.

“Tentu harus. Kau bisa membuat kelopak mata ganda.Kau juga perlu disuntik botoks sebelah sini.” Jawab Wooruk.

  
Disaat lagi sibuk ngomongin tampangnya Moongchi,  Min Ho pun datang dan berjalan ke arah mereka. Moongchi dan Wooruk menyapa Min Ho. Tapi Min Ho bersikap seolah-olah dia tidak mengenal mereka.

“Kami memberikanmu beberapa buah roti saat kita berada di satu sel yang sama. Kau harusnya menyapa kami. Mengecewakan sekali.” Ucap Wooruk.


“Kenapa kau menemui dokter di sini? Apa kau juga naksir padanya?” tanya Moongchi lemas.

Min Ho pun gerah dengan sikap Moongchi dan Wooruk yang sok akrab padanya. Seketaris Seon Ho lantas mengajak Min Ho pergi. Moongchi dan Wooruk terkejut saat seketaris Seon Ho memanggil Min Ho dengan sebutan CEO Cha.

“Apa dia sekarang naik pangkat jadi ketua? Memenangkan lotere sama sekali tidak sebanding dengannya.” Keluh Moongchi.
“Hei, kau punya tubuh yang bagus dan kau juga kuat.” Jawab Wooruk.


Dokter yang sedang membaca artikel tentang pasien yang menderita kepribadian gandadikejutkan dengan kedatangan Moongchi dan Wooruk. Wooruk langsung menghampiri dokter, sementara Moongchi diam saja di depan pintu. Wooruk lantas menarik Moongchi ke depan dokter. Moongchi terlihat kikuk.

“Ada apa ke sini?” tanya dokter.

“Pria ini sudah jatuh.” Jawab Wooruk.

Dokter pun bingung, apa?

“Jatuh cinta.” Sambung Moongchi.

Keduanya lalu bernyanyi dan menari.

“Jatuh cinta, sekarang jatuh cinta. Jatuh cinta, sekarang jatuh cinta. Aku tidak pernah mencintai seseorang sebelumnya. Aku hanya akan mencintai satu orang mulai sekarang. Orang itu adalah kau.”

  
Dokter pun sedikit terkejut melihatnya. Moongchi lalu berkata, hatinya yang sudah membara tidak bisa lagi ditenangkan.

“Aku berpikir aku ingin kembali saja ke Woljeong, tapi kudengar kau ada di sini, jadi aku datang.” ucap Moongchi.

“Dia memenangkan lotere. Dia kaya. Selamat bersenang-senang.” Jawab Wooruk, lalu pergi meninggalkan mereka.


Dokter panic karena tak mau ditinggal berdua dengan Moongchi.  Moongchi semakin mendekati dokter, dokter tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Moongchi lantas mengambil papan nama dokter dan mengaku kalau ia punya fisik yang kuat. Tapi dari balik papan nama itu, ia malah senyum-senyum menatap pujaan hatinya. Dokter pun akhirnya tersenyum.

  
Jung Woo baru saja mendapat telepon tentang Min Ho yang mengunjungi psikiater. Seketaris Seon Ho lah yang memberitahu Jung Woo. Ia menghubungi Jung Woo di dalam sebuah ruangan. Setelah memutuskan panggilannya, ia membuka pintu dan terkejut melihat Min Ho yang sudah berdiri di depan pintu sejak tadi.


Curiga, Min Ho pun meminjam ponsel seketaris Seon Ho. Ia menghubungi nomor terakhir yang dihubungi seketaris Seon Ho karena yakin itu nomor Jung Woo. Tapi begitu diangkat, yang terdengar malah suara wanita.  Min Ho pun langsung menutupnya dengan alasan salah memencet nomor. Setelah ponselnya dikembalikan, seketaris Seon Ho buru-buru pergi. Kita lalu melihat ada dua buah ponsel dibalik jas seketaris Seon Ho. Hmmm... rupanya seketaris Seon Ho sudah memperkirakan hal ini, jadi dia menghubungi Jung Woo lewat ponselnya yang lain.


Joon Hyuk terlihat  resah di kantornya. Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Joon Hyuk pun terkejut karena Ha Yeon lah yang menghubunginya. Ha Yeon menghubungi Joon Hyuk dari sekolahnya.

“Aku melihatmu di sekolah. Kenapa Paman bersembunyi? Kenapa Paman tidak menemuiku?” tanya Ha Yeon, membuat Joon Hyuk semakin resah.


Eun Hye sudah bersiap pergi di saat bibinya masuk ke kamarnya.  Bibi membahas soal Jung Woo yang sudah bebas dan mendapatkan posisinya kembali. Bibi tahu Eun Hye juga ikut andil membantu Jung Woo. Eun Hye berkata, Jung Woo yang meminta bantuannya.

“Kudengar sidangnya sangat sulit untuk dimenangkan. Padahal kau tidak dapat apa-apa dari sana.” Ucap bibi.

“Bibi, ayolah.” Jawab Eun Hye.

“Kau tidak perlu berusaha sekeras itu. Walaupun aku tahu kenapa kau  mau melakukannya.” Ucap bibi.

“Aku pergi dulu, Bi.” Jawab Eun Hye.

“Hari ini adalah hari peringatan kematian ibumu.” Ucap bibi.

“Ya, aku tahu.” jawab Eun Hye.

“Kau terus saja melakukan sidang-sidang ulang itu. Apa kau masih percaya kalau ayahmu bukanlah orang yang menyebabkan ibumu jadi seperti itu?” tanya bibi.

“Bibi,  aku ingat betul. Ayah ada bersamaku waktu itu.” jawab Eun Hye.

“Kalau itu benar, maka ayahmulah yang harusnya naik banding lebih dulu.” Ucap bibi.

“Aku sedang mempersiapkan sidang bandingnya. Aku pastikan aku akan menang. Aku akan memasukkan berkasnya segera.” Janji Eun Hye.


Eun Hye mendatangi sebuah toko bunga. Berdasarkan informasi yang ia dapat, sebuah surat yang dikirimkan ke Milyang berasal dari toko itu. Seorang wanita paru baya menyambut Eun Hye. Wanita itu terkejut saat mengetahui Milyang akan disidang ulang setelah bertahun-tahun lamanya.

“Kalaupun dia mau naik banding masa berlaku kasusnya sudah berakhir jadi kau tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas apapun.” Ucap Eun Hye.

“Anak-anakku tidak tahu apa yang terjadi padaku.” Jawab wanita itu.

“Kalau dia naik banding sekarang dia akan dibebaskan.” Ucap Eun Hye.


“Lalu apa yang harus kukatakan pada anak-anakku? Apa aku harus bilang kalau aku telah membunuh 2 orang? Dia yang bilang kalau dia yang akan bertanggung jawab menggantikanku. Awalnya, aku sangat ketakutan. Aku juga pernah menemui jaksa, dan mengakui semua yang sudah kulakukan. Namun, penyelidikannya sudah berakhir. Mereka bilang sudah sangat terlambat. Dia harus menjadi terpidana demi melindungiku. Dia tidak akan mendengarkanku. Sang Wook tidak akan mau menemuiku meski aku datang menjenguknya. Dia juga tidak pernah membalas suratku.” Jawab wanita itu dengan tangis berderai.

“Boleh aku tanya sesuatu padamu?” tanya Eun Hye.


Di sel, Bangjang yang sedang mengenakan kaus kakinya ingin tahu apa Milyang sudah memutuskan untuk banding atau belum. Milyang berkata, dia tidak akan melakukannya. Bangjang tidak setuju dan mencoba membujuk Milyang.

“Aku tidak ingin menghancurkan seseorang yang sedang menjalani hidupnya dengan baik. Kedamaian mereka akan hancur seketika.” Jawab Milyang.

“Kau sudah terjebak selama 20 tahun di sini.” Ucap Bangjang.

“Dia adalah wanita yang penuh ketidakberuntungan. Jangan bicara terlalu kasar tentangnya.” Jawab Milyang.

“Dia hanya mengirimimu surat sekali dalam setahun. Dia menikah lagi dan punya anak. Bisakah kau menemuinya lagi setelah kau keluar dari penjara nanti?” ucap Bangjang.

“Mungkin lebih baik begini.” Jawab Milyang.

“Kau seperti seorang malaikat di Rutan Woljeong ini. Kau adalah seorang pria suci.” Ucap Bangjang.


Nyonya Oh pergi menjemput Ha Yeon di sekolah. Ha Yeon langsung menghambur ke pelukan sang nenek. Dari kejauhan, Joon Hyuk berdiri mengawasi mereka. Joon Hyuk tersenyum melihat wajah Ha Yeon. Namun begitu Ha Yeon melihat ke arahnya, Joon Hyuk pun buru-buru pergi. Ha Yeon langsung mengejar Joon Hyuk.

“Paman Joon  Hyuk.” Panggil Ha Yeon seraya memegang tangan Joon Hyuk. Joon Hyuk pun tertegun.

“Aku menelpon karena aku merindukan Paman.” Ucap Ha Yeon lagi.


Tangis Joon Hyuk pun pecah. Dipeluknya Ha Yeon dengan erat. Ha Yeon bingung dengan sikap Joon Hyuk. Joon Hyuk meminta maaf pada Ha Yeon. Tak lama, Nyonya Oh datang. Nyonya Oh mengajak Joon Hyuk ke rumah. Ia berjanji, akan memasakkan sesuatu untuk Joon Hyuk. Joon Hyuk pun semakin tertegun.


Jung Woo dan Yeon Hee bertemu di sebuah kafe. Mereka membicarakan Min Ho. Jung Woo berkata, ia mendengar dari Kepala Choi kalau Yeon Hee lah yang memberikan semua berkas dana gelap Chamyung.

“Sepertinya itu adalah kesalahan. Aku sebenarnya hanya punya masalah dengan CEO Cha Yeong Woon. Sepertinya sekarang semua harus dikembalikan ke tempatnya semula.” Jawab Yeon Hee.

“Dia akan segera mengambil keputusan.” Ucap Jung Woo.

“Apa?” tanya Yeon Hee.

“Apakah dia akan maju ke pengadilan sebagai Cha Min Ho atau Cha Seon Ho.” Ucap Jung Woo.

“Apa maksudmu?” tanya Yeon Hee.


“Kau tahu, Cha Min Ho membunuh suamimu. Aku yakin kau juga tahu soal Jennifer Lee. Dan dia juga membunuh istriku, Ji Soo. Sebenarnya, kami tidak punya masalah kalaupun harus menahannya sekarang.” jawab Jung Woo.

“Kenapa kau memberitahu padaku semua itu?” tanya Yeon Hee.

  
“Yang kuinginkan adalah menyeretnya ke pengadilan sebagai Cha Min Ho bukan Cha Seon Ho Untuk melakukannya,  aku harus membuktikan kalau dia membunuh Cha Seon Ho dan mengambil alih identitasnya selama ini.” jawab Jung Woo.

“Jadi kenapa kau mengatakan semua itu padaku?” tanya Yeon Hee.

“Apa yang akan diingat anakmu tentang ayahnya? Aku yakin ini adalah hal penting untukmu. Bagaimana kalau dia tahu ayahnya adalah seorang pembunuh?” jawab Jung Woo.

Yeon Hee terdiam...


Saat makan malam dengan Min Ho dan Eun Soo, Yeon Hee ingat kata-kata terakhir Jung Woo soal apa yang akan dipikirkan Eun Soo tentang Seon Ho. Melihat Yeon Hee tidak makan, Min Ho pun menegur Yeon Hee. Min Ho bertanya, kenapa Yeon Hee tidak makan.

“Aku makan, kok.” Jawab Yeon Hee.

“Oh, ya. Ke mana kau hari ini? Kau tidak menjawab telponku.” Tanya Min Ho.

“Aku menemui seorang teman.” Jawab Yeon Hee.


Saat menyendiri di ruangannya, Min Ho ingat saat membuntuti Yeon Hee yang bertemu dengan Jung Woo di kafe. Dari mobilnya, Min Ho bisa mendengar percakapan Yeon Heed an Jung Woo. Rupanya, percakapan mereka sudah disadap. Pria yang duduk di depan Jung Woo dan Yeon Hee lah yang membantu Min Ho melakukan penyadapan.


“Park Jung Woo,  kau ingin aku maju ke pengadilan sebagai Cha Min Ho?” gumam Min Ho.


Tak lama, Yeon Hee datang dan mengajak Min Ho minum bersamanya.


Saat minum bersama, Min Ho mengajak Yeon Hee pindah keluar negeri. Yeon Hee mencemaskan Chamyung. Kalau Min Ho pergi, siapa yang mengurus Chamyung.  Min Ho berkata, Chamyung bukanlah sesuatu yang penting untuknya. Min Ho lalu memegang tangan Yeon Hee dan menunggu jawaban Yeon Hee. Yeon Hee terdiam sejenak, sebelum akhirnya setuju pindah keluar negeri.


Jung Woo sedang membacakan dongeng untuk Ha Yeon. Ha Yeon memberitahu Jung Woo kalau tadi Joon Hyuk menemuinya di sekolah. Ha Yeon bercerita, kalau Joon Hyuk menangis dan meminta maaf padanya. Jung Woo pun mencari-cari alasan kalau Joon Hyuk minta maaf karena sangat merindukan Ha Yeon.


Joon Hyuk sedang melihat sekeliling ruangannya di tengah suasana yang gelap. Hanya ada sedikit cahaya yang menerangi kantornya. Joon Hyuk lalu melirik ke sumpah jaksa yang tergantung di dindingnya. Setelah itu, ia melihat papan namanya. Tak lama kemudian, tangisnya pecah.


Saat sarapan, Ha Yeon bertanya apa Jung Woo sudah memberikan lukisannya pada Sung Gyu. Tae Soo, Nyonya Oh dan Jung Woo pun seketika berubah tegang. Ha Yeon ingin tahu apa yang dibilang Sung Gyu.

“Dia bilang lukisannya sangat bagus. Dan dia bilang terima kasih.” Ucap Jung Woo.


Tak lama kemudian, Cheol Sik datang membawa sup kimchi. Nyonya Oh mencicipi rasa sup buatan Cheol Sik. Cheol Sik deg-degan menatap Nyonya Oh. Nyonya Oh memuji masakan Cheol Sik. Nyonya Oh penasaran, apakah dulunya Cheol Sik seorang koki?

“Aku dulu sering bekerja dengan pisau.” Ucap Cheol Sik, yang langsung dipelototi Jung Woo dan Tae Soo.


“Omong-omong, kenapa Ahjussi ada di rumah kami?” tanya Ha Yeon.

“Aku?” jawab Cheol Sik dengan tampang tegang.

“Ayah sudah membuat kesalahan besar. Makanya dia tidak bisa pulang ke rumahnya. Jadi kenapa tidak kita izinkan saja dia tinggal di sini selama beberapa hari, oke? Bisakah kau biarkan dia tinggal di sini?” ucap Jung Woo.


Ha Yeon pun langsung menatap Cheol Sik. Cheol Sik memang tampang lucu. Ha Yeon tertawa, dan mengizinkan Cheol Sik tinggal di rumahnya.


Jung Woo yang baru keluar dari apartemennya, dapat laporan dari seseorang tentang Min Ho.


Sementara seketaris Seon Ho yang menunggu Min Ho diluar, ditelepon Min Ho. Min Ho menyuruh seketaris Seon Ho pergi, karena ia mau pergi tanpa seketaris Seon Ho. Seketaris Seon Ho mengerti.


Sementara, Min Ho sudah bersiap pergi dengan Yeon Hee. Yeon Hee menatap Min Ho. Dari tatapannya terlihat kalau Yeon Hee sudah mengambil keputusan. Min Ho berjanji tidak akan terjadi apapun kali ini.


Dalam perjalanan,  Eun Soo jatuh tertidur. Yeon Hee terdiam menatap Min Ho. Tak lama kemudian, Yeon Hee berbicara soal hari dimana mereka pertama kali bertemu.  Yeon Hee berkata, kalau hari itu mereka tidak bertemu apa mungkin mereka akan bahagia.

“Tidak.” Jawab Min Ho. Min Ho kemudian berkata kalau mereka akan pergi ke tempat yang tidak akan bisa ditemukan orang2.

Jung Woo dan rekan-rekannya akhirnya tiba di bandara. Mereka pun menyebar mencari Min Ho.


Sementara itu, Min Ho menyuruh Yeon Hee menunggu sebentar karena ia akan mengambil tiket mereka. Namun saat kembali, ia mendapati Yeon Hee dan Eun Soo sudah pergi. Min Ho pun langsung mengejar Yeon Hee. Yeon Hee semakin mempercepat langkahnya. Min Ho terus mengejar Yeon Hee sampai akhirnya langkahnya dihadang petugas kejaksaan.


Langkah Yeon Hee terhenti. Ia menangis  melihat Min Ho disergap orang2 dari kejaksaan. Jung Woo kemudian muncul di hadapan Min Ho. Min Ho langsung menatap geram Jung Woo. Tak lama kemudian, Min Ho mengalihkan pandangannya ke Yeon Hee. Min Ho berteriak2 memanggil Yeon Hee, namun Yeon Hee tak peduli dan terus beranjak pergi.


“Cha Min Ho.” Ucap Jung Woo sambil menunjukkan surat perintah penangkapan.

“Aku adalah Cha Seon Ho!” jawab Min Ho.

“Kau ditahan dengan tuduhan pembunuhan terhadap Cha Seon Ho, Jennifer Lee...” ucap Jung Woo.

“Cha Min Ho sudah mati.” Jawab Min Ho.


“Dan memerintahkan pembunuhan terhadap Lee Sung Gyu.” Ucap Jung Woo.

“Cha Min Ho sudah mati!” teriak Min Ho.

“Dan atas pembunuhan terhadap Yoon Ji Soo!” teriak Jung Woo.


Jung Woo kemudian memelankan suaranya...

“Aku menahanmu, Cha Min Ho... atas semua tuduhan kejahatan ini.” ucap Jung Woo.

Bersamaan dengan itu, tangis Jung Woo pun mengalir.