Ruby Ring Ep 73 Part 2

Sebelumnya...


Tuan Bae mengajak Gyeong Min sarapan, tapi Gyeong Min menolak dengan alasan harus segera ke kantor karena ada meeting.

"Setidaknya makanlah sedikit. Jangan pernah melewatkan sarapan." ucap nenek.

"Aku akan makan selesai meeting." jawab Gyeong Min.

Gyeong Min lantas memberitahu keluarganya bahwa ia akan membawa Roo Na kembali ke rumah.

Sontak semuanya kaget. Se Ra bahkan protes dengan keputusan Gyeong Min.

Gyeong Min minta maaf pada nenek. Menurut Gyeong Min, membawa Roo Na pulang adalah keputusan terbaik karena mereka tidak jadi bercerai.

"Changgeun, suruh Gyeong Min ke kamarku!" perintah nenek.


Nenek meminta penjelasan Gyeong Min, apakah Gyeong Min tidak jadi menceraikan Roo Na.

"Kau ingin membawa dia pulang? Kau sudah lupa apa yang dia lakukan pada keluarga kita?"

"Halmeoni, abeoji, aku minta maaf tapi aku ingin memberikannya satu kesempatan lagi. Roo Bi membuat banyak kesalahan, tapi sebagai suaminya, aku juga harus bertanggung jawab. Dia tidak akan melakukan hal ini jika aku lebih memperhatikannya. Aku juga bertanya-tanya, apakah keluarga kita terlalu menekannya?"

"Jadi kau menyalahkan nenek?" tanya nenek.

"Bukan begitu maksudku." jawab Gyeong Min.


Nenek lantas menanyakan pendapat Tuan Bae. Tuan Bae pun berkata, bahwa Gyeong Min benar.

Nenek pun tak bisa apa-apa lagi selain menerima Roo Na kembali di rumahnya.


Di basement, Gyeong Min bertemu In Soo.

Gyeong Min mengucapkan terima kasih karena In Soo juga ikut membantunya mencari Roo Na.

In Soo lantas menanyakan keadaan Roo Na.

Gyeong Min berkata, bahwa Roo Na sudah terlihat lebih baik.


Pintu lift terbuka. Keduanya pun terkejut saat melihat Roo Bi dan Roo Na sudah ada di dalam.

Berada di dalam satu lift begitu membuat Gyeong Min merasa aneh. Gyeong Min merasa, mereka seperti berbagi takdir.

"Tidak semua takdir. Takdir yang lebih gelap lebih mengikat. Mereka tidak mungkin melarikan diri." jawab Roo Bi.

"Jadi menurutmu masing-masing dari kita buruk untuk satu sama lain?" tanya Gyeong Min.

"Aku hanya sedang berpikir, apa arti takdir yang sesungguhnya." jawab Roo Bi.

Roo Na langsung tegang mendengar kata-kata Roo Bi.


Gyeong Min pun berkata, bahwa In Soo beruntung memiliki Roo Bi.

"Roo Na selalu penuh kejutan. Kau tidak akan pernah merasa bosan." ucap Gyeong Min.

"Kau lebih beruntung, Hyeong-bu. Roo Bi benar-benar berubah setelah kecelakaan itu." jawab Roo Bi.

Sontak, Roo Na terbelalak mendengarnya.

Sementara Roo Bi tersenyum puas menatap Roo Na.


Jin Hee, Hyeryeon dan Seokho langsung memuji Roo Na begitu Roo Na dan Roo Bi tiba di kantor.

Mereka tidak henti-hentinya membahas Roo Na yang jadi topik dimana-mana karena berhasil menggagalkan niat Jiyeon bunuh diri.

Jin Hee bahkan merasa, bahwa Roo Na sedang diberi imbalan atas perbuatan baik Roo Na.


Roo Bi yang mendengar itu sambil membaca koran pun kesal.

Ia langsung menatap tajam Roo Na.

"Kita lihat berapa lama kau akan bertahan. Jika kau memang orang baik, surga pasti akan melindungimu." ucap Roo Bi dalam hati.


Di restoran, Chorim sewot melihat Soyoung yang bermain ponsel sejak tadi.

Soyoung pun langsung berlari menghampiri Gilja.

Ia memberitahu Gilja bahwa Roo Na menjadi trending topic dimana-mana.

Soyoung pun penasaran, apakah Roo Na akan kembali ke siaran televisi.

"Tidak mungkin. Dia harus menata hidupnya." jawab Gilja.

"Aku juga cemas dengan apa yang akan dilakukan Roo Bi. Aku takut dia membuat masalah lagi." ucap Chorim.

"Komo!" sentak Gilja. Chorim pun langsung diam.


Gilja lantas memberitahu mereka kalau chef yang baru akan mulai bekerja besok.

Sontak, Soyoung kaget dan langsung menanyakan kabar Dongpal.

"Bagaimana mungkin dia bisa kembali bekerja disini setelah apa yang dilakukannya pada Chorim?" jawab Gilja.

"Eonni, katakan sesuatu." pinta Soyoung.

"Ko Soyoung, urus saja urusanmu sendiri!" suruh Chorim.

Chorim lalu kembali bekerja.


Soyoung langsung menyingkir keluar.

Diluar, ia menghubungi Jihyeok guna memberitahu bahwa mereka sudah menemukan pengganti Dongpal.

Jihyeok pun mencemaskan hubungan ayahnya dengan Chorim.

Soyoung yakin, Chorim masih menyukai Dongpal.

"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Soyoung.

Belum sempat menjawab, Jihyeok sudah dipanggil Dongpal.

Jihyeok pun langsung menyudahi pembicaraan mereka.


Jihyeok membawakan ayahnya segelas air.

Jihyeok juga menawarkan ayahnya bubur, tapi sang ayah mengaku tidak lapar.

"Ini akan menjadi bencana. Tidak ada obat untuk patah hati." ucap Jihyeok.

"Apa?" sahut Dongpal.

"Ayah tahu maksudku." jawab Jihyeok.

"Lupakan." ucap Dongpal.

"Aku pikir ayah seorang pria. Ayah menyukainya. Ayah mencintainya. Dia juga menyukaimu tapi dia mendorongmu pergi. Wae? Karena ayah melukai harga dirinya. Karena ayah berbohong padanya. Apakah harga diri ayah bisa memberi ayah makan? Bisa membantu ayah menemukan wanita yang lain? Kau tidak akan pernah menemukan wanita sepertinya. Kudengar dia berusaha keras menikahi pria mana pun yang pergi kencan buta dengannya. Ayah tidak akan menyesal. Ayah mau dia jatuh ke pelukan pria lain?"

"Diamlah No Jihyeok!" teriak Dongpal.

Tapi tak lama berselang, Dongpal beranjak pergi.


Soyoung mendekati Chorim yang duduk melamun.

"Apa benar dia sakit?" tanya Chorim.

"Aku bersumpah Eonni." jawab Soyoung.

"Siapa yang memberitahumu?" tanya Chorim.

"Jihyeok-ssi." jawab Soyoung.

"Jihyeok-ssi? Dongpal-ssi adeul? Kau bertemu dengannya?" tanya Chorim.

"Aku mencemaskan Dongpal. Jihyeok juga mencemaskannya. Dia takut ayahnya sakit dan mati. Jihyeok merasa bersalah karena dia pikir ini salahnya." jawab Soyoung.


Soyoung lalu mengaku penasaran, apakah Dongpal benar-benar mencintai Chorim.

"Eonni, coba pikirkan. Apa alasan dia membawamu kabur dari Gongnam? Seseorang bilang padaku, sulit menemukan orang yang mencintaimu seperti kau mencintainya." ucap Soyoung.

Setelah mendengar cerita Soyoung, Chorim pun langsung pergi.


"Soyoung-ah, dia mau kemana?" tanya Gilja.

Soyoung tersenyum, mencari cinta sejatinya.

"Apa?" jawab Gilja kaget.


Chorim yang menyusuri jalanan, teringat kebersamaannya dengan Dongpal selama ini.

Ia juga ingat saat Dongpal membawanya kabur dari Gongnam.


Tangisnya pun keluar. Saat menghapus tangisnya, dua orang bocah membuang cincin mainan ke kakinya.

Chorim terdiam melihat cincin itu.


Dongpal ternyata ke restoran, tapi ia hanya berdiri diluar dan melihat-lihat ke dalam restoran mencari Chorim.

Sementara Gilja sedang menerima telepon dari customernya.

Soyoung yang sedang melayani customer, tanpa sengaja melihat Dongpal.

"Oppa." ucapnya sembari tersenyum.


Chorim sendiri ke tempat Dongpal.

Jihyeok yang sedang makan pun langsung membukakan pintu.

"Dimana ayahmu?"

"Kau tidak bertemu dengannya? Dia pergi ke tempatmu." jawab Jihyeok.

Mendengar itu, Chorim pun bergegas pergi tapi Jihyeok menahannya.

"Ahjumma, tolong maafkan ayahku. Dia sangat mencintaimu. Aku juga ingin menjadi anak yang baik untukmu."

Chorim pun mengangguk. Tak lama berselang, senyumnya merekah.

"Ahjumma, hwaiting." ucap Jihyeok lagi memberi semangat.

"Gomawo, Jihyeok-ah." jawab Chorim, lalu bergegas pergi.


Jihyeok pun tersenyum.


Dongpal langsung pergi setelah Soyoung bilang Chorim pergi mencarinya.

Chorim mengomel sepanjang jalan karena Dongpal pergi keluar. Ia takut Dongpal tambah sakit.

Tak lama kemudian, mereka bertemu.

Dongpal pun memarahi Chorim yang meninggalkan restoran saat restoran lagi sibuk.

Chorim sontak kesal dimarahi seperti itu. Ia bertanya, apa alasannya sehingga ia tidak boleh keluar.

"Karena... karena..." Dongpal sulit mengatakannya.

Kesal, Chorim berniat pergi tapi Dongpal langsung memeluknya.

"Aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku merasa seperti orang mati. Aku tidak bisa membayangkan duniaku tanpa dirimu." ucap Dongpal.


Dongpal lalu melepas pelukannya. Ia menatap Chorim dan melamar Chorim.

"Kau melamarku?"

"Benar, aku melamarmu."

"Mana cincinnya?" tanya Chorim.

"Aku... cincinnya tertinggal di rumahku."

Chorim pun menyerahkan cincin mainan itu.

"Pasangkan itu ke jariku." pinta Chorim.

Dongpal pun langsung memasangkannya.


Chorim berkata lagi. Ia menyuruh Dongpal berlutut.

"Setidaknya berlutut lah dan pasangkan cincin itu ke jariku."

Dongpal pun berlutut dan memasangkan cincin itu ke jari Chorim.

"Jeong Chorim-ssi, maukah kau menikah denganku?"

"Iya, aku mau!" jawab Chorim tegas.

Mereka pun kembali berpelukan.


Di rumah, Tuan Bae kesal membaca artikel Roo Na tentang bunuh diri Jiyeon.

Ia bertanya-tanya, siapa Roo Na sebenarnya.


In Soo juga sedang membaca artikel itu bersama rekannya. Rekannya bertanya-tanya, apakah Roo Na akan kembali televisi.


Hyeryeon menjawab telepon kantor.

Setelah itu ia memberitahu Roo Na, bahwa seketaris Gyeong Min menelpon, meminta Roo Na ke ruangan Gyeong Min.

Sontak, Roo Bi langsung menatap kesal Roo Na.

Roo Na sendiri bertanya-tanya untuk apa Gyeong Min memanggilnya.


Roo Na ke ruangan Gyeong Min.

Gyeong Min pun langsung menyiapkan dua cangkir kopi.

"Kau ingat kopi ini?" tanya Gyeong Min.

"Tentu saja." jawab Roo Na.

Roo Na lantas bertanya kenapa Gyeong Min menyuruh seketaris memanggilnya.

Gyeong Min pun beralasan bahwa dirinya sibuk.

"Gyeong Min-ssi, kau membuatku gugup."


"Aku akan membawamu pulang hari ini. Aku sudah bicara dengan keluargaku."

"Tapi aku takut Gyeong Min-ssi. Mereka mungkin masih marah padaku."

"Kalau begitu kau harus menunggu. Ini juga sulit buat mereka." jawab Gyeong Min.

Roo Na pun menghela nafas. Ia menatap Gyeong Min.

Bersambung.............

0 Comments:

Post a Comment