Thursday, January 31, 2019

The Promise Ep 27 Part 2

Sebelumnya...


Se Jin masuk ke kamar Na Yeon. Ia kesal saat melihat foto Sae Byeol yang bertengger di meja.

Tak lama kemudian, Na Yeon masuk membawakannya teh dan menyuruhnya duduk.

"Aku lega keluargamu tidak disini." ucap se Jin.

"Sejujurnya, aku tidak suka melihatmu. Melihatmu duduk di kamarku, membuatku tidak nyaman." jawab Na Yeon.

"Benar. Aku akan langsung ke intinya." ucap Se Jin.

Se Jin lalu memberikan paper bag yang dibawanya. Ia berkata, itu adalah syal Sae Byeol yang ketinggalan di apartemen Tae Joon. Ada topi dan ikat rambut juga di dalamnya yang merupakan hadiah dari Tae Joon.

"Kau datang jauh-jauh ke rumahku jam segini, hanya untuk mengembalikan ini?" tanya Na Yeon.


"Kau tahu aku orang yang tidak sabar. Aku ingin hal ini segera berakhir." jawab Se Jin.

"Mengakhiri hal ini? Apa masih ada yang harus kita selesaikan?" tanya Na Yeon.

"Aku pikir Tae Joon mengalami kesulitan karena Sae Byeol. Aku tidak bisa mentolerirnya. Kepalaku bisa memahaminya tapi hatiku tidak. Jadi tolong bantu aku. Jika Tae Joon datang untuk melihat Sae Byeol, jangan izinkan. Jika dia mulai merasa terikat dengannya, tidak akan ada jalan untuk kembali."


"Kau harusnya tidak datang kesini. Itu masalah dintara kalian. Pergi tanyakan ke Tae Joon. Mintalah padanya dan selesaikan masalah diantara kalian."

Na Yeon berdiri dan menyuruh Se Jin pergi karena ibu dan adiknya akan segera pulang.

"Arraseo, pastikan kita tidak bertemu lagi." ucap Se Jin.

"Kau yang harus memastikannya. Aku mohon padamu." jawab Na Yeon.


Besoknya, Hwi Kyung mulai bekerja di Baekdo. Saat ia berjalan di lobby, semua orang kasak kusuk membicarakannya. Tapi ia santai saja, seolah tak terpengaruh dengan pandangan sekitarnya.

Di depan lift, Tae Joon melihatnya. Tae Joon berdehem, memberitahukan keberadaannya tapi Hwi Kyung tidak mendengar dan langsung masuk ke lift begitu pintu lift terbuka.


Begitu masuk ruangannya, Hwi Kyung menemukan karangan bunga ucapan selamat dari Do Hee di atas mejanya.

Hwi Kyung sedikit tersenyum.


Namun kebahagiaan Hwi Kyung itu langsung dirusak oleh telepon dari mantan istrinya yang marah-marah lantaran reporter masih datang mengubernya.

Hwi Kyung : Jangan khawatir, tidak akan terjadi sesuatu.


Setelah itu, Hwi Kyung langsung menghubungi Do Hee.

Hwi Kyung : Baek Do Hee-ssi, ayo bertemu.

Do Hee : Kau ingin merayakan promosimu denganku?

Hwi Kyung : Kau tahu dengan baik apa yang kuinginkan.

"Jadi kau ingin aku menahan diri?" tanya Do Hee.

"Kau seharusnya juga tahu itu." jawab Hwi Kyung.

"Aku sedikit takut. Baiklah. Sampai jumpa disana." ucap Do Hee.


Usai bicara dengan Hwi Kyung, Do Hee sewot sendiri lantaran Hwi Kyung masih saja berusaha melindungi wanita itu.

"Park Hwi Kyung-ssi, berhenti memprovokasiku atau mungkin aku akan menulis artikel tentangmu." ucap Do Hee.


Di kamarnya, Yoo Kyung sedang menatap kartu keluarga Mal Sook serta surat adopsi Na Yeon dan foto Na Yeon.

Ia lalu teringat kata-kata suaminya tentang Na Yeon yang datang ke rumah mereka untuk bekerja.

Tak lama kemudian, Yoo Kyung memasukkan semua dokumen itu ke tasnya dan beranjak pergi.


Na Yeon dan Sae Byeol terburu-buru keluar dari rumah. Sae Byeol cemas akan terlambat ke sekolah.

"Ibu ada pekerjaan memasak hari ini, jadi ibu harus bergegas."

"Haruskah kita lari?" tanya Sae Byeol.

"Kita bisa berjalan cepat-cepat." jawab Na Yeon.

Na Yeon lantas menggandeng Sae Byeol dan mulai berlari. Namun langkahnya terhenti ketika Yoo Kyung tiba-tiba datang dan memanggilnya.

"Apa yang membawamu kesini?" tanya Na Yeon sambil menyembunyikan Sae Byeol di belakangnya.

"Itu putrimu?" tanya Yoo Kyung.

"Bagaimana kau tahu aku tinggal disini? Jika kau butuh layanan catering, kau bisa menelponku." jawab Na Yeon.

"Bisakah kita bicara di tempat lain?" tanya Yoo Kyung.


Lantas mereka bicara di sebuah kafe. Yoo Kyung

"Kau tumbuh dengan sangat baik. Jika bukan karena suamiku, mungkin aku tidak akan sadar dan akan memintamu memasak lagi untukku. Tapi aku senang. Kupikir kau besar di panti asuhan tapi untungnya kau diadopsi dan menemukan keluarga baru."

"Kau benar. Jika kau tidak mencampakkanku ke panti asuhan 20 tahun lalu, aku tidak akan seberuntung ini."

"Kau masih kurang ajar seperti 20 tahun lalu, saat kau meninggalkan rumahku dengan tanganmu yang mengepal. Jadi kau datang ke rumah kami untuk berterima kasih padaku? Suamiku mengatakan itu. Kau datang ke rumah kami secara kebetulan, hanya untuk bekerja. Tapi aku tidak bisa mempercayainya."

"Kau masih cantik seperti 20 tahun lalu dan kau masih tidak pengertian seperti dulu. Kau lah yang memanggilku untuk bekerja. Bukan aku yang memintamu."


"Katakan itu benar, tapi bagaimana dengan yang kedua kalinya? Kau tahu itu rumahku tapi kau datang seolah-seolah tidak pernah terjadi apapun. Kau bersikap seolah-olah tidak mengenal kami dan memasak untuk kami dengan penuh senyuman. Kenapa? Kenapa kau kembali padahal kau tahu semuanya. Karena uang? Kudengar kau single parent. Suamiku mengatakan,
kau berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupmu dan anakmu tidak punya ayah. Apa karena itu?"

"Bukan karena itu. Aku hanya ingin kembali kesana. Rumahmu membawaku kembali ke masa lalu. Karena itulah."

"Benarkah?"

"Aku harus pergi."

"Apa yang dia lakukan? Ayah gadis itu. Bagaimana bisa dia tidak bertanggung jawab padamu dan anakmu? Siapa dia?"

"Kau ingin tahu?"

"Siapa ayahnya?" tanya Yoo Kyung lagi.


Bersambung.......

No comments:

Post a Comment