Skip to main content

Ruby Ring Ep 71 Part 2

Sebelumnya...


Jin Hee menghubungi 119 dari telepon kantor.

Setelah itu, ia mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi Roo Na, tapi tidak dijawab.


Gilja yang tidak bisa tidur, berusaha menghubungi Roo Na tapi ponsel Roo Na tak aktif.


Soyoung terbangun karena mendengar suara tangisan Chorim.

"Soyoung-ah, sekarang aku tahu kenapa ada banyak sekali lagu patah hati. Rasanya seperti ditusuk disini. Sakit sekali, sampai aku ingin mati tapi tidak ada yang bisa kulakukan. Apa yang harus kulakukan? Gilja mencemaskan Roo Bi jadi aku tidak bisa bicara dengannya. Kau lebih muda dariku, aku malu cerita padamu. Apa yang harus kulakukan."

"Itulah kenapa kubilang saat seseorang jatuh cinta, hati dan pikiran mereka akan bertentangan." jawab Soyoung.

Tapi Chorim malah menggeplak kepala Soyoung. *Astaga Chorim, masih sempet2nya ngajak Soyouung ribut. LOL

Chorim lalu menjatuhkan dirinya ke pelukan Soyoung. Soyoung pun berusaha menenangkan Chorim yang tangisnya kian kencang.

"Aku merindukannya!" ucap Chorim.


Di kamarnya, Roo Bi terus saja menatap ponselnya. Ia menunggu telepon dari Roo Na. Wajahnya terlihat cemas. Ia takut Roo Na bunuh diri.


Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Telepon dari In Soo.

"Roo Na masih belum menghubungimu?"

"Kau mencemaskannya juga?" tanya Roo Bi.

"Bohong kalau aku bilang aku tidak cemas." jawab In Soo.

"Aku mengerti. Roo Na akan baik-baik saja." ucap Roo Bi.

"Jangan terlalu cemas. Aku yakin Roo Na akan menghubungi kita pagi ini." jawab In Soo.


Roo Na teringat kecelakaan yang dialaminya bersama Roo Bi.

Ia juga ingat ketika sang ibu memanggilnya Roo Bi saat ia baru siuman.

"Jika aku tahu akhirnya seperti ini, akan lebih baik jika aku mati. Mereka tidak seharusnya membiarkanku hidup. Kenapa mereka menyelamatkanku? Kenapa aku siuman sebelum Roo Bi siuman? Kenapa?" ucapnya.


Roo Na lantas mendengar suara ibunya. Ia pun langsung mencari ibunya tapi kemudian ia sadar kalau itu hanyalah perasaannya.

"Tidak mungkin ibu disini. Kenapa ibu harus mencariku? Kau ingat, ibu? Ingat? Kau orang pertama yang memanggilku Roo Bi."


Roo Na lalu meraih ponselnya dan menghubungi sang ibu.

"Kenapa kau memanggil begitu, Bu? Jika kau tidak melakukannya, hal ini tidak akan terjadi!"

Tangis Roo Na pun pecah.

"Roo Bi-ya, kau dimana? Aku akan menjemputmu."

"Jangan datang, aku baik-baik saja."

"Roo Bi-ya, eomma mianhae. Aku tidak ada di sisimu. Aku menamparmu. Aku meneriakimu. Aku minta maaf."

"Kenapa kau minta maaf? Itu kesalahanku. Mianhae. Aku ingin sukses, tapi pada akhirnya..."

"Roo Bi-ya, apa maksudmu? Berhentilah bicara. Kau menakuti ibu. Katakan kau dimana."


"Mianhae eomma karena telah mengecewakanmu. Aku benar-benar ingin kau bangga padaku."

"Kau salah. Kau mengagumkan. Faktanya, aku tidak pantas memiliki putri sepertimu."

Mendengar itu, Roo Na tambah kecewa karena mengira sang ibu hanya peduli padanya.

Roo Na lantas menutup teleponnya setelah meminta sang ibu menjaga kesehatan.


Sontak Gilja panic. Ia takut terjadi sesuatu pada Roo Na.

Gilja lantas berteriak memanggil keluarganya.

"Apa yang harus kulakukan? Kurasa, Roo Bi akan mengakhiri hidupnya. Dia tidak mau mengatakan dia ada dimana." Gilja menangis.


Roo Na menghubungi Gyeong Min.

"Terima kasih sudah menjawab teleponku. Jangan cemas. Gyeong Min-ssi, aku ingin mengakui sesuatu. Ini kesempatan terakhirku, jadi dengarkan saja. Sebenarnya aku tidak mencintaimu. Aku memang mencintaimu pada awalnya tapi kita berpisah lalu kembali bersama. Ketika aku sadar dari kecelakaan itu, seperti yang kau katakan, aku hanya mencintaimu karena kau kaya dan punya pengaruh. Aku benci mengakuinya tapi kau benar. Tapi aku juga menerima, aku belajar mencintaimu lagi lebih dari aku mencintai yang lain. Itulah kenapa aku berpikir membuat sandiwara yang tidak termaafkan. Jadi aku bisa tetap disisimu. Jika aku tidak melakukannya, aku akan kehilanganmu dan kau meninggalkanku. Mianhae untuk semua yang sudah kulakukan padamu. Maaf karena sudah menipu dan membohongimu."

"Roo Bi-ya, dimana kau? Aku akan menjemputmu."

"Ini menyenangkan. Seseorang mendorongku pergi jadi kenapa berubah pikiran sekarang? Karena kau akan merasa bersalah jika aku mati? Jangan khawatir. Aku tidak menyalahkan siapapun. Aku ingin menjadi Jeong Roo Bi yang kau cintai, yang kau inginkan tapi aku gagal. Mianhae. Seharusnya aku berusaha lebih keras. Lupakan semuanya dan hiduplah bahagia."


Di kantor, Jin Hee menerima telepon dari 119 yang mengabarkan mereka sudah berhasil mendapatkan lokasi Jiyeon.

Jin Hee lalu menghubungi Roo Na.

Ia memberitahu kondisi Jiyeon pada Roo Na dan meminta Roo Na menyelamatkan Jiyeon.

Tapi Roo Na tidak peduli dan menutup teleponnya.


Ia lalu mengambil botol obat. Ia berniat bunuh diri dengan obat itu.

Tapi pikirannya tidak bisa lepas dari Jiyeon.

Bersambung........

Comments

Popular posts from this blog

I Have a Lover Ep 50

Sebelumnya.... “Aku rasa aku jatuh cinta lagi padamu.” Ucap Jin Eon begitu Hae Gang menghampirinya. “Aku sudah tahu.” jawab Hae Gang. “Berikan tasmu.” Pinta Jin Eon. “Tidak mau, tas melambangkan harga diri seorang wanita.” Jawab Hae Gang. “Berikan padaku. Tas wanitaku melambangkan harga diriku.” ucap Jin Eon. Hae Gang pun tersenyum, lalu memberikan tas alias keranjangnya yang berisi peralatan mandi pada Jin Eon. Jin Eon kemudian menyuruh Hae Gang menggandeng lengannya. Hae Gang pun menggandeng lengan Jin Eon, dan selanjutnya keduanya beranjak pergi menuju sauna dengan senyum terkembang. “Kau akan memakai itu?” tanya Hae Gang saat melihat Jin Eon sedang memilih2 baju sauna. “Aku pernah memakainya dulu.” Jawab Jin Eon. “Tak bisa kubayangkan…” dan Hae Gang pun tersenyum geli, “… tapi entah bagaimana tampaknya akan lucu.” “Awas ya kalau kau jatuh cinta padaku.” Ucap Jin Eon.   Ajumma penjaga sauna kemudian memberitahu bahwa Jin Eon...

I Have a Lover Ep 29 Part 2

Sebelumnya... Seok sedang galau di kamar yang dulu ditempati Hae Gang. Tak lama kemudian, sang ayah datang. Seok mengaku bahwa mungkin dia harus keluar dari rumah untuk sementara waktu karena ia tidak bisa mengendalikan dirinya. “Berusaha melupakan dengan putus asa akan membuatmu bertambah putus asa. Tidak bisakah putus asamu berkurang sedikit?” tanya sang ayah. “Aku punya penyesalan. Aku menyesal dan itu membuatku gila. Aku seharusnya menikahinya saat kau menyuruhku tahun lalu. Maka dengan begitu, dia akan berada di sampingku selamanya. Setidaknya, aku bisa mengatakan padanya untuk tinggal, untuk memohon padanya untuk tinggal. Aku rasa aku tidak bisa melepaskannya. Aku rasa tidak bisa membiarkan itu terjadi. Aku rasa aku tidak akan pernah bisa melepaskannya.” Jawab Seok. “Hanya kau menahan seseorang, hanya karena kau menyukainya, itu hanya akan membuat tanganmu sakit.   Tanpa bisa merasakan kehangatan, kau akan berteriak kesakitan. Itu sebabnya cinta bertepuk sebelah ...

I Have a Lover Ep 17 Part 2

Sebelumnya <<< Hae Gang di rumah sakit, menunggui Moon Tae Joon yang sedang di operasi. Wajahnya tampak cemas. Tak lama kemudian, Jin Eon datang. Dua staf keamanan Jin Eon yang sudah duluan tiba di sana, langsung menemui Jin Eon begitu Jin Eon datang. "Bagaimana dengan Moon Tae Joon?" tanya Jin Eon. "Dia sedang di operasi." jawab salah satu staf keamanan Jin Eon. "Lalu Do Hae... ah, maksudku Nona Dokgo Yong Gi?" tanya Jin Eon. "Dia menunggu di depan ruang operasi." jawab staf keamanan itu lagi. "Kau sudah mendapatkan nomor platnya?" tanya Jin Eon. "Sudah." Staf keamanan Jin Eon pun memberikan nomor plat kendaraan yang menabrak Tae Joon pada Jin Eon. Jin Eon menatap nomor plat itu dengan wajah cemas. Ia lalu menyusul Hae Gang ke ruang operasi. Keluarga Moon Tae Joon menyalahkan Hae Gang atas kecelakaan yang menimpa Tae Joon. Kakak Tae Joon berkata, jika saja Tae Joon mendengarkannya untuk m...