• Sinopsis Wonderful World Episode 1-16

    Kim Nam Joo dan Cha Eun Woo memiliki rasa sakit yang sama akibat kehilangan seseorang yang sangat berharga bagi mereka.

  • Duis non justo nec auge

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

Ruby Ring Ep 86 Part 1

Sebelumnya...


In Soo membawa Roo Na ke kafe. Bukannya berterima kasih, Roo Na malah menyalahkan In Soo atas kejadian yang dialaminya. Ia bilang, semua itu tidak akan terjadi jika In Soo tidak membuat rekaman itu.

In Soo pun menyesal sudah menolong Roo Na.

Tapi saat ia mau pergi, Roo Na justru menahannya dan meminta tolong.

"Kepala Pemilihan bilang, jika si pengunggah video mengakui bahwa video itu palsu, aku masih punya kesempatan. Aku bisa mendapatkan suara karena orang-orang simpati padaku. Jadi tolong, bujuk Roo Bi."


In Soo pun kembali duduk.

"Kau ingin Roo Bi berbohong?" tanya In Soo.

"Itu bukan kebohongan. Roo Bi lah yang mengunggah video itu. Karena itu, kumohon. Bicaralah dengan Roo Bi. Aku tidak akan pernah melupakan ini. Aku berhutang pada kalian berdua." jawab Roo Na.

"Kau mau aku membunuh Roo Bi lagi?" tanya In Soo.

"Mwo?" tanya Roo Na bingung.

"Roo Bi bilang, kau membunuhnya beberapa kali. Itu semua karena kau. Kau membunuhnya saat dia koma, saat ingatannya hilang dan saat dia memutuskan balas dendam. Aku lebih mati daripada menyuruhnya melakukan itu." jawab In Soo.

"Kau sangat romantis In Soo-ssi." ucap Roo Na.

"Jangan coba-coba melakukannya! Aku tidak akan membiarkanmu lolos! Tidak peduli kau menjadi politisi, presiden atau narapidana, kau harus menghadapinya. Aku tidak mau menjadi bagian dari rencanamu." jawab In Soo.


In Soo lantas bangkit dari duduknya. Ia berniat pergi, tapi kemudian Gyeong Min datang.

Gyeong Min mengucapkan terima kasih pada In Soo karena sudah menolong Roo Na.

In Soo mengangguk, lalu bergegas pergi.


"Setelah semua ini, kau masih ingin masuk dunia politik? Geumanhaja."

Tapi Roo Na tetap keras kepala. Ia bercerita, bahwa dirinya baru saja bertemu dengan Kepala Pemilihan dan mereka sudah memiliki jalan keluar.

"Roo Bi-ya!"

"Gyeong Min-ssi, aku akan menang apapun yang terjadi. Jadi jangan cemas. Aku ini Jeong Roo Bi."


Gyeong Min ke ruangan Se Ra. Mereka membahas para pendemo Roo Na di depan kantor mereka.

"Aku tidak tahu harus bertindak seperti apa." jawab Gyeong Min.

"Kau bersikap seolah-olah ini bukan urusanmu. Jika kau terus seperti ini..." Se Ra pun tidak jadi bicara. Ia beralasan, tidak mau mencampuri urusan rumah tangga Gyeong Min.

"Noona, kau tahu detektif pribadi yang bisa mencari tahu masa lalu seseorang, kehidupan pribadi, rahasia... lupakan. Anggap aku tidak pernah membicarakan ini."

Gyeong Min lalu beranjak pergi.

"Dia berdiri di atas seutas benang. Apa yang dia pikirkan?" gumam Se Ra cemas.

*Roo Bi benar, kebenaran udah di depan mata, tapi Gyeong Min memilih mengabaikannya. Mungkin si Gyeong Min ini takut kali ya kalau apa yang dia pikirkan itu benar. Jadi dia memilih diam daripada mencari tahu.


Di ruangannya, Roo Bi melamun sampai-sampai ia tidak mendengar bunyi ponselnya.

Seokho lah yang menegur Roo Bi, memberitahu Roo Bi tentang ponselnya yang berdering.

Telepon dari Roo Na yang mengajaknya bertemu.


Mereka bertemu di atap.

"Aku tidak akan memintamu menghapus video itu." ucap Roo Na.

"Bukankah sudah kubilang jangan terlalu berharap." jawab Roo Bi.

Roo Bi lalu beranjak pergi tapi Roo Na menahannya.

"Eonni, selamatkan aku. Aku menyesal atas apa yang sudah kulakukan padamu tapi polisi akan segera melakukan penyelidikan. Kalau kau ketahuan, kau akan ditangkap. Jadi bukanlah lebih baik kau mengaku dan meminta maaf sekarang? Katakan pada mereka, video itu palsu dan kau mengunggah video itu karena kau marah." pinta Roo Na.

"Inilah yang terbaik yang bisa dipikirkan otak licikmu." jawab Roo Bi.

"Aku akan melakukan apapun jika kau mau melakukannya." ucap Roo Na.


"Ada yang kuinginkan." jawab Roo Bi.

"Apa?" tanya Roo Na.

"Wajahku. Aku ingin wajahku dan semua kembali seperti dulu." jawab Roo Bi, membuat Roo Na kaget.

"Jangan membodohi dirimu. Kau pikir aku akan berubah pikiran? Kau pikir aku takut jika mereka menangkapku? Aku menunggu polisi datang padaku, karena dengan itu, semua orang akhirnya akan tahu tentang kebohongan dan rahasiamu. Ini akan menjadi skandal yang epik. Wanita itu cukup sombong, mencuri hidup kakaknya, wajah, tunangan, pernikahan dan ingin masuk dunia politik. Jeong Roo Na yang terkenal."

"Kau gila."

"Aku tidak gila. Aku kakakmu. Setiap kali aku merasa tubuhku seperti dicabik-cabik ribuan kali. Pada saat ini, aku lebih mati. Terima kasih telah mengubahku menjadi monster. Aku akan berusaha yang terbaik, agar bisa menjadi monster yang ribuan kali lebih menyeramkan dari dirimu. Aku membayangkan, melihatmu di neraka."

Roo Bi lalu beranjak pergi.


Di kamar mandi, Roo Bi membasuh mukanya dan menangis.

"Apa ini Jeong Roo Bi? Apa kau benar-benar ingin menjadi monster?"

Ia lalu jatuh terduduk dan menangis.


Chorim melirik Gilja yang sedari tadi melamun saja.

Sementara Dongpal, asyik menonton televisi.

Dan Soyoung senyum-senyum sendiri membaca sms Jihyeok yang mengaku merindukannya.


Jihyeok yang lagi menggaruk punggung Daepung, diminta Daepung berhenti mengirimi Soyoung pesan.

"Kenapa? Kau selalu mengeluh betapa kesepiannya dirimu." jawab Jihyeok.

Daepung pun berbalik dan menatap Jihyeok.

"Saat kau tua, kau membutuhkan seseorang yang bisa menggaruk punggungmu. Tapi aku tidak kaya dan tidak punya kekuatan. Kau pikir, wanita mana yang mau denganku?"

"Jangderella Ahjumma!" seru Jihyeok.

"Dia kecil, gemuk dan manis. Dia sempurna." jawab Daepung.


Tak lama, ponsel Jihyeok kembali berdering. SMS dari Soyoung, membuat Jihyeok senyum-senyum sendiri.

Daepung yang kesal melihatnya, langsung menggeplak kepala Jihyeok.

Chorim terus menatap tajam Soyoung yang senyum-senyum sendiri sambil menatap ponsel. Ia tahu, Soyoung lagi sms-an dengan Jihyeok.


Dongpal pun meminta Chorim membiarkan mereka, membuat Chorim sewot.

"Mereka hanya berteman, kenapa kau begini? Dulu kau mengekangku. Sekarang kau ingin mengekang Jihyeok juga? Apa yang akan terjadi setelah kita punya bayi?"

"Agi?" tanya Chorim.

"Geureom. Baby. Kita harus bersiap memiliki bayi." jawab Dongpal, membuat Chorim tertawa malu.


Tak lama kemudian, Roo Bi pulang.

"Roo Na, kau sudah pulang?" tanya Gilja.

"Eomma, kau masih memanggilku Roo Na?" jawab Roo Bi kecewa.

Roo Bi lalu masuk ke kamarnya.

"Eonni, ada apa dengannya? Aku rasa dia sudah kembali seperti dulu." ucap Chorim.


Gilja pun menyusul Roo Bi ke kamar.

Roo Bi tampak menahan tangisnya. Gilja duduk disamping Roo Bi.

"Roo Bi-ya."

"Roo Bi-ya? Aku pikir aku ini Roo Na. Sekarang aku Roo Bi? Ibu, kau tahu aku Roo Bi tapi kenapa kau masih memintaku berpura-pura menjadi Roo Na?"


"Apa lagi yang harus kulakukan? Paman dan bibimu ada di sana. Haruskah aku memanggilmu Roo Bi? Haruskah aku membiarkan semuanya tahu?"

Roo Bi diam saja. Tangisnya sudah pecah kali ini.

Gilja lantas memegang tangan Roo Bi. Ia kembali menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa mengenali kedua putrinya.

*Intinya si Gilja ini gk pengen membahayakan posisi Roo Na. Padahal dia bisa kasih tahu orang rumah kalau Roo Na itu adalah Roo Bi yang asli, tapi dia diam karena gak mau Roo Na disalahkan.


Paginya, Gyeong Min menyuruh Roo Na bangun dan pergi dengan ibu dan neneknya mengunjungi para lansia yang di panti jompo.

Tapi Roo Na menolak dengan alasan sibuk.

"Keluargamu tidak pernah peduli padaku dan sekarang mereka mau aku ikut dengan urusan mereka?"

"Roo Bi-ya!"

"Video skandal contohnya. Jika perusahaan membantuku, masalahnya tidak akan seserius ini."

"Kau bercanda denganku? Seharusnya kau mencegah hal ini sejak awal!"

"Sudah kubilang padamu, aku korban! Orang-orang yang membenciku mengunggah video itu."

"Wae? Kenapa mereka membencimu?"

"Itu sudah jelas, karena peringkatku yang tinggi? Apa kau tidak percaya padaku? Kau benar-benar berpikir, video itu asli? Kau meragukanku? Katakan. Kau tidak percaya padaku?"


"Aku tidak percaya padamu."

Roo Na pun syok, Gyeong Min-ssi.

"Sejak kita menikah, berapa kali kau menipuku? Berapa kali aku memaafkanmu? Video itu palsu? Kau bisa membodohi orang lain, tapi aku tidak. Wanita itu jelas dirimu. Baju yang kau kenakan dalam video itu, aku yang memberikannya padamu setelah kita menikah."

"Aku yakin banyak orang memiliki baju seperti itu."

Tapi Gyeong Min tidak percaya dan beranjak pergi.


"Apa yang harus kulakukan? Aku harus memikirkan rencana." ucap Roo Na.

Tak lama kemudian, ia pun berpikir untuk memaksa Roo Bi melakukan konferensi pers terkait video itu.

Ia mau Roo Bi mengakui bahwa video itu palsu.


Roo Na ke restoran. Ia mengajak sang ibu bicara.


Mereka pun bicara di kafe.

Gilja terkejut mendengar permintaan Roo Na.

Roo Na menyuruhnya membujuk Roo Bi untuk menggelar konferensi pers.

"Eomma, bicaralah padanya. Suruh dia mengakui kalau video itu palsu."

"Apa kau sadar, seberapa egoisnya dirimu? Kau ingin aku menyuruh Roo Na untuk memuaskan dirimu?"

"Aku akan membayarnya setelah aku terpilih. Jika kau membantuku, aku bisa menang."

"Kau tidak boleh melakukannya."


"Eomma ingin aku mati?"

"Mati? Baiklah. Ayo mati bersama."

"Jika Roo Na tidak mengunggah video itu, hal ini tidak akan terjadi!"

"Jadi yang ada dalam video itu kau? Katakan padaku? Apa yang sebenarnya terjadi."

"Jika Roo Na tidak mau menggelar konferensi pers, aku bukan hanya kalah dalam pemilihan tapi juga akan diusir mertuaku. Kau mau itu terjadi? Jadi tolong telepon Roo Na. Cepatlah! Aku tidak punya waktu. Cepat."

Gilja pun syok. Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran Roo Na.


Bersambung ke part 2.......

Oooow, Roo Na berusaha mencuci otak ibunya.

Gilja ini ibarat buah simalakama. Dimakan, yang mati Roo Bi. Gak dimakan yang mati Roo Na.

Lagian si Gyeong Min ini ya... kebenaran udah di depan mata, dia bukannya nyelidikin malah milih diem..

Sy ingin cepat menuntaskan drama ini. Beneran gondok sy dengan tingkah Roo Na dan juga Gilja yang menutupi rahasia itu.

Kalau menjaga rahasia itu dari Gyeong Min sih wajar, tapi dari Chorim? Dongpal? Soyoung?

Ruby Ring Ep 85 Part 2

Sebelumnya...


Gyeong Min membawa Roo Bi ke kafe.

"Kenapa kau menunggu di luar? Di luar dingin. Kenapa tidak menelponku?" tanya Gyeong Min.

"Aku hanya berjalan-jalan dan kurasa, aku mulai memikirkanmu." jawab Roo Bi, membuat Gyeong Min agak terkejut.

Roo Bi lalu bertanya apa Gyeong Min suka dengan hadiah syal yang ia berikan. Ia mengaku, merajut sendiri syal itu.

"Aku juga punya syal yang sama. Kakakmu yang merajutnya untukku. Kenapa kau memiliki syal yang sama?"

"Cobalah untuk mencari tahu." jawab Roo Bi.

"Aku tidak punya petunjuk." ucap Gyeong Min.


"Aku membencimu! Kebenaran sudah ada di depan matamu tapi kau memilih mengabaikannya.  Kebenarannya sudah mendekat, tapi kau bahkan tidak berusaha untuk melihatnya. Jika kau melihat sedikit lebih dalam atau memikirkannya, kau bisa mengetahuinya." jawab Roo Bi dalam hati.

"Katakan padaku, bagaimana bisa kalian punya syal yang sama." ucap Gyeong Min.

"Kau sama seperti yang lainnya. Kau lebih suka mengabaikan kebenaran." kata Roo Bi dalam hatinya.

"Hyeong-bu, aku harus pergi." ucap Roo Bi.

"Kau tidak mau bertemu kakakmu? Kakakmu sangat terguncang akibat video palsu itu." ucap Gyeong Min.

"Kau yakin video itu palsu?" tanya Roo Bi mengejutkan Gyeong Min.

"Kebenaran pada akhirnya akan terungkap. Video itu dan yang lainnya, aku harap kau bisa mengatasinya." ucap Roo Bi lagi, lalu beranjak pergi.


Gilja tak bisa berhenti memikirkan kata-kata Roo Bi tadi.

"Aku tidak bisa memaafkan Roo Na. Ketika aku berada di ambang kematian, dia mencuri wajah dan hidupku. Dan sekarang, dia berusaha masuk dunia politik. Ibu tahu semuanya tapi ibu menutup mata. Bagaimana ibu bisa seperti itu!" protes Roo Bi.

"Dia benar. Aku sudah gila. Aku orang yang mengerikan." batin Gilja.


Tak lama kemudian, terdengar suara Chorim yang memanggil Gilja karena ada Roo Na.

"Dimana Roo Na?" tanya Roo Na.

"Jadi kau disini untuk menemui Roo Na? Dia pasti sibuk." jawab Chorim.


Gilja lalu keluar kamar. Chorim pun pamit. Ia mengaku, ingin keluar sebentar bersama Dongpal.


Setelah Chorim dan Dongpal pergi, Gilja menanyakan alasan Roo Na mencari Roo Bi.

"Kami harus bicara. Aku menelponnya tapi tidak dijawab." jawab Roo Na.

"Kita harus bicara." ucap Gilja.

"Ibu pasti ingin menyuruhku membatalkan niatku masuk dunia politik, kan?"

"Roo Bi-ya."

"Bukan ini yang aku butuhkan dari ibu. Kau seharusnya berada di sisiku!"

"Video itu.."

"Itu palsu! Itu direkayasa!"


Tak lama kemudian, Roo Bi pulang dan Roo Na langsung menariknya ke dalam kamar.

"Itu kau, kan? Yang menyebarkan video itu. Kau pelakunya?" tanya Roo Na.

"Benar, itu aku." jawab Roo Bi.

Roo Na syok. Tak lama kemudian, ia menampar Roo Bi.

Roo Bi pun balas menampar Roo Na.

"Wae? Kau pikir aku tidak bisa membalasmu?" tanya Roo Bi.

"Hapus video itu." pinta Roo Na.

"Kau sangat sombong sebelumnya. Kau takut?"

"Apa yang kau dan Na In Soo rencanakan? Kau pikir dengan ini aku akan berhenti!"

"Jika tidak, apalagi yang akan kau lakukan? Karena sudah sampai di titik ini, apa kau akan mengakui kebenarannya dan berdiri di balik jeruji besi? Jangan cemas. Itu akan segera terjadi."


Roo Na pun berusaha menampar Roo Bi lagi tapi Roo Bi langsung mencengkram tangannya.

"Akan kutambahkan pasal penyerangan ke dalam daftar kejahatanmu dan menjebloskanmu ke balik jeruji besi."

"Hapus sekarang! Jika tidak, akan kubuat kau membayarnya!"

"Silahkan saja, kau bisa menuntutku. Lalu kebenaran akan terungkap. Lalu apa? Apa yang akan terjadi sesudahnya?"


Tangis Roo Na pun pecah. Ia jatuh terduduk dan berteriak-teriak.

"Luapkan amarahmu, sesukamu. Karena mulai sekarang, aku tidak akan membiarkanmu." ucap Roo Bi.


Soyoung, Jihyeok dan Daepung lagi main kartu ketika Dongpal dan Chorim datang.

Mendengar suara Chorim dan Dongpal, Jihyeok pun buru-buru menyembunyikan Soyoung di dalam lemari.

"Appa, kenapa tidak menelpon dulu?"

"Haruskah aku membuat janji dulu kalau mau bertemu anakku?" jawab Dongpal.

"Bukan begitu tapi kita baru bertemu di restoran tadi." ucap Jihyeok.

"Kami kesini untuk berpesta denganmu." jawab Chorim.

Chorim lalu memberikan Jihyeok baju baru.

Melihat itu, Daepung pun langsung menagih punyanya.

Chorim dan Dongpal tertawa, lalu memberikan punya Daepung.

Dongpal menyuruh Jihyeok mencoba baju itu.

"Dia pasti malu karena aku ada di sini." jawab Chorim.


Chorim lantas mengambil baju baru Jihyeok dan berniat menyimpannya di lemari.

Tapi Jihyeok langsung mencegah Chorim dan mengaku ingin mencobanya sekarang.


Curiga, Chorim pun membuka lemari.

Ia syok menemukan Soyoung di sana.

Sementara Soyoung tersenyum menatap Chorim.


Di rumah, keluarga Gyeong Min sedang menonton berita skandal Roo Na.

Kesal, Se Ra pun langsung mematikan televisi.

"Sepertinya ini tidak akan berakhir dalam waktu dekat." ucap Se Ra.

"Dia dibicarakan di TV sepanjang hari. Bagaimana itu akan berakhir? Inilah harusnya mengapa kita melarangnya masuk dunia politik." jawab nenek.


Tak lama kemudian, Geum Hee datang membawakan teh.

"Kudengar, video itu palsu. Apa ada jalan untuk membuktikan kalau video itu palsu?" tanya Geum Hee.

"Yeobo, kau tidak bisa menyelidikinya? Tidak bisakah kau meminta bantuan Pak Kim?" tanya Nyonya Park.

Mendengar itu, Tuan Bae langsung masuk ke kamarnya.

"Dia pergi tanpa minum teh. Bawakan teh ke kamarnya." suruh nenek.

"Baik, ibu." jawab Nyonya Park.


Di kamar, Tuan Bae menghubungi Pak Kim. Ia menyuruh Pak Kim mencari tahu apapun soal video itu, tidak peduli video itu asli atau palsu serta siapa yang mengunggahnya.

Tak lama kemudian, Nyonya Park masuk membawakannya teh.

"Tolong tenanglah. Dokter Kim memarahiku karena tidak memperhatikan kesehatanmu."

"Kenapa dia menyalahkanmu karena kesehatanku?"

"Karena aku istrimu. Tolong perhatikan kesehatanmu demi aku."


Di kamar, Roo Na memberitahu Gyeong Min bahwa kampanye nya akan segera dimulai.

"Kau akan membantuku, kan? Kapan kau libur?"

"Belakangan ini aku sangat sibuk di kantor."

"Apa itu penting? Aku akan menjadi anggota dewan."

Gyeong Min lantas meminta Roo Na melupakan impian masuk dunia politik. Tapi Roo Na kekeuh mau tetap masuk ke dunia politik. Ia beralasan, bahwa apa yang dilakukannya juga demi perusahaan.

Mendengar itu, Gyeong Min pun langsung menegaskan kalau dia tidak peduli Roo Na menang atau tidak dan meminta Roo Na tidak meminta bantuannya.

Gyeong Min pun beranjak pergi. Roo Na hanya bisa menghela napas melihat penolakan Gyeong Min.


Di lobby kantor, Roo Bi melihat Gyeong Min. Ia berusaha menghindari Gyeong Min, tapi Gyeong Min malah memanggilnya.


Gyeong Min mengajak Roo Bi minum kopi di ruangannya tapi Roo Bi malah minta teh hijau membuat Gyeong Min heran.

"Aroma kopi mengingatkanku pada seseorang yang ingin kulupakan." jawab Roo Bi.

Roo Bi lalu meminta maaf soal kemarin malam.

"Sepertinya kau memiliki waktu yang sulit. Bisakah kau mengatakannya padaku? Kau terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu. Katakanlah." ucap Gyeong Min.

"Apakah aku bisa mengatakannya padamu? Kebenaran yang mungkin membuatmu hancur berkeping-keping." batin Roo Bi.


Tiba-tiba, seketaris Gyeong Min datang dan memberitahukan soal telepon Professor Jung.

Mendengar itu, Roo Bi langsung keluar karena tidak mau mengganggu Gyeong Min.

Setelah Roo Bi pergi, seketaris Gyeong Min berkata lagi, tentang apa yang dikatakan Profesor Jung kalau tidak mungkin memulihkan file yang sudah rusak.

Seseorang menghubungi Roo Bi.


Roo Bi pun langsung menemui orang itu yang tidak lain adalah In Soo, di atap.

"Apa Roo Na memberitahumu? Dia memintaku mengadakan konferensi pers untuk mengumumkan kalau video itu palsu." ucap In Soo.

"Dan kau tidak sedang memintaku mengatur acaranya, kan?" tanya Roo Bi.

In Soo diam saja.

"In Soo-ssi!"

"Setiap kali aku mengingatnya, itu memukul perasaanku. Kita harus menutup apa yang ada di depan kita. Jika kita melangkah mundur dan melihat gambaran besar, kita menyadari bahwa kebencian dan permusuhan sama sekali tidak penting."


"Kau satu-satunya orang yang berusaha bunuh diri setelah dihancurkan wanita yang kau cintai. Kau satu-satunya orang yang ingin balas dendam. Kau mengancamnya dengan video itu dan mengaku tidak bisa memaafkannya, lalu kau memanipulasiku."

"Benar, karena aku melakukan hal-hal itu, karena aku tahu aku salah, itulah kenapa aku berusaha menghentikanmu."

Tapi Roo Bi tetap kekeuh ingin membalas Roo Na.


Roo Na mendapat telepon dari pengurus Partai Yeomin yang menyuruhnya berhenti.

Mereka pun langsung bertemu di sebuah restoran.

Roo Na menjelaskan kalau video itu palsu.

Pengurus Partai Yeomin pun berkata, jika ada pengakuan public dari seseorang yang menyebarkan video itu, maka orang-orang akan kasihan pada Roo Na.

Mendengar itu, Roo Na langsung menganggap itu sebagai jalan keluarnya.


Ia bergegas ke kantor. Ia mau memaksa Roo Bi membuat pengakuan. Tapi baru turun dari mobil, ia langsung di demo orang-orang.

Takut Roo Na pun kembali masuk ke mobil.


Gyeong Min yang sedang memikirkan video Roo Na, mendengar ribut-ribut di bawah.

Ia langsung melihat ke bawah jendela dan melihat istrinya yang sedang di demo.


Gyeong Min turun ke bawah. Ia melihat In Soo yang berusaha menyelamatkan Roo Na.

Melihat In Soo berusaha menolong Roo Na, Gyeong Min tambah curiga.

Bersambung...........