Thursday, October 25, 2018

Ruby Ring Ep 86 Part 2

Sebelumnya...


Gyeong Min ikut menemani ibu dan neneknya mengunjungi rumah para lansia.

Mereka sedang berada di rumah salah satu lansia.

"Diluar sangat dingin, kenapa kau tidak menyalakan pemanasnya?" tanya nenek.

"Aku tidak punya uang untuk itu, lagipula aku punya selimut elektrik di sini." jawab lansia itu.

"Nenek, kau sudah meminum obat yang terakhir kali kami kirim untukmu?" tanya Gyeong Min.

"Tentu saja, aku meminumnya sepertinya makan makanan ringan."

"Kalau begitu, biarkan aku tahu apa saja yang kau butuhkan." ucap Gyeong Min.

"Kau tidak hanya tampan, tapi juga baik." puji lansia itu.


Ternyata di sana tak hanya mereka, tapi juga ada Geum Hee dan Jin Hee.

Jin Hee pun pamit.

Lansia itu lantas memberikan ongkos taksi untuk Gyeong Min.

Gyeong Min jelas menolak tapi lansia itu minta Gyeong Min menerima nya.

*Harusnya Roo Na nih yg menemani Gyeong Min, bukan Jin Hee. Jika itu Roo Bi, Roo Bi pasti ikut menemani suaminya.


Tuan Bae sedang memikirkan video Roo Na ketika Roo Na pulang.

Heran melihat rumah yang sepi, Roo Na pun bertanya pada Tuan Bae dimana Nyonya Park dan nenek.

"Kau tidak tahu mereka mengunjungi para lansia hari ini?" jawab Tuan Bae kesal.

"Ayah, kau tahu betapa sibuknya aku." ucap Roo Na.

"Lalu apa? Kami harus beradaptasi dengan jadwalmu?" tanya Tuan Bae.

"Bukan begitu." jawab Roo Na.


Tuan Bae lantas melemparka koran yang berisi artikel Roo Na terkait video itu.

"Kau mempermalukan kami setiap waktu!"

Roo Na yang tak tahu harus menjawab apalagi pun memutuskan pergi ke kamarnya.


Setelah Roo Na pergi, Tuan Bae menghubungi Pak Kim.

"Bagaimana perkembangan apa yang kuminta padamu untuk dilakukan?"

"Tunggulah sebentar. Kami masih menganalisis video itu." jawab Pak Kim.


Roo Na menghubungi ibunya. Ia pun kesal mengetahui sang ibu belum bicara dengan Roo Bi soal konferensi pers.

"Ibu kau mau aku mati!"

"Untuk apa aku melakukan itu!"

"Kau hanya perlu membujuk Roo Na!"

"Roo Bi-ya."

"Kau lupa yang kukatakan? Ini semua salahmu!" ucap Roo Na, sebelum mengakhiri pembicaraannya dengan sang ibu.


Gilja kesal. Tak lama kemudian, muncul lah berita di TV tentang Roo Na yang menolak mundur dari dunia politik setelah skandalnya merebak.

Kesal, Gilja menyuruh Chorim mematikan TV. Semula Chorim tak mau.

"Kubilang matikan!" suruh Gilja dengan nada tinggi.

Dongpal pun menyuruh Chorim mematikan TV. Chorim mengerti dan mematikan TV.


Gilja lalu teringat kata-kata Roo Bi, tentang Roo Na yang tidak memenuhi syarat masuk ke dunia politik.

"Jika kita mengungkap kebenarannya sekarang, itu akan lebih baik!" ucap Roo Bi.

"Roo Bi benar. Kebenaran cepat atau lambat akan menunjukkan jalannya. Roo Na mungkin akan sedikit menderita karena konsekuensi yang harus dihadapinya. Tapi dia masih saja berkeras masuk ke dunia politik."

Gilja lalu berniat menghubungi Roo Na tapi tak jadi dan memutuskan bicara langsung dengan Roo Na.


Gilja pun langsung mendatangi Roo Na ke rumah Gyeong Min.

Ia menunggu Roo Na diluar. Tak lama kemudian, Roo Na keluar dan langsung menyuruh ibunya masuk ke mobil.

Mereka bicara di mobil.

"Bagaimana suami, nenek dan mertuamu?" tanya Gilja.

"Mereka sudah tidur. Apa yang terjadi? Ibu sudah bicara dengan Roo Na?"

"Roo Bi-ya, ibu berpikir ini salah. Tidak masuk akal kau masih melanjutkannya setelah semua ini. Lagipula mertuamu menentangnya dan suamimu tidak mendukungmu."

"Ibu datang ke sini hanya untuk mengatakan itu!"

"Bagaimana video itu? Ibu tidak tahu banyak soal internet tapi..."


"Sudah kubilang itu bukan aku!"

"Tentu saja itu kau! Dan pria itu Na In Soo. Aku sudah tahu kau mencuri wajah Roo Bi."

Roo Na pun syok. Tak lama kemudian, Roo Na marah.

"Apa yang ibu tahu? Ibu tahu apa? Itu bukan aku. Bukan."


Roo Na lantas keluar dari mobilnya. Gilja menyusulnya.

"Roo Na-ya, mau sampai kapan kau seperti ini?"

"Aku bukan Roo Na. Aku Roo Bi!" ucap Roo Na.

Roo Na lalu menatap ibunya.

"Apa ibu sudah gila? Apa ibu bodoh? Ini wajah Jeong Roo Bi."

"Saat ingatan Roo Bi kembali, dia sangat marah. Bagaimana bisa kau menyuruh Roo Bi melakukan konferensi pers dan mengatakan video itu palsu! Apa itu yang dilakukan manusia!"

"Lalu apa yang ibu lakukan? Jika kau kasihan padanya, kenapa kau tidak mengatakan rahasiaku! Itu karena kau tahu kami tidak bisa kembali seperti dulu. Kenapa? Karena aku istri Bae Gyeong Min dan kami hampir memiliki anak!"


Plaaak! Gilja menampar Roo Na.

"Apa kau punya hak menamparku! Kenapa kau sangat membenciku!"

Gilja tambah marah.

"Bagaimana bisa kau melakukan hal yang mengerikan pada kakakmu! Roo Bi sangat baik padamu! Kau sangat berharga untuknya! Kau dan aku harus mati sekarang! Jika kita mati, hal ini akan berakhir!"

"Kenapa aku harus mati? Jika aku mati, aku tidak akan pergi sejauh ini."

Tangis Gilja pecah. Ia merasa gagal mendidik Roo Na.


"Kenapa kau sangat membenciku? Semua yang kau butuhkan hanyalah Roo Bi dan Roo Bi. Tidak seorang pun yang mengakuiku! Tidak seorang pun yang mencintaiku! Tapi sekarang semua orang mengenaliku! Semua orang mengatakan aku pintar! Aku bukan lagi si pembuat masalah! Aku bukan lagi wanita penggoda! Tidak peduli apa yang kau katakan, aku Jeong Roo Bi sekarang!"

"Ini salahku. Aku minta maaf. Tapi Roo Na-ya, kumohon berhentilah."

"Ibulah yang harus berhenti, jadi bicaralah dengan Roo Bi. Jika polisi menangkap pelaku penyebaran video, aku selesai dan aku akan menyeret Roo Bi jatuh bersamaku. Ibu dan bibi juga akan hancur. Jadi suruh Roo Bi mengadakan konferensi pers. Jika tidak, aku benar-benar akan mengakhiri semuanya." ancam Roo Na.


Tangis Gilja makin deras.

Bersambung...........

No comments:

Post a Comment