Wednesday, November 9, 2016

I Have a Lover Ep 28 Part 1

Sebelumnya...


Jin Eon kini sudah duduk di dalam rumah yang dulu pernah ia tinggali bersama Hae Gang. Woo Joo mendekati Jin Eon. Melihat itu, Yong Gi marah dan langsung menyuruh Woo Joo bermain diluar. Woo Joo cemberut. Jin Eon pun mengajak Woo Joo bermain bola dan gelembung lain kali.  Woo Joo mengangguk senang, lalu pergi bermain di luar.

“Pemilik rumah ini?” tanya Jin Eon.

“Dia pergi menemui anaknya. Kemarin  aku bilang anaknya masih hidup.” jawab Yong Gi.

“Apa?” kaget Jin Eon.

“Kenapa kau bertanya? Apa terjadi sesuatu?” tanya Yong Gi.

“Tidak. Aku hanya prihatin. Ini akan sulit.” Jawab Jin Eon.

“Bukankah kalian sudah bercerai? Ini akan sulit bagi Seol Ri.” Ucap Yong Gi.

“Bagaimana kau bisa mengenal Seol Ri?” tanya Jin Eon.


“Selain di rumah ini, aku juga bekerja di rumahnya . Setelah aku sampai di Korea, dia membantuku. Dan saat semua milikku dicuri dan aku tidak tahu harus berbuat apa, dia yang duluan datang padaku. Dia orang pertama yang memberiku pekerjaan. Dia perduli padaku dan menjagaku. Kalau bukan karena Seol Ri, aku masih tetap berpikir kalau aku berhutang nyawa pada Do Hae Gang.” jawab Yong Gi, membuat Jin Eon tertegun.


Sementara itu, di apartemennya, Seol Ri sedang membaca profil Shin Il Sang.  Kata2 Jin Ri pun terngiang2 di telinganya.  Kata2 bahwa Jin Eon tidak akan tahan hidup bersama Hae Gang. Kata2 bahwa Jin Eon akan pergi meninggalkan Hae Gang.


“Dia yang akan pergi meninggalkannya? Bagaimana mungkin. Apa yang sebenarnya dia sembunyikan?” gumam Seol Ri.


Nyonya Kim bercerita, bahwa ia hidup bersama dengan Ji Ho tanpa mendaftarkan pernikahan mereka. Mereka lantas berpisah. Nyonya Kim membawa Hae Gang, sedangkan Ji Ho membawa Yong Gi.  Nyonya Kim mengaku bahwa ia lelah hidup miskin. Ia lelah pada Ji Ho yang hanya mengandalkan penelitian.

“Saat seseorang menawarkan ibu untuk menjadi seorang artis, ibu bahkan tanpa ragu2 meninggalkan anak itu…”

“Kalau begitu nama keluargaku adalah….?”


“Ibu menikah lagi supaya ibu bisa merubah hidup ibu.  Ibu pikir ibu bisa melupakannya. Kau terus tumbuh dan ibu ingin berakar di suatu tempat. Kau hidup dengan berpikir bahwa ayah barumu adalah ayah kandungmu. Saat ayahmu meninggal di gunung dan Yong Gi menghilang, ibu tidak tahu harus berbuat apa. Ayah mertuamu yang mengenalkan ibu pada pria itu.”

“Kenapa ayahnya Jin Eon?”

“Dia adalah teman baik ayahmu. Mereka pergi ke gunung berdua dan dia kembali sendirian. Dia menyalahkan dirinya seumur hidupnya. Dia membantu kita tanpa pamrih.”

“Apa yang terjadi di gunung?”

“Saat mendaki, talinya pasti putus. Mereka mabuk saat di sana. Yong Gi yang aku kasihani. Seorang anak kecil… sendirian…  dia sendirian di tengah  orang2 asing… dan bahkan sekarang juga, di tempat asing… dengan anaknya yang sakit… sendirian. “

“Aku tidak bisa memberitahunya bahwa aku adalah kakaknya. Bahwa aku adalah saudaranya .”

“Aku juga tidak bisa memberitahunya. Aku membawanya dan membuatnya berada di sampingku. Tapi aku tidak berani memberitahunya. Saat aku memberitahunya, aku merasa bahwa mungkin saja aku akan kehilangan dirinya. “


Jin Eon mengaku bahwa ia tahu semua sejarah Yong Gi.

“Aku tidak tahu sebelumnya. Aku menutup mata dan telingaku  bahwa aku berbeda. Selama aku bersih. Itu benar. Bukannya aku tidak tahu, tapi aku mengabaikannya dan terus melarikan diri. Aku ingin berhenti melarikan diri, aku ingin memulainya denganmu. Aku ingin menyelesaikannya, tentang yang terjadi padamu dan Kim Sun Yong. Kalau kau meminta dokumen padaku, akan kuberikan. Dan kalau ada yang harus dilaporkan pada polisi, akan kulaporkan. Mulai dari awal tanpa ketinggalan apapun, aku akan mempertaruhkan posisiku dan segalanya, dan setelah semuanya terungkap, aku akan meminta maaf padamu dan Woo Joo.” Ucap Jin Eon.

“Apa kau memintaku untuk percaya padamu sekarang? Berhenti bicara omong kosong! Berhenti menipuku! Presdir Min Tae Seok mengatakan hal yang sama padaku empat tahun lalu! Dia bilang akan menyelesaikannya dan berusaha membunuhku beberapa kali! Kalian semua sama! Kau, Min Tae Seok, Do Hae Gang, kalian semua sama saja bagiku! Kenapa kau? Kenapa sekarang? Kenapa padaku. Kenapa! Kenapa kau mau membantuku padahal itu bisa membuat perusahaanmu hancur!” teriak Yong Gi.

“Karena kau dalam bahaya. Karena aku mau membuktikan bahwa kakakmu tidak bersalah. Bahwa bukan Do Hae Gang yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi padamu. Aku harus membuktikan itu pada Hae Gang.” jawab Jin Eon.


“Apa kau bilang? Eonni?” tanya Yong Gi kaget.

“Hae Gang-ah… Yong Gi-ssi Eonni. Kalian saudara kembar. Kakakmu tidak melakukannya. Saat Hae Gang dianggap sudah tiada, aku yakin mereka menimpakan kesalahan padanya. Tolong berikan aku waktu, supaya aku bisa membuktikan pada kalian berdua  bahwa kakakmu tidak bersalah. Aku mohon padamu.” Jawab Jin Eon.

Yong Gi syok mengetahui kenyataan bahwa Hae Gang adalah saudara kembarnya.


Sementara itu, Hae Gang berkata pada ibunya bahwa dirinya lah yang akan memberitahu Yong Gi duluan. Hae Gang juga meminta pada ibunya agar ibunya menjaga Yong Gi dan Woo Joo, agar Yong Gi dan Woo Joo tidak merasa kesepian dan takut lagi.

Tiba2, Baek Beom menerobos masuk dan meminta Hae Gang membersihkan seragam dan sepatunya yang kotor. Baek Beom juga menyuruh Hae Gang memasak. Hae Gang menyuruh Baek Beok mengerjakan PR sampai dirinya selesai memasak. Melihat Hae Gang yang melakukan pekerjaan rumah tangga, Nyonya Kim merasa kesal. Nyonya Kim bahkan ingin menggantikan Hae Gang memasak untuk makan malam, tapi Hae Gang melarangnya.


Nyonya Kim prihatin melihat anaknya yang sibuk memasak di dapur. Tak lama kemudian, Baek Jo datang dan mengingatkan tugas lalu lintas yang harus dikerjakan Hae Gang. Hae Gang mengerti dan menyuruh Baek Jo meletakkan semua tugasnya di kamarnya. Hae Gang juga menyuruh Baek Jo mengumpulkan semua cucian agar ia bisa mencucinya.


Tak lama kemudian, Seok pulang. Nyonya Kim langsung menatap tajam Seok. Seok tertegun melihat Nyonya Kim berada di rumahnya. Nyonya Kim kemudian mendekati Seok dan menampar Seok. Hae Gang yang mendengar suara tamparan bergegas keluar. Nyonya Kim menampar Seok untuk yang kedua kalinya. Hae Gang terkejut.

“Kenapa anakku memasak, mencuci dan menjaga anak2?! Kenapa kau membuat anakku melakukan apapun yang kau inginkan… beraninya kau! Pada anakku! Inikah sebabnya kau mengambil anakku! Kau pasti tahu, kau pasti tahu dia anakku! Kenapa kau tidak memberitahuku! Kenapa! Kenapa! Kenapa kau tidak memberitahuku?! Supaya kau bisa menahannya di sini dan melakukan semua pekerjaan itu?” tuduh Nyonya Kim.

“Tidak ada… yang bisa kukatakan… semua… adalah salahku. Tolong maafkan diriku.” jawab Seok.

“Maaf apanya! Bagaimana aku bisa memaafkanmu! Bagaimana!” teriak Nyonya Kim.


Hae Gang yang sudah tidak tahan lagi akhirnya berteriak dengan keras, meminta sang ibu berhenti bersikap seperti itu.




“Aku tidak tahu bagaimana kau memandangku. Tapi aku merasa nyaman dan hangat di sini. Kalau aku tidak memiliki kehidupan ini selama 4 tahun, aku tidak akan bisa menghadapinya. Aku tidak akan bisa melakukan apapun! Karena Seok, aku masih tetap hidup. Dia menyelamatku, melindungiku, merubahku dan dia membuatku merasa hangat. Dia memberiku kehidupan selama 4 tahun seperti hadiah.” Teriak Hae Gang

Seok menangis. Nyonya Kim terus memukuli Seok. Hae Gang memegangi ibunya. Tangis sang ibu kemudian pecah lagi……..


Seol Ri membukakan pintu. Ia senang karena Jin Eon datang berkunjung. Seol Ri ingin membuatkan Jin Eon secangkir teh namun Jin Eon menolak dan menyuruh Seol Ri duduk. Melihat ekspresi Jin Eon, Seol Ri pun sadar bahwa Jin Eon datang bukan untuk dirinya.

“Aku datang untuk mendengarkan, kata-katamu, pikiranmu. Aku rasa aku tidak boleh langsung salah paham padamu.” Jawab Jin Eon.

“Salah paham? Kau salah paham  padaku dan pada Do Hae Gang, juga kesalahpahaman?” ucap Seol Ri.

Jin Eon tertegun mendengar ucapan Seol Ri.


“Empat tahun yang lalu, kau tidak seperti ini pada Do Hae Gang.” ucap Seol Ri lagi

 “Aku menyesalinya, rasanya pahit sekali.” Jawab Jin Eon.

“Sekarang ini yang kau cintai bukan Do Hae Gang, apa kau tahu itu? Kau, sekarang ini sedang jatuh cinta dengan seseorang yang tidak memiliki jejak yang ditinggalkan Do Hae Gang, orang asing bagimu, orang lain bagimu. Do Hae Gang juga pernah mengatakan padaku. Bahwa dia tidak mencintai suaminya, tapi dia mencintai Choi Jin Eon, yang merupakan orang asing baginya. Kau dan dia hanya terikat bersama,tapi kalian belum menyelesaikan masalah di antara kalian, saat Do Hae Gang kembali, apa kau sanggup menghadapinya? Kalau dia benar-benar kembali, kalau hal yang tidak kau ketahui tentang dia juga kembali apa yang akan kau lakukan? Rasa percaya diri untuk tidak melarikan diri lagi darinya, apa kau memilikinya?” ucap Seol Ri.

“Bicaralah tentang dirimu sendiri, bukan tentang Hae Gang dan aku. Biarkan saja cerita kami berdua, dan bicaralah tentang dirimu, Seol Ri.” Jawab Jin Eon.

“Jawab dulu pertanyaanku.” Pinta Seol Ri.

“Dia bukan orang asing bagiku. Dia bukan wanita lain bagiku. Bagiku dia tetap sama, dan dia adalah wanita yang aku lupakan saat aku terpuruk empat tahun yang lalu. Bagiku, dia hanyalah Hae Gang. Kami berdua memiliki banyak hari yang tidak kau ketahui, Seol Ri. Aku tidak akan melarikan diri, aku tidak bisa melarikan diri. Aku sudah melakukannya.” Ucap Jin Eon.


Mata Seol Ri pun langsung berkaca2 mendengar jawaban Jin Eon.

“Kenapa kau melakukan itu padaku? Meminjamkan sepatumu, memakaikannya padaku, memegang payung untukku, mengkhawatirkan aku,m enatapku, memegang tanganku... Kenapa kau melakukan itu padaku, Sunbae?” tanya Seol Ri.

“Kau cantik. Kau murni, polos, kuat dan selalu berusaha mencoba. Hae Gang dulu seperti itu. Aku merasa kasihan padamu, atas perasaanmu padaku.Tanpa melihat kedepan, tanpa melihat ke sekeliling atau di belakang, aku menyesal kau hanya melihat aku, dan cintamu, aku merindukannya, dan aku ingin menghargainya.Begitulah dulu aku bersama Hae Gang.Kau mirip denganku saat aku masih muda, dan kau mirip dengan Hae Gang saat dia masih muda. Jadi aku... aku ingin menghargaimu. Kau masih seperti itu bagiku, Seol Ri-ya. Lindungi dirimu sendiri, hargai dirimu sendiri dan pikirkanlah betapa berharganya dirimu. Kumohon, jangan ikut campur urusan kami sebagai pasangan dalam rumah tangga kami.” jawab Jin Eon.

Tangis Seol Ri pun mengalir semakin deras.

“Jangan mengkhawatirkannya. Hae Gang dan aku akan mengurusnya sendiri. Apakah kami bisa melaluinya, ataukah kami akan gagal, hanya kami berdua yang akan merasakannya, jadi jangan ikut terlibat, Kang Seol Ri. Ini bukan permintaan, tapi peringatan. Jadi berhentilah mengganggu kami.” ucap Jin Eon lagi.

Tatapan kebencian pun semakin terlihat di mata Seol Ri.


Nyonya Kim yang baru pulang langsung disambut oleh tatapan kekecewaan Yong Gi. Dengan suara bergetar, Yong Gi bertanya apa Nyonya Kim sudah bertemu dengan Hae Gang. Yong Gi juga ingin tahu bagaimana perasaan Nyonya Kim setelah menemukan Hae Gang.

“Anakku… tidak mengenaliku.” Jawab Nyonya Kim.

“Dia mungkin akan segera mengenalimu karena dia punya kenangan yang bisa diingatnya. Kenangan tentang ibunya. Kau tahu, aku tidak punya kenangan apapun tentang ibuku. Hanya kenangan bahwa aku ditelantarkan.” Ucap Yong Gi dengan suara bergetar.

Yong Gi kemudian masuk ke kamarnya. Tangis Nyonya Kim pecah, begitupula dengan Yong Gi.


Gyu Seok yang baru pulang bersama Woo Joo tertegun mendengar tangisan Yong Gi. Woo Joo tampak tertidur pulas di gendongan Gyu Seok. Gyu Seok lantas membuka pintu kamar. Yong Gi langsung memalingkan wajahnya dan terus menangis. Gyu Seok membaringkan Woo Joo di kasur.


Usai membaringkan Woo Joo, Gyu Seok ingin keluar namun langkahnya tertahan saat ia tiba di pintu. Gyu Seok kemudian berbalik, ia mengambil selembar tisu dan menyodorkannya pada Yong Gi. Yong Gi diam saja dan terus menangis. Gyu Seok pun melepaskan kacamata Yong Gi dan menghapus air mata Yong Gi. Yong Gi terus menangis. Gyu Seok menatap Yong Gi dengan lembut.


Yong Gi bersiap2 untuk pergi meninggalkan rumah itu, namun langkahnya dihalangi oleh Gyu Seok. Yong Gi mengaku bahwa ia tidak bisa tinggal lagi di rumah itu. Gyu Seok berkata, itu bukan urusannya. Yong Gi meminta Gyu Seok untuk bersikap seolah2 tidak melihatnya. Gyu Seok tidak peduli dan mengambil Woo Joo dari gendongan Yong Gi.

“Aku harus melindungi pasienku. Wali dari pasienku sudah keterlaluan.” Ucap Gyu Seok, lalu mengambil koper Woo Joo dan kembali ke kamar.


Yong Gi mau tidak mau mengikuti Gyu Seok. Tampak Gyu Seok yang tertidur sambil memeluk Woo Joo. Yong Gi kemudian duduk disamping Gyu Seok dan mengaku bahwa Nyonya Kim adalah ibunya.

“Aku mendengarnya. Wajar kalau kau marah pada keluargamu. Mereka adalah orang2 yang paling melelahkan di dunia ini.” jawab Gyu Seok.

(Cieee, curhat nih si dokter unyu2)

“Do Hae Gang adalah kakak kembarku.” Ucap Yong Gi.

“Benarkah? Itu adalah kenyataan yang sulit kuterima. Hanya dengan melihat, malah kau yang terlihat seperti kakak.Aku rasa kau bertambah tua dengan cepat, Dokgo Yong Gi-ssi.” Jawab Gyu Seok.

“Apa kau bilang!” protes Yong Gi, tapi Gyu Seok diam saja.

“Apa yang harus kulakukan sekarang? Apa dan bagaimana… darimana dan apa… “ ucap Yong Gi.



“Sudah cukup. Berjanji sajalah. Apapun keputusanmu, perawatan Dokgo Woo Joo harus tetap berlanjut. Tetaplah disampingku, karena itu tempat paling aman bagimu, Dokgo Yong Gi-ssi.” Jawab Gyu Seok.

(Cieee, si dokter mulai takut kehilangan Yong Gi)


Jin Ri turun dari tangga dan melihat Jin Eon di ruang keluarga. Dalam hati, Jin Ri berkata bahwa bagi Hae Gang, Jin Eon adalah anak musuh. Jin Ri kemudian menghampiri Jin Eon.

“Apa kau mau pergi latihan dengan ibu?” tanya Jin Ri.

“Benar. Tidurmu baik?” ucap Jin Eon.

“Berkat kau. Kau mungkin akan menjadi anak yang berbakti saat ini. Kenapa kau tidak menikah saja saat pikiran ibumu masih normal? Dan saat masih bisa, kenapa kau tidak memberinya cucu? Kau harus menghapus kesedihannya karena hanya itu satu2nya yang ia sesali. Kalau kau bisa, penuhi keinginannya sebelum dia mati, agar kau tidak menyesal. Do Hae Gang, bawa dia kembali. Dia mungkin tidak ingat, tapi kita semua mengenalinya. Kau bisa melaksanakan pernikahan cepat dan hidup bersama. Lakukan saja sesegera mungkin. Pertimbangkan ibu karena tidak ada banyak waktu yang tersisa.” Jawab Jin Ri.


Pembicaraan itu terhenti karena Nyonya Hong datang. Jin Ri pun langsung pergi. Mereka berencana pergi bermain badminton. Saat hendak pergi, Presdir Choi tiba2 keluar dari kamar dan mengaku ingin ikut bermain badminton juga. Nyonya Hong pun ngomel2 karena Presdir Choi selalu menguntitnya seharian.


Begitu mereka pergi, gantian Jin Ri yang ngomel karena ditinggal sendirian.


Jin Eon dan ibunya tampak asyik bermain badminton. Nyonya Hong terlihat gembira. Tak lama kemudian, Jin Eon menghampiri ayahnya. Jin Eon memberikan raketnya dan menyuruh sang ayah bermain bersama ibunya. Jin Eon juga berkata akan mengambil shuttlecock nya agar sang ayah tidak banyak bergerak.

Usai bermain badminton, mereka pergi nge-gym. Presdir Choi terus memperhatikan Nyonya Hong yang tampak asyik nge-gym.


Hae Gang sedang sarapan bersama Tuan Baek, Seok dan anak2. Tuan Baek bertanya, hari ini kan kau mendapatkan lisensimu sebagai pengacara kembali? Hae Gang mengangguk.

“Wow, Yong Gi Noona luar biasa!” puji Baek Beom.

“Mulai hari ini, Yong Gi Noona akan menjadi pengacara seperti Seok Hyung.” Ucap si sulung (aku lupa namanya).

“Oppa, sudah berapa kali kukatakan padamu, dia bukan lagi Yong Gi Noona tapi Hae Gang.” tegur Baek Jo.

“Bagiku itu terasa aneh. Bagaimana bisa namanya berubah menjadi Hae Gang dalam semalam.” Jawab si sulung.

“Mulai sekarang kau akan bekerja di Firma Hukum Seok, kan?” tanya Tuan Baek.


Hae Gang terdiam dan langsung menatap Seok.

“Tidak apa2. Lakukan saja apa yang membuatmu merasa nyaman.” Jawab Seok.

“Benarkah tidak apa2?” tanya Hae Gang.

“Iya.” Jawab Seok.

“Kalau begitu mari kita bekerja bersama2.” Ucap Hae Gang.

“Apa?” Seok kaget.

“Kau yang bilang agar aku melakukan apapun yang membuatku merasa nyaman.” Ucap Hae Gang.

“Kau tidak mau bekerja di Firma Hukum yang besar?” tanya Seok.

“Kalau aku bekerja di sana, aku akan kembali ke empat tahun lalu.” jawab Hae Gang.

“Kau masih bisa tetap bekerja sekarang meski kau bekerja di tempat seperti itu. Dimanapun kau bekerja, kau bisa bekerja seperti kau yang sekarang. Dasar bodoh. Kenapa kau membiarkan masa lalu mengikatmu? Hanya karena kau ingat masa lalumu, bukan berarti kau menghilang. Masa lalu adalah masa lalu, sekarang ya sekarang. Hiduplah seperti dirimu. Hiduplah seperti kau yang sekarang. Kenapa kau membuatnya tidak berarti? Kenapa kau membuat waktu yang kau jalani untuk hidupmu menjadi istana pasir? Meski masa lalu kembali, kau yang sekarang tidak akan pernah hilang. Kau harus melindungi dirimu sendiri!” ucap Seok.


Semua pun terdiam… Hae Gang menatap Seok dengan berkaca2. Seok lantas beranjak pergi setelah mengatakan hal itu.


Presdir Choi bertanya pada Jin Eon apakah tidak apa2 jika dirinya menemui Hae Gang. Jin Eon pun berkata jika sang ayah meminta izin darinya, maka ia tidak mengizinkannya. Ia mengaku tidak bisa membiarkan Hae Gang berada di sisi sang ayah lagi.

“Bagaimana kau bisa melindunginya dari kakak iparmu? Berapa banyak jebakannya, seperti apa jebakannya dan dimana saja, kau tidak pernah mengetahuinya. Tapi Hae Gang tahu kalau kau ingin menghindari tembakan. Berdiri disamping penembak adalah yang terbaik. Kau harus membiarkannya melindungi dirinya sendiri. Hanya dia yang tahu apa yang sudah diperbuat dan tidak dilakukan oleh Hae Gang. Dia anak yang kuat, percayalah padanya.” Ucap Presdir Choi.

“Tidak. Jika itu terjadi, mungkin aku bisa melindunginya dari kakak ipar, tapi tidak dari ayah. Aku harus menyingkirkannya. Setelah aku membuktikan bahwa dia tidak bersalah, maka semua orang bisa selamat. Kartu yang bisa aku gunakan untuk menyingkirkannya, sudah ayah berikan padaku. Pedang bermata dua bagi ayah dan kakak ipar adalah Dokgo Yong Gi.” jawab Jin Eon.

Jin Eon lantas ingin tahu kenapa Yong Gi jadi pedang bermata dua bagi sang ayah. Kenapa sang ayah akan terluka jika pedang itu digunakan.

“Apa kau ingin terlibat dengan Hae Gang lagi?” tanya sang ayah.

“Aku sudah terlibat. Jangan mengalihkan pembicaraan dan jawab pertanyaanku, Ayah.” jawab Jin Eon tegas.


Sementara Seol Ri sudah berhasil menemui Shin Il Sang. Dengan liciknya, Seol Ri berkata akan membantu Shin Il Sang menemui Hae Gang. Seol Ri juga memanasi Shin Il Sang dengan berkata bahwa Hae Gang sama sekali tidak merasa bersalah.


Sementara itu, Hyun Woo memberitahu Jin Eon bahwa pria bernama Lee Jung Man pergi ke pusat bela diri setiap jam 7 malam. Hyun Woo bilang bahwa Jin Eon bisa menemuinya jika pergi ke sana. Jin Eon mendengarkan perkataan Hyun Woo dengan seksama sembari menatap alat penyadap di mejanya.

“Lupakan. Lupakan semuanya. Berhenti mengikuti Lee Jung Man. Berhenti mengikuti pria yang menusuk Hae Gang, seperti yang dikatakan kakak iparku. Selama Hae Gang terlibat, kalau aku mengejar kakak ipar, artinya aku juga mengejar Hae Gang. Aku tidak bisa melakukanya. Maafkan aku.” jawab Jin Eon.


“Apa? Memaafkanmu? Apa ini sesuatu yang bisa berakhir hanya dengan mengatakan maaf!” teriak Hyun Woo.

“Bagaimana dengan Pudoxin? Apakah kita juga harus berhenti menyelidikinya?” tanya Hyun Woo.

Jin Eon lantas memberi kode dengan menunjuk jam tangannya.

“Hentikan.” Jawab Jin Eon.

“Kau sama saja, kau bajingan. Kau bukan manusia. Apa kau tahu itu?” tanya Hyun Woo, sembari membentuk angka dua di tangannya.

“Tidak ada yang ingin kukatakan. Maafkan aku.” jawab Jin Eon.


Tae Seok terpancing!! Ia tersenyum puas karena mengira Jin Eon akan berhenti melakukan penyelidikan. Namun senyumnya itu tak berlangsung lama setelah ia menyadari komputernya dihacker seseorang. Bukan hanya komputernya, tapi juga komputer Manajer Byeon, Mi Ae dan seketaris Jin Eon.

Tak lama, Hyun Woo keluar dan mengaku kalau komputer Jin Eon tidak bisa berfungsi dengan baik. Tae Seok juga keluar dari ruangannya. Manajer Byeon berkata kalau sistem komputer di kantor mereka sudah dirusak. Tae Seok terkejut. Hyun Woo pura2 panic. Ia berkata, seseorang berusaha mencuri obat baru mereka. Hyun Woo lantas berlari ke ruangan Jin Eon.

“Semua informasi pengembangan obat baru sudah dicuri. Apa yang harus kita lakukan, Presdir? Ini bukan kejadian sederhana. Ini hacking.” Ucap Manajer Byeon pada Tae Seok.

Sementara itu, di ruangannya, Jin Eon menatap alat penyadap itu dengan senyum puas di wajahnya.



Hae Gang dan Seok baru saja tiba di kantor mereka. Hae Gang memberi Seok selamat atas kemenangan Seok. Seok tersenyum, ia lalu menyuruh Hae Gang pergi ke asosiasi pengacara.

“Mulai besok, kau tidak akan duduk dengan orang lain, tapi menjadi pembela. Dengan kehangatan dan keberanian. Kau siap, kan?” ucap Seok.

“Rasanya aneh.” Jawab Hae Gang.

“Kalau kau tidak merasa aneh, itu lebih aneh lagi.” Ucap Seok.

Seok lantas mengajak Hae Gang keluar. Di depan kantor, tampak Shin Il Sang berdiri menunggu Hae Gang. Shin Il Sang membuat puntung rokoknya sembaranga. Hae Gang pun menegur Shin Il Sang dan menyuruh Shin Il Sang memungut puntung rokok itu. Shin Il Sang terkejut melihat Hae Gang.


Karena Shin Il Sang diam saja, Hae Gang menghela napas dan memungut puntung rokok itu.

“Kau tahu kan ada hukum bagi orang yang membuang rokok sembarangan? Lain kali tolong jangan membuangnya di jalan, mengerti?” ucap Hae Gang.
 
Shin Il Sang menatap Hae Gang dengan penuh amarah. Hae Gang berjalan masuk ke kantornya. Shin Il Sang terus memperhatikan Hae Gang. Shin Il Sang kemudian pergi begitu saja saat Seok menegurnya.


Setibanya di dalam, Seok langsung bertanya pada Hae Gang apa Hae Gang mengenal pria yang berdiri diluar tadi. Hae Gang menggeleng dan berkata karena pria itu membuang puntung rokok sembarangan, jadi ia menegur pria itu. Seok pun kembali ke mejanya.

“Ayo kita cari tahu tentang kematian Kim Sun Yong dulu. Aku menemukan sebuah artikel dan kejadian itu terjadi di Stasiun Kereta Api Imjingang. Kita harus pergi ke sana dan menemui pekerja di sana dan juga melihat catatan polisi. Seperti yang dikatakan Yong Gi, kalau itu adalah pembunuhan, kita sudah tahu siapa pelakunya, Lee Jung Man. Meski dia bersalah, dia bebas karena tidak ada tuntutan. Dan yang terpenting, pernyataan saksi yang diberikan oleh Presdir Min Tae Seok hari itu.” ucap Hae Gang.


Seok diam saja, namun wajahnya menyiratkan ketidaksetujuan. Hae Gang lantas mengambil sebuah dokumen, kemudian menghampiri Seok dan memberikan dokumen itu pada Seok.

“Mereka bilang aku yang merencanakannya. Ada seseorang yang bernama Song In Baek di sana. Aku ingin kau menemui dia untukku. Dia adalah Kepala Laboratorium di Perusahaan Farmasi Cheon Nyeon, dan dikatakan bahwa dia yang pertama kali mendapat laporan hasil tes klinis palsu dari Kim Sun Yong. Dia akan mengenaliku, jadi tolong pergilah menemui dia untukku.” Ucap Hae Gang.

‘Apa yang mau kau lakukan? Apa yang… Kalau kau mengungkapkannya, kalau kau menangkapnya, bagaimana denganmu?” tanya Seok.

“Kalau aku bersalah, aku harus membayarnya. Aku takut, tapi aku akan terus berjalan. Selangkah demi selangkah, aku akan berjalan menuju kehidupanku. Meski semuanya akan menyakitiku, seperti yang kau khawatirkan, ini sesuatu yang tidak bisa aku hindari, dan tidak seharusnya aku hindari. Ini satu2nya cara bagiku…. dan adikku untuk memulai kembali.” Jawab Hae Gang.

“Tidak bisa! Tidak bisa, kau bodoh! Kalau itu terjadi padamu, bagaimana denganku? Bagaimana denganku, On Gi-ya? Aku tidak bisa membiarkannya. Aku hanya tidak bisa. Tolong hentikan. Kita abaikan saja kali ini.” ucap Seok.

“Kau adalah pengacara. Pengacara Baek Seok.” Jawab Hae Gang.

“Aku tidak perlu apapun lagi. Selama kau selamat, aku bisa membuang semuanya. Pekerjaanku, tanggung jawabku, prinsipku, dan jiwaku… akan kubuang semuanya. Jadi lupakan. Kau harus melupakannya.” Bujuk Seok.

Hae Gang menggelengkan kepalanya. Seok pun putus asa…


Di mobilnya, Jin Eon tersenyum melihat papan nama Hae Gang. Tak lama kemudian, Jin Eon turun dan bergegas masuk ke kantor Seok. Sementara di dalam, Seok sudah duluan memberikan papan nama untuk Hae Gang. Seok lantas mengajak Hae Gang pergi bersama dengannya.

“Aku tidak bisa membiarkanmu sendirian, jadi ayo kita lakukan sama2, selangkah demi selangkah aku akan melakukannya. Aku akan menyelidikimu, mengungkapkannya dan menangkapmu. Aku akan melakukannya. Aku akan menangkapmu. Jadi… jangan coba melakukannya sendirian. Jangan lakukan apapun. Diam dan lihat saja apa yang kulakukan.” ucap Seok.

“Aku akan menjadi pengacara yang baik seperti dirimu. Sampai aku kehilangan izin pengacaraku….” Jawab Hae Gang.


Hae Gang pun menangis….

“Jangan menangis.” Pinta Seok. Tapi Hae Gang tetap saja menangis.

“Aku merasa sangat malu. Bernafas, tidur, makan, kehilangan ingatanku, aku merasa sangat malu dengan semuanya.” ucap Hae Gang.

Tepat saat itu, Jin Eon masuk dengan wajah ceria. Tapi keceriaannya langsung hilang begitu melihat apa yang dilakukan Seok pada Hae Gang. Seok mengusap air mata Hae Gang dan memeluk Hae Gang. Jin Eon melotot melihatnya. Seok menyadari kehadiran Jin Eon. Jin Eon yang cemburu memilih pergi.

“Kau harus pergi ke asosiasi pengacara, kan? Jadi cepatlah pergi.” Suruh Seok.

Hae Gang beranjak keluar. Setibanya diluar, ia tersenyum mendapati Jin Eon yang menunggunya di mobil. Hae Gang pun bergegas menghampiri Jin Eon. Tanpa ia sadari, Shin Il Sang terus mengawasinya dari kejauhan.


Hae Gang melambaikan tangannya pada Jin Eon. Tapi Jin Eon diam saja dan terus memasang wajah cemberut. Hae Gang pun heran. Hae Gang lalu beranjak ke pintu samping. Ia terheran2 karena Jin Eon langsung mengunci pintunya. Hae Gang mengetuk kaca mobil. Barulah Jin Eon membuka pintunya.

“Apa kau marah padaku?” tanya Hae Gang.

“Aku tidak marah.” Jawab Jin Eon ketus.

“Tapi kau memang marah.” Ucap Hae Gang.

“Aku tidak marah.” Jawab Jin Eon.

“Kau marah. Kalau kau memang tidak marah, putar kepalamu dan lihat aku.” ucap Hae Gang.

Tapi Jin Eon diam saja. Hae Gang pun langsung menggoda Jin Eon dengan berkata kalau semua itu tertulis di wajah Jin Eon. Jin Eon masih saja diam dan cemberut.

“Ada apa lagi sekarang?” tanya Hae Gang.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Jin Eon balik.

“Hah?” gumam Hae Gang heran.

Jin Eon makin cemberut. Hae Gang lantas melihat wajah Jin Eon dari dekat.

“Pasang saja sabuk pengamanmu.” Suruh Jin Eon.

“Apa? Pasang sabuk pengamanku?” tanya Hae Gang.


Jin Eon tetap diam sambil pasang muka cemberut. Hae Gang pun jadi ikut2an kesal. Tak lama kemudian, Jin Eon memasangkan sabuk pengaman Hae Gang tapi masih dengan muka cemberut. Hae Gang protes karena Jin Eon memasang seatbelt nya terlalu kencang.

“Aku tidak akan tahu apa kesalahanku kalau kau tidak mengatakannya, jadi cepat katakan padaku.”

“Aku tidak marah.”

“Baiklah, kalau kau tidak marah. Apa kau puas?”


Jin Eon pun mengalihkan pandangannya ke belakang, menatap papan nama Hae Gang.Hae Gang mengajak Jin Eon pergi, tapi Jin Eon malah memintanya menunggu sebentar. Hae Gang kesal karena Jin Eon diam saja. Hae Gang lantas menyalakan tape. Jin Eon langsung mematikannya dengan wajah kesal. Hae Gang menyalakannya lagi, tapi Jin Eon lagi2 mematikannya masih dengan wajah kesal.

“Bicaralah.” Pinta Hae Gang.

“Bicaralah dengan si cahayamu itu.” jawab Jin Eon ketus.

“Apa yang kau bicarakan? Kenapa kau membicarakan tentang cahaya lagi?” protes Hae Gang.

“Karena aku sedang bersama si penjaga cahaya itu.” jawab Jin Eon.

“Penjaga cahaya? Maksudmu aku?” tanya Hae Gang bingung.

“Aku tidak punya cahaya.” Jawab Jin Eon.

“Kau merusak moodku. Aku akan mengambil ijinku besok, jadi ayo kita pergi makan saja, aku lapar.” Ucap Hae Gang.

“Pergilah makan dengan si cahaya, aku tidak lapar.” Jawab Jin Eon.

“Ada apa denganmu sebenarnya?” tanya Hae Gang.

“Tanyakan pada si cahaya itu kenapa aku seperti ini. Aku tidak bisa menyingkirkannya. Aku seharusnya melemparkannya ke lautan.” jawab Jin Eon.

“Apa kau akan tetap seperti ini? Beritahu kesalahanku sebelum kau menghukumku.” Pinta Hae Gang.

“Bagimu, dia adalah cahaya, bagiku dia adalah orang bodoh, benar-benar bodoh. Orang bodoh itu yang bersalah. Ah, bodoh, benar-benar bodoh.” Jawab Jin Eon.

“Aku keluar.” Ucap Hae Gang sambil melotot.


“Kenapa? Supaya kau bisa pergi ke si cahaya itu?” tanya Jin Eon.

Hae Gang pun menarik napas kesal dan melepaskan seatbelt nya.

“Mari kita cari kantor untukmu secepatnya.” Ucap Jin Eon.

“Aku tidak punya uang untuk memiliki kantor sendiri.” Jawab Hae Gang.

“Aku punya.” Ucap Jin Eon.

“Itu bukan uangku.” Jawab Hae Gang.

“Firma Hukum Baek Seok juga bukan milikmu.” Ucap Jin Eon.

“Aku bisa membayar setengah biayanya.” Jawab Hae Gang.

“Jadi maksudmu kau tetap akan bekerja di sana sebagai pengacara, dengan bajingan itu?” tanya Jin Eon.

“Ya, aku memutuskan untuk melakukan itu.” jawab Hae Gang.

“Tidak boleh, aku tidak mengijinkannya.” Ucap Jin Eon.

“Itu bukan hakmu untuk memberi ijin. Itu adalah haknya Seok. Dimana aku bekerja dan dengan siapa, itu adalah keputusanku.” Jawab Hae Gang.

“Tidak bisakah kau mendengarkan aku? Aku mengatakan padamu, aku tidak menyukainya. Aku katakan padamu, ini mengangguku bahwa kau bekerja di sini. Aku katakan padamu bahwa itu membuatku gila, aku tidak mengerti kenapa kau seperti ini Siapa pria itu? Siapa dia bagimu? Dari yang aku lihat, kau selalu memberinya kesempatan.” Ucap Jin Eon.

“Apa? Kesempatan?” tanya Hae Gang kaget.

“Ya, kesempatan.” Jawab Jin Eon.

“Dasar bodoh.” Rutuk Hae Gang.

“Apa?” tanya Jin Eon kaget.

 “Dasar bodoh!” jawab Hae Gang.

“Hei!” teriak Jin Eon.

“Aku pergi! Ke si cahaya!” jawab Hae Gang kesal.

Hae Gang lantas turun dari mobil Jin Eon dengan wajah kesal. Bukannya menyusul Hae Gang, Jin Eon malah melajukan mobilnya dan pergi. Hae Gang terus berjalan ke kantor Baek Seok. Saat menyadari Jin Eon sudah pergi, kekesalan Hae Gang pun semakin bertambah.


Hae Gang kembali keluar. Ia tersenyum saat mendapati mobil Jin Eon berada tak jauh darinya. Jin Eon yang melihat Hae Gang dari spionnya juga tersenyum. Jin Eon lantas memundurkan mobilnya.

“Kenapa kau tidak pergi ke si cahaya itu?” tanya Jin Eon.

“Aku akan menemui si bodoh.” Jawab Hae Gang.

“Kalau si bodoh itu memintanya... maukah kau menikah lagi dengannya? Ayo kita menikah. Ayo kita menikah saja. Aku gila karenamu, karena aku ingin hidup bersamamu.” Ucap Jin Eon.

“Mari kita lakukan lain kali, lain kali, pasti.” Jawab Hae Gang.

“Pasti?” tanya Jin Eon.

“Pasti.” Jawab Hae Gang.

“Ayo kita pergi! Untuk mengambil ijin pengacaramu.” Ucap Jin Eon.

Berikutnya, Hae Gang mengatakan sesuatu yang mengejutkan Jin Eon. Hae Gang berkata, bahwa dirinya mencintai Jin Eon. Jin Eon membeku mendengarnya.

Bersambung ke part 2

No comments:

Post a Comment