• Sinopsis Wonderful World Episode 1-16

    Kim Nam Joo dan Cha Eun Woo memiliki rasa sakit yang sama akibat kehilangan seseorang yang sangat berharga bagi mereka.

  • Duis non justo nec auge

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

Again My Life Eps 1 Part 4

 All Content From SBS, Viu, nodrakor
Penulis : Catatan-Iza
Sinopsis Lengkap : Again My Life
Sebelumnya : Again My Life Eps 1 Part 3
Selanjutnya : Again My Life Eps 2 Part 1

Foto SBS

Hee Woo tak berani masuk ke rumah. Dia teringat sikapnya dulu kepada kedua orang tuanya.

Narasi Hee Woo terdengar, aku putra yang kekanak-kanakan.

Flashback...

Foto SBS

Hee Woo baru saja pulang. Sang ibu bertanya dia sudah makan apa belum. Hee Woo tak menjawab dan terus berjalan melewati ayah ibunya, menuju kamarnya.

Pak Kim : Astaga, temperamennya itu.

Nyonya Lee : Kami akan pergi bekerja. Ibu sudah membuat sarapan, jadi, pastikan kau memakannya, ya?

Pak Kim dan Nyonya Lee pergi.

Terdengar narasi Hee Woo.

"Itu pertemuan terakhirku dengan orang tuaku."

Foto SBS

Hee Woo keluar dari kamarnya dan tak sengaja menyenggol jemuran kain.

Dia pun kesal.

Lalu dia melihat sarapan yang sudah dibuat ibunya.

Narasi Hee Woo : Orang tuaku tidak bisa merawatku dengan baik karena mereka berusaha mencari nafkah. Aku meremehkan dan membenci mereka. Itulah yang kurasakan dahulu. Jadi, aku berharap menyakiti mereka dengan membuat mereka pulang dan melihat makanan yang mereka siapkan tidak tersentuh.

Foto SBS

Hee Woo sarapan gimbap di pintu belakang toserba.

Ponselnya berbunyi. Dia terkejut menerima kabar ayah ibunya.

Foto SBS

Hee Woo langsung berlari.

Hee Woo hanya bisa terdiam menatap foto kedua orang tuanya. Dia menyesal.

Narasi Hee Woo : Orang tuaku meninggal, meninggalkan putra penuh kebencian yang selalu mereka cemaskan.

Foto SBS

Hee Woo pun pulang. Dia terdiam menahan tangisnya menatap foto ayah ibunya.

Hee Woo : Aku lapar.

Hee Woo akhirnya duduk di kursi makan dan membaca pesan yang ditaruh ibunya di atas tudung makanan.

Nyonya Lee : Putra ibu tersayang. Maaf ibu tidak bisa memasakkanmu makanan lezat karena ibu amat sibuk. Ada bulgogi di kulkas. Pastikan untuk memanaskan itu juga.

Narasi Hee Woo : Ini makanan terakhir yang disiapkan ibuku untukku. Aku putus asa karena sekarang, aku tidak akan pernah punya kesempatan untuk menebus diriku karena menjadi anak yang tidak tahu terima kasih.

Hee Woo makan, sambil menahan tangis.

Hingga akhirnya ia tak bisa lagi menahan tangisnya.

Narasi Hee Woo : Namun, ini mungkin sebelum kematian orang tuaku. Aku sangat berharap alam semesta memberikanku kesempatan sekali seumur hidup.

Foto SBS

Hee Woo pun masuk. Berharap menemukan ayah ibunya. Dia memanggil ayah ibunya tapi tak ada siapapun.

Hee Woo langsung lemas. Dia menangis.

Tapi kemudian, ibunya keluar dari kamar.

Sontak lah dia terpengarah melihat ibunya.

Hee Woo lalu memeluk ibunya.

Sang ibu heran, kenapa kau tiba-tiba begini? Terjadi sesuatu?

Disusul kemudian dengan ayahnya yang keluar kamar.

Pak Kim : Kenapa berpelukan? Apa terjadi sesuatu?

Hee Woo pun memeluk kedua orang tuanya.

Dia bahagia bisa bertemu orang tuanya lagi.

Foto SBS
Foto SBS

Hee Woo menuliskan tentang yang terjadi padanya di buku hariannya.

"Kematian... Sulit dipercaya, tapi aku kembali hidup. Kukira aku hanya butuh hukum dan keadilan di pihakku. Namun, antusiasmeku membuatku arogan."

Hee Woo lalu teringat kata-kata wanita bergaun merah.

"Santai saja menyiapkannya. Jebak dia dengan sempurna."

"Lantas, dia ingin aku mulai bersiap sekarang."

Hee Woo menandai tanggal di kalendernya.

Setelah itu, dia melihat buku matematikanya.

Hee Woo : Astaga. Dasar bodoh.

Sang ibu membuka pintu, kami akan pergi bekerja sekarang.

Foto SBS

Hee Woo mengantar ayah ibunya keluar. Dia bahkan membukakan pagar untuk ayah ibunya.

Ayah ibunya heran. Ayahnya merasa Hee Woo orang asing.

Hee Woo : Hati-hati. Hati-hati dengan mobil di malam hari.

Ayah ibunya makin heran.

Nyonya Lee : Hee Woo. Apa yang terjadi?

Pak Kim : Kau marah kepada kami? Ayah tidak tahu ada apa, tapi ayah akan minta maaf.

Hee Woo : Astaga, aku tidak marah. Aku hanya mengantar kalian.

Pak Kim : Kau terasa lebih seperti tentara dalam perlawanan setiap kali kau bicara dengan kami. Namun, ini pasti melampaui pemberontakanmu. Apa kau berencana menjadi biksu?

Hee Woo : Astaga, tidak.

Nyonya Lee : Ibu tidak percaya kau keluar mengantar kami bekerja.

Foto SBS

Hee Woo memeluk kedua orang tuanya lagi.

Pak Kim : Apa salah kami sampai membuatmu marah seperti ini?

Nyonya Lee : Jika kau tidak marah, apa kau sakit?

Hee Woo : Ya. Aku sakit. Aku sakit karena sangat gembira.

Hee Woo terus memeluk ayah ibunya.

Foto SBS

Hee Woo makan dengan lahap sarapan yang dibikin ibunya.

Selesai makan, dia menuliskan pesan dan menaruh kertasnya di atas meja.

Narasi Hee Woo : Aku harus hidup berbeda dari sebelumnya. Aku harus menjadi lebih kuat. Jauh lebih kuat. Amat kuat. Agar aku bisa melindungi diriku, keluargaku, dan semua orang.

Foto SBS
Foto SBS

Hee Woo mendaftar di akademi.

Petugas yang melihat transkrip nilai Hee Woo berkata, Hee Woo akan mulai di kelas terendah. Hee Woo bilang dia sudah tahu itu.

Hee Woo sekelas dengan Han Mi.

Han Mi : Tidak mungkin. Lihat siapa yang ada di sini. Apa? Jadi, kau ingin kuliah?

Hee Woo : Apa lagi? Kau pikir aku di sini untuk bekerja di toserba?

Han Mi : Begitu rupanya. Jadi, kau lulusan SMA sekarang?

Hee Woo : Lihat dirimu. Kau sudah dewasa sekarang. Kautidak malu? Kau sudah tamat SMA. Berhentilah berlagak tangguh. Kau harus belajar.

Hee Woo membuka bukunya.

Hee Woo : Astaga. Matematika. Akan butuh waktu untuk kembali belajar.

Foto SBS

 Hee Woo mulai belajar.

Dia fokus, mendengarkan penjelasan gurunya.

Hari demi hari berlalu. Hari sudah malam. Hee Woo yang memakai kemeja putihm berjalan menyusuri jalanan.

Lalu dia melihat ayah ibunya di seberang jalan.

Tepat saat itu, sebuah mobil melintas ugal-ugalan.

Sadar mobil itu akan menabrak ayah ibunya, Hee Woo langsung berlari untuk menyelamatkan ayah ibunya. Namun terlambat, ayah ibunya tertabrak.

Foto SBS


Hee Woo terbangun, eomma!

Hari masih pagi. Dia berada di kelas, di tengah-tengah pelajaran.

Gurunya bertanya ada apa. Hee Woo berkata, dia hanya bisa tidak tidur nyenyak semalam.

Hee Woo melihat tanggal di kalender.

Hee Woo bilang besok, hari kecelakaan tabrak lari kedua orang tuanya.

Foto SBS
Foto SBS


Malamnya, Hee Woo melihat google map.

Dia berpikir, apakah ada cara agar ayah ibunya bisa libur.

Lalu ibunya memanggil, menyuruhnya makan.

Foto SBS

Nyonya Lee menyuruh suaminya mencoba kimchi nya. Dia bilang itu sudah terfermentasi sekarang.

Pak Kim : Baiklah. Tentu. Mungkin ini makanan terakhir sebagai sebuah keluarga.

Nyonya Lee melihat Hee Woo, omo, Hee Woo-ya, berat badanmu turun.

Pak Kim : Apa kau berlebihan?

Hee Woo : Tidak. Aku berolahraga sambil belajar. Kalian tidak perlu khawatir.

Pak Kim : Tentu. Mendapat nilai bagus itu bagus, tapi ayah lebih senang melihatmu bekerja keras untuk sesuatu. Para pria di keluarga kita kebanyakan hidup dari ketampanan. Namun, ayah sangat senang melihatmu belajar dengan giat.

Nyonya Lee : Itu mungkin tidak baik untuk kesehatannya. Hee Woo-ya. Ibu hanya ingin kau sehat. Jadi...

Pak Kim : Dia berbohong. Dia menyombong ke rekan kerjanya tentang betapa pintarnya kau.

Nyonya Lee : Tentu saja. Dia putra kebanggaanku.

Pak Kim : Dia bukan hanya putramu. Dia juga putraku. Lihat betapa kau mirip dengan ayah. Kau lah yang orang sebut salinan karbon ayah.

Hee Woo : Ibu. Bisakah ibu bolos kerja malam ini?

Nyonya Lee : Kenapa? Apa ada masalah?

Hee Woo : Ibu bilang tubuh ibu sakit belakangan ini. Aku hanya berpikir mengambil cuti akan bagus untuk ibu.

Pak Kim : Kami tidak bisa libur karena hal seperti itu. Kami beruntung punya pekerjaan dalam ekonomi sulit ini.

Nyonya Lee : Benar. Kami harus bekerja lebih keras dan lebih rajin saat keadaan sulit seperti ini.

Hee Woo : Aku mengambil cuti dari pekerjaan paruh waktuku. Bagaimana jika kita...

Pak Kim : Kau bisa libur sehari. Namun, kami harus bekerja. Kami tidak pernah libur.

Hee Woo pun akhirnya diam. Dia tahu tabiat orang tuanya. Mereka tidak akan cuti karena tahu etika kerja.

Hee Woo memutuskan menunggu mereka di depan pabrik dan mengawal mereka pulang.

Foto SBS

Hee Woo hampir tiba di lokasi kecelakaan. Dia deg-degan, karena sebentar lagi waktunya.

Hee Woo berdiri disana.

Foto SBS

Hee Woo ingat saat dia yang sudah menjadi jaksa, menyelidiki kematian orang tuanya

Hee Woo : Investigasinya tidak dilakukan secara menyeluruh. Setahuku tidak ada kamera pengawas. Namun, pasti ada bekas selip dan puing dari mobil di TKP. Mereka bisa mendapatkan daftar kendaraan jika mereka melacak perbaikan bumpernya. Bagaimana bisa mereka tidak melakukan hal minimum? Kenapa? Mungkin waktu insiden itu juga dipalsukan. Sekitar waktu kejadian, orang tuaku seharusnya masih di sif malam mereka.

Hee Woo melihat perkiraan waktu kematian orang tuanya.

"Perkiraan waktu kematian, pukul 3.38, 18 Mei 2007"

Lalu dia melihat foto-foto TKP.

Foto SBS

Sekarang Hee Woo berada di TKP.

Hee Woo : Jika aku membuat orang tuaku berjalan di jalanan dan mengikuti mereka dari belakang, Aku bisa bersiap untuk kecelakaan apa pun.

Hee Woo melihat jam tangannya.

Foto SBS

Hee Woo berlari. Dia pun tiba di Pabrik Hanil, tempat ayah ibunya bekerja.

Hee Woo menunggui mereka. Tak lama, mereka keluar. Mereka terkejut Hee Woo datang.

Hee Woo : Aku merindukan ibu.

Ayah ibunya tertawa.

Hee Woo : Aku tidak bisa tidur. Aku keluar untuk jalan-jalan.

Nyonya Lee : Kau bahkan tidak tahu kapan sif kami berakhir. Ini sungguh mengejutkan. Kau beruntung mesinnya berhenti berfungsi. Kau bisa menunggu lama di luar sini di malam yang dingin.

Hee Woo pun paham alasan ayah ibunya pulang lebih cepat karena sebuah mesin yang rusak.

Foto SBS

Mereka sama-sama berjalan, menuju pulang. Hee Woo yang awalnya berjalan di belakang, pindah ke samping ibunya.

Narasi Hee Woo : Mereka pulang lebih awal karena mesinnya rusak. Misteri di balik waktu insiden terpecahkan.

Sepanjang jalan, Pak Kim berkata kalau Hee Woo seharusnya tak menjemputnya.

Pak Kim : Kau ada kelas besok pagi. Kau seharusnya tidur.

Nyonya Lee : Namun, senang melihatnya. Mungkin kita berkomunikasi lewat telepati.

Pak Kim : Jangan berkeliaran di jalan saat malam hanya karena kau pria.

Nyonya Lee : Benar. Dengarkan ayahmu. Kau tahu secepat apa mobil melaju di lingkungan ini?

Foto SBS

Saat tiba di lokasi, sebuah mobil melaju ke arah mereka.

Hee Woo bergegas melindungi ayah ibunya.

Hee Woo lega ayah ibunya baik-baik saja.

Foto SBS
Foto SBS

Tapi mobil lain datang.

Sontak lah Hee Woo mendorong ayah ibunya ke pinggir.

Mobil itu nyaris menabrak Hee Woo, tapi Hee Woo berhasil menghindar. Namun yang menjadi korban, justru ayah ibunya.

Mobil itu menabrak ayah ibunya.

Hee Woo syok, tidak!

Narasi Hee Woo : Apa aku menjadi yatim piatu lagi?

Bersambung....

Selesai juga.... Gimana menurut kelen guys???

Ini kayaknya ayah ibu Hee Woo dibunuh ya... Gw kok jadi curiga sama Tae Seob.

Sinopsis Lengkap Drama Korea 'Again My Life' Episode 1-16

 
 
 
All Content From SBS, Asianwiki


 

 
 
Details Drama
 
 Drama : Again My Life
Revised Romanization : Again My Life
Hangul : 어게인 마이 라이프
Director : Han Chul Soo
Writer : Lee Hae Nal (web novel)
Network : SBS
Episodes :
Release Date : Aprip 8, 2022 --
Runtime :  Friday & Saturday 22 : 00-23 : 10
Language : Korean
Country : South Korea

 
Sinopsis Drama :


Kim Hee Woo seorang jaksa yang jujur. Saat dia menyelidiki politisi korup bernama Jo Tae Seob, dia terbunuh oleh pria misterius. Tapi Hee Woo kemudian menemukan dirinya hidup kembali. Dia kembali menjadi dirinya yang dulu, saat dia baru lulus sekolah.


Cast :

 

Lee Joon Gi -- Kim Hee Woo
Lee Kyoung Young -- Jo Tae Sub
Kim Ji Eun -- Kim Hee A
Jung Sang Hoon -- Lee Min Soo

Prosecutor's Office :

Choi Kwang Il -- Kim Seok Hoon
Hong Bi Ra -- Kim Gyu Ri
Kim Hyung Mook -- Jang Il Hyun
Kim Jin Woo -- Choi Kang Jin

Kim Hee Woo's Group

Kim Jae Kyung -- Kim Han Mi
Park Chul Min -- Kim Chan Young
Kim Hee Jung -- Lee Mi Ok
Ji Chan -- Park Sang Man
Lee Soon Jae - Woo Yong Soo

Jo Tae Seob's Group

Hyun Woo Sung -- Dr. K
Hyun Bong Sik -- Park Dae Ho

Eps 1 Part 1 Part 2 Part 3 Part 4
Eps 2 Part 1 Part 2 Part 3 Part 4
Eps 3 Part 1 Part 2 Part 3 Part 4
Eps 4 Part 1 Part 2 Part 3 Part 4
Eps 5 Part 1 Part 2 Part 3 Part 4
Eps 6 Part 1 Part 2 Part 3 Part 4

Again My Life Eps 1 Part 3

 All Content From SBS, Viu dan nodrakor
Penulis : Catatan-Iza
Sinopsis : Again My Life
Sebelumnya : Again My Life Eps 1 Part 2
Selanjutnya : Again My Life Eps 1 Part 4

Foto SBS
Foto SBS

Hee Woo langsung ke atap, tempat Direktur Cheonha disandera. Tapi Direktur Cheonha sudah tak ada di sana.

Hee Woo celingukan, mencarinya. Lalu terdengar suara pria dari atap.

"Orang yang kau cari ada di tempat yang aman."

Hee Woo mendongak dan melihat seorang pria di lantai atas.

Foto SBS

Hee Woo ingin ke sana.

Tapi dia dihalangi dua wanita berbadan tegap.

Tae Seob keluar dari kejaksaan. Para reporter langsung mewawancarainya.

Tae Seob : Saya bekerja sama dan menjawab setiap pertanyaan dengan jujur. Saya percaya pengadilan akan membuat keputusan yang adil.

Foto SBS

Hari sudah malam.

Hee Woo bertarung melawan dua wanita itu.

Foto SBS

Tae Seob makan malam dengan seketarisnya.

"Begini, gurita kuning tumis di sini sangat enak. Ini sangat berbeda dari yang bisa dibeli di Yeouido. Ini sangat pedas."

Mereka mulai makan. Tapi ponsel si seketaris berbunyi.

Si seketaris memberitahu keberadaan Hee Woo sekarang pada Tae Seob.

"Haruskah kita menghajar mereka berdua?" tanyanya.

"Tidak. Tidak perlu memukul anjing yang telah menyerah." jawab Tae Seob.

Foto SBS
Foto SBS

Hee Woo naik ke atap dan bertemu pria itu.

"Kau pasti terkejut." ucap Hee Woo.

"Sedikit." jawab pria itu.

"Tidak seperti kebanyakan jaksa, aku tidak lemah."

"Serta aku bukan preman amatir."

"Baiklah. Mari langsung ke intinya."

Foto SBS
Foto SBS

Mereka bertarung.

Tapi Hee Woo kalah.

Pria itu mencekik Hee Woo.

"Aku akan mengampunimu jika kau berjanji akan berhenti." ucap pria itu.

"Bagaimana kau bisa memercayaiku?" tanya Hee Woo.

"Itu tidak penting. Aku tidak takut pada anjing yang telah menyerah."

"Maaf mengecewakanmu, tapi aku tidak mau menjadi anjing yang menyerah."

"Ini kesempatan terakhirmu. Memohonlah untuk nyawamu."

Hee Woo akhirnya memohon, tolong selamatkan aku.

Tapi kemudian dia bilang dia akan memastikan membunuh pria itu.

Pria itu semakin mencekik Hee Woo.

Hee Woo : Aku memikirkan sesuatu yang berbeda.

Foto SBS

Tak lama kemudian, Hee Woo berhasil membalikkan keadaan.

Hee Woo : Konspirasi pembunuhan dan percobaan tambahan. Kau berhak mendapatkan pengacara. Kau berhak untuk tetap diam. Apa pun yang kau katakan bisa dan akan digunakan untuk melawanmu di pengadilan.

Tapi pria itu melawan.

Hee Woo : Tanganmu bisa patah jika terus begini.

Pria itu kemudian berhasil mengalahkan Hee Woo. Tak hanya mengalahkan Hee Woo, dia membuat Hee Woo tak berdaya.

Foto SBS
Foto SBS

Pria itu lalu menghubungi seketaris Tae Seob.

Dia bilang dia sudah menyelesaikan pekerjaan dan akan menangani Hee Woo sesuai instruksi.

Seketaris Tae Seob langsung memberitahu Tae Seob yang lagi minum teh.

Tae Seob senang, kau menyeduh tehnya dengan sangat baik. Aku yakin akan tidur nyenyak malam ini berkat minum teh yang enak.

Foto SBS

Pria itu mendekati Hee Woo.

"Ini campuran sempurna alkohol dan metamfetamina. Besok pagi, dunia akan mengingatmu sebagai jaksa korup dan pecandu narkoba yang bunuh diri."

Pria itu menyuntikkan itu ke leher Hee Woo. Hee Woo langsung kejang dan setengah sadar.

Pria itu kemudian melemparkan Hee Woo ke bawah.

Foto SBS

Tapi tiba-tiba saja, Hee Woo kembali berada di atas gedung. Dia melihat pria itu tengah menyalakan rokoknya.

Seorang wanita berbaju merah mendadak muncul disampingnya.

Hee Woo : Aku sudah mati, bukan?

Wanita itu bilang iya.

Hee Woo heran dia sudah mati tapi tubuhnya masih terasa sakit.

Singkat cerita, wanita itu menunjukkan kilas balik perjalanan Hee Woo.

Hee Woo dibully saat SMA.

"Kim Hee Woo, sepertinya kau selama ini dipukuli cukup parah."

"Anak-anak yang punya rasa keadilan, tapi tidak punya kekuatan selalu dipukuli."

Foto SBS
Foto SBS

Hee Woo menangisi kepergian orang tuanya.

"Orang tuamu meninggal karena tabrak lari."

"Lalu? Apa aku bisa bertemu dengan orang tuaku sekarang?"

Foto SBS

Hee Woo juga terlihat berlatih seni bela diri.

"Astaga. Kau juga berlatih seni bela diri."

Hee Woo bilang dia melakukan itu untuk bertahan hidup dan melindungi diri.

"Kau masuk ke Fakultas Hukum Universitas Hankuk setelah mengikuti ujian masuk tiga kali. Kau lulus ujian advokat, menjadi jaksa, lalu..."

Foto SBS

Wanita itu juga menunjukkan saat Hee Woo menginterogasi Tae Seob.

Tae Seob : Begini, keadilan itu... Seperti yang kau lihat di film yang terlihat keren. Itu bukan sesuatu yang bisa kau miliki hanya karena kau mau."

Wanita itu bertanya, apa Hee Woo macam-macam sama Tae Seob.

"Apa maksudmu "macam-macam"? Aku seorang jaksa. Cho Tae Sub hanyalah penjahat kotor. Tugasku bukan hanya macam-macam dengannya, tapi memenjarakannya."

"Kau gagal dan dibunuh. Apa itu karena kau punya keadilan, tapi tidak punya kekuatan? Dia membunuhmu sebelum kau sempat mencoba. Aku tidak punya pilihan selain setuju denganmu karena inilah hasilnya. Apa kau bisa memenjarakan Cho Tae Sub jika selamat dari pertarungan ini? Apa dia akan menghadapi penghakiman hukum?"

"Entahlah."

"Jika punya satu nyawa lagi, apa kau akan menggunakannya untuk menangkap Cho Tae Sub lagi?"

"Aku telah mempertaruhkan hidupku untuk itu. Itu sudah diputuskan, dan sudah tugasku untuk melakukannya."

"Kalau begitu, lakukanlah. Santai saja menyiapkannya. Jebak dia dengan sempurna. Karena jika bertindak gegabah, kau bisa mati sia-sia lagi. Maksudku, aku akan menyelamatkan nyawamu. Pastikan kau menangkapnya. Jika menunggu dihukum di akhirat, itu akan terlalu lama. Tunjukkan kepadanya di dunia ini juga ada penderitaan. Berjanjilah kepadaku. Bisakah kau membuatnya menderita?"

"Pasti."

"Jika dekat dengan Cho Tae Sub, kau mungkin bertemu denganku. Camkan kata-kataku. Kau tidak bisa menangkap iblis itu kecuali kau menjadi monster yang lebih buruk. Aku meminta ini sebagai bantuan. Pastikan kau berhasil."

Foto SBS

Hee Woo terkejut menemukan dirinya menjadi kasir di toserba.

Seorang pelanggan marah karena Hee Woo tak menghitung barang belanjaannya.

Hee Woo menatap si pelanggan, Kim Han Mi?

Han Mi : Ya, itu namaku.

Hee Woo ingat itu toserba tempat dia dulu bekerja setelah lulus SMA.

Hee Woo yang masih kaget, lantas menatap kedua tangannya.

Lalu Hee Woo ingat kata-kata si wanita berbaju merah tadi.

"Tunjukkan kepadanya di dunia ini juga ada penderitaan."

Foto SBS

Hee Woo lantas lari ke toilet.

Dan dia menatap wajahnya di cermin.

Hee Woo : Sulit kupercaya. Apa aku sungguh hidup kembali?

Hee Woo kembali teringat kata-kata si wanita berbaju merah.

"Santai saja menyiapkannya. Jebak dia dengan sempurna. Karena jika bertindak gegabah, kau bisa mati sia-sia lagi."

Hee Woo bertanya-tanya, apa wanita itu benar-benar mengirimnya ke masa lalu?

Hee Woo : Jika ini nyata... Aku harus pulang.

Foto SBS

Hee Woo berlari keluar. Dia nyaris tertabrak mobil saat menyebrang jalan.

Hee Woo tiba di rumahnya. Dia terkejut.

Hee Woo : Rumahku masih ada di sini.

Hee Woo memberanikan diri untuk masuk ke rumahnya.

Bersambung ke part 4...

Again My Life Eps 1 Part 2

All Content From SBS, Viu, nodrakor
Penulis : Catatan-Iza
Sinopsis Lengkap : Again My Life
Sebelumnya : Again My Life Eps 1 Part 1
Selanjutnya : Again My Life Eps 1 Part 3


Foto SBS
Foto SBS

Seketaris Tae Seob terkejut saat menerima pesan teks dari Seok Hoon.

Bersamaan dengan itu, Tae Seob datang dan melihat keterkejutan seketarisnya.

Tae Seob : Ada apa?

Seketarisnya memberitahu bahwa ia dipanggil kejaksaan.

Tae Seob terlihat tenang, benarkah? Kurasa akhirnya aku akan bertemu dengannya.

Tae Seob mengajak seketarisnya makan.

Tae Seob : Aku tahu restoran enak di Seocho-dong. Kau suka makanan pedas, kan?

Foto SBS

Tae Seob memenuhi panggilan kejaksaan.

Para reporter langsung mengerubunginya begitu ia datang.

"Jaksa menyatakan bahwa anda melanggar UU Hukuman Berat untuk Kejahatan Khusus. Anda mengakui tuduhan itu?"

"Saya tidak bisa mengakui apa yang tidak benar. Saya tidak ada hubungannya dengan pelanggaran ini, yang diklaim jaksa sebagai tanggung jawab saya. Saya sangat sedih karena telah menyebabkan kekhawatiran kepada orang-orang yang memercayai dan mendukung saya bertahun-tahun."

"Ada yang bilang kejaksaan mengincar kandidat presiden."

"Saya rasa hasilnya akan berbicara dengan sendirinya."

Foto SBS
Foto SBS

Tae Seob menemui Seok Hoon. Seok Hoon menjamunya dengan secangkir kopi.

Tae Seob : Rasanya aneh kembali ke Kantor Kejaksaan setelah sekian lama. Mungkin karena aku di sini sebagai terdakwa kali ini.

Seok Hoon : Maaf, Pak.

Tae Seob : Tidak apa-apa. Kau melakukan persis seperti yang kukatakan.

Seok Hoon : Ini bukan keputusan mudah bagi kami, Pak.

Tae Seob : Pada akhirnya, ini sesuatu yang harus kuhadapi. Aku akan menganggap ini sebagai vaksin. Aku jadi tidak perlu mengusik orangku untuk menyelesaikan masalah. Ini membantuku.

Seok Hoon : Masalahnya, Jaksa Kim Hee Woo... Dia tidak akan segan-segan, Pak.

Tae Seob : Tentu saja tidak boleh. Aku tidak datang jauh-jauh kemari untuk menemui pengecut.

Tae Seob melirik jamnya.

Tae Seob : Aku harus pergi. Terima kasih kopinya.

Foto SBS
Foto SBS

Seok Hoon mengantarkan Tae Seob keluar.

Tapi setelah Tae Seob pergi, dia terdiam melihat Hee Woo memandanginya.

Foto SBS

Hee Woo masuk ke ruang interogasi. Tae Seob sudah duduk di sana.

Hee Woo datang membawa beberapa berkas dan laptopnya.

Tae Seob : Akhirnya, kita bertemu, Jaksa Kim Hee Woo. Senang bertemu denganmu.

Hee Woo : Itu sambutan yang tidak biasa dari terdakwa.

Tae Seob : Aku yakin kau juga ingin bertemu denganku.

Hee Woo : Ya, tapi aku tidak senang bertemu dengan anda.

Tae Seob : Kau penuh dengan kelancangan.

Hee Woo : Serta anda penuh dengan ambisi. Selain itu, selera humormu bagus. Hei, ajussi.

Tae Seob : Ajussi?

Hee Woo : Anda ada di ruang wawancara di Kantor Kejaksaan sebagai terdakwa kasus ini. Anda mungkin Cho Tae Sub yang berkuasa di dunia luar, tapi tidak di sini. Aku memanggil Cho Tae Sub yang perkasa untuk membuktikan bahwa dia hanya bedebah hina. Kenapa? Karena anda benar-benar bedebah. Itulah alasannya. Ini yang lebih penting. Jika aku tipe orang yang menyerah pada ancaman dan bujukan anda,  anda tidak akan berada di sini sekarang. Maksudku, aku tidak akan bisa memanggil anda. Aku tidak akan bisa menyebut anda bedebah, dan itu benar. Sebagai gantinya, aku akan duduk di sini mencatat pesanan kopi anda. "Anda mau sirop di Americano anda, Pak?" Aku hanya akan mengajukan pertanyaan itu dan berbasa-basi. Namun, apa aku bertanya anda ingin kopi apa? Anda tidak bisa memahami situasinya?

Tae Seob : Kurasa aku mengerti apa yang terjadi.

Hee Woo : Bagus. Lantas, duduk dan tundukkan kepala anda.

Foto SBS

Tae Seob : Aku tidak yakin kesalahpahaman apa yang menyebabkan semua ini, tapi aku tidak melakukan apa pun demi kepentinganku sendiri. Aku melakukan segalanya untuk rakyat...

Hee Woo : Mari kita mulai. Sepertinya banyak yang ingin anda katakan.

Tae Seob : Aku tidak sabar melihat kartu yang kau pegang. Konon katanya makin tinggi harapan, makin besar kekecewaannya. Tolong berikan yang terbaik, Pak Jaksa.

Hee Woo : Jelas, anda belum memahami situasinya.

Tae Seob : Hee Woo-ssi?

Hee Woo : Anda baru saja memanggilku "Hee Woo-ssi"?

Tae Seob : Pernahkah anda memikirkan ketidakberdayaan keadilan tanpa kekuatan? Kalian bukan bodoh karena kalian rakyat jelata. Kalian rakyat jelata karena bodoh. Kalian rakyat jelata bodoh yang masih tidak menyadari itu. Dungu. Begini, keadilan itu... seperti yang kau lihat di film yang terlihat keren. Itu bukan sesuatu yang bisa kau miliki hanya karena kau mau.

Hee Woo : Itu bukan keputusanmu. Keadilan memilih siapa yang bisa memilikinya.

Tae Seob : Kau tahu arti "membabi-buta"? Yang kau lakukan di sini tidak berkaitan dengan keadilan. Ini tindakan membabi-buta yang didasarkan pada kebodohanmu. Jika ingin menjatuhkanku, kau seharusnya menghancurkan sistem yang dibangun untuk melindungiku.

Hee Woo : Anda datang untuk menceramahiku? Anda masih berpikir anda diundang sebagai tamu? Baiklah. Aku akan menghancurkan sistem itu dan semua yang menyokongnya satu per satu.

Tae Seob : Jaksa Kim. Kau punya saksi yang akan melawanku, bukan? Peran saksi dilakukan di ruang sidang. Namun, bagaimana jika dia tidak bisa menjalankan perannya?

Hee Woo pun terkejut mendengarnya.

Foto SBS

Seseorang membunyikan bel kamar 1102. Pria yang didatangi Hee Woo dan memberikan bukti pada Hee Woo, serta berjanji akan menjadi saksi, bergegas ke pintu. Sadar nyawanya terancam, dia tak langsung membuka pintu. Dia mengintip lebih dulu. Ternyata layanan kamar. Pria itu membuka pintu. Tapi wajah si housekeeping pucat pasi menatap ke arahnya.

Tiba-tiba, seorang pria mencekiknya dan mendesaknya ke dinding. Pria itu lantas menyuntikkan sesuatu ke leher saksi.

Foto SBS

Kembali ke ruang interogasi.

Tae Seob : Meskipun begitu, bukankah ini terlalu mudah? Menemuiku langsung. Aku ingin bertemu denganmu. Jaksa yang berani memanggilku. Kenapa kau tidak berhenti menyia-nyiakan keberanianmu dan mengejar hal yang lebih berharga?


Rekan Hee Woo masuk,

"Geomsanim."

Sontak Hee Woo kaget.

Foto SBS

Hee Woo memacu mobilnya menuju hotel tempat si saksi berada.

Rekan Hee Woo tadi bilang bahwa Direktur Strategi Bisnis Cheonha tidak bisa dihubungi di hotel.

Tak lama, ponsel Hee Woo berbunyi. Sebuah pesan dan rekaman video. Pesan dari Direktur Bisnis Cheonha yang meminta pertolongan.

Foto SBS
Foto SBS

Hee Woo menepikan mobilnya dan melihat video apa itu.

Ternyata itu video Direktur Bisnis Cheonha yang digantung di tiang di tepi sebuah gedung.

Hee Woo marah.

Terdengar narasi Hee Woo.

Hee Woo : Seseorang membocorkan informasi. Cho Tae Sub sudah tahu kartu yang kupegang.

Bersambung ke part 3...