Jumat, 16 September 2016

Fantastic Ep 4 Part 1

Sebelumnya....


Sang Wook terbangun karena mendengar suara motor di bawah. Sang Wook buru2 membuka jendela dan mendapati Seol yang sudah duduk di atas motor dan hendak pergi. Seol tersenyum manis pada Sang Wook. Sang Wook menanyakan nama Seol, juga nomor ponsel Seol. Namun bukan jawaban yang di dapat Sang Wook, tapi kerlingan mata dan senyum menggoda Seol. Seol lantas melajukan motornya. Sang Wook berteriak, meminta alamat email Seol.


Tapi semua itu bukanlah kenyataan. Semua itu hanya mimpi. Sang Wook terbangun dari mimpinya, lalu mengecek keluar dan mendapati motor Seol masih ada di bawah. Sang Wook lantas turun ke bawah dan memutuskan mencuci motor Seol.


Keesokan harinya, So Hye yang baru bangun terkejut melihat dirinya di cermin. Saat mendengar suara pintu yang dibuka, So Hye langsung lari ke kamar mandi. Tepat saat So Hye masuk ke kamar mandi, Sang Hwa masuk ke dalam dan bingung tidak mendapati So Hye di sana. Sang Hwa lalu melirik ke kamar mandi.

“Penulis Lee, kau sudah siap? Mobilnya sudah menunggu, kau harus bergegas. Penulis Lee.” Ucap Sang Hwa.

“Oh, biarkan aku mandi sebentar.” Jawab So Hye.


“Kau belum mengemasi barangmu? Biar aku yang mengemasi barangmu. Kau santai saja.” Ucap Sang Hwa.

“Mengemas barangku?” tanya So Hye bingung.

“Hari ini kan hari pertama kita shooting. Cepatlah, mobilnya sudah menunggu.” Jawab Sang Hwa.

So Hye menepuk jidatnya karena melupakan jadwal shooting mereka. So Hye lantas buru2 menghapus lipstick di bibirnya dan cat di kukunya.


Sutradara Yoon heran melihat kuku So Hye. Tapi Sang Hwa menyukainya dan memuji kuku So Hye yang terlihat cantik. Sutradara Yoon curiga kalau So Hye berkencan dengan seseorang. Sang Hwa penasaran, ia menebak kalau pria itu adalah Joon Gi. So Hye pun langsung menatap galak Sang Hwa.

“Aku tidak berkencan dengan siapapun. Aku merubah gaya rambutku dan mewarnai kuku ku agar aku terlihat lebih segar.” Jawab So Hye sambil menyembunyikan kukunya.

Tapi rekan2nya tidak percaya. Mereka yakin kalau So Hye sudah punya pacar.
 
So Hye dan tim nya tiba di lokasi. So Hye merasa mual, tapi ia berusaha menutupinya. Sutradara Yoon dan Sang Hwa langsung berkutat dengan pekerjaan mereka. Hae Sung yang sedang berlatih melihat So Hye yang berjalan menjauhi mereka. Hae Sung mau menyusul So Hye, tapi Sutradara Yoon keburu menghampirinya. Sutradara Yoon mengajak Hae Sung mengecek posisi kamera.


Tiba2, seorang pria tua datang dan mengamuk. Ia berusaha mengusir tim produksi. Tim produksi pun bergegas mengusir pria itu.


So Hye berdiri di dekat tebing dan muntah. Pria tua itu datang dan kesal melihat tatapan So Hye. Pria itu hendak menyakiti So Hye. Hae Sung yang menyadari So Hye dalam bahaya langsung berlari ke arah So Hye. Tim produksi juga ikut berlari ke arah So Hye. Tepat saat itu, So Hye jatuh ke bawah. Hae Sung langsung meraih tubuh So Hye sesaat sebelum So Hye jatuh. Keduanya pun jatuh ke bawah. So Hye yang ketakutan memeluk tubuh Hae Sung dengan erat. Untunglah mereka jatuh di atas kasur angin yang memang sudah disiapkan.


“So Hye, kau baik2 saja? Lee So Hye!” tanya Hae Sung panic.

So Hye tertegun. “Aku baik2 saja.”


Tim keamanan langsung menangkap pria itu, tapi sayangnya pria mabuk itu berhasil kabur. Tim produksi langsung memuji keberanian Hae Sung tadi. Sang Hwa menatap cemas So Hye, tapi So Hye meyakinkan Sang Hwa kalau ia baik2 saja. Chang Suk mengaku jantungnya hampir saja berhenti saat melihat Hae Sung melompat ke bawah. So Hye menatap kagum Hae Sung.


“Kau benar2 si Hitman K. Seperti adegan dalam drama.” Puji Sutradara Yoon.

“Lalu kenapa kalian diam saja? Kalian seharusnya mem-film-kan adegan fantastic tadi. Sutradara, kameranya belum menyala? Adegan tadi benar2 luar biasa.” Jawab Hae Sung.


Tim produksi langsung ketawa mendengar ocehan Hae Sung, sedangkan So Hye kesal.


“Penulis Lee, bagaimana rasanya hidup kembali?” tanya Sutradara Yoon.

So Hye tersenyum, ia teringat saat Hae Sung menyelamatkannya tadi.


“Langit sangat cantik dan berwarna biru. Jika aku mati, aku tidak bisa lagi melihat langit secantik itu. Karena cuacanya bagus, film pertama kita akan menjadi luar biasa. Itulah yang aku pikirkan.” Jawab So Hye.


“Penulis Lee, kau baik2 saja? Dia bercanda lagi.” Ucap Sang Hwa menatap cemas So Hye.

“Sutradara Yoon, shooting akan selesai sebelum malam gelap, kan? Hae Sung harus pergi ke China malam ini. Hae Sung diundang ke acara putri CEO Media China. Aku dengar dia sangat menyukai Hae Sung.” Ucap Chang Suk.


“Aku hanya sehari disana, aku akan pulang sebelum shooting kedua dimulai.” Jawab Hae Sung.

“Kalau begitu tidak ada masalah dengan jadwal kita. Pergilah dan cepat kembali.” Ucap Sutradara Yoon.


Sutradara Yoon lantas mengajak Hae Sung pergi. So Hye yang bersama Sang Hwa tanpa sengaja melihat Hae Sung yang kesakitan sambil memegangi bagian pinggang.


Hae Sung masuk ke bisnya sambil menahan rasa sakit di pinggangnya. So Hye menyusul Hae Sung. Begitu mengetahui So Hye mencemaskannya, Hae Sung langsung pura2 kesakitan. So Hye panic dan mau mencari bantuan, tapi Hae Sung malah menahan So Hye dan memegang erat tangan So Hye.

“Aku hanya pura2. Apa kau masih berpikir2 aku si Foot Acting?” tanya Hae Sung, yang langsung membuat So Hye marah.


“Kenapa kau marah2 pada seseorang yang sudah menyelamatkan hidupmu? Kau harusnya berterima kasih padaku.” Jawab Hae Sung.

So Hye beranjak pergi, tapi Hae Sung memanggilnya.

“Kau datang untuk melihatku shooting, kan?” tanya Hae Sung.

“Tentu saja.” Jawab So Hye.

“Aku akan melakukan semua adeganku sendiri, tanpa peran pengganti.” Ucap Hae Sung.


Shooting dimulai. Hae Sung tampak melakukan adegan fighting nya dengan baik. Tim produksi tampak antusias melihat acting Hae Sung, tapi So Hye justru mengedarkan pandangannya melihat alat2 tim produksi mereka dengan perasaan haru.


“Bukankah ide yang bagus menjadi seorang penulis?” ucap So Hye yang langsung diiyakan Sang Hwa.

“Setiap kali kau mendapatkan kesempatan, lihatlah alat2 produksi kita. Kau akan mendapatkan ide yang segar dan kau akan merasa lebih bertanggungjawab.” Ucap So Hye yang lagi2 diiyakan So Hye.


Barulah So Hye melihat ke arah Hae Sung. Hae Sung tampil dengan baik di setiap adegannya. So Hye menatap kagum Hae Sung. Tiba2, So Hye batuk dan merasa ingin muntah. So Hye pun langsung beranjak pergi menjauhi rekan2nya.


Sang Wook duduk di depan layar laptopnya. Ia memposting foto beberapa kemejanya dan menyuruh teman2nya memilihkan satu kemeja untuknya. Rencananya ia akan memakai kemeja itu saat berkencan. Tapi semua temannya malah memberikan komentar buruk karena seleranya yang buruk.

-Apa kau mau dicampakkan- | -Tolong katakan padaku kalau aku tidak pernah melihat ini- | -Ini mengerikan- | -Harus ada jawaban yang tepat untuk pilihan ganda ini tapi aku tidak menemukannya- | -Kau 100% akan dicampakkan- | -Hancurkan tali pinggang itu- | -Tuhan, tolong selamatkan aku- | -Apa dia benar2 membeli semua pakaian itu- |


Sang Wook pun merasa malu karena seleranya dianggap buruk. Saat lagi sibuk membaca komentar dari semua temannya, tiba2 ia mendengar suara motor di bawah. Sang Wook pun bergegas membuka jendela. Tapi yang datang bukan Seol, melainkan layanan cepat antar. Tak lama, gerimis pun mulai turun.


Seol yang baru saja pulang belanja terkejut mendapati motornya tidak ada di apartemen Sang Wook. Seol pun langsung menanyakan motornya pada petugas yang berjaga. Petugas pun membawa Seol ke apartemen Sang Wook. Seol terkejut melihat motornya di rumah Sang Wook. Sang Wook pun beralasan karena hujan akan turun, jadi ia membawa motor Seol ke rumahnya. Sang Wokk berkata, karena motor itu bukan miliknya jadi ia menjaga motor itu untuk Seol. Seol hanya tersenyum mendengar ucapan Sang Wook. Sang Wook meminta maaf karena tidak meminta izin Seol terlebih dahulu. Tawa Seol pun pecah. Melihat Seol tertawa, Sang Wook pun ikut tertawa.

“Maafkan aku karena aku tertawa. Kau memiliki hati yang baik.” Ucap Seol.

“Bukan apa2. Kau memiliki senyum yang manis.” Jawab Sang Wook.

“Aku sangat berterima kasih, tapi aku membuatmu dalam masalah juga. Aku akan memindahkannya ke tempat lain.” Ucap Seol.


Seol mau memindahkan motornya, tapi dilarang Sang Wook. Sang Wook beralasan kalau ia sudah membayar sewa parkir, jadi kalau Seol pergi artinya uangnya terbuang secara percuma. Sang Wook juga bilang kalau penjaga pasti akan kecewa.

“Musim hujan akan datang, apa kau mau terus menjaganya di sini? Kau akan merasa tidak nyaman.” Jawab Seol.


“Aku membeli penutup tahan air untuk motormu. Aku membelinya secara online, jadi paling tidak barangnya akan datang besok.” Ucap Sang Wook.

“Berapa? Biar aku mengganti uangmu.” Jawab Seol.

“Daripada membayarku, aku akan berterima kasih jika kau mau memberiku tumpangan.” Ucap Sang Wook.


Seol tertawa, lalu mengulurkan tangannya pada Sang Wook. Sang Wook terkejut, lalu dengan gugup ia mau menjabat tangan Seol tapi Seol langsung menarik tangannya dan meminta ponsel Sang Wook. Sang Wook mengerti dan langsung memberikan ponselnya pada Seol.

“Aku akan segera mengirim pesan padamu soal tumpanganmu.” Ucap Seol sambil mengembalikan ponsel Sang Wook.
 
Seol pun beranjak pergi. Setelah Seol pergi, Sang Wook langsung berteriak kegirangan. Saking girangnya, ia sampai memukul dinding pembatas rumahnya yang terbuat dari kayu dan membuatnya langsung disemprot oleh si penyewa di sebelahnya.


Seol sendiri memuji Sang Wook sebagai pria yang menyenangkan. Wajah Seol langsung berubah kesal ketika ia menerima panggilan dari Jin Tae. Jin Tae menyuruh Seol pulang. Jin Tae berkata, ibunya mencari Seol karena ibu mau menyuruh Seol memperbaiki toilet yang tersumbat. Seol pun kesal karena Jin Tae menyuruhnya pulang hanya untuk itu. Jin Tae beralasan kalau semua orang akan pergi ke Jeju, jadi ibu ingin Seol pulang mengurusi toilet yang tersumbat. Jin Tae bilang kalau ibunya tidak suka ada orang asing masuk ke rumah. Seol pun dengan kesal mengiyakan dan memutuskan pembicaraan mereka.


Wajah kesal Seol lenyap seketika saat ia menoleh dan mendapati Sang Wook sedang menatapnya dari jendela. Sang Wook melambaikan tangannya pada Seol. Seol tersenyum, lalu beranjak pergi.


So Hye menegak obatnya beserta air mineral ke dalam mulutnya. Usai meminum obatnya, So Hye menatap dengan sedih ke arah tim produksinya. Tak lama Sang Hwa datang. So Hye pun langsung memasukkan obatnya ke dalam tas. Sang Hwa memberitahu So Hye kalau ia sudah memanggilkan taksi untuk So Hye.

“Kau benar2 bisa pulang sendirian?” tanya Sang Hwa cemas.

“Aku tidak apa2. Aku akan menulis episode ke-11.” Jawab So Hye.

“Kau sudah menemukan tempatnya?” tanya Sang Hwa.

“Ada kabin yang dulu pernah kutinggali saat aku berada di sini.” Jawab So Hye.

“Hubungi aku jika kau butuh sesuatu, ya.” ucap Sang Hwa.


Ponsel So Hye berdering. So Hye pun langsung teringat kejadian semalam saat membaca nama Joon Gi di layar ponselnya. So Hye yang malu tidak menjawab panggilan Joon Gi. Tapi Joon Gi malah menghubungi Sang Hwa. So Hye pun dengan terpaksa menjawab panggilan Joon Gi dan memberitahu dirinya ada di Pyeongchang.


“Aku mau memberikan kuliah untukmu, tapi kau terlalu jauh.” Jawab Joon Gi.

“Kami ada upacara ritual untuk drama kami.” Ucap So Hye.

“Aku rasa kau sudah tidak mabuk. Itu melegakan.” Jawab Joon Gi yang diiyakan So Hye dengan wajah malu.

“Kau akan kembali malam ini?” tanya Joon Gi.


“Aku akan menginap di sini.” Jawab So Hye.

“Itu bagus. Makanlah makanan yang enak dan jangan lupakan obatmu. Jika kau merasa tidak enakan, hubungi aku kapan saja.” Ucap Joon Gi.

“Baiklah, terima kasih.” Jawab So Hye.

Selesai bicara dengan Joon Gi, So Hye langsung diledek Sang Hwa. Sang Hwa menebak kalau Joon Gi ngajak So Hye kencan. So Hye pun menyuruh Sang Hwa diam, tapi Sang Hwa malah ketawa2. So Hye beranjak pergi. Sang Hwa melambaikan tangannya dengan senyum lebar melepaskan kepergian So Hye.


Shooting pun kembali dilanjutkan dengan adegan fighting. Begitu Sutradara Yoon berteriak ‘CUT’, semua tim pun langsung memuji acting Hae Sung. Selesai shooting, Hae Sung langsung mencari So Hye, tapi bukan So Hye yang ditemukannya di dalam mobil, melainkan Sang Hwa. Sang Hwa memberitahu Hae Sung kalau So Hye pergi ke kabin yang dulu pernah ditinggali So Hye. Hae Sung yang mengetahui letak kabin itu pun langsung senyum2 sendiri.


Chang Suk datang, ia mengajak Hae Sung langsung menuju airport. Hae Sung mengeluh karena disaat ia bekerja dengan keras, So Hye malah pergi. Chang Suk penasaran kenapa So Hye pergi secepat itu. Sedangkan Hae Sung penasaran kenapa So Hye pergi ke kabin sendirian. Chang Suk langsung mendelik curiga.


“Kenapa kau mencari Penulis Lee? Kau menyembunyikan sesuatu, kan?” tanya Chang Suk.

“Sudah kubilang tidak, kan?” jawab Hae Sung kesal, lalu pergi.

“Kalau begitu siapa yang kau cari? Aku ada di sini, di depanmu.” Gumam Chang Suk sambil menatap kepergian Hae Sung.


So Hye berjalan sendirian menuju kabinnya. Dalam perjalanan menuju kabin, ia terkejut melihat poster Hae Sung yang berdiri bersama seorang wanita dengan tangan ke atas membentuk gambar hati, tapi gambar wajah wanita itu tidak ada. So Hye pun langsung kesal karena Hae Sung tidak pernah memberinya waktu istirahat.


Tak lama berselang, pasangan suami istri yang sudah berumur datang menghampiri So Hye.

“Kau mau ke kabin. Tapi kabin kami sedang dalam perbaikan sampai esok hari.” Ucap si suami.

“Tidak apa2. Kau sudah datang kesini, kamar yang di depan sudah selesai. Ayo masuklah.” Ajak si istri.


Begitu sampai di kabin, So Hye langsung membuka jendela dan menghirup udara segar. So Hye kemudian menjatuh tubuhnya di atas kasur.


Seol tampak sibuk membantu Jin Sook dan ibu mertuanya berkemas2. Ibu mengeluh karena tidak ada pakaian yang bisa digunakannya. Jin Sook berniat pergi membeli beberapa baju. Sang ibu menyuruhnya hanya memakai hanbok. Sang ibu berkata, disana akan ada reporter jadi ia tidak mau mereka mengambil foto Jin Sook saat Jin Sook mengenakan baju mewah karena akan menyebabkan kekacauan.


Tepat saat mereka sedang berkemas2, Jin Tae pulang. Ibu langsung meminta pendapat Jin Tae harus mengenakan pakaian apa. Jin Tae berkata sebaiknya sang ibu mengenakan hanbok saja. Jin Tae lalu menatap Seol dan menyuruh Seol bersiap2. Tapi Jin Sook tidak ingin Seol ikut. Menurutnya, Seol hanya akan membuat malu di sana.

“Tapi mereka semua membawa pasangan.” Jawab Jin Tae.

“Kau akan mengawal Lee Hyo Won. Akan terlihat aneh kalau kau membawanya.” Ucap Jin Sook.

“Lupakan itu. Ini perjamuan penting, kau ingin menghancurkannya?” tanya ibu yang juga tidak setuju Seol ikut.


Jin Tae pun langsung diam. Sementara Seol tampak kesal. Ibu lalu dengan seenaknya memperingatkan Seol agar jangan sampai ada pakaiannya yang tertinggal. Ibu beranjak pergi, diikuti oleh Jin Sook. Jin Tae langsung menatap cemas ke arah Seol.

“Kau tidak apa2?” tanya Jin Tae.

“Aku tidak mau pergi dengan kalian. Pergi lah dan jangan membuatku tambah sedih.” Jawab Seol ketus.


Jin Sook menerima telepon dari seseorang, kayaknya sih dari tantenya Mi Do. Jin Sook terkejut karena Mi Do juga akan mengenakan pakaian yang senada dengan Jin Tae. Jin Sook berkata, kalau Jin Tae dan Mi Do harus mengenakan pakaian yang senada layaknya sebuah pasangan. Jin Tae terkejut mendengar omongan sang kakak. Jin Sook berkata, ia ingin pergi tapi tidak bisa pergi karena harus melakukan perjalanan ke China.


Setelah mengakhiri pembicarannya, Jin Sook langsung menyuruh Jin Tae bersikap baik pada Mi Do. Jin Tae tidak mau, tapi Jin Sook memaksa dan berkata ia tidak bisa pergi ke Jeju karena harus melakukan perjalanan bisnis ke China. Jin Tae pun langsung diam. Setelah Jin Sook pergi, Jin Tae melirik Seol dan meyakinkan Seol kalau tidak akan terjadi apa2 diantara ia dan Mi Do. Tapi Seol mengaku tidak peduli dan menyuruh Jin Tae melakukan apapun yang Jin Tae mau. Jin Tae pun stress dengan sikap cuek Seol.


Seol mengantarkan ibu mertuanya dan kakak iparnya ke depan. Setelah Jin Sook dan ibunya pergi, Jin Tae mendekati Seol. Jin Tae mau mencium bibir Seol, tapi Seol langsung mendorongnya dan menatapnya dengan tajam. Penolakan Seol membuat Jin Tae sedikit merasa sedih. Jin Tae lalu memberikan Seol sedikit uang dan menyuruh Seol membeli makanan enak. Tepat saat itu, Jin Sook masuk dan langsung merebut uang itu.


“Kau mau memanjakannya?” protes Jin Sook.. Jin Tae protes, tapi Jin Sook tidak peduli.


Setelah mereka semua pergi, Seol langsung menarik napas kesal. Tapi kekesalan Seol tak berlangsung lama karena wajahnya langsung berubah senang saat menyadari dirinya berada sendirian di rumah. Seol lantas mengambil ponselnya, kemudian membuka celemeknya dan melemparkan celemeknya ke udara, lalu melemparkan tubuhnya ke atas sofa. Seol pun menghubungi Mi Sun.

“Mi Sun-ah, apa yang kau lakukan hari ini? Apa kau sibuk?” tanya Seol.

“Kenapa harus hari ini? Hari ini adalah hari ulang tahun ibu mertuaku.” Jawab Mi Sun yang sedang memotong rambut suaminya.

“Kakak iparmu sedang bersenang2? Kenapa dia menyuruhmu menjemput putrinya? Bawa dia ke sini, aku akan membuatnya botak!” ucap Mi Sun kesal mendengar cerita Seol.



Seol pun tertawa mendengar ocehan Mi Sun. Seol lantas berkata, kalau So Hye sedang melakukan perjalanan. Pil Ho merebut telepon Mi Sun dan berbicara dengan Seol. Seol senang mendengar suara Pil Ho. Pil Ho berkata, kalau Mi Sun menguras semua energinya membuat Mi Sun menepuk punggungnya dengan keras. Seol lantas berkata kalau ia sangat iri dengan kehidupan yang dimiliki Mi Sun dan Pil Ho.


Usai berbicara dengan Mi Sun, Seol pun memikirkan apa yang akan ia lakukan hari itu. Sementara itu, Sang Wook sedang menunggu kabar dari Seol. Tak lama kemudian, ia pun menerima pesan dari Seol. Dalam pesannya, Seol bertanya apa Sang Wook butuh tumpangan sekarang. Sang Wook langsung mengiyakan. Seol pun berkata bahwa dirinya akan tiba 20 menit lagi. Sang Wook pun langsung loncat jingkrak2.

Bersambung ke part 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar