Skip to main content

I Have a Lover Ep 50

Sebelumnya....


ā€œAku rasa aku jatuh cinta lagi padamu.ā€ Ucap Jin Eon begitu Hae Gang menghampirinya.

ā€œAku sudah tahu.ā€ jawab Hae Gang.

ā€œBerikan tasmu.ā€ Pinta Jin Eon.

ā€œTidak mau, tas melambangkan harga diri seorang wanita.ā€ Jawab Hae Gang.

ā€œBerikan padaku. Tas wanitaku melambangkan harga diriku.ā€ ucap Jin Eon.

Hae Gang pun tersenyum, lalu memberikan tas alias keranjangnya yang berisi peralatan mandi pada Jin Eon. Jin Eon kemudian menyuruh Hae Gang menggandeng lengannya. Hae Gang pun menggandeng lengan Jin Eon, dan selanjutnya keduanya beranjak pergi menuju sauna dengan senyum terkembang.



ā€œKau akan memakai itu?ā€ tanya Hae Gang saat melihat Jin Eon sedang memilih2 baju sauna.

ā€œAku pernah memakainya dulu.ā€ Jawab Jin Eon.

ā€œTak bisa kubayangkanā€¦ā€ dan Hae Gang pun tersenyum geli, ā€œā€¦ tapi entah bagaimana tampaknya akan lucu.ā€

ā€œAwas ya kalau kau jatuh cinta padaku.ā€ Ucap Jin Eon.
 
Ajumma penjaga sauna kemudian memberitahu bahwa Jin Eon dan Hae Gang harus menitipkan  barang2 berharga mereka sebelum masuk ke sauna. Jin Eon pun langsung melirik Hae Gang dan berkata kalau mereka harus menitipkan barang2 berharga mereka.

ā€œTitipkan saja.ā€ Jawab Hae Gang.

ā€œTolong jaga barang berhargaku.ā€ Pinta Jin Eon.

ā€œBerikan saja padaku.ā€ Jawab si ajumma.


Dan, Jin Eon pun langsung menyodorkan Hae Gang sebagai miliknya yang berharga. Si ajumma langsung mengernyit heran. Hae Gang pun meminta Jin Eon berhenti bercanda. Jin Eon berkata, bahwa ia serius kalau Hae Gang miliknya yang berharga. Hae Gang pun mendengus mendengar gombalan Jin Eon itu.

ā€œKarena sudah jam lima sekarang, ayo bertemu jam setengah enam di tempat penjualan camilan di lantai sauna.ā€ Ucap Hae Gang.

ā€œJadi kita harus berpisah selama 30 menit? Itu sulit untukku. ā€œ jawab Jin Eon.


Setengah jam kemudian,  Jin Eon menghampiri Hae Gang yang sudah menunggunya di lantai sauna. Hae Gang tertawa geli melihat Jin Eon yang mengenakan kaus sauna. Jin Eon ingin tahu kenapa Hae Gang tertawa. Hae Gang pun berkata bahwa Jin Eon terlihat seperti pria paru baya untuk pertama kalinya.

ā€œAku memang pria paru baya.ā€ Jawab Jin Eon.

ā€œKukira kau benar2 pria paru baya, tapi karena alasan tertentu membuatku kesal.ā€ Ucap Hae Gang.


ā€œKau akan menangis saat aku menjadi kakek nanti.ā€ Jawab Jin Eon.

ā€œKakek Choi Jin Eon, gigi palsumu copot.ā€ ledek Hae Gang.

Jin Eon pun tertawa. Jin Eon lalu balas meledek Hae Gang.

ā€œNenek Do Hae Gang, oh, tongkatmu terjatuh.ā€ Ledek Jin Eon.

ā€œOh, tolong ambilkan. Aku harus menemukan gigi palsu Kakek.ā€ Jawab Hae Gang.

Keduanya pun kembali tertawaā€¦.



Hae Gang dan Jin Eon kini berada di dalam ruang sauna. Baru sebentar, tapi Jin Eon sudah merasa kepanasan dan ingin keluar. Sementara Hae Gang terlihat menikmati. Melihat Jin Eon yang sudah tidak tahan, Hae Gang pun menyuruh Jin Eon keluar duluan dan ia akan menyusul Jin Eon 10 menit lagi.

ā€œ10 menit? Akan kutunggu. Aku bisa menahannya.ā€ Jawab Jin Eon.

ā€œMengapa menahan? Tidak perlu.ā€ Ucap Hae Gang.

ā€œAku akan tahan. Harus. Karena dengan begitu, kita bisa terus bersama-sama.ā€ Jawab Jin Eon.



Hae Gang pun tersenyum, lalu mengelap wajah Jin Eon yang dipenuhi keringat dengan handuk kecil. Jin Eon tersenyum, lalu memejamkan matanya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Hae Gang.

ā€œKita lupa rahasia alam semesta. Seluruh benda di dunia ini akan saling tertarik satu sama lain. Jangan pedulikan orang lain dan lakukan sesukamu.ā€ Ucap Jin Eon.


Hae Gang pun tersenyum geli. Jin Eon lalu membuka matanya dan terheran2 melihat hanya ada mereka berdua di dalam sauna itu. Karena hanya ada mereka berdua di sana, Jin Eon pun menyuruh Hae Gang menciumnya. Hae Gang tersipu, kemudian mendekatkan bibirnya ke bibir Jin Eon, tapi kemudian ia tak jadi mencium Jin Eon.

ā€œAku akan melakukannya malam hari.ā€ Ucap Hae Gang.

Jin Eon kaget, apa?

ā€œNanti, saat kita cuma berdua saja.ā€ Ucap Hae Gang.

Jin Eon pun setuju.




Keluar dari ruang sana, Jin Eon dan Hae Gang duduk di lantai tempat penjualan camilan. Hae Gang mengajak Jin Eon berbelanja usai dari sauna agar mereka bisa makan malam di rumah.

ā€œItukah maumu? Kalau begitu nanti malam aku yang akan membuatkan makan malam.ā€ Jawab Jin Eon.

ā€œKau? Kau memasak?ā€ tanya Hae Gang tidak percaya.

ā€œAku bisa memanggang daging steik.ā€ Jawab Jin Eon,

ā€œBaiklah, kalau begitu nanti malam kau yang membuat makan malam.ā€ Ucap Hae Gang.

ā€œAda wine di rumah, kan?ā€ tanya Jin Eon.

ā€œKemarin aku membeli Romanee- St-Vivant 02 Vintage dan Chateau Cos d'Estournel 03 Vintage.ā€ Jawab Hae Gang.



Jin Eon lalu memberikan sikhye ice (minuman beras) pada Hae Gang, namun sebelum memberikannya pada Hae Gang, ia membuang salah satu pipetnya. Selesai Hae Gang minum, Jin Eon dengan wajah nakal nya menyeruput minumannya dengan pipet bekas Hae Gang itu.

ā€œAku ingin kau menginap nanti malam.ā€ Ucap Hae Gang, membuat Jin Eon tertegun.

ā€œTidur bersamaku nanti malam di Buamdong.ā€ Ucap Hae Gang lagi.



Namun Jin Eon diam saja dan tampak memikirkan sesuatu.

ā€œApa-apaan ini? Mengapa tidak ada jawaban? Tidurlah denganku nanti malam dan singgah ke Pyongchangdong besok pagi untuk mengganti pakaian dalam perjalanan ke kantor.ā€ ucap Hae Gang.

ā€œAh, maaf. Aku punya rencana.ā€ Jawab Jin Eon.

ā€œApa? Tapi kau akan singgah untuk makan malam, kan?ā€ tanya Hae Gang.

ā€œHasil klinis untuk obat anti virus CM 8573 sudah keluar dan mulai dari jam 11 nanti malam, aku akan melakukan konferensi video dengan Perusahaan Farmasi Schering-Plough. Jam 3 di Berlin.ā€ Jawab Jin Eon.

ā€œKapan rapatnya akan selesai?ā€ tanya Hae Gang dengan wajah kecewa.

ā€œTidak akan selesai. Kupikir akan berlangsung semalaman.ā€ Jawab Jin Eon. Hae Gang pun kecewa.

Jin Eon lantas menawari Hae Gang telur rebus. Hae Gang, entah karena sebal atau ingin mengerjai Jin Eon, mengupas telur itu setelah memukulkan telurnya ke kepala Jin Eon. Jin Eon tertawa sambil meringis kesakitan memegangi kepalanya.

ā€œApa? Kau ingin aku memecahkannya di dahimu?ā€ tanya Hae Gang.



Jin Eon pun mau membalas Hae Gang. Ia mau memukulkan telur itu ke dahi Hae Gang, tapi saat hendak memukulkan telurnya ke dahi Hae Gang, Hae Gang malah memasang muka memelas membuat Jin Eon merasa tidak tega.


ā€œMana bisa aku memukulmu?ā€ ucap Jin Eon.



Di ruangannya, Seol Ri yang sudah bersiap pulang tertegun saat melihat sepasang ikan cupang di mejanya. Kata2 seseorang pun terngiang di telinganya.

ā€œKarena tampaknya kau telah disakiti oleh seseorang. Meskipun tidak tahu pasti, tampaknya demikian. Meskipun aku tidak tahu pasti. Tampaknya kau harus terbebas darinya agar bisa membuka hatimu pada seseorang.ā€

ā€œAku ingin terbebas, Il Man-ah. Aku juga ingin menyayangi seseorang, Yi Cheon Bong-ah.ā€ Ucap Seol Ri pada sepasang ikan itu.



Seol Ri kemudian beranjak keluar. Dan diluar, ia mendengus kesal karena lagi2 bertemu Gang San yang sudah menunggunya sejak tadi. Gang San pun melambaikan tangannya ke Seol Ri dengan wajah ceria. Seol Ri yang sebal, tidak mempedulikan Gang San dan berjalan begitu saja. Gang San pun lekas berjalan di samping Seol Ri.

ā€œBukankah ini menjengkelkan? Bukankah ini mengganggu? Bukankah ini membuatmu kesal? Tuh kan, ini mungkin berakhir hanya dengan satu kencan. Semangat berubah menjadi keberanian. Keberanian berubah menjadi kegigihan. Kegigihan berubah menjadi kedengkian. Kedengkian berubah menjadi kegilaan. Menurutmu aku berada dalam tahap yang mana?ā€ tanya Gang San.


Seol Ri pun menghentikan langkahnya dan menatap sebal Gang San.

ā€œKeberanian. Kau mungkin menganggap betapa tidak tahu malu diriku ini. Sebetulnya, aku menggunakan banyak keberanian sekarang. Aku minum Cheongsimhwan (pil penenang herbal Korea) sebelum datang kemari hari ini.ā€ ucap Gang San.

ā€œKalau kau terus melakukannya, aku akan melaporkanmu.ā€ Jawab Seol Ri.

ā€œTerima saja ini. Kau tidak perlu datang, terima saja.ā€ Ucap Gang San sambil menyodorkan sesuatu seperti tiket gitu.


Tapi karena Seol Ri diam saja, akhirnya Gang San memasukkan tiket itu ke saku mantel Seol Ri.

ā€œBesok adalah ulang tahunku. Aku mengabaikan keluargaku yang ingin makan bersamaku, dan melewatkan ajakan teman-teman yang ingin minum denganku. Kuputuskan untuk menghabiskan ulang tahunku denganmu, jadi pikirkanlah. Entah datang atau tidak, karena aku bersamamu seharian, jangan terlalu khawatir. Kau bisa menonton film denganku, makan bersamaku dan hanya menghabiskan waktu sebelum pulang. Tidak begitu sulit. Coba saja. Kau bisa memulai kali kedua bersama pria lain bila mau. Sampai bertemu besok.ā€ Ucap Gang San.


Gang San kemudian beranjak pergi sambil terus menatap Seol Ri.

ā€œKau seperti kaktus. Aku ingin memberikanmu banyak air, tapi jika kulakukan, kaktus akan mati. Jadi aku tak bisa melakukannya. Setelah keberanian, semangat yang pantang mundur. Karena semangat yang pantang mundur bukan cinta, aku hanya akan berani sampai besok.ā€ Ucap Gang San.



Gang San lalu tersenyum, kemudian melambaikan tangannya pada Seol Ri dan beranjak pergi. Seol Ri tertegun menatap kepergian Gang San.



Ha Joon mengomentari Hyun Woo yang masih melajang, padahal teman Hyun Woo sudah dua kali menikah tapi Hyun Woo hanya menjadi saksi pernikahan saja. Ha Joon ingin tahu alasan Hyun Woo masih belum menikah.

ā€œHei, hei! Bukannya aku tidak bisa, tapi aku memilih tidak. Mana bisa aku menjalani seumur hidupku memandang seorang wanita saja? Aku tak bisa melakukannya.ā€ Jawab Hyun Woo.

ā€œOh, jadi itu sebabnya kau bahkan tidak mencari seorang wanita seumur hidupmu? Katakan sejujurnya. Go Unnie, kau pernah terbakar parah karena seorang wanita, bukan?ā€ tanya Ha Joon.



Sementara, Seok yang mendengar pembicaraan itu diam saja dan terlihat sedih.

ā€œPernikahan itu seperti sangkar burung. Burung di luar sangkar berjuang keras agar masuk ke dalam sangkar. Burung di dalam sangkar berjuang keras agar keluar.  Michel de Montaigne.ā€ Jawab Hyun Woo.

ā€œKau lebih pesimis dari tampangmu.ā€ Ucap Ha Joon.



ā€œPernikahan merupakan usaha memecahkan masalah bersama-sama yang bahkan tidak kau miliki saat kau sendiri. Eddie Cantor. Musuhku banyak, namun tidak ada yang sepertimu. George Gordon Byron.ā€ Jawab Hyun Woo.

ā€œKarena kau mengumpulkan, menulis dan menghapalkan kutipan demikian, itu sebabnya kau belum menikah dan dipenuhi kebencian. Robek saja buku catatan menyedihkan itu dan buang. Ada apa denganmu? Kau bukan pecundang. Daripada menghabiskan waktu mengumpulkan kata-kata seperti itu, berkencanlah dengan perempuan.ā€ Ucap Ha Joon.

ā€œAku tak bisa merobeknya. Ini buku catatan Ayahku.ā€ Jawab Hyun Woo.

Ha Joon kaget, apa?

ā€œDengan memikirkan hal itu, perkenalkan aku pada wanita. Aku kesepian karena aku ini manusia, tapi aku sangat kesepian hingga kemanusiaanku hampir hancur.ā€ Jawab Hyun Woo.



ā€œTipemu seperti apa?ā€ tanya Ha Joon.

ā€œSuzy, IU, Miranda Kerr. Aku kesepian lantaran mereka semua punya pacar.ā€ Jawab Hyun Woo.

ā€œWow! Siapa? Suzy, IU, Miranda Kerr? Itu sungguh berlebihan. Ah, kau membuat selera alkoholku hilang. Aku tidak minum ini!ā€ maki Ha Joon.

ā€œJam berapa ini? 8.48? Aku bertanya-tanya apakah lamarannya berjalan baik?ā€ ucap Hyun Woo.



Dan, Ha Joon pun langsung menatap Seok yang terlihat sedih. Seok kemudian tersenyum, dan berkata akan ikut berdiri sebagai saksi di pernikahan Jin Eon dan Hae Gang.



ā€œJika anak itu akan menikah, dan aku tidak berdiri sebagai saksi, siapa lagi? Aku tahu dia punya teman lain, tapi aku yang terdekat.ā€ Ucap Seok.

ā€œAku dapat 7 lembar. Kau harus minta sekitar 20. Kau lebih kurang sudah seperti kakaknya.ā€ Jawab Hyun Woo.

Namun, meski berusaha tersenyum, Seok tetap tak dapat menyembunyikan kesedihannya. Dan Ha Joon menyadari hal itu.



Jin Eon tampak sibuk membakar daging. Sedangkan Hae Gang menunggu di meja makan dengan wajah sebal.

ā€œSudah jam 9, kan? Sebaiknya aku cepat-cepat makan lalu pergi. Aku harus pergi selambat-lambatnya jam 10.20.ā€ ucap Jin Eon.

Hae Gang pun tambah sebal. Jin Eon lalu menyuruh Hae Gang mencicipi wine nya.

ā€œRasanya lumayan.ā€ Ucap Hae Gang.

ā€œ02 Vintage lumayan?ā€ tanya Jin Eon sambil membawakan daging steaknya ke meja.

ā€œSelalu ada apel yang busuk dalam gentong. Kau menghanguskan asparagus-nya. Kandungan gizinya mungkin sudah hilang.ā€ Jawab Hae Gang.



Hae Gang lalu menuangkan wine ke gelas Jin Eon.

ā€œHaruskah kita bersulang?ā€ tanya Jin Eon.

ā€œMengapa? Ini bukan hari istimewa. Mari minum saja.ā€ Jawab Hae Gang.

Tapi Jin Eon malah tersenyum jahil dan mendekatkan gelasnya ke gelas Hae Gang.

ā€œAku akan makan dengan baik, dengan sangat terburu-buru, karena kau harus bangkit pergi pada jam 10.20.ā€ ucap Hae Gang.

ā€œJadi, mari makan cepat-cepat.ā€ Jawab Jin Eon.



ā€œWine-nya bahkan belum bernapas.ā€ Gumam Hae Gang sebal.

ā€œApa? Aku tak bisa mendengar.ā€ Tanya Jin Eon.

ā€œBukan apa-apa. Makan saja, aku bicara pada diriku sendiri.ā€ Jawab Hae Gang.

ā€œAku tak sabar menanti besok.ā€ Ucap Jin Eon.

ā€œAku juga.ā€ jawab Hae Gang.


ā€œKita telah melalui jalan panjang hingga sampai di sini, kan? Apa yang harus kita lakukan soal pernikahan? Kau bisa lakukan sesukamu. Bahkan bisa saja di Bali atau Hawaii.ā€ Ucap Jin Eon.

ā€œMengapa lokasi begitu penting?  Mari lewatkan seremonial dan jalan-jalan saja bersama Ibu Mertua. Swiss bagus dan begitu pula Perancis Selatan. Ayo pergi di bulan April. Saat itu Alinea Avignon indah.ā€ Jawab Hae Gang.

ā€œTapi, bukankah kita menikah?ā€ tanya Hae Gang lagi.

ā€œKalau begitu, tidak?ā€ tanya Jin Eon.

ā€œLakukan saja?ā€ tanya Hae Gang.



ā€œApa? Kau ingin aku melamar atau semacamnya? Aku sudah memberitahukanmu cincinnya telah kukembalikan. Mengapa formalitas begitu penting asalkan kita siap lahir batin? Dan bukan seperti kau tidak pernah menerima cincin dari lelaki gila itu.ā€ jawab Jin Eon.



Hae Gang pun makin sebal. Jin Eon lalu mencicipi steak yang dipanggangnya dan mulai narsis.

ā€œAku tahu aku yang memanggangnya, tapi ini luar biasa. Dagingnya lumer. Seperti madu. Rasanya seperti madu. Bisa-bisa aku gila? Kapan datangnya hari esok?ā€ ucap Jin Eon.

Dan Hae Gang hanya menatapnya dengan tatapan sebal.



Selesai makan, Hae Gang menyemprotkan spray ke tubuh Jin Eon untuk menghilangkan bau Jin Eon karena memasak tadi. Habis menyemprotkan spray, Hae Gang memberikan tas dan jaket Jin Eon, kemudian mengantarkan Jin Eon ke pintu.

ā€œBerikan padaku yang kau pegang.ā€ Pinta Jin Eon.

ā€œApa yang kau bicarakan?ā€ tanya Hae Gang bingung.

ā€œMengapa kau mengayuh mundur sekarang? Tadi di Hanjin, yang kau bilang padaku, kau akan melakukannya nanti malam saat kita sendiri. Ini milikku, berikan kemari.ā€ Jawab Jin Eon.



Jin Eon lalu menutup matanya dan mendekatkan bibirnya ke Hae Gang. Hae Gang diam saja sambil menatap sebal Jin Eon. Jin Eon pun meminta Hae Gang segera melakukannya agar ia tidak terlambat menghadiri meeting. Hae Gang pun makin sebal, tapi biarpun sebal ia tetap mencium Jin Eon.

Namun tiba2 saja, Jin Eon memegang wajah Hae Gang dan mencium bibirnya. Ia tak membiarkan Hae Gang melepaskan ciuman itu. Ketika Hae Gang mulai menikmati ciuman mereka, Jin Eon malah melepaskan ciumannya.

ā€œJika kau terus-menerus melakukan hal ini, aku tak bisa pergi ke kantor. Kau membuatku tergila-gila!ā€ ucap Jin Eon.

Jin Eon lalu beranjak pergi. Hae Gang diam saja sambil menatap sebal Jin Eon.



Apakah Jin Eon langsung pergi? Tentu saja tidak, ia menunggu di mobil sambil senyum2 menatap jamnya. Tak lama kemudian, ia melihat cincinnya yang akan ia pakai untuk melamar Hae Gang.



Hae Gang sendiri baru selesai mandi. Ia masih kesal karena Jin Eon yang lebih mementingkan pekerjaan ketimbang dirinya.



Jin Eon baru turun dari mobil saat melihat lampu di dalam rumah yang sudah padam. Ia lantas masuk ke dalam rumah sambil tersenyum jahil.



Dan, Hae Gang? Dia sibuk mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Tiba2 saja, Hae Gang mematikan hairdryer nya, kemudian membuka lacinya dan melihat cincin pernikahannya yang lama. Setelah cukup lama memandangi cincinnya itu, Hae Gang pun menyematkan cincin itu di jarinya.



Tanpa ia sadari, Jin Eon diam2 masuk ke kamarnya. Hae Gang masih sibuk melihat cincinnya. Jin Eon kemudian berdiri di samping Hae Gang dan ia pun tersenyum melihat Hae Gang. Hae Gang kembali memandangi cermin. Ia terkejut saat melihat Jin Eon dari cermin.

ā€œKau mengagetkanku. Mengapa kau datang?ā€ tanya Hae Gang.

ā€œAku datang untuk mengeringkan rambutmu.ā€ Jawab Jin Eon.

Jin Eon lalu mengambil hairdryer dan mengeringkan rambut Hae Gang.

ā€œBagaimana dengan rapatmu?ā€ tanya Hae Gang.

ā€œAku menyuruh Hyun Woo menggantikan tempatku karena aku tak sabar menunggu sampai besok. Aku tidak ingin, tapi tubuhku tidak mau mendengarkanku. Aku tak bisa mengendalikan tubuhku hari ini.ā€ jawab Jin Eon.

ā€œHyun Woo akan menghadapi banyak kesulitan.ā€ Ucap Hae Gang.



Hae Gang lantas bangkit dari duduknya dan berdiri menghadap ke arah Jin Eon.

 ā€œUlurkan tanganmu.ā€ pinta keduanya kompak.

ā€œKau membeli cincin?ā€ tanya keduanya lagi.

Keduanya pun tertawa geli karena sama2 menanyakan pertanyaan yang sama.

ā€œAku dulu yang akan memasangnya.ā€ Ucap Hae Gang.



Hae Gang lalu menyematkan cincin barunya ke jari Jin Eon.

ā€œAku akan menjadi suami yang baik.ā€ Ucap Jin Eon sambil menunjukkan cincinnya.

ā€œAku juga akan menjadi istri yang baik.ā€ Jawab Hae Gang.



Jin Eon lantas menyematkan cincin itu ke jari Hae Gang, namun ia seketika terkejut melihat cincinnya yang lama sudah terpasang di jari Hae Gang. Mata Jin Eon seketika berkaca2. Ia terharu.

ā€œSiapa dia? Lelaki yang pertama menikahimu?ā€ tanya Jin Eon.

ā€œSeseorang. Seseorang yang tergila-gila padaku.ā€ Jawab Hae Gang.

ā€œIni permintaan, namun singkirkan lelaki gila itu.ā€ ucap Jin Eon.

ā€œTidak mau. Aku juga mencintai mantan suamiku.ā€ Jawab Hae Gang.



ā€œApa? Lalu bagaimana denganku? Dan cincin ini?ā€ tanya Jin Eon.

ā€œBeruntung, istrimu punya tangan lain.ā€ Jawab Hae Gang.



Jin Eon pun menyematkan cincin barunya di jari kanan Hae Gang.


Adegan berikutnya, Jin Eon melepaskan kimono Hae Gang secara perlahan2. Setelah itu, gantian Hae Gang yang melepaskan kancing kemeja Jin Eon. Jin Eon kemudian menciumi wajah Hae Gang, sebelum akhirnya keduanya saling berciuman.


Dua orang yang mabuk diantar pulang oleh supir taksi. Ha Joon memberitahu Seok bahwa mereka sudah sampai, tapi karena Seok tidak mau bangun, Ha Joon pun meminta sopir taksi membawa mereka ke kantor, lalu setelah itu kembali lagi ke rumah Seok. Sopir taksi ingin tau alasan Ha Joon menyuruhnya bolak balik begitu.

ā€œKarena dia tidur nyenyak. Jika kubangunkan, dia tidak akan bisa tidur lagi. Dia takkan bisa tidur semalaman.ā€ Jawab Ha Joon.

ā€œTampaknya tidurnya baik-baik saja.ā€ Ucap sang sopir.

ā€œItu lantaran dia mabuk. Saat sadar, dia juga akan terjaga. Dan saat dia terjaga...ā€

Sopir taksi tidak peduli. Ia memotong kata2 Ha Joon dengan menyuruh mereka keluar. Terpaksa lah Ha Joon membangunkan Seok. Seok terbangun, ia melihat sekelilingnya dan akhirnya menyadari bahwa dirinya sudah tiba di rumah.

ā€œKau jangan turun, pulanglah dengan taksi ini.ā€ suruh Seok, lalu keluar dari taksi.


Tapi Ha Joon malah ikutan turun dari taksi. Seok kemudian melemparkan tubuhnya ke halte di depan rumahnya. Seok pun berkata, menyegarkan. Amat sangat menyegarkan. Melegakan.

ā€œBangun lah. Cepat.ā€ Suruh Ha Joon.

ā€œMenyegarkan di dalam. Rasanya sangat bebas di dalam. Pergilah baik-baik. Hiduplah baik-baik.ā€ Ucap Seok.

Seok lantas melirik Ha Joon dan menyuruh gadis itu pergi. Tapi Ha Joon gak mau pergi dan ikut rebahan di samping Seok.


ā€œBolehkah aku berbaring di atas lenganmu? Kepalaku sakit lantaran tak ada daging di sana. Tolong kasihani sebelum aku beku sampai mati. Satu lengan yang akan membusuk sampai mati. Aku tidak minta kedua-duanya, satu sisi saja. Aku cuma minta satu lengan. Tak bisakah kau memberikannya?ā€ pinta Ha Joon.

Seok diam saja, ia kemudian memejamkan matanya. Tapi tak lama kemudian, ia merentangkan tangannya. Ha Joon pun senang dan langsung meletakkan kepalanya di atas lengan Seok.

ā€œDingin sekali. Mulut dan leherku mungkin mengendur. Omong-omong, sifat pemarah adikmu bukan bercanda. Di pagi hari, seseorang harus mengurus jasad kita. Aku harus menulis surat wasiatku. Aku akan minta pelayanan kremasi untuk pemakamanku. Bagaimana denganmu?ā€ tanya Ha Joon.

Tapi Seok diam saja. Ha Joon kemudian menatap ke langit yang dipenuhi bintang. Seok membuka matanya, lalu menatap Ha Joon yang tersenyum menatap langit. Seok kemudian ikut menatap ke langit.


Di kamarnya, Seol Ri termenung melihat tiket yang diberikan Gang San. Seol Ri kemudian membalik tiket itu dan menemukan fotonya di sana. Di bawah foto itu, ada tulisan tentang dirinya.

ā€œAku tak bisa melepas pandanganku. Mungkin karena kau masih cantik?ā€

Seol Ri pun tersenyumā€¦.


Jin Eon dan Hae Gang juga masih terjaga. Mereka saling berpegangan tangan, kemudian bicara. Hae Gang ingin tahu apa yang dipikirkan Jin Eon. Jin Eon berkata bahwa ia ingin tidur lagi dengan Hae Gang besok dan juga keesokan harinya.

ā€œBerhentilah bercanda. Sungguh, apa yang kau pikirkan? Kau tidak bicara dalam waktu lama.ā€ Jawab Hae Gang.


ā€œAku menghabiskan waktu 20 tahun bersamamu. Kita bisa bersama-sama selama 40 tahun lagi. Meskipun badai datang dan perahu kita tersapu, aku tidak akan karam. Sebaiknya aku tidak meninggalkan perahu dan kabur. Aku harus melindungimu sampai akhir waktu. Aku berjanji pada diri sendiri.ā€ Ucap Jin Eon.

ā€œJadi kita masih memiliki waktu 40 tahun lagi. Itu membuatku merasa sangat bersyukur dan menangis, yeobo. Orang-orang yang baik, bergandengan tangan erat di tengah-tengah orang, mari menua bersama-sama, hanya memandang pada yang kita perlukan sampai mati.ā€ Jawab Hae Gang.

Lalu kita mendengar narasi Hae Gangā€¦

ā€œJam 3 pagi, waktu cinta kami.ā€


Keesokan harinya, Hae Gang yang terbangun duluan terkejut mendapati hari sudah pagi. Ia langsung melihat ke arah jam. Sementara Jin Eon masih terlelap dalam tidurnya. Hae Gang pun menatap wajah Jin Eon dari dekat. Ingatannya seketika melayang saat Jin Eon meyakinkan Seok kalau ia adalah Do Hae Gang, bukan Dokgo Yong Gi.

ā€œHal yang kutahu dialah istriku. Wanita di sampingmu bukan Dokgo Yong Gi, dia istriku. Meskipun semua orang bilang bukan, meskipun dia berkata bukan, aku tahu, pokoknya tahu. Aku tahu. Karena dia istriku.ā€


Hae Gang pun tersenyum. Hae Gang kemudian ingat saat Jin Eon mengatakan tentang dirinya yang memiliki tahi lalat kecil di pergelangan tangan kirinya, di belakang lehernya dan di sebelah kanan bokongnya.

Ingatan Hae Gang juga melayang saat Jin Eon melarangnya makan lobster.

Flashbackā€¦

ā€œMakan saja bola-bola nasinya.ā€ Suruh Jin Eon.


Jin Eon kemudian bangkit, menjauhkan piring lobsternya dari Hae Gang. Hae Gang pun sewot.

ā€œBerikan kemari. Berikan lobsternya padaku, cepat. Mengapa kau menyingkirkannya lantaran kau ingin? Apakah sia-sia bagiku memakannya? Aku akan membayarnya.ā€

ā€œKalau kubilang jangan makan, maka tolong jangan makan.ā€ Pinta Jin Eon.

Flashback endā€¦


Hae Gang tertawa geli teringat hal ituā€¦ Ingatan Hae Gang lalu melayang ke saat Jin Eon memintanya memandang mata Jin Eon selama 30 detik saja saat mereka berada di perpustakaan.

Flashbackā€¦

ā€œKau mengenalku?ā€ tanya Hae Gang.

ā€œBagaimana denganmu? Apa kau mengenalku?ā€ Jin Eon bertanya balik.

Flashback endā€¦

Hae Gang tersenyum, ia lalu mencium bibir Jin Eon. Jin Eon yang masih terlelap itu pun tersenyum usai dicium Hae Gang.


Kata2 Jin Eon pun kembali terngiang di telinganya. Saat itu, Hae Gang yang sedang menunggu Jin Eon di depan Cheon Nyeon Farmasi baru saja menerima kiriman foto2 perselingkuhan Jin Eon dan Seol Ri. Hae Gang syok. Tak lama kemudian, Jin Eon datang. Hae Gang terduduk lemas. Jin Eon pun mencoba meyakinkan Hae Gang.

ā€œAku bahagia sekarang, karena kau ada di depan mataku, karena aku berada di sisimu. Aku cinta padamu. Dan kau mencintaiku.  Karena kita saling mencintai. Aku cinta padamu.ā€ Ucap Jin Eon.

Flashback endā€¦

Suara narasi Hae Gang pun terdengar kembali. Jam 7 pagi, waktunya cinta kita.


Seol Ri yang baru saja bangun keluar dari kamarnya sambil menguap lebar. Ia pun terperanjat saat tiba di ruang tengah, ia melihat sang kakak yang tidur bersama seorang gadis. Seol Ri lantas membangunkan kakaknya. Seok terbangun dan terkejut melihat Ha Joon yang tidur disampingnya.


Seol Ri lantas membuatkan sup untuk mereka berduaā€¦


Hae Gang sendiri tengah sibuk memasak di dapur. Dan Jin Eon, dia baru saja selesai mandi. Begitu keluar dari kamar mandi, ia mendengar Hae Gang sedang berbicara dengan seseorang di telepon.

ā€œAku ingin bak mandi biasa. Tolong buatkan pintu kabinet biasa yang serasi dengan bak mandinya. Aku tidak suka pola mencolok. Hanya gunakan 3 warna, putih, kayu alami, abu-abu pucat. Jangan terus berusaha mengisinya, hanya yang diperlukan saja. Biarkan sederhana. Jangan isi tetapi biarkan kosong.ā€ Ucap Hae Gang.

Jin Eon tersenyum. Kemudian bergumam, sangat kaku.

Jin Eon melihat2 sekeliling ruang bacanya. Ia masih speechless, tak percaya kalau dirinya dan Hae Gang sudah kembali bersama. Lalu terdengar suara Hae Gang yang memberitahu sarapan sudah siap.

Jin Eon bergegas keluar dan mendapati Hae Gang masih sibuk di dapur. Saat Hae Gang hendak mengangkat supnya, tiba2 saja Jin Eon memeluk dia dari belakang. Hae Gang pun berusaha menghentikan Jin Eon dengan berkata bahwa hari sudah pergi. Tapi Jin Eon tidak peduli dan malah berkata bahwa ia mencintai Hae Gang.

ā€œAku juga.ā€ jawab Hae Gang.

ā€œJuga apa?ā€ tanya Jin Eon.

ā€œAku cinta padamu, dangsin.ā€ Jawab Hae Gang.

ā€œAku tahu.ā€ ucap Jin Eon.

ā€œBerhentilah, sup nya akan dingin.ā€ Pinta Hae Gang.

ā€œDaripada ke meja, tak bisakah kita pergi ke tempat tidur?ā€ tanya Jin Eon.

ā€œTidak bisa. Kau harus bergegas menyantap sarapanmu dan pergi bekerja, yeobo.ā€ Jawab Hae Gang sambil membawa sup nya ke meja makan.


Jin Eon pun menyusul Hae Gang ke meja makan dan memandangi masakan Hae Gang.

ā€œPagi seperti ini akan datang besok, dan keesokan harinya, dan setiap hari, kan?ā€ tanya Jin Eon.

ā€œMungkin. Tidak, tanpa keraguan, tentunya setiap hari.ā€ Jawab Hae Gang.
Keduanya pun mulai menyantap sarapan pagi mereka. Sambil makan, Hae Gang berkata kalau ia ingin bekerja lagi sebagai manajer di kantor Seok, itu pun kalau Jin Eon mengizinkannya.

ā€œApa? Di mana? Manajer Kantor?ā€ tanya Jin Eon.

ā€œJika kau mengizinkan.ā€ Jawab Hae Gang.

ā€œMengapa di sana?ā€ tanya Jin Eon.

ā€œBanyak pekerjaan, namun tidak cukup tangan. Mereka mengambil banyak kasus yang tidak mau diambil tempat lain. Seok tidak bisa menolak orang-orang tidak mampu, dan aku ingin membantu yang tidak mampu.ā€ Jawab Hae Gang.


ā€œBagus. Arti dan niatmu semuanya bagus, tapi seorang istri dengan pacar, aku sangat tidak menyukainya.ā€ Ucap Jin Eon.

ā€œKami hanya berteman. Teman baik seperti Hyun Woo bagimu.ā€ Jawab Hae Gang.

ā€œApakah Hyun Woo seorang wanita? Pernahkah dia mencintaiku?ā€ tanya Jin Eon.

ā€œSekarang kau juga tahu Seok. Seperti apa orangnya.ā€ Jawab Hae Gang.

ā€œAku tahu. Dia 10 kali lebih baik dariku. Dan dia memiliki hati yang besar dan dalam, aku tahu. Aku tahu sangat baik seperti apa matanya ketika dia memandangmu di kantor. Dia juga memahamimu jauh lebih baik dariku. Kau tersenyum di depanku namun menangis di depannya.ā€ Ucap Jin Eon.


ā€œKami tidak akan melakukannya lagi. Seok tidak dan aku juga tidak.ā€ Jawab Hae Gang.

Jin Eon pun makin sewot, apa? Kami? Kau bilang kami? Kami apa? Dengan siapa kau berkami2?ā€

ā€œKau mengajak berkelahi karena ucapanku?ā€ tanya Hae Gang.

ā€œAku tidak mengajak berkelahi karena ucapanmu, aku menangkap pikiranmu.ā€ Jawab Jin Eon.

ā€œKalau begitu daripada berkata kami. haruskah aku berkata, kau?ā€ tanya Hae Gang.

ā€œTidak usah. Kalau begitu aku akan berpacaran juga. Seorang pacar seperti si Cahaya.ā€ Jawab Jin Eon.

ā€œApa? Membuat apa? Pacar?ā€ tanya Hae Gang.


ā€œMengapa? Kau boleh tapi aku tak boleh? Aku akan tinggal di rumah pacar selama 4 tahun dan menempel padanya selama 24 jam dalam sehari.ā€ Jawab Jin Eon.

ā€œSiapa yang pergi ke luar negeri selama 4 tahun bersama wanita lain? Siapa yang membopong wanita lain di punggung, bersiul untuknya?ā€ sewot Jin Eon.

ā€œMengapa membawa-bawa itu?ā€ tanya Jin Eon.

ā€œKau yang mulai!ā€ jawab Hae Gang.

ā€œKarena aku memulai, kau harus mengikuti?ā€ ucap Jin Eon.

ā€œKalau begitu tidak boleh, padahal aku mendapatkan kecurigaan yang kekanak-kanakan darimu?ā€ jawab Hae Gang.

ā€œApa? Kekanak-kanakan? Oke, baiklah. Memang benar aku kekanak-kanakan. Baik, lakukan sesukamu. Jadilah manajer kantor Baek Seok.ā€ Ucap Jin Eon.

Hae Gang makin kesal, tapi ia memilih pergi ketimbang meladeni Jin Eon. Saat Jin Eon memanggilnya, menyuruhnya makan, ia mengomeli Jin Eon yang meneteskan air kemana2. Hae Gang lalu masuk ke kamarnya. Jin Eon menghela napas kesal.

Suara narasi Hae Gang kembali terdengar, Jam 8 di pagi hari, waktunya cinta kita.


Jin Ri dan Nyonya Hong tampa kaku di meja makan. Nyonya Hong membuka pembicaraan dengan menanyakan apa kata pengacara.

ā€œIni intimidasi kriminal. Jika mereka ingin, mereka bisa menuntutku karena menghambat polisi menjalankan tugasnya.ā€ Jawab Jin Ri.

Nyonya Hong kaget, Apa? Kalau begitu kau juga? Kau akan dipenjara juga?

ā€œKatanya dia akan menangani sidangnya dengan baik dan membebaskanku dengan hukuman percobaan. Katanya dia percaya diri. Firma hukumnya bukan perusahaan swasta kecil. Firma itu merupakan perusahaan hukum tempat banyak pengacara datang dari kantor-kantor pengadilan.ā€ jawab Jin Ri.


ā€œKau belum memberitahu Hae Gang kau bersalah, kan?ā€ tanya Nyonya Hong.

ā€œSama saja kami berdua.ā€ Jawab Jin Ri.

ā€œApanya yang sama? Kok bisa sama? Kau kejam pada orang lain namun terlalu bermurah hati pada dirimu? Bagaimana bisa kau begitu tidak menyesal seumur hidupmu? Meskipun kau menderita karena tsunami seperti itu, kau masih saja keras kepala dan kaku. Bertekuk, merunduk sedikit, dan berpaling melihat ke sekitarnya.ā€ Ucap Nyonya Hong.

ā€œBeginilah caraku bertahan, cara melindungi diriku agar aku tidak hancur.ā€ Jawab Jin Ri.

ā€œSeharusnya kau yang mengidap demensia bukan diriku. Seharusnya kau yang menderita amnesia bukan Hae Gang.ā€ ucap Nyonya Hong.


ā€œApakah kau benar-benar akan tinggal di Buamdong? Kalau begitu, aku akan tinggal di sini sendirian?ā€ tanya Jin Ri.

ā€œApa? Kau juga tidak menyukaiku. Kau tak tahan hidup serumah denganku.ā€ Jawab Nyonya Hong.

ā€œBagaimana kau akan tinggal di rumah mungil itu bersama-sama? Mengapa kau ingin berjingkat-jingkat di sekitar menantumu di usiamu?ā€ tanya Jin Ri.

ā€œMereka akan menambahkan kamar untuk Perawat Sohn dan aku.ā€ jawab Nyonya Hong.

ā€œYa, kau memiliki anak menantu baik.ā€ Ucap Jin Ri.

ā€œHaruskah kujual rumah ini?ā€ tanya Nyonya Hong.

Jin Ri ingin tahu alasannya.


ā€œRumah ini mengingatkanku pada ayahmu dan mengingatkanmu pada suamimu. Saat sidangnya selesai, hiduplah di Amerika dan dukung anak-anakmu.ā€ Jawab Nyonya Hong.

ā€œAku tak bisa pergi meninggalkan suamiku sendiri.ā€ Ucap Jin Ri.

ā€œHukumannya seumur hidup. Dia tak bisa dibebaskan. Kedengarannya ucapan kejam yang diarahkan pada Menantu Min, tapi katanya bila dia tidak terkait langsung denganku, jaraknya sejauh 240 mil dariku. Kupikir kau harus bertemu lelaki baik dan memulainya kembali. Meskipun kadang-kadang pikiranku tidak waras dan lebih sering pikiranku kosong daripada jernih, asalkan pikiranku jernih, aku akan membiarkanmu hidup mengurusnya di penjara. Urusan Jin Eon sudah beres. Aku harus melihatmu hidup dengan baik. Dengan begitu aku bisaā€¦ā€

ā€œā€¦ Akhir-akhir ini, kau terus terpikirkan. Aku terus melihat dan memikirkanmu. Sebelum terlelap, bukan Jin Eon yang kupikirkan, dirimu. Apakah tidurmu lelap atau apakah kau tidak bisa tidur? Kau tak bisa tinggal sendirian di rumah ini. Saat cuaca lebih hangat, mari mencari rumah untuk kau tinggali. Mari cari vila di Cheongdam-dong dan kau bisa tinggal di sana. Bukan di kota namun tenang.ā€ Ucap Nyonya Hong.

ā€œMari cari rumah baru dan hidup bersama.ā€ Ajak Jin Ri, dengan suara bergetar.

Nyonya Hong kaget, apa?

ā€œAku tak mau hidup sendiri! Teruslah hidup bersamaku, Ibu Ti...ā€

ā€œAku mengidap demensia.ā€

ā€œKita memiliki Perawat Sohn. Perawatan Ibu Ti..., aku akan minta Perawat Sohn dan menantumu agar menanganinya. Aku hanya mengawasinya untuk melihat apakah mereka mengerjakan tugas dengan baik merawat ibu atau tidak. Asal tahu saja, dan jangan bawa-bawa Buamdong mulai sekarang. Ibuā€¦ā€


Jin Eon~Hae Gang duduk saling membelakangi. Mereka masih belum saling bicara. Tak lama kemudian, Hae Gang mengajak Jin Eon bicara. Hae Gang berkata bahwa ia tidak akan bekerja di kantor Seok.

ā€œPergilah kerja di kantoran. Aku kelewatan.ā€ Jawab Jin Eon.

ā€œAku bilang tidak.ā€ Ucap Hae Gang.

ā€œAku menyuruhmu pergi.ā€ Jawab Jin Eon.

ā€œAku tidak mau.ā€ ucap Hae Gang.

ā€œKau akan keras kepala lagi?ā€ tanya Jin Eon.

ā€œLalu mengapa kau bicara dengan memunggungiku?ā€ jawab Hae Gang.

ā€œKau juga memunggungiku.ā€ Ucap Jin Eon.

ā€œHaruskah aku pergi ke sana?ā€ tanya Hae Gang.

ā€œTidak, jangan kemari. Aku akan pergi ke sana.ā€ Jawab Jin Eon.

Jin Eon pun bangkit dari duduknya, dan ia kemudian beranjak mendekati Hae Gang. Hae Gang menatap Jin Eon. Jin Eon pun memeluk Hae Gang.

ā€œSudah jam 10. Kau terlambat, dangsin.ā€ Ucap Hae Gang.

ā€œKau tidak marah lagi?ā€ tanya Jin Eon.

ā€œTidak, bagaimana denganmu?ā€ sahut Hae Gang.

ā€œAku sudah mengatasinya.ā€ Jawab Jin Eon.

ā€œAku akan mengantarkanmu pergi. Ayo keluar.ā€ Ucap Hae Gang.


ā€œHaruskah aku main hooky sepulang kerja?ā€ tanya Jin Eon.

ā€œAku berencana menonton film bersama Ibu Mertua. Setelah mengantarkanmu pergi, aku pergi ke Pyeongchang-dong.ā€ Jawab Hae Gang.

ā€œAku mau ikut.ā€ Ucap Jin Eon.

ā€œLalu pekerjaanmu?ā€ tanya Hae Gang.
ā€œAku akan cepat-cepat pergi ke kantor, memeriksa makalah, lalu pergi ke Pyeongchang-dong.ā€ Jawab Jin Eon.


Hae Gang pun mengantar Jin Eon keluar. Tapi setibanya di luar pagar, bukannya langsung masuk mobil, si Jin Eon malah memandangi Hae Gang.

ā€œAku bersalah.ā€ Ucap Jin Eon.

ā€œAku sudah menyuruhmu melupakan. Aku memintamu agar menghapusnya.ā€ Jawab Hae Gang.

ā€œAku yang salah, yeobo.ā€ Ucap Jin Eon.

Dan Hae Gang pun langsung mengecup bibir Jin Eon.

Suara narasi Hae Gang kembali terdengar, Jam 10 pagi, waktunya cinta kita.


Jin Ri menjenguk Tae Seok di penjara. Tae Seok langsung menanyakan surat cerai begitu bertemu Jin Ri. Jin Ri pun berkata bahwa ia tidak membawanya.

ā€œKumohon, Jin Ri-ya. Aku mohon. Itulah satu-satunya hal yang bisa kulakukan untukmu dari dalam sini. Hal terakhir yang bisa kulakukan untukmu sebagai suamimu. Meskipum bukan hal yang bisa kulakukan, biarkan aku melakukannya. Dengan begitu aku bisa tahan. Begitulah caraku menyesuaikan diri dengan kehidupan di dalam sini. Aku harus melepaskan segalanya. Aku harus menyerahkan semua agar aku bisa memulai hidup baru di sini. Tempat ini sangat aneh. Seorang penjahat dengan hukuman mati mendaftarkan diri di perguruan tinggi dan belajar online. Seorang penjahat dengan hukuman seumur hidup menjadi penata rambut hingga ia latihan siang dan malam. Salah seorang bahkan menjadi teknisi kejuruan. Hal-hal yang dikerjakan orang-orang di sini. Namun ketika aku melihat mereka, membuatku tenang. Kupikir aku bisa hidup di sini. Makhluk menyedihkan itu hidup baik.ā€ Ucap Tae Seok.


ā€œKau juga harus belajar sesuatu.ā€ Jawab Jin Ri.

ā€œAku akan belajar. Mereka mengajari apa saja dan segala hal. Bahkan ada paduan suara. Selagi kita membicarakannya, haruskah aku mulai dengan paduan suara? Bukankah itu lucu? Jika kupelajari semuanya satu demi satu, setahun, 2 tahun, 10 tahun, 20 tahun. Waktu akan berlalu, kan? Aku tak mau kau harus memiliki waktuku yang bergerak pelan.ā€ Ucap Tae Seok.

ā€œAku tak bisa melakukannya. Aku tak bisa melakukan hal itu. Aku bahkan tak tahu alasanku tak bisa. Bukannya aku merindukanmu setengah mati. Aku juga tak pernah mendapatkan cintamu. Aku juga tidak tahu mengapa seperti ini. Mungkin aku merasa dicintai olehmu belakangan ini. Karena baru pertama kalinya dalam pernikahan kita kau tulus padaku. Karena kau peduli padaku, kau memikirkanku dulu. Pasti aku seperti itu.ā€ jawab Jin Ri.


ā€œKau bodoh? Kau tak punya kepercayaan diri? Rasa hormat pada diri sendiri?ā€ tanya Tae Seok.

ā€œKetika sulit bertemu seperti ini, saat datang kemari bukan kebahagiaan, melainkan neraka... Baiklah. Aku akan membawa surat cerainya nanti. Karena aku masih ingin bertemu denganmu sampai-sampai aku datang. Sejak hidup denganmu, baru pertama kali ini aku merindukanmu.ā€ Jawab Jin Ri.


Keduanya mulai berkaca2ā€¦ Lalu kemudian, petugas datang hendak membawa Tae Seok kembali ke sel. Tae Seok pun menghapus air matanya dan segera pergi. Jin Ri pun berteriak, ia berkata bahwa ia akan datang lagi.

ā€œAku akan datang besok! Aku akan datang besok! Kau akan mati di tanganku jika menolak menemuiku seperti waktu itu.ā€ ucap Jin Ri.

Nyonya Hong dan Hae Gang tak berkedip melihat Yoo Ah In di layar bioskop. Melihat bagaimana cara Hae Gang menatap Yoo Ah In di layar, Jin Eon pun cemburu. Ia bergumam, mengungkapkan kecemburuannya. Dan Nyonya Hong pun langsung menyuruhnya diam, membuat ia sebal dan memilih tidur di kursinya.


Keluar dari gedung bioskop, Nyonya Hong dan Hae Gang sibuk memuji ketampanan Yoo Ah In. Jin Eon yang mendengarkan pembicaraan ibu dan istrinya di belakang hanya bisa terdiam. Nyonya Hong lalu mengajak Hae Gang mengambil pamphlet Yoo Ah In.

ā€œYoo Ah In. Hebat sekali!ā€ puji Nyonya Hong.


Hae Gang pun ikut2an memuji ketampanan Yoo Ah In.

Hae Gang lalu menanyakan pendapat Jin Eon tentang film yang mereka tonton tadi. Nyonya Hong pun langsung memberitahu Hae Gang bahwa selama filmnya diputar, Jin Eon tertidur. Nyonya Hong pun mengomel, ia berkata bahwa itu sangat memalukan.

Nyonya Hong lalu menyuruh Jin Eon membelikannya teh. Hae Gang pun ikut memesan teh pada Jin Eon. Nyonya Hong dan Hae Gang lalu mencari tempat duduk. Tanpa mereka sadari, Seol Ri duduk tak jauh dari tempat mereka duduk.


Jin Eon kemudian pergi ke meja counter. Di sana, Gang San sedang memesankan minuman untuk siapa lagi kalau bukan untuk Seol Ri. Gang San kemudian berteriak pada Seol Ri, menanyakan minuman yang diinginkan Seol Ri. Seol Ri pun berteriak, memberitahukan minuman yang diinginkannya. Jin Eon tertegun mendengar suara Seol Ri. Usai memesan minuman, Gang San pun langsung menghampiri Seol Ri.

ā€œAku akan ke kamar kecil.ā€ Ucap Seol Ri begitu Gang San datang. Tapi Gang San tiba2 saja menahan langkah Seol Ri dengan memegang lengan Seol Ri.


ā€œApa?ā€ tanya Seol Ri.

ā€œKau tidak akan pergi begitu saja, kan?ā€ tanya Gang San.

ā€œKalau aku pergi begitu saja, aku tidak akan datang. Aku akan menghancurkan khayalanmu akan diriku sepenuhnya, jadi jangan khawatir.ā€ Jawab Seol Ri.


Seol Ri pun beranjak pergi. Jin Eon tersenyum ke arah keduanya.


Di toilet, gantian Hae Gang yang bertemu Seol Ri. Tak ada lagi perseteruan diantara mereka. Kedua wanita ini saling menyapa. Seol Ri tampak segan pada Hae Gang. Seol Ri lalu mengaku bahwa ia ingin menjenguk Hae Gang di penjara, namun ia tak memiliki keberanian.

ā€œTidak apa-apa.ā€ Jawab Hae Gang.

ā€œKau kelihatan tenang.ā€ Ucap Seol Ri.

ā€œYa, aku tenang.ā€ Jawab Hae Gang.

ā€œAku hidup dengan giat. Jangan khawatir.ā€ Ucap Seol Ri.

ā€œAku dengar dari Seok. Kau cukup populer di kalangan mahasiswa.ā€ Jawab Hae Gang.

ā€œBerbahagialah. Aku bersungguh-sungguh.ā€ Ucap Seol Ri.

ā€œKau juga. Aku juga bersungguh-sungguh.ā€ Jawab Hae Gang.

Seol Ri pun beranjak pergi, namun sebelum pergi ia membungkukkan kepalanya, memberi hormat pada Hae Gang.

Setibanya diluar, Seol Ri tampak mencari2 seseorang. Gang San pun bingung dan langsung bertanya siapa yang dicari Seol Ri. Seol Ri pun berkata bahwa ia tidak mencari siapapun, lalu bertanya jam berapa sekarang karena filmnya akan dimulai jam 6 nanti.

ā€œJam 5.47.ā€ jawab Gang San.

ā€œKita di bioskop 8, kan? Ayo ke sana.ā€ Ucap Seol Ri, lalu pergi duluan.

Gang San pun tertegun, Uri? Gang San lalu mengejar Seol Ri.

ā€œUri? Kau bilang uri?ā€ tanya Gang San pada Seol Ri. Seol Ri hanya tersenyum.

Tepat saat itu, Hae Gang datang dan ikut bahagia melihat keduanya.

Gang San yang senang karena Seol Ri mulai menerimanya pun langsung menarik Seol Ri dengan penuh semangat dan mengajak Seol Ri menuju bioskop.


Hae Gang pun kembali ke mejanya. Di sana, suami dan ibu mertuanya sudah menunggunya.

Suara narasi Hae Gang terdengar lagi.

ā€œJam 6 malam, waktunya cinta kami.ā€


Malam harinya, Jin Eon dan Hae Gang duduk teras rumah sambil menatap ke arah langit.

ā€œMenurutmu dia mengawasi?ā€ tanya Jin Eon.

ā€œMungkin.ā€ jawab Hae Gang.

ā€œMenurutmu apa yang dia pikirkan?ā€ tanya Jin Eon.

ā€œUri appa, uri eomma.  Ibu dan Ayahku sudah pulang kembali. Ibu tidak membenci Ayah. Ayah tidak membenci Ibu. Mereka tidak bertengkar gara-gara diriku. Mereka masih sangat mencintaiku. Mereka benar-benar merindukanku. Mereka sangat merindukanku.ā€ Jawab Hae Gang.


Tangis keduanya lantas pecah. Dan Jin Eon pun memeluk Hae Gang dengan erat.

ā€œAku rindu padanya. Aku benar-benar rindu padanya, yeobo. Eun Sol, aku sangat merindukannya.ā€ Ucap Hae Gang.


Keesokan harinya, Hae Gang yang terbangun duluan terkejut mendapati hari yang sudah pagi. Hae Gang melirik jam, dan ia pun langsung membangunkan Jin Eon begitu menyadari jarum jam sudah menunjuk ke angka sembilan.

ā€œAku terlambat, dan kau juga terlambat. Cepat bangun! Aku akan mandi dan pergi. Tidak ada sarapan jadi beli saja dalam perjalananmu!ā€ ucap Hae Gang, lalu bergegas ke kamar mandi.


Jin Eon yang masih mengantuk itu pun terpaksa bangun. Terdengar suara Hae Gang yang sedang berbicara dengan Seok di telepon. Dengan mata masih tertutup, Jin Eon pun mengomentari kata2 Hae Gang pada Seok.

ā€œAku akan berpakaian sekarang, Seok-ah.ā€ Ucap Hae Gang.

ā€œKalau ada yang dengar, mereka menganggapmu tidak berpakaian.ā€ Jawab Jin Eon.


Dengan tergesa2, Hae Gang keluar dari rumahnya. Jin Eon pun memanggil Hae Gang, menyuruhnya untuk sarapan. Jin Eon tidak peduli saat Hae Gang mengaku sudah terlambat. Ia memaksa Hae Gang sarapan dan membawanya duduk ke bangku taman. Sambil mengenakan kaus kakinya, Hae Gang menggigit apel yang disodorkan Jin Eon ke mulutnya.

ā€œHaruskah aku duduk sebentar sebelum pergi?ā€ tanya Hae Gang.

Dan Jin Eon pun langsung merentangkan tangannya. Hae Gang menyenderkan kepalanya di bahu Jin Eon. Sambil memeluk Hae Gang, Jin Eon berkata tidak baik bagi kesehatan kalau melewatkan sarapan.

ā€œTubuhmu bukan milikmu.ā€ Ucap Jin Eon.


ā€œMilikku.ā€ Seru keduanya.

ā€œKau juga tahu.ā€ ucap Jin Eon.

Dan Hae Gang pun tersenyum. Jin Eon lalu kembali menyodorkan apel ke mulut Hae Gang.

Suara narasi Hae Gang kembali terdengar.

ā€œJam 9.59 pagi, saatnya cinta kita yang akan kita ingat selama-lamanya. Kami masih memiliki sisa 40 tahun untuk saling mencintai.ā€


TAMAT!!!!

Comments

  1. Ini salah satu Drama Korea yg nggak bosen ditonton berulang ulang. Ceritanya bagus, Pemainnya keren keren. Hmmm.. kapan ya Indonesia bikin sinetron yang ceritanya kuat seperti ini.. karakter favorit saya dr Seok biar nongol di beberapa episode, tapi dia paling lucu dan keren. Gumawo sinopsisnya, akan saya baca lagi kalo kangen..

    ReplyDelete
  2. Ceritanya berakhir dengan bahagia....saya suka.

    ReplyDelete
  3. Engga bisa bosan nonton serial ini mskpn uda berulang kali. Cinta yg semakin mendalam dan kuat antara DoHaeGang dan ChoiJinEon justru stlh menghadapi ujian yg bertubi2. I really love each episode.. Love so much the great n wonderful chemistry between KimHyunJoo & JiJinHee. Hope to see their 3rd-collaboration in other drama again very2 soon. Really2 can't wait

    ReplyDelete
  4. Benar benar drama yg bagus. Aku menonton bahkan membaca sinopsisnya berulang kali. Dan aku tetap saja menangis.

    ReplyDelete
  5. Yang paling lucu menurutku adalah Hyun Woo sohib kentalnya Jin Eon

    ReplyDelete
  6. mereka sangat romantis. trimakasih sinopsisnya sangat bagus, membaca seperti menonton drama ny langsung.

    ReplyDelete
  7. Trm ksh sinopsisx bagus..jd benar2 sprti sdh nonton lgsg

    ReplyDelete
  8. kangen ama film ini balik lg ke blog ini.. thanks for the synopsis.. ini drama terpanjang yg pernah saya ikuti tanpa skip 1 episode pun.. semangat bikin sinopsis drama lainnya ya..

    ReplyDelete
  9. Walopun udah nonton filmnya berkali kali,tetep aja nyari sinopsisnya,thanks ya....

    ReplyDelete
  10. Walopun udah nonton filmnya berkali kali,tetep aja nyari sinopsisnya,thanks ya....

    ReplyDelete
  11. Kisah cintanya terlalu alay (menurut saya) kesannya bukan romantis lagi, tp malah alai

    ReplyDelete
  12. Kisah cintanya terlalu alay (menurut saya) kesannya bukan romantis lagi, tp malah alai

    ReplyDelete
  13. ji jin hee oppa , kim hyun joo unnie ... šŸ˜šŸ˜šŸ˜šŸ˜

    ReplyDelete
  14. Gara-gara nonton the miracle we met, jadi kangen Hae Gang. Akhirnya baca sinopsis ini lagi. Gomawo, eonni šŸ˜Š

    ReplyDelete
  15. G sabaran nonton di tv, akhir ny baca ini ... Haha

    ReplyDelete
  16. Aku suka kata" jin Ri. Ironis banget kata"nya, tapi sumpah deh di awal dramanya setiap nonton saya pasti nangis & benci melihat jin Eon.

    ReplyDelete
  17. One of the great drama that I love more and more....

    ReplyDelete
  18. saya banyak donlot drakor. tapi klo pas pengen nonton drakor lagi2 akhirnya ngikutin choi jin eon sama do hae gang. dan klo nonton drakor lain (yg baru2 terutama) susah dapet feel dramanya. trus nyetel lagi deh i have a lover. untuk drakor tahun 2015 masih ada crita amnesia , kembar kepisah, konflik perusahaan keluarga, selingkuh, kayaknya terlalu sinetron banget. drakor lain udah pake tema baru dan variatif. tp entah kenapa merasa klik ngikutin 50 episode drakor ini.
    chemistry hero <3 heroin kuat banget.dan akting masing2 pemain bagus. dialognya hidup. saya langsung suka sama konversasi do hae gang nglabrak seol ri. ngga pake jambak2an, perang verbal yg seru. walopun ada juga siy akhirnya , writernimnya paling ga tahan ngasi adegan nampar sama ngguyur air segala. tapi lagi2 saya setuju scene do hae gang nampar choi jin eon sama kang seol ri. semua peran diberi latar belakang yg bikin mafhum dan jadi bersimpati sama masing2 tokoh. cuma yg kurang dieksplor do hae gang sama dokgo yong ki. menurut saya perlu diberi ruang interaksi buat mereka. dan saya yg ga jeli sampai agak lama di episode awal nyadar klo mereka kembar. dan masi ragu sedikit. habis selain profil luar dibuat beda, kim hyun joo emang paling bisa meranin do hae gang yg ratu es, do hae gang yg jadi dokgo yongki, plus dokgo yongki yg asli.
    haduh panjang bingit ya. terakhir saya ngarep banget kim hyun joo milih peran karakter yg lebih kompleks. dan semoga bisa main lagi sama ji jin hee. #salam

    ReplyDelete
  19. Trimakasih banyak... sinopsis ini sanagat sangat sangat membantu untuk aku yg pengen berhenti nonton karna wasting time, tp udh terjebak di episode 13 dan penasaran endingnya... sukses selalu buat kmu

    ReplyDelete
  20. Saya baru nonton skrng di magna tv.
    Krn sy sbnrnya nggak begitu suka drakor, nggak pernah bela2in download atau streaming. Nonton yg diputar di tv aja. Dan ini satu2nya drakor yg bikin sy baper krn gampang dicerna ceritanya tp gemes jg knp episode nya lamaaaa bgt. Mampur kr blog ini krn penasaran sama akhir ceritanya šŸ˜„šŸ˜„

    ReplyDelete
  21. mampir ke blog ini karena panasaran episode selanjutnya jadinya pas nonton sdh tau jalan ceritanya . haha terimakasih

    ReplyDelete
  22. Maksih ya min, tamat deh bacanya..

    ReplyDelete
  23. Thanks mimin....... Baca ny brasa nonton šŸ„°

    Tp agak cape ama rumah tangga mereka
    Bentar marahan..... Bentar lg baikan šŸ˜€

    ReplyDelete
  24. Salut sama mbaknya meskipun pernah di hianati tapi masih mau menerima suaminya kembali

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Ruby Ring Ep 93 Part 2

Sebelumnya... Dongpal dan Jihyeok yang berseragam militer, sedang menata restoran sesuai arahan Chorim. Tapi kemudian, Dongpal sebal karena Chorim menyuruh mereka menggeser meja kesana kemari. Chorim pun jadi sewot. "Kau ingin aku yang sedang hamil melakukan ini!" Jihyeok tertawa melihat perdebatan orang tuanya. Daepung lantas keluar dari dapur. Ia menghentikan pertengkaran itu dan mengaku, akan mengangkat meja itu sendirian. Tapi karena mejanya berat, Jihyeok dan Dongpal langsung membantu Daepung. Geum Hee tiba-tiba datang, mengejutkan Chorim. Geum Hee membawakan sebuket bunga untuk Chorim. "Kudengar kau hamil. Jadi kubawakan bunga ini. Bunga ini bagus untuk kehamilan. Kuharap anakmu secantik bunga ini." ucap Geum Hee. Daepung lantas mengajak Geum Hee pergi. "Jihyeok-ah, apa yang terjadi?" tanya Chorim. "Paman Daepung jatuh cinta. Dia ingin menikah jadi dia bekerja keras." jawab Jihyeok. Mendengar Geum Hee c...

I Have a Lover Ep 8

Sebelumnya <<< Hae Gang keluar dari sebuah ruangan. Ia berjalan di koridor kampus sambil memikirkan percakapannya dengan seseorang. "Jin Eon adalah putra pemilik Perusahaan Farmasi Cheon Nyeon? Anak itu, dia tidak memberitahukan saya. Jika saya mengeluarkan Kang Seol Ri dari tim penelitian kami, apakah itu akan memuaskan?"   Flashback.... Ketika Hae Gang sedang berbicara dengan Direktur Kampus.  "Ya. Sebagai imbalan, penelitian yang sedang anda kerjakan, akan didukung Perusahaan Farmasi Cheon Nyeon. Sampai tahun 2015, satu juta per tahun." jawab Hae Gang. "Saya akan melakukannya. Tidak sulit bagi saya melakukannya." ucap Direktur Kampus. Flashback end Hae Gang lalu keluar dan berjalan di taman kampus. Saat itulah ia melihat Seol Ri berjalan keluar dari kampus dan menuju ke arah lain. Hae Gang menatap dingin Seol Ri . Seol Ri tidak melihat Hae Gang dan terus berjalan ke bangku taman. Hae Gang masuk ke lab Jin Eon...