Thursday, March 24, 2016

I Have a Lover Ep 15 Part 2

Sebelumnya <<<



Di ruangannya, Jin Eon tengah memikirkan sesuatu sampai-sampai ia tak menyadari Manajer Byeon yang masuk ke ruangannya. Manajer Byeon datang membawakannya makanan. Manajer Byeon lantas menatap Jin Eon dengan tajam sambil bertanya-tanya bagaimana caranya agar ia mengetahui apa yang dipikirkan Jin Eon. Manajer Byeon kemudian mengumpat-ngumpat karena harus masuk ke kantor di Hari Minggu.

Jin Eon lalu berbalik dan terkejut menatap Manajer Byeon. Manajer Byeon langsung memasang tampang manis dan berkata dirinya membawakan makanan untuk Jin Eon. Namun Jin Eon menyuruh Manajer Byeon makan sendiri karena ia mau pergi. Manajer Byeon pun mengejar Jin Eon, namun langkahnya terhenti karena makanannya jatuh. Bersamaan dengan itu, Tae Seok juga keluar dari ruangannya. Ia pun tertegun melihat Jin Eon.

“Apa yang akan kau lakukan di kantor hari libur begini?” tanya Jin Eon.

“Bagaimana denganmu? Apa kau akan pulang ke rumah?” tanya Tae Seok balik.

“Tidak.” Jawab Jin Eon, “… lalu kau sendiri?”

“Aku akan makan malam dengan adikku.” Jawab Tae Seok.


Jin Eon dan Tae Seok pun naik lift bersama. Begitu lift hendak menutup, Manajer Byeon pun datang dan masuk ke lift. Namun, Jin Eon menyuruh Manajer Byeon naik ke lift yang berbeda. Tae Seok dan Manajer Byeon pun terkejut. Jin Eon lalu berkata ada sesuatu yang ingin dikatakannya pada Tae Seok. Manajer Byeon dan Tae Seok pun saling berpandangan. Tae Seok lalu menyuruh Manajer Byeon pergi.

“Kenapa kau berbohong tentang Hae Gang yang berada di China? Alamat dan nomor telepon yang kau bilang akan kau berikan padaku juga palsu?” tanya Jin Eon.

Tae Seok pun langsung menelan ludahnya. Wajahnya terlihat tegang.

“Bagaimana kau tahu?” tanya Tae Seok.

“Siapa yang menghapus catatan Hae Gang dan kenapa? Apa ayah yang melakukannya? Jika bukan, apa kau yang melakukannya? Kenapa kau melakukan sampai sejauh itu?” ucap Jin Eon.

Tae Seok menatap Jin Eon dengan tegang.

“Jawab aku.” Pinta Jin Eon.

Tae Seok lalu mengalihkan pandangannya dan berkata Hae Gang menghilang tanpa jejak. Tae Seok lalu kembali menatap Jin Eon dan mengakui ia yang menghapus catatan Hae Gang atas perintah Presdir Choi.

“Dia bercerai darimu dan rumor aneh mungkin berkembang karena dia menghilang. Kau tahu kan Cheon Nyeon Farmasi sangat menjaga nama baik? Selama ini, kau mencarinya, apa kau menemukan sesuatu?”

“Tidak.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan?”

“Jika dia menghilang, kita harus mencarinya. Temukan dia dan bawa dia ke tempatnya.”


Hae Gang sedang menemani salah satu pasien korban pudoxin yang ditolak oleh Baek Seok. Pria itu meminta maaf karena meminta Hae Gang datang pagi-pagi. Hae Gang berkata ia penasaran apakah pria itu sudah mendapatkan pengacara yang lain. Pria itu pun berkata ia tidak memiliki bukti yang kuat. Ia juga berkata tentang ancaman Cheon Nyeon Farmasi yang akan membunuhnya jika ia bersikeras mencari pengacaranya.

Hae Gang pun terkejut mendengarnya. Hae Gang lalu berjanji akan membantu pria itu. Pria itu terkejut. Ia bertanya apa Hae Gang akan melakukannya sendiri. Hae Gang pun tersenyum dan berkata Baek Seok akan membantu mereka jika mereka mulai mempersiapkan semuanya. Pria itu pun mengucapkan terima kasih pada Hae Gang.


Sementara itu, Gyu Seok baru saja mendapat balasan e-mail dari Yong Gi. Dalam e-mailnya, Yong Gi berkata akan segera kembali ke Korea bersama dengan Woo Joo. Yong Gi juga meminta Gyu Seuk jangan berhenti mengembangkan obat untuk penyakit Gaucher. Yong Gi bahkan juga mengirimkan fotonya bersama Woo Joo. Gyu Seok tersenyum melihat foto Yong Gi dan Woo Joo. Namun beberapa detik kemudian, senyumnya menghilang karena teringat Hae Gang yang dikiranya Yong Gi. Ia pun terlihat bingung.

Lalu tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Gyu Seok pun menyuruh orang itu masuk dengan pandangan mata terfokus pada foto Yong Gi. Tae Seok pun masuk ke ruangan Gyu Seok. Tae Seok mengomentari ruangan Gyu Seok yang sangat sempit. Namun Gyu Seok berkata ruangan medis sama saja baik besar mau pun kecil. Tae Seok lalu mengajak Gyu Seok pergi keluar. Gyu Seok menolak, namun Tae Seok memaksa.


Tae Seok dan Gyu Seok bertemu Hae Gang di koridor rumah sakit. Gyu Seok memanggil Hae Gang dengan nama Yong Gi. Tae Seok pun kaget, dan semakin kaget saat melihat wajah Hae Gang. Gyu Seok pun mendekati Hae Gang. Hae Gang menyapa Gyu Seok begitu teringat Gyu Seok adalah dokter dari anak kliennya.


“Dokgo Yong Gi-ssi, apa tujuanmu mendekatiku? Apa karena obatku?  Kau berbohong soal Woo Joo? Kau mengarang cerita, kan? Lain kali, jangan mengirim e-mail apapun padaku. Jika kau mengirimnya lagi, aku tidak akan melepaskanmu.” Ucap Gyu Seok.

Hae Gang yang tidak melakukan itu, tentu saja bingung.

“Siapa dia? Apa namanya Dokgo Yong Gi?” tanya Taek Seok kaget tanpa melepaskan tatapannya dari Hae Gang.

“Hyung, kau tidak perlu tahu.” Jawab Gyu Seok lalu beranjak pergi.


Sementara itu, Nyonya Kim yang berada di rumahnya sedang melihat buku tahunan Yong Gi. Kata-kata seseorang pun terngiang di telinganya. Orang itu bilang jika Nyonya Kim menghubungi ketua kelas mereka, mungkin saja Nyonya Kim akan mendapatkan nomor kontak Yong Gi. Sementara itu di belakang Nyonya Kim, Gyu Seok dan Tae Seok makan bersama.


“Apa sebelumnya kau sudah pernah bertemu dengan Yong Gi? Bagaimana kau mengenalnya?” tanya Tae Seok penasaran.

“Aku tidak mengenalnya. Jangan ganggu aku.” Jawab Gyu Seok.

“Apa kau yakin namanya Dokgo Yong Gi?” tanya Tae Seok.

“Aku tidak mengenalnya.” Jawab Gyu Seok lagi.


Jin Eon minum-minum sendiran. Tak lama kemudian, Hyun Woo pun datang. Hyun Woo bertanya kenapa Jin Eon minum-minum begitu. Jin Eon pun berkata tidak ada apa-apa. Dia mengatakannya berkali-kali kalau tidak ada apa-apa. Hyun Woo lantas ikut minum bersama Jin Eon.

“Hyun Woo-ya.” Panggil Jin Eon, “… Hae Gang tertawa. Dia tertawa keras dan hangat. Hae Gang juga pintar bernyanyi. Dia menegur anak-anak dan menyemangati mereka juga. Dia mengambil uang yang belum dibayar.”

“Hae Gang melakukannya? Tidak mungkin.” Jawab Hyun Woo tidak percaya, “… tapi apa kau bertemu dengannya? Kapan dan dimana?”


Hyun Woo lalu menyadari sesuatu dan bertanya apakah Yong Gi adalah Hae Gang.

Jin Eon mengangguk. “Dia terlihat bahagia. Hae Gang terlihat hangat. Yang membuatku sakit hati. Membuatku sedih…”

Jin Eon mulai menangis.

“Aku terluka karena dirinya.” Ucap Jin Eon lagi.


Sementara itu Hae Gang yang sedang memeriksa dokumen di kantor Baek Seok, teringat kata-kata Jin Eon pada Tae Seok malam itu.

“Kau bilang Yong Gi cinta pertamamu. Aku tidak tahu siapa dia dan tidak tertarik padanya. Yang aku tahu dia istriku. Orang itu yang bersamamu bukan Dokgo Yong Gi tapi istriku. Bahkan jika seseorang mengatakan tidak, bahkan jika dia bilang tidak, aku tahu itu dia. Karena dia istriku.” Ucap Jin Eon.


Hae Gang pun tertegun. Matanya sekilas berkaca-kaca. Hae Gang lalu mengambil ponselnya. Sepertinya ia ingin menghubungi Jin Eon, tapi ragu-ragu. Sementara itu, Jin Eon sedang menatap ponselnya. Jin Eon juga ingin menghubungi Hae Gang. Hae Gang sudah siap memencet nomor Jin Eon, namun tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia pun tertegun karena itu telepon dari Jin Eon.

“Halloo…” sapa Hae Gang sedikit canggung.

Namun Jin Eon tak langsung menjawab. Hanya helaan nafasnya yang ia berikan pada Hae Gang.

“Aku tahu kau Choi Jin Eon.” Ucap Hae Gang.

“Bahkan meskipun kau tahu, kau menjawab teleponku. Kau membenciku?” jawab Jin Eon.

“Langsung ke intinya.” Pinta Hae Gang.

“Langsung ke intinya?” tanya Jin Eon lagi.


Hae Gang mengiyakan.

“Aku merindukanmu. Aku sekarat karena merindukanmu. Aku seharusnya tidak bertemu denganmu. Jika aku bertemu denganmu, aku bisa gila. Jika aku bertemu, aku akan…. aku akan…”

“Aku memiliki pekerjaan. Aku akan menutup teleponnya.”


Hae Gang pun buru-buru menutup teleponnya. Kata-kata Jin Eon itu membuat dirinya tertegun. Sementara itu Jin Eon ingin memulai semuanya lagi dengan Hae Gang. Ia mengajak Hae Gang memulainya dari awal. Jin Eon lalu menundukkan kepalanya dan berusaha menenangkan hatinya.


Sama seperti Jin Eon, Hae Gang juga merasakan sesuatu di hatinya. Perasaan yang sama sekali tidak ia mengerti.

Jin Eon kembali minum. Tanpa disadarinya, Manajer Byeon membuntutinya. Manajer Byeon mengeluarkan catatannya dan hendak menuliskan gerak gerik Jin Eon di buku catatannya. Tanpa disadari Manajer Byeon, Hyun Woo muncul dan berdiri di sampingnya. Manajer Byeon pun terkejut saat melihat Hyun Woo. Manajer Byeon beralasan ia datang karena disuruh untuk membawa Jin Eon pulang. Hyun Woo pun mengatakan sesuatu yang membuat Manajer Byeon terkejut. Hyun Woo berkata misi Manajer Byeon gagal. Manajer Byeon pun menyangkal kalau dirinya sedang melakukan misi. Mereka lalu membicarakan tentang sepak bola.


Nyonya Hong memberitahu Seol Ri kalau dua keluarga akan segera bertemu untuk membicarakan pernikahan. Seol Ri pun kaget. Seol Ri bertanya pada Nyonya Hong apakah Jin Eon akan hadir dalam pertemuan itu. Nyonya Hong pun memarahi Seol Ri. Ia menasehati Seol Ri agar membawa Jin Eon keluar dari masa lalu. Ia menyuruh Seol Ri mengambil hati Jin Eon. Ia bahkan berkata jika Seol Ri tidak bisa mengambil hati Jin Eon, maka Seol Ri harus memiliki anak dari Jin Eon terlebih dahulu agar bisa mengambil hatinya.


Diam-diam Jin Ri menguping pembicaraan mereka. Seol Ri bertanya pada Nyonya Hong tentang Hae Gang. Ia bertanya kenapa semua orang berbohong tentang Hae Gang. Nyonya Hong dan Jin Ri terkejut dengan pertanyaan Seol Ri. Seol Ri pun berkata ia bertemu dengan seseorang yang mirip Hae Gang. Nyonya Hong pun terkejut, apa? Wanita seperti apa dia yang mirip dengan Hae Gang?

“Sunbae pikir dia Do Hae Gang. Dia menderita karena nya.” Jawab Seol Ri.

“Itu tidak mungkin! Memangnya siapa Do Hae Gang? Bagaimana mungkin dia menjadi Do Hae Gang. Itu tidak mungkin!” ucap Nyonya Hong.


Sementara itu, Jin Ri terlihat senang mendengar kata-kata Seol Ri tentang wanita yang mirip Hae Gang itu.

“Tolong bantu aku, ibu mertua. Tolong hentikan Jin Eon Sunbae.” Pinta Seol Ri.

“Wanita seperti apa dia?” tanya Nyonya Hong.

“Dia pacar kakakku. Dia wanita yang akan menikah dengan kakakku.” Jawab Seol Ri.

Nyonya Hong pun langsung teringat pada gadis yang ia lihat di rumah Baek Seok. Saat itu, Tuan Baek berkata gadis itu akan menjadi calon menantunya. Nyonya Hong terkejut, meski ia tidak melihat wajah gadis itu.

Jin Ri lalu datang, “Yang Mulia Kang Seol Ri. Siapa namanya? Bawa dia ke rumah agar kami bisa melihat seberapa miripnya dia dengan Hae Gang. Jika kau mengatakan ini pada kami dari awal, ini tidak akan terjadi. Dia menderita setelah melihat wanita yang mirip dengan Hae Gang. Kalau dia tahu istrinya sudah meninggal, dia mungkin akan mati.”

“Tidak bisakah kau diam!” bentak Nyonya Hong.

“Apa maksudmu kakak ipar?” tanya Seol Ri.

“Dia menyuruhku tutup mulut.” Jawab Jin Ri sambil tersenyum rese’.


Jin Ri pun beranjak pergi. Seol Ri lantas menatap Nyonya Hong dengan wajah penasaran. Seol Ri lalu pergi menemui Jin Ri. Jin Ri menyuruh Seol Ri pergi dengan alasan dirinya sedang sibuk. Tapi Seol Ri tetap ingin bicara dengan Jin Ri. Seol Ri bahkan memanggil Jin Ri dengan panggilan hyung-nim/kakak ipar.

“Hyung-nim? Kau bukan Do Hae Gang dan tidak cocok meniru Do Hae Gang. Kenapa kau memanggilku Hyung-nim? Aku tidak nyaman kau memanggilku seperti itu jadi berhati-hati lah mulai sekarang.” Jawab Jin Ri.

“Lalu aku harus memanggilmu apa?” tanya Seol Ri.

“Nyonya.” Jawab Jin Ri singkat.


Seol Ri pun kesal mendengarnya. Tapi ia mencoba menahan kekesalannya. Ia pun menanyakan maksud perkataan Jin Ri tadi tentang Hae Gang. Ia bertanya dimana dan kenapa Hae Gang pergi. Ia bertanya kenapa semua orang menyembunyikan tentang Hae Gang.

“Kenapa aku harus menceritakannya padamu? Ini urusan keluargaku.” Jawab Jin Ri.

“Hyung-nim, kumohon.” Pinta Seol Ri.

“Bawa gadis yang mirip Hae Gang ke sini. Jika Jin Eon menderita setelah bertemu dengannya, itu artinya gadis itu benar-benar mirip dengan Hae Gang. Aku benar-benar menyukainya…” ucap Jin Ri.

Seol Ri pun menatap Jin Ri dengan kesal. Dan Jin Ri semakin memancing emosi Seol Ri.

“Omo.. mungkin dia akan memanggilku hyung-nim.” Ucap Jin Ri.

Seol Ri pun mengancam Jin Ri, “Bolehkah aku mengatakan pada ayah mertua bukan Do Hae Gang yang melakukannya, tapi kau yang menyebarluaskan foto itu.”

Jin Ri pun kaget, apa?

“Jika kau tidak mengatakannya padaku, akan kuberitahu pada ayah kebenarannya.” Ancam Seol Ri.

Jin Ri pun tertawa kesal mendengar ancaman Seol Ri itu.

“Hyung-nim…” ucap Seol Ri dengan suara sedikit keras.

“Jangan lakukan ini padaku, tapi pergi lah ke Buam-dong dan tanyakan padanya dimana Do Hae Gang.” Ucap Jin Ri.

“Apa?” tanya Seol Ri bingung.

“Jika kau mengikuti ibunya Hae Gang, kau akan tahu dimana Do Hae Gang.” Jawab Jin Ri.


Hae Gang membereskan dokumennya dan bersiap pulang. Langkahnya pun terhenti begitu melihat Jin Eon yang duduk di tangga. Beberapa detik kemudian, barulah Jin Eon menatap Hae Gang. Jin Eon lalu berdiri dan menatap Hae Gang. Jin Eon terlihat lemas dan wajahnya juga pucat.

“Kau sudah mau pulang? Aku akan mengantarmu pulang.” Ucap Jin Eon.

“Aku bawa mobil sendiri.” Jawab Hae Gang.

“Biarkan aku mengantarmu pulang.” Ucap Jin Eon.

“Apa kau mabuk? Kau pulanglah.” Jawab Hae Gang.

Hae Gang pun beranjak pergi, namun tiba-tiba Jin Eon jatuh ke pelukannya. Ia pun tertegun. Jin Eon mengigau memanggil-manggil Hae Gang. Jin Eon juga mengakui kesalahannya pada Hae Gang. Hae Gang pun mulai kasihan pada Jin Eon.

Hae Gang akhirnya mengantarkan Jin Eon pulang. Hae Gang menatap kasihan pada Jin Eon yang tertidur di sampingnya. Tak berapa lama kemudian, Hae Gang tiba di rumah Jin Eon. Hae Gang ingin membangunkan Jin Eon, namun tak jadi. Ia terlihat kasihan pada Jin Eon. Ia lalu turun dari mobil.

Sementara itu, Jin Eon tidur cukup lama. Jin Eon akhirnya terbangun dan terkejut tidak mendapati Hae Gang disampingnya. Ia pun turun dari mobilnya dan celingukan mencari Hae Gang. Ia pun menarik napas lega saat melihat Hae Gang bersender di pagar rumahnya sambil mendengarkan music dan memejamkan mata.


Perlahan-lahan, Jin Eon mendekati Hae Gang. Jin Eon lalu mengambil earphone Hae Gang dan memasangnya di telinganya. Hae Gang tersentak kaget tapi ia tak melakukan apapun dan hanya menatap Jin Eon. Jin Eon pun begitu. Dia hanya diam dan menatap Hae Gang. Tanpa mereka sadari, Seol Ri menatap mereka dengan wajah cemburu.

“Kembalikan, aku harus pergi.” Ucap Hae Gang.


Namun karena Jin Eon diam saja, Hae Gang pun ingin mengambil earphone nya di telinga Jin Eon. Namun Jin Eon menahannya dengan memegang tangannya. Jin Eon menatap Hae Gang dalam-dalam. Sementara itu, Seol Ri menatap ke arah Jin Eon dengan wajah terluka. Jin Eon lalu menyenderkannya di pagar di samping Hae Gang.


Keduanya pun sama-sama membisu mendengarkan music yang mengalun dari earphone mereka. Jin Eon lalu menggenggam tangan Hae Gang, membuat Hae Gang merasakan sesuatu. Seol Ri terluka melihat Jin Eon yang menggenggam erat tangan Hae Gang.


Hae Gang diam saja tangannya digenggam oleh Jin Eon. Ia pun memejamkan matanya dan menikmati momen itu. Seol Ri pun menatap tajam ke arah keduanya. Sementara itu, Jin Eon dan Hae Gang terus menikmati momen mereka.

Bersambung ke episode 16

Preview ep selanjutnya…

Seol Ri mengamuk di apartemennya. Ia membanting seluruh barang-barangnya dan berteriak kalau sudah waktunya Jin Eon melupakan Hae Gang.

Sementara itu Tae Seok menemui Hae Gang. Hae Gang pun memperkenalkan dirinya sebagai Dokgo Yong Gi. Tae Seok terkejut dan berkata dalam hatinya kalau wanita yang ada di hadapannya adalah Yong Gi dan bukanlah Hae Gang.

Seol Ri menemui Nyonya Kim sesuai kata-kata Jin Ri. Ia menanyakan Hae Gang. Nyonya Kim langsung jatuh tak sadarkan diri begitu melihat Seol Ri.

Seol Ri terkejut mengetahui Hae Gang telah meninggal dari Gyu Seok.

Hae Gang melakukan demo di depan kantor Presdir Choi terkait pudoxin.

Baek Seok dan Hae Gang berbaring di pinggir danau. Baek Seok mengelus kepala Hae Gang dengan lembut.

Hae Gang pergi ke kantor Jin Eon untuk bertemu Jin Eon membicarakan masalah pudoxin. Namun apa yang terjadi? Hae Gang berteriak pada Jin Eon kalau dia bukanlah istri Jin Eon. Namun tiba-tiba, Jin Eon mendaratkan ciumannya di bibir Hae Gang. Hae Gang pun terkejut.

Aaaaaw…… episode kali ini benar-benar istimewa..

Hae Gang kelihatan banget mulai merasakan sesuatu di hatinya setelah mendengar kata-kata Jin Eon ke Baek Seok. Jin Eon berkata, kalau dia tidak tahu dan tidak tertarik pada Yong Gi. Yang ia tahu hanyalah istrinya, Hae Gang. Meskipun semua orang bilang tidak, meskipun Hae Gang menyangkalnya, tapi ia tahu wanita yang bersama Baek Seok adalah Hae Gang. Kata-kata Jin Eon dalem banget.

Dan setelah Hae Gang mengakhiri pembicaraan mereka, Jin Eon bilang ingin memulainya lagi dari awal dengan Hae Gang. Dia mengajak Hae Gang memulainya dari awal. Dan ending episode kali ini ditutup dengan adegan Jin Eon dan Hae Gang yang mendengarkan music, dimana Jin Eon menggenggam erat tangan Hae Gang… So romantic, bikin aku melting..

Untuk Seol Ri, so sad for you…. L L gk tega liat mukanya pas mergokin Jin Eon dan Hae Gang yang dengerin music itu sambil pegangan tangan. Antara gedek dan kasihan ama ini anak. Gedek karena dia kekeuh mau hidup bersama Jin Eon, padahal dia tahu Jin Eon gak mencintainya samsek. Dan kasihan ngeliat dia harus makan ati gitu karena liat besarnya cinta Jin Eon buat Hae Gang.

Choi Jin Ri… ini orang bener-bener kocak… dialog-dialognya selalu bikin aku ketawa… meski kadang nyebelinnya kumat kalau udah ngerencanain hal buruk.

Sebenarnya aku udah nonton ending drama ini, tapi berhubung aku nontonnya pakai bahasa kalbu, jadi aku ngulang nonton dari awal lagi deh. Banyak banget dialog-dialog bagus yang bisa dijadiin quote. Ah, aku jadi ingat salah satu dialog Hae Gang. Sebenarnya sih ini kata-katanya Seol Ri yang dibalikin lagi ama Hae Gang. Ini termasuk kata-kata favoritku.. jadi begini kata-katanya…

‘Orang yang mencuri itu buruk, tapi orang yang kecurian lebih buruk.”

Kata-kata yang juga ditakuti Seol Ri. Kata-katanya dalem banget sih… Setelah itu, Hae Gang mengalami kecelakaan dan amnesia. Jin Eon pun jadi balik ngejar-ngejar Hae Gang. Persis seperti kata-kata Seol Ri yang dibalikin Hae Gang.

Dan di episode kali ini, aku suka kata-kata Jin Eon… Kata-katanya dalem banget…

‘Meskipun semua orang bilang tidak, meskipun dia sendiri menyangkalnya, tapi aku tahu dia istriku.’

No comments:

Post a Comment