Live Up To Your Name Ep 2 Part 1

Sebelumnya...


-Rumah Sakit Shinhae-

Yeon Kyung ditampar ibu Ha Ra. Ibu Ha Ra mempertanyakan cara kerja rumah sakit. Bagaimana putrinya bisa  menghilang sebelum operasi.

Ibu Ha Ra pun mengancam Yeon Kyung. Ibu Ha Ra bilang, jika sesuatu terjadi pada Ha Ra, maka karir Yeon Kyung sebagai dokter akan tamat.


Yeon Kyung keluar dari kamar Ha Ra dengan wajah kesal. Min Jae mengikuti Yeon Kyung.

"Sudah berapa lama Oh Ha Ra menghilang?" tanya Yeon Kyung.

"Dia sudah dirawat selama beberapa hari. Wanita tadi adalah ibunya Oh Ha Ra. Dia temannya istri pimpinan rumah sakit ini." jawab Min Jae.

"Aku bertanya, sudah berapa lama dia menghilang!" ucap Yeon Kyung.

"Sekitar... 30 menit." jawab Min Jae.

"Dan kau baru bilang sekarang? Dia pasien jantung. Kau tidak tahu apa artinya?" kesal Yeon Kyung.

"Aku tahu. Dia adalah bom waktu berjalan. Bom bisa dihentikan, tapi jantung tidak bisa." jawab Min Jae.


Man Soo mendadak muncul. "Masih belum ada?" tanyanya.

"Maksudmu Oh Ha Ra? Benar, dia belum ditemukan." jawab Min Jae.

"Tidak, maksudku petunjuk petak umpet ini. Pasti kini sudah ada." ucap Man Soo.

"Apa maksudmu?" tanya Yeon Kyung bingung.


Tepat saat itu, ponsel Yeon Kyung berbunyi.

"Itu dia." seru Man Soo.

Yeon Kyung membuka ponselnya. Betapa terkejutnya ia saat melihat kiriman videonya sedang menari di klub.

"Siapa yang mengambil ini?" tanya Yeon Kyung bingung.

"Bukankah ini kau, Sunbae?" ucap Min Jae kaget.

"Daebak, kau sungguh luar biasa. Kau suka menghabiskan waktu seperti itu rupanya." ucap Man Soo sambil menepuk-nepuk bahu Yeon Kyung.


Man Soo lalu memberitahu Yeon Kyung, bahwa disanalah terakhir kali ia menemukan Ha Ra.

"Apakah itu berarti kau harus kesana dengan pakaian ini? Oh Ha Ra ada di klub itu?" tanya Min Jae.

"Dia seharusnya tidak pergi ke tempat seperti itu. Pakaian yang sama, datanglah sendirian. Dia memintamu datang mengenakan pakaian yang sama." ucap Man Soo.

"Menurutmu aku sudah gila? Haruskah aku melakukannya?" Yeon Kyung menatap kesal Man Soo.

Yeon Kyung lantas menyuruh Min Jae pergi menjemput Ha Ra. Tapi Min Jae menolak dengan alasan, Ha Ra pasien jantung jadi Yeon Kyung lah yang harus pergi kesana.


Yeon Kyung pun menghela nafas.

"Berandal kecil itu." dengusnya kesal.


Itulah alasan kenapa Yeon Kyung berada di klub itu. Saat menuju klub, ia sempat berpapasan dengan Im.

Langkahnya pun terhenti karena Im tak sengaja menarik tali tasnya.

Yeon Kyung menatap Im sejenak, lalu kemudian ia kembali berjalan tapi baru beberapa langkah, ia balik lagi ke arah Im.

Yeon Kyung menunjukkan Ha Ra di ponselnya pada Im.

"Ahjussi, kau pernah melihat gadis ini? Dia siswi kelas 8." tanya Yeon Kyung.

Im pun menggeleng bingung sembari menatap ponsel Yeon Kyung.


"Bukankah kau bekerja di klub?" tanya Yeon Kyung lagi. Tapi Im diam saja.

"Kau tidak memakai tanda pengenal. Tidak apa-apa, terima kasih." ucap Yeon Kyung, lalu beranjak pergi.


Sebelum masuk ke dalam klub, Yeon Kyung sempat memperlihatkan foto Ha Ra pada staff keamanan. Tapi sayangnya mereka tidak melihat Ha Ra.

Di klub, Yeon Kyung berlari kesana kemari mencari Ha Ra. Ia juga menanyakan Ha Ra pada seorang pelayan.


Yeon Kyung pun frustasi tak bisa menemukan Ha Ra. Ia menghubungi Min Jae, tapi Min Jae bilang Ha Ra belum kembali ke rumah sakit.


Saat berada di luar klub, Yeon Kyung melihat kerumunan orang. Mengira itu Ha Ra, Yeon Kyung pun langsung berlari kesana dan melihat Im yang hendak menusukkan jarum ke tubuh pasien. Melihat itu, Yeon Kyung langsung menghentikan Im.

"Kau gila?" tanya Yeon Kyung.


Yeon Kyung lalu mengecek kondisi pasien. Setelah itu, ia memperkenalkan dirinya sebagai dokter bedah kardiotoraks di Rumah Sakit Shinhae pada pacar pasien. Pacar pasien menjelaskan, saat menari, pacarnya baik-baik saja. Setelah itu mereka keluar dan pacarnya tiba-tiba memegangi dada dan jatuh pingsan.

"Sudah menghubungi ambulance?" tanya Yeon Kyung.

"Sedang menuju kemari." jawab pengunjung lain.

"Denyut di paru-paru kirinya tidak terdengar. Tampaknya pneumotoraksnya tegang. Rongga dadanya terisi udara dan menekan paru-paru serta jantungnya. Denyut nadinya juga sangat lemah. Kurasa aku harus mengeluarkan udaranya sekarang juga." ucap Yeon Kyung.


Yeon Kyung pun langsung membuka tasnya, menyiapkan peralatannya. Pertama-tama, ia mengoleskan obat pada bagian tubuh pasien, setelah itu ia mengambil pisau bedahnya dan mulai menyayat bagian tubuh pasien. Ia lalu mengambil gunting dan mencucukkan gunting itu ke sana. Kemudian, ia mengambil tabung kecil dan menancapkannya di sana.


Pasien pun mulai bernapas.


Im terkejut melihatnya. Ia bertanya-tanya, teknik pengobatan apa yang digunakan Yeon Kyung.

"Kini dia sudah melalui situasi darurat. Saat ambulance datang, bawa dia ke rumah sakit." ucap Yeon Kyung pada pacar pasien.


Tak lama kemudian, ambulance datang. Im terpengarah melihat ambulance.

"Tolong bawa dia ke Rumah Sakit Shinhae. Aku akan mengabari mereka dan langsung menyusulmu." ucap Yeon Kyung pada petugas ambulance.


Setelah ambulance pergi, Yeon Kyung pun teringat Ha Ra. Ia langsung pergi mencari Ha Ra tapi Im malah menghalangi jalannya.

"Siapa kau?" tanya Im.

"Aku Choi Yeon Kyung, dokter bedah kardiotoraks di Rumah Sakit Shinhae. Kau tidak dengar tadi?" jawab Yeon Kyung.

"Kalau begitu, kau tabib wanita? Bukan wanita penghibur?" tanya Im.

"Aku dokter. Menyingkirlah, aku sedang terburu-buru." jawab Yeon Kyung.

"Kalau begitu, wanita bisa menjadi dokter? Lalu, gerobak aneh yang bisa berjalan tanpa kuda itu... gerobak itu membawa pasien kemana?" tanya Im.

"Entahh ini pemasaran atau rayuan, pilihlah orang dan waktu yang tepat. Oke?" jawab Yeon Kyung sambil menendang kaki Im.

Im pun kesakitan.

"Bagaimana wanita bisa sekasar itu?" ucapnya heran.


Yeon Kyung berjalan menyusuri trotoar sambil berbicara dengan Min Jae di telepon. Ia memberitahu Min Jae, bahwa ambulance akan tiba di rumah sakit lima menit lagi. Yeon Kyung menyuruh Min Jae melakukan rontgen begitu pasien tiba.

Lalu, Yeon Kyung tiba-tiba marah.

"Kau harusnya memberitahuku sejak awal!"

Sepertinya Ha Ra sudah kembali ke rumah sakit, tapi Min Jae lupa memberitahunya.


Di belakang, Im mengikuti Yeon Kyung. Saat tengah mengikuti Yeon Kyung, sebuah sepeda tiba-tiba saja melintas dan nyaris menabraknya. Im terkejut.


Saat berbalik, ia mendapati Yeon Kyung sudah berada di seberang jalan.


Di seberang jalan, Yeon Kyung melambaikan tangannya, memanggil taksi. Im yang melihat itu, malah mengira Yeon Kyung tengah memanggilnya. Im pun menyebrang jalan. Di tengah jalan, ia nyaris tertabrak bus.

Melihat itu, Yeon Kyung gemetaran. Ia teringat masa kecilnya, saat sang ayah tertabrak bus di depan matanya.

Tak lama kemudian, Yeon Kyung pun pingsan.


Melihat Yeon Kyung yang sudah tergeletak di jalanan, Im berlari ke arah Yeon Kyung. Ia memeriksa nadi Yeon Kyung.

"Dia wanita pemarah, tapi aliran energinya sangat lemah." ucap Yeon Kyung.

Tapi saat memeriksa denyut nadi Yeon Kyung sekali lagi, Im terpengarah.

"Siapa wanita ini?" tanyanya.


Orang-orang mulai berkumpul, mengerumuni mereka. Im lalu mengeluarkan kotak jarumnya. Ia hendak melakukan akupuntur. Tapi ia ragu saat teringat Yeon Kyung yang mencegahnya melakukan akupuntur pada pasien tadi. Orang-orang yang berkerumun, mulai kasak kusuk melihat Im hendak menusukkan jarum ke wajah Yeon Kyung.

"Itu akupunktur."

"Sedang apa dia?"

"Wanita itu pingsan."

"Itu menakutkan."

"Dia memegang jarum. Aku kasihan pada wanita ini.

"Pria ini kelihatan aneh."

"Tampaknya dia orang aneh. Dia berusaha menusukka jarum itu kepadanya."

"Jarum itu sangat panjang dan tipis. Astaga."


Tak lama kemudian, ambulance pun datang. Ambulance yang tadi. Petugas pun bertanya-tanya, apa yang terjadi pada Yeon Kyung.

Petugas lalu melirik Im.

"Anda walinya?" tanya petugas.

Im pun teringat saat petugas ambulance menanyakan hal yang sama pada pacar pasien tadi.

"Ya, aku walinya." jawab Im.

Petugas pun menyuruh Im ikut dengan mereka.


Ambulance meliuk-liuk di jalanan. Im yang baru pertama kali, sampai terlempar kesana kemari di atas ambulance.


Tak lama kemudian, ambulance tiba di rumah sakit. Begitu turun dari ambulance, Im langsung muntah.

Min Jae ikut membantu menurunkan Yeon Kyung dari ambulance.


"Ada apa dengannya? Dia biasanya tidak mudah pingsan seperti ini. Dia terluka atau ada yang patah?" tanya Min Jae.

"Dia hanya pingsan sebentar. Jangan cemas. Aku bisa saja membuatnya langsung siuman, tapi aku takut akan terkena masalah. Aku tidak mengobatinya karena kondisinya tidak separah itu." jawab Im sambil terus mual-mual.


"Siapa dia?" tanya Min Jae.

"Pak, Anda mengaku sebagai walinya. Ikut kami ke dalam." suruh petugas ambulance.

"Dia walinya?" tanya Min Jae.

"Dia mengaku begitu, tapi aku tidak tahu apa yang dia lakukan." jawab petugas ambulance.


Yeon Kyung pun dibawa masuk ke dalam. Sementara Im muntah lagi.

"Aku bahkan jarang berkuda karena mudah mabuk. Kenapa jalan menuju rumah sakit harus begitu liar dan berbahaya?" ucapnya.

Im lalu mendongak ke atas. Ia ternganga melihat gedung Rumah Sakit Shinhae.


Profesor Hwang, Man Soo, dokter lain dan Suster Jung memeriksa kondisi pasien yang ditangani Yeon Kyung tadi. Melihat tabung yang ditancapkan Yeon Kyung di tubuh pasien, Profesor Hwang pun bertanya-tanya mengenai tabung itu.

"Dia pasti mendapatkannya dari kotak darurat." ucap Man Soo.

"Di jalan?" tanya Prof. Hwang.

"Dia selalu membawa kotak kecil yang berwarna hitam." jawab Man Soo.

"Katanya dia ingin selalu siap untuk pasien mana pun yang mungkin dia jumpai." ucap dokter lain.

"Pertolongan pertama yang dia dapatkan sangat bagus. Dia akan pulih setelah rongga dadanya ditangani.

Jangan cemas." ucap Prof. Hwang pada pacar pasien.


Lalu, pacar pasien meminta Yeon Kyung melakukan operasi pada pacarnya. Prof. Hwang pun berkata, bahwa Yeon Kyung tengah menuju rumah sakit.


Man Soo melihat Yeon Kyung yang dipindahkan ke ranjang pasien.

"Sepertinya dia tidak akan bisa melakukan operasi itu." ucap Man Soo.

Prof. Hwang pun langsung berjalan ke kaca. Bersama Man Soo, ia melihat Yeon Kyung yang masih belum sadarkan diri.

"Ada apa dengannya?" tanya Prof. Hwang.


Im muncul di koridor rumah sakit.

"Di luar panas sekali. Tapi kenapa di dalam sangat dingin? Apakah ini rumah sakit." tanyanya.

Lalu tiba-tiba, Im seperti menghalau-halau sesuatu. Tepat saat itu, Prof. Hwang lewat. Ia heran sendiri melihat tingkah Im, tapi ia berlalu begitu saja tanpa mempedulikan Im meski awalnya ia heran melihat Im.


Ternyata Im berdiri di bawah AC. Im yang tidak tahu itu AC, pun langsung menikmati udara dingin itu, membuat ia ditertawakan para suster yang berada di dalam ruangan.


Min Jae, Man Soo, Suster Jung dan satu suster lagi berkumpul di dekat Yeon Kyung. Mereka membahas wali Yeon Kyung. Suster Jung tampak memeriksa tensi Yeon Kyung.

"Dia seorang pemuda. Mungkin itu kakaknya." ucap Min Jae.

"Atau adiknya?" tanya suster lain.

"Dia putri tunggal." jawab Suster Jung.

"Mungkin pacarnya." ucap Man Soo.

"Apa?" kaget Min Jae.

"Dia wanita licik. Karena itu dia berpakaian seseksi itu ke klub." jawab Man Soo.

Tepat saat itu, Im pun masuk ke ruang IGD. Min Jae langsung menunjuk ke arah Im dan menyebut Im sebagai walinya Yeon Kyung.


Im yang baru masuk ruang IGD, terkejut melihat banyaknya pasien yang tengah dirawat memakai alat2 medis yang belum pernah dilihatnya.


Min Jae dan suster lain mendekati Im.

"Aku bukan pasien. Aku... walinya." ucap Im sambil menunjuk ke arah Yeon Kyung.

"Jadi kau pacarnya Dokter Choi Yeon Kyung?" tanya suster itu.

"Pacar? Apakah itu berarti teman pria atau pria yang baik kepadanya?" batin Im.


Im kemudian menjawab, kalau ia pacarnya Yeon Kyung. Mereka pun kaget. Saking kagetnya, Suster Jung bahkan sampai menjatuhkan mangkuk yang sedang dipegangnya.


Yeon Kyung akhirnya siuman. Begitu siuman, Yeon Kyung langsung menanyakan pasien pneumotorak yang ditanganinya tadi. Ia pun lega saat Min Jae bilang, pasien itu sudah ditangani dengan baik. Lalu, Yeon Kyung menanyakan Ha Ra.

"Dia baik-baik saja. Dia membuatmu kesulitan. Dia memang nakal." ucap Min Jae kesal.


Min Jae lalu membahas soal pacar Yeon Kyung. Sontak, Yeon Kyung bingung. Min Jae pun menjelaskan, ada pria yang mengaku sebagai wali dan penyelamat Yeon Kyung. Saat ditanya, pria itu mengaku sebagai pacar Yeon Kyung.

Kesal, Yeon Kyung langsung turun dari ranjang dan menanyakan dimana pria yang mengaku sebagai pacarnya itu.


Im main2 di eskalator. Ia naik-turun, lalu duduk dan berlari2 di eskalator.


Setelah itu, ia duduk di samping dispenser. Melihat seseorang minum disampingnya, lalu membuang cangkirnya di tempat sampah, ia pun mengikutinya. Yang pertama dilakukannya, memasukkan wajahnya ke tempat sampah. Haha... Lalu, ia minum air berkali2.


Setelah itu, ia main2 di putar rumah sakit.


Saat melihat orang2 keluar dari lift, ia pun mencoba masuk ke dalam lift. Begitu pintu lift menutup, ia panic dan berteriak2 minta tolong.

Ketika lift melesat turun ke bawah, ia tambah panic dan berteriak memanggil orang lain.


Begitu pintu lift terbuka, ia merangkak keluar dari lift dengan wajah syok.


Lalu, ia melihat-lihat para perawat yang sedang merawat luka pasien. Ia juga melihat rontgen yang ada di layar laptop.


Sontak, semua itu membuatnya bingung. Ia bertanya2, bisakah perempuan menjadi dokter dan perawat di tempat itu.


Yeon Kyung menemui Ha Ra. Ia teringat kata Min Jae, bahwa Ha Ra berada di atap rumah sakit dan tidak pernah meninggalkan rumah sakit.

Yeon Kyung kesal, tapi ia berusaha sabar. Ia memperingatkan Ha Ra, tidak akan memaafkan Ha Ra jika Ha Ra melakukannya sekali lagi.

Yeon Kyung juga bilang, bahwa selama Ha Ra berada di rumah sakit dan menjadi pasiennya, itu adalah tugas dan tanggung jawabnya menyelamatkan nyawa Ha Ra.

Ha Ra tertegun saat Yeon Kyung bilang, bahwa Yeon Kyung akan menyelamatkannya.

Yeon Kyung lalu mengingatkan Ha Ra, bahwa Ha Ra tidak boleh minum air sampai jam delapan.

"Kau bisa melakukannya, kan?" tanya Yeon Kyung.

Tapi Ha Ra tidak mempedulikan Yeon Kyung.

"Tetap di tempat tidur dan tidurlah yang nyenyak." ucap Yeon Kyung.

Yeon Kyung lalu beranjak pergi. Ha Ra menatap kepergian Yeon Kyung dengan wajah sebal.


Begitu keluar dari kamar Ha Ra, satu rumah sakit mentertawakannya. Min Jae mendekati Yeon Kyung. Ia bilang, saat Yeon Kyung tidur, gosip soal pacar Yeon Kyung menyebar.

"Dimana si sinting itu!" tanya Yeon Kyung kesal.


Im sendiri masih memikirkan apa yang terjadi padanya di sudut rumah sakit. Im ingat, saat ia gagal mengobati Raja, ia diseret keluar oleh para pengawal. Tabib Kepala Istana pun menyebutnya dokter gadungan. Im minta kesempatan sekali lagi, tapi Tabib Kepala menyuruh pengawal menjebloskan Im ke dalam penjara.


Im pun membuka kotak jarumnya. Ia mengambil jarumnya yang paling panjang dan mencoba menusukkan jarum itu ke tangannya. Ia langsung meringis sakit.

"Semua itu karena kau! Kau tidak tahu seberapa besar kesempatan itu? Jika bukan karenamu, aku pasti sudah di istana, di sisi Yang Mulia." ucap Im.

Im lalu mengambil kotak jarumnya. Ia menyebut jarum2 itu sebagai benda jahat dan membuangnya ke lantai.


Di ruangannya, Yeon Kyung menghela nafas kesal. Ia masih kesal sama Im yang mengaku-ngaku sebagai pacarnya.

Lalu, Yeon Kyung menonton video operasi dan terus mempelajari teknik jahitan agar jahitannya semakin rapi.

Kita lalu mendengar suara Im.

"Aku kembali dari kematian dan terbangun di Joseon 400 tahun kemudian. Prosedur medis mereka belum pernah kudengar, bahkan wanita bisa menjadi dokter.  Sungguh dunia yang luar biasa."


Sekarang, kita melihat kembali tiduran di sudut rumah sakit.

"Aku harus bagaimana sekarang?" tanyanya.


Ibu2 cleaning servie. Melihat itu, Im pun langsung bertanya, apa ibu2 itu seorang pembantu.

"Pembantu? Apa maksudmu? Aku pegawai tetap disini."

"Tetap? Lalu dokter2 itu, apa? Apa status sosial mereka?"

"Mereka yang terbaik dan terpandai. Banyak sekali orang yang respek pada mereka."

"Lalu uangnya?"

"Tentu saja uang mereka banyak dan mereka kaya raya."

Mendengar itu, Im langsung antusias. Im kemudian bertanya soal tabib akupuntur. Si ibu cleaning service tidak lagi menjawab dan menyuruh Im pergi.


Im memungut jarumnya lagi. Ia berkata, belum saatnya ia dan jarum itu berpisah. Im bilang, akan mengambil keputusan setelah memahami situasinya.


Di istana, Tabib Yoo terkejut mendengar Im menghilang setelah tertembah anak panah. Informan Tabib Yoo mengatakan, si penembak Im berasal dari arah hutan. Tabib Yoo yang memang membenci Im sejak awal senang mendengarnya.

Informan Tabib Yoo juga mengatakan, banyak orang datang ke istana dan memohon agar Im cepat diasingkan.

"Dia bisa apa sekarang? Salah sendiri karena menunjuknya." ucap Tabib Yoo membicarakan Heo Jun. Lalu, ia tertawa keras.


Heo Jun sendiri ada di penjara. Salah satu pengawal istana datang mendekatinya. Pengawal istana melapor, bahwa ia sudah memanah Im sesuai perintah Heo Jun. Ternyata Heo Jun lah yang menyuruh orang memanah Im.

"Sekarang bagaimana?"

"Kita tunggu saja. Dia yang mati atau aku yang mati." jawab Heo Jun.


Di Haeminseo, para pasien kebingungan dengan menghilangnya Im. Bahkan ada yang berpikir jika Im sakit, sehingga tidak bisa datang.


Tak lama kemudian, para prajurit istana datang dan menggeledah Haeminseo guna mencari Im. Mereka bahkan mengacak-ngacak kamar Im.


Makgae yang melihat itu pun cemas dan sedih.


Im sendiri masih tidur di ranjang pasien. Yeon Kyung, Min Jae dan seorang suster mendekati Im yang masih tertidur itu.

"Jadi, bedebah ini, kau mengenalnya?" tanya Min Jae.

"Bukankah dia bilang, dia mengobatiku dengan akupuntur?" jawab Yeon Kyung.

"Jadi dia dokter pengobatan oriental?" tanya Min Jae.

"Tampaknya dia bekerja di klab itu. Aku harus memeriksanya untuk mendapatkan detailnya." jawab Yeon Kyung.

"Pekerja di klub? Apa dia Heo Jun?" tanya Min Jae.

"Darimana dia mendapatkan wig ini?" tanya suster itu, sambil menarik rambut Im.

"Jangan sentuh aku, Tabib Heo sedang lelah." jawab Im.

"Dia bilang namanya Tabib Heo. Tabib Heo Jun." ucap Min Jae tertawa geli.


Im menyebutkan nama Makgae.

"Makgae, aku bermimpi dan itu membuatku gila. Aku bertemu dengan wanita di sana." ucap Im.

Yeon Kyung pun mendekatkan telinganya, agar bisa mendengar lebih jelas ucapan Im.

"... aku tidak pernah melihat wanita secantik itu di hidupku. Kau juga harus melihatnya." ucap Im.

"Apa wanita itu aku?" tanya Yeon Kyung sambil menahan senyum.

"Kenapa harus kau?" tanya Im.


Lalu Im terbangun dan terkejut mendapati hal yang dialaminya bukan mimpi.

Im kemudian melihat Yeon Kyung dan mengaku tidak bisa tidur semalaman memikirkan Yeon Kyung. Im berkata,

Yeon Kyung seharusnya bilang padanya jika mau pergi. Ia mengaku cemas karena Yeon Kyung menghilang begitu saja.

Kesal, Yeon Kyung pun menarik tirainya dan pergi meninggalkan Im.


Tapi Im malah mengikuti Yeon Kyung. Yeon Kyung berbalik, menatap Im. Ia lalu menyuruh Im merapikan rambutnya.

Im berbalik, merapikan rambutnya.

"Aku tidak merapikan rambutku. Harusnya tidak datang seperti ini. Aku paham bahwa orang harus mengikat rambutnya ke atas. Tapi aku harus menggerai rambutku di malam hari agar tubuhku menerima energi yang dibutuhkan. Faktanya aku terkejut dengan rambut orang-orang disini. Katanya kita tidak boleh menyakiti tubuh yang diberikan orang tua. Hukum neo-konfusianisme pasti sudah mulai luntur." oceh Im.

Setelah rambutnya rapi, Im pun berbalik menatap Yeon Kyung.

"Aku sibuk, jadi, aku akan cepat saja. Pertama, terima kasih sudah memanggilkan ambulans dan membawaku ke rumah sakit." ucap Yeon Kyung.


Bukannya mendengar, Im malah mengomentari pakaian Yeon Kyung yang tampak keren.

Yeon Kyung lalu protes karena Im mengaku2 sebagai pacarnya. Tapi Im malah membahas soal dokter, uang dan kekuasaan.

"Jadi kau butuh uang?" tanya Yeon Kyung.

"Apakah kedengarannya begitu? Bagaimana kau tahu aku membutuhkan uang? Tapi biasanya aku tidak semiskin ini. Aku tidak bisa membawa uang karena kemari secara tiba-tiba." jawab Im.

"Kau tidak punya ongkos? Baiklah, berapa yang kau butuhkan?" tanya Yeon Kyung, lalu mengeluarkan dompetnya.


"Aku tidak tahu soal daerah ini. 100 pasti cukup." jawab Im.

"1000 dollar?" tanya Yeon Kyung.

"Itu terlalu banyak. Bagaimana dengan 50 Yang?" jawab Im.

"Di mana kau bekerja? Tampaknya kau tidak bekerja di Bobo. Kelab Rose? Athena?" tanya Yeon Kyung.

"50 Yang kedengarannya bagus." jawab Im.

"Tempatku bekerja...." Im pun berbisik pada Yeon Kyung. "Hae..."

"Hera di Jongno." potong Yeon Kyung.


"Aku memang datang dari jauh, tapi aku bukan dari Hera." jawab Im.

"Mereka tau kau seperti ini?" tanya Yeon Kyung.

"Mungkin tidak." jawab Im.

"Ini bisa disebut tindak kriminal. Mau kulaporkan atas pelecehan dan penguntitan?" ancam Yeon Kyung sambil menunjukkan ponselnya.


Tiba2, ponsel Yeon Kyung berbunyi. Yeon Kyung pun menyuruh Min Jae turun ke bawah.

Im pun heran menatap ponsel Yeon Kyung. Ia penasaran, Yeon Kyung bicara dengan siapa.

Selesai bicara dengan Min Jae, Yeon Kyung pun menyuruh Im pergi. Tapi Im memegangi perutnya dan menanyakan harga semangkuk gukbap.


Terpaksalah Yeon Kyung membelikan makanan untuk Im di kantin rumah sakit.

"Aku sudah membayar makananmu. Jadi kuanggap kita impas." ucap Yeon Kyung, lalu pergi meninggalkan Im.


Ha Ra menghilang lagi, padahal Yeon Kyung sudah siap membawanya ke ruang operasi.


Di kantin, Im ngeces liat makanannya. Tapi ia bingung saat melihat garpu. Im lantas memperhatikan orang2 di sekelilingnya yang makan menggunakan garpu itu.

"Aigo, harapan Makgae adalah makan nasi putih dengan daging." ucap Im.


Im pun mulai menyantap makanannya. Pertama2, ia mencicipi dagingnya. Enak, Im pun makan dengan cepat.

Tapi mendadak, Ha Ra muncul di depannya. Ha Ra terheran-heran melihat Im makan.

"Kenapa kau melihatku seperti itu? Aku sudah membayar. Bunyinya sudah terdengar." ucap Im dengan mulut penuh.


Ha Ra pun tambah heran. Im lalu menjauhkan nampan makanannya dari Ha Ra. Tapi karena kasihan, Im pun memberikan sendoknya pada Ha Ra dan mengajak Ha Ra makan sama-sama, padahal Ha Ra harus puasa karena akan menjalani operasi.

Ha Ra langsung tersenyum lebar.


Yeon Kyung berlari kesana kemari mencari Ha Ra tapi ia tak bisa menemukan Ha Ra dimana pun. Tak lama kemudian, Ha Ra mengiriminya foto lagi makan di kantin bersama Im.


Im sendiri tampak berusaha menghalangi Ha Ra makan.


Yeon Kyung pun langsung melesat ke kantin. Sampai disana, ia melihat Ha Ra dengan Im.

"Oh Ha Ra!" ucap Yeon Kyung, berusaha mencegah Ha Ra makan.

Tapi Ha Ra menepis tangan Yeon Kyung dan memasukkan sepotong daging ke mulutnya.


"Ahjussi, thank you. Aku sudah kenyang." ucap Ha Ra setelah itu, lalu ia beranjak pergi.


Yeon Kyung pun menatap kesal Im, setelah itu ia pergi mengejar Ha Ra.


Im menyusul Yeon Kyung. Ia minta penjelasan kenapa Yeon Kyung marah sekali padanya.

"Karena kau memberinya makan, anak itu tidak bisa dioperasi sekarang! Entah apa yang terjadi padanya kalau dia tidak dioperasi!" jawab Yeon Kyung.

Yeon Kyung lantas mengancam Im. Ia bilang, akan melakukan sesuatu yang buruk pada Im jika Im tidak pergi dari rumah sakit.


Im terpengarah. Ia teringat saat berusaha menghalangi Ha Ra yang sudah terlanjur menyantap sepotong daging.


Flashback...

Im memegang tangan Ha Ra dan menyuruh Ha Ra makan pelan-pelan. Saat itulah, ia merasakan denyut nadi Ha Ra dan mengetahui penyakit jantung yang diderita Ha Ra.

Flashback end...


Im memanggil Yeon Kyung. Ia mengejar Yeon Kyung. Yeon Kyung pun berbalik, menatap tajam Im.

"Aku tahu kau harus mengatur pola makan pasien. Karena itu aku menghentikan dia makan makanan berlemak.

Bukankah dia punya masalah dengan jantungnya?" ucap Im.

Yeon Kyung pun mengira Ha Ra lah yang sudah bercerita banyak pada Im.

"Aku masih belum tahu apa itu operasi. Tapi aku memberinya makan karena dia tampak lapar. Apakah itu tindak kriminal disini? Kalau itu kejahatan, hukumannya seperti apa? Dicambuk, diasingkan, atau dipenggal?" tanya Im.


Kesal, Yeon Kyung pun beranjak pergi tapi Im mengikutinya. Im mengajak Yeon Kyung bicara baik-baik, tapi Yeon Kyung malah menendang kaki Im. Yeon Kyung heran, kenapa ia bisa bertemu manusia gila seperti Im.


Lalu, Yeon Kyung menghubungi Min Jae. Ia menanyakan operasi Ha Ra. Setelah itu, ia beranjak pergi.

Tepat saat itu, ambulance datang membawa korban kecelakaan. Melihat itu trauma nya pun muncul lagi. Ia ingat saat melihat ayahnya kecelakaan.

Tangan Yeon Kyung gemetaran. Yeon Kyung merasa pusing seketika.


Melihat tangan Yeon Kyung yang gemetaran, Im pun teringat pada Yeon Kyung yang pingsan saat itu.

Yeon Kyung pun mual dan ingin muntah. Ia berlari ke dalam.


Di toilet, Yeon Kyung menenangkan dirinya dan memikirkan kilasan2 ingatan tentang kecelakaan ayahnya.


Lalu, tiba2 Im datang membuatnya terkejut. Yeon Kyung pun langsung mendorong Im keluar dari toilet wanita.

"Kau tampak seperti pasien, padahal kau harus merawat pasien." ucap Im.

Yeon Kyung pun pergi, tapi Im mengikuti Yeon Kyung dan menanyai Yeon Kyung. Im bertanya, apa Yeon Kyung sering merasa pusing dan sulit tidur. Apa pencernaan Yeon Kyung terganggu atau Yeon Kyung merasa sesak? Apa jantung Yeon Kyung berdebar tiba2?

"Kenapa kau seperti ini padaku? Apa maumu sebenarnya?" tanya Yeon Kyung.

"Berikan pergelangan tanganmu. Aku sangat penasaran denganmu. Aku ingin tahu apa yang terjadi padamu

kemarin. Aku harus memeriksa denyut yang kurasakan kemarin saat kau pingsan." jawab Im.

Im pun meraih pergelangan tangan Yeon Kyung dan memeriksa nadi Yeon Kyung.

"Bahkan dokter ahli pun tidak bisa memeriksa dan mengobati dirinya sendiri." ucap Im.

Yeon Kyung pun tertegun melihat Im memeriksa nadinya. Setelah memeriksa nadi Yeon Kyung, Im pun terkejut.


Yeon Kyung marah. Ia menyebut Im lancang. Ia juga menghubungi staf keamanan untuk mengusir Im.


Tak lama kemudian, staf keamanan pun datang dan melemparkan Im keluar. Mereka mengancam, akan melaporkan Im pada polisi jika Im masih berkeliaran di rumah sakit.

"Kenapa orang di dunia ini tidak pernah mendengarkan aku?" ucap Im heran.

Lalu, Im pun teringat kembali pada Yeon Kyung.


Profesor Hwang memarahi Yeon Kyung karena telat datang. Ia juga membahas soal 'pacar' Yeon Kyung yang berkeliaran di rumah sakit dan menuding Yeon Kyung telat karena sibuk pacaran.

Yeon Kyung pun langsung menatap kesal Man Soo. Man Soo pura-pura tidak tahu.

"Lalu bagaimana operasi Oh Ha Ra? Apa ditunda?" tanya Yeon Kyung.

"Tentu saja. Apa kau membius total pasien yang sudah makan? Kau membuat aliran nafasnya terganggu?" ucap Prof. Hwang.

"Maafkan aku." jawab Yeon Kyung.

"Gadis 15 tahun saja tidak bisa kau atasi. Kalau kau tidak sanggup, mau tukaran?" ucap Prof. Hwang.

"Aku pastikan hal ini tidak akan terjadi lagi." jawab Yeon Kyung.

"Satu pasien saja tidak bisa kau atasi. Dokter macam apa dirimu? Masalahnya itu dirimu." ucap Prof.

Hwang lalu pergi meninggalkan Yeon Kyung.

Man Soo tampak senang melihat Yeon Kyung dimarahi. Ia kemudian pergi menyusul Prof. Hwang.


Setelah itu, Yeon Kyung pergi memeriksa Ha Ra. Ia sempat bicara dengan ibu Ha Ra. Ibu Ha Ra tampak kesal, tapi ia berusaha sabar dan bicara baik-baik pada Yeon Kyung. Ia minta Yeon Kyung menangani putrinya dengan baik.


Setelah ibu Ha Ra pergi, Yeon Kyung pun bicara pada Ha Ra.

"Aku tidak pandai bersikap baik pada pasien jadi..."

Yeon Kyung pun menarik selimut Ha Ra dan menyuruh pengasuh Ha Ra membawa Ha Ra ke taman untuk berolahraga.

Ha Ra marah dan ingin tidur.

"Tidak. Tadi kau makan daging. Jika tidur sekarang, perutmu akan tegang dan keadaanmu memburuk." ucap Yeon Kyun.

"Kenapa kau peduli padaku. Biarkan saja aku mati." jawab Ha Ra.

"Dokter tidak bisa melakukan itu.  Serta aku bukan ahjumma, panggil aku dokter." ucap Yeon Kyung.

"Keluar! Kau menyebalkan!" teriak Ha Ra, lalu menarik selimutnya.

"Ini yang namanya masa remaja yang suram. Bidang ini bukan keahlianku. Sepertinya aku harus menghubungi rumah sakit jiwa." ucap Yeon Kyung.


Ha Ra pun menghela nafas kesal. Terpaksalah ia menuruti perintah Yeon Kyung pergi ke taman.

Bersambung ke part 2....

0 Comments:

Post a Comment