Thursday, September 8, 2016

I Have a Lover Ep 21 Part 1

Sebelumnya.......

Hyun Woo menemui Hae Gang di kantor Baek Seok. Hae Gang terkejut saat Hyun Woo bilang bahwa Jin Eon membutuhkannya. Hyun Woo lantas mengembalikan dompet Yong Gi yang ditemukan diantara barang2 Hae Gang. Hae Gang terkejut melihatnya.

“Pada hari dimana Hae Gang mengalami kecelakaan, kau ada bersamanya Dokgo Yong Gi-ssi.” Ucap Hyun Woo, membuat Hae Gang terkejut.

“Jika kami menemukan penyebab kematian Hae Gang, otomatis kami juga bisa membantu memulihkan ingatanmu. Kumohon bantulah Jin Eon.” Pinta Hyun Woo.


Karena itulah, Hae Gang muncul di kantor Jin Eon, saat Jin Eon mendapati guci abu Hae Gang kosong. Sementara itu, Tae Seok panic saat Produser Kim memberitahunya bahwa guci abu Hae Gang menghilang. Kembali ke Jin Eon—Jin Eon berharap Hae Gang masih hidup. Tepat saat itu, Hae Gang muncul di kantor Jin Eon.


“Hae Gang tidak di sini.” Ucap Jin Eon penuh haru pada Hae Gang.

“Maksudmu itu kosong?” tanya Hae Gang kaget.

“Dimana istriku sekarang?” gumam Jin Eon.

Jin Eon lantas menyuruh Hae Gang melihat foto istrinya. Tapi Hae Gang menolak, ia beralasan tidak bisa melihat foto Hae Gang karena perasaannya pada Jin Eon. Jin Eon merasa bahwa Hae Gang kehilangan ingatannya, itulah sebabnya Hae Gang tidak muncul selama 4 tahun ini.

“Aku datang ke sini karena aku ada bersama istrimu saat istrimu mengalami kecelakaan. Karena dompetku ditemukan diantara barang2 istrimu. Aku akan membantumu. Aku takut, tapi aku juga ingin tahu kenapa aku bisa bersama istrimu hari itu.” ucap Hae Gang.


Di ruangannya,Tae Seok yakin Jin Eon lah yang mengambil guci abu Hae Gang. Produser Kim cemas, ia tanya apa yang harus mereka lakukan. Tae Seok bilang bahwa yang mereka butuhkan hanyalah kesaksikan seseorang yang menyatakan bahwa Hae Gang bunuh diri. Ia yakin Jin Eon tidak akan bisa membuktikan bahwa dirinya lah dalang dibalik kecelakaan itu, karena tidak ada rekaman tentang kecelakaan itu. Tae Seok berkata, meskipun Hae Gang kembali. Meskipun ingatan Yong Gi kembali, mustahil melacak siapa pelakunya.

“Bagaimana kalau dia curiga karena tidak ada rekaman tapi ada saksi?” tanya Produser Kim.


“Rekaman itu sudah dihapus. Untuk melindungi Cheon Nyeon Farmasi, Presdir Choi menyamarkan pembunuhan menantunya sebagai upaya bunuh diri. Tidak ada jalan untuk menghentikannya, dan kita dapat menghentikannya. Terserah bagaimana Jin Eon membuktikannya, yang perlu kita lakukan hanyalah melenyapkan Dokgo Yong Gi.” Jawab Tae Seok.


Hae Gang melihat catatan pada hari dimana ia mengalami kecelakaan. Di catatan itu dilaporkan bahwa mobil Yong Gi rusak parah setelah kecelakaan. Jin Eon yang berdiri di belakang Hae Gang berkata, bahwa Yong Gi berencana pergi ke China sehari setelah kecelakaan.

“Mobil yang disewa Do Hae Gang baik2 saja, sedangkan mobilku rusak parah. Dan dompetku ditemukan diantara barang2 Do Hae Gang.” Ucap Hae Gang bingung.


Jin Eon memberikan beberapa file yang berhubungan dengan kecelakaan itu pada Hae Gang. Hae Gang mulai cemas, ia curiga bahwa bisa saja dia adalah Do Hae Gang. Jin Eon pun berjanji akan mencari tahu semuanya. Ia meminta Hae Gang sedikit lebih bersabar.

“Aku akan berusaha mengingatnya. Aku akan melakukan yang terbaik untuk mengembalikan ingatanku.” Ucap Hae Gang.

Jin Eon mulai curiga bahwa Yong Gi yang ada di depannya adalah Hae Gang.


Tae Seok keluar dari ruangannya bersama Produser Kim. Ia terkejut melihat Hae Gang yang keluar dari ruangan Jin Eon. Hae Gang diam saja saat Tae Seok bertanya apa yang ia lakukan bersama Jin Eon. Produser Kim panic melihat Hae Gang. Hae Gang menatap Produser Kim dengan tatapan curiga.

“Kau mau pergi? Aku juga mau pergi. Bagaimana kalau kita keluar bersama?” ucap Tae Seok.

Hae Gang mengangguk dan beranjak duluan. Begitu Hae Gang pergi, Tae Seok langsung memberi kode pada Produser Kim untuk membunuh Hae Gang. Sembari menunggu pintu lift terbuka, Tae Seok menawarkan dirinya mengantarkan Hae Gang pulang. Namun Hae Gang menolak dan memilih naik bus saja.


Di lift, Tae Seok kembali membujuk Hae Gang untuk pulang bersamanya. Tae Seok beralasan ada yang ingin dikatakannya pada Hae Gang. Saat pintu lift akan tertutup, Jin Eon muncul dan berdiri disamping Hae Gang. Tae Seok dan Produser Kim pun semakin tegang dengan kemunculan Jin Eon.

“Jadi kau sudah mengerti, kan? Tidak akan ada tindakan pencegahan. Sampai Moon Tae Joon pulih, gugatan akan dibatalkan.” Ucap Jin Eon.


Hae Gang awalnya bingung dengan kata2 Jin Eon, tapi setelah Jin Eon memberinya kode ia pun mengerti dan mengiyakan perkataan Jin Eon. Pada Tae Seok, Jin Eon berkata bahwa Hae Gang sudah berjanji tidak akan melayangkan gugatan atas kasus Pudoxin.

“Begitukah?” tanya Tae Seok tidak percaya.

“Aku berjanji tidak akan melayangkan gugatan karena akan dilakukan penyelidikan secara menyeluruh.” Jawab Hae Gang.

“Kenapa kau tidak menyerahkan kasus Pudoxin padaku? Untuk kalian berdua, aku berjanji akan mengurusnya.” Ucap Jin Eon.

Lift pun akhirnya berhenti di lantai satu. Begitu pintu lift terbuka, Hae Gang langsung keluar. Setelah pintu lift kembali menutup, Hae Gang menghentikan langkahnya dan memikirkan kata2 Jin Eon tadi.


Hae Gang memasang headsetnya dan terus berjalan menuju halte bus. Tanpa ia sadari, Jin Eon berlari keluar dari kantor dan berjalan mengikutinya. Hae Gang berhenti sejenak untuk mengikat tali sepatunya. Saat mengikat tali sepatunya, ia menyadari bahwa Jin Eon tengah mengikutinya. Namun, ia membiarkan Jin Eon mengikutinya.


Jin Eon mengikuti Hae Gang sampai ke bus. Sopir bus pun mengomeli Jin Eon yang tidak memiliki uang kecil untuk membayar bus. Jin Eon pun membayar bus dengan uang 10000 ribu won. Hahaha… saat bus mulai berjalan, Jin Eon tiba2 jatuh dan uang kembaliannya pun berceceran di lantai bus. Hae Gang tersenyum geli menatap Jin Eon. Jin Eon tersenyum malu melihat Hae Gang.


Satu per satu, penumpang bus mulai turun. Jin Eon pun mengambil kursi disamping Hae Gang. Jin Eon menatap Hae Gang yang terus melihat ke luar jendela. Tak lama berselang, gantian Jin Eon yang menatap keluar jendela dan Hae Gang memandanginya. Hae Gang lantas kembali memandang keluar jendela, dan Jin Eon kembali menatap Hae Gang. Ingatan Jin Eon langsung melayang ke masa lalu, saat mereka masih duduk di bangku universitas.

Flashback….


Hae Gang sudah duduk di bus, Jin Eon mengetuk2 jendela tempat dimana Hae Gang duduk. Hae Gang pun membuka jendelanya dan menatap kesal Jin Eon.

“Semua objek di dunia ini berhubungan satu sama lain. Aku dan kau. Kau dan aku. Bahkan jika kau tidak mempercayaiku, kau mempercayai Newton kan? Isaac Newton. Tapi bapak ilmu pengetahuan modern hidup dari tahun 1642 sampai 1727.” Ucap Jin Eon.


“Apa kau mau kupukul?” tanya Hae Gang kesal.

“Iya, pukul saja aku! Pukul aku dengan bibirmu.” Pinta Jin Eon.

Bus pun mulai berjalan. Jin Eon mengejar Hae Gang dan terus berteriak bahwa ia adalah milik Do Hae Gang. Hae Gang sekali2 melongok keluar jendela, melihat Jin Eon. Jin Eon masih terus mengejar Hae Gang. Hae Gang tersenyum dan melambaikan tangannya.

Flashback end..
 
Jin Eon berkaca2 teringat kenangannya bersama Hae Gang. Sementara itu, Hae Gang terus menatap Jin Eon yang menatap keluar jendela. Jin Eon lalu mengalihkan pandangannya pada Hae Gang. Hae Gang terpaku menatap Jin Eon. Jin Eon tersenyum menatap Hae Gang.


Tae Seok mengunjungi Nyonya Kim. Nyonya Kim berkata bahwa ia setuju dengan Jin Eon yang ingin memindahkan abu Hae Gang ke tempat lain. Nyonya Kim bilang bahwa Jin Eon ingin memindahkan abu Hae Gang ke tempat abu Eun Sol. Nyonya Kim pun penasaran bagaimana Tae Seok bisa tahu soal ini. Tae Seok bilang bahwa Hae Gang datang dalam mimpinya, jadi ia mengunjungi rumah abu Hae Gang dan terkejut mendapati lemari abu Hae Gang kosong.

“Aku sangat berterimakasih atas semua yang sudah kau lakukan.” ucap Nyonya Kim.

“Apa adik iparku mengatakan sesuatu yang lain?” tanya Tae Seok.

“Mengatakan sesuatu seperti apa?” jawab Nyonya Kim.


Saat Tae Seok hendak menjawab, Gyu Seok tiba2 nongol dan membuatnya kaget. Gyu Seok heran melihat keterkejutan sang kakak. Tae Seok pun menyangkal bahwa ia kaget. Ia bilang kalau ia hanya senang melihat Gyu Seok. Gyu Seok terus menatap sang kakak. Tae Seok pun berkata bahwa ia datang untuk mengunjungi Nyonya Kim. Gyu Seok langsung lega mendengarnya.


Jin Eon dan Hae Gang duduk berdua di halte. Jin Eon bertanya, apa Hae Gang tidak kedinginan?

“Memangnya kenapa kalau aku kedinginan?”

“Kau harus lari.” Jawab Jin Eon, membuat Hae Gang langsung menatapnya.

“Haruskah kita berlari bersama? Kau tampak kedinginan.” Ucap Jin Eon lagi, membuat Hae Gang tertawa.

“Kau cenderung kedinginan, tapi kau tidak sensitive terhadap panas.” Ucap Jin Eon.

“Apa yang kau pikirkan saat kau mengikutiku kesini?” tanya Hae Gang.


“Aku berpikir akan lebih jika Dokgo Yongi adalah istriku. Jika kau benar2 istriku, Yong Gi-ya. Karena, saat aku melihatmu aku merasa gugup. Karena, saat aku melihat matamu aku merasakan luka.” Jawab Jin Eon.

Hae Gang tertegun mendengarnya. Mereka lalu saling berpandangan.


Ponsel Nyonya Hong berdering. Nyonya Hong terkejut menyadari suara ponselnya berasal dari dalam lemari es. Nyonya Hong semakin cemas saat mendapati ponselnya benar2 ada di lemari es. Nyonya Hong menerima panggilan dari Seol Ri. Seol Ri mengajak Nyonya Hong ke rumah sakit. Seol Ri membujuk Nyonya Hong. Ia berkata, bahwa pengembangan obat untuk dementia masih terus dilakukan. Seol Ri bilang jika Nyonya Hong benar2 mengidap dementia, maka Nyonya Hong harus melakukan perawatan yang baik dan mengambil obat yang sedang dikembangkan Jin Eon. Nyonya Hong setuju.


Usai berbicara dengan Seol Ri, Jin Ri muncul dan bertanya apa Nyonya Hong tahu putri bungsu dari Han Sang Group. Jin Ri pun berkata bahwa ia berencana menjodohkan Gyu Seok dengan putri bungsu keluarga Han.

“Kau pikir kau bisa mengontrol takdir seseorang? Bahkan meskipun kau menyatukan atau memisahkan mereka, kau pikir semua akan berakhir sesuai keinginanmu? Biarkan saja dia memilih wanita yang dia sukai.” Jawab Nyonya Hong.

“Tidak ada satu pun orang yang tidak menyesal dengan pernikahan mereka saat mereka sudah tua.” Ucap Jin Ri.

“Jin Eon juga harus menikah. Setidaknya, aku harus melihat dia menikah.” Jawab Nyonya Hong.

“Lalu? Kenapa kau tidak melanjutkan kata2mu. Kau tahu, itu membuat imajinasiku berkembang kemana2.” Ucap Jin Ri.

Nyonya Hong diam saja, wajahnya masih tetap lesu. Jin Ri lantas mengubah topic pembicaraan dengan mengatakan bahwa tiruan Do Hae Gang mengidap amnesia. Nyonya Hong terkejut. Jin Ri berkata bahwa ia yakin tiruan Hae Gang hanya pura2 amnesia.

“Aku bertanya2, bagaimana rasanya jika kau kehilangan ingatanmu. Aku bertanya, bagaimana rasanya hidup tanpa memiliki ingatan apapun.” Jawab Nyonya Hong cemas.

“Kurasa semua kemarahanmu akan hilang, begitu juga dengan kebencian dan dendam.” Ucap Jin Ri.

Nyonya Hong yang tadinya lesu langsung menatap galak Jin Ri. Haha…

“Kenapa?” tanya Jin Ri.

“Kau lah orang yang seharusnya amnesia! Kau satu2nya orang yang harus kehilangan ingatan.” Jawab Nyonya Hong.

“Apa maksudmu?” tanya Jin Ri kesal.

“Akan lebih baik jika bisa mendepositkan kenangan di bank. Jika kenanganku bisa dimasukkan ke dalam buku tabungan, aku akan bisa menariknya dan menggunakannya kapan pun yang aku butuhkan.” Jawab Nyonya Hong.


Tae Seok bicara dengan Presdir Choi di ruang kerja Presdir Choi. Tae Seok bilang, bahwa ia tak bisa meramalkan masa depan jadi ia layaknya orang bodoh percaya dan berpikir bahwa Presdir Choi berada di sisinya. Tae Seok sangat yakin bahwa Presdir Choi selalu memikirkan cara untuk menghancurkannya.


“Sekarang aku mengerti tujuanmu yang sebenarnya, ayah mertua. Kita akan berperang mulai sekarang. Jika ayah mertua mengacungkan pisau padaku, maka aku akan menembak ayah mertua dengan pistol. Tapi dibandingkan denganmu, akan lebih baik jika anakmu saja yang menggantikan posisimu.” Ucap Tae Seok.

“Justu anakku lah yang akan terlebih dahulu menembakmu. Bahkan jika aku memaafkan dirimu, anak itu tidak akan pernah memaafkanmu. Aku mungkin tidak bisa menghukummu tapi anak itu dia pasti bisa menghukummu.” Jawab Presdir Choi.

Saat keluar dari ruangan Presdir Choi, Tae Seok bertemu Jin Eon di depan pintu. Jin Eon mengajak Tae Seok sarapan. Awalnya Tae Seok menolak, tapi Jin Eon memaksanya.


Jin Eon sarapan bersama orang tuanya juga Tae Seok dan Jin Ri. Nyonya Hong ingin mereka selalu sarapan bersama2 seperti ini. Presdir Choi menatap Jin Eon, ia bertanya apa perasaan Jin Eon sudah membaik.

“Ayah melihatnya, kan. Karena abu Hae Gang—Hae Gang tidak ada di sana.” Jawab Jin Eon.


Wajah Presdir Choi dan Tae Seok pun langsung berubah tegang. Sementara Nyonya Hong terkejut.

“Kenapa bisa begitu?” tanya Jin Ri.

“Aku pikir kakak ipar tahu dengan baik kenapa abu Hae Gang tidak ada.” Jawab Jin Eon.

“Kami tidak pernah menemukan tubuhnya.” Ucap Presdir Choi.

“Jika ayah tidak pernah menemukan tubuhnya, tapi ayah mengumumkan kematiannya, aku pikir pasti ada saksi yang menemukan tubuhnya. Saksi yang berada di lokasi pada saat kejadian.” Jawab Jin Eon.

“Itu benar, ada saksi yang melihatnya terjun ke sungai. Dan ayah mertua yang menghapus catatan kepolisian. Kami melakukannya karena kami tidak bisa membiarkan dunia tahu menantu keluarga ini mati bunuh diri.” Ucap Tae Seok.

“Aku melihat Hae Gang kemarin.” Jawab Jin Eon, membuat semuanya tercengang.

“Aku pastikan kau salah lihat. Lawyer Do sudah tiada. Terakhir kali kau mengira orang lain sebagai Lawyer Do, kan.” Ucap Tae Seok.

“Tidak peduli apapun yang terjadi, aku akan mencari tahu dan menemukan kebenarannya.” Jawab Jin Eon.


Jin Eon yang tadinya tersenyum sinis pada ayah dan kakak iparnya langsung terdiam saat Jin Ri berkata bahwa Jin Eon lah penyebab kejadian semua ini. Jin Ri berkata, istri yang sudah dicampakkan Jin Eon sudah meninggal. Jin Ri juga bilang meskipun Hae Gang masih hidup, Hae Gang pasti berniat balas dendam pada Jin Eon.


Yong Gi dan Woo Joo pergi ke rumah sakit untuk menemui Gyu Seok. Woo Joo menyapa Gyu Seok menggunakan Bahasa Cina. Woo Joo pun terkejut saat Gyu Seok menyebut nama aslinya. Yong Gi meminta Gyu Seok tidak memanggil Woo Joo dengan nama Woo Joo.


Gyu Seok diam saja. Yong Gi lantas duduk di hadapan Gyu Seok. Gyu Seok meminta Yong Gi menceritakan gejala awal yang terlihat pada tubuh Woo Joo. Yong Gi terkejut karena Gyu Seok masih saja berbicara dengan Bahasa Korea padanya. Yong Gi pun menjelaskan bahwa anaknya sering sekali terjatuh, jadi karena itulah dia memeriksakan Woo Joo ke dokter.

Gyu Seok yang kesal karena Yong Gi masih saja berpura2 tidak bisa berbahasa Korea, menyuruh pasien lain masuk. Yong Gi marah. Gyu Seok berkata, bahwa penyakit Woo Joo tidak akan bisa sembuh jika penanganan awalnya salah. Yong Gi pun akhirnya terpaksa berbicara dengan Bahasa Korea.

“Dia mudah sekali jatuh dan mengidap anemia. Dia dirawat karena leukemia tapi aku tidak melihat perubahannya. Sel2 aneh terlihat pada sumsum tulangnya. Aku merasa anakku mengidap penyakit Gaucher.” Ucap Yong Gi.

“Kita harus melakukan pemeriksaan dasar dan menganalisis enzimnya.Aku tidak bisa menyimpulkannya hanya berdasarkan tes sumsum tulang saja. Sel Gaucher tidak selalu ditemukan pada sumsum tulang.” Jawab Gyu Seok.

Yong Gi mengangguk2 mendengar penuturan Gyu Seok. Sedangkan Woo Joo terus menatap Gyu Seok selama pemeriksaan. Haha.. suka binggow liat ekspresi Woo Joo pas natap Gyu Seok.. Gemes ama nih bocah…


Seol Ri menunggui Nyonya Hong yang sedang melakukan pemeriksaan. Tiba2, Yong Gi dan Woo Joo datang, mereka duduk disamping Seol Ri. Seol Ri tersenyum melihat Woo Joo.


“Kau cantik sekali, siapa namamu?” tanya Seol Ri.

“Zhang Ling.” Jawab Woo Joo.

“Zhang Ling? Berarti kau berasal dari China?” tanya Seol Ri.


Seol Ri lantas melihat ke arah Yong Gi. Ia pun terkejut melihat wajah Yong Gi. Yong Gi merasa heran Seol Ri menatapnya seperti itu. Ia mengira ada yang aneh dengan wajahnya. Seol Ri diam saja dalam keterkejutannya. Tiba2, Gyu Seok muncul dan memanggil nama Yong Gi. Yong Gi pun kesal karena Gyu Seok tidak memanggilnya dengan nama Zhang Ming. Seol Ri terkejut mengetahui wanita yang ada di hadapannya adalah Dokgo Yong Gi.

“Ini paspormu dan segera kembalikan uangku.” Ucap Gyu Seok, membuat Yong Gi langsung menatapnya galak.

“Kenapa? Kau tidak mau membayarnya?” tuduh Gyu Seok.

“Baiklah, aku akan segera mengembalikan uangmu. Aku akan mencari kerja dan mengembalikan uangmu itu.” jawab Yong Gi.

“Aku memberimu waktu 3 hari. Dalam waktu 3 hari kau harus mengembalikan uangku.” Ucap Gyu Seok.



Gyu Seok lantas beranjak pergi. Seol Ri menatap Yong Gi dengan tajam. Yong Gi yang menyadari hal itu pun bergegas duduk kembali disamping Seol Ri.

“Namamu Dokgo Yong Gi?” tanya Seol Ri.

“Bukan, dokter itu salah. Namaku adalah Zhang Ming.” Jawab Yong Gi sembari menunjukkan paspornya.

Seol Ri lagi2 menatap Yong Gi, membuat Yong Gi merasa heran. Yong Gi bertanya, kenapa Seol Ri melihatnya seperti itu padahal mereka tidak pernah saling ketemu. Seol Ri diam saja dalam keterkejutannya.
 
Bersambung ke part 2

No comments:

Post a Comment