Thursday, December 15, 2016

I Have a Lover Ep 36 Part 1

Sebelumnya....


Seol Ri dan Hae Gang bertemu di depan lift. Seol Ri lagi2 menatap Hae Gang penuh dengan kebencian. Keduanya lalu masuk lift bersama. Seol Ri penasaran, ia bertanya kenapa Hae Gang tidak menanyakan alasan kenapa ia datang.

“Karena kau datang ke sini bukan untuk bertemu denganku.” Jawab Hae Gang.

“Lalu menurutmu siapa yang aku temui di sini?” tanya Seol Ri.

“Tidak penting bagiku siapa yang kau temui, jadi kau tidak perlu menceritakannya.” Jawab Hae Gang.

“Benarkah kau tidak peduli siapa yang aku temui?” tanya Seol Ri.

“Sepanjang bukan diriku.” jawab Hae Gang.


“Aku yang mengirim CEO Mi Do padamu. Aku bahkan menjemput dia di penjara saat dia bebas. Aku juga mengirimkan fax pada Choi Jin Eon, karena aku pikir dia harus tahu hal mengerikan apa yang sudah kau lakukan. Strategi yang digunakan untuk melawan gugatan yang dilayangkan Mi Do Farmasi atas pelanggaran hak paten, kau ingat sekarang, dokumen mengerikan yang kau ciptakan?” ucap Seol Ri.

“Kau melakukan hal yang tidak penting lagi. Dia sudah tahu tentang itu.” jawab Hae Gang.

“Kurasa kita harus menunggu dan melihat apakah yang kulakukan ini sia2 atau tidak. Aku melakukannya untuk Shin Il Sang, kau tahu?” ucap Seol Ri.

Hae Gang mulai kesal.


“Kali ini aku akan menjadi duri disampingmu.” Ucap Seol Ri sambil menatap tajam Hae Gang.

Seol Ri lalu melirik sinis ke sepatu Hae Gang.

“Aku akan menjadi batu yang tidak berguna yang berada di dalam sepatu mahalmu itu. Aku akan melepaskan semuanya. Aku melepaskan Jin Eon Sunbae, aku melepaskan diriku. Karena aku tidak punya apa2 untuk dijaga, aku merasa bebas. Aku tidak akan mencoba untuk membayangkan akhir dimana aku mendapatkan Sunbae, akhirmu dan akhirku, tidak peduli kesalahan besar yang kau dan aku lakukan, adalah sesuatu yang ingin kulihat. Do Hae Gang-ssi, berdasarkan seberapa besar kesalahan yang kita berdua lakukan, ayo kita terima hukumannya.” Ucap Seol Ri.


Di ruangannya, Jin Eon tampak melamun memikirkan sesuatu. Tak lama kemudian, Tae Seok datang membawakan minuman. Tae Seok ingin tahu apa yang mau dibicarakan Jin Eon. Jin Eon pun bertanya, apa yang disembunyikan ayahnya darinya.

“Kecelakaan saat mendaki, dimana dua orang yang melakukannya tapi hanya satu yang selamat, apakah itu benar?” tanya Jin Eon.

“Hanya ayah yang tahu kebenarannya. Tidak peduli dia membunuh temannya atau hanya melihat temannya mati, hanya ayah yang mengetahuinya.” Jawab Tae Seok.

Jin Eon terhenyak…


“Namun ada satu kebenaran yang aku ketahui, fakta bahwa ayah mencuri Ssanghwasan yang dikembangkan temannya, di hari berikutnya, temannya itu meregang nyawa. Tidak peduli apakah dia benar2 membunuh ayah Wakil Presdir Do Hae Gang, tanpa diketahui oleh seseorang atau tidak, dia mencuri dan mendirikan Cheon Nyeon Farmasi dengan Ssanghwasan yang dikembangkan ayah Pengacara Do dengan darah dan keringat. Itulah bagaimana perusahaan kita berkembang.Meskipun kenyataan ini mengerikan, kita harus mengetahuinya, Adik Ipar.” Ucap Tae Seok.

Jin Eon syok, ia sama sekali tidak menyangka ayahnya bisa melakukan itu.

Hae Gang berjalan keluar dari gedung Farmasi Cheon Nyeon sambil mengingat kata2 Jin Eon tentang dirinya yang diam saja padahal sudah tahu tentang laporan yang dipalsukan.


Hae Gang lantas berbalik dan menatap ke arah gedung kantornya dengan penuh penyesalan. Hae Gang lalu berkata bahwa semua yang dikatakan Jin Eon itu benar. Bahwa dirinya tetap diam meski sudah tahu kebenarannya, dan ia melakukan itu demi perusahaan yang didirikan oleh ayah Jin Eon.


Hae Gang juga ingat permintaan Presdir Choi yang menyuruhnya menyingkirkan orang2 Tae Seok.


Setelah itu, Hae Gang ingat perkataan Jin Eon tentang dirinya yang ingin menjadi anjing pemburu bagi Cheon Nyeon Farmasi lagi.


Sebuah suara mengejutkannya. Hae Gang berbalik dan terkejut menemukan kertas yang diikat dengan batu di depannya. Hae Gang memungutnya dan terkejut membacanya. Isinya, berupa ancaman tentang dosa2 yang dilakukan Hae Gang.


Seketika ingatan Hae Gang melayang saat Seok melindunginya dari lemparan batu. Ia juga ingat saat seseorang melemparnya dengan batu saat ia di mobil, hingga kaca mobilnya pecah. Hae Gang pun mulai takut, tapi meskipun takut, ia tetap menyuruh orang itu keluar untuk menghadapinya.


Jin Eon tampak tak sanggup menghadapi kenyataan tentang ayahnya yang membunuh ayah Hae Gang setelah mencuri Ssanghwasan. Saat hendak meninggalkan ruangannya, ingatannya seketika melayang pada Hae Gang setelah insiden dengan Shin Il Sang.


“Bahkan setelah mengetahui semuanya, kau masih berpikir ingin memulai kembali denganku?” tanya Hae Gang.

“Tidak ada yang tidak bisa kulakukan untukmu. Apakah kau mengizinkannya atau tidak, semua adalah keputusanmu.” Jawab Jin Eon.

“Bagaimana bisa?” tanya Hae Gang tidak mengerti.

Flashback selesai…

Jin Eon lantas beranjak meninggalkan ruangannya dengan langkah gontai.


Seok yang sedang sibuk dengan berkas2nya dikejutkan dengan kedatangan Hae Gang. Hae Gang datang tidak dengan tangan kosong, ia membawa sekantung plastic berisi kaleng bir. Seok pun menyambut Hae Gang dengan antusias.

“Karena kita tidak boleh membicarakan pekerjaan, jadi tidak ada yang bisa kita bicarakan, kan? Jadi ayo kita habiskan saja bir ini.” ucap Seok.

“Seok-ah, kenapa kau tidak bertanya apa yang kulakukan hari ini?” tanya Hae Gang.

“Memangnya apa yang kau lakukan?” tanya Seok.

“Aku pergi ke Stasiun Imjin. Kalau kau sedang frustasi, alangkah baiknya kau pergi ke sana. Itu akan membantu menjernihkan mata dan kepalamu.” Jawab Hae Gang.

“Karena aku sedang frustasi, jadi aku pastikan besok aku akan ke sana.” Ucap Seok.


Tae Seok makan malam dengan Shin Il Sang!! Tapi Shin Il Sang hanya memilih minum saja. Tae Seok pun menyuruh Shin Il Sang untuk makan sesuatu, tapi Shin Il Sang tetap menolak.

“Jika kau makan itu, aku akan mengembalikan Pancillate padamu.” Jawab Tae Seok.

“Apa kau bilang?” tanya Shin Il Sang.


“Aku bilang aku akan mengembalikan obat yang dicuri Cheon Nyeon Farmasi padamu jika kau mau memakan makanan yang kuberikan padamu. “ jawab Tae Seok.

“Kenapa? Apa kau mau membunuhku dengan racun di dalam ikan buntal ini?” tanya Shin Il Sang.

“Mereka bilang racun yang dimiliki seekor ikan buntal dapat membunuh lebih dari 3 orang. Apa kau tahu, seseorang dari perusahaan farmasi di Jepang mengembangkan obat penghilang sakit dari racun ikan buntal? Jika kau menggunakan racun dengan baik, kau dapat membuatnya menjadi obat. Hanya beberapa. Itu bisa membuat rasa sakit atas penderitaan yang kau rasakan menghilang.” Jawab Tae Seok.

Shin Il Sang pun langsung memakan daging ikan buntal tersebut.

“Katakan dengan jelas, apa yang kau inginkan dariku? Aku harus tahu permainan apa yang kau ciptakan, jadi aku bisa memutuskan apakah aku akan ikut di dalamnya atau tidak.’ Jawab Shin Il Sang.


“Kirim Do Hae Gang dan Choi Man Ho ke penjara. Seseorang yang memegang kartuku, menyuruhku untuk menghancurkan Do Hae Gang. Do Hae Gang hanya anjing pemburu. Jika Do Hae Gang mengancam Mi Do Farmasi, seseorang yang berada di belakangnya adalah Presdir Choi Man Ho.” Ucap Tae Seok.

“Apa jaksa tahu soal ini? Aku akan pergi menemui jaksa besok.” Jawab Shin Il Sang.

“Mulailah mencari bukti kejahatan Choi Man Ho. Aku akan memperkenalkanmu pada jaksa kapan pun kau mau. Juga selidiki cerita seorang peneliti yang bunuh diri dengan melompat dari ketinggian.” Ucap Tae Seok.


“Mengirim Do Hae Gang dan Choi Man Ho ke penjara?” gumam Shin Il Sang sembari tersenyum licik.

“Aku akan mendapatkan Cheon Nyeon Farmasi dan kau akan mendapatkan kembali obatmu.” Jawab Tae Seok.


Jin Eon berdiri lemas di depan meja Hae Gang. Ingatannya seketika melayang pada Hae Gang, saat mereka menghabiskan malam natal di villa.

Jin Eon pun terluka, ia tak sanggup membayangkan bagaimana reaksi Hae Gang saat tahu apa yang sudah dilakukan ayahnya.


Hae Gang yang tidak tahu apa2, lagi lomba minum bir dengan Seok. Hae Gang pun keluar sebagai pemenang karena berhasil menghabiskan bir nya duluan. Hae Gang heran karena lagi2 Seok kalah darinya.

“Jika kau kalah di persidangan….”


“Aku tidak akan kalah. Walaupun aku kalah soal minum, aku tidak akan kalah dalam persidangan. Kau tahu kenapa? Karena aku harapanmu.”

“Ya, kau adalah harapanku. Baek Seok adalah harapanku.”


Seok lantas menyanyikan sebuah lagu yang membuat Hae Gang menitikkan air mata. 




Sementara itu, Jin Eon berdiri di depan apartemen Hae Gang. Fakta tentang apa yang sudah dilakukan ayahnya membuat ia takut menemui Hae Gang.

Tak lama kemudian, Jin Eon beranjak pergi dengan langkah gontai. Namun langkahnya seketika terhenti saat ia melihat Hae Gang yang berjalan menuju apartemen dengan kondisi mabuk. Tak lama, langkah Hae Gang juga terhenti saat menyadari kehadiran Jin Eon.


Keduanya saling menatap dengan tatapan terluka. Tak lama kemudian, Hae Gang beranjak ke apartemennya, namun langkahnya kembali terhenti. Ia pun menatap Jin Eon sejenak, sebelum akhirnya menghampiri Jin Eon.


“Jangan mendekat! Cepat masuklah Do Hae Gang.” suruh Jin Eon yang ketakutan dengan fakta kalau2 memang ayahnya pembunuh ayah Hae Gang.


Hae Gang pun semakin luka. Hae Gang yang mabuk itu pun lantas masuk ke apartemennya. Ia bersusah payah menaiki tangga, sehingga akhirnya ia terjatuh di depan pintu apartemennya. Jin Eon menyusul Hae Gang. Ia terluka melihat Hae Gang seperti itu.


Jin Eon pun memapah Hae Gang ke dalam. Ia membantu Hae Gang berbaring di tempat tidur. Ia melepaskan mantel Hae Gang, juga mengambilkan air untuk Hae Gang, mencopot sepatu Hae Gang dan menyelimuti Hae Gang. Kata2 Tae Seok tentang kemungkinan ayahnya yang sudah membunuh ayah Hae Gang pun kembali terngiang di telinganya. Juga fakta mengenai sang ayah yang mencuri obat yang dikembangkan ayah Hae Gang.


Saat meletakkan tas Hae Gang di meja, Jin Eon melihat foto mereka yang terpajang manis di meja. Di dalam foto itu, ia dan Hae Gang duduk di sebuah taman. Hae Gang terlihat memangku Eun Sol. Mereka bertiga terlihat sangat bahagia.

Tangis Jin Eon pun seketika pecah menatap foto kebersamaan mereka saat itu.


Keesokan harinya, Hae Gang terbangun dan langsung menenggak air yang sudah diletakkan Jin Eon di meja disamping ranjangnya. Tak lama kemudian, Hae Gang pun menyadari bahwa Jin Eon yang memapahnya ke kamar semalam. Hae Gang panic, ia langsung berlari ke mejanya dan mengambil foto kebersamaan mereka. Ia yakin bahwa Jin Eon sudah melihat foto itu.

Di kamarnya, Seol Ri sedang melamun memikirkan kata2 Tae Seok yang ada di dalam rekaman ponselnya. Tak lama kemudian, Seok datang dan ingin tahu apa yang dokter katakan tentang tulang Seol Ri. Seol Ri pun berkata mengenai kondisi tulangnya yang rapuh dan dokter memberinya obat untuk menguatkan tulangnya.


Seok lantas menggenggam tangan Seol Ri untuk menguatkan Seol Ri.

“Antara aku dan Do Hae Gang, kalau kau harus melepaskan tangan diantara kami, tangan mana yang akan kau lepaskan?” tanya Seol Ri.

Seketika Seok terdiam.


“Pikirkan ini baik2. Kalau kita bertiga berdiri di tepi jurang, tangan mana yang akan kau lepaskan dan kau biarkan jatuh ke jurang?” tanya Seol Ri.

“Omong kosong apa ini? Aku tidak akan membawamu ke jurang, aku akan membawamu ke padang rumput.” Jawab Seok.

“Lakukan dengan baik hari ini. Jangan biarkan Do Hae Gang mendorong atau menekanmu.”pinta Seol Ri.


Jin Ri terkejut saat Tae Seok memberitahunya tentang Jin Eon yang mulai mencari tahu fakta dibalik kematian Ji Hoon. Namun, ia heran karena Jin Eon masih belum melakukan apa2.

“Dia tidak akan bergerak hanya karena kata2ku. Dia mungkin akan mencoba untuk mencari tahu kebenarannya sendiri.” Jawab Tae Seok.

“Bagaimana caranya dia akan membuktikan kebenaran dari 30 tahun yang lalu?” tanya Jin Ri.


“Aku tidak tahu penyebab kematian ayah Do Hae Gang, tapi tentang Ssanghwasan, jika kau mengecek pendaftaran hak patennya di internet, kau akan tahu kalau ayah mertua telah mencurinya. Dia mungkin akan gila. Melihat kepribadian Adik Ipar, dia mungkin akan memilih mati atau membunuh ayahnya.” jawab Tae Seok.

“Hidup seperti apa yang dia miliki? Ini bukan tentang penderitaannya hidup dengan Do Hae Gang. Hidupnya penuh pasang surut. Hidupnya akan terus seperti itu silih berganti, kenapa tragedinya tidak pernah berakhir?” ucap Jin Ri.

“Itu karena dia memiliki seorang ayah yang baik. Dia terlahir dengan beberapa ratus milyar won sendok garpu emas. Kau mungkin bahagia dengan beberapa ribu won, tapi kau juga memiliki tragedy dengan beberapa ribu won atau seratus milliard won.” Jawab Tae Seok.

“Bagaimana sikap Jin Eon sekarang, Yeobo?” tanya Jin Ri.


“Dia akan menghancurkan dirinya sendirian atau hancur dengan ayah mertua.” Jawab Tae Seok.


Benar saja!! Jin Eon sudah mengkonfirmasi sendiri tanggal pendaftaran Ssanghwasan. Pada tanggal 10 Mei 1981, Ji Hoon sendiri yang mendaftarkan hak patennya. Namun hak paten tersebut didaftarkan kembali pada tanggal 16 Mei oleh Presdir Choi.

“Dia mencuri Ssanghwasan yang dikembangkan sahabatnya. Pada hari berikutnya, sahabatnya ditemukan tewas.”

Kata2 Tae Seok itu kembali terngiang di kupingnya. Tak hanya itu, Jin Eon juga membaca artikel tentang kematian Ji Hoon. Di artikel tersebut tertulis, kedua pendaki (read : Dokgo Ji Hoon dan Choi Man Ho) jatuh karena tali yang putus.


Sementara itu, Presdir Choi dan Nyonya Hong sedang berdebat tentang film yang akan mereka tonton. Tak lama kemudian, Jin Eon turun ke bawah dan menatap sang ayah dengan pandangan kecewa. Nyonya Hong dan Presdir Choi masih berdebat soal film, hingga akhirnya perdebatan itu terhenti ketika Jin Eon mengajak mereka nonton bersama. Tapi Nyonya Hong menolak, ia berkata ia tidak bisa pergi hari itu karena sudah ada janji.


Hae Gang berada di parkiran ketika seorang pria muda bertopi hitam mendekati mobilnya. Hae Gang pun ketakutan, ia melarang pria itu mendekati mobilnya. Pria itu kemudian pergi setelah menyelipkan sesuatu di kaca mobil Hae Gang. 




Bersamaan dengan itu, Jin Eon datang dan berpapasan dengan pria itu. Pria itu menghentikan langkahnya, ia menoleh dan menatap tajam ke arah Hae Gang. Jin Eon menatap pria itu. Pria itu langsung terkejut, ia segera pergi sambil menutupi wajahnya dengan topi. Jin Eon pun langsung mencurigai pria itu. Hae Gang kemudian datang menghampiri Jin Eon.


“Kau seharusnya memberi hormat padaku. Bagaimana bisa kau tetap menegakkan kepalamu setelah melihat atasanmu?” ucap Hae Gang.

Namun Jin Eon diam saja sembari menatap Hae Gang dengan tatapan cemas.

“Kau lagi2 menatapku seperti itu.” ucap Hae Gang.

“Aku duluan.” Ucap Hae Gang lagi, lalu beranjak pergi.


Hae Gang menunggu pintu lift terbuka. Sementara Jin Eon masih terpaku di tempatnya. Hae Gang menoleh ke Jin Eon, ia pun terheran2 menatap Jin Eon. Tak lama kemudian, Hae Gang pun kembali menghampiri Jin Eon.

“Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?  Sesuatu yang buruk? Cepatlah, katakan padaku.” Ucap Hae Gang cemas.


“Haruskah kita pindah keluar negeri? Jauh, sejauh mungkin, hanya kita berdua. Galapagos, ayo hidup di sana. Lebih banyak kura2 dan iguana yang hidup di sana ketimbang manusia. Kita bisa menetap di sebuah pulau, lalu membeli sebuah kapal dan pergi ke laut sesekali dan makan juga tidur.” Jawab Jin Eon.

“Ada apa?” tanya Hae Gang.

“Aku akan membuatmu bahagia. Bahagia setiap hari, setiap waktu. Ayo pergi, Hae Gang-ah. Ayo kita pergi.” Jawab Jin Eon.

“Kita bicarakan ini setelah selesai bekerja. Ayo masuk.” Ucap Hae Gang, lalu pergi.


Tangis Jin Eon hampir pecah. Hae Gang menatap bingung ke arah Jin Eon. Tak lama, Hae Gang kembali menghampiri Jin Eon. Ia mengajak Jin Eon masuk, tapi Jin Eon malah memeluknya dengan erat. Hae Gang pun semakin bingung dibuatnya.


Yong Gi bicara dengan Seok via phone sambil menggulung2 adonan. Yong Gi ingin tahu jam berapa persidangannya dimulai. Seok cemas, ia berkata Yong Gi tidak akan nyaman berada di persidangan. Yong Gi berkata ia mau pergi karena ia penasaran dengan apa yang akan dikatakan Hae Gang saat persidangan.

“Baiklah, kau boleh pergi. Kau akan datang sebagai saksi. Tapi kau harus ingat, bahwa apa yang kau lihat nanti tidak sepenuhnya benar.” jawab Seok.

“Aku akan melakukan apapun untuk mengambil jurnal dan catatanku yang sudah dia ambil dan aku akan memberikannya padamu. Jika kau memiliki catatan itu, kau bisa memenangkan kasus ini.” ucap Yong Gi.

“Aku memilikinya, Yong Gi-ya. Copy-an catan dan jurnal mu, aku memilikinya.” Jawab Seok.

“Bagaimana bisa?” tanya Yong Gi.

“Itulah maksudku, bagaimana bisa aku memilikinya. Kau tidak pernah mengatakan apapun tentang ini.” jawab Seok.

Yong Gi pun langsung menyadari sesuatu.

“Ong Gi yang kesepian berjuang sendirian melawan dirinya sebagai Pengacara Do Hae Gang. Aku tidak bisa, jadi kau datang lah untuk menyemangatinya.” Ucap Seok.


Yong Gi pun resah mendengarnya. Tiba2, Yong Gi dikejutkan dengan kedatangan Jin Ri. Yong Gi akhirnya membukakan pintu untuk Jin Ri setelah keduanya saling bertatapan tajam lewat layar intercom.


Begitu masuk, Jin Ri langsung menatap tajam Yong Gi. Yong Gi pun dengan sengaja menepuk2 tangannya yang penuh tepung di depan Jin Ri sambil berkata kalau ia sedang sibuk membuat mie. Yong Gi lantas menyuruh Jin Ri duduk di dapur bersamanya.

“Aku sedang membuatkan makan siang untuk Gyu Seok kami, jadi aku tidak punya banyak waktu untuk duduk2 mengobrol denganmu.” Ucap Yong Gi.


Jin Ri pun marah, siapa dirimu sampai kau bisa memanggilnya Gyu Seok mu? Apa kau tidak bisa membedakan mana langit mana bumi?

Yong Gi pun makin bersemangat mengerjai Jin Ri.

“Omo, apa kau memiliki gangguan kemarahan? Kenapa kau begitu marah? Baiklah, aku akan memanggilnya dokter saja agar perasaanmu menjadi lebih baik.”

“Ap… ap… ap… apa?” kaget Jin Ri.


“Aku harus menyelesaikan pekerjaanku terlebih dahulu, jadi bernapaslah dengan baik.” Jawab Yong Gi, lalu pergi ke dapur dengan sambil tersenyum geli.


Sementara itu, Woo Joo marah karena Gyu Seok hanya sibuk membaca buku dan tidak mempedulikannya. Gyu Seok beralasan kalau dirinya tak bisa memperhatikan Woo Joo setiap waktu. Woo Joo lantas bertanya, apa Gyu Seok lebih menyukai buku daripada dirinya.

“Iya, aku menyukai mereka. Sekitar 10 buku yang kusukai lebih daripada dirimu. Tapi dibanding banyak orang, aku lebih menyukaimu.” Jawab Gyu Seok.

Tapi Woo Joo tetap saja kecewa.

“Kalau kau kecewa padaku, temukan 10 buku yang kau sukai. Maka hati kita akan menjadi sama dalam apa yang kita sukai.” Ucap Gyu Seok.


Woo Joo pun menganggukkan kepalanya. Senyumnya kemudian merekah saat Gyu Seok mengajaknya ke toko buku.


Diluar,  Jin Ri marah karena Yong Gi tidak mau putus dengan Gyu Seok. Jin Ri berkata itu tidak masuk akal, karena Yong Gi adalah seorang ibu. Yong Gi awalnya tidak mempedulikan kata2 Jin Ri, namun hatinya terusik kala Jin Ri menyebutkan soal penyakit Woo Joo.

“Tidak peduli masuk akal atau tidak, aku akan menunjukkannya padamu, Kakak Ipar.” Jawab Yong Gi.

“Ap… ap… apa? Kakak ipar? Berani sekali kau. Coba katakan sekali lagi!” ucap Jin Ri kesal.

“Kakak Ipar.” Jawab Yong Gi.

Jin Ri pun syok mendengarnya.

“Seperti yang kau bilang, aku ini ibu dari seorang anak dan anakku sakit. Tapi kalau Gyu Seok kami menyukainya, bagaimana bisa aku menolaknya?” ucap Yong Gi lagi.


Tepat saat itu, Gyu Seok dan Woo Joo menghampiri mereka. Jin Ri yang gak menyadari kehadiran Gyu Seok pun mengamuk. Ia menghambur2kan adonan mie yang sudah siap dimasak. Melihat itu, Gyu Seok buru2 melindungi Yong Gi. Ia menjadikan tubuhnya tameng agar Yong Gi tidak terkena adonan mie itu.


Akibatnya, Gyu Seok menyuruh Jin Ri membuat ulang adonan mie yang dihancurkannya. Yong Gi ikut memanasi Jin Ri dengan menyodorkan bahan2 membuat mie dan sarung tangan padanya. Tak hanya itu, Yong Gi juga memanasi Jin Ri dengan menyenderkan kepalanya di bahu Gyu Seok. LOL LOL


Jin Ri meremas2 adonan mie dengan tampang jijik sambil diawasi Gyu Seok. Tak lama, Nyonya Kim pulang dan terheran2 melihat apa yang dilakukan Jin Ri. Nyonya Kim pun menghampiri Yong Gi dan mencari tahu kenapa Jin Ri melakukan itu dengan bertanya pada Yong Gi.



“Dia benar2 takut dengan adik iparnya.” Jawab Yong Gi penuh semangat.

Hae Gang memberitahu Tae Seok kalau dirinya dapat perintah dari Presdir Choi untuk merestrukturisasi perusahaan. Tae Seok protes, Hae Gang pun menjelaskan kalau ia hanya mendengarkan apa yang sudah diputuskan Presdir Choi.

“Mulai tahun depan, jika restrukturisasi terdengar, selain resistensi karyawan, hal itu akan berimbas pada harga saham kita. Ayo kita lakukan saat musim panas tiba, Wakil Presdir Do.” Ucap Tae Seok.

“Kau salah. Restrukturisasi tidak berlaku pada karyawan, tapi pada manajemen perusahaan.” Jawab Hae Gang.

Tae Seok kaget.

“Saat kau pergi ke pemakaman, kau tidak akan hanya melihat mereka berkabung atau bersedih. Mereka akan tertawa dan berisik. Dan kemudian, mereka terbebas dari rasa frustasi. Aku akan pergi setelah menyingkirkan seekor babi yang mengambil banyak uang tanpa melakukan apapun.” Ucap Hae Gang.


Hae Gang lantas memberikan dokumen yang berisi siapa2 saja yang akan direstrukturisasi. Dimulai dari Kim Hwak Soo (Produser Kim) yang menjabat sebagai Wakil Kepala Direktur Strategi, yang menerima 8 milliar dari Rumah Sakit Jae Yee sebagai biaya tambahan. Tae Seok pun terpengarah melihatnya. Hae Gang menyuruh Tae Seok untuk secepatnya memotong ekor Kim Hwak Sook.

“Aku mau ke persidangan.” Ucap Hae Gang, lalu keluar dari ruangan Tae Seok.


Namun langkahnya terhenti setibanya diluar. Ia menatap ke arah ruangan Jin Eon dengan sejuta tanda tanya di benaknya. Manajer Byeon ingin memberitahu Jin Eon soal kedatangan Hae Gang, namun Hae Gang melarangnya dan bergegas pergi.


Sementara itu, di ruangannya, Tae Seok berkata dalam hatinya bahwa ia tak akan membiarkan siapapun menjatuhkannya. Ia berkata orang yang akan jatuh adalah Hae Gang sendiri, bukan dirinya. Tae Seok lantas mendapat kiriman foto2 Seok yang sedang berdiri di atas jembatan stasiun Imjin lewat emailnya. Tae Seok pun semakin panic melihatnya.


Bersambungke part 2…………..

No comments:

Post a Comment