Saturday, December 10, 2016

The Legend Of The Blue Sea Ep 5 Part 1

Sebelumnya...


Orang suruhan Bangsawan Yang hendak melukai kaki Sae Wa. Tepat saat itu, sebuah pedang menusuk dadanya dan Dam Ryung pun muncul. Dam Ryung dan orang2 suruhan Bangsawan Yang terlibat baku hantam. Dengan kemampuannya yang melebihi kemampuan orang2 suruhan Bangsawan Yang, Dam Ryung berhasil melumpuhkan mereka semua.


Setelah mereka lumpuh, Dam Ryung membawa Sae Wa pergi. Orang2 Bangsawan Yang berpencar mencari Dam Ryung dan Sae Wa. Dam Ryung yang bersembunyi di perkebunan terus mengawasi orang2 suruhan Bangsawan Yang. Orang2 suruhan Bangsawan Yang kemudian pergi.


“Apa kau terluka?” tanya Dam Ryung. Sae Wa pun menggeleng.

“Aku merindukanmu.” Ucap Dam Ryung sambil menatap kedua mata Sae Wa dalam2.


Dam Ryung kemudian menggenggam tangan Sae Wa. Berdua, mereka melintasi perkebunan. Sae Wa berhenti melangkah saat melihat sekuntum bunga diantara dedaunan. Dam Ryung tersenyum, kemudian memetik bunga itu.

“Di dunia ini, masing2 bunga mempunyai makna khusus. Kau tahu arti bunga ini?” tanya Dam Ryung sembari memberikan bunga itu ke Sae Wa.

“Apa artinya?” tanya Sae Wa.

“Sesuatu yang kau miliki, tapi tidak denganku. Kenangan.” Jawab Dam Ryung.


Dam Ryung kemudian membawa Sae Wa naik kuda bersamanya. Sae Wa memeluk erat Dam Ryung. Dam Ryung memacu kudanya dengan pelan.


Dam Ryung membawa Sae Wa ke kantornya. Tanpa mereka sadari, orang Bangsawan Yang mengawasi mereka.


3 Putri duyung muncul di permukaan. Sae Wa yang bisa merasakan kehadiran teman2nya langsung menghentikan langkahnya. Ia menoleh. Tak lama kemudian, Dam Ryung mengajak Sae Wa masuk.

Bangsawan Yang mendapat laporan dari anak buahnya tentang Dam Ryung dan Sae Wa. Selir Bangsawan Yang berkata bahwa mereka hanya tinggal menunggu bencana yang akan terjadi. Bangswan Yang tersenyum licik dan memikirkan apa yang harus ia lakukan terlebih dahulu.


Seorang pria tiba2 datang dan memaksa masuk menemui Bangsawan Yang. Pengawal Bangsawan Yang menghalangi pria itu masuk. Bangsawan Yang meneriaki pengawalnya karena sudah menghalangi pria itu masuk. Pria itu lantas masuk menemui Bangsawan Yang.

“Sudah larut begini, apa yang tamu kami ini lakukan di sini? Apa ada yang membuat anda terganggu  di penginapan?” tanya Bangsawan Yang.

“Tidak peduli bagaimana aku memikirkannya, itu terlalu berlebihan. Kenyataannya anda memiliki izin untuk melarang kapal2 dagang kami di pelabuhan dan memasang tarif untuk menginap di penginapan ini. Itu bisa kuterima, tapi kami juga perlu hidup!” ucap pria bangsawan itu.


“Tamu kesayangan kami, anda belum berjanji bahwa anda akan memberikan kami hak eksklusif untuk kargo. Oleh karena itu, tunggulah beberapa hari lagi.” Jawab Bangsawan Yang licik.

“Kau memang pemeras!” pria bangsawan itu marah dan membalikkan meja makan Bangsawan Yang.

“Kau menyudutkan orang untuk memeras mereka, kau pikir kami datang jauh2 untuk memuaskan keserakahanmu begitu? Aku akan memberitahu seluruh dunia tentang kekejamanmu!” teriak pria itu.

Pria itu kemudian beranjak pergi. Dengan nada mengancam, Bangsawan Yang menyuruh pria itu berhati2. Bangsawan Yang kemudian melemparkan gelasnya. Kekesalan menghiasi wajahnya.


Keesokan harinya, pria itu ditemukan tewas di pinggir laut. Dam Ryung langsung menyelidiki kasus tewasnya pria itu. Tak ada tanda2 tersetrum, tercekik ataupun keracunan. Pria itu juga tidak menderita penyakit apapun. Seorang pejabat kerajaan yang ikut menyelidiki kasus itu berkata tentang kutukan putri duyung. Penduduk desa langsung heboh. Mereka meyakini kematian pria itu disebabkan oleh si putri duyung.

Bangsawan Yang kemudian muncul di tengah para warga. Ia senang melihat para warga mempercayai kematian pria itu disebabkan oleh Putri Duyung.

“Tidak peduli jika kematiannya disebabkan oleh Putri Duyung atau….”


Dam Ryung melirik tajam Bangsawan Yang, “… hanya skema yang dibuat oleh seseorang untuk menakuti para warga, semua itu belum pasti. Aku akan menyelidiki kasus ini secara mendalam, sampai saat itu tak boleh ada upacara pemakaman. Aku menghimbau pada kalian, petugas hukum, tabib, dan lainnya untuk melakukan yang terbaik selama penyelidikan.”


Hong Nan muncul di kantor Dam Ryung dengan seorang cenayang. Ia berkata tentang Si Putri Duyung yang bersembunyi di kantor Dam Ryung. Para penduduk desa pun heboh. Hong Nan ingin menggeledah kantor Dam Ryung, namun asisten Dam Ryung tak mengizinkannya. Hong Nan pun mengancam akan menurunkan Dam Ryung dari posisinya membuat asisten Dam Ryung ketakutan.


Seorang pengawal melaporkan apa yang terjadi di kantor pada Dam Ryung. Mendengar hal itu, Dam Ryung pun langsung memacu kudanya.


Sementara itu, Sae Wa sedang memandangi guci yang ada lukisan Putri Duyung sedang mencium seorang pria. Ingatan Sae Wa pun seketika melayang pada kata2 Dam Ryung. Dam Ryung berkata, bahwa ia bermimpi. Di dalam mimpinya, ia berada di sebuah dunia yang aneh. Sae Wa juga ada di dalam mimpinya.


“Aku melukis kita berdua sama seperti di dalam mimpi. Entah itu hanya mimpi atau halusinasi, atau aku melihat masa depan dunia lain. Aku tak bisa memastikannya.” Ucap Dam Ryung.


Sementara itu, Dam Ryung masih terus memacu kudanya.

Kemudian kita mendengar kata2 Dam Ryung pada Sae Wa tentang lukisan itu.

“Satu hal yang pasti….”


Hong Nan memaksa menggeledah kantor Dam Ryung meski dihalangi petugas.

Kita kemudian mendengar lagi kata2 Dam Ryung….

“Segala yang terjadi sekarang, juga akan terjadi di masa itu. Aneh. Kenyataannya nasib ini terulang lagi.”


Pintu kamar pun terbuka. Sae Wa menoleh ke pintu. Entah Hong Nan yang membuka pintu itu atau tidak.


Di dunia modern, Dae Young yang menyamar sebagai polisi mengaku pada Sim Chung bahwa ia sedang menyelidiki kasus pembunuhan. Dae Young meminta masuk ke dalam rumah. Sim Chung pun mengizinkannya. Namun tepat saat Dae Young akan masuk ke rumah bersama Sim Chung, Joon Jae muncul dan menyelamatkan Sim Chung.

“Siapa kau? Apa begini caranya melakukan investigasi? Kurasa biasanya dilakukan dalam dua tim. Perlihatkan identitasmu.” Ucap Joon Jae.


Dae Young diam saja…. Joon Jae kemudian menyadari bahwa Dae Young tidak memiliki walkie talkie. Ia pun curiga bahwa sosok di hadapannya bukanlah seorang polisi.

Dae Young tersenyum menyeringai. Tepat saat itu, polisi sungguhan datang. Dae Young pun kabur. Joon Jae melaporkan pada polisi bahwa sosok yang kabur barusan terlihat mencurigakan.Tapi polisi malah memperingatkan Joon Jae bahwa Joon Jae tak boleh sembarangan menuduh orang lain. Polisi juga memperkarakan Joon Jae yang menerobos razia.

“Aku mendengar tentang kasus pembunuhan di sekitar sini, jadi aku mencemaskan pacarku yang berada di rumah sendirian.” Ucap Joon Jae.


Joon Jae kemudian menggenggam tangan Sim Chung.

“Pacarku ini sangat penakut.” Ucap Joon Jae.

“Aku bukan penakut.” Jawab Sim Chung dengan rona bahagia karena tangannya digenggam Joon Jae.

Joon Jae pun tertawa panic, lalu menatap Sim Chung.

“Kau takut.” Ucap Joon Jae.

“Aku takut?” tanya Sim Chung.

“Kau takut.” Jawab Joon Jae greget.

Polisi lantas meminta kartu identitas Joon Jae. Joon Jae pun memberikan kartu identitasnya tentu saja dengan nama samaran. Tak lama kemudian, Detektif Hong yang ngebet mau menangkap Joon Jae pun datang. Menyadari hal itu, Joon Jae langsung menyembunyikan wajahnya dibalik payung Sim Chung.


Detektif Hong merasa curiga. Ia merasa pernah melihat Joon Jae sebelumnya. Detektif Hong kemudian mendekati Joon Jae. Tepat saat itu, rekannya datang dan berkata bahwa ia baru saja mendapat informasi tentang Dae Young yang berada di wilayak Oksoo-dong. Detektif Hong dan rekannya pun bergegas ke sana.


Di sebuah kedai, Nam Doo merasa kesal. Ia berkata, bahwa sejak usianya 9 tahun, ia tak pernah menelpon polisi atau pemadam kebakaran, tapi sekarang berkat Joon Jae ia menghubungi polisi dan membuat laporan palsu bahwa ia melihat Dae Young.


Polisi yang menginterogasi Joon Jae mendapat laporan bahwa Joon Jae tak memiliki criminal. Joon Jae yang mendengar itu pun tersenyum puas. Polisi itu mengembalikan identitas Joon Jae dan menyuruh Joon Jae membayar denda.


Joon Jae lantas menatap Sim Chung dan mengelus pipi Sim Chung.

“Ayo masuk, kau pasti takut kan?” ucap Joon Jae.

“Aku tidak takut.” Jawab Sim Chung dengan wajah senang.

“Kau takut. Ayo masuk.” Ucap Joon Jae.


Polisi yang menginterogasi Joon Jae pun merasa pernah melihat Joon Jae tapi ia lupa dimana. Rekannya pun bertanya apa ia mengenal Joon Jae. Polisi itu mengaku tidak, namun ia tak mengerti kenapa ia tak menyukai Joon Jae.


Setibanya di dalam, Sim Chung terkejut menemukan luka di tangan Joon Jae. Tapi Joon Jae malah mengomeli Sim Chung yang membuka pintu sembarangan. Sim Chung pun membela diri. Ia berkata, ia membuka pintu karena seseorang yang datang. Karena yang datang manusia, bukan ikan hiu.

“Kenapa hiu harus datang ke sini? Dan lagi pula manusia lebih berbahaya daripada hiu.” Jawab Joon Jae.


“Manusia lebih berbahaya? Kenapa?” tanya Sim Chung polos.

“Dalam setahun, ada sekitar 5 hiu yang membunuh manusia. Tapi jumlah manusia yang membunuh hiu itu jutaan. Jadi katakan siapa yang paling berbahaya?” jawab Joon Jae.

“Manusia?” tanya Sim Chung.

“Itu benar. Manusia lebih berbahaya. Jadi kau tidak boleh membukakan pintu untuk orang asing.” Jawab Joon Jae.

“Tapi Heo Joon Jae, tanganmu tidak sakit, kan?” tanya Sim Chung cemas.


“Bukankah sudah kubilang, kalau kau mau melindungi orang lain maka kau harus bisa melindungi dirimu sendiri. Sama dengan kekhawatiran. Sebelum kau mengkhawatirkan orang lain, kau harus mengkhawatirkan dirimu sendiri. Pikirkan dirimu sendiri terlebih dahulu.” Jawab Joon Jae.


Sim Chung hanya menunduk mendengar kemarahan Joon Jae. Joon Jae sendiri malah bingung kenapa dia marah2. Joon Jae lantas duduk di sofanya. Sim Chung pun mendekati Joon Jae dengan wajah penasaran.

“Tapi Heo Joon Jae, aku penasaran terhadap sesuatu. Kemana perginya orang2 kecil yang ada di dalam sana?” tanya Sim Chung sambil menunjuk TV.

Joon Jae pun bingung, apa?

“Apa mereka di sini? Tak bisakah kau menyuruhnya keluar?” tanya Sim Chung sambil mendekat ke arah TV.

“Keluar dari sana?” tanya Joon Jae sembari tertawa geli.


Sim Chung lalu memperagakan adegan drama yang tadi ditontonnya.

“Ayah kandungmu adalah….”

Joon Jae pun melongo melihatnya.


“Ceritanya seperti itu, lalu ada tulisan sampai jumpa minggu depan. Aku penasaran siapa ayah kandungnya.” Ucap Sim Chung.

“Jadi kau ingin aku menanyakannya?” tanya Joon Jae, yang langsung diangguki Sim Chung.

“Kau ingin aku menanyakan kelanjutannya?” tanya Joon Jae.

“Apa kau mengenal mereka?” tanya Sim Chung.

“Tentu saja aku mengenal mereka. Mereka membayar sewa karena tinggal di rumahku. Mereka hidup di dalam sana, kan?” ucap Joon Jae sambil menunjuk ke TV.

“Benarkah?” tanya Sim Chung.

“Aku akan menghubungi mereka dan menanyakannya pada mereka.” Jawab Joon Jae.


Joon Jae pun mulai menghubungi seseorang. Sim Chung bergegas mendekatkan telinganya ke ponsel Joon Jae untuk mendengarkan mereka bicara. Yang dihubungi Joon Jae ternyata Nam Doo.

“Apa kau baik2 saja?” tanya Nam Doo.

“Aku baik2 saja. Aku adalah si pemilik rumah.” Jawab Joon Jae.

“Pemilik rumah?” tanya Nam Doo.

“Bagaimana kau bisa masuk ke dalam sana?” tanya Joon Jae.

Nam Doo pun heran, masuk kemana?

“Maksudku kau harus menyelesaikan apa yang mau kau katakan sebelum pergi.” Jawab Joon Jae.

“Menyelesaikan apa?” tanya Nam Doo.


“Kenapa kau tidak melanjutkan perkataanmu? Itu memalukan.” Jawab Joon Jae.

“Apanya yang memalukan? Kau sehat?” tanya Nam Doo.

“Katakan siapa ayah kandungmu?” pinta Joon Jae.

“Ayah? Kau benar2 tahu kelemahanku. Aku yatim piatu, kau ingat?” ucap Nam Doo.

“Aku mengerti.” Jawab Joon Jae, lalu menyudahi pembicaraannya.

“Apa yang mereka katakan?” tanya Sim Chung.

“Kau katakanlah duluan.” Jawab Joon Jae.

“Katakan apa?” tanya Sim Chung.

“Bagaimana kita bisa bertemu di Spanyol dan apa yang kita lakukan dan kenapa aku tidak ingat?” ucap Joon Jae.

“Tidak bisakah kau mengatakannya duluan padaku?” tanya Sim Chung.

“Tentu saja tidak, kenapa? Karena di dunia ini tidak ada yang gratis. Kita harus saling memberi dan menerima.” Jawab Joon Jae.


Joon Jae kemudian mengulangi kata2nya. “Give….” Sambil menunjuk Sim Chung, … and take.” Kemudian menunjuk dirinya sendiri.

“Bagaimana bisa memberi jika belum menerima?” tanya Joon Jae.

“Jadi jika belum memberi, kita tak bisa menerima?” tanya Sim Chung.

“Tidak ada dunia yang seperti itu.

“Kalau begitu aku akan menunggu mulai sekarang sampai minggu depan.Aku sabar menunggu.” Jawab Sim Chung.


Joon Jae terkejut. Joon Jae lalu menghela napas kemudian mendekatkan wajahnya ke Sim Chung. Seketika itu pula, Joon Jae terdiam dan Sim Chung tersipu malu.

“Kau mungkin bisa menunggu, tapi aku tidak. Aku tidak bisa menunggu. Dengarkan baik-baik. Bagimu, saat ini, minggu depan, atau besok. Jika kau tak mengatakan apa-apa sampai besok, kau harus pergi. Jadi, besok, mengerti?” ucap Joon Jae.


Sim Chung terdiam… Sementara Joon Jae beranjak ke kamarnya setelah mengatakan itu ke Sim Chung. Namun wajah Joon Jae terlihat sedih usai mengatakan hal itu.


Seo Hee ingin tahu apa Dae Young pelaku pembunuhan itu. Dae Young menyangkalnya. Seo Hee pun meminta Dae Young untuk melakukan apa yang diperintahkannya karena jika tidak dia akan membongkar kedok Dae Young. Seo Hee lalu menanyakan Joon Jae.


Tepat saat itu, Chi Hyun muncul di belakang Seo Hee. Matanya membulat dengan sempurna saat mendengar sang ibu meminta alamat Joon Jae.


Chi Hyun lantas menegur ibunya dan bersikap seolah2 dia tidak mendengarkan apapun. Seo Hee, ia langsung memutuskan pembicaraannya dengan Dae Young.

“Kenapa kau belum tidur?” tanya Seo Hee.

“Aku merasa lapar setelah melakukan tugasku. Apa ada sesuatu yang bisa dimakan?” ucap Chi Hyun.

“Tentu saja, ibu akan membuatkannya untukmu.” Jawab Seo Hee.


Seo Hee lalu pergi ke dapur dengan wajah tegang dan meletakkan ponselnya di meja. Setelah sang ibu pergi, Chi Hyun mendekati ponsel ibunya. Tepat saat itu, sebuah pesan dari Dae Young masuk. Chi Hyun terkejut membaca pesan yang bertuliskan alamat Joon Jae.


Chi Hyun lantas menghampiri sang ibu di dapur. Ia pura2 memberitahu ibunya bahwa ponsel sang ibu daritadi berbunyi terus. Namun saat akan memberikan ponselnya, Chi Hyun dengan sengaja menjatuhkan ponsel itu ke dalam air.

Seo Hee pun panic, kau harusnya berhati-hati.

“Maafkan aku.” jawab Chi Hyun. Chi Hyun lantas bertanya kenapa sang ibu tidak membeli ponsel baru saja karena ponsel sang ibu sudah ketinggalan zaman. Chi Hyun pun berkata bahwa ia akan membelikan ponsel yang lebih bagus untuk ibunya.


Seo Hee diam saja, namun kegugupan jelas terlihat di wajahnya. Chi Hyun menatap ibunya dengan tatapan kecewa.


Joon Jae sudah bersiap2 untuk tidur. Namun tiba2, kepala Sim Chung muncul dari kamar loteng. Karuan saja, Joon Jae terkejut melihatnya.

“Kau bisa melihatku?” tanya Sim Chung. Sim Chung lalu berkata bahwa ia hanya ingin melihat Joon Jae.


Joon Jae yang takut menyuruh Sim Chung memasukkan kepalanya ke dalam. Sim Chung memasukkan kepalanya, tapi tak lama ia mengeluarkan kepalanya lagi.

“Tapi kenapa teman-temanmu belum pulang?” tanya Sim Chung.

“Mereka tidak akan pulang malam ini.” jawab Joon Jae.

“Jadi maksudmu hanya kita berdua?” tanya Sim Chung. Sim Chung lalu tertawa senang.

“Hei, aku takut jika kau tersenyum seperti itu. Apa kau tak mau masuk? Apa kau hantu?” ucap Joon Jae.

“Maaf tapi tak bisakah kau khawatir padaku? menyenangkan. Kau mau lihat?” jawab Sim Chung.


Sim Chung lalu menggerakkan kepalanya ke atas dan ke bawah, membuat Joon Jae frustasi.

“Tutuplah matamu. Jika kau menutupnya, maka kau tidak akan melihatku.” Ucap Sim Chung.

“Ini bukan bermain-main, jika sesuatu terus menggangguku bagaimana aku bisa menutup mataku?” protes Joon Jae.

“Ah... jadi kau tak suka aku melakukan ini? Jika kau tak suka, apa aku  harus turun? Duduk di sebelahmu? Ah... baik. Ku rasa aku harus turun.” Ucap Sim Chung.


Sim Chung pun turun, namun begitu Joon Jae mengancam akan mengusirnya, dia tidak jadi turun dan kembali masuk kamarnya.


Sim Chung menutup pintu kamarnya sambil mengintip Joon Jae. Joon Jae pun menyuruh Sim Chung menutup pintunya. Barulah Sim Chung benar2 menutup pintunya.


Di kamarnya, Sim Chung menatap keluar jendela. Diluar hujan masih turun dengan deras. Tak lama kemudian, Sim Chung menatap jam wekernya dan menghentikan jarum jam weker.

“Akan lebih baik kalau hari esok tidak datang.” gumam Sim Chung.


Keesokan harinya, Si A datang tapi Sim Chung tidak mau membuka pintu dengan alasan Joon Jae melarangnya membuka pintu untuk orang asing. Si A pun kesal dan berkata bahwa dirinya bukan orang asing. Sim Chung menjawab, kalau baginya Si A itu orang asing.


Dengan wajah gondok, Si A mencoba membuka pintu tapi Sim Chung menahannya. Si A terus mencoba. Sim Chung akhirnya membuka pintu sehingga Si A pun jatuh terjerembab. Sim Chung pun menatap sinis Si A, lalu dengan songongnya ia masuk ke rumah Joon Jae.


“Mana Joon Jae?” tanya Si A.

“Dia bilang dia mau jogging.” Jawab Sim Chung.

“Lalu Nam Doo Oppa dan Tae Oh?” tanya Si A.

“Mereka tidak pulang. Sayangnya, hanya sehari saja. Ku harap itu selamanya.” Jawab Sim Chung sambil menatap jahil Si A.

“Jadi, hanya kalian berdua kemarin?” tanya Si A kesal.

“Ya..” jawab Sim Chung sambil memainkan rambutnya.


Si A yang jengkel akhirnya memberitahu Sim Chung bahwa dirinya dan Joon Jae akan menikah. Sim Chung yang tidak mengerti bertanya apa itu pernikahan.

“Pernikahan adalah... Ketika seorang pria dan seorang wanita hidup bersama, saling mencintai, dan hidup untuk satu sama lain.” Jawab Si A.

“Ah, maksudmu seperti apa yang  aku dan Joon Jae lakukan sekarang?” tanya Sim Chung.

“Tidak, apa yang kau dan Joon Jae  lakukan bukanlah menikah. Lebih jelasnya, kau sama seperti parasit.” Jawab Si A.


“Apa itu parasit?” tanya Sim Chung.

“Menjadi parasit, adalah  menempel terus pada seseorang. Pernikahan hidup bersama satu sama lain karena kalian menginginkan satu sama lain. Itulah perbedaannya. Apa Joon Jae mengatakan  "mari kita hidup bersama"? Dia tidak melakukannya. Kau di sini seperti ini  saat orang lain tak menginginkannya, itulah yang namanya menempel pada seseorang, seperti parasit menghisap darah dari seseorang.” ucap Si A.

“Aku tidak menghisap darah orang.  Aku tidak menghisap darahnya.” Jawab Sim Chung.

“Tidak, maksudku tidak benar-benar  mengisap darahnya... Kau tampaknya tidak mengerti jika aku mengatakannya dengan sopan Haruskah aku berterus terang?” ucap Si A.

Si A lalu menunjuk ke pintu dan mengusir Sim Chung.


Sim Chung yang kesal melirik jari Si A yang masih menunjuk ke pintu. Tak lama kemudian, Sim Chung menggit jari Si A. Si A pun menjerit kesakitan sambil berusaha melepaskan jarinya yang digigit Sim Chung.


Jari Si A pun harus diperban. Sim Chung hanya bisa menunduk saat Joon Jae memarahinya. Si A langsung bersikap manis. Ia meminta Joon Jae tidak terlalu keras pada Sim Chung. Sim Chung yang mendengar itu langsung memelototi Si A.


Akibatnya, Joon Jae kembali memarahi Sim Chung. Sim Chung mengadu bahwa Si A menyuruhnya pergi. Si A mau menjelaskan semuanya, tapi Joon Jae memotong perkataan Si A dengan menyuruh Sim Chung pergi.

Joon Jae lantas mengantarkan Si A keluar, namun sebelum pergi ia meminta Sim Chung pergi hari itu juga dari rumahnya. Sim Chung pun sedih.


“Aku akan kembali untuk mengambil  mobilku jika jariku sudah sembuh. Oh, ya. Apa aku memberitahumu  jika aku sudah pulang hari ini? Di laut dekat Yangyang, telah ditemukan  beberapa bangkai kapal berusia ratusan tahun. Yang ditemukan di sana benar-benar  tak biasa. Apa kau ingin melihatnya?” ucap Si A.


Si A lalu mengutak-ngatik ponselnya. Ia mau memperlihatkan sesuatu namun Joon Jae tak peduli. Joon Jae memanggilkan taksi untuk Si A dan menyuruh Si A pergi. Setelah memanggilkan taksi, Joon Jae pergi begitu saja.

Si A menatap kepergian Joon Jae dengan kecewa. Di ponsel Si A, terlihat guci yang ada lukisan seorang pria yang dicium oleh Putri Duyung. Rupanya Si A mau memperlihatkan lukisan itu.


Di kamar Joon Jae, Sim Chung tampak serius menonton sebuah drama sambil menyantap camilan. Ia menatap serius saat pasangan itu berjalan di atas tumpukan salju. Si pemeran utama wanita berkata pada kekasihnya, jika kau mengungkapkan perasaanmu di salju pertama, maka cinta itu akan menjadi kenyataan.


Mendengar itu, Sim Chung bergumam sendiri.

“Benarkah?  Aku tidak tahu itu. Bagaimana bisa?”


Saat pasangan itu mulai berciuman, Sim Chung langsung menutupi wajahnya dengan plastic camilannya yang berwarna transparan. Sim Chung lantas tersenyum malu mengintip pasangan yang sedang berciuman itu.


Tiba2, terdengar suara Joon Jae pulang dan Sim Chung pun langsung masuk ke kamarnya. Joon Jae terkejut melihat sampah sisa camilan Sim Chung yang beserak di lantai kamarnya. Ditambah lagi, Joon Jae melihat adegan ciuman di drama yang ditonton Sim Chung tadi.

“Kau hebat sekali, menonton hal-hal cabul.” Gumam Joon Jae.


Joon Jae lantas mencari remote TV nya, tapi karena remote TV nya dipegang Sim Chung, Joon Jae akhirnya langsung mematikan TV nya tanpa remote. Tapi tak lama kemudian, TV nya menyala kembali. Sim Chung pun dari atas mengeraskan volume suaranya agar bisa mendengar dramanya. Namun itu tak berlangsung lama, karena suara TV nya mendadak hilang, meskipun Sim Chung sudah mengeraskannya. Well, sepertinya Joon Jae mencabut listrik TV nya.

Sim Chung akhirnya keluar dari kamarnya karena mencium wangi makanan.


Begitu tiba di teras, Sim Chung melihat Joon Jae lagi memanggang sosis. Joon Jae pun menyuruh Sim Chung makan. Namun setelah makan, Joon Jae menyuruh Sim Chung pergi. Joon Jae juga memberikan Sim Chung ponsel dan kartu transportasi.

“Apa kita tak akan menunggu "sampai waktu berikutnya"?” tanya Sim Chung.

“Ya, kau berjanji padaku kemarin, kan? Apa kau tahu kenapa janji itu di buat?” ucap Joon Jae.


Seketika ingatan Sim Chung langsung melayang saat Joon Jae mengucapkan kata yang sama ketika mereka berlibur di Spanyol.

“Janji ada untuk di tepati.” Jawab Sim Chung dengan tatapan sedih.

“Baguslah kau tahu.” ucap Joon Jae. Joon Jae lalu meminta Sim Chung mengatakan sesuatu.

“Kalau begitu kau harus berjanji juga.” ucap Sim Chung.

“Kenapa aku harus berjanji?” tanya Joon Jae.

“Karena itu adalah give and take.” Jawab Sim Chung menirukan ucapan Joon Jae.


Joon Jae menarik napas kesal, lalu bertanya Sim Chung ingin dia berjanji apa.

“Bagaimana kalau kita pergi melihat salju pertama di waktu kita berikutnya.” Jawab Sim Chung.
“Kenapa harus sampai waktu berikut?” tanya Joon Jae.

“Karena aku punya sesuatu yang ingin ku katakan padamu di hari pertama salju turun.” Jawab Sim Chung.

“Apa itu? Katakanlah sekarang.” pinta Joon Jae.

“Sekarang? Aku tak bisa mengatakan itu sekarang...” jawab Sim Chung sambil menutup mulutnya.

“...sampai waktu kita berikutnya... Di sana.” Ucap Sim Chung lagi sambil menunjuk ke Namsan Tower.

“Apa?Namsan?” tanya Joon Jae. Sim Chung mengiyakan.

“Aku tak mau. Apa kau tak tahu betapa ramainya di sana  saat salju pertama turun? Belum lagi lalu lintasnya. Aku tidak ke luar di hari-hari seperti itu.” jawab Joon Jae.

“Tapi ada sesuatu yang harus  ku katakan padamu di hari itu. Jika kau berjanji, maka aku akan pergi.” Ucap Sim Chung.

Joon Jae berpikir sejenak sebelum akhirnya setuju akan menemui Sim Chung di Namsan Tower.


Joon Jae lantas menyuruh Sim Chung pergi. Sim Chung menurut dan pergi meninggalkan kediaman Joon Jae sambil menahan kesedihannya. Joon Jae sendiri juga terlihat sedih dengan kepergian Sim Chung.


Begitu Sim Chung pergi, Joon Jae langsung mengambil ponselnya dan melacak keberadaan Sim Chung dengan GPS.

“Aku akan mencari tahu apa yang kau lakukan, kemana kau pergi, siapa yang kau temui dan kenapa kau berada di sini.” Gumam Joon Jae.


Sim Chung berhenti melangkah saat langkahnya tiba di depan ikan2 kecil yang ada di akuarium. Ikan2 itu langsung panic begitu Sim Chung datang. Sim Chung melirik ikan2 itu dan berkata kalau dia tidak akan memakan mereka. Ikan2 itu pun langsung berkumpul di depan Sim Chung.


Sim Chung lalu mengobrol dengan ikan2 itu.

“Bagaimana kalian semua bisa sampai di sini? Oh, dari sana? Aku sudah pernah ke sana. Airnya bagus di sana, banyak lumba-lumba juga.Menurut kalian ini tidak adil? Lebih adil dari apa yang ku alami? Aku pergi jauh dari tempatku hanya karena satu orang. Aku tidak meminta banyak. Aku hanya ingin hidup bersamanya, mencintai  satu sama lain dan memiliki satu sama lain.Bukan menjadi parasit padanya. Aku hanya ingin melakukan itu.”

Tak lama kemudian, pemilik toko keluar dan menyuruh Sim Chung masuk ke dalam untuk melihat2. Tapi Sim Chung dengan wajah sedih mengucapkan selamat tinggal pada ikan2 itu.


Di rumah, Nam Doo protes karena Joon Jae mengusir Sim Chung padahal cuaca sedingin. Joon Jae pun berkata bahwa cuaca tidaklah sedingin itu. Dan Tae Oh langsung menunjukkan artikel yang mendukung kata2 Nam Doo.

“Apa yang kau ingin aku lakukan? Merawatnya selamanya?!” protes Joon Jae.

“Kau terlihat begitu misterius. Baru kemarin kalian berbagi atap, cahaya, menggila saat aku melarangmu pulang karena kau cemas Sim Chung berada di rumah sendirian. Tapi hari ini kau mengusir gadis malang itu dalam cuaca beku ini!?” ucap Nam Doo.

“Aku melakukan itu kemarin  karena keadaannya berbahaya!” bela Joon Jae.

“Hey, bukankah di dunia luar sana yang berbahaya? Di luar sana jauh lebih berbahaya!” jawab Nam Doo.


Tae Oh pun langsung menunjukkan artikel tentang tingginya tingkat kejahatan dan kekerasan selama liburan. LOL LOL

“Terserah. Apa aku walinya?” ucap Joon Jae.

“Maksudku, kau bukan walinya. Tapi Sim Chung adalah malaikat yang memberimu gelang seharga $ 26.000.000 secara gratis.” Jawab Nam Doo.


Tae Oh pun memelototi Joon Jae. Dipelototi seperti itu, membuat Joon Jae protes dan memukul kepala Tae Oh.

“Hei, kau orang yang tak pernah menyerang orang-orang yang malang. Sim Chung bukan hanya benar-benar bangkrut!  Dia tak tahu apa yang terjadi di sekelilingnya!” ucap Nam Doo.


Joon Jae pun beranjak masuk ke kamarnya. Di kamarnya, Joon Jae mengecek pergerakan Sim Chung melalui ponselnya. Ia terkejut mengetahui Sim Chung pergi ke Gangnam. Setelah mengetahui lokasi Sim Chung, Joon Jae pun bergegas menyusul Sim Chung. Ia bahkan tak peduli saat Nam Doo berkata bahwa mereka sudah memiliki target baru.


Nam Doo lalu berkata pada Tae Oh kalau target mereka adalah seseorang yang bepergian dengan stiker Harvard di belakang mobil.

Dan si pemilik mobil berstiker Harvard itu adalah Jin Joo!!


Nam Doo berkata bahwa Jin Joo sangat sensitive terhadap sistem sekolah dan lingkungannya.

“Dia punya anjing bernama "Oh Baek 500" karena dia menghabiskan 500 won sebulan demi anjingnya dan menghemat sumbangan 50%. Wanita ini menghabiskan isi rekening suaminya.Untuk menghabiskan dana tertentu dan mereka bilang dia akan memilih-milih di mana dia harus berinvestasi. Dengan kata lain, dia akan menjadi gila jika memegang uang, dia tak akan tahu jika kantongnya kosong.” Ucap Nam Doo.


Kita melihat Jin Joo dan Yoo Ran yang pergi klinik hewan. Si pegawai klink salah paham dan memanggil Yoo Ran dengan sebutan Nyonya. Jin Joo pun tersinggung dan langsung menyuruh Yoo Ran menggendong anjingnya. Si pegawai klinik merasa tidak enak pada Jin Joo. Tak lama kemudian, perawat datang dan memanggil Yoo Ran dengan sebutan Nyonya. Jin Joo semakin kesal.


Setibanya di rumah, Jin Joo berteriak memanggil Yoo Ran dan meletakkan 3 kantong besar berisi pakaian di lantai. Begitu Yoo Ran datang, Jin Joo menyuruh Yoo Ran membuang pakaian2 itu dengan alasan bahwa ia akan mengisi lemarinya dengan barang2 baru.

“Sepertinya banyak barang baru di sini.” Jawab Yoo Ran.

Jin Joo pun langsung memolotinya. Dipelototi begitu, langsung membuat Yoo Ran menuruti perintah Jin Joo untuk membuang baju2 itu.

“Dan Ajumma, jangan memakai baju seperti ini saat bekerja.” Ucap Jin Joo.

“Apa yang aneh dengan pakaianku?” tanya Yoo Ran.

“Jika aku menyuruh sesuatu, jangan membantah, lakukan saja!” jawab Jin Joo.


Gantian Yoo Ran yang memelototi Jin Joo.

“Kenapa kau menatapku seperti itu!” protes Jin Joo, yang langsung membuat Yoo Ran menghela napas kesal.

Jin Joo yang masih kesal karena kejadian di klinik pun mengusir Yoo Ran.


Yoo Ran pun membawa pakaian2 itu ke tempat sampah dengan suasana hati yang buruk. Tepat saat itu, ia berpapasan dengan Seo Hee. Namun keduanya sama2 tidak menyadari keberadaan masing2. Seo Hee bertandang ke rumah Jin Joo.


Seo Hee datang untuk mengucapkan terima kasih atas makanan yang dikirimkan Jin Joo waktu itu. Seo Hee berkata, bahwa suaminya sudah lama tidak berselera sehingga tidak bisa makan apa namun berkat makanan yang dikirimkan Jin Joo, suaminya bisa makan dengan lahap.
 
Jin Joo pun menarik napas lega dan berkata kalau dirinya bisa membuatkan makanan seperti itu lagi. Seo Hee lalu beranjak pergi setelah sebelumnya memberikan cake pada Jin Joo sebagai ucapan terima kasihnya.


Tepat setelah Seo Hee pergi, Yoo Ran pulang. Jin Joo yang mood nya langsung membaik akibat kedatangan Seo Hee langsung bersikap manis pada Yoo Ran. Yoo Ran berkata kalau ia akan segera mengemasi pakaiannya.

“Kau mau kemana?” tanya Jin Joo.

“Kau mengusirku kan.” Ucap Yoo Ran.

“Jika kau membuang sampah, kau harus mengeluarkannya, kan? Kau tak boleh membuang sampah di dalam. Jadi aku menyuruhmu keluar. Keluar dan buang sampahnya lalu kembali. Itulah yang kukatakan.” Jawab Jin Joo.

“Apa yang kau bicarakan? Tadi kau memarahiku dan mengomentari cara berpakaianku.” Ucap Yoo Ran.

“Tidak, jika kau seperti itu, menurutku kau akan cepat lelah.Karena itu kau harus melihat ke bawah dengan nyaman. Begitu maksudku. Pakaian mu...oh apa ini? Darimana kau mendapatkannya? Dimana kau membelinya? Aku akan bertanya betapa senangnya punya baju seperti itu. Kau akan terluka jika mendengarnya dari orang lain? Akulah yang akan menjadi marah.” Jawab Jin Joo.

“Selama ini, aku telah bekerja keras...” ucap Yoo Ran.

“Nyonya Mo telah bekerja begitu keras selama ini. Itu sebabnya aku sangat bersyukur. Di masa depan, kau harus bekerja keras juga.Tidak, ku rasa aku bermasalah dengan perkataanku. Aku akan berhati-hati mulai sekarang.” jawab Jin Joo.

“Tidak, aku pasti sudah salah paham  dengan yang kau katakan.” Ucap Yoo Ran.

Jin Joo pun menggandeng Yoo Ran dengan manis.

“Kalau begitu, tak ada kesalahpahaman lagi antara kita.” ucap Jin Joo.

Jin Joo bahkan juga mengajak Yoo Ran pergi membeli kepiting.


Pakaian yang tadi dibuang Jin Joo, dipungut oleh Sim Chung dan temannya yang tunawisma. Si tunawisma kasihan karena Sim Chung diusir di cuaca dingin begitu.

“Aku tidak di usir. Dia hanya menyuruhku pergi.” Bela Sim Chung.

“Itu namanya di usir.” Jawab si tunawisma.

“Tapi dia bilang padaku untuk bertemu lagi pada waktu yang sama.” Ucap Sim Chung.

“Sepertinya kau harus hidup sebagai tunawisma. Tapi waktunya tak tepat. Sekarang musim dingin. Begitu dingin seperti kulkas.” Jawab si tunawisma.


Sim Chung lantas berkata bahwa ia berharap memiliki rumah juga.

“Rumah itu bukan milik mereka lagi, itu adalah bank.Dalam istilah profesional, rumah malang.  Mereka mengemis untuk mendapatkan rumah.” Jawab si tunawisma.


“Jadi,  mereka adalah pengemis?” tanya Sim Chung.

“Tentu saja. Mereka adalah pengemis Bank.Lihatlah bahu mereka, semua membungkuk. Itu karena utang-utang dari bank. Bagaimanapun juga, kita lebih kaya dari mereka. Setidaknya kita tak punya utang.Yang kita  khawatirkan hanyalah tiga hal. Udara dingin, kehangatan, rasa lapar.” Jawab si tunawisma.


Sim Chung lalu menanyakan bagaimana caranya si tunawisma mendapatkan uang. Si tunawisma pun langsung Sim Chung membagikan selebaran di jalanan. Ia bahkan menunjukkan cara melakukannya tapi saat si tunawisma membagikan selebaran pada orang2 yang lewat di hadapan mereka sambil tersenyum, dia malah diabaikan.


“Katakanlah mereka tak mau menerimanya, kau tak boleh menyakiti mereka. Tarik dia. Bolak-balik di depannya selama dua detik. Dan jika mereka tidak menerimanya, kau bisa memberikan beberapa brosur untuk satu orang. Jika kau menyebarnya ke jalan-jalan, lihat ke arah jam 10. Pukul 10. jam 10. Ada yang sedang mengawasi.” Ucap si tunawisma.

Dan benar saja, memang ada seorang pria yang mengawasi mereka dari kejauhan.


Si tunawisma lantas menyuruh Sim Chung membagikan selebaran itu.

“Kau tak mau mendapatkan uang?” tanya Sim Chung.

“Jika demi terperangkap di udara dingin dan sepotong roti untuk mengisi kelaparan, aku aku tak akan mencari uang.” Jawab si tunawisma lalu beranjak pergi.

“Aku akan mendapatkan uang! Aku akan mendapatkannya dan memberikannya pada Heo Joon Jae yang sangat suka uang!” teriak Sim Chung pada si tunawisma. Dan si tunawisma membalas perkataan Sim Chung dengan melambaikan tangannya.


Sim Chung pun mulai membagi2kan selebaran itu dengan gaya aneh.


Sementara itu, Joon Jae berhasil mendapatkan lokasi dimana Sim Chung. Begitu melihat Sim Chung, ia pun bergegas sembunyi. Sambil mengawasi Sim Chung, ia bertanya2 apa yang sedang dilakukan Sim Chung.


Seorang pria, si pemilik selebaran, mendekati Sim Chung. Ia memarahi Sim Chung yang hanya mondar mandir tanpa berhasil membagikan selebaran itu. Joon Jae kesal melihatnya. Ia pun langsung menghubungi pengelola parkir dan akibatnya, mobil si pemilik selebaran langsung diderek pergi.


Sim Chung masih terus membagikan selebaran ketika sekelompok pelajar menghampirinya dan meminta selebarannya. Namun ternyata diam2, sekelompok siswa itu memberikan selebaran yang mereka dapat pada Joon Jae. Dan Joon Jae pun memberikan mereka uang. Joon Jae berkata jika mereka ingin mendapatkan uang lebih banyak, mereka harus mengambil selebaran lebih banyak lagi.


Sim Chung masih membagikan selebaran di tengah cuaca yang dinginnya luar biasa. Tiba2, Sim Chung merasa lapar. Dan tepat saat itu, seorang wanita datang dan memberikan Sim Chung bungeoppang (camilan kue berbentuk ikan). Tak hanya itu, wanita itu juga melilitkan syal di leher Sim Chung.


Si wanita itu suruhan Joon Jae juga. Wanita itu mengira Sim Chung adalah wanita yang mau dinikahi Joon Jae. Meskipun Joon Jae sudah mengatakan tidak, tapi wanita itu tidak percaya dan tetap mengira Sim Chung adalah wanita yang dicintai Joon Jae.


Seorang pria kemudian menghampiri Sim Chung dan memberi kartu namanya. Pria itu berkata kalau ia tertarik pada Sim Chung dan meminta nomor ponsel Sim Chung. Tepat saat Sim Chung mau memberikan nomor ponselnya, Joon Jae menghubungi Sim Chung.


“Aku lupa memberitahumu sesuatu. Jika seseorang meminta nomormu, jangan di beri, mengerti?” ucap Joon Jae.

“Kenapa?” tanya Sim Chung bingung.

“Apa maksudmu kenapa? Orang-orang itu orang jahat. Dia akan menggigitmu. Mereka jenis orang, yang jika mereka berlama-lama di sekitarmu, akan menggigit.” Jawab Joon Jae.


Sim Chung pun langsung menatap tajam pria itu dan memasang wajah seram. Pria itu ketakutan dan langsung pergi. Setelah pria itu pergi, Sim Chung pun menanyakan keberadaan Joon Jae. Joon Jae yang bersembunyi dibalik gerobak penjual makanan pun berkata bahwa ia berada sangat jauh dari Sim Chung.Tapi sial, persembunyiannya ketahuan saat si penjual gerobak datang dan membawa gerobaknya pergi.


Sim Chung pun langsung menghampiri Joon Jae dengan wajah girang. Joon Jae pun langsung beralasan kalau dirinya hanya kebetulan lewat saat Sim Chung mengira Joon Jae datang untuk menemuinya. Joon Jae juga berkata bahwa Seoul hanya sebesar telapak tangan sehingga kemungkinan mereka bertemu dengan orang2 yang mereka kenal sangat besar.

“Apakah kita bisa bertemu lagi secara kebetulan?” tanya Sim Chung.

“Tunggu dan lihat saja karena aku tidak yakin.” Jawab Joon Jae.


Joon Jae kemudian pergi, dan Sim Chung langsung memanggil namanya keras. Joon Jae panic dan melarang Sim Chung memanggil namanya keras. Dan Sim Chung pun langsung berbisik pada Joon Jae. Ia berkata, bahwa ia akan mencari uang dan memberikan uangnya pada Joon Jae.


Seketika itu pula, Joon Jae tertegun. Sim Chung lalu kembali menyebarkan brosur2nya.

Bersambung ke part 2….

No comments:

Post a Comment