Tuesday, September 19, 2017

My Golden Life Ep 4 Part 2

Sebelumnya...


Malam harinya, Ji Ho bekerja di klub. Ia tampak menempelkan harga tip seperti stiker di seragamnya jadi pelanggan bisa tahu namanya 0.1 juta.


Saat kembali usai melayani pelanggan, ia melihat ke arah tengah. Banyak orang berkerumun disana menyaksikan dance wanita seksi. Teman Ji Ho berkata, wanita itu dipanggil Cinderella karena menghilang saat sudah tengah malam. Wanita itu sangat terkenal disana. Sekali atau dua kali dalam sebulan ia datang tanpa pernah berkencan dengan seorang pria.


Saat mau beranjak, tiba2 saja Ji Ho terdiam saat melihat wajah wanita itu. Entahlah apa dia mengenal wanita itu makanya tiba2 diam begitu.


Dan ternyata, si Cinderella itu adalah Seohyun!! Supirnya nampak membuang pakaian seksi serta wig nya ke dekat club. Sambil memperbaiki riasannya, ia tanya ke supirnya apa sudah mengabari orang tuanya kalau mereka pulang terlambat karena latihan. Supirnya hanya menjawab sekenanya, membuat ia kesal.

“Hanya itu yang bisa kau katakan?” protes Seohyun. Supirnya lagi2 mengiyakan. Saat Seohyun bertanya alasannya, sang supir cepat2 menjawab akan menyalakan mesin mobilnya.


Sampai di rumah, Seohyun mendapati ibunya masih belum tidur. Saat hendak menjelaskan, sang ibu langsung menyuruhnya masuk kamar. Pas mau beranjak ke kamar, Seohyun melihat ibunya lagi memegang boneka teddy bear. Seohyun pun langsung kecewa mengetahui ibunya terus2an memikirkan Eun Seok.


Ji An sudah mulai bekerja lagi. Ia kerja di sebuah mall. Lagi sibu2knya melayani pelangggan, Do Kyung menelponnya. Ji An lagi2 mematikan ponselnya dan kembali  melayani pelanggan.


Do Kyung yang lagi makan sama Seketaris Yoo pun langsung mengumpat. Kekesalan Do Kyung makin bertambah saat melihat makan siangnya berbeda dengan Seketaris Yoo, padahal Do Kyung sebelumnya sudah memperingatkan kalau mereka harus makan makanan yang sama agar tidak terjadi diskriminasi.


Sepertinya Do Kyung ini takut kalo berita buruk tentang dirinya kesebar di internet. Do Kyung terus mengumpat sampai2 Seketaris Yoo harus menutupi makanannya karena gak mau ludah Do Kyung muncrat ke makanannya…. Hahah..


Ji An melihat ponselnya dan terkejut melihat 57 panggilan tak terjawab dari Do Kyung.. Haha..


Do Kyung yang masih sama Seketaris Yoo pun langsung girang pas tau Ji An SMS. Ternyata Ji An SMS cuma mau minta nomor rekening Do Kyung. Do Kyung menolak memberikan nomor rekeningnya dan ngajak Ji An ketemuan. Ji An pun mengancam akan menuntut Do Kyung pasal penguntitan. Do Kyung terkejut.


Do Kyung pun langsung menyuruh Seketaris Yoo bertanya pada pengacaranya apa menelpon terlalu sering bisa dibilang penguntitan. Karena yang ditanya gak menjawab, Do Kyung pun menoleh dan mendapati dirinya sudah seorang diri di ruanganya… Hahaha…


Ji An hendak memasukkan barang ke mobil pelanggannya namun sial mobil pelanggan lain menghalanginya sehingga ia tak bisa membuka bagasi mobil pelangganya karena mobil pelanggan lain terparkir mepet dengan mobil pelanggannya. Ji An pun dengan sopannya meminta si pemilik mobil memindahkan mobilnya. Tapi si pemilik mobil dengan wajah sombongnya mengaku tidak bisa menyetir dan menyuruh Ji An menunggu sampai putrinya selesai berbelanja.


Ji An pun terpaksa dengan susah payah berusaha memasukkan barang2 itu ke mobil bagasinya. Ponsel Ji An tiba2 berbunyi. Ji An yang mengira Do Kyung lah yang mengiriminya SMS, langsung mengumpat kesal. Ibu2 si pemilik mobil yang menghalangi mobil pelanggan Ji An langsung marah karena mengira umpatan itu ditujukan untuk dirinya.

“Ada pria penguntit yang terus-terusan meneleponku. Aku bergumam tentang dia.” ucap Ji An.

Ibu2 sombong itu langsung memeriksa ponsel Ji An dan menemukan pesan dari Nyonya Yang yang menyuruh Ji An pulang. Ji An pun terkejut tahu pesan itu dari ibunya bukan dari Do Kyung.


Tak lama,  putri ibu itu datang dan makin memperkeruh keadaan. Mereka menyuruh Ji An berlutut walau Ji An sudah minta maaf.

Ji Ho yang juga mau mengantarkan barang ke mobil pelanggan2, langsung marah melihat kakaknya berlutut meminta maaf. Tapi ia tak bisa berbuat apapun untuk membela kakaknya karena takut dipecat.


Ji An pun dipecat. Ji Ho yang melihat kepergian kakaknya, hanya bisa menghapus tangisnya yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Ia kesal pada dirinya karena tidak bisa membela sang kakak dalam situasi seperti itu.

Do Kyung akhirnya mendapatkan alamat Ji An dari Ji Soo…


Ji An yang sudah hampir sampai di rumahnya berusaha tersenyum. Ia tak mau menunjukkan kesedihannya di depan keluarganya.


Tapi tiba2, Do Kyung mencegatnya. Ji An pun tambah kesal. Ia protes, bertanya kenapa Do Kyung melakukan itu padanya. Jika Do Kyung gak mau memberikan nomor rekeningnya, Do Kyung bisa memberikan nomor rekening seketarisnya.

“Bisakah kau tenang?” pinta Do Kyung.

“Bagaimana aku bisa tenang? Beri tahu aku bagaimana kau bisa melacakku sebelum aku menelepon polisi.” Jawab Ji An.

“Aku tidak bisa memberitahumu karena sudah janji merahasiakannya.” Ucap Do Kyung.


Do Kyung lalu mengaku, ia datang untuk meminta maaf soal kejadian di pesta. Tapi Ji An yang sudah pusing, tidak mau mendengar penjelasan Do Kyung dan menanyakan jumlah utangnya.

“Begitukah caramu memaafkan orang?” tanya Do Kyung.

“Karena aku tidak butuh permintaan maafmu.” Ketus Ji An.

“Kenapa kau tidak butuh?” tanya Do Kyung.

“Kau memaksaku naik taksi sampai ke Yangpyeong dan membuatku menunggu saat tidak ada taksi untuk pulang. Kau mengabaikan semua teleponku saat aku putus asa.” Jawab Ji An.

“Aku sedang mencoba menjelaskan kejadiannya.” Ucap Do Kyung.


“Haruskah aku mendengarkan jika kau mau menjelaskan, menerima fakta bahwa kau tidak suka melihatku, diabaikan saat kau ada urusan mendadak, dan berjalan selama dua jam di bawah hujan?” protes Ji An.

“Kenapa harus berjalan berjam-jam jika tidak punya uang? Pakailah kartu kreditmu.”

"Aku tidak punya kartu kredit.”

“Kau bersikap sok adil untuk orang yang melanggar tenggat tiga hari.”

“Karena aku telah berusaha sebisaku.” Jawab Ji An.

“Kesimpulan itu tidak ada di tanganmu. Aku akan membebaskanmu. Egomu besar sekali. Lantas, bayar aku sepenuhnya.” Ucap Do Kyung.

Ji An tertegun, apa?


“Beraninya kau bersikap seakan-akan utangmu hanya 5.000. Kau berutang 20.700 dolar dan aku memberimu potongan 15.700 dolar.” Ucap Do Kyung.

“Jumlahnya sampai 20.700 dolar?” tanya Ji An kaget.

“Kau memohon dan berkata hanya punya 5.000 dolar. Itu sungguh dirimu? Aku dididik untuk tidak berbelas kasih karena orang-orang hanya akan memanfaatkanku. Aku lupa. Kau bersikap sopan saat kubilang utangmu 20.000 dolar. Tapi karena kini utangmu 5.000 saja, kau menjadi angkuh.” Ucap Do Kyung.

Do Kyung lantas meminta Ji An membayar penuh utangnya. Ji An pun gemetaran mendengarnya. Melihat Ji An gemetaran, Do Kyung pun berkata tidak akan mengambil uangnya.

“Aku memintamu menunggu hari itu untuk mengatakan bahwa kinerjamu bisa melunasi utangmu.” Ucap Do Kyung.

“Kau bercanda? Kau bisa saja mengirim pesan untuk memberitahuku.” Jawab Ji An.

 “Kau sungguh tidak bisa ditolong. Apa kau pengemis?” tanya Do Kyung

Ji An makin kesal, Apa?

“Pikirmu orang kaya sembrono? Tidak ada orang mengeluarkan uang tanpa alasan atau sebab tertentu. Haruskah kita melakukan ini melalui telepon tanpa ucapan terima kasih yang pantas?” jawab Do Kyung.

“Maafkan aku.” ucap Ji An.


“Sikapmu yang rendah hati kembali setelah utangmu menjadi 5.000 dolar.” Jawab Do Kyung.

“Aku akan mengembalikan 5.000 itu.” ucap Ji An.

“Tidak. Jangan berani-berani. Aku enggan melihatmu karena kau makin merusak suasana hatiku.” Jawab Do Kyung.

“Aku akan memberimu 5.000 dolar.” Ucap Ji An.

“Berhenti berpura-pura jika kau tidak mau membayar 27.000 dolarnya.” Jawab Do Kyung.


Do Kyung pun beranjak pergi. Sepeninggalan Do Kyung, pecahlah tangis Ji An. Tangisnya kian deras setelah mengingat kata2 Ha Jung saat dirinya diminta membuatkan kopi padahal sudah dipecat. Ia juga ingat kata2 putri bossnya yang tidak ingin menjadi seperti dirinya. Terakhir ia ingat saat berlutut pada pelanggan di mall.


Setelah cukup lama menangis, Ji An akhirnya menghubungi Nyonya No. Nyonya No terdiam saat Ji An memintanya meminjamkan uang sebanyak 20.700 dollar.


Besoknya, Ji An memasakkan sarapan untuk keluarganya. Ji Soo bahkan terkejut melihat meja yang penuh dengan makanan. Ia khawatir kalau mereka tidak mampu menghabiskan makanan itu.


Sementara Ji Ho yang ingat kejadian di mall, menatap sedih Ji An. Ia kemudian meletakkan sepotong daging di mangkuk Ji An dan menyuruh Ji An makan. 


Ji Soo pun curiga melihat sikap manis Ji Ho ke Ji An. Tapi Ji An tiba2 saja mengaku merasa bersalah pada Ji Ho, Ji Soo, Ji Tae dan sang ibu. Sontak saja, Ji Tae, Ji Soo dan Ji Ho heran mendengarnya. Mereka makin heran saat Ji An bilang akan pindah ke keluarga kandungnya.

Sumpah, sy makin suka drama ini….. KBS memang ahli bikin drama2 kek gini…

2 comments: