Sunday, October 22, 2017

My Golden Life Ep 13 Part 1

Sebelumnya...


Tangis Ji An pecah seketika setelah mengetahui fakta Ji Soo. Ia tak habis pikir, sang ibu tega membohonginya. Ji An yang syok, memukul dadanya berkali-kali. Ia bingung harus bagaimana sekarang.


Semenetara itu, Nyonya Yang yang sudah berada di depan pintu tak jadi masuk karena ditelpon Hae Ja. Hae Ja memberitahu Nyonya Yang soal barang2 Ji Soo yang tertinggal di mobilnya. Hae Ja bilang, ia tak bisa mengantarkan barang2 Ji Soo karena harus mengganti penyaring air. Nyonya Yang pun langsung meluncur ke rumah Hae Ja untuk menjemput barang2 Ji Soo.


Di dalam, Ji An yang sudah tak bertenaga dikejutkan dengan bunyi ponselnya. Telepon dari Senior Jo yang menyuruhnya kembali ke kantor untuk mencari data FNB perusahaan. Senior Jo bilang, Ha Jung sudah mencari di ruang data tapi tidak ketemu. Ji An pun menjawab dengan lemas kalau ia akan segera kembali ke kantor.


Hae Ja memberi saran pada Nyonya Yang untuk merahasiakan soal restoran Haesung dari anak2. Hae Ja menyuruh Nyonya Yang berbohong, Hae Ja bilang, anak2 hanya perlu tahu kalau Nyonya Yang sudah mendapat pekerjaan.


Tuan Seo menawarkan rencana bisnisnya ke salah satu potential partner nya tapi sayangnya ia lupa membuat kartu nama, membuat partnernya jadi kurang yakin dan enggan bekerja sama. Tepat saat itu, Seok Doo menghubunginya. Seok Doo berkata, sudah melihat e-mail yang dikirimkan Tuan Seo. Tapi sayangnya, barang yang direkomendasikan Tuan Seo tidak ada nilainya. Tuan Seo pun berjanji akan mencari produk potensial lainnya. Tak lupa, Tuan Seo juga meminta kartu nama pada Seok Doo.


Tuan Jung tak setuju kalau anniversary perusahaan yang harusnya sebulan lagi dimajukan lebih cepat. Do Kyung beralasan, itu saran dari tim pemasaran terkait penjualan produk musim dingin mereka. Tapi Tuan Jung tetap protes, ia tidak terima dan merasa Do Kyung sudah melangkahinya. 
“Jika itu terkait langsung dengan penjualan kita, kita harus mendiskusikannya dengan cabang-cabang kita. Ini masalah penting. Kenapa kau memutuskan sendiri? Kau tidak boleh mengabaikan hierarki.” Ucap Tuan Jung.

Do Kyung jelas kaget dengan reaksi Tuan Jung. Tuan Jung lantas meminta laporan detailnya kenapa mereka harus memajukan anniv perusahaan.


Balik ke ruangannya, Do Kyung merasa ada yang aneh dengan sikap Tuan Jung. Do Kyung lantas menyuruh Ji An memperbaiki proposal anniv Haesung.


Ji An dengan mudahnya menemukan data lama perusahaan di ruang arsip. Ia pun langsung membawa data2 lama itu ke ruangannya. Ha Jung sepertinya sengaja mengerjai Ji An dengan pura2 tidak bisa menemukan data2 lama itu. Padahal kesemua data2 itu teronggok di ruang data. Dengan suara lemas, Ji An bilang kalau ia harus keluar lagi tapi Manajer Lee melarang dan menyuruh Ji An memperbaiki proposal untuk merayakan anniv Haesung. Manajer Lee bilang, mereka harus menyertakan alasan kenapa harus memajukan Hari H. Manajer Lee minta Ji An menyelesaikan proposal itu sebelum besok siang. Dengan suara lemas dan wajah yang pucat, Ji An pun mengiyakan perintah manajernya.


Nyonya Yang berusaha menyenangkan Ji Soo. Ji Soo yang baru pulang kerja, terkejut melihat sang ibu lagi membersihkan loyang dan cetakan kuenya. Ji Soo mengira ibunya sudah membuang loyang dan cetakan kue itu. Nyonya Yang tersenyum, lalu berkata kalau Ji Soo membeli loyang dan cetakan kue itu saat pertama kali belajar memanggang.

“Ibu bilang semuanya sudah ibu jual dan uangnya sudah terpakai semua.” Jawab Ji Soo.

“Ibu berusaha menghentikanmu memanggang karena kai menyia-nyiakan pekerjaan sebagai ahli gigi.” Ucap Nyonya Yang.

“Aku tidak tahan dengan itu karena perutku lemah. Isi mulut orang itu menjijikkan.” Jawab Ji Soo.

“Baiklah. Omong-omong, kau mendapat pekerjaan di toko roti. Bekerja keraslah.” Ucap Nyonya Yang.

“Tadinya aku hendak memanggang roti hari ini, jadi, kubeli panci sekali pakai ini.” jawab Ji Soo.

Kemaren Tuan Seo beliin Ji Soo oven, sekarang Nyonya Yang ngembaliin loyang dan cetakan kue Ji Soo… entah kenapa, sy merasa mereka tidak tulus menyenangkan Ji Soo. Sy ngeliatnya mereka kayak lagi ngebaikin Ji Soo gitu…


Ji Soo lari ke kamarnya. Ia mengambil buku resepnya lalu mulai membuat roti di dapur.


Mesin pembuat kopi Woo Hee rusak, karena itulah Woo Hee memanggil tukang service. Tapi pria itu sepertinya tertarik pada Woo Hee. Woo Hee yang mulai risih, mengusir pria itu dengan cara halus. Tapi pria itu malah terus ngajak Woo Hee bicara macam-macam. Woo Hee berusaha menghindar, tapi pria itu terus mendekatinya, bahkan menawarkan diri membantu Woo Hee membersihkan meja. Woo Hee pun marah dan secara terang2an mengusir pria itu.


Pria itu jadi kesal. Tepat saat itu, Hyuk datang. Hyuk pun menjelaskan situasi Woo Hee pada pria itu.

Tanpa mereka sadari, Boss Kang sedang menatap lirih Woo Hee dari luar jendela.


Setelah itu, kita melihat Boss Kang menangisi Woo Hee di toko rotinya. Ternyata, itulah yang membuat mata Boss Kang terlihat sembab, karena Boss Kang menangisi Woo Hee setiap malam.

Dan seperti yang saya duga, penyebab perceraian Woo Hee adalah KDRT. Woo Hee dan suaminya, Cha Kyung Soo, bercerai 5 tahun lalu.


Dari adegan Boss Kang yang menangisi Woo Hee, kita beralih ke adegan si imut Ji Soo yang baru aja selesai membuat roti. Dengan wajah berseri2, Ji Soo memotret dirinya bersama rotinya yang keluar dari oven. Sy tebak, Ji Soo mau kirimin fotonya ke Ji An.


Do Kyung yang baru saja pulang, langsung membicarakan soal Ji An dengan ayah dan ibunya. Do Kyung bilang kalau Ji An lagi sibuk memperbaiki proposal anniv Haesung sesuai perintah Tuan Jung.

“Pamanmu melakukan itu?” tanya Nyonya No kaget. 




Sementara Tuan Choi terlihat mulai terlihat kesal.


Malam semakin larut, tapi Ji An masih di kantor menyelesaikan proposalnya. Namun sayangnya, Ji An tak bisa konsentrasi karena fakta tentang Eun Seok terus mengganggu pikirannya.


Ji An akhirnya pulang ke rumah. Tapi karena merasa itu bukan rumahnya, ia pun mau pergi lagi. Tapi suara Do Kyung menghentikan langkahnya. Ji An beralasan, kalau ia mau mencari udara segar.

“Tapi ini sudah lewat tengah malam.” Jawab Do Kyung.

“Tapi kenapa Kakak di luar, padahal sudah lewat tengah malam?” tanya Ji An lemas.

“Kakak yang membuatmu pulang larut. Kakak tahu kau amat stres, tapi kenapa kau minum bir pukul segini? Kakak juga tidak bisa menyuruh seseorang mengikutimu. Kakak amat mencemaskan adik kakak yang tidak terduga ini.” jawab Do Kyung.

“Kebanyakan orang di dunia ini hidup seperti ini.” ucap Ji An.

“Tapi kau tidak berada di kelompok itu.” jawab Do Kyung.

Ji An yang sudah tak kuat bicara lagi, buru2 masuk ke dalam dengan alasan capek. Do Kyung heran sendiri melihat sikap adiknya.


Keesokan harinya, Ji An sudah pergi pagi2 sekali untuk melakukan riset. Seohyun pun heran sendiri melihat Ji An bekerja begitu keras. Tuan Choi bilang itu karena Ji An mewarisi darah Nyonya No. Ji An sangat bersemangat dan pantang menyerah persis seperti Nyonya No. Nyonya No menambahkan kalau Ji An berusaha sebaik mungkin menyelesaikan proposal itu agar tidak membuat malu Do Kyung.


“Setelah proposalnya lolos, aku akan membiarkannya istirahat.” Jawab Do Kyung.

“Harus. Dia hanya akan melewati departemen pemasaran. Katakan kepadanya agar tidak berusaha terlalu keras.” Ucap Tuan Choi.

“Kakek menyuruhnya berkontribusi. Di samping itu, ini acara hari jadi ke-40. Sudah sewajarnya dia merasa tertekan.” Jawab Do Kyung.

“Kenapa kau tidak membelikan makan siang dan bilang begitu?” tanya Tuan Choi pada Nyonya No.


“Aku tidak akan bekerja hari ini.” jawab Nyonya No.  Tuan Choi pun heran, tapi Nyonya No hanya bilang mau mengurus sesuatu di rumah.


Ji An yang sudah berada di kantor, tampak focus menyelesaikan proposalnya. Perhatian Ji An sedikit teralih ketika seorang cleaning service masuk. Ji An kemudian menatap ke arah jam dengan tatapan lirih.


Ji Soo senang banget roti buatannya dipuji oleh Tuan Seo dan Nyonya Yang. Nyonya Yang pun penasaran dengan bahan roti Ji Soo karena rotinya sangat lembut. Ji Soo hanya menjawab itu rahasia. Tuan Seo protes Ji Soo merahasiakannya.

“Aku berusaha menyalin resep Pak Pembuat Roti.” Jawab Ji Soo.

“Kenapa kau memanggilnya begitu?” tanya Nyonya Yang.

“Dia pembuat roti, jadi, kupanggil begitu.” jawab Ji Soo.


Ji Soo lalu menanyai pendapat Ji Tae yang sedari tadi diam saja. Ji Tae pun menyuruh Ji Soo untuk terus belajar agar bisa menjadi pembuat roti. Ji Soo mengangguk, lalu berkata kalau ia tidak terlalu peduli pada makanan lain.


Ji Soo tiba2 ingat Ji An. Ji Soo bilang kalau Ji An juga harus mencicipi rotinya. Karena nama Ji An disebut2, Ji Tae pun jadi ingat kalau kemarin Ji An datang mengunjunginya. Ji Tae lantas memberitahu ayah dan ibunya soal kedatangan Ji An. Ji Tae bilang, sekarang Ji An sudah kembali bekerja di Tim Pemasaran Haesung. Tuan Seo dan Nyonya Yang pun seketika terdiam.


Ji Soo yang baru sampai di toko roti, heran sendiri melihat roti yang dibuat Boss Kang sangat sedikit. Boss Kang beralasan, kalau ia hanya sedang malas. Ji Soo tambah heran. Boss Kang dengan sedikit ketus menjawab kalau ia membuat roti bukan untuk menyenangkan orang lain. Ji Soo penasaran, alasan Boss Kang membuat roti. Boss Kang yang kesal ditanyai terus, menyuruh Ji Soo diam dan bekerja.


Ekspresi Boss Kang barulah berubah saat Ji Soo memberitahunya tentang Woo Hee. Ji Soo bilang, kalau Woo Hee meminta nomor rekening Boss Kang. Boss Kang panic dan menyuruh Ji Soo memberikan nomor rekening Ji Soo saja. Ji Soo heran. Boss Kang kemudian berkata, kalau dia membutuhkan uang cash.

“Tapi kita mendapatkan uang tunai setiap harinya.” jawab Ji Soo.

“Aku amat ingin uang tunai.” Ucap Boss Kang.


Do Kyung di ruangannya, sedang bicara dengan Ji An di telpon. Do Kyung mengajak Ji An makan siang dan mengaku sudah memesankan taksi untuk Ji An. Ji An yang mulai menghindari Do Kyung, pun beralasan kalau ia sudah memesan makanan duluan. Do Kyung terus memaksa Ji An. Ia membujuk Ji An dengan belut favorit Ji An. Ji An menolak, kali ini ia mengaku takut kalau ada yang memergoki mereka bersama. Mendengar itu, Do Kyung pun tersenyum dan memuji Ji An yang mulai berhati2. Tapi Ji An buru2 menutup teleponnya dengan alasan makanannya sudah datang. Ditolak Ji An, akhirnya Do Kyung meminta Gi Jae menemaninya makan siang.

Pas lagi makan siang, Gi Jae membahas soal Do Kyung yang meminjam personal shoppernya untuk mencari beberapa pakaian, tas, aksesori dan sepatu tempo hari. Gi Jae yakin, Do Kyung punya something special dengan seorang wanita. Do Kyung pun berjanji akan memberitahu Gi Jae nanti. Gi Jae pun makin penasaran. Namun Do Kyung malah mengalihkan topic pembicaraan dengan membahas soal pekerjaan impian.

“Saat SMA, aku kabur dari rumah untuk menjadi desainer mode. Aku berhasil naik pesawat ke Paris, tapi tertangkap di bandara di sana dan dipaksa naik pesawat pulang.” Jawab Gi Jae.

“Putra Sungho Medical menjadi desainer mode?” ucap Do Kyung kaget.

“Tapi kau ingin menjadi fotografer perang.” Jawab Gi Jae.

“Aku?” tanya Do Kyung.

“Saat itu kau kelas 8 atau 9? Kau jatuh cinta dengan foto-foto Robert Capa.” Jawab Gi Jae.

Do Kyung pun baru ingat impian masa kecilnya. Gi Jae berkata, saat itu Do Kyung mengatakan kalau jurnalis sesungguhnya berani turun ke medan perang. Tapi sekarang Do Kyung malah mengklaim kalau itu bukanlah pekerjaan impiannya.


Adegan pindah ke Ji An yang mutusin makan siang dengan kimbab saja setelah melihat kartu ATM Nyonya No yang ia simpan di agendanya. Saat hendak makan, Ji An ingat kata2 ibunya kalau mereka akan mati jika Ji An mengungkapkan semuanya. Ternyata, Ji An sempat bicara dengan ibunya. Sang ibu pun menyuruh Ji An meminta dikirim ke luar negeri. Ji An tentu saja protes.

Sy bingung nih bagian ini… Saking bingungnya, sy sampai nonton berulang kali adegan di awal… tp gk ada adegan Ji An ngomong sama ibunya… Yg ada mah setelah Ji An tahu fakta soal Eun Seok, dia kan langsung balik kantor, sementara ibunya menjemput barang Ji Soo di rumah Bibi Hae Ja…


Lamunan Ji An seketika buyar setelah ia mendapat kiriman foto Ji Soo. Dugaan sy benar, Ji Soo memang ngirimin fotonya sama rotinya ke Ji An. Ji An terdiam sejenak, sebelum akhirnya membalas kiriman Ji Soo.


Ji Soo senang banget melihat respon Ji An. Menurutnya, hanya Ji An yang menyadari bakatnya. Saking senangnya, Ji Soo langsung menghubungi Ji An. Dengan wajah berseri2, Ji Soo meyakinkan Ji An kalau roti itu ia buat sendiri. Ji Soo juga cerita, kalau ia membuatkan roti untuk sarapan ayah dan ibu dan ayah yang membelikannya oven. Ji An menjawab kata2 Ji Soo dengan mata berkaca-kaca. Ji Soo juga cerita, soal tangan ayah yang terluka jadi ayah terpaksa berhenti bekerja. Ji An pun tambah sedih.


Tak kuat menahan rasa sedihnya, Ji An buru2 mengakhiri pembicaraan mereka. Usai bicara dengan Ji Soo, Ji An teringat kata-katanya pada sang ayah soal keputusannya masuk ke Keluarga Haesung.

“Kenapa ayah mau menghentikanku? Kenapa aku tidak boleh pergi? Saat orang lain membenciku, dan tidak mengacuhkanku. Aku merasa sengsara, payah, dan hina. Aku tidak tahan lagi. Kenapa aku tidak bisa menjadi putri keluarga kaya? Orang tua kandungku konglomerat. Kenapa aku tidak boleh tinggal bersama mereka padahal mereka kaya? Maksudku, kenapa harus ayah memilihku dari awal? Tidak peduli sekeras apa aku berusaha, aku sudah terdiskualifikasi. Aku sudah tidak punya nilai atau kualifikasi yang bagus. Bagaimana bisa aku mendapat nilai bagus sambil harus bekerja? Bagaimana bisa aku menang melawan anak-anak yang punya uang jajan, les privat, dan belajar di luar negeri?”

Ji An juga ingat kata2 Ji Soo kalau ayahnya pingsan saat mengejar dirinya yang pergi menuju kediaman Haesung.


Tangis Ji An pecah, tapi ia buru2 menghapus tangisnya.


Tanpa Ji An sadari, Do Kyung melihatnya dari jauh. Ya, Do Kyung yang baru selesai makan siang dengan Gi Jae, tak sengaja lewat dan langsung menghentikan mobilnya begitu melihat Ji An. Tapi Do Kyung gak menghampiri Ji An. Ia cuma berkomentar, soal Ji An yang bekerja keras, lalu kembali melajukan mobilnya.


Ji Ho yang lagi makan siang sama rekan kerjanya, tiba2 saja dihubungi sang ayah. Sang ayah bertanya, kapan Ji Ho akan selesai belajar. Sang ayah juga mengajaknya makan malam bersama. Ji Ho pun terkejut.


Ji An menyerahkan proposal anniv pada Manajer Lee. Manajer Lee, Senior Jo, Senior Song dan Senior Yang pun langsung menatap Ji An kagum karena Ji An berhasil menyelesaikan proposal itu dengan cepat. Sementara Ha Jung kesal melihat Ji An. Dan Senior Oh yang sejak awal mendukung Ha Jung, ikut2an sebal pada Ji An.


Manajer Lee pun langsung menyerahkan proposal itu pada Do Kyung. Do Kyung takjub Ji An mampu mengerjakan proposal itu sendirian dalam waktu singkat. Manajer Lee langsung cari muka, ia bilang itu karena dirinya yang menyuruh Ji An menyelesaikan proposal itu dengan segera. Alih2 dapat pujian, Manajer Lee malah kena damprat Do Kyung. Aigooo, sy ngakak berat liat pas scene ini…


Di atap Haesung, Ji An sedang meyakinkan dirinya kalau ia bisa melakukannya. Tak lama kemudian, Ha Jung datang mengganggunya. Ha Jung protes karena disuruh menemui Ji An. Ha Jung mengatai Ji An arogan hanya karena Ji An lupa membawa ponsel dan membuat ia terpaksa mencari Ji An. Setelah itu, dengan wajah sebal, Ha Jung memberitahu Ji An kalau Do Kyung mengajak tim mereka makan malam untuk menyelamati Ji An yang berhasil menyelesaikan proposal itu.

Ji An pun berkata, ia sudah punya janji. Ji An bilang ia harus pulang ke rumahnya lebih awal hari itu.


Ji Tae dapat undangan nonton film. Kenangan akan Soo A pun langsung mengisi pikirannya. Ia ingat, dulu ia dan Soo A sangat ingin menonton film itu. Saat itu, Soo A bertanya, apa Ji Tae mau mendaftarkan diri agar bisa mendapatkan tiket itu. Soo A melarang Ji Tae melakukannya. Ia bilang, lebih tidak menonton film itu daripada harus menanggung malu karena mendaftar agar bisa mendapat tiket.


Ji Tae pun langsung mengirimi Soo A pesan. Dalam pesannya, ia mengaku mendapatkan tiket nonton Casablanca. Ji Tae ngajak Soo A ketemuan agar bisa memberikan tiket itu pada Soo A.


Tuan Seo lagi nungguin Ji Ho di depan tempat les Ji Ho. Pas Tuan Seo lagi lengah, Ji Ho diam2 menyelinap ke teras tempat bimbel itu, terus pura2 baru keluar dari sana.


Tuan Seo pun mengajak Ji Ho makan. Ji Ho penasaran kenapa sang ayah tiba2 mengajaknya makan. Sang ayah berkata, alasannya karena Ji Tae. Sang ayah minta maaf karena tidak menanyakan pendapat Ji Ho dulu. Ayah mengaku, setelah Ji Ho pindah, ia menyuruh Ji Tae menikah dan menempati kamar Ji Ho. Tapi sayangnya, Ji Tae tak mau mendengarnya. Karena itulah, ia mengajak Ji Ho makan malam, karena ia mau menyuruh Ji Ho membujuk Ji Tae.

Ji Ho tak yakin Ji Tae mau mendengarnya, tapi ia janji akan membuat Ji Tae berubah pikiran. Setelah itu, Tuan Seo mengatakan akan bekerja keras membiayai kuliah Ji Ho. Ia tak mau Ji Ho mencari uang sendiri untuk membayar biaya kuliah. Ji Ho langsung tertegun mendengarnya.


Ji An yang hendak masuk ke rumah Keluarga Haesung, melihat seorang wanita berdiri di depan pagar. Begitu masuk, wanita itu langsung berlutut di hadapan Nyonya No. Sontak, Ji An kaget melihatnya. Wanita itu mengaku salah dan meminta Nyonya No memaafkannya.

“Salahkah jika aku menghentikan sokonganku? Aku hanya berpikir Yayasan Taeyoung lebih baik dibandingkan Yayasan Mirae untuk menyokong siswa kurang mampu yang berbakat di bidang seni.” Jawab Nyonya No.

“Aku hanya melakukan perintah Bu No Jin Hee. Dia ingin aku memberi tahu Shimsung anda telah menemukan putri Anda.” Ucap wanita itu.

“Pikirmu aku tidak tahu?” tanya Nyonya No.


“Dia juga sudah berjanji. Dia tidak akan menceritakan soal putrimu kepada siapa pun.” Jawab wanita itu.
“Tentu saja tidak akan. Dia istrinya pemilik Perusahaan Shimsung. Dia tidak sebodoh itu untuk menyebarkan rumor. Jika ya, dia akan mempermalukan dirinya dan perusahaannya.” Ucap Nyonya No.

“Konstruksi sekolah asrama kami dihentikan. Tanpa donasi yang anda janjikan, kami tidak akan bisa membayar biaya konstruksinya.” Jawab wanita itu.

“Maka kalian akan bangkrut.” Ucap Nyonya No dingin.

“Kami mendirikan gedungnya karena anda berjanji.” Jawab wanita itu.


“Aku tidak menjanjikan apa pun. Kubilang aku akan memikirkannya.” Ucap Nyonya No.

“Anda selalu mensponsori yayasan kami setelah mengatakan hal yang sama.” Jawab wanita itu.


Wanita itu terus membujuk Nyonya No agar tetap memberikan sokongan padanya. Tapi Nyonya No yang terlanjur kesal, tidak peduli. Nyonya No lalu dengan santainya menyuruh para pelayannya menyeret wanita itu keluar.


Ji An syok melihatnya. Ia tambah syok setelah teringat kalau wanita itu adalah salah satu wanita yang ditemuinya di Galeri Seonyi.


Syok, Ji An langsung lari ke atas. Di lantai atas, ia malah bertemu Seohyun yang dengan santainya memberitahu dirinya apa akibat jika seseorang berani membocorkan sesuatu tentang keluarganya. Seohyun bilang, ibuya bukan hanya akan menghancurkan orang itu, tapi juga akan menghancurkan seluruh keluarga itu. Ji An pun makin ketakutan. Ia takut Nyonya No akan menghancurkan keluarganya jika rahasianya terbongkar.

No comments:

Post a Comment