Monday, October 9, 2017

My Golden Life Ep 9 Part 1

Sebelumnya...


Ji Soo syok saat sang ibu mengaku telah menukar dirinya dengan Ji An. Nyonya Yang minta maaf pada Ji Soo, karena sudah mengirim Ji An ke sana. Nyonya Yang mengaku ia melakukan semua itu karena ketamakannya. Nyonya Yang bilang, itu Ji Soo, bukan Ji An.

Tapi… semua itu hanyalah bayangan Nyonya Yang. Kenyataannya, Nyonya Yang menyangkal mengatakan itu Ji An.  Ia berkata, Ji Soo salah dengar. Tapi Ji Soo yakin tak salah dengar.


“Hae Ja salah. Ibu tidak bilang apa-apa karena dia terburu-buru.” Ucap Nyonya Yang.

“Lantas kenapa Ibu menangis sambil memandangi fotoku?” tanya Ji Soo.

Nyonya Yang pun kaget Ji Soo mendengar tangisnya. Ji Soo bilang, dia kembali untuk mengambil ponselnya sebelum Hae Ja datang dan mendengar tangisan Nyonya Yang. Nyonya Yang  menyangkalnya. Nyonya Yang bilang, bahwa dirinya hanya ingin menangis.

“Di usia ibu ini, orang-orang menangis bahkan saat melihat daun terjatuh saat hujan. Ibu sedang menopause.” Ucap Nyonya Yang.

“Bohong!” jawab Ji Soo, bikin Nyonya Yang tambah tegang.

“Ibu menangis karena merindukan Ji An, kan?” tanya Ji Soo.

Ji Soo lantas memeluk Nyonya Yang.

“Ibu jangan sedih. Hidupnya bersama keluarga kaya jauh lebih baik. Ibu melihatnya saat kali terakhir bertemu dengan dia.” ucap Ji Soo.

Nyonya Yang pun buru-buru membenarkan ucapan Ji Soo. Tak lama kemudian, Ji Soo berkata, kalau sang ibu menangis karena dirinya yang sangat merindukan Ji An. Ji Soo berpikir, itulah sebabnya sang ibu menangis sambil memandangi fotonya.


Tak ingin membahas hal itu lama-lama, Nyonya Yang pun menyuruh Ji Soo segera berangkat. Ji Soo berkata, ia tak bisa pergi karena ibunya menangis terus. Ji Soo lantas menunjukkan foto Ji An dan mendiang Ji Soo.

“Lantas gadis kidal ini saudara kembarku? Ini Ji An yang sebenarnya? Yang ini aku?” tanya Ji Soo.

Enggan menjawab, Nyonya Yang menyuruh Ji Soo pergi.


Ji An yang sedang sarapan bersama ‘keluarga kandungnya’ nampak tak bersemangat menelan makanannya. Tuan Choi menanyakan schedule Ji An. Ji An berkata, kalau jam sepuluh ia ada kelas percakapan Bahasa Inggris.

Ji An lantas melirik Nyonya No dan berkata, kalau ia bisa Bahasa Inggris.

“Kau  tidak belajar Bahasa Inggris di luar negeri. Kau harus memperbaiki pengucapanmu.” Jawab Nyonya No.

Ji An lalu bicara lagi pada Tuan Choi kalau ia ada kelas kepribadian dari jam dua siang sampai jam 4 sore. Tuan Choi pun mengajak Ji An makan malam diluar, tapi Nyonya No melarang. Nyonya No bilang, Tuan Choi harus menunggu sampai ayahnya datang. Nyonya Yang juga berkata, akan meminta guru Ji An melatih Ji An sampai malam.

“Untuk apa? Dia belajar sepanjang hari.” Protes Tuan Choi.

“Tidak sopan jika dia melakukan hal lain saat menjawab pertanyaan orang tua seperti yang dia lakukan sekarang. Ayah akan segera kembali. Dia tidak boleh melihat Eun Seok bersikap tidak sopan seperti ini.” jawab Nyonya No.


“Tidak mudah untuk mengubah kebiasaannya dengan belajar. Dia masih punya waktu.” Ucap Tuan Choi.

“Tidak cukup untuk menyingkirkan kebiasaan buruk yang dia miliki selama 25 tahun.” Jawab Nyonya No.

Nyonya No lantas menyuruh Seketaris Min dan dua pelayan lainnya yang menunggui mereka makan untuk pergi. Setelah Seketaris Min dan dua pelayannya pergi, Nyonya No bilang kalau Ji An akan bekerja sebagai pegawai tetap di tim pemasaran perusahaan mereka.

Tuan Choi protes, tapi begitu Nyonya No bilang CEO No sudah menyetujui hal itu, ia pun tak bisa berkata apapun lagi.


Do Kyung lantas menanyakan alasan sang ibu yang ingin memasukkan Ji An di tim pemasaran perusahaan.
“Kita sudah mendaftarkan DNA kita. Baru-baru ini, orang tuamu menceritakan rahasia di balik kelahiranmu, jadi, kami mendaftarkan DNA-mu untuk menemukan orang tuamu yang sebenarnya. Kita bertemu di bulan Desember. Itu sebabnya kami akan mengenalkanmu kepada public pada hari jadi perusahaan ke-40. Sebelum itu, bukankah lebih baik jika kau bekerja di tim pemasaran perusahaan kita?” jawab Nyonya No.


“Kurasa aku tidak mengerti maksud ibu.” Ucap Ji An.

“Tadinya kami ingin langsung mengenalkanmu begitu menemukanmu. Tapi jika seperti itu, publik dan media akan bergosip. Baik menggosipkan dirimu maupun perusahaan. Sampai saat itu, kau harus dikenal sebagai bagian dari perusahaan kami.” jawab Tuan Choi.

“Tapi aku sudah dipecat dari perusahaan.” Ucap Ji An.

“Itu sebabnya ibu mengeluarkannya dari Tim Pemasaran?” tanya Do Kyung.

“Yang mengusulkan pemecatanmu dari Tim Pemasaran adalah Tim Perencanaan Strategi. Kami baru membuat keputusannya sekarang.” jawab Nyonya No.


Ji An menerobos masuk ke kamar Seohyun saat Seohyun sedang berganti pakaian. Seohyun pun protes Ji An tetap masuk ke kamarnya, padahal sudah mengetuk pintu.

“Kakak mengetuk sebagai permintaan izin untuk masuk. Bahkan Ibu dan Ayah pun tidak masuk jika aku tidak menjawab.” Ucap Seohyun.

Seohyun pun tambah kesal saat Ji An meminta kembali hadiah kalung dari Do Kyung. Tapi ia tak menunjukkan kekesalannya di depan Ji An. Ji An beralasan, karena kalung itu adalah hadiah yang diberikan padanya, jadi tidak sopan memberikan hadiah itu pada orang lain.


Seohyun pun dengan sukarela mengembalikan kalung itu. Tapi begitu Ji An keluar dari kamarnya, ia langsung menarik nafas kesal dan menganggap Ji An terus mengganggunya.


Nyonya Yang sedang membakar foto masa kecil Ji Soo. Tapi ia langsung mematikan api yang mulai membakar foto karena terkejut ponselnya berdering. Nyonya Yang menolak panggilan di ponselnya, kemudian menatap foto Ji Soo kecil dan berusaha menenangkan hatinya.


Ji Soo yang habis melayani pelanggan, disuruh Nam Goo mengantarkan pesenan ke kafe Woo Hee. Ji Soo pun berkata, karena kemarin hari pertamanya mengantar roti, jadi ia mau memeriksa dulu berapa banyak roti yang terjual.

“Kau ingin melihat pria bersepeda itu dua kali?” tebak Nam Goo.

“Hanya sampai aku mengetahui pukul berapa dia datang ke kafenya.” Jawab Ji Soo.

Nam Goo pun langsung tertawa geli.


Hyuk yang lagi di kafe kakaknya heran sendiri karena Ji An masih belum menghubunginya. Ia terus2an menatap layar ponselnya, menunggu balasan Ji An. Tak lama kemudian, Ji Soo datang dan ia pun langsung menghela nafas.

“Aku datang untuk memeriksa banyaknya roti yang terjual. Toko roti kami mengirimkan roti ke kafe ini untuk dijual.” Ucap Ji Soo pada Hyuk.


Ji Soo pun bergegas menghampiri Woo Hee. Woo Hee bilang, rotinya terjual habis. Ji Soo pun senang dan langsung pergi untuk mengambil rotinya. Tapi sebelum pergi, ia berbisik pada Hyuk kalau kursi yang dibelinya dari Hyuk sangat bermanfaat.


Sepeninggalan Ji Soo, Hyuk langsung memarahi noona nya yang menjual roti dari toko Ji Soo. Hyuk juga kesal karena sang noona menjual kursinya seharga 1000 dollar.


Ji Soo buru2 mengambil roti di tokonya. Tapi saat ia mau pergi lagi, ia dikejutkan dengan kedatangan Hyuk. Hyuk pun mengkonfirmasi langsung pada Nam Goo, apakah Nam Goo memberi Ji Soo 1000 dollar untuk membeli kursinya. Nam Goo terkejut, lalu berkata kalau ia hanya memberi 100 dollar.

Kesal, Hyuk mengembalikan uang Ji Soo. Semula Ji Soo menolak, tapi Hyuk memaksa Ji Soo mengambil uangnya. Hyuk juga mengambil roti di tangan Ji Soo dan buru-buru pergi.


Ji Soo menyusul Hyuk keluar. Tapi Hyuk mengatakan sesuatu yang menyakiti hatinya. Hyuk mengaku menyukai orang lain. Setelah mengatakan itu, Hyuk pergi. Ji Soo pun seketika teringat pada gadis yang diantarkan Hyuk ke taksi. Ji Soo tak sadar, gadis itu adalah Ji An.


“Kau butuh berapa hari? Kau akan menangis selama beberapa hari, bukan? Aku paling membenci tangisan wanita. Jadi, ambillah cuti.” Ucap Nam Goo yang tahu-tahu sudah nongol di belakang Ji Soo.

“Aku tidak akan menangis. Aku sudah tahu ini akan terjadi. Aku memberinya nomor ponselku, tapi dia tidak pernah menghubungiku. Aku juga sudah tahu dia menyukai orang lain. Tapi bagaimana dia tahu aku hendak menyatakan perasaanku?” jawab Ji Soo.


Do Kyung membujuk ibunya agar tidak memasukkan Ji An ke perusahaan mereka. Do Kyung merasa, Ji An masih belum siap menjadi bagian dari perusahaan.

“Jika terlalu siap, dia akan menjadi perhatian. Pegawai lain akan mengingatnya sebagai pegawai kontrak yang dahulu.” Jawab Nyonya No.

“Aku tidak berpikir sejauh itu.” ucap Do Kyung.


Nyonya No lantas menyerahkan resume Ji An ke Do Kyung. Nyonya No bilang, Ji An pintar dan juga cerdas. Nilai-nilainya selalu bagus dan evaluasi dari tim pemasaran juga bagus.

“Sepertinya dia rela melakukan apa pun.” Jawab Do Kyung.

“Tapi Do Kyung, kau terlalu keras kepada Eun Seok.” Ucap Nyonya No.

“Dia harus diajarkan.” Jawab Do Kyung.


Pembicaraan mereka pun terhenti sejenak lantaran Nyonya No mendapat telepon dari Seketaris Min. Seketaris Min memberitahu Nyonya No kalau Ji An ingin pergi sebentar. Nyonya No pun heran, ia bertanya-tanya Ji An mau kemana. Tapi Do Kyung meminta sang ibu membiarkan Ji An pergi untuk mengetes Ji An.


Ternyata Ji An pergi mengembalikan barang-barang yang tadinya dibelinya untuk keluarga lamanya.


Tuan Seo mengalami accident saat bekerja setelah teringat pertengkaran Ji Tae dan Soo A. Ia terjatuh saat mengangkat karung semen sampai tangannya terkilir.

  
Ji Tae dan Soo A sama2 diajak makan siang oleh temannya. Uniknya, keduanya sama2 ingin makan sesuatu yang pedas.


Saat berpapasan di koridor gedung, Ji Tae dan Soo A sama2 bersikap seperti orang asing.


Tuan Seo dibawa ke dokter oleh mandornya. Dokter bilang, tangan Tuan Seo baik2 saja tapi Tuan Seo tidak boleh mengangkat yang berat2 selama 2 minggu. Akibatnya, Tuan Seo pun harus kehilangan pekerjannya di proyek.


Tuan Seo ngamuk tahu istrinya mengikuti pelatihan yang diadakan Haesung Group. Nyonya Yang pun beralasan, ia melakukan itu demi anak-anak. Nyonya Yang bilang mereka tidak bisa hidup hanya mengandalkan gaji harian Tuan Seo saja.

“Jangan menjadikan mereka alasan!” sentak Tuan Seo.


Tapi Nyonya Yang kekeuh ingin menjalankan bisnis restoran itu. Nyonya Yang bahkan berkata, itu adalah bayaran karena mereka sudah membesarkan Ji Soo selama ini. Nyonya Yang juga berjanji akan mengirim Ji Soo keluar negeri untuk sekolah masak dari hasil bisnis restorannya.

“Kumohon hentikan. Kau harus membatalkan kontraknya.” Suruh Tuan Seo.

“Mari buka restoran ini, agar Ji Tae dan Ji Ho bisa menikah. Kau  tidak tahu seberapa kerasnya Ji Ho belajar?” jawab Nyonya Yang.


Tanpa diketahui Tuan Seo dan Nyonya Yang, si bungsu lagi giat bekerja dan berjanji akan kuliah tahun depan.


Tuan Seo dan Nyonya Yang sibuk membahas biaya kuliah Ji Tae. Nyonya Yang bertanya, apa Tuan Seo punya uang untuk biaya kuliah Ji Tae selama 4 tahun.

“Kau ingin Ji Ho bekerja sambil belajar seperti Ji An? Atau kau akan meminta uang Ji Tae lagi?” tanya Nyonya Yang.


Tepat saat itu, Ji Tae pulang dan tertegun mendengar pembicaraan orang tuanya. Ji Tae lantas terkejut melihat tangan sang ayah yang diperban. Ibu memberitahu bahwa tangan ayah terluka dan ayah terpaksa keluar dari pekerjaannya.

“Ayah berhenti?” kaget Ji Tae.

Tuan Seo yang merasa bersalah pada anak-anaknya pun  langsung berkata, bahwa ia akan kembali bekerja secepatnya. Ji Tae lantas naik ke atas. Tapi kemudian ia berniat pergi lagi. Ji Tae beralasan, bahwa ia meninggalkan beberapa berkasnya di kantor.

Tapi Ji Tae bukan kembali ke kantor. Ia pergi untuk menemui Soo A. Ponsel Soo A berdering tepat saat Soo A sedang mengeluarkan semua kosmetiknya dari kulkas kosmetik pemberian Ji Tae. Ji Tae menyuruh Soo A keluar. Ji Tae bilang, ia ada di depan rumah Soo A. Ji Tae juga meminta Soo A mengembalikan jas nya.


Ji Tae duduk di ayunan, menunggu Soo A. Tak lama, Soo A datang dan langsung mengembalikan jasnya. Ji Tae menyuruh Soo A duduk dulu. Setelah Soo A duduk, Ji Tae menyodorkan sekaleng minuman pada Soo A.

“Maafkan aku soal kejadian tempo hari. Aku tidak memikirkannya dahulu. Seharusnya aku menunggu sampai kau berpisah jalan dengan pria itu.” ucap Ji Tae.

“Maaf karena aku mengikuti kencan buta tanpa memberitahumu.” Jawab Soo A.

 “Maaf aku mempermalukanmu.” Ucap Ji Tae.

“Tidak apa-apa. Dia bukan tipeku.” Jawab Soo A.


“Tapi kau minum-minum lagi.” Ucap Ji Tae.

“Kau tidak akan tahu.” jawab Soo A.

“Ayo putus saja.” Ajak Ji Tae.

“Bukankah kita sudah putus hari itu?” tanya Soo A.

“Lee Soo A, kita harus berpisah dengan senyuman. Kita sudah membicarakan ini. Kita harus saling mendoakan.” Jawab Ji Tae.


Ji Tae kemudian berdiri. Ia berharap Soo A bertemu dengan pria baik. Bukan seperti pria yang dikencani Soo A kemarin. Ji Tae bilang, pria itu playboy, terlihat dari senyumannya. Ji Tae lantas menanyakan status dan pekerjaan pria itu.

“Dia akuntan. Dia memiliki 3 apartemen.” Jawab Soo A.

“Astaga, aku makin merasa bersalah.” Ucap Ji Tae.

“Jaga kesehatanmu. Karena kau tidak akan menikah, jadi aku tidak akan menyuruhmu memacari wanita baik.” Jawab Soo A.

“Selama ini aku bahagia bersamamu.” Ucap Ji Tae.

“Aku juga.” jawab Soo A.


Ji Tae lantas mengulurkan tangannya, mengajak Soo A berjabat. Setelah berjabat tangan, mereka pun berpisah.


Di kamarnya, Ji Ho lagi nyari2 kamar asrama di internet lewat ponselnya. Tak lama kemudian, pintu kamarnya terbuka dan Ji Ho pun buru-buru menyembunyikan ponselnya. Ji Tae masuk ke kamar dan langsung baringan. Ji Ho heran sendiri melihat kakaknya yang langsung tiduran tanpa ganti baju. Ji Ho tambah heran melihat kakaknya juga membawa jas lain.


Tuan Seo berdiri di teras rumahnya. Dia memandangi langit dengan wajah resah. Tak lama kemudian, Ji Soo pulang dan langsung memeluk Tuan Seo dari belakang. Ji Soo juga menangis, membuat Tuan Seo tambah heran.

“Aku hanya senang. Aku senang melihat Ayah.” jawab Ji Soo.


Ji An memberikan faktur pengembalian barang pada Nyonya No. Nyonya No pun terkejut karena setahunya Ji An sudah memberikan barang2 itu pada mereka. Ji An pun mengaku, keluarga lamanya menolak barang2 itu.  Ia beralasan, tidak bilang pada Nyonya No karna ingin mengembalikannya. Ji An juga minta maaf karena telah menghabiskan yang itu untuk membelikan keluarga lamanya sesuatu.

“Ya, ibu memberimu uang itu untuk dihabiskan dalam sehari, tapi kau tidak bisa melakukannya. Jadi, akan ibu ambil kembali.” Jawab Nyonya No.

“Kau tidak akan pergi dari rumah untuk sementara dan kau akan diantar sopir jika harus keluar.” Ucap Nyonya No lagi.

Nyonya No lantas memberikan Ji An kartu ATM dan meminta Ji An menggunakannya untuk saat darurat.


Di lantai atas, Do Kyung dan Seohyun lagi dengerin music. Do Kyung heran sendiri melihat Seohyun yang mendadak menyetel music di rumah, padahal biasanya Seohyun tak suka mendengarkan music. Seohyun beralasan karena dia lagi stress menghadapi ujian kelulusannya.

Kok sy gk yakin ya Seohyun stress karena itu.. Sy berpikir, Seohyun stress karena Ji An…

“Karena aku stresmenghadapi resital kelulusan.


Tak lama kemudian, Ji An ikut gabung dengan mereka. Seohyun memberitahu Ji An, kalau ia dan Do Kyung pernah pergi nonton pertunjukan music saat Do Kyung kuliah di luar negeri.

“La Scala bagus sekali, bukan? Kakak lebih suka yang di Covent Garden?” tanya Seohyun.

“Menurut kakak, yang di Metropolitan itu terbaik.” Jawab Do Kyung.

“Nomor dua yang di Opera Negara Wina?” tanya Seohyun.

“Kalian berkunjung ke tempat-tempat itu saat berlibur?” tanya Ji An.

“Tidak, itu semua gedung opera. Kakak harus banyak belajar agar bisa mengikuti.” Jawab Seohyun.

“Kakak baru mulai belajar. Kakak harus lebih banyak belajar.” ucap Ji An.


“Seo Hyun, kakak tahu kau suka Mahler, tapi "Symphony Number 3" terlalu panjang.” Jawab Do Kyung.

“Kakak mau mendengarkan "Number 5, Adagietto"?” tanya Seohyun.

“Kakak bukan penggemar Alma Mahler. Mari kita dengarkan "Nomor 2, Resurrection". Jawab Do Kyung.

Seohyun lantas tersenyum sinis pada Ji An yang tidak tahu apa2 soal music. Do Kyung kemudian meminta pendapat Ji An soal music yang lagi mereka dengarkan.

“Aku tidak begitu paham, tapi ini lagu yang enak didengarkan.” Jawab Ji An.

“Begitukah? Kalau begitu, terus dengarkan.” Ucap Do Kyung.


Do Kyung lalu beranjak pergi. Disusul kemudian dengan Seohyun yang beralasan harus mengerjakan PR. Namun sebelum pergi, ia kembali tersenyum sinis pada Ji An.

“Mereka menakutkan. Kapan mereka akan berhenti marah kepadaku?” gumam Ji An.


Tuan Seo mentraktir Ji Soo makan mie. Ji Soo tampak begitu lahap. Tuan Seo heran sendiri melihat Ji Soo yang tergila-gila pada makanan yang terbuat dari tepung.

“Aku sama seperti Ayah. Ibu selalu mengomeli Ayah, tapi Ayah tetap suka makan sujebi.” Jawab Ji Soo.

Tuan Seo lantas bertanya cita-cita Ji Soo. Apa Ji Soo ingin membuka toko roti.

“Aku tidak mau punya toko roti. Aku juga tidak punya uang.” Jawab Ji Soo.

“Jika punya uang, kau mau membuka toko roti?” tanya Tuan Seo.

“Aku tidak pernah memikirkan itu. Aku hanya ingin membuat roti.” Jawab Ji Soo.

“Lantas, kenapa tidak sungguh-sungguh belajar membuat roti? Kau bisa belajar membuat roti di luar negeri.” Ucap Tuan Seo.


“Di luar negeri? Aku tidak mau ke luar negeri. Kenapa Ayah menanyakan itu? Aku tidak perlu belajar membuat roti di luar negeri. Aku hanya ingin menjadi murid Tuan Kang. Aku hanya perlu mempelajari kemampuannya dan membuat roti dengan tekniknya. Itulah yang aku inginkan.” jawab Ji Soo.

“Karena ayah miskin, bukan? Jika orang tuamu kaya, kau akan berubah pikiran.” Ucap Tuan Seo.

“Ayah, jika aku menginginkan itu, untuk apa aku menghentikan Ji An? Aku berusaha keras. Itu sebabnya aku enggan berbicara dengan dia lagi. Aku tidak akan meninggalkan Ayah. Tidak akan pernah.” Jawab Ji Soo.

“Kenapa?” tanya Tuan Seo.


“Aku menyukai semua yang kumakan. Terutama roti. Aku tidak membutuhkan uang.” Jawab Ji Soo.

“Tetap saja mereka orang tuamu yang sebenarnya.” gumam Tuan Seo.

“Siapa? Ayah. Pemikiran Ayah kuno. Adopsi. Hidup bersama. Di zaman sekarang, orang asing pun sudah seperti keluarga. Aku membacanya di suatu tempat. Mereka bilang, keluarga adalah saat kita bisa berbagi makanan. Jika berbagi makan dengan seseorang, dia menjadi keluarga kita. Jadi, kenapa ingin tinggal bersama orang tua kandung hanya karena sedarah?” jawab Ji Soo.

Tuan Seo pun semakin merasa bersalah pada Ji Soo.


Keesokan harinya, Do Kyung dapat tugas dari sang ibu untuk mengajari Ji An. Sang ibu bilang, paman dan bibi Do Kyung juga akan datang jadi Ji An tidak boleh melakukan kesalahan karena gugup. Setelah sang ibu pergi, Do Kyung menyuruh Ji An menemuinya jam enam sore nanti.

“Itu tidak perlu.” Jawab Ji An.

“Sebagai putra pemilik Perusahaan Haesung, aku wajib mengajarimu jika diminta.” Tegas Do Kyung.


Di ruangannya, Tuan Choi lagi marah-marah pada bawahannya karena tidak ada satu pun pegawai kontrak yang menjadi pegawai tetap dari Departemen Pemasaran dan Penjualan.

“Soal itu... kami memutuskan untuk mempekerjakan seseorang yang lebih cakap. Kamu mengisi posisinya melalui penerimaan khusus?” jawab bawahannya.

“Saat menawarkan pekerjaan kepada pegawai sementara, kita menjanjikan posisi tetap kepada mereka.” Ucap Tuan Choi.

“Kami menerima pegawai dari jalur khusus.” Jawab bawahannya.


“Untuk membebaskan para eksekutif dari rasa malu, kau rela mengorbankan citra perusahaan? Isu pegawai sementara ini sensitif. Alih-alih menjadi contoh, kau malah mengingkari janji. Apa jadinya citra perusahaan kita?”

Tuan Choi pun menyuruh bawahannya memanggil kembali beberapa pegawai kontrak itu.


Ji Soo disuruh Nam Goo nganterin roti ke kafe Woo Hee. Setibanya disana, Ji Soo sebisa mungkin tidak melirik Hyuk. Tapi jatuhnya malah jadi aneh. Dia berjalan seperti robot. Hyuk dan Woo Hee pun menatapnya dengan tatapan aneh.


Setelah cukup dari kafenya Woo Hee, Ji Soo jadi panic dan malu sendiri. Ji Soo lalu merasa Mr. Sun nya sudah berbeda. Ji Soo kemudian mengingat pertemuan pertamanya dengan Mr. Sun.

Tak dinyana, si Mr. Sun juga mengingat pertemuan pertamanya dengan Ji Soo.

No comments:

Post a Comment