Friday, February 2, 2018

My Golden Life Ep 42 Part 2

Sebelumnya...


Dengan sombongnya, CEO No berkata membalas dendam pada keluarga Tuan Seo hanya akan menguras tenaganya.  Tuan Seo pun meminta maaf, tapi CEO No langsung menyuruhnya berhenti bicara.

“Aku benci orang-orang yang hanya mengulang-ulang. Kata-kata tidak berarti.” Ucap CEO No.

“Lantas, boleh kutanya kenapa anda kemari?” tanya Tuan Seo.

“Putrimu, Ji An, sangat membuatku stres.” Jawab CEO No.

“Ji An? Apa Ji An berbuat salah?” tanya Tuan Seo.

“Itu ada hubungannya dengan cucuku, Do Kyung. Aku tidak tahu itu cinta atau keterikatan. Tapi sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi sudah terjadi sekarang.” Jawab CEO No.


Tuan Seo dan Nyonya No pun terkejut.

“Kalian terkejut. Aku kemari untuk melihat itu. Kalian harus mengendalikannya sebelum terlambat dan tanganku bersimbah darah.” Ucap CEO No.

“Maaf, tapi Ji An sudah mengonfirmasinya? Apa dia bilang dia mengencani cucu anda?” tanya Tuan Seo.

“Jika menjadi dirinya, akankah kau mengakuinya?” jawab CEO No.

“Apa maksud anda?” tanya Tuan Seo.

“Kau kira dia akan mengakui bahwa mereka berpacaran?” jawab CEO No.

“Lantas, maksud anda, Ji An menyangkalnya?” tanya Tuan Seo.

“Kau bermain kata denganku?” sinis CEO No.

“Jika putriku bilang itu salah, artinya itu tidak benar. Ji An tidak pernah berbohong. Jika Ji An mengencaninya, dia akan bilang. Dia lebih baik dipukuli berkali-kali daripada bohong soal sesuatu.” Jawab Tuan Seo.

Tapi CEO No terus menghina Ji An. Ia mengatai Ji An licik karena mampu menggaet pria seperti Do Kyung.

Tuan Seo pun marah. Ia berkata, bahwa dirinya yang bersalah. Jadi seharusnya CEO No menyalahkan dirinya saja. Tuan Seo yakin, Ji An tidak mungkin berhubungan dengan Do Kyung. Tuan Seo bilang, ia sangat mengenal putrinya.


CEO No marah. Ia menampar Tuan Seo. Nyonya Yang menangis.CEO No bilang, tamparan itu untuk Tuan Seo karena telah menculik cucunya.

Tuan Seo pun kembali mengangkat tangannya. Ia bilang, tamparan berikutnya karena Tuan Seo yang telah mengirim Ji An ke rumahnya sehingga membuat Do Kyung jatuh cinta pada Ji An.

Tapi Nyonya Yang melindungi Tuan Seo sehingga dia lah yang kena tamparan itu. Nyonya Yang kesakitan. Tuan Seo pun langsung menenangkan istrinya dan menarik istrinya ke belakang.


CEO No kembali menampar Tuan Seo. Ia juga mengancam, akan menghancurkan hidup seluruh keluarga Tuan Seo jika Ji An masih berhubungan dengan Do Kyung.


CEO No baru berhenti menampar Tuan Seo karena tangannya mulai sakit setelah menampar Tuan Seo. Ia bilang, Tuan Seo memang pantas dipukul. CEO No lalu pergi, tapi sebelum pergi ia menyuruh Nyonya Yang memberitahukan Ji An tentang kedatangannya.


CEO No mengibas-ngibaskan tangannya yang sakit sambil menuju ke mobil. Hae Ja yang melihat CEO No, langsung menyembunyikan dirinya di balik payung.


Tuan Seo minum obatnya lagi karena perutnya terasa sakit. Nyonya Yang sudah berhenti menangis. Hae Ja masuk dan menyapa Tuan Seo dengan riang, namun saat melihat Tuan Seo habis minum obat, ia ingat pesan Nyonya Yang yang melarangnya memberi tahu Tuan Seo soal kanker imajinasi Tuan Seo sampai amarah Tuan Seo mereda.

Hae Ja kemudian melihat bekas tamparan di wajah Tuan Seo. Hae Ja bertanya. Tuan Seo yang tidak mood menjawab, menyuruh Hae Ja pergi. Nyonya Yang pun buru2 menyiapkan kasur agar Tuan Seo bisa istirahat.


Soo A mengirim pesan pada Ji Tae, mengajak Ji Tae bertemu,


Di restoran, Soo A bilang dia akan pulang ke rumah. Ia beralasan, tidak mau membuat Tuan Seo yang sedang sakit merasa cemas.

“Tapi jangan bilang aku hamil. Kita tidak bisa merayakannya. Setelah ayah pulih, barulah beri tahu dia soal situasi kita. Tidak ada yang akan berubah.” Ucap Soo A.

“Terima kasih karena sudah memedulikan ayah.” Jawab Ji Tae.

“Hanya itu yang bisa kulakukan melihat kondisiku seperti ini.” Ucap Soo A,

“Baiklah. Tapi sebaiknya jangan melakukan itu. Keadaan di rumah sedang kacau. Kau akan merasa tidak nyaman di sana. Aku akan memberi tahu mereka kita bertengkar. Kau bisa tinggal dengan Seung Hun sementara ini.” Jawab Ji Tae.

“Karena keadaan kacau? Apa karena bayinya?” tanya Soo A.

“Aku hanya tidak mau kau merasa tidak nyaman. Ayah akan pulih sekitar sebulan. Kami berusaha keras untuk menenangkannya. Tidak ada alasan bagimu untuk melakukan itu.” Jawab Ji Tae.

“Aku akan lebih nyaman begitu.” Ucap Soo A,

“Hubungi aku kapan kau membutuhkanku. Beri tahu aku jika kau mau aku melakukan sesuatu.” Jawab Ji Tae.

“Itu tidak akan terjadi. Aku harus siap mandiri.” Ucap Soo A, lalu pergi begitu saja meninggalkan Ji Tae.


Soo A yang keluar dari restoran dengan terburu-buru, nyaris saja ditabrak seseorang. Secara spontan, ia melindungi perutnya.


Ji Ho sudah mulai berjualan lagi. Seorang pembeli bertanya, apakah ada warna lain untuk model baju yang ia inginkan. Ji Ho bilang, tidak ada. Pembeli itu pun menggerutu, ia bilang warna hijau tidak cocok dengan kulitnya yang gelap. Ia pun tidak jadi membeli.


Lalu, Seohyun datang. Ji Ho pun langsung marah-marah karena Seohyun datang terlambat padahal Seohyun sudah berjanji akan membawakan baju-baju Ji Soo.

“Aku tidak bisa membawakannya karena pemilik pakaiannya kembali.” Jawab Seo Hyun.


Seohyun lalu memberitahu Ji Ho apa yang terjadi. Ji Ho terkejut mengetahui Do Kyung pergi dari rumah karena Ji An. Seohyun berkata, bahwa ia heran kenapa Do Kyung dan Ji An melepaskan Haesung.

Seseorang tiba-tiba mau menabrak Seohyun. Ji Ho pun dengan sigap melindungi Seohyun. Ia memegang bahu Seohyun dan menarik Seohyun ke pinggir. Seohyun terperangah. Lalu, mereka berdua saling bertatapan.


Ji Ho kemudian menyuruh Seohyun pergi. Ji Ho bilang, mereka tidak bisa berteman. Seohyun mengerti. Ia pun pergi dengan wajah sedih.


Do Kyung sedang melihat foto-foto pabrik yang bisa diambil alih. Do Kyung terkejut Seketaris Yoo bisa menemukan pabrik2 itu.

“Kapasitas tahunannya 600 ton?” tanya Do Kyung.

“Serta itu di Buncheon, dekat dengan toko kerajinan kayu di Seoul dan pabrik kayu di Incheon.” Jawab Seketaris Yoo.

“Sudah berapa lama sejak mereka tutup?” tanya Do Kyung.

“Tiga bulan.” Jawab Seketaris Yoo.

“Lantas, kita harus mencoba mengambil alih pabrik ini. Cari manajer pabrik yang bekerja di sini dahulu.” Ucap Do Kyung.


Tuan Choi membujuk Nyonya No agar membiarkan Ji Soo hidup sesuai keinginan Ji Soo. Nyonya No tidak setuju. Nyonya No bilang, hidup yang diinginkan Ji Soo adalah bekerja di toko roti itu dan mengencani pria yang punya latar belakang buruk.

“Semua itu terjadi karena kita kehilangan dia.” Ucap Tuan Choi.

“Karena itulah kita harus mengembalikan semuanya. Kau ingin dia menjadi Choi Eun Seok seperti itu? Aku tidak bisa membiarkannya menjadi bahan tertawaan orang.” Jawab Nyonya No.

“Kau mau kehilangan semua anakmu? Ini saatnya kita harus memperlakukan Do Kyung dan Ji Soo dengan pola berbeda.” Ucap Tuan Choi.

“Ayah akan membawa Do Kyung kembali. Serta aku akan membawa Ji Soo kembali.” Jawab Nyonya No.

“Tidak. Kau tidak akan bisa membawanya menentang keinginannya. Kau tidak berhak membawanya kembali. Eun Seok sekarang Seo Ji Soo. Dia bukan Choi Eun Seok. Jika mau memaksa Ji Soo kembali, kau harus melayangkan tuntutan keturunan terhadap Ji Soo. Lalu itu akan tersebar. Kau yakin mau melayangkan tuntutan itu? Yang terjadi 25 tahun lalu akan kembali menyeruak. Rencanamu untuk mencuci latar belakang pendidikannya diam-diam, ttu tidak akan terjadi. Orang-orang akan mencari tahu latar belakang pendidikan dan keluarga Ji Soo dahulu. Akankah itu berhenti di sana? Lalu orang-orang akhirnya akan mengetahui Ji An pernah menjadi bagian dari keluarga kita.” Ucap Tuan Choi.

“Jadi, begitu? Selama ini itu tujuanmu? Kenapa kau lembek sekali?” jawab Nyonya No.

“Mungkin karena aku berasal dari keluarga yang biasa. Ji Soo mungkin mewarisi itu dariku. Jangan lupa Ji Soo bukan Choi Eun Seok kini. Jika kau memaksanya pulang, aku tidak akan membiarkannya. Aku meminta tolong kepadamu, No Myung Hee.” Ucap Tuan Choi.


Nyonya No berencana mengusir Hee, Boss Kang dan Hyuk dengan cara membeli gedung Kafe Hee dan toko roti. Tapi rencananya terganjal UU Perlindungan Sewa Bangunan, jadi meskipun mereka membeli bangunan itu, mereka tidak bisa mengusir keluarga Hyuk dari sana.

Dengan mobil Seketaris Yoo, Do Kyung pergi ke suatu tempat.


Ji An sendiri sudah selesai dengan tugasnya di studio. Tuan Sun pun mengizinkannya pulang lebih cepat.


Do Kyung dan Ji An bertemu di rumah kos. Do Kyung ingin mengantarkan Ji An pulang, tapi Ji An tak mau pulang karena mencemaskan Ji Soo. Do Kyung pun menenangkan Ji An. Ia berkata, Ji Soo itu adiknya jadi ia akan menjaga Ji Soo.

“Kau memberi tahu kakekku kau akan pindah. Jangan membuatnya salah paham. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi.” Ucap Do Kyung.

“Tapi Ji Soo... aku membelikan makanan yang cukup untuk beberapa hari.” Jawab Ji An.

“Aku akan memberitahunya. Yang lain akan pulang larut hari ini.” Ucap Do Kyung.


Lalu, ponsel Ji An berdering. Telepon dari Tuan Seo yang mengajak Ji An bertemu. Ji An pun berkata, akan pulang ke rumah jadi ia meminta sang ayah menunggunya di rumah.


Sampai di luar, Do Kyung mengajak Ji An naik bus. Do Kyung beralasan kalau ia membuat mobil Seketaris Yoo mogok saat perjalanan pulang tadi. Ji An pun berkata, kalau ia bisa pulang sendiri tapi Do Kyung tetap kekeuh mau mengantar Ji An. Do Kyung meminta Ji An membiarkannya menjadi seorang kakak sekali saja.


Do Kyung dan Ji An seketika merasa canggung karena harus berdiri berdekatan lantaran bus yang penuh sesak.


Tiba2, bus mengerem mendadak. Do Kyung pun langsung menahan tubuh Ji An agar tidak terjatuh.


Mereka akhirnya tiba di lingkungan Ji An. Do Kyung tidak percaya akan kembali lagi ke lingkungan itu. Do Kyung ingat kata-katanya saat itu, kalau ia akan menjadi hewan jika kembali ke lingkungan Ji An. Sembari tertawa, Ji An bertanya alasan Do Kyung kembali ke lingkungannya. Ji An ingat kata-kata Do Kyung yang tidak mau melihatnya lagi.

“Ayahku bilang kepadaku bahwa aku tidak boleh bilang tidak pernah.” Ucap Do Kyung.

“Itu dapat dimengerti dahulu. Katamu kau muak dengan sikapku yang keras kepala, bukan?” balas Ji An.

Do Kyung terkejut Ji An mendengar ucapannya saat itu.

Mereka lalu berhenti berjalan... “Disini..” ujar Do Kyung.


Flashback...

Do Kyung berlari dengan cepat. Ia pikir, ia sudah berhasil kabur dari Ji An. Dan saat melihat ke depan, ia terkejut melihat Ji An sudah berada di depannya. Do Kyung heran, ia bertanya bagaimana bisa Ji An mendahuluinya secepat itu.

“Ini lingkunganku.” Jawab Ji An.

Ji An lantas berusaha mengembalikan uang Do Kyung, tapi Do Kyung menghindar. Do Kyung lantas kabur, tapi langkahnya terhenti karena Ji An menghubungi polisi. Do Kyung tak tahu, kalau Ji An hanya pura-pura menghubungi polisi. Tak ingin berurusan dengan polisi, terpaksalah Do Kyung mengambil kembali uangnya.

Flashback end...


Ji An lantas tertawa saat Do Kyung cerita, bahwa dirinya menginjak kotoran anjing selagi berusaha menemukan kunci mobilnya setelah Ji An pergi.

“Aku amat bersenang-senang sejak kita bertemu karena tabrakan. Hidupku stabil, penuh harta, dan membosankan, tapi hal-hal itu belum pernah kurasakan, kualami, atau kulewati.” Ucap Do Kyung.

“Kuharap kau mendapatkan lebih banyak kenangan baik.” Jawab Ji An.

“Dahulu, aku tidak tahu hal-hal itu akan kurindukan.” Ucap Do Kyung.


Do Kyung lalu mengajak Ji An mampir ke toserba favorit Ji An.


Ji An minum dengan cepat. Tapi Do Kyung minum secara perlahan. Saat minuman mereka sudah habis, Ji An mengajak Do Kyung pulang tapi Do Kyung mengeluh kedinginan dan mengajak Ji An minum kopi panas.


Mereka minum kopi bersama. Saat kopinya sudah habis, Do Kyung pun kebingungan mencari alasan agar Ji An tidak mengajaknya pulang dulu.


Lalu, pemilik mini market datang, memberikan Ji An dua roti gratis dengan alasan sudah lama tidak melihat Ji An. Ji An pun memberikan rotinya satu untuk Do Kyung.

Ketika rotinya sudah habis, Do Kyung sudah tidak bisa lagi membuat alasan untuk bisa lebih lama bersama Ji An.


Do Kyung pun mengantarkan Ji An pulang. Ji An berjalan dengan cepat, namun di belakang, Do Kyung berjalan perlahan. Sadar Do Kyung berjalan pelan-pelan, Ji An pun akhirnya memperlambat langkahnya. Do Kyung tersenyum melihatnya.


Hingga akhirnya tiba bagi mereka untuk berpisah.

“Tidak peduli selambat apa kita berjalan, kita sampai juga. Aku menikmati tinggal denganmu selama sebulan terakhir.” Ucap Do Kyung.

“Aku juga.” Batin Ji An.

“Seo Ji An, tahukah kau kenapa aku tidak boleh menghentikanmu? Itu karena kau tidak bisa tersenyum di dekatku. Kau tersenyum di dekat Hyuk dan di dekat Yong Gook. Kau tersenyum seperti dirimu bahkan di dekat tukang kayu atau teman serumah yang lain, tapi kau tidak bisa tersenyum di dekatku. Itulah alasannya aku tidak akan pernah menghentikanmu.” Ucap Do Kyung.

Ji An pun langsung berkaca-kaca. Lalu, ia tersenyum.

“Jangan melakukannya. Aku benci kau memaksakan dirimu tersenyum.” Ucap Do Kyung.

“Tapi ini tidak dipaksakan.” Jawab Ji An.


Do Kyung pun akhirnya beranjak pergi. Namun sebelum pergi, ia sempat mengacak rambut Ji An dan mengucapkan kata perpisahan.


Ji An menangis menatap kepergian Do Kyung. Ia menangis sambil merapikan rambutnya.


Ji An akhirnya masuk ke dalam. Tuan Seo langsung menatap tajam istrinya. Nyonya Yang ingat pesan Tuan Seo yang melarangnya memberitahu Ji An soal perlakuan CEO No pada mereka tadi.


Ji An lalu memberitahu orang tuanya kalau ia akan tinggal bersama mereka lagi.

Ketika Ji An sedang menyusun pakaiannya di lemari, Tuan Seo menemui Ji An. Tuan Seo memberitahu Ji An soal kedatangan CEO No tadi. Ji An pun terkejut. Ia pikir CEO No datang untuk Ji Soo, tapi ternyata CEO No datang karena dirinya.

“Apa dia kasar kepada Ayah atau Ibu?” cemas Ji An.

“Tidak sama sekali. Dia hanya mengkhawatirkan cucunya. Dia tampaknya salah paham soal dirimu dan cucunya.” Jawab Tuan Seo.


“Tapi Ayah, sejujurnya, aku memang menyukainya. Aku tidak bisa mengendalikan perasaanku, jadi, aku makin menyukainya, tapi kami tidak berkencan. Dia juga tahu itu. Itulah alasannya dia menyerah mendapatkanku. Karena kini aku sudah pulang, kami tidak akan bertemu lagi. Kemarin dia membantu mendapatkan Ji Soo kembali. Kita tidak boleh membiarkannya dipaksa pergi ke luar negeri. Mungkin itulah alasannya dia salah paham.” Ucap Ji An.

“Apa kau mencegah Ji Soo pergi ke luar negeri?” tanya Tuan Seo.

Ji An pun mengajaknya ayah duduk agar ia bisa menceritakan semuanya tapi sang ayah menolak.


Keesokan harinya, Hyuk nganterin Ji Soo bekerja. Mereka jalan sambil bergandengan tangan. Ji Soo senang bisa pergi kerja dianterin Hyuk. Hyuk lalu bertanya, apa tangan Ji Soo tidak dingin. Ji Soo bilang tidak. Tapi Hyuk bilang tangannya dingin dan ia pun langsung memasukkan tangan Ji Soo ke jaketnya.


Hyuk dan Ji Soo hampir sampai di toko roti. Tanpa mereka sadari, orang-orang Seketaris Min tengah mengikuti mereka.


Ji Soo yang baru sampai di toko roti, kaget melihat Seketaris Min ada di sana. Seketaris Min berniat membeli toko roti!!


Tuan Choi sendiri baru tahu soal Nyonya Yang yang tidak bekerja lagi di restoran mereka. Pegawainya bilang, itu atas perintah Nyonya No. Tuan Choi pun tambah kesal.

Tak lama kemudian, Ji Soo menghubunginya.


Tuan Choi stress. Ia pergi Sungai Han dan melampiaskan emosinya di sana.


Di ruangannya, Nyonya No sedang bicara dengan seseorang terkait Ji Soo. Tak lama, Tuan Choi menerobos masuk ke ruangannya dengan wajah murka.

“Apa kau membeli bangunan tempat keluarga Sunwoo Hyuk tinggal?” tanya Tuan Choi.

“Itu ancaman kosong saat kusampaikan kepada Ji Soo, tapi dia tidak mendengarkan, jadi, aku bertindak. Aku sudah bilang aku tidak bisa menyerah dengannya. Aku tidak bisa membiarkannya seperti itu.” Jawab Nyonya No.

“Serta kau memaksa Yang Mi Jung juga berhenti?” tanya Tuan Choi.

“Itu peringatanku kepada Seo Ji An.” Jawab Nyonya No.

“Yang Mi Jung menyelamatkan nyawa putri kita!” ucap Tuan Choi.

“Berhenti berkata tidak masuk akal.” Jawab Nyonya No.

“Malam itu, jembatan itu disapu badai. Jika Seo Tae Soo tidak menemukannya, Eun Seok akan ikut tersapu dan tewas. Jo Soon Ok meninggalkannya di sana dan tidak mengawasinya.” Ucap Tuan Choi.

“Apa maksudmu? Jo Soon Ok tidak mengawasinya? Bagaimana kau tahu itu?” tanya Nyonya No.

“Tapi menurutmu, Ji Soo tidak cukup baik? Dia tidak cukup berpendidikan? Dia tidak pantas untuk keluarga kita? Begitulah menurutmu. Menurutmu, Ji Soo kita tidak elegan dan berkelas.” Jawab Tuan Choi.


“Beri tahu aku soal Jo Soon Ok dahulu! Apa kau yang membawa mereka pergi?” tanya Nyonya No.

“No Myung Hee, kau... kau yakin dirimu amat berkelas dan elegan, tapi kau, Ni Myung Hee... kau kehilangan putri kita selagi pergi menemui pria lain. Kau kehilangan Eun Seok.” Jawab Tuan Choi.

Nyonya No pun terkejut.


No comments:

Post a Comment