Tuesday, February 6, 2018

My Golden Life Ep 43 Part 1

Sebelumnya...


Nyonya No terkejut saat Tuan Choi mengatakan, dirinya kehilangan Eun Seok saat hendak menemui pria lain.

“Eun Seok hampir mati saat itu.” Ucap Tuan Choi, tapi Nyonya No tidak percaya. Nyonya No bilang, kalau Jo Soon Ok tidak mengawasi Eun Seok, Jo Soon Ok tidak mungkin tahu Tuan Seo lah yang membawa Eun Seok.

“Jo Soon Ok bilang, Seo Tae Soo adalah seniornya saat masih di SMA. Dia menyadari hal itu, saat Seo Tae Soo memberikan ceramah sebagai pengusaha yang sukses di sekolah mereka. Jadi itulah sebabnya, dia bisa menemukan Eun Seok di rumah Seo Tae Soo.” Ucap Nyonya No.
“Kau salah. Jo Soon Ok tidak mengawasinya. Itu hanya kebetulan. Dia beruntung.” Jawab Tuan Choi.

“Lalu, darimana kau tahu?” tanya Nyonya No.


Tuan Choi pun bercerita, dimulai dari saat ia mendapatkan surat kaleng yang ternyata dari Kang Chul Min, suami Jo Soon Ok, bahwa Ji An bukan Choi Eun Seok.

“Aku pikir, Jo Soon Ok lah yang mengirimiku surat itu. Dia bilang, Ji An bukan Eun Seok. Tapi kau dengan sangat tegas menyangkalnya. Dia adalah tersangka utama, tapi kau mengaku tidak tahu.” Ucap Tuan Choi.

Flashback...


Saat Tuan Choi yakin, Jo Soon Ok lah yang mengiriminya surat kaleng itu, Nyonya No dengan tegas membantahnya. Nyonya No menolak saat Tuan Choi mengajaknya mencari Jo Soon Ok. Nyonya No bilang, bahwa ia sendiri yang akan mencarinya.

Flashback end...


“Lalu tiba-tiba, aku berpikir kau mungkin tahu keberadaan Jo Soon Ok. Aku curiga padamu.” Ucap Tuan Choi, mengejutkan Nyonya No.


Flashback...

Nyonya No keluar dari tempat tinggal Jo Soon Ok bersama dua orang preman yang disewanya.
“Katakan pada Tuan Jung, untuk menambah orang-orangnya lagi dan awasi Jo Soon Ok 24 jam.” Suruh Nyonya No.

Flashback end...

“Aku tahu kau tidak akan pernah melepaskannya, jadi aku pergi menemuinya.” Ucap Tuan Choi.
Nyonya No terkejut, sekaligus heran kenapa tidak ada yang memberitahunya kalau Tuan Choi pergi ke rumah Jo Soon Ok.

Flashback...



Tuan Choi membayar orang-orang suruhan Nyonya No.

Flashback end...

“Kau sangat mempercayai uang.  Di depan uang yang lebih besar, uangmu tidak ada artinya. Aku mengetahuinya dari suami Jo Soon Ok. Dia menggendong Eun Seok di depanmu, tapi kau melewatinya seolah-olah kau buta. Hanya itu yang kutahu saat itu, tapi... ” Tuan Choi berhenti bicara dan mengingat saat ia meguping pembicaraan Seketaris Min dan Nyonya No. Saat itu, Nyonya No menyuruh Seketaris Min mengirim Jo Soon Ok ke Filiphina.

“Aku tahu maksudmu. Kau membuatnya diam sampai hari yayasan tiba. Kau bahkan memberi satu juta dollar pada orang yang sudah membuat putriku ketakutan dan kelaparan sepanjang hari.  Lalu, aku ingat foto itu. Aku menyuruh seseorang menyelidiki tentang apa yang dikatakan Seo Tae Soo sebelumnya.” Ucap Tuan Choi lagi.

“Kau menyuruh seseorang mencari tahu?” tanya Nyonya No.


Flashback..

Tuan Seo memberitahu Tuan Choi bagaimana ia menemukan Eun Seok.

Flashback end...

“Aku ingin tahu dimana mereka membuang putriku.” Ucap Tuan Choi.

Flashback...

Tuan Choi menatap foto lokasi tempat Eun Seok dibuang. Orang suruhannya mengatakan, bahwa ada 10 rumah di dekat jembatan tapi setelah kebakaran hebat yang melanda hutan, semua orang pergi.

Flashback end...


“Itu adalah tempat dimana Eun Seok sendirian sepanjang malam. Dia menangis, tapi orang-orang hanya melihatnya dari dalam mobil. Aku sangat marah kau membiarkan orang-orang itu pergi. Kemudian, aku ingat foto-foto hasil penyelidikan.  Tidak ada tempat untuk mengawasinya di mobil mereka selama berjam-jam di foto itu. Jadi aku kembali menemui Jo Soon Ok. Aku ingin mendapatkan jawabannya sebelum kau membuatnya pergi.” Ucap Tuan Choi.

Flashback...

Tuan Choi menginterogasi Jo Soon Ok dan Kang Chul di sebuah gedung yang tidak terpakai. Jo Soon Ok masih mengaku kalau ia terus mengawasi Eun Seok sampai Tuan Seo datang. Tuan Choi lalu bertanya, dimana Jo Soon Ok bersembunyi mengawasi Eun Seok.
“Di dekat hutan.” Jawab Jo Soon Ok.

“Dimana hutannya? Sebelum atau sesudah jembatan?” tanya Tuan Choi.

“Sebelum jembatan.” Jawab Kang Chul Min.

“25 tahun yang lalu, yang ada hanya jalan setapak yang sempit sebelum jembatan. Hanya ada peternakan di sekitarnya. Tidak ada tempat untuk menyembunyikan mobilmu karena miring. Apa kau benar-benar mengawasi Eun Seok? Berapa lama kau mengawasinya? Kau mengambil Eun Seok dari rest area Yangpyeong sekitar jam setengah sebelas pagi. Kau bilang, kau meninggalkan Eun Seok di jembatan sekitar jam satu siang. Dimana kalian bersembunyi sampai Seo Tae Soo datang membawa pada jam 5 sore.” Ucap Tuan Choi.


“Kami tidak bersembunyi di mobil. Kami bersembunyi di bawah jembatan.” Jawab Kang Chul Min.
“Selama empat jam?” tanya Tuan Choi.

“Kami juga hampir mati. Kami bahkan tidak bisa makan siang.” Jawab Jo Soon Ok.

“Seo Tae Soo menemukannya setelah jam 9. “ ucap Tuan Choi akhirnya. Sontak Jo Soon Ok dan Kang Chul Min terkejut mendengar Eun Seok ditemukan jam 9, bukan jam 5.

Flashback end...

Nyonya No sontak terkejut. Lebih lanjut, Tuan Choi mengatakan setelah meninggalkan Eun Seok di siang hari, Jo Soon Ok dan Kang Chul Min mengadakan pesta di rumah teman mereka setelah itu. Mereka bilang, hujan turun saat malam dalam perjalanan pulang. Ban mobil mereka tergelincir karena jalanan yang licin. Kang Chul Min mengemudi saat mabuk dan menabrak tiang telepon. 

Flashback...
Di bengkel, Jo Soon Ok terkejut melihat Eun Seok yang berada di mobil Tuan Seo.

Flashback end...


Lalu terdengar suara Jo Soon Ok, mengatakan bahwa mereka pergi ke bengkel untuk memperbaiki mobilnya setelah kecelakaan itu. Lalu, tanpa sengaja ia melihat Eun Seok di dalam mobil bersama Nyonya Yang di depan toko yang ada disamping bengkel.

Flashback...


Tak lama kemudian, Jo Soon Ok melihat Tuan Seo yang baru keluar dari toko itu.


 Jo Soon Ok ingat, Tuan Seo pernah memberi kuliah umum di sekolahnya 3 tahun yang lalu.

Flashback end...


“Jembatan itu dibangun kembali pada tahun 1993.” Ucap Tuan Choi, lalu melemparkan bukti foto tentang tahun berapa jembatan itu dibangun kembali.
“... malam itu, 19 Agustus 1992. Jembatan itu disapu oleh hujan deras. Kau tidak pernah mempercayai siapapun tapi kau langsung percaya saat Jo Soon Ok mengatakan dia mengawasi Eun Seok sampai ada yang menolong Eun Seok.” Ucap Tuan Choi lagi.
Nyonya No semakin terkejut.

“... alih-alih meragukan kata-kata Jo Soon Ok, fakta sebenarnya adalah kau takut jika orang-orang tahu kau pergi tanpa mengecek putrimu ada di jok belakang atau tidak. Jika hal ini terbongkar, orang-orang juga akan mencari tahu siapa yang coba kau temui di Yangpyeong.” Ucap Tuan Choi.
“Kau diam saja padahal kau tahu semuanya.” Protes Nyonya No.


“Aku tidak pernah mengatakan apapun. Mungkin itu alasan yang kau harapkan atau mungkin mengharapkan ada alasan lain. Bagaimana pun, aku tidak bisa membuktikan hal itu. Jadi aku masih tidak ingin bicara denganmu tentang apa yang terjadi 25 tahun lalu. Hanya ada satu alasan kenapa aku mengatakan ini sekarang.  Jangan ganggu hidup Ji Soo. Kau tidak berhak melakukannya. Jangan coba-coba mengirimnya lagi keluar negeri. Dan jangan pernah berpikir untuk menyeretnya paksa ke rumah. Jangan ganggu keluarga Sunwoo Hyuk. Kembalikan restoran itu pada Yang Mi Jung.” Ucap Tuan Choi.

“Jadi maksudmu, aku harus menuruti keinginan putriku?” tanya Nyonya No.

“Jika kau ingin dia kembali, bersikaplah seperti seorang ibu. Jangan bertingkah seperti putri Haesung, No Myung Hee.”


Tuan Choi pun pergi. Setelah Tuan Choi pergi, Nyonya No terduduk lemas di kursinya.


Di toko roti, Ji Soo gelisah menanti kabar dari ayahnya soal Seketaris Min yang mau membeli gedung toko roti. Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Telepon dari sang ayah. Ji Soo pun buru-buru menjawabnya.


Di kafe, Hyuk, Hee dan Boss Kang sedang membahas Ji Soo. Hee yang takut, menyuruh Hyuk meninggalkan Ji Soo.  Hyuk pun meyakinkan Hee kalau Nyonya No tidak akan bisa mengusir Boss Kang dan Hee, meskipun dia membeli gedung kafe dan toko roti mereka. 

“Noona, kau punya lebih dari 4 tahun lagi dan dia memiliki 3 tahun lagi.” Ucap Hyuk.

“Alasanku tidak setuju bukan hanya itu. Aku sudah pernah menikah dengan keluarga kaya karena ibu. Dia kaya tapi dia merendahkanku hanya karena dia punya uang. Lebih baik kau menikahi gadis yang selevel denganmu.” Jawab Hee.

“Hee-ya, dia benar.  Mereka tidak akan menikah.” Ucap Boss Kang.

“Itu benar, noona. Kami hanya pacaran.” Jawab Hyuk.

“Kau baru pacaran, tapi mereka sudah menekanmu dengan mau membeli gedung kita. Bagaimana jika kau serius dan ingin menikah? Lebih baik, akhiri hubunganmu dengannya sekarang.” Ucap Hee.

“Bagaimana jika takdirku dan Ji Soo, sama seperti takdirmu dan Nam Goo?” tanya Hyuk, membuat Hee terkejut.

“Dia sudah menjadi bagian yang penting dalam hidupku. Aku tidak ingin lari sebelum mencobanya dulu.” Ucap Hyuk lagi.

“Aku setuju dengan Hyuk.” Jawab Boss Kang.


Ji An sudah selesai dengan pekerjaannya membuat meja rias. Dia lalu meminta Sun Tae memberinya lebih banyak pesanan. Sun Tae pun heran kenapa Ji An bekerja terlalu keras.


Do Kyung sedang melihat-lihat pabrik yang akan dibelinya. Tak lama kemudian, Seketaris Yoo datang membawa kabar baik. Seketaris Yoo bilang, ia sudah bertemu dengan manajer pabrik itu dan manajer mengatakan, akan membawa para pekerjanya juga.


Surat kontrak pun sudah ditandatangani. Pemilik pabrik langsung memberikan kunci pabrik pada Seketaris Yoo.


Seketaris Yoo memberikan ucapan selamat pada Do Kyung. Tapi Do Kyung bilang, terlalu cepat untuk memberinya ucapan selamat karena bisnis mereka belum dimulai. Do Kyung pun berterima kasih pada Seketaris Yoo yang sudah berinvestasi padanya. 


Tanpa mereka sadari, dua orang pria tengah mematai mereka.


Yong Gook datang ke studio dan menyuruh mereka memberikan sisa kayu pada Do Kyung. Hyuk pun bertanya, untuk apa memberikan sisa kayu pada Do Kyung. Yong Gook berkata, kalau Do Kyung baru saja menghubunginya. Do Kyung memberitahu kalau ia sudah membeli pabrik itu dan mempekerjakan karyawan juga. 

“Bukankah itu sangat hebat? Dia menurunkan standard nya sangat rendah.” Puji Yong Gook.

Semua pun senang mendengar kabar itu, terutama Ji An.


Tuan Choi dan Ji Soo berada di sebuah kafe. Ji Soo nampak cemas menanti jawaban ayahnya.
“Kenapa kau begitu cemas? Kau pikir ayah tidak bisa menepati janji ayah padamu?” ucap Tuan Choi sembari tersenyum.

“Apa yang ibu katakan?” tanya Ji Soo.

“Kau boleh bekerja di toko roti lagi. Sunwoo Hyuk? Dia tidak akan menyakiti keluarganya. Dan kau, tidak harus kembali ke rumah.” Jawab Tuan Choi.


Ji Soo pun senang mendengarnya. Tuan Choi kemudian berkata lagi, bahwa ia akan mencarikan tempat tinggal untuk Ji Soo. Tapi Ji Soo menolak. Ya, Ji Soo lebih memilih tinggal di rumah kos Yong Gook. Ji Soo beralasan bahwa ia tidak bisa hidup sendiri. Ji Soo juga bilang, bahwa ia mau tinggal di sana karena Do Kyung juga ada di sana.

“Baiklah, kau boleh melakukannya jika itu yang kau inginkan.” Jawab Tuan Choi.

“Terima kasih.” Ucap Ji Soo.

“Tapi hubungi ayah kapanpun, jika kau membutuhkan sesuatu.” Pinta Tuan Choi.

“Akan kulakukan.” Jawab Ji Soo.

“Apa pacarmu memperlakukanmu dengan baik?” tanya Tuan Choi.

“Tentu saja. Rasanya seperti mimpi bisa bersamanya di sini.” Jawab Ji Soo.


Ji Soo berlari ke arah Hyuk yang sudah menunggunya di depan toko roti. Ji Soo memberitahu Hyuk bahwa ia diperbolehkan bekerja di toko roti, tinggal di rumah kos dan berpacaran dengan Hyuk. Senang, Hyuk langsung menarik Ji Soo ke dalam pelukannya. Ji Soo terkejut, bahkan wajahnya sampai memerah karena Hyuk tiba-tiba memeluknya. Saat mau membalas pelukan Hyuk, ponsel Ji Soo tiba-tiba berdering.


“Oppa!” seru Ji Soo.

“Bagaimana pertemuanmu dengan ayah?” tanya Do Kyung.

“Semuanya berjalan dengan baik.” Jawab Ji Soo.

“Apakah dia benar-benar mengatakan itu? Apakah ibu menerimanya?” tanya Do Kyung.

“Kurasa begitu. Ayah bilang aku tidak perlu mencemaskan soal ini.” Jawab Ji Soo.

“Aku lega. Beritahu pada Ji An juga.” Ucap Do Kyung.

Di dalam mobil, Tuan Choi tersenyum menatap kebahagiaan putrinya.

Ji Soo langsung ke studio, menemui Ji An. Ji An pun lega mendengarnya. Ji Soo berkata, ia juga lega tapi di sisi lain ia juga merasa bersalah pada Tuan Choi. Ji An pun menyuruh Ji Soo sering-sering menghabiskan waktu bersama Tuan Choi.  Ji An juga bilang, bahwa Tuan Choi berbeda dengan Nyonya No.

Lalu, Ji Soo minta maaf pada Ji An yang terpaksa pulang ke rumah karena dirinya. Ji An bilang, dirinya memang sudah berencana kembali ke rumah pada hari Ji Soo datang ke rumah kos.

“Jinjja? Kau meninggalkan pakaianmu dan pergi berbelanja, jadi aku pikir kau pergi dengan terpaksa.” Jawab Ji Soo.

“Kau tidak membawa pakaianmu dan berbelanja bukanlah apa-apa. “ ucap Ji An.

“Aku ingin kembali ke rumah lamaku juga. Tapi jika aku melakukannya, ayah dan ibu akan merasa tidak nyaman.” Jawab Ji Soo.

“Kau tidak bisa kembali ke rumahku.” Ucap Ji An.

“Aku tahu,  tapi menyenangkan bisa tidur bersamamu lagi.” Jawab Ji Soo.

“Aku juga, kecuali saat kau mencekikku karena kau memelukku sangat erat.” Ucap Ji An.


Ji Soo lalu mengajak Ji An makan malam bersama di rumah kos. Ji An ingin menolak, tapi Ji Soo memaksa. Ji Soo berkata, karena ia tidak bisa memasak, jadi ia akan menjadi asisten Ji An saja. Lalu, ponsel Ji An berbunyi. Telepon dari Myung Shin yang mengajak Ji An bertemu esok hari.


Begitu sampai di rumah, Tuan Choi dan Nyonya No kembali berdebat. Nyonya No berkata, ia akan mengembalikan restoran itu pada Nyonya Yang setelah Do Kyung kembali ke rumah.
“Setelah Do Kyung pulang?” tanya Tuan Choi.

“Meskipun mereka sudah menyelamatkan Eun Seok di masa lalu, mereka tetap bersalah karena sudah mengirim Seo Ji An pada kita. Karena mereka mengirim Seo Ji An pada kita, Do Kyung jadi jatuh
 cinta pada Ji An. Mereka melakukan banyak hal berbahaya untuk keluarga kita.” Jawab Nyonya No.


“Kau masih mempermasalahkan hal itu? Seharusnya kita tidak kehilangan Eun Seok di tempat pertama!” ucap Tuan Choi.

“Kenapa kau tidak bisa berhenti membicarakan hal-hal yang seharusnya tidak kau bicarakan?” tanya Nyonya No.

“Apa?” kaget Tuan Choi.

“Kau sudah mengetahuinya 25 tahun yang lalu, tapi kau menutupinya selama 25 tahun. Maka seharusnya, kau tidak mengungkitnya lagi. Kau ingin tahu kenapa aku melakukannya saat itu? Kau memperlakukanku begitu dingin sejak kita menikah. Kau menikahiku tanpa tahu siapa aku. Perasaan dikhianati akan memberimu kekuatan untuk melakukan apapun.” Jawab Nyonya No.

“Tidak ada gunanya bicara denganmu. Aku sudah menemui Ji Soo. Aku mengizinkannya bekerja di toko roti, aku mengizinkannya tinggal di rumah kos itu dan aku merestui hubungannya dengan pacarnya. Aku juga melarangnya mencemaskan keluarga pacarnya.” Ucap Tuan Choi.
Tuan Choi lalu keluar dari kamarnya. Begitu Tuan Choi keluar, mata Nyonya No nampak berkaca-kaca.


Di studio, Ji An sedang membuat beberapa anting dan kalung.


Do Kyung sendiri lagi membersihkan pabriknya di bantu Seketaris Yoo.


Selesai dengan kalungnya, Ji An melihat potongan kayunya dan memikirkan sesuatu.


Ji Tae turun ke bawah dan memberitahu ibunya kalau Ji An sedang dalam perjalanan pulang. Nyonya Yang senang, lalu menyuruh Ji Tae tidur karena besok Ji Tae harus bekerja. Ji Tae bilang, Ji An hampir tiba jadi dia mau menemui Ji An dulu. Ji Tae senang karena Ji An akhirnya pulang setelah berbulan-bulan. Ji Tae juga mengaku, ingin mendengar kabar soal Ji Soo.

“Dia mengirimi ibu pesan dan bilang baik-baik saja.” Jawab Nyonya Yang.

“Tapi ibu, apa ibu mau pindah ke pedesaan?” tanya Ji Tae.

“Tidak.” Jawab Nyonya Yang, mengecewakan Ji Tae.

Sadar putranya kecewa, Nyonya Yang pun langsung meralat ucapannya. Nyonya Yang bilang, apapun yang ada di pikiran Ji Tae, itu salah. Nyonya Yang menegaskan, bahwa ia tidak akan membebani Ji Tae.
“Ayahmu sudah berkali-kali bilang seakan-akan meninggalkan wasiat. Kini ibu juga akan bekerja.” Ucap Nyonya Yang.

“Jadi, Ibu juga sama seperti ibu lainnya. Ibu tidak mau merawat cucu Ibu.” Jawab Ji Tae.

“Apa? Bukan begitu. Ibu bersedia melakukannya kapan saja. Tapi itu tergantung Soo A.” Ucap Nyonya Yang.


Lalu, Ji An datang. Ji Tae pun lega bisa melihat Ji An di rumah lagi. Mereka kemudian duduk dan membahas Ji Soo. Nyonya Yang senang Ji Soo sudah baik-baik saja.

“Kini Ji Soo baik-baik saja dan kondisi ayah sudah membaik. Putri tertua juga sudah pulang. Tidak ada lagi yang perlu dicemaskan.” Ucap Ji An.

“Ayah sudah membaik?” tanya Ji Tae.

“Mana bisa dia meninggalkan kita? Saat kubilang aku ketakutan di malam hari, dia hanya menerangi jalanku dengan senter. Saat kuberi tahu soal Ji Ho, dia langsung tampak cemas. Itu bukan hal sulit. Tapi kita terlalu tidak acuh kepadanya.” Jawab Ji An.

“Kapan dia akan sadar gejalanya sudah berhenti?” tanya Ji Tae.

“Mungkin sekitar satu bulan jika kita terus berusaha keras.” Jawab Ji An.


Nyonya Yang pun berkata dalam hatinya sambil menatap Ji An.

“Kurasa hubungannya dan putra mereka sudah benar-benar berakhir.”

“Aku akan mengunjungi Ayah bersama Ji Soo suatu hari. Kurasa itu akan menjadi obat terbaik baginya.” Ucap Ji An lagi.


“Aku juga ingin menyampaikan sesuatu. Ibu, ini soal Soo A.” Jawab Ji Tae.

“Bukankah kau bilang dia sedang menghadiri pelatihan? Dia tidak perlu menghubungi ibu.” Ucap Nyonya Yang.


Nyonya Yang lalu masuk ke kamar karena hari sudah semakin larut. Tapi sebelum masuk ke kamar, Nyonya Yang berterima kasih pada Ji An karena sudah pulang lagi ke rumah.


“Oppa, ada apa dengan ibu? Apa terjadi sesuatu pada kakak?” tanya Ji An.

Ji Tae pun diam saja, sembari menghela nafas dan menundukkan kepalanya.


Di rumah kos, Hyuk dan Ji Soo lagi nonton film romantis. 




Do Kyung lalu pulang dan mereka langsung mendekati Do Kyung. Ji Soo menemukan sesuatu di kepala kakaknya. Ji Soo bilang, ada kotoran besar di rambut sang kakak dan langsung membersihkan rambut sang kakak. Ji Soo juga membersihkan baju kakaknya.

“Apa yang kau lakukan di pabrik?” tanya Hyuk.

“Kurasa aku yang seharusnya bertanya. Kenapa kalian duduk di sini berdua?” protes Do Kyung.

“Kami sedang menonton film di ruang bersama.” Jawab Hyuk.

“Jangan berduaan setelah pukul 22.00.” ucap Do Kyung.

“Kau keras sekali.” Jawab Hyuk.

“Jika kalian berduaan di kamar, aku akan memberikan kartu kuning. Serta kau akan diusir.” Ucap Do Kyung.

“Oppa, kami tidak sedekat itu.” Jawab Ji Soo.

“Ayo. Ini sudah lewat pukul 23.00. Kembali ke kamar masing-masing.” Suruh Do Kyung, lalu berdiri di tengah-tengah mereka.


Ji Soo pun menurut dan masuk ke kamarnya. Tapi ia sempat melambaikan tangannya ke Hyuk dan mengucapkan selamat malam sebelum masuk kamar. Hyuk juga melakukan hal yang sama. Do Kyung yang sebal melihat Hyuk melambaikan tangan ke adiknya, langsung menurunkan tangan Hyuk.


CEO No datang pagi-pagi sekali ke rumah putrinya. Nyonya No langsung bangun dan menghampiri ayahnya. CEO No mengaku, ia tidak bisa tidur dan mungkin tidak akan bisa tidur. Tuan Choi keluar kamar. CEO No langsung menyindir dengan mengatakan semua orang di rumah itu pasti sedang tidur nyenyak.

“Ini nasi atau kerikil? Buatkan bubur untukku.” Suruh CEO No.


CEO No lantas melirik Tuan Choi yang makan dengan lahap.

“Kau pasti masih amat sehat. Kau makan dengan lahap.” Ucap CEO No.

“Orang bilang sarapan adalah jadwal makan terpenting.” Jawab Tuan Choi.

“Karena energimu banyak, pergilah jemput Do Kyung.” Suruh CEO No.

Seohyun pun langsung berhenti makan.

CEO No lalu memarahi Tuan Choi yang memberi izin pada Ji Soo.

“Bahkan anda tidak bisa membawa dia pulang. Mana bisa aku membawanya pulang?” jawab Tuan Choi.

“Pikirmu ayah menyuruhmu untuk menyeretnya pulang? Ayah sudah melepaskan yayasan. Ayah sudah menemui Tae Soo dan cukup menakutinya.” Ucap CEO No.


“Ayah ke rumah itu? Untuk apa ayah ke sana?” tanya Nyonya No.

“Ayah memukulnya dua kali.” Jawab CEO No.

“Ayah memukulnya?” tanya Tuan Choi.


“Ji An pasti sudah mendengarnya dari orang tuanya. Lantas dia akan memberi tahu Do Kyung. Setelah mendengar perbuatanmu untuk Ji Soo, Do Kyung akan meminta bantuanmu.” Jawab CEO No.

“Sepengetahuanku, mereka tidak berpacaran.” Ucap Tuan Choi.

“Pastikan hal itu dengannya dan bawa Do Kyung pulang.” Suruh CEO No. Tak hanya itu, CEO No juga mengatakan Tuan Choi sangat lembek.

“Astaga. Kondisi tabung bronkial dan paru-paru ayah tidak baik, tapi mana bisa ayah membiarkan ini? Ayah harus melihat perusahaan ayah menjadi 10 perusahaan teratas.” Ucap CEO No.

Tuan Choi hanya diam dalam kekesalannya.


Do Kyung masuk ke dapur dan melihat seseorang yang sedang mengubek-ngubek kulkas. Do Kyung pikir itu Ji An, karena orang itu memakai baju Ji An. Tapi ternyata, orang itu Ji Soo. Ji Soo menjelaskan, kalau itu memang bajunya Ji An. Ji Soo bilang, Ji An meminjamkannya baju karena ia tidak membawa baju.


Tuan Seo yang sudah balik ke rumah lamanya, sedang membaca sms dari Ji Tae. Dalam pesannya, Ji Tae menyuruh sang ayah menghubunginya jika sang ayah berniat pulang ke rumah.

“Kenapa dia tidak memberitahuku soal Ji Soo?” kesal Tuan Seo.


Lalu, Ji An menelpon. Tuan Seo langsung menjawabnya.

“Ayah langsung menjawab. Ayah menunggu telepon dariku?” tanya Ji An.

“Tidak, ayah baru memeriksa pesan.” Sanggah Tuan Seo.

“Lantas biar kuberi soal Ji Soo lebih dahulu. Ayahnya Ji Soo sudah menyelesaikan semua masalah. Dia akan tetap tinggal di kontrakan dan bekerja di toko roti. Dia bahkan mengizinkan Ji Soo berpacaran.” Ucap Ji An.

“Bagaimana dia bisa mengizinkan Ji Soo melakukan itu semua?” tanya Tuan Seo senang.

“Maka itu. Aku juga kaget. Keluarga itu sulit dimengerti.” Jawab Ji An.

“Bagaimana denganmu?” tanya Tuan Seo cemas.

“Maksud ayah, pria itu? Tentu saja aku baik-baik saja. Aku hanya menyukainya sedikit. Aku juga tidak sebodoh itu. Aku tidak mengharapkan hal yang tidak bisa kumiliki. Hubunganku dengan dia sudah berakhir. Jadi, tidak perlu cemas.” Jawab Ji An.


Tanpa Ji An sadari, sang ayah menangis. Selesai bicara dengan Ji An, Tuan Seo pun mengingat malam itu, saat ia melihat Ji An diantar pulang oleh Do Kyung. Ya, Tuan Seo memang sengaja menunggu Ji An diluar karena tahu Ji An akan pulang. Tuan Seo menunggu Ji An untuk menanyakan perihal hubungan Ji An dan Do Kyung. Tapi tanpa bertanya pada Ji An, Tuan Seo langsung mendapatkan jawabannya. Ia melihat Ji An yang diantar pulang oleh Do Kyung.

Tuan Seo lalu masuk ke rumah sebelum Ji An melihatnya.
                         
Flashback end...


Tuan Seo menangis. Tapi begitu mendengar suara Ji Ho, ia langsung pura-pura tidur. Ji Ho yang kedinginan, langsung duduk di depan pemanas ruangan. Tuan Seo protes karena Ji Ho datang lagi. Ji Ho pun mengaku, ia sedih karena tidak punya tujuan dan berniat menjadi petani saja.

Tuan Seo pun marah. Ia bilang, Ji Ho hanya kehilangan 5000 dollar saja.

“Itu salah satu alasannya. Tapi aku bukan pebisnis andal. Aku mencoba menjual pakaian di jalanan, tapi gagal total. Aku ingin berbisnis, tapi tidak cocok untuk itu. Aku hanya menyia-nyiakan uang.” Jawab Ji Ho.

“Kau tidak butuh keahlian.” Ucap Tuan Seo.

“Lalu aku butuh apa?” tanya Ji Ho.

“Kau perlu niat, Berandal!” jawab Tuan Seo.


“Mana bisa berbisnis dengan niat?” ucap Ji Ho, tapi berikutnya ia membenarkan ucapan ayahnya.

“Ayah pernah menjadi pebisnis. Ayah menjual handuk mandi di Timur Tengah dan menghasilkan 10.000 dolar. Ayah sempat masuk koran karenanya.” Ucap Ji Ho.

“Benar, aku melakukannya di masa lalu.” Jawab Tuan Seo.

“Ayah, bagaimana caranya menjual handuk mandi di Timur Tengah? Beri tahu aku.” Pinta Ji Ho.

“Jangan sampai para pelangganmu mengetahui bahwa kau hanya mencoba membuat mereka membeli barangmu. Contoh, jika kau menjual pakaian. Jika kau bilang mereka cocok memakai apa pun, mereka bisa menebak niatmu.” Ucap Tuan Seo.

“Sungguh?” tanya Ji Ho.

“Tentu saja. Mereka tahu apa yang cocok dan tidak untuk mereka. Jujurlah. Kau harus membantu mereka seakan-akan membantu keluargamu membeli sesuatu.” Jawab Tuan Seo.

“Bagaimana caranya, ayah?” tanya Ji Ho.


Soo A curhat pada temannya, kalau ia merasa terganggu dengan niat Ji Tae menceraikannya.

“Lalu kenapa kau harus mengungkit masalah perceraian lebih dahulu?”

“Tapi baguslah aku melakukannya. Dia tanpa ragu memilih anaknya alih-alih diriku.” Ucap Soo A.

“Aku juga kaget. Saat melihat kalian berkencan selama empat tahun, aku sempat iri. Ji Tae sangat loyal kepadamu. Kenapa sikapnya langsung berubah begitu kalian menikah?”

“Dia sudah berubah, bukan?” tanya Soo A.

“Namun, jika Ji Tae memang memilih anak daripada dirimu, jangan lahirkan anak itu.”

“Jika aku tidak melahirkannya, dia tidak akan menceraikanku.”

“Mana bisa begitu? Bagaimana jika bayinya sudah tiada?”


Do Kyung senang usahanya hampir berhasil.


Ji An sedang berkumpul dengan teman-temannya, merayakan kelulusan Myung Shin.

“Sulit dipercaya hari seperti ini akhirnya datang kepadaku. Aku sangat bahagia. Ji An membuatkan anting dan kalung untukku.” Ucap Myung Shin.

“Kami juga sempat cemas. Kau menghabiskan tiga tahun untuk menyiapkan ujian ini. Kami cemas kau akan gagal lagi. Tahukah kau betapa risinya jika ada teman yang pengangguran?” jawab Min Kyung.


Teman Ji An yang menikah dengan dokter itu pun langsung menegur Min Kyung (sy lupa namanya).

“Mianhae, Ji An-ah.” Ucap Min Kyung.

“Soal apa? Aku bukan pengangguran.” Jawab Ji An.

“Kudengar kau bekerja paruh waktu.” Ucap teman Ji An.

“Tapi aku tetap menghasilkan uang. Selama bisa mencari nafkah, aku baik-baik saja.” Jawab Ji An.

“Kenapa tidak mengikuti ujian CPNS saja? Kau pintar dan nilaimu selalu bagus. Kau akan lulus dalam sekali coba. Ikutilah ujian untuk PNS tingkat tujuh.” Ucap Min Kyung.

“Aku mudah bosan, jadi, tidak cocok menjadi PNS.” Jawab Ji An.

“Kenapa kau tiba-tiba keluar dari Haesung Apparel padahal sudah diangkat sebagai pegawai tetap?” tanya teman Ji An.


“Dia tidak menyukainya.” Potong Myung Shin dengan cepat.

“Kau menderita bertahun-tahun demi diterima di perusahaan besar. Kenapa sekarang tidak menyukainya? Jangan bilang kau suka bekerja di studio kayu.” Ucap Min Kyung.

“Aku menyukai kayu. Pekerjaanku hebat, bukan? Aku mungkin akan bekerja dengan kayu seumur hidupku.” Jawab Ji An sambil menunjukkan kalung buatannya, hadiah buat Myung Shin.


“Lantas bagaimana dengan pernikahan? Zaman sekarang, akan sulit menikah jika tidak punya pekerjaan tetap.” Ucap teman Ji An.

“Kau sudah menikah.” Jawab Myung Shin.

“Suamiku seorang dokter, jadi, penghasilannya besar. Keluarganya juga berada.” Ucap teman Ji An.

“Itukah sebabnya kau pergi ke rumah orang tuanya untuk memasak setiap hari Minggu? Meski kau sedang hamil delapan bulan.” Jawab Myung Shin.

“Mereka membelikan kami rumah di Gangnam. Masa begitu saja tidak kulakukan?” ucap teman Ji An.

“Hentikan, Semuanya. Pasti akan ada pria yang cocok denganku. Dia tidak akan peduli meski aku seorang tukang kayu, perajin, atau desainer.” Jawab Ji An.

Mereka lalu bersulang.


Do Kyung sedang makan malam dengan Gi Jae. Gi Jae menertawakan usaha yang baru dirintis Do Kyung. Do Kyung pun membalas, ia bilang Gi Jae tak berhak menertawakannya kecuali Gi Jae memulai bisnis tanpa uang sepeser pun seperti dia.

“Jika kau bukan putra dari Perusahaan Sungho, apa yang kau kamu lakukan?” tanya Do Kyung.

“Aku tidak akan pernah meninggalkan keluargaku.” Jawab Gi Jae.

“Lantas, tutup mulutmu.” Ucap Do Kyung.

“Kau bisa melakukannya karena punya tempat pelarian.” Jawab Gi Jae.

“Menurutmu begitu?” tanya Do Kyung.

“Tidak. Sebenarnya, aku tidak tahu. Aku tidak bisa membaca isi pikiranmu lagi.” Jawab Gi Jae.

“Kurasa memang tidak. Kau tidak akan bisa melihatnya jika berada di posisi itu.” Ucap Do Kyung.

“Apa maksudnya?” tanya Gi Jae.

“Keluargaku tampak berbeda dibanding saat aku masih tinggal bersama mereka.” Jawab Do Kyung.

“Kau bisa melihat kayu dari luarnya saja?” tanya Gi Jae.

“Ini soal Ji Soo. Saat mereka hendak memperkenalkannya sebagai Ji An di acara hari jadi, aku agak kaget, tapi tidak mengetahui bagaimana rasanya. Aku hanya berpikir mereka tidak punya pilihan dan itu demi kebaikan perusahaan. Tapi itu tidak masuk akal. Mereka mau memperkenalkannya sebagai orang lain hanya demi menyelamatkan reputasi keluarga.” Jawab Do Kyung.

“Mereka sering mengorbankan hal remeh demi hal-hal yang lebih besar.” Ucap Gi Jae.

“Entah bagaimana logika dalam industri berjalan, tapi dia tetap keluargaku.” Jawab Do Kyung.

“Kau melarikan diri dari rumah untuk mengambil hati Ji An, tapi malah belajar tentang humanisme. Itu tidak membantumu berbisnis.” Ucap Gi Jae.

“Jangan membahas Ji An. Aku merindukannya.” Jawab Do Kyung.


Ji An bersulang dengan Myung Shin. Sekarang, mereka hanya minum berdua. Awalnya, mereka membahas soal pacarnya Myung Shin. Tapi kemudian, Myung Shin mengajak Ji An membahas Do Kyung.

“Aku sangat paham alasanmu tidak bisa berhubungan dengan Do Kyung. Tapi setiap kali mendengar tentang kisah kalian... tidakkah kau merasa lemah?” tanya Myung Shin.

“Aku merasa sangat lemah. Sulit sekali mengeluarkannya dari pikiranku. Tapi kini semuanya sudah selesai.” Jawab Ji An.

“Do Kyung bisa menjadi pelindungmu dari segalanya.” Ucap Myung Shin

“Ayahnya seorang wakil pimpinan. Dia adalah pria tertua dari keluarga biasa. Tapi dia bahkan tidak bisa mengadakan upacara peringatan untuk leluhurnya saat hari raya. Mengunjungi makamnya saja sulit. Dia bilang itu sudah kewajibannya. Semua keputusan berada di tangan Bu No atau Pimpinan No.” Jawab Ji An.

“Itu berarti istrinya Do Kyung tidak bisa melakukan apa-apa. Kau harus melakukan semua yang mereka perintahkan.” Ucap Myung Shin.

“Aku ingin mencintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain.” Jawab Ji An.


Ji An mulai mabuk dan mengungkapkan isi hatinya soal Do Kyung.

“Dia Jung Soo? Pacarmu? Kuharap Do Kyung juga seperti pacarmu. Jika dia... Jika Do Kyung hanyalah seorang pekerja kantoran biasa... Atau jika dia hanya orang biasa yang mengelola bisnis... Aku akan mendatangi kantornya begitu selesai bekerja. Aku bisa membantunya membuat presentasi. Kami bisa keluar dan minum bir setelah pulang kerja. Jika ada orang menyebalkan di kantor, aku akan turut menjelek-jelekkannya. Akan kuceritakan kepadanya apa saja yang kubuat atau kulakukan pada hari itu. Dia akan memuji pekerjaanku. Hal-hal seperti itu.  Aku hanya mau berbagi hal-hal kecil tentang hidup kami. Terkadang kami akan tertawa atau marah, tapi pada akhirnya tetap berbaikan. Kami bisa saja melakukan itu.”

“Jika menikahi Do Kyung, kau tidak bisa melakukan semuanya?” tanya Myung Shin.

“Tentu saja tidak. Keluarganya tidak akan merestui hubungan kami.” Jawab Ji An.


Myung Shin lalu mengantarkan Ji An ke taksi.


Tapi Ji An malah pergi ke rumah kos. Ji An sendiri heran kenapa ia malah pergi ke sana. Ji An lantas pergi, tapi langkahnya tiba-tiba terhenti dan ia menoleh ke arah kamar Do Kyung.


Do Kyung sendiri sedang memainkan lampu Ji An di kamarnya. Wajahnya terlihat sedih.


Keesokan harinya, Hyuk dan Ji Soo membuat sandwich bersama. Hyuk senang bisa membuat sandwich bersama Ji Soo.

Do Kyung lalu keluar dan protes melihat adiknya yang lagi-lagi bersama Ji Soo.

“Kami membuatkan untuk kakak juga.” Ucap Ji Soo.

“Sungguh? Harus begitu.” Jawab Do Kyung, lalu membawa sandwich buatan adiknya ke kamar.


Melihat Do Kyung, Ji Soo seketika teringat saat kemarin Do Kyung memanggilnya Ji An. Ji Soo juga ingat kata-kata Seohyun soal Do Kyung dan Ji An.

“Dia sangat memedulikan Kak Ji An saat masih menjadi kakaknya. Dahulu mereka bekerja bersama di perusahaan, jadi, selalu bersama-sama. Saat itulah dia mulai berubah. Dia berubah usai Kak Ji An datang ke rumah kami.” Ucap Seohyun.

Ji Soo lalu menanyakan hubungan Ji An dan Do Kyung pada Hyuk. Hyuk pun terdiam menatap Ji Soo.


Seohyun lagi mikirin Ji Ho sambil ngemil. Seohyun kesal karena Ji Ho mendadak menjauhinya padahal mereka sudah cukup dekat.


Do Kyung kemudian menghubungi Seohyun. Do Kyung yang sedang menyetir terkejut saat Seohyun mengatakan tentang CEO No yang pergi ke rumah Ji An.

Usai bicara dengan Seohyun, Do Kyung langsung pergi ke Yangpyeong untuk menemui kakeknya.


CEO No sontak terkejut karena Do Kyung mendatanginya, bukan mendatangi Tuan Choi.


No comments:

Post a Comment