Sunday, March 4, 2018

My Golden Life Ep 44 Part 2

Sebelumnya...


Nyonya No menuntut penjelasan Ji An. Ya, ia hanya mau mendengarnya dari mulut Ji An. Ji An pun menjelaskan, bahwa mereka memutuskan untuk berkencan selama seminggu. Ji An juga minta maaf karena sudah melanggar janjinya.


Do Kyung mau ikut menjelaskan, tapi dilarang Ji An. Ji An bilang, ia yang berjanji jadi ia pula yang harus menjelaskannya.

“Kukira aku bisa mengencaninya hanya sepekan saja.” Ucap Ji An.

“Itu ideku. Ibu kesini untuk menemuiku, kan? Akan kupanggilkan taksi untuk Ji An pulang. Seketaris Min, tolong bawa ibu ke mobil.”


Do Kyung pun menggenggam tangan Ji An. Ia mengajak Ji An pergi, tapi Ji An langsung melepaskan genggaman Do Kyung dan memilih pulang sendiri.


Setelah Ji An pergi, Do Kyung mengajak ibunya bicara di tempat lain. Do Kyung, bilang karena hari sudah larut, tidak ada kafe yang buka, jadi ia akan mengajak sang ibu bicara di tempat dimana mereka bisa bicara. Tapi Nyonya No menyuruh Do Kyung masuk ke rumah kos. Ia ingin bicara di kamar Do Kyung. Tapi Do Kyung menolak. Do Kyung beralasan, tidak bisa seenaknya membiarkan siapapun masuk ke rumah kos karena ia tidak tinggal sendiri disana.


Do Kyung membawa ibunya ke restoran kecil. Sang ibu nampak pun protes karena dibawa ke tempat seperti itu. Do Kyung bilang, hanya restoran itu yang buka sekarang. Mereka lalu duduk dan Do Kyung minta ibunya tidak mengganggu dirinya dan Ji An selama seminggu ini.


“Aku tahu kakek tidak akan membiarkan keluarganya jika aku berkencan lebih lama dari itu.” Ucap Do Kyung.

“Kau tau sifat kakekmu, kan? Dan kau cukup bodoh untuk meminta sepekan. Dia benar-benar marah.” Jawab Nyonya No.

“Aku yakin itu.” Ucap Do Kyung.


“Do Kyung-ah, kapan kau mau pulang? Pulanglah dan mulai bisnis barumu. Ibu akan membiarkanmu melakukan apapun. Ibu tahu kau punya ide, seperti White Bio, karena kau masih muda dan penasaran. Pulanglah dan ibu akan membiarkanmu melakukan apapun.” Bujuk Nyonya No.

“Lalu aku akan hidup dibalik bayang-bayang kakek. Bisnisku baru saja dimulai. Bukankah sebaiknya, aku dibiarkan sukses dulu?” jawab Do Kyung.

“Mulai apa?” tanya Nyonya No.


“Aku menemukan pabrik lain.” Jawab Do Kyung.

Nyonya No terkejut, apa? Bagaimana bisa?

“Kakek tidak tahu segalanya.” Jawab Do Kyung.
“Kau kira dia akan membiarkanmu?” tanya Nyonya No.

“Jika dia menghentikanku lagi, aku akan mulai lebih kecil. Jika aku mulai dengan kedai pinggir jalan, bagaimana dia akan menghentikanku?” jawab Do Kyung.

“Apa? Kedai pinggir jalan?” kaget Nyonya No.


“Jika dia mendesakku sampai sejauh itu, aku mungkin menjual semua sahamku. Bahkan tikus yang terpojok berhak mendapat jalan keluar.” Jawab Do Kyung.

“Kau mau menghadapi kakekmu langsung?” tanya Nyonya No.

“Melakukan semua sendirian itu seru. Aku sudah bilang begitu kepadanya. Aku sudah bilang tidak akan kembali, tapi dia tidak mau menyerah.” Jawab Do Kyung.

“Kau sudah bertemu dengannya?” tanya Nyonya No.

“Dia tidak memberi tahu Ibu? Aku ke Yangpyeong sendiri.” Jawab Do Kyung.

“Kau bilang apa kepadanya? Kau bilang tidak akan kembali? Do Kyung, apa yang kau lakukan?” protes Nyonya No.

“Aku tidak bisa menuruti perintah dan hidup seperti anjing Kakek. Jadi, aku mau Ibu tidak menggangguku juga.” Ucap Do Kyung.


Setibanya di rumah, Do Kyung langsung menghubungi Ji An. Ji An cemas, ia takut Nyonya No marah.

“Sepekan itu lebih dari cukup untuk tertangkap basah.” Jawab Do Kyung.

Lalu, Do Kyung menguap. Mendengar suara uapan Do Kyung, Ji An pun protes. Ia heran, bagaimana bisa Do Kyung menguap disaat-saat seperti ini. Tapi setelah itu, gantian Ji An yang menguap. Mereka pun tertawa.


Keesokan harinya, Ji Tae menjemput Soo A. Soo A pun heran dengan sikap Ji Tae. Dan ia tambah heran melihat Ji Tae membawanya ke motel.

Soo A ingin bicara soal perceraian. Tapi Ji Tae menyuruh Soo A istirahat.


Soo A keluar dari kamar dan mendapati Ji Tae sedang memasak. Ji Tae menyuruh Soo A makan. Ji Tae bilang, keguguran sama seperti melahirkan. Soo A pun menangis melihat perlakuan manis Ji Tae padannya.

“Temanmu tidak akan mungkin memasakkan sup ini untukmu. Ibumu tinggal diluar negeri. Hanya aku tempatmu bersandar. Kau tidak bisa memberitahuku bahwa kau kesakitan atau keguguran. Maaf, Soo A-ya. Apa yang harus kulakukan padamu?”


“Kenapa kau melakukan ini kepadaku? Bagaimana jika aku tidak keguguran? Bagaimana jika ini aborsi?” tanya Soo A.
“Walaupun begitu, kau tetap harus makan ini. Kau harus pulih.” Jawab Ji Tae.

Soo A pun menyerah. Ia akhirnya mengaku bahwa ia tidak keguguran. Ji Tae kaget, apa?

“Itu anak kita. Bagaimana aku bisa mengaborsinya tanpa izinmu? Aku mau membuatmu menyerah. Aku membencinya. Apa gunanya punya anak jika tidak bersamamu? Aku merasa seperti itu, tapi kau hanya mau bayinya. Kau mau menceraikanku.” Ucap Soo A.

“Kau berbohong?” tanya Ji Tae.

“Maaf. Aku mau mengetahui apa artinya aku bagimu jika aku kehilangan bayinya.” Jawab Soo A.


“Soo A-ya,  kau tidak tahu betapa berartinya dirimu untukku?  Aku tidak mau menikah, tapi aku menikahimu. Aku mencintai bayi itu karena itu bayi kita. Aku tidak mau kehilangan dirimu atau pun bayinya, tapi aku tidak bisa menyiksamu lebih lama lagi. Aku mengirimmu pesan bilang kau bisa melakukan yang benar-benar ingin kau lakukan saat aku ditelepon.” Ucap Ji Tae.

“Sungguh?” tanya Soo A.

“Lantas, bagaimana dengan bayinya?” tanya Ji Tae.

“Besarkanlah bayinya. Aku hanya akan melahirkannya.” Jawab Soo A.


Ji Tae lalu memeluk Soo A.


Di dapur, Nyonya Yang menyiapkan makanan untuk Tuan Seo. Rencananya hari itu, Ji An dan Ji Soo akan mengunjungi Tuan Seo. Ji An mengajak ibunya ikut, tapi sang ibu menolak demi kebaikan Tuan Seo.

“Ibu tidak pernah takut dengan ayah.” Ucap Ji An.

“Dia tidak pernah semarah ini. Ini parah. Ibu akan mengunjunginya nanti. Bersiaplah selagi ibu bungkus sisanya.” Jawab Nyonya Yang.


Lalu, Ji An menunggu Ji Soo di depan rumah. Tak lama, Ji Soo datang bersama Hyuk. Ji Soo turun dari mobil dan langsung berlari menghampiri sang kakak dengan wajah ceria.

“Pak Sunwoo yang gagah perkasa. Memberiku hari libur, meminjamkan mobilnya, dan bahkan mengantarkan adikku kemari.” Puji Ji An.

“Serta membawakan ini juga.” Tambah Hyuk sembari mengangkat box berisi makanan.


“Ini seperti kencan. Kau menikmati perjalanannya?” tanya Ji An, menggoda Ji Soo.

“Aku tidak akan melakukan ini jika bisa berkendara sendiri. Dia harus pulang sendiri.” Jawab Ji Soo.

“Lantas, kau mau kita mengantarkannya dalam perjalanan?” tanya Ji An.


“Hey, aku bukan anak kecil. Kalian bisa menurunkanku di halte.” Jawab Hyuk.

“Masuklah, udaranya dingin.” Ucap Hyuk pada Ji Soo.


Hyuk lalu memeluk Ji Soo dan membawanya ke mobil. Ji Soo pun tersenyum diperlakukan manis oleh Hyuk. Begitupun dengan Ji An yang juga tersenyum melihat cara manis Hyuk memperlakukan adiknya.


“Kau tidak boleh menangis saat melihatnya. Kami semua berpura-pura tidak peduli.” Ucap Ji An.

“Kurasa aku akan menangis.” Jawab Ji Soo.

“Tidak boleh. Hadiahnya harus tersenyum, bukan menangis.” Ucap Ji An.

“Hadiah?” tanya Ji Soo.

“Kembalinya dirimu akan menjadi hadiah besar baginya. Jadi, tersenyumlah yang lebar.” Jawab Ji An.

“Tapi bukankah kita seharusnya meminta maaf agar dia merasa lebih baik?” tanya Ji Soo.

“Apa gunanya meminta maaf sekarang? Itu hanya kata-kata. Aku lupa dan kau pun begitu. Kita semua lupa. Hari baik kita lebih banyak dari hari buruk, tapi kita lupa. Kita harus mengingatkannya bahwa kita ingat semua agar dia merasa lebih baik.” Jawab Ji An.


“Ini sungguh aneh. Kebencian dan kesalahpahaman menghambatku, tapi itu semua menghilang saat kuingat kenangan kita. Kita saling menyayangi. Kita bersenang-senang. Orang-orang ini amat berarti bagiku.” Ucap Ji Soo.

“Apa kau sungguh Seo Ji Soo?” goda Ji An.

“Seo Ji Soo sudah dewasa.” Jawab Ji Soo.

“Kau memang sudah jauh lebih dewasa. Apakah ini kekuatan cinta?” ucap Ji an.

“Sepertinya begitu. Hyuk bilang padaku,  dia menyukaiku apa adanya.” Jawab Ji Soo.

Ji An pun tersenyum sambil mengelus kepala Ji Soo.


Nyonya No memikirkan kata-kata Do Kyung malam itu. Lalu, Nyonya No teringat kata2 CEO No yang akan mencoret Do Kyung sebagai calon penerus Haesung jika Do Kyung tidak mau kembali.

Nyonya No juga ingat saat memergoki Do Kyung dan Ji An sedang bersama.

Kemudian, ia ingat saat CEO No memuji2 Jin Hee dan Tuan Jung dalam rapat.

Sekarang, Nyonya No sudah duduk bersama Tuan Choi.

“Apa kau sudah gila?” tanya Tuan Choi.

Ji An dan Ji Soo akhirnya tiba di kampung halaman sang ayah. Ji Soo ingin menangis saat melihat Tuan Seo yang berdiri di luar, menunggu mereka. Ji An mengingatkan Ji Soo, untuk tidak menangis.


Mereka lalu turun dan Ji Soo langsung berlari ke pelukan Tuan Seo.

“Kau baik-baik saja?” tanya Tuan Seo.

“Ya, berkat Ayah. Ayah memberi tahu Ji An bahwa aku bertingkah aneh. Bahwa aku pergi ke luar negeri padahal tidak mau.” Jawab Ji Soo.
“Ayah hanya merasa seperti itu. Ayah mengenalmu, jadi, ayah khawatir.” Ucap Tuan Seo.

“Ini sungguh tidak adil, ayah. Kenapa Ayah tidak menyuruh Ji Soo untuk pergi saja? Aku merasa terasing.” Balas Ji An.

“Dia tidak sepertimu.” Jawab Tuan Seo.


“Tunggu, maksud Ayah, dia anak Ayah dan aku bukan? Ini alasanku kesal dan pergi dari rumah.” Ucap Ji Soo.

“Bukan seperti itu, Ji Soo. Bukan seperti itu sama sekali.” Jawab Tuan Seo.

“Benarkah? Jika bukan, putar.” Ucap Ji Soo, lalu memutar kedua tangannya dan meletakkannya di pipi.

Ji An tertawa, lalu mengelus kepala Ji Soo. Tuan Seo juga nampak sedikit tertawa.

Kemudian, Ji Soo mengaku lapar. Ji Soo bilang, ada restoran China di dekat sana.


Tuan Seo bercerita, dulu ia sering makan disana dengan orang tuanya.


Lalu, Tuan Seo teringat masa lalunya, saat ia makan di sana bersama kedua orang tuanya.


Ji An dan Ji Soo kemudian membujuk Tuan Seo pulang, tapi Tuan Seo lagi2 menolak dengan alasan tidak mau membebani anak-anaknya.


Dalam perjalanan kembali ke Seoul, Ji Soo pun menangis.


Ponsel Ji An tiba2 berdering. Ji An dan Ji Soo sontak terkejut karena itu telepon dari Tuan Choi. Tuan Choi mengajak Ji An bertemu.


Do Kyung yang sedang di kantor barunya, dihubungi Ji An. Ji An memberitahu, sesuatu baru terjadi tapi ia tidak menceritakan detailnya.


Usai bicara dengan Ji An, Do Kyung dihubungi Tuan Choi yang mengajaknya bertemu.


Do Kyung dan Ji An bertemu di restoran mewah.  Do Kyung pun bertanya-tanya, kenapa sang ayah ingin bertemu dengan mereka.


Setibanya di atas, mereka kembali dikejutkan dengan keberadaan Nyonya No. Dengan angkuhnya, Nyonya No menyuruh Ji An menuangkan teh untuk mereka.


Ji An pun mengambil teko tehnya dengan tangan gemetaran. Melihat itu, Do Kyung pun mengambil teko tehnya dari tangan Ji An dan menyuruh Ji An duduk.

Keterkejutan mereka pun semakin bertambah kala Nyonya No menyuruh mereka menikah.

No comments:

Post a Comment